planning
Saat ini keluarga Suh sedang berada di ruang TV di mana Ten dan si bungsu Haechan duduk di sofa sedangkan Johnny dan si sulung Hendery duduk di karpet sedang menonton siaran televisi.
Sekitar jam delapan malam Johnny dan Ten keduanya sama-sama sampai di rumah membuat mereka akhirnya menyisihkan waktu untuk sekedar berkumpul bersama keluarganya di ruang TV.
Oh, Johnny juga ingin membicarakan mengenai jalan-jalan yang sebelumnya sudah ia rencanakan.
“Oh iya, Daddy belum bilang yaa, weekend ini pada kosong jadwal kan? Harus kosong dongg karena kita mau jalan-jalan!” Ucap Johnny membuat Haechan yang sebelumnya seperti jelly tanpa tulang menidurkan dirinya di rangkulan sang Papa langsung duduk tegap terkejut mendengar ucapan Johnny.
“Serius Dad?????” Tanya Haechan, ia masih terkejut. Dia benar benar butuh liburan.
Ten mengangguk lalu mengelus surai milik Haechan lembut, “Iya sayang. Kemarin Daddy sama Papa udah coba cari cari penginapan yang tempatnya enak buat kita sekeluarga nginap di sana. Pasti dede suka dehh.”
Johnny ikut mengangguk setuju, “Jadi gimana? Pada bisa kan sabtu pagi ini kita berangkat.”
Hendery mengangguk, “Bisaa kok. Harus bawa baju berapa deh?”
“Terserah abang, yang pasti baju tidur satu, baju pergi sama baju santai. Tambahin juga boleh buat lebih takut kotor-kotoran.” Jawab Ten sedangkan Johnny hanya menyimak. Toh, baju dia udah disiapin duluan sama Ten.
Sedangkan Haechan sudah ada dalam dunianya sendiri, memikirkan baju yang harus dia bawa yang mana dan berapa. Bahkan Haechan sudah punya niat mau ngapain di sana, yang pasti list pertama adalah ngisengin abangnya.
Hendery mengacungkan jempol, “Baik bossss!”
“Jangan lupa bawa handuk, cuci muka, gosok gigi masing-masing. Nggak ada tuh omongan lupa bawa handuk. Ya abang?” Ucap Ten yang sebenarnya memang ditujukan untuk Hendery karena anak itu suka pelupa apalagi handuk.
Hendery terkekeh, “Iyaaa papaaa.”
“Dede mau siap siap ahh. Sekalian dede baru inget mau video call sama momogi. Dede naik yaa Daddy, Papa, Abangg.” Pamit Haechan. Johnny, Ten, dan Hendery mengangguk lalu Haechan berdiri dari duduknya kemudian berlari menuju kamarnya di lantai dua.
Tersisalah ketiga lelaki ini di ruang TV.
“Eh iya Bang.” Panggil Ten sebelum Hendery beranjak dari duduknya membuat Hendery kembali duduk di karpet.
“Kenapa Pa?”
“Ini... Papa boleh minta tolong?”
Hendery mengangguk, “Ya boleh lah Pa? Mau minta tolong apaa Pa?”
“Itu, tadi Om Winwin cerita tentang Dejun. Tanggal ujiannya dikit lagi ya Bang?”
“Iya denger denger sih gitu. Emang kenapa Pa?”
“Om Winwin bilang, katanya Dejun keliatan kayak capek banget ngejar materi ujian. Om Winwin mau bantuin juga nggak paham paham banget. Abang, bisa bantuin?” Tanya Ten. Iya, selalu kalau ada kesempatan diantara Ten, Winwin, dan Taeyong mereka pasti gosip.
Hendery terlihat berfikir lalu mengangguk, “Bisa Pa. Tenang ajaa!”
Johnny yang daritadi menyimak dan duduk diam di karpet langsung angkat suara, “Iya bener tenang aja. Buat Dejun mah apa yang nggak ya Bang?”
Ucapan Johnny membuat Ten tertawa lalu geleng-geleng sedangkan Hendery memalingkan wajahnya, malu.
Daddynya ini selalu deh.
“Yaudah abang naik dulu ke kamar ya Daddy, Papa.” Pamit Hendery lalu berdiri dari duduknya.
Johnny dan Ten mengangguk.
“Semangat ngechat Dejunnya. Jangan gemeter apalagi salah tingkah Bang.”
“DADDY!”
Sedangkan Ten hanya mencolek lengan Johnny, “Jo ah kamu nih usil aja sama anak sendiri.”
“Lucu soalnya heheh. Yaudah, yuk?”
“Yuk apa?”
“Recharge kekuatan!” Ucap Johnny lalu mengangkat tubuh Ten. Dibawanya tubuh mungil itu dengan hati-hati menuju kamar mereka. Sedangkan Ten yang digendong langsung melingkarkan tangannya di leher Johnny sambil tersenyum.
@roseschies