regrets always comes second
“p.s: kakak jangan lupa makan ya. inget, kakak punya maag! mulai sekarang, sekali kakak lupa makan, sehari juga berkurang kita ketemu. -shc”
Mark memandangi notes kecil yang ia tempel tepat di frame foto di mana foto dirinya dengan Haechan terpajang. Terlihat keduanya sedang memeluk satu boneka diantara keduanya. Foto tersebut diambil sekitar 10 tahun lalu atas keinginan Mark. Dia ingin memiliki satu foto dirinya dengan Haechan dan akan ia panjang seumur hidup di kamar, katanya dulu.
Terbangun dari mimpi buruknya benar-benar membuat Mark terdiam dan hanya memandang kesegala arah di kamarnya. Kepalanya sakit, bahkan ia tidak sadar sudah ada perban yang menempel di kepalanya. Ia menghela nafas panjang. Sebenarnya, apa yang ia inginkan, sih. Entah, semua terasa semakin jauh dari pemikirannya. Haechan, tidak kenapa kenapa kan? Haechan-nya itu, baik-baik saja kan. Bahkan, sepertinya mengucapkan Haechan-nya terlalu tidak tau diri untuk Mark setelah banyak ucapan dan perlakuan jahat yang ia lempar kepada adik manisnya yang tidak memiliki salah apapun.
Mark tau, yang jahat di sini hanya dirinya. Pemikiran kolot dan semua perlakuan semena-mena Mark lah yang sangat jahat di sini. Mark tidak bisa bohong, ia menyimpan begitu dalam perasaan lebih untuk Haechan sejak dulu. Tetapi semua yang keluar dari mulutnya, hanya kalimat kalimat berbanding terbalik dari apa yang ia rasakan. Ia hanya mengeluarkan kalimat jahat untuk orang yang salah.
Jika sejak dulu Mark menghiraukan semua kalimat temannya, mungkin Mark akan tetap menjadi Mark yang Haechan, Jeno, dan Hendery kenal. Ia, Mark yang selalu ada di sebelah Haechan. Mark yang selalu menomorsatukan Haechan. Mark yang selalu ada untuk Haechan. Dan, Mark yang akan setia menemani adik manisnya itu di saat Haechan tidak bisa tidur.
Sayang, Mark yang baru saja disebutkan, sudah hilang ditelan oleh pemikiran bodohnya sendiri. Pemikiran yang terbuat oleh ucapan orang lain yang bahkan bukan siapa siapa di dalam hidupnya.
Mark, sudah kehilangan banyak hal dalam dirinya.
Pantaskah Mark untuk kembali dan meminta serta memohon maaf pada Haechan?
Pantaskah Mark untuk kembali menjadi orang yang akan selalu berada di samping Haechan?
Pantaskah Mark menyanyikan banyak lagu untuk Haechan di saat Haechan tidak bisa tertidur?
Dan, pantaskah Mark mendapatkan permintaan maaf dari Haechan?
Rasanya, Mark terlalu tidak tau diri jika meminta semua hal untuk kembali seperti semula. Tetapi, Mark akan mencoba untuk membangun kepercayaan Haechan dari awal lagi. Begitu juga dengan Papinya, ia sudah sangat menyakiti hati Papinya yang sudah lelah membesarkan dirinya sejak kecil.
Tolong, biarkan Mark membangun semua hal yang sudah ia rusak. Biarkan lelaki ini, membangun semua dari awal, hingga dirinya merasa pantas.
Meskipun ia tau, pada akhirnya semua akan terasa beda.
“Sekarang, meskipun aku lupa makan, kita juga nggak akan ketemu ya chan. Hahahah. Aku bodoh banget chan.”
Semua yang rusak mungkin akan bisa dibetulkan. Tetapi, semua yang rusak belum tentu akan kembali seperti semula. Kerusakan yang terjadi akan terus dan selalu membekas.
Ketika dirinya ingin merasa diterima oleh orang lain tetapi ia lupa caranya mencapai hal tersebut membuat dirinya terasa jauh dari dirinya sendiri. Ia gagal untuk bisa menerima dirinya sendiri.
Mark kehilangan arah. Mark kehilangan dirinya. Mark hanya butuh seseorang untuk membantu dirinya yang sedang tersesat dan menemukan dirinya kembali.
@roseschies