Ngisengin anak sendiri.

Sesampainya Ten di depan pintu kamar anak pertamanya itu, Ten langsung mengetuk pintu tersebut sambil menunggu sahutan dari sang anak.

“Masuk aja Paa, nggak di kuncii.” Teriak Hendery dari dalam kamar membuat Ten langsung membuka pintu kamar Hendery.

Ten bisa lihat seisi ruang kamar Hendery yang tidak begitu luas juga tidak begitu sempit. Terpenting, rapih dan wangi.

Ten membawa kakinya menuju kasur milik Hendery lalu mendudukkan tubuhnya di sana sambil melihat Hendery yang sedang mengerjakan tugas di laptop miliknya.

“Lagi kerjain tugas Bang?” Tanya Ten membuat Hendery memberhentikan aktifitasnya lalu membalikkan kursinya untuk menjawab pertanyaan Papanya itu.

Hendery mengangguk, “Iya Paa.”

“Papa ganggu nggak?”

“Nggak lahh. Mana pernah Papa gangguu. Papa kenapa? Berantem ya sama Daddy?”

“Huss, kamu nih. Ngga kok, Papa cuma pengen kesini aja.”

Ten menidurkan tubuhnya diatas kasur milik Hendery, “Yaudah kamu lanjut ngerjain tugasnya aja Bang.”

Hendery mengangguk lalu memutarkan kembali kursinya.

“Wangi apa bang ini, kok kayaknya Papa baru nyium yang ini?” Tanya Ten lalu mengambil satu guling untuk ia peluk.

“Ohh, itu kemarin ada diskon spray gitu, enak ngga Pa wanginya??”

“Wangi, tapi kayak bukan kamu deh Bang. Wanginya lumayan manis, biasa kamu sukanya wewangian mirip wangi Daddy.”

“Lagi mau coba wangi lain ajaa sih Pa. Kemarin nemu wangi yang kayak biasa, cuma abisss.”

Ten mengangguk-angguk paham kemudian menatap sekitar kamar milik anak pertamanya itu. Dibanding kamar Haechan, kamar milik Hendery tergolong minimalis. Dekorasi di dalam kamar Hendery lebih sedikit dibanding kamar Haechan.

Kamar milik Hendery juga lebih banyak dihias berbagai macam peralatan gaming dan jenis lain yang Ten tidak paham. Dan ang membedakan lagi, kamar Hendery lebih ke nuansa gelap, kalau Haechan lebih berwarna terang dengan banyak macam dekorasi yang ditempel oleh Haechan.

Belum lagi barang-barang yang disimpan di kamar Haechan lebih beragam dan berwarna. Apalagi untuk wangi, Haechan lebih ikut dengan Ten. Keduanya menyukai wangi manis buah.

“Papa beneran gapapa kan?” Tanya Hendery lagi, dia bingung karena aneh aja tiba-tiba Papanya ini izin mau ke kamarnya lalu hanya tiduran saja sambil memandangi kamarnya.

Ten terkekeh, “Gapapa bangggg. Emang abang maunya Papa kenapa kenapa?”

“Ehh nggak gitu Paa yaampun.”

“Kamu gimana sayang kuliahnya?”

“Berjalan dengan lancar sih Pa.. Baru dua semester juga.”

Ten mengangguk paham.

Ten berdiri dari tidurnya di kasur Hendery lalu mendekat kearah Hendery yang sedang duduk di kursi belajarnya itu. “Tanggal apa nih Bang?”

Ten tak sengaja melihat tanggal yang tertulis di sticky notes dekat laptop milik Hendery.

“Ohh... Itu, tanggal ujian Paa.”

“Ujian akhir semester?”

Hendery mengangguk.

“Loh, kamu cepet banget bang udah mau ganti semester lagi aja.”

“Berarti si Dede juga dikit lagi udah mau kenaikan dong... Yaampun Papa lupa banget.” Lanjut Ten membuat Hendery mengangguk, seingat Hendery tanggal ujiannya tak jauh juga dengan tanggal ujian Adiknya itu.

“Yaudah deh, Papa ke kamar Dede dulu ya Bang. Jangan malem malem tidurnya ya, besok ada kelas?”

Hendery menggeleng, “Ngga Pa, besok aku ngga ada kelas jadi di rumah aja.”

“Yaudah, Papa ke kamar Dede yaa Bang.”

“Iyaa Paa.”

Ten langsung keluar dari kamar Hendery lalu tak lupa ia menutup pintu kamar Hendery kemudian menuju kamar Haechan yang berada di depan kamar Hendery.

Ten mengetuk pintu kamar Haechan kemudian memanggil sang anak, “Dedee, ini Papa.”

“Masuk aja Paaaa.” Teriak Haechan dari dalam membuat Ten langsung masuk ke dalam.

Ten dapat melihat punggung Haechan karena sang anak sedang duduk di meja belajarnya, bahkan Ten bisa lihat ponsel milik Haechan yang ia letakkan di phone holder yang sedang menampilkan wajah seseorang yang sangat Ten kenal. Siapa lagi kalau bukan Mark.

“Loh, lagi telfonan yaa sama Kak Mark?” Tanya Ten setelah mendekat kearah Haechan.

Haechan mengangguk lalu Mark langsung tersenyum setelah sadar ada Ten dibelakang Haechan.

“Haii Om Ten.” Sapa Mark membuat Ten tersenyum.

“Haloo, Mark! Aduh maaf ya Om jadi ganggu nih hehehe.”

Mark terlihat sedikit panik dan tidak enak, “Eh ngga kok Om. Om ngga ganggu hahaha. Ini juga aku cuma lagi ngajarin Haechan aja dia bilang ada yang bingung sama pelajarannya.”

Ten mengangguk kemudian tersenyum mendengarkan Mark yang langsung menjelaskan kepada dirinya, “Aduhh, makasih yaa Mark udah mau bantuin Haechan.”

Mark tersenyum lalu mengangguk.

Ten bisa lihat bahwa lelaki itu juga sepertinya sedang mengisi sesuatu di dalam sebuah buku.. Tetapi Ten tidak tahu, apa itu.

“Mark gimana, sehat?”

“Sehat Om. Om Ten kata Papi lagi sakit ya?? Cepet sembuh Om.”

Ten terkekeh, “Udah baikan kok Mark. Titip salam buat Papimu yaa, Mark.”

Mark mengangguk, “Iya Om, nanti Mark sampaikan ke Papi.”

“Ihh, kok jadi kalian yang ngobrol sihhh.” Haechan berdecak kesal, ini kenapa dia jadi yang dianggurin.

Ten dan Mark tertawa. Ten mengusak rambut milik Haechan, “Ngambek ajaa kamu De. Yaudah gih lanjut belajarnya sama Kak Mark. Papa keluar lagi yaa?”

Haechan mengangguk, “Iya Pa. Papa jangan banyak bergerak, Papa istirahat sanaa banyak banyak!”

Ten terkekeh gemas lalu kembali mengusak rambut milik Haechan, “Iya sayangg. Udah tuh ditunggu Kak Marknya. Mark, Om duluan ya. Makasih ya nak udah mau ajarin Haechan.”

“Iya Om, nggak masalah selama Mark bisa hehehe. Cepet sembuh Om!”

Ten mengangguk lalu meninggalkan Haechan yang langsung memminta Mark mengajarkan dirinya.

Bahkan sebelum Ten benar benar menutup pintunya, Ten dapat mendengar suara Haechan.

“Kakak, coba aku mau liat tracker Kakak. Gimana ngisinya? Itu udah aku buat paling gampang, pokoknya Kakak harus isi supaya Kakak ngerasa lega dan ada tempat buat curahin semuanya ya. Jangan lupa diminum obatnya, nanti next appointment aku temenin lagi ya Kakkk.”

Ten menutup pintu kamar Haechan lalu tersenyum. Anaknya itu, entah harus seperti apa lagi Ten mengucapkan terima kasih karena sudah membantu orang lain.

Ten tidak sadar. Benar, anaknya sudah semakin dewasa.


@roseschies