nostalgia
Dua jam lebih Johnny dan Ten habiskan waktu mereka di dalam bioskop, menonton film yang sudah Ten pilih sebelumnya.
Ten tidak hanya asal memilih, ia sudah hafal dengan apa yang disuka dan tidak disuka oleh Johnny, maka dari itu ketika Ten memilih tontonan apa yang akan mereka tonton meskipun tanpa bertanya terlebih dahulu pada Johnny, Ten sudah menimang terlebih dahulu dan ketika Ten memberitahu pada Johnny, Johnny juga sudah setuju dengan pilihan Ten.
Hal yang tidak pernah berubah sejak dulu adalah ketika keduanya keluar dari bioskop maka keduanya akan berbicara mengenai alur hingga teknik kameramen hingga editan yang ada di dalam film yang baru saja mereka tonton.
Berdebat hingga berkomentar, saling melontarkan pendapat masing masing.
Ten sangat menyukai waktu ketika dirinya dan Johnny membicarakan sebuah alur dari sebuah film yang baru saja mereka tonton. Karena cara pandang keduanya sedikit berbeda namun karena hal tersebutlah membuat Ten maupun Johnny bisa mendapat pencerahan dari pandangan lainnya membuat keduanya menerka-nerka akan ada hal apa lagi di season selanjutnya.
All You Can Eat kali ini menjadi pilihan Johnny dan Ten untuk mengisi perutnya yang kosong sejak tadi (kecuali sarapan, karena keduanya sempatkan sarapan bersama kedua anaknya terlebih dahulu tadi pagi).
Setelah memikirkan apa akan merasa rugi jika makan AYCE dan keduanya sama sama perut karet, maka dari itu akhirnya keduanya benar benar memutuskan untuk makan di sana.
Dengan tangan milik Ten yang melingkar di pinggang Johnny sedangkan tangan milik Johnny merangkul pundak Ten, keduanya berjalan membelah lautan manusia di dalam Mall. Tak lupa dengan pandangan banyak orang yang melihat kearah keduanya sebab keduanya ramai seperti dunia hanya milik mereka berdua.
Restoran yang didatangi tidak ramai membuat Ten dan Johnny langsung mendapat tempat duduknya. Seperti sudah menjadi rules tak tertulis,, Johnny langsung memasak beberapa daging untuknya dan untuk Ten sedangkan Ten menyiapkan rebusan untuk keduanya.
“Yang, tadi sebelah kamu kayaknya seumuran si babang deh,” Ucap Johnny sambil membalikkan daging yang sedang ia masak.
“Keliatannya sih gitu, tadi bareng pacarnya deh duduk di sebelah dia. Eh ngga tau ya pacar apa bukan, tapi kayaknya iya.”
Johnny mengangguk-anggukan kepalanya, “Soalnya tadi pas kita mau lewat, kok rasanya hawa mereka tuh kayak hawa lagi slek slekan gitu.”
Ten tertawa, kebiasaan Johnny lainnya adalah bergosip ketika keluar dari bioskop.
Kadang Johnny suka tiba-tiba kepo dengan urusan orang yang ada di sebelah dirinya atau disebelah Ten bahkan ketika nonton dengan kedua anaknya, ia akan kepo dengan orang yang ada di sebelah Hendery ataupun Haechan.
Salah satu alasan lain lagi mengapa Ten memilih tempat duduk di pojok. Agar Johnny duduk dipojok, tetapi ia lupa sebelah dirinya tetap akan ada orang yang duduk di sana.
Biasanya akan ada Hendery yang menjawab, “Daddy kepoan banget urusan orang jugaaa.”
Tetapi karena apa yang diucap Johnny barusan membuat Ten ikut penasaran juga.
“Kamu inget ngga sih Yang, dulu kita pernah berantem keluar dari bioskop,” Ucap Johnny tiba-tiba membuat Ten tertawa lebar mengingat kejadian tersebut.
Astaga, kesalahpahaman membuat Ten menjadi orang paling bodoh seantero dunia.
“Inget aku, gara-gara kamu lama jemput aku katanya ada urusan di kantor, terus aku malah nemu lipstick cewe di dashboard mobil kamu ditambah parfum cewe juga.”
Johnny tertawa, “Ya aku waktu dulu mana tau Yang ada orang seobsesi itu sama aku. Dan aku baru sadar juga kamu seteliti itu dan aku seceroboh itu. Ditambah waktu itu aku nggak ada bukti apa apa juga.”
Ten tersenyum, ia jadi ingat muka panik Johnny waktu dulu ia tuduh selingkuh pada Johnny sama sekali tidak pernah kepikiran untuk melakukan hal tersebut.
Ten tahu, banyak sekali yang mengincar Johnny sejak dulu. Sedangkan Johnny orangnya tidak peduli tentang hal tersebut, yang ia pedulikan hanya Ten dan Ten.
Banyak sekali orang yang ingin menjatuhkan hubungan keduanya tetapi lagi lagi keduanya bisa melewati hal tersebut.
Akhirnya setelah bergosip dan sedikit nostalgia, keduanya menghabiskan banyak makanan yang sudah diambil tadi.
“Jo, liat twitter deh. Si dede ngeposting foto ada Marknya terus captionnya begitu hahaha. Gemes banget.” Ten memperlihatkan unggahan yang diunggah oleh Haechan pada Johnny membuat Johnny menyeletuk, “Kamu banget. Cara bucinnya mirip.”
Ten tertawa ketika dirinya melihat unggahan yang diunggah oleh Hendery tepat diatas unggahan milik Haechan, “Nah ini, kamu banget. Jahil!”
Johnny melihat unggahan yang diunggah oleh Hendery dari ponsel milik Ten lalu tertawa, anak sulungnya ini senang sekali meledeki adiknya.
“Si abang ya, sehari ngga godain dedenya gatel gatel aku rasa.” Ucap Ten lalu mengunci ponselnya dan ia masukkan ke dalam tas.
Johnny mengangguk setuju, “Tapi begitu juga dia yang paling sayang sama dede.”
Ten tersenyum, benar juga apa yang diucapkan Johnny.
“Udah selesai? Sekarang kita mau ke daerah deket apart?” Tanya Johnny pada Ten membuat Teb mengangguk sambil merapihkan beberapa bekas makan agar pelayan lebih mudah membersihkan meja yang sudah ia gunakan dan lebih mempercepat agar pelanggan lainnya bisa menggunakan meja tersebut.
“Boleh! Ih Jo, ke cafe itu dong apa namanya deket kampus aku yang jadi tempat wajib kita duluu.”
“Ohhh, cafe yooraco itu?”
“Iyaa! Sekalian kesitu nanti, lewat kan? Tempat kencan wajib kita dulu masa ngga kesana sih.”
Johnny mengangguk lalu berdiri dari tempatnya, “Lewat kok, kalaupun nggak lewat nanti aku lewatin. Yaudah yuk ke kasir kita bayar langsung pergi, keburu malem juga nanti ngga kesampaian datengin beberapa tempat dulu.”
Ten ikut berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan di sebelah Johnny tak lupa ia lingkarkan tangannya di pinggang Johnny.
Selama di jalan, tangan milik Johnny tak berhenti memegang hingga mengelus tangan milik Ten sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir.
Satu hal lainnya yang Ten sukai adalah Johnny yang menyetir dengan tangan satu sedangkan tangan lainnya tak lepas memegang tangannya layaknya Ten akan menghilang sepersekian detik.
“Di sini dari dulu macetnya ngga ilang ya,” Ucap Ten tiba-tiba karena mobil Johnny berhenti lagi karena macet.
Johnny tertawa, “Makanya kita beli rumah ngga deket daerah apart dulu. Macet banget Yang. Kasian abang sama dede nanti kalau kemana-mana kejebak macet juga. Untung Jaehyun rekomendasiin aku sama Yuta ke tempat daerah dia.”
Tadinya Johnny akan kembali mampir ketempat dimana dirinya berjuang jam dua malam alias tukang sate dekat apartemennya itu, tetapi terlalu macet jalan menuju tempat tersebut membuat Johnny dan Ten akhirnya langsung memilih menuju cafe tempat wajib keduanya dahulu yang tidak jauh dari kampus Ten.
Dulu, ketika Johnny menjemput Ten, Johnny akan selalu mengajak Ten ke cafe tersebut.
Dipikir, banyak sekali cerita di cafe ini. Bisa dibilang, cafe ini menjadi saksi bisu ketika hubungan keduanya sedang terancam.
Ketika Johnny dan Ten masuk ke dalam cafe, suasana jaman dulu ketika keduanya masih pacaran seperti menyapa.
Sangat nostalgia.
Setelah memesan minuman, Ten akan mencari tempat untuk keduanya duduk dan tak lain tak bukan berada di pojokan sedangkan Johnny menunggu pesanan keduanya selesai dibuatkan.
Tak lama menunggu, akhirnya Johnny datang sambil membawa pesanan keduanya. Hanya memesan minuman dan makanan ringan untuk keduanya.
Desain interior cafe ini memang sudah banyak sekali perombakan karena sudah berapa puluh tahun lalu jika dipikir lagi. Tetapi rasanya tetap sama seperti dulu.
“Dulu waktu kita sempet berantem hebat itu, di cafe ini bukan sih?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Johnny terkekeh dan mengangguk.
Jika berantem di bioskop yang dibicarakan tadi hanya karena masalah sepele, beda dengan masalah yang membuat keduanya berantem di cafe ini.
Memang hubungan keduanya tidak berjalan mulus sejak awal sampai sekarang, hubungan keduanya benar benar naik turun kalau dipikir.
Bahkan berantem hebat yang dimaksud di cafe ini membuat keduanya sempat mengakhiri hubungan.
Ten tiba-tiba saja berfikir bagaimana kalau saat itu Johnny tidak mendatangi dirinya dan meminta maaf kemudian mengajak dirinya untuk deep talk ketika kepalanya sudah sama sama dingin.
Mungkin saat ini tidak ada Hendery dan Haechan. Tidak akan ada keluarga kecil nan hangat yang dibesarkan oleh Johnny dan Ten.
Hanya akan ada Johnny dan Ten, dengan hidupnya masing-masing.
Memang jika dipikir lagi, masalah tersebut hanyalah masalah sepele, tetapi saat itu keduanya sedang sama sama lelah dan berkepala panas. Satu masalah bisa jadi besar dan pembahasannya semakin melebar.
Kala itu Ten duluan lah yang memulai dan Johnny yang semakin marah dan memperlebar masalah. Bahkan sampai membuat Johnny meninggalkan Ten sendirian di cafe ini.
Beberapa minggu keduanya tidak berhubungan sama sekali dan di hari kedelapan Johnny tiba-tiba saja mendatangi Ten.
Ingatan tersebut muncul membuat Ten tiba-tiba tersenyum mengingat bagaimana wajah frustasi Johnny yang sebenarnya dirinya juga sudah tidak berbentuk. Keduanya sama sama sudah kehilangan arah, entah harus bagaimana.
Tetapi Johnny kembali, kembali ke dalam pelukan Ten, kembali merangkul Ten, kembali mengajak Ten untuk menyelesaikan masalah yang ada di antara keduanya.
“Makasih ya Jo,” Ucap Ten tiba-tiba membuat Johnny mengernyitkan dahinya bingung.
“Kalau aja waktu dulu kamu nggak berinisiatif datengin aku, kita nggak akan begini. Nggak akan ada Hendery, nggak akan ada Haechan.”
Johnny mengusap tangan milik Ten lalu menggenggam tangan tersebut, “Aku dulu sempet putus asa, aku mikir puter otak. Do i deserve you? Do we deserve more chance? Tapi setelah aku pikir lagi, waktu itu kamu lagi capek begitu juga dengan aku. Masalah kita berhenti tanpa ada penyelesaian apa apa. Putusnya kita waktu itu dipikir terlalu menggantung aku, aku kepikiran terus terusan. Dan sampailah aku dititik dimana aku mikir, kita bisa selesaikan masalah kita. Kita bisa ngobrol dan introspeksi kesalahan masing masing, kita butuh komunikasi satu sama lain. Kita bisa dapet kesempatan lagi. Hubungan kita belum usai.”
“Aku ngga sama sekali nyesel memilih untuk datengin kamu jam satu pagi waktu itu hujan hujan. Apa yang udah aku lakuin, hasil yang aku dapet seperti ini aku nggak nyesel sama sekali. Aku ngga nyesel udah dateng lagi ke kamu, aku ngga nyesel udah ajak kamu balik ke dalam pelukan aku waktu itu. Aku ngga akan pernah nyesel sama sekali di seumur hidup aku udah milih kamu, Ten.”
Mendengar ucapan Johnny membuat Ten tersenyum, Ten menyayangi Johnny lebih dari apapun di dunia ini.
“Terima kasih juga udah mau menerima ajakan aku waktu dulu, karena kalau dulu dari kamu sendiri ngga menanggapi ajakan aku, nggak akan ada kita di sini.” Lanjut Johnny, karena rasanya bukan hanya dirinya yang berjuang untuk mengembalikan hubungan keduanya, tetapi juga Ten.
Ten terkekeh, kencan keduanya kali ini rasanya seperti nostalgia masa masa dulu.
Cukup lama Johnny dan Ten menghabiskan waktu di cafe ini, dari keduanya yang bersedih sedih mengingat masa kelam keduanya di cafe ini sampai Ten tertawa hingga mengeluarkan air matanya akibat lelucon Johnny yang tidak ada habisnya itu.
Rasanya waktu waktu seperti ini tidak ingin cepat selesai.
Bahkan disaat seperti ini membuat Johnny dan Ten lupa waktu, lupa ponsel keduanya, dan lupa bahwa masih ada dua anaknya yang sedang menunggu di depan rumah karena sudah pulang dari kegiatannya dan tidak bawa kunci rumah ditambah Johnny dan Ten tidak menaruh kuncinya di pot seperti yang biasa dilakukan.
@roseschies