Pertemuan

Beberapa minggu belakangan ini, Ten sangat suka mendatangi taman yang tak jauh dari tempat yang ia singgahi untuk sementara waktu ini. Selain memang Ten yang menyukai atmosfer taman tersebut, bagi Kun dan Doyoung hal tersebut menjadi poin plus untuk Ten sebagai tempat Ten mendapatkan udara segar sembari healing untuk dirinya sendiri.

Pepohonan dan bunga-bunga bermekaran memanjakan indera penglihatan Ten. Sekali lagi, Ten menyukainya.

Hari ini, setelah beberapa hari lalu Johnny mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal akhirnya Johnny menapaki taman yang bisa dibilang jaraknya lumayan jauh dari kantornya.

Entah apa yang membawa Johnny percaya dengan nomor tidak dikenal itu, Johnny perlahan keluar dari mobilnya yang sudah terparkir rapih diparkiran tak jauh dari taman tersebut.

Menengok kesana kemari, menikmati pemandangan yang dapat memanjakan indera penglihatan Johnny.

Johnny mengambil ponselnya yang sebelumnya ia kantongi di kantong celananya, lalu mencari pesan dari nomor yang tidak dikenal itu, memberi tahu bahwa dirinya sudah sampai ditempat yang seseorang itu maksud.

Namun, pesannya di sana berwarna merah, tidak terkirim.

Johnny rasanya ingin marah, tetapi memang salah dirinya yang terlalu percaya dengan nomor yang tidak sama sekali ia kenal.

Tapi, Johnny urung kembali amarahnya, ia sedikit berterima kasih kepada seseorang itu, berkatnya Johnny bisa menemukan taman secantik ini.

Akhirnya, Johnny menikmati waktunya itu di taman tersebut. Menghabiskan sore harinya di sana.

Disaat lelaki tinggi itu sedang menikmati waktunya, melihat-lihat bunga yang ada di sekitar sana, matanya tak sengaja melihat postur seorang lelaki yang sangat ia kenal sedang berjongkok.

Lantas, kakinya yang seperti tidak tahu diri itu langsung mendekat, untuk memastikan, sekali lagi.

Belum juga Johnny sampai di sana, Johnny dengan mata kepalanya sendiri, Johnny sudah bisa memastikan, lelaki itu adalah lelaki yang sudah ia cari bertahun-tahun lamanya.

Lelaki mungil yang sedang berjongkok sambil mengelus tiga kucing liar yang sedang menjilati snack yang dibawakan oleh lelaki itu di tangannya.

Lelaki itu adalah Ten.

Lelaki yang sudah entah berapa tahun Johnny cari kepenjuru dunia namun tidak kunjung mendapatkan hasil sama sekali.

Terdengar hiperbola, tetapi benar adanya.

Lagi, dengan kakinya yang seperti tidak tahu diri, Johnny kembali mendekatkan dirinya dengan lelaki mungil itu sampai akhirnya saat ini Johnny sudah berdiri tepat dibelakang Ten yang sedang berjongkok.

“Ten....???”

Suaranya terdengar seperti tercekik, lehernya sangat berat rasanya untuk mengeluarkan sepatah kata. Entah akibat ia terlalu senang, atau dirinya yang terlalu takut untuk kembali menyapa lelaki mungil ini setelah bertahun-tahun.

Sedangkan, Ten yang sedang asyik mengelus bulu-bulu halus dari kucing liar yang baru saja ia beri makanan kecil langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa seseorang yang baru saja memanggil dirinya.

Ukiran senyum manis yang sebelumnya terukir indah di wajah Ten seketika menghilang menjadi tatapan bingung yang didapatkan Johnny dari Ten.

Ten perlahan membuka mulutnya,

“Siapa, ya???”

Pikiran Johnny rasanya seperti hilang, semua hilang. Lelaki itu terbingung tepat di depan Ten. Benarkah Ten tidak mengingat bahkan mengenal dirinya, sama sekali?? Batin Ten, terbingung dengan situasi yang ada.

Namun sekali lagi Johnny melihat kearah wajah Ten, lelaki itu tetap dengan wajah yang datar, sama seperti sebelumnya.

Ten membungkuk sedikit ke arah Johnny, “Permisi ya...” Kemudian meninggalkan Johnny dengan pertanyaan yang terus keluar dari kepalanya.

Johnny terdiam berdiri dengan pikirannya. Apa Ten amnesia dengan dirinya dan melupakannya?? Itu tidak mungkin, berpikirlah dengan benar Johnny. Monolognya.

Ten membalikkan tubuhnya setelah meninggalkan lelaki tinggi yang baru saja memanggil dirinya.

Johnny.

Benar, itu Johnny.

Ten sangat mengingat siapa lelaki itu, bahkan rasanya Ten tidak bisa dan tidak ada keinginan dalam dirinya untuk melupakan lelaki tinggi yang baru saja memanggil dirinya.

Dada miliknya terasa begitu menyakitkan. Sesak ia rasakan sendiri. Air matanya tanpa permisi perlahan turun ke pipi miliknya. Hatinya, sangat sakit. Sakit yang begitu menyakitkan untuk terus ia rasakan.

Ten, tidak benar-benar melupakan. Hanya saja, Ten memilih untuk berpura-pura lupa di depan Johnny

Ten takut, sangat takut semisal emosi miliknya memuncak dan lelaki itu berakhir bermain dengan tangannya untuk menampar atau memukul wajah Johnny meskipun semua orang tau bahkan dirinya tau, Johnny berhak mendapatkan itu semua.

Pada akhirnya, Ten memilih pilihan kain dan pergi dari taman tersebut lalu bersikeras meminta Kun dan Doyoung untuk segera pindah ke tempat yang lebih jauh lagi.

Dia tidak ingin bertemu dengan Johnny, lagi.

Menurut Ten, apa yang ia lakukan sudah menjadi yang terbaik bagi dirinya dan juga Johnny.

Menghindari interaksi dengan Johnny. Itu pilihan yang Ten pilih.

Bagi Ten, jika ada celah diantara keduanya, Ten tahu dang sangat tahu pasti Johnny akan terus mengucaokan kalimat maaf dan menjelaskan semua yang bagi dirinya hanya omong kosong belaka.

Ten lebih tahu dirinya dari siapapun. Ten tahu, dirinya sangat mudah untuk percaya dengan semua kata-kata orang.

Maka dari itu, untuk mencegah semuanya, Ten lebih memilih untuk bersikap bahwa seakan-akan dirinya, tidak mengingat satu pun hal yang ada di dunia ini.

Sedangkan dilain tempat, seseorang yang memang dengan sengaja menyuruh Johnny untuk datang ke taman tepat pada jam dimana Ten mendatangi taman tersebut sudah tersenyum kecil kemudian bergumam,

“Lo, berhak atas hal itu. Dimanapun lo berada, lo ngga akan pernah bisa bahagia, Johnny. Bayang-bayang dan semua memori lo dan Ten, akan terus menghantui. Terima kasih, untuk sakit yang udah lo berikan ke lelaki mungil yang udah gue dan Kun jaga sejak dulu. Tidak akan ada sampai jumpa lainnya lagi dari gue, Kun, juga Ten. Gue harap, bahagia lo, semua tertutup.”

Kemudian Doyoung meninggalkan tempat tersebut lalu bergegas untuk kembali ke rumah singgahnya bersama dengan Kun dan Ten.