Papa, adiknya kapan keluar?

Johnten mpreg universe.


Jika dulu sewaktu hamil Hendery, Ten sempat ngidam sate padang jam dua pagi, berbeda dengan kehamilan Ten yang kedua ini. Jika ngidam Ten dulu masih bisa Johnny lakukan dengan mencari keluar yang masih menjual sate padang di jam dua pagi meskipun susah tetapi Johnny berhasil mendapatkannya, tetapi kali ini ngidam Ten dihamilnya yang kedua sedikit... bisa dibilang rumit?

Pasalnya, Ten benar-benar sangat lengket dengan banyak orang. Mungkin jika hal tersebut dilakukan pada siang hari, Johnny akan mudah mengantarkan Ten ke rumah orang-orang yang ingin sekali Ten peluk. Jika memang Ten ingin memeluk Johnny sekalipun jam dua pagi, Johnny akan mudah melakukannya.

Tetapi, kali ini, Ten bangun tepat jam 2 lebih 15 menit pagi sambil merengek-rengek kepada Johnny yang baru saja membuka matanya.

“Jo, mau kerumah Taeyong, mau peluk Taeyong. Aku nggak bisa tidur Jo.” Pinta Ten sambil menarik-narik lengan Johnny.

Johnny sukses terbangun mendengar keinginan Ten di hari yang bahkan masih sangat pagi ini, Johnny sampai terduduk kemudian menghadapkan dirinya pada Ten yang masih memeluk lengannya itu.

Mungkin Johnny bisa saja langsung menuju rumah Taeyong mengantarkan Ten pada Taeyong. Tetapi kali ini keadaannya berbeda. Taeyong sudah berada di rumah sakit karena persalinannya sudah tinggal menghitung jam.

“Ayoo Jo.” Rengek Ten lagi. Johnny mengelus rambut milik Ten mencoba untuk menjelaskan pada suami mungilnya ini.

Sayang, Taeyong kan udah dirumah sakit.” Johnny menyelipkan rambut Ten yang mulai memanjang hingga menutup kupingnya itu dan ia selipkan dibelakang kuping Ten.

Bibir milik Ten sukses melengkung, ia sedih tidak bisa memeluk Taeyong saat ini.

Video call aja ya?” Tawar Johnny akhirnya Ten mengangguk patuh lalu Johnny langsung mengambil ponselnya mencari kontak Jaehyun untuk ia telfon, dini hari.

Aduh, sorry ya Je...., Batin Johnny lagi entah keberapa kali ini dia meminta maaf pada teman-temannya.

Cukup lama Johnny menunggu Jaehyun mengangkat telfonnya membuat pundak dan bibir Ten semakin melorot.

“Sabar ya sayang, ini masih pagi banget mungkin mereka udah tidur.” Ucap Johnny sambil memeluk Ten, menenangkan suami mungilnya yang banyak mau itu.

“Yaudah gapapa deh Jo, matiin aj-”

Ngapain lo nelfon pagi buta gini?

Baru saja Ten ingin menyuruh Johnny untuk mematikan telfon tersebut, ternyata Jaehyun sudah mengangkat terlebih dahulu.

Terlihat Jaehyun dengan mata yang mulai berkantung mungkin karena lelah menjaga Taeyong serta Mark yang mulai tidak bisa jauh dari Taeyong terus menerus belakangan ini.

“Belom tidur lo?” Tanya Johnny membuka percakapan sebelum menuju intinya, setidaknya ia basa-basi dulu nanya kabar temannya itu.

Jaehyun menggeleng kemudian mendudukan dirinya di sofa yang ada di sana, “Belom, baru kelar nidurin Taeyong sama Mark. Ada apaan Jo?

Mendengar Jaehyun mengucapkan nama Taeyong, Ten langsung merampas ponsel milik Johnny, “Taeyong mana?”

Jaehyun membalikkan kameranya kemudian mengarahkan kearah tempat tidur Taeyong dimana Taeyong sedang tertidur di sana.

Entah bawaan bayi atau bagaimana, Ten langsung memeluk Johnny sambil meraung-raung meneriaki nama Taeyong.

“Huhuhu Taeyongg.”

“Ssshh- kok jadi nangis sayang?” Tanya Johnny kemudian meletakkan ponselnya sebentar tanpa mematikan video call dirinya dengan Jaehyun lalu mengelus rambut Ten sambil memeluk tubuh Ten.

Ten masih sesegukan sambil memeluk Johnny, Ten membayangkan dia sedang memeluk Taeyong meskipun badan Johnny lebih besar tetapi biarin saja, dia hanya ingin memeluk Taeyong sekarang.

“Nanti kita ketemu Taeyong ya siangan sekalian liat babynya Taeyong. Sekarang tidur ya?” Ucap Johnny masih sambil mengelus kepala Ten, membuat Ten menguap tiba-tiba. Ia merasa ngantuk dielus seperti itu.

Tak lama kemudian tidak ada suara rengekan lain melainkan berubah dengan suara dengkuran halus dari Ten yang ternyata sudah tertidur di pelukan Johnny membuat Johnny menggeleng lalu tersenyum.

Johnny mengambil ponselnya, ternyata sambungan video call dirinya dengan Jaehyun masih tersambung dan Jaehyun yang daritadi hanya mendengar dan menyaksikan dua lelaki itu saling kelon mengelon hanya bisa memutarkan bola matanya.

Jadi, Jaehyun ditelfon tepat setengah 3 pagi hanya untuk menonton dua orang ngelon? Kasian Jaehyun.

Ada ada aja kenapa si suami lo yang satu itu.” Ucap Jaehyun setelah ia melihat wajah Johnny lagi di layar ponselnya sambil menggeleng-geleng tidak paham.

“Heh, suami gue cuma satu ya anjir, ngada-ngada. Yaudah dah Je, thanks.”

Berguna banget gue anjir bagi nusa dan bangs-

Belum selesai Jaehyun berbicara, Johnny langsung mematikan sambungan video call tersebut lalu menaruh ponselnya di nakas kemudian memeluk tubuh Ten kembali dan ikut tidur meninggalkan Jaehyun yang disebrang sana sedang mencak-mencak sebal dengan Johnny.


Jika dulu sewaktu hamil Hendery, Johnny juga ikut morning sickness seperti Ten. Kali ini berbeda. Meskipun intensitas morning sickness Ten tidak sesering dulu sewaktu hamil Hendery, hamilnya yang sekarang lebih jarang Ten terkena morning sickness.

Sewaktu hari pertama Ten morning sickness sehabis sarapan entah karena apa tapi yang pasti Ten langsung berlari-lari menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi meninggalkan Hendery yang tiba-tiba menangis melihat Papanya seperti itu sambil berlari-lari kecil mengikuti Papanya dari belakang.

“Papaaaa kenapaa??? Daddy huhuhu Papa kenapa muntah-muntah?? Papaa itu jangan buang-buang makanan huhuhu kasihan Daddy udah masak dimuntahin sama Papaaa. Daddyyy makanannya nggak enak apa yaaa?”

Johnny yang masih membantu Ten mengurut tengkuknya bingung ia harus membantu Ten atau menenangkan anaknya yang sedang panik.

Iya, hamil keduanya ini bukan membuat Johnny ikut morning sickness seperti sebelumnya, tetapi morning sickness dikehamilan keduanya ini keadaannya diperparah oleh Hendery yang selalu menangis melihat Ten muntah sampai tubuhnya sedikit lemas.

Setelah selesai membantu Ten mengeluarkan isi perutnya, Johnny izin kepada Ten untuk menenangkan anaknya, “Bentar ya sayang, aku gendong Hendery dulu. Gapapa?” Kemudian Ten mengangguk.

“Gapapa Jo. Tolong jelasin ya ke dia, maaf ngerepotin. Kepalaku jadi agak pusing.”

“Nggak ngerepotin, udah tugas aku kok. Kamu istirahat aja, aku bawa Hendery ke ruang TV dulu.”

Ten mengangguk kemudian Johnny langsung mengendong Hendery dan membawanya ke ruang TV sedangkan Ten menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya sebentar.

“Abang kenapa nangis?” Tanya Johnny sedangkan Hendery masih sesegukan sambil mengelap air matanya, bibirnya masih melengkung kebawah.

“Hiks, Papa kenapa Dad? Papa nggak suka makanan Daddy yaa?” Tanya Hendery membuat Johnny menggeleng kemudian tersenyum dan meletakkan Hendery di sofa.

Johnny ikut duduk di sebelah Hendery kemudian membawa Hendery ke dalam pelukannya, “Abang sekarang udah ya nangisnya? Papa baik-baik aja kok. Papa suka kok sama makanan Daddy. Papa juga nggak sakit.”

Hendery mengangguk meskipun masih mengelap air matanya dengan lengan miliknya, “Benerkan Papa baik baik ajaa?”

Johnny mengangguk, “Abang mau liat Papa?”

Hendery mengangguk antusias sampai dirinya berdiri di sofa namun Johnny sigap memegang tubuh Hendery takut jatuh terjengkang. “Mau mau mau!”

“Tapi Abang pelan-pelan yah? Papa lagi istirahat sebentar.”

Hendery mengangguk patuh kemudian keduanya turun dari sofa. Johnny memegang tangan kanan Hendery lalu keduanya jalan menuju kamar dimana Ten sedang tidur disana.

Hendery mengetuk pintu sebelum masuk kemudian memanggil Ten dari luar, “Papa, Dery masuk ya?”

Tidak ada jawaban yang memungkinkan Ten sudah tertidur di dalam membuat Johnny kemudian berbicara lagi pada Hendery, “Dibuka aja bang pintunya. Papa kayaknya udah tidur, pelan-pelan ya bang.”

“Aduh nggak nyampe Daddy! Tolong bukain ya Daddy hehehe. Nanti Dery mau minta minum susu yang banyak biar bisa setinggi Daddy ah sama Papa!”

Johnny menggeleng-geleng dan terkekeh, anaknya ini gemas sekali. Johnny kemudian memutar kenop pintu kemudian keduanya masuk kedalam kamar.

Di sana terlihat Ten yang sudah bergelung dibawah selimut dengan mata tertutup, benar saja Ten sudah tertidur.

Melihat hal tersebut, Hendery langsung melepas kaitan tangannya dengan Johnny lalu berlari dan susah payah menaiki kasur karena kasur yang digunakan Johnny dan Ten lumayan tinggi.

“Aduh abang pelan-pelan nanti jatuh sini Daddy bantuin.” Johnny mengangkat tubuh Hendery membuat Hendery berterima-kasih kepada Johnny.

“Papa?” Hendery mendekatkan wajahnya dengan wajah milik Ten yang sedang tertidur, mengecek keadaan Papanya itu.

Kemudian Hendery ikut merebahkan tubuhnya disamping Ten lalu memeluk Ten dengan tangannya yang mungil. “Papa jangan sakit ya, nanti Dery sedih. Puk puk puk, Papa sembuh Papa sembuh” Gumam Hendery sambil menepuk lengan Ten membuat Ten terbangun lalu tersenyum dan menarik tubuh Hendery kedalam pelukannya.

“Papa nggak sakit, makasih ya abang udah jengukin Papa ke kamar.”

Johnny yang melihat hal tersebut hanya tersenyum kemudian berjalan mendatangi keduanya yang diam-diam ternyata Hendery ikut tertidur di pelukan Ten.

Johnny menarik selimut kemudian menyelimuti kedua lelaki itu lalu mencium pucuk kepala Ten dan juga Hendery, “Selamat tidur, jagoannya Daddy.”

Lalu Johnny mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar, ia melanjutkan kerjaannya di ruang tamu yang sempat tertunda sebentar.


Hari ini Johnny, Ten, dan Hendery baru saja menjenguk Taeyong serta bayinya yang baru saja lahir dua minggu lalu.

“Daddy, bayinya keciiill banget cuma segenggaman Dery!” Komentar Hendery setelah ketiganya sampai dirumah.

Johnny dan Ten tertawa mendengar ucapan Hendery, mana ada bayi segengaman anak balita.

“Tadi namanya siapa Pa? Dery lupaa.” Tanya Hendery pada Papanya yang sedang mengambil minuman untuk dirinya, Johnny, dan juga Hendery.

“Jeno sayang.” Jawab Johnny kemudian mengajak Hendery untuk mencuci kakinya di kamar mandi.

Hendery mengangguk-angguk, “Oh iya nono, hehehe lucuu.”

“Kok nono?” Tanya Johnny yang sedang membantu Hendery mencuci kakinya.

“Tadi Mark bilang dipanggilnya nono. Gapapa kan Dery panggil nono juga?”

“Ohh gitu, dibolehin nggak Dery sama Mark manggil adiknya Mark nono juga?”

Hendery menggeleng, “Boleh, katanya panggil aja nono. Soalnya katanya adiknya Mark kalau dipanggil nono dia ketawa ketawa lucu.”

“Adiknya Dery kapan keluar Dad?” Tanya Hendery lagi setelah mencuci kaki membuat Johnny memberhentikan aktifitasnya.

“Sedikit lagi. Dery masih sabar nunggu kan?”

Hendery mengangguk semangat, “Masih! Ayo Daddy mainnnn.”

Hendery menarik tangan Johnny dan mengajak Johnny menuju ruang TV dimana ruangan tersebut juga menjadi ruang bermain Hendery.

“Jo, ponsel kamu tadi bunyi tuh kayaknya telfon dari Jaehyun.” Ucap Ten setelah melihat keberadaan Johnny dan Hendery yang baru saja mencuci kakinya kemudian memberikan gelas minum pada Johnny lalu membawa gelas milik Hendery juga.

“Abang, minum dulu nih.” Ucap ten lalu memberikan gelas milik Hendery dan disambut baik oleh Hendery.

“Terima kasih Papa.” Kemudian Hendery meneguk minumannya dan memberikan gelas kosong tersebut pada Ten lagi.

“Abang, Daddy nelfon om Jaehyun dulu ya? Abang tunggu sebentar sama Papa yaa?” Ucap Johnny kemudian Hendery mengangguk lalu mengajak Papanya untuk menemaninya bermain menggantikan Daddynya itu.

Johnny langsung menelfon Jaehyun balik dan langsung diangkat oleh Jaehyun.

“Kenapa Je?”

Dery mana Jo? Anak gue nyariin nih katanya mau video call sama Dery dan minta telfonin.

“Bentar-”

“Abang, ini Mark nyariin.” Johnny kemudian berjalan menuju Hendery dan Ten yang sedang duduk di karpet.

Johnny duduk disebelah Hendery memegang ponselnya yang sudah berganti dengan video call dan mulai menampakkan Jaehyun dan Mark yang berada di depan Jaehyun.

Mark melambaikan tangannya, “Deryyyy!

Hendery membalas lambaian tangan Mark kemudian memanggil nama Mark juga. “Kenapaa Markk?”

Mark kemudian menghadapkan tubuhnya kebelakang untuk berbicara pada Jaehyun, “Ayah ayah, bawa hp Ayah ke Jenoo.

Jaehyun yang diminta seperti itu hanya menurut sedangkan Johnny dan Ten saling lihat-lihatan, bingung anak pertama Jaehyun ini mau ngapain.

“Daddy kok Mark sama Om Jaehyun hilang?” Tanya Hendery sambil menujuk ponsel Johnny karena tiba-tiba jadi hitam.

“Tunggu sebentar, Om Jaehyun sama Mark lagi jalan ke Jeno katanya.”

Hendery mengangguk kemudian menunggu sampai dirinya bisa melihat Mark dan Jaehyun lagi di layar ponsel.

Mau buat apa kak?” Ini Jaehyun lagi nanya ke Mark.

Buka lagi Yah kameranya kasih liat Adek ke Dery.

Johnny, Ten, dan Hendery bisa melihat dengan jelas di layar ponsel wajah Jeno yang sedang tertidur pulas dengan Taeyong yang berada di sebelah Jeno.

Ini mau ngapain kak?” Tanya Taeyong pada Mark.

“Nono lagi boboo?” Tanya Hendery membuat Mark menyaut. “Iyaaa, liatt Dery, Nono lagi boboo.

Johnny dan Ten hanya tertawa, Mark ternyata mau memamerkan adiknya kepada Hendery padahal ketiganya baru saja mampir ke sana.

Hendery yang melihat Jeno tiba-tiba menguap ikut tersenyum girang, “Nono lucuuu, keciiill.”

Udah dulu yaa Dery, Dadahh!” Ucap Mark membuat Johnny dan Ten lagi-lagi saling lihat-lihatan, lah udah?

“Dadahh Mark!”

Ini udah Ayah. Makasih ya Yah udah minjemin.” Terdengar samar Mark mengembalikan ponselnya pada Jaehyun tanpa mematikan sambungan video call tersebut membuat Johnny dan Ten bisa melihat muka bingung Jaehyun melihat kelakuan anaknya.

Hendery juga sudah kembali bermain memainkan mainannya.

Anak gue kenapa dah.” Tanya Jaehyun pada dirinya sendiri membuat Johnny dan Ten tertawa.

“Biarin aja, dia lagi seneng terus mau kasih tauin adeknya ke Hendery.”

Ten mengangguk setuju dengan Johnny.

Yaudah dah, sorry kalo ganggu Jo, Ten. Salam buat Hendery

“Bang, ini ada salam dari Om Jaehyun.” Panggil Ten kemudian Hendery berhenti bermain lalu nongol lagi di video call.

“Om Jaehyun!” Sapa Hendery membuat Jaehyun tersenyum dan melambaikan tangannya.

Daahh

Lalu sambungan video call terputus. Johnny dan Ten lanjut menemani anaknya bermain berbagai macam permainan yang Hendery pilih.

Hari terus berganti, intensitas Mark menelpon ke ponsel Johnny ataupun Ten juga semakin sering.

Nono sedang ini, Nono sedang itu, Nono lagi ini, Nono lagi itu. Semua Mark tuangkan dan ia ceritakan pada Hendery.

Bahkan pernah sekali Mark menelfon lalu mengarahkan kameranya kearah adiknya yang sedang mengganti pampers karena Jeno habis membuang hajatnya membuat Taeyong menggeleng tidak paham dengan kelakuan anak pertamanya itu.

Hendery yang bingung apa yang sedang Mark perlihatkan hanya diam menatap layar ponsel.

Kakak, ngapain itu kameranya kok diliatin ke adeknya? Adeknya lagi ganti pampers iniiii.” Ini suara Taeyong bertanya pada Mark yang asik memamerkan adiknya pada Hendery.

Ten yang berada di sebelah Hendery ikut melihat kemudian menggeleng-geleng.

Ih Papi! Nono lagi buang air besar, Dery harus liat.

Kakakk, kok adeknya lagi ganti pampers dipamerin juga ke Dery yaampun Kak. Matiin kak, maluuuu ini adeknya.

Ten tertawa sedangkan Hendery bingung karena layar ponselnya hanya memperlihatkan gambar yang buram akibat sinyal yang kurang bagus.

“Kak Mark, adeknya lagi ganti pampers ituu. Nanti telfon lagi ya?” Ucap Ten membuat Mark mengganti kameranya memperlihatkan dirinya yang sedang cemberut.

Yaudah deh. Dadaahh Dery dadahh Om Ten!” Ucap Mark membuat Hendery tersenyum lalu melambaikan tangan meskipun dia masih bingung.

Setelah sambungan tersebut mati, Hendery melihat kearah Ten, “Pa, itu tadi kenapa?”

“Itu, Mark mau ngasih tau kamu adeknya lagi buang air besar dan ganti pampers.”

Hendery mengangguk kemudian diam tidak melanjutkan mainnya lagi.

Diam-diam bibirnya melengkung kebawah.

“Abang kenapa sayang?”

“Dery kesel.”

“Kenapa kesel?”

Johnny yang baru saja keluar dari kamarnya langsung bingung mendengar percakapan antara suami dan anaknya kemudian bergabung dan duduk di sebelah Hendery sambil memberikan sinyal pada Ten bertanya ada apa dan Ten hanya menggidikkan bahunya.

“Dery kesel, adiknya Dery nggak lahir-lahir. Papa, kenapa lama banget!”

“Dery kesel, Mark pamerin adiknya terus ke Dery.”

“Nanti kalau adiknya Dery udah keluar, Dery mau pamer juga ke Mark pokoknya!!!!!”

Melihat Hendery yang mencak-mencak dan berusaha untuk balas dendam nanti ke Mark membuat Johnny mengelus rambut milik Hendery demi menenangkan anaknya yang sepertinya cemburu karena temannya sudah memiliki adik dan adiknya belum juga muncul.

“Abang, coba sini lihat Daddy.” Hendery menghadapkan dirinya pada Johnny sambil cemberut, masih sebal dengan Mark.

Johnny menggeser poni milik Hendery, “Mark cuma lagi seneng punya adik, nanti Dery pasti ngerasain rasanya jadi Mark. Hendery temen baik Mark, kan?”

Hendery mengangguk.

“Kalau hendery temen baik Mark, ladenin Marknya ya? Sayang sama nono juga, jangan sebel sama nono karena Mark selalu pamerin nono ke Dery. Dery sayang nggak sama Mark?”

Hendery mengangguk, “Sayang sama Mark, sayang sama nono juga.”

“Nanti kalau adiknya Dery udah lahir, Dery pasti sama kayak Mark. Gimana kalau Mark nanti sebel sama Dery karena Dery pamerin adiknya terus ke Mark?”

Hendery menggeleng, “Nggak boleh, Mark harus liat adiknya Dery!”

“Masih sabar kan nunggu adiknya Dery?”

Hendery mengangguk semangat, “Dery bakal tungguin adiknya Dery. Ya kan Papaaa?”

Hendery kemudian menghadapkan dirinya kearah Ten yang berada di sebelah kirinya membuat Ten mengangguk lalu mengusap pucuk kepala Hendery gemas.

“Dery masih kesel sama Mark?” Tanya Johnny lagi kemudian Hendery menggeleng.

“Bener? Kalau masih kesel sama Mark, bilang yaa? Cerita sama Papa atau Daddy” Ucap Johnny dan diangguki oleh Hendery.

“Dery nggak kesel lagi sama Mark. Soalnya, Jeno juga adik Dery, ya kan Pa?”

Ten mengangguk, “Iya, Jeno adiknya Dery juga. Mark pasti seneng karena Dery sayang juga sama Jeno seperti Mark yang sayang sama Jeno.”

“Daddy, boleh pinjem hp Daddy?”

“Buat apa sayang?”

“Telpon Om Jaehyun. Mau liat nono sama Mark!”

Mendengar ucapan Hendery, Johnny tersenyum lalu mengusak rambut Hendery gemas, “Iya tunggu sebentar yaa bang.”


Johnny mengelus perut Ten yang sudah semakin membesar kemudian mengecup perut Ten, “Dapet jadwal kapan yang?”

“3 minggu lagi, cuma nggak tau kalau dia mau buru-buru keluar bisa aja kan.” Ucap Ten sambil ikut mengelus perutnya. Dibanding hamil waktu Hendery, perutnya lebih besar sedikit sekarang.

Sepertinya calon anaknya akan lahir dengan berat badan yang lumayan dan akan lebih gembil dibanding Hendery nantinya.

“Hamil sekarang aneh deh Jo. Dulu waktu Hendery aku ribet banget sama wangi kamu kan ya? Harus ini itu atau nggak pasti aku muntah. Tapi hamil yang sekarang aku malah suka banget sama wangi kamu. Bikin kepengen terus-terusan sama kamu.”

Bener kata Ten. Hamilnya yang sekarang benar-benar membuat Ten ingin selalu mengendus di dada milik suaminya itu. Entah, rasanya bau Johnny seperti membuatnya candu saat ini lebih dari biasanya. Rasa ingin memeluk tubuh Johnny pun selalu meningkat.

Bahkan pernah suatu hari Ten sampai menyuruh Johnny untuk work from home karena Ten ingin memeluk Johnny terus-terusan. Saat itu kebetulan Hendery sedang dititipkan di rumah Yuta karena Hendery terus menerus merengek ingin main bersama Yuta.

“Gapapa, aku suka kamu kayak gimanapun juga.”

“Ih, gombal banget maless.”

“Loh, ya nggak gombal loh yang. Eh, katanya kamu udah nyiapin nama buat anak kita yang sekarang?”

Ten mengangguk.

Jika anak pertamanya Johnny yang memberi nama, untuk anak keduanya Ten ingin dirinya yang memberikan nama untuk anaknya yang sekarang.

“Ada deh, nanti aja. Bagus pokoknya namanya! Kalau arti nama Hendery bisa mendatangkan uang, anak kedua kita akan menyinari dan juga menjadi penghangat bagi sekitar.”

Johnny tersenyum kemudian mencubit hidung Ten gemas, “Apapun nama yang kamu pilih, aku percayakan sama kamu pasti arti dan doa di dalamnya bagus.”

Ten yang mendengar ucapan Johnny kemudian mencubit pinggang Johnny, “Ih males banget gombal teruuuss Jo.”

“Udah diem, sini.”

Johnny mengecup bibir Ten, “I love you,”

Ten rasanya ingin menangis, entah ia merasa belakangan ini dirinya sangat emosional dan ia merasa sudah lama tidak seperti ini dengan Johnny karena terhalang Hendery dan juga anak keduanya.

Ten kembali mengecup bibir Johnny dan tersenyum, “I love you the most, Johnny.

“Ihh gombaaall” Ledek Johnny membuat Ten kembali mencubit pinggang Johnny sampai akhirnya keduanya lelah dan tertidur pulang dalam pelukan masing-masing.


satu lagi menuju kelahiran dede<3

@roseschies.