Papa, where's the baby?
johnten mpreg universe
Setelah menerima pesan tersebut, Johnny yang baru saja selesai rapat langsung buru-buru pulang untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Bahkan, sepanjang jalan Johnny tidak berhenti tersenyum lebar hingga giginya kering.
Dirinya tidak pernah menyangka bahwa ia akan memiliki dua anak bersama Ten. Meskipun kehadiran Hendery sudah sangat membuat dirinya dan Ten bahagia, tetapi menambah satu anggota lagi, tidak jadi masalah bagi dirinya dan Ten.
Tak lupa Johnny membawakan satu buah es krim untuk Hendery karena tadi pagi dirinya sudah berjanji pada anaknya jika pulang nanti, dirinya akan membelikan Hendery es krim.
Meskipun terjadi cekcok sebentar dengan Ten karena anaknya jika sudah makan es krim, hidungnya akan meler. Tapi melihat mata memohon anaknya itu, akhirnya Ten kalah dan meminta Johnny untuk membelikan es krim untuk dirinya juga.
Memang, tidak bapak tidak anak, sama saja.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Johnny memencet pin apartemennya itu kemudian masuk ke dalam dan melepas sepatu serta menaruh jasnya di gantungan di samping pintu.
“Ten, Hendery? Daddy pulang~” Johnny celingak celinguk sampai di dalam apartemennya mencari suami mungilnya dan anak mininya itu.
Namun dirinya tidak menemukan kedua lelaki tersebut di sana.
“Ten, Hendery?” Panggil Johnny lagi namun tidak ada sahutan dari Ten maupun Hendery.
Kuping Johnny tiba-tiba mendengar suara grusuk-grusuk dari kamar Hendery yang tidak jauh dari ruang tamu.
“Papa, itu Daddy manggil kitaa. Katanya kalau dipanggil harus jawab, gimana dong Paaa.” Terdengar suara Hendery yang setengah berbisik sepertinya pada Ten yang berada di depannya itu.
Johnny yang mendengar bisikan Hendery langsung terkekeh kecil.
“Sstt... Tapi kita kan lagi ngumpet sayang, masa nyahut panggilan Daddy.” Ten ikut berbisik, yang bahkan bisa dibilang dirinya bukan berbisik. Buktinya, Johnny bisa mendengar dengan jelas ucapan Ten dari belakang pintu kamar Hendery.
Johnny menggeleng-geleng melihat kelakuan suami dan anaknya itu dan menunggu kedua lelaki itu keluar dari aksi 'bersembunyi dari Daddy' itu.
“Oh! iya bener juga ya Pa hehehe. Yaudah, kita diem-diem aja ya Pa di sini hihihi.” Kekeh Hendery kemudian mengintip dari celah pintu kamarnya, mencari di mana Johnny berada.
“Ekhm. Ini dimana yaaa Papa Ten dan Hendery~” Teriak Johnny sambil celingak celinguk lagi mencari Ten dan Hendery yang sebenarnya dirinya sudah tau di mana keberadaan kedua lelaki tersebut.
Mendengar hal tersebut, Hendery terkekeh menertawakan Johnny, “Daddy kasian ya Pa nggak bisa nemuin kita.”
“Ayo, kita kagetin Daddy.” Ajak Ten kemudian memberikan aba-aba pada Hendery untuk mengejutkan Johnny yang mulai mendekat kearah kamar Hendery sebelum Johnny benar-benar membuka pintu kamar Hendery.
“Dor!” Hendery keluar dari kamarnya kemudian mengejutkan Johnny yang sudah berdiri satu jengkal dari depan pintu kamar Hendery.
Mengikuti permainan anaknya, Johnny kemudian pura-pura terkejut kemudian mengangkat Hendery, “Aduh! Kaget Daddy. Ngumpet yaaa anaknya Daddy nihhh.”
Hendery cekikikan digendongan Johnny kemudian memberikan kecupan di pipi Johnny kilat dengan bibir basahnya yang sebelumnya ia jilat terlebih dahulu, “Muaaaahh!”
Ten kemudian mendekat kearah Johnny lalu mencium tangan Johnny sedangkan Johnny mencium pucuk kepala Ten. Ritual sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja.
“Hihihi kissing timeeee. Papa Papa, Dery juga mau di cium!” Pinta Hendery sambil memberontak dalam gendongan Johnny.
Ten langsung mencium pipi gembil milik Hendery membuat Hendery mengangkat kedua tangannya, ia senang jika di cium oleh kedua orang tuanya ini.
Johnny kemudian mendaratkan Hendery di sofa ruang tamu kemudian membiarkan anaknya bermain dengan beberapa mainan yang ada di sana lalu berjalan menuju dapur sedangkan Ten mengekor di belakang Johnny.
“Gimana sekolahnya Hendery yang?” Tanya Johnny pada Ten yang sedang membuka bungkusan yang dibawa oleh Johnny sepulang kerja tadi.
“Anaknya tadi habis dapet pujian dari gurunya. Katanya Hendery pinter, cepet paham apa yang diajarin sama gurunya.” Ucap Ten lalu mengambil piring milik Hendery dan membuka bungkusan es krim milik Hendery dan ia taruh es krim tersebut di piring agar Hendery tidak susah memakan es krim tersebut. Selain itu, agar es krimnya tidak berceceran.
Johnny mengangguk paham, “Sini es krimnya Hendery, biar aku yang kasih ke dia.”
Ten memberikan piring milik Hendery pada Johnny kemudian ia kembali mengekor di belakang Johnny sambil membawa es krim miliknya untuk dimakan bersama Hendery nanti.
Keduanya duduk diantara Hendery yang ternyata sedang menulis entah apa itu dengan krayon dan juga spidol miliknya.
“Waah, lagi bikin apa nihh?” Tanya Johnny sesampainya ia di sebelah Hendery yang sedang fokus menulis.
“Ini! Tadi di sekolah Dery belajar ini, terus Dery suka sama pelajarannya. Jadi Dery mau belajar lagii.” Ucapan Hendery membuat Johnny dan Ten saling lihat-lihatan. Ajaib juga anaknya bisa suka sama belajar. Gen dari mana ini?
“Dery istirahat dulu ya? Kita makan es krim, mau?” Ucap Johnny kemudian memberikan piring milik Hendery yang sudah ada es krim di sana lalu Hendery megangguk dan menutup buku miliknya kemudian mengambil piring tersebut dan berterima kasih pada Johnny.
“Papa mam es krim jugaa?” Tanya Hendery pada Ten yang baru saja mendaratkan pantatnya di sebelah Hendery lalu mengangguk.
“Di makan sayang es krimnya, nanti meleleh tuh.” Ucap Ten menunjuk es krim milik Hendery yang sedikit lagi meleleh kemudian Hendery langsung mengambil es krim tersebut dan menjilat es krim tersebut telaten.
“Dery, tadi dapet pujian ya dari Bu Guru?” tanya Johnny sambil mengelus surai milik Hendery sedangkan sang anak masih asik menjilati es krimnya sambil menggayut pada tubuh Ten.
Hendery mengangguk antusias, “Iyaa. Tadi Dery dikasih dua bintang sama Bu Guru, katanya Dery pinter terus Dery minta satu bintang lagi sama Bu Gurunya hehehehe.”
Mendengar ucapan anaknya, Johnny tertawa. Bener-bener jeplakannya siapa ini yaampun.
“Loh, kok Dery minta satu bintang lagi sama Bu Gurunya? Kan Dery udah punya dua? Kurang?” Tanya Johnny, penasaran.
Hendery menggeleng, “Enggak. Dery kasih ke Lucas! Kasian Lucas hari ini nggak dapet bintang dari Bu Guru.”
Johnny dan Ten ikut tersenyum mendengar jawaban sang anak. Anak satu ini, benar-benar seajaib itu, “Waah~ Terima kasih ya kakak Dery udah baik sama temennya hari ini.”
Hendery berhenti menjilati es krimnya, ia bingung kemudian mendongakkan kepalanya menatap Ten dan Johnny bergantian, “Tapi Dery kan bukan kakak?”
Johnny kemudian menatap Ten bingung dan bertanya pada Ten tanpa mengeluarkan suara, “Kamu belum bilang sama Hendery?“
Ten menggeleng.
“Dery kalau punya adik, mau nggak?” Tanya Johnny lagi.
Hendery mengangguk senang, “Mau!”
Ten menghembuskan nafas lega, sebelumnya ia takut jika Hendery menolak untuk memiliki seorang adik. Karena, banyak sekali kasus anak pertama menolak untuk memiliki seorang adik hanya karena takut tidak disayang lagi oleh kedua orang tuanya atau kasih sayangnya sudah dialihkan untuk adiknya itu.
Ten dan Johnny bersyukur, Hendery sepertinya senang jika dirinya memiliki seorang adik.
Hendery berhenti menjilati es krimnya yang sudah mau habis kemudian menengok kearah Johnny dan Ten bergantian, “Mana adiknya?”
Ten terkekeh, “Dery mau nunggu sembilan bulan buat ketemu adik?”
Dery menggaruk kepalanya bingung, “Emang Papa mau ngambil dimana? Kok lama banget sembil- bentar, sembilan bulan itu kapan Pa?”
Johnny tertawa, anaknya benar-benar sangat polos. Ya bukan polos juga sih, anak berumur lima tahun memang tau apa sih?
“Tapi Dery mau nunggu kan?” Tanya Ten lagi lalu Hendery mengangguk dan lanjut menjilati es krimnya sampai habis sedangkan Ten sudah menyelesaikan makan es krimnya sejak tadi.
Setelah menidurkan Hendery, Ten membuka connecting door lalu menutup pelan pintu tersebut dan berjalan menuju kasur di mana Johnny sudah menunggu dirinya di sana.
Johnny membuka lebar tangannya mempersilahkan Ten untuk masuk kedalam pelukannya kemudian mengecup kilat pucuk kepala Ten, “Selamat ya sayang.”
Ten tersenyum kemudian mengecup bibir Johnny, “Aku yang berterima kasih sama kamu. Selamat juga Jo, Hehehe.”
Kekehan di akhir percakapan Ten membuat Johnny memicingkan matanya. Oh, dia lupa pasalnya jika Ten hamil, ini adalah sebuah bencana bagi dirinya? Tak lupa, Jaehyun dan Yuta yang akan kena imbasnya nanti.
Sebenarnya bukan bencana juga sih. Tapi, entahlah...
“Mau periksa kapan yang?” Tanya Johnny sambil mengelus surai Ten dengan sayang.
“Besok kamu kan libur, gimana kalau besok? sekalian ajak Hendery main.” Usul Ten kemudian Johnny mengangguk setuju.
“Aku jadi nggak sabar,” Ucap Johnny sambil mengelus perut Ten yang masih rata.
Ten terkekeh, “Nggak sabar beliin sate padang jam dua pagi ya?”
Johnny berhenti mengelus perut Ten kemudian menatap Ten sedangkan yang ditatap hanya menyengir lalu mencubit hidung Ten gemas, “Kamu ini yaaa.”
“Ih gimana dong Jo, kan mau anaknya gitu.”
Johnny mengangguk-angguk kemudian memeluk Ten erat, “Iya sayang, yaudah bobo besok harus fit kamunya.”
Ten mengangguk lalu memeluk tubuh Johnny dan akhirnya keduanya tidur dalam keadaan memeluk satu sama lain.
Keesokan paginya, Ten terbangun tepat jam setengah tujuh pagi kemudian langsung mandi dengan air hangat sebelum menyiapkan sarapan untuk suami dan juga anaknya yang masih sama-sama tidur.
Biasanya disaat liburan, Johnny akan bangun sesuai dengan jam dimana Ten membangunkan dirinya sedangkan untuk Hendery waktu bangunnya tidak menentu.
Terkadang Hendery akan bangun sebelum Johnny bangun dan lebih sering Johnny lah yang membangunkan Hendery dari tidurnya. Meskipun diakhiri dengan Johnny yang ikut tidur kembali di kasur milik Hendery.
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar dari connecting door membuat Ten yang sedang mengeringkan rambutnya langsung melihat kearah connecting door.
“Papaaa?” Panggil Hendery dari belakang pintu connecting door membuat Ten melepaskan handuknya lalu lari menuju pintu untuk membuka kunci pintu tersebut.
Setelah pintu terbuka, Ten bisa melihat Hendery yang berdiri sambil memeluk selimut yang menutup tubuhnya itu seperti jubah superman.
“Kenapa sayang? Kok udah bangun?” Yang ditanya malah celingak celinguk melihat ke dalam kamar orang tuanya itu kemudian menggaruk kepalanya bingung.
“Papa.” Panggil Hendery lagi.
“Iya Dery?” Jawab Ten kemudian jongkok di depan Hendery menunggu Hendery berbicara lagi.
“Adiknya mana? semalam Papa udah ambil?” Tanya Hendery lagi membuat Ten menahan tawanya dan mencubit hidung gemas milik Hendery.
Ten menggendong tubuh Hendery kemudian duduk di kasur tepatnya di sebelah Johnny yang masih tertidur, “Bangunin dulu coba Daddynya.”
Setelahnya Hendery menoel-noel pipi Johnny, “Daddy banguuunnnnn.”
Tidak ada reaksi dari Johnny membuat Hendery kembali menoel-noel pipi Johnny lebih banyak, “Dadddyyyyyyyyyyyyyyyyy”
Mendengar suara teriakan Hendery membuat Johnny mengerjapkan matanya kemudian menatap Hendery yang sedang tersenyum lebar.
“Daddy, adiknya Dery mana?”
Ten yang sedang duduk di depan meja rias tertawa mendengar Hendery yang ternyata bertanya mengenai hal yang sama pada Johnny membuat Johnny bingung.
Johnny baru saja bangun tetapi dirinya sudah dijatuhi oleh pertanyaan seperti ini oleh Hendery. Otaknya mana bisa berfikir.
“Hari ini, kita lihat adiknya Dery ya? Sekalian Dery main ke taman, mau?” Final Johnny membuat Hendery mengangguk antusias.
Hendery sangat senang jika diajak ke taman sedangkan itu merupakan bencana untuk Johnny. Karena serius, baterai Hendery tidak akan habis di taman dan Johnny akan diajak muter-muter seperti gangsing di taman.
“Yaudah, sekarang Dery mandi ya? Daddy bikin sarapan dulu?”
Mendengar ucapan Johnny membuat Ten memberhentikan aksinya yang sedang menggunakan skincare paginya itu, “Loh? Kok kamu yang buat sarapan?”
“Gapapa, aku aja yang buat sarapan. Kamu tungguin Hendery mandi ya?”
Ten mengangguk kemudian menyelesaikan rentetan skincare paginya itu lalu mengajak Hendery mengambil pakaiannya dan pergi menuju kamar mandi sedangkan Johnny keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk keluarga kecilnya itu.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Johnny dan Ten masuk ke dalam ruangan untuk berkonsultasi mengenai kehamilan Ten.
Sedangkan Hendery dititipkan pada Jaehyun yang ternyata juga ikut bersama suami dan anaknya itu mengantarkan Ten untuk berkonsultasi mengenai kehamilannya.
Sebenarnya sekalian sih, karena suami Jaehyun yang sedang mengandung 6 bulan juga ada jadwal konsultasi mengenai kehamilannya itu.
Sebelumnya juga Hendery sempat bertanya kemana Yuta. Tadinya, Yuta dan Winwin juga ingin ikut menemani tetapi tidak jadi karena tiba-tiba orang tuanya menyuruh Yuta untuk datang kerumahnya. Padahal baru saja Yuta mau ngajak Hendery balapan.
“Mark, Dery mau punya adik!” Ucap Hendery setelah kedua orang tuanya masuk ke dalam ruangan.
“Waah, Mark juga mau punya adik! Nih, adik Mark ada di dalam perut Papi.” Tunjuk Mark pada perut Papinya yang sudah membesar membuat Hendery melotot terkejut.
Berati, nanti adik Hendery ada di dalam perut Papanya dong? dan Papanya akan menggendut seperti Papinya Mark.
“Om Jaehyun, Nanti Papa bakal kayak Om Taeyong ya?” Tanya Hendery sambil menarik-narik jas milik Jaehyun yang berada di sebelahnya itu membuat Jaehyun melirik kearah Hendery yang sedang menunggu jawaban.
Jaehyun mengangguk, “Iya, nanti Dery jadi anak yang baik ya? Jagain Papanya Dery.”
Hendery mengangguk paham kemudian Mark ikut menyambar percakapan diantara mereka, “Iya! Kayak Mark selalu jagain Papi.”
“Contohnya?” Tanya Hendery menjawab omongan Mark, sepertinya menarik dan Hendery akan mencatat dalam otaknya itu.
“Engg- Oh! Biasanya Mark suka bantuin makanan Papi kalau Papi makanannya nggak habis.” Jawab Mark polos membuat Jaehyun dan Taeyong tertawa mendengar jawaban Mark yang kelewat polos.
Hendery mengangguk, “Ohh gituu. Waah, enak dong makan banyak ya Om?”
Jaehyun mengangguk mengikuti percakapan kedua anak kecil ini.
“Om Taeyong, nanti perut Papa juga besar ya?” Tanya Hendery sekarang ditujukan untuk Taeyong membuat Taeyong mengangguk.
Hendery bangun dari tempat duduknya kemudian menghadapkan diri kearah Taeyong.
“Seginiii?” Tanya Hendery lagi sambil memperagakan tangannya membundar di depan perutnya itu membuat Taeyong dan Jaehyun tertawa melihat kelakuan anak pertama Johnny dan Ten ini.
Mark yang tidak mau kalah kemudian ikut berdiri, “Bukan segituu Dery. Tapi seginiii!”
Mark memperagakan bulatan lebih besar dibanding Hendery, bahkan lebih besar seperti balon milik Lala yang ada di Teletubies.
“Ih Mark besar banget kasian Papaaaa, kalau gitu Dery nggak usah punya adik. Kasian Papa.” Pundak Hendery menurun, bibirnya juga melengkung kebawah. Ia sedih memikirkan Papanya jika harus memiliki perut sebesar balon Lala yang diperagakan Mark tadi.
“Nggak kok, nggak sebesar itu. Nih, lihat perut Om Taeyong. Nanti perut Papanya Dery segini.” Jawab Taeyong membenarkan omongan anaknya itu.
Hendery mengangguk lagi, “Ih Mark nihh salah tauuuu!”
Mark hanya menggaruk tengkuknya lalu terkekeh, “Hehehe. Ayah, Mark mau balon Lala deh.”
Lah, ini anak kenapa tiba-tiba jadi minta balon lala.....
“Ih, Dery nanti juga mau minta balon Lala ah sama Daddy.”
Lah....
Akhirya kedua anak kecil itu duduk di tempatnya sambil menunggu Johnny dan Ten keluar dari ruangan.
Tidak terlalu lama konsultasi Johnny dan Ten saat ini, hanya diberi beberapa informasi mengenai apa yang harus Johnny maupun Ten lakukan untuk kehamilan keduanya ini.
“Papaaaaaa” Teriak Hendery sambil berlari-lari kearah Ten yang baru saja keluar dari ruangan.
Mark yang mengikut Hendery dari belakang ikutan berlari-lari kemudian berteriak, “Om Joooo”
Sedangkan Jaehyun dan Taeyong hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan anaknya yang suka ikut-ikut dan berjalan menuju Johnny dan Ten.
“Daddy Daddy, Dery mau balon punya Lala!” Todong Hendery tiba-tiba membuat Johnny menatap Jaehyun bertanya abis ngapain tadi emang dan Jaehyun hanya menggidikkan bahunya.
“Tapi mainan Dery kan udah banyak di rumah?” Ucap Johnny kemudian menggendong Hendery dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya untuk merangkul Ten yang berada di sebelahnya itu.
“Ayah gendong juga kayak Dery!” Nah ini, Mark yang selalu ingin ikut-ikutan dan akhirnya Jaehyun mengendong Mark juga.
“Ohh iya juga. Yaudah, nanti mainannya buat adik!”
“Iya nanti kita beli nunggu adiknya Dery lahir ya?”
Hendery diam kemudian memajukan tubuhnya untuk menarik lengan baju milik Ten yang berada di samping Johnny membuat Ten menengok kearah Hendery, “Kenapa sayang?”
“Lahir itu apa Pa?” Tanya Hendery membuat Johnny, Ten, Taeyong, dan Jaehyun tertawa sedangkan Mark yang tidak tau apa-apa hanya ikut tertawa, ya pokoknya Mark mau ikutan.
@roseschies.
Fyi, takutnya pada bingung kenapa Mark sama Hendery bisa seumuran padahal kalau diingat waktu Ten lahiran Hendery, Jaehyun dan Taeyong itu belum menikah apalagi melahirkan seorang anak. Jadi, Mark itu anak adopsi yaaa. Dan yup mereka (Mark dan Hendery) itu seumuran.