REMNANT; Tentang yang mengingat, dan yang menghilang.

Johnny as Arven Ten as Rei


Arven selalu terbangun dengan satu nama di dalam hatinya.

Rei.

Ia tidak tahu sejak kapan. Tidak tahu dari dunia mana asalnya.

Yang ia tahu, setiap kali membuka mata, hidupnya selalu berbeda.

Dan setiap kali itu pula, satu orang selalu muncul di dalam kehidupannya.

Dengan wajah yang sama, senyum yang sama, matanya yang sama, namun dengan nama yang berbeda.


Siang ini, Arven baru saja menyelesaikan mata kuliahnya yang terasa amat lama bagi dirinya, karena ia tidak begitu menyukai mata kuliah tersebut.

Terlalu lama dosennya berbicara di dalam kelas sampai berbusa, sampai-sampai teman-temannya sudah lebih dulu pergi, meninggalkan Arven menyendiri untuk makan siang yang tergolong terlambat itu di kantin yang tidak jauh dari gedung fakultasnya.

Walau makan siangnya itu tergolong terlambat namun kantin masih sangat ramai mahasiswa berlalu-lalang di sini, tempat duduk pun masih begitu penuh.

Dengan nampan yang berisi makanan siang miliknya, Arven kesana kemari mencari tempat duduk.

Kakinya membawa dirinya menuju tempat makan yang bisa dibilang sedikit tertutup dari banyaknya orang di dalam kantin, di sanalah seorang pria, duduk menyendiri dengan kotak makan di depannya yang hampir tak tersentuh.

“Boleh duduk?” tanya Arven pada pria itu, membuat si pria tersebut mengangkat wajahnya yang sejak tadi sibuk dengan ponsel miliknya.

Matanya, begitu cantik.

“Boleh.” jawabnya pelan.

Suaranya, begitu lembut.

Namanya, Rei.

Sejak hari itu, Arven dan Rei selalu bersama kemanapun mereka pergi, apalagi di saat teman-teman Arven sedang sibuk sendiri, di sanalah Rei berperan, berdiri dan berjalan di sebelah Arven. Karena Rei, hanyalah seorang diri, ia tidak memiliki teman yang dekat dengannya, hanya teman satu kelas dan selesai kelas, selesai sudah.

Rei bukan tipe yang banyak bicara, ia lebih suka mendengarkan.

Sedangkan Arven, seseorang yang memiliki segudang cerita di dalam hidupnya, Arven senang sekali bercerita dan berbicara dengan orang lain.

Sejak hari itu pula, kantin dengan meja pojok yang tak terlihat dari banyak orang, menjadi saksi tentang Arven yang selalu bercerita dan Rei yang selalu mendengarkan Arven.

Seolah dunia hanya berisi mereka berdua.

“Rei, aku mau cerita, masa....”

“Rei, aku sebel banget deh sama dosen....”

“Rei, kamu punya cita-cita ngga? Masa ya, aku dulu pas kecil cita-citanya mau jadi astronot, aku mau terbang ke bulan.”

Dan sekian banyak 'Rei' yang keluar dari mulut milik Arven, Rei selalu mendengarkan.

Walau begitu, Arven tahu, Rei bukan hanya ingin mendengarkan dan tidak ingin berbicara, tetapi Rei ingin ditemani.

Arven tahu, Rei hanyalah seorang pria yang kesepian.

Maka dari itu, setiap waktu milik Arven, Arven berikan untuk Rei. Untuk temani Rei di dalam kehidupannya.

Tak disangka, mulai saat itu pula, Rei merasa senang dalam hidupnya, hidupnya terasa lebih berisi dan berwarna, berkat kehadiran Arven.

Mereka jatuh cinta, tanpa sadar.

Namun, cinta saja ternyata tidak cukup.

Cerita dan kehadiran antara mereka berdua saja tidak cukup.

Arven ingin merantau. Rei ingin menetap.

Arven menyukai tantangan. Rei membutuhkan stabilitas.

Berbagai macam ketidak selarasan antara keduanya mulai terasa dan mereka mulai sering diam satu sama lain.

Dan tiba di suatu malam, banyak sekali yang ingin disampaikan oleh Rei pada Arven. Arven tak kunjung menghubunginya, maka dari itu, Rei memutuskan untuk menghubungi Arven terlebih dulu.

Di bawah lampu jalan yang redup, keduanya bertemu, matanya saling menatap satu sama lain, ada banyak perasaan yang tidak bisa diutarakan satu sama lain. Tetapi, yang Rei tahu, hanya satu dan itu multak;

“Aku sayang sama kamu, Ven.”

“Aku juga, Rei.” jawab Arven cepat.

“Tapi, kita selalu jalan sendiri-sendiri. Kita banyak bedanya, Ven.”

Arven menunduk.

Ia tahu, itu benar. Bahkan hal kecil diantara mereka berujung sebuah berdebatan karena mereka memiliki pilihan yang berbeda dan selalu tidak ada jalan tengah.

Rei jengah, ia capek, begitu juga dengan Arven.

Nyatanya, cinta saja tidak cukup.

Begitulah yang akhirnya mereka pahami dipenghujung pertemuan mereka kali ini.

“Mungkin...” Rei tersenyum tipis. “Di dunia lain, kita berhasil.”

Kalimat itu menancap dalam hati Arven. Arven tahu. Mungkin kalimat tersebut tidak memiliki arti, tapi bagi Arven, kalimat itu memiliki arti yang begitu besar untuk dirinya dan hubungannya dengan Rei.

Arven tersenyum lalu mengusap pelan rambut milik Rei, tidak mengelak maupun menolak, ia tahu, kebahagiaan Rei juga kebahagiaan dirinya.

Mereka berpisah baik-baik.

Tanpa benci. Tanpa salah.

Hanya luka yang diam.

Malam itu, Arven pulang, membawa kakinya menuju kamar dengan kepala yang sungguh rasanya sakit sekali. Matanya kosong, hanya menatap atap kamarnya, merebahkan tubuhnya, dan tertidur dengan nama Rei yang menetap di dalam pikiran juga hatinya.


Sebuah ketukan pintu tiga kali berhasil membuat Arven terbangun dari tidurnya.

“Masuk,” ucap Arven.

Ia mengangkat wajahnya, badannya terasa sakit.

Ia tertidur di atas meja kantor tepatnya di atas keyboard laptop.

Seorang pria berdiri di sana dengan tangannya yang sedang memegang banyak berkas entah berkas apa, Arven masih mencoba mengingat apa saja yang baru terjadi.

Wajah itu.

Jantung Arven berhenti.

“Rei?”

Pria itu mengernyit, “Rei siapa? Aku Rin, pacarmu.”

Arven terdiam.

Kilasan ingatan baru masuk ke kepalanya seperti arus deras.

Ia bekerja di kantor ini. Rin adalah kekasihnya, mereka sudah bersama selama dua tahun.

Namun rasa asing itu tetap ada.

“Kamu loh tidur terus di kantor. Kerjaanmu ini banyak, Ven. Ini, ada beberapa data yang harus kamu cek dan tanda tangan, jangan kebanyakan begadang makanya. Duh, mejamu juga berantakan banget, Ven. Habis apa sih, kamu?”

Suara itu, suara milik Rei.

Rin mirip sekali dengan Rei. Wajahnya, senyumnya, mirip sekali.

Namun berbeda dengan Rei, Rin keras, ambisius, perfeksionis, tidak suka kalah.

Dan Arven... juga begitu.

Setiap hari tiada hari tanpa pertengkaran antara keduanya lantaran keduanya tidak mau mengalah. Keduanya sama-sama keras.

Pertengkaran kecil berubah jadi besar.

“Kenapa kamu selalu mau menang sendiri?!” teriak Rin pada Arven yang sedang berkutik dengan laptopnya sedangkan Rin duduk sambil memijat kepalanya di sofa yang berada di dalam ruangan milik Arven.

“Kamu juga begitu, kamu mau menang terus!” balas Arven.

Tak ada yang mau mengalah.

Cinta mereka habis untuk bertahan.

“Terserah kamu deh, Ven. Susah banget dibilangin.” jawab Rin menjawab ucapan Arven.

“Apa? Aku susah dibilangin terus kamu apa?”

“UDAH ARVEN.”

“Kamu yang terus-terusan ngajak ribut, Rin.”

“Udah. Aku capek, Ven.”

“Aku capek kayak gini terus, kita gak akan bisa, Ven. Dua tahun hubungan kita berjalan, dua tahun itu juga diisi dengan amarah, gak akan bisa, Ven. Cukup.” ucap Rin, menyudahi pertengkaran antara dirinya dengan sang kekasih, juga menyudahi hubungan dua tahun milik mereka berdua. Rin mengangkat tubuhnya dari sofa lalu keluar dari ruangan milik Arven, meninggalkan suara kencang yang dihasilkan dari pintu yang ditutup kencang oleh Rin.

Arven memijat kepalanya, pusing. Arven membawa dirinya menuju sofa lalu menidurkan dirinya, ia seperti dejavu, matanya menatap kosong langit-langit ruangan miliknya.

“Kenapa....” gumamnya.

Ia tertidur di atas sofa dengan kepalanya yang berisik.


“Ven, bangun.”

Suara milik mamanya berdengung di dalam kupingnya membuat dirinya membuka matanya.

Ia mengingat betul itu wajah miliik mamanya namun kamarnya terasa asing.

“Temenin mama ke nikahan anaknya temen mama yuk. Siapa tahu kamu nemu jodoh di sana, umur udah segini kapan nikahnya kamu.”

Kilasan ingatan lainnya mulai masuk ke dalam ke dalam kepalanya.

Ya, saat ini umurnya sudah menginjak kepala empat.

Tidak perlu banyak omong, akhirnya Arven mengiyakan ajakan mamanya untuk menemani ke nikahan itu.

Gedung megah dengan banyak hiasan bunga putih dan berbagai spanduk mengisi penglihatan mata milik Arven.

Entah sudah berapa banyak undangan pernikahan yang sudah Arven datangi tetapi dirinya tak kunjung juga menggelar pernikahannya sendiri.

Nanda & Rai

Nama yang asing, ia tidak begitu kenal dengan teman-teman mamanya apalagi anak-anaknya.

Ketika Arven dan sang mama masuk ke dalam, ternyata mereka sedikit telat dan sudah ada dua mempelai pria di depan sana yang sedang tersenyum ceria saling berpaut tangan.

“Rei?”

Mata milik arven melotot, jantungnya terasa berhenti sejenak.

Wajah itu, senyum itu, mata itu, milik Rei.

“Rei siapa?” Mamanya bingung.

“Itu Rai, sayang, anaknya temen mama.”

Kepalanya berdenyut.

Rei. Rin. Kenangan. Tawa. Tangis.

Semua berputar.

Wajah dan suaranya sangat mirip dengan Rei. Berbagai ingatan yang terus mutar di kepala milik Arven.

Sakit, sakit sekali.

Semuanya terasa gelap dipandangan milik Arven, tubuhnya terjatuh di lantai.


Suara pengumuman stasiun membangunkan Arven dari tertidurnya itu.

“Kereta tujuan...”

Arven berdiri di tengah keramaian.

Ia menoleh bingung.

Tepat di depan ia berpijak, seseorang tak sengaja menjatuhkan tiketnya. Arven memungut tiket tersebut lalu memberikan tiket tersebut ke sang pemilik, “Ini.”

“Eh- makasih.”

Pria itu tersenyum.

Dan dunia seakan berhenti.

Wajah dan senyum itu.

“Rei..?” gumam Arven.

“Maaf?”

“Aku Rein.”

Arven terkesiap, “Oh... Iya.”

Terasa canggung, Arven menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu lalu duduk di bangku dan disusul oleh seorang pria tadi juga ikut duduk di sebelah Arven.

“Mau kemana, mas?”

“Oh, itu. mau ke-”

Kemana? Arven pun tidak tahu kemana arah ini akan membawa Arven, Arven betul betul hanya mengikuti arus.

“Ke rumah, pulang.”

Pulang? Asal saja. Lagi-lagi Arven pun tidak tahu arah pulang dan kemana ia harus pulang.

Detik demi detik, menit demi menit, keduanya habiskan untuk mengobrol ringan, rasanya seperti keduanya sangat cocok. Bahkan Rein terpukau karena Arven sangat mengerti obrolan keduanya, terasa seperti pertemuan yang bukan pertama kali.

“Hobi kamu apa?” tany Rein tiba-tiba. Rein hanya penasaran, siapa tahu hobi Arven memang unik, maka dari itu setiap obrolan diantara keduanya terasa cocok.

“Kehilangan,” jawabnya jujur.

Rein tertawa kecil, “Kok sedih?”

“Kita pernah ketemu, ya?” tanya Rein lagi, penasaran.

“Iya.”

“Di mana?”

“Di semua dunia.”

Rein tertawa, kali ini lebih besar, karena lelucon apa yang baru ia dengar barusan.

“Kamu lucu.”

Sedangkan Arven tidak ikut tertawa, karena ia serius.

“Aku serius, Rei.”

“Daritadi kamu sebut sebut Rei, aku Rein.”

“Oh, iya, Rein.”

“Kamu sendirian, Rein?” lanjut Arven, karena sejak tadi ia tidak melihat siapa siapa hanya Rein, sendirian.

Jantungnya berdegup dengan kencang, rasanya rasa yang ia miliki untuk Rei masih selalu ada, tiap ia menatap Rein, rasanya seperti ia sedang menatap Rei.

“Hmm, ngga?”

“Kok nanya aku?”

Rein tertawa.

“Aku sam-”

“Kereta tujuan....”

Bersamaan dengan jawaban Rein, kereta tujuan selanjutnya datang bersamaan dengan satu orang lelaki yang sedang memegang tangan anak kecil lalu sang anak itu memanggil dari kejauhan.

“Papa Reinn!”

“Aku sama keluargaku. Duluan ya, Arven. Nice to meet you, again, i guess?” Rein tersenyum kecil lalu meninggalkan Arven yang terdiam.

Arven tersenyum getir, melambaikan tangannya, matanya melihat ke arah Rein yang sedang bercanda tawa dengan anaknya di samping suaminya itu.

Keluarga.

Sesuatu yang tak pernah ia miliki.

Air matanya jatuh tanpa suara.


Arven berdiri sendiri di peron.

Ia akhirnya mengerti.

Di setiap dunia,

Rei lupa, Rin lupa, Rein lupa.

Hanya dirinya yang mengingat.

Mungkin semesta memang kejam.

Atau mungkin,

Cinta mereka memang tidak pernah ditakdirkan selesai.

Ia tersenyum getir.

“Bukan dunia yang salah, Kita aja yang nggak pernah bisa.”

Dan di antara ribuan manusia yang berlalu-lalang, Arven tetap berdiri.

Sebagai satu-satunya remnant dari cinta yang tak pernah pulang.


@roseschies, 2026.