Roommates
— Johnten oneshot AU —
Suara seseorang membuat Johnny terbangun dari tidurnya yang indah itu. Johnny sedikit was-was dan menengok ke kanan maupun ke kiri, mencari sumber suara tersebut.
Johnny membawa tubuhnya berdiri dari kasur, berjalan dengan langkah yang sempoyongan akibat tubuhnya belum benar-benar terbangun. Bahkan, kedua matanya masih menutup.
“Hiks.....”
Suara itu, berasal dari kasur yang tak jauh dari kasur milik Johnny.
“Ten?”
Panggil Johnny, memanggil teman sekamarnya yang terdengar seperti sedang menangis itu.
Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.
Dengan mata yang seperti dipaksa terbuka, Johnny mengahampiri kasur milik teman sekamarnya untuk melihat keadaan teman sekamarnya itu.
Lelaki ini, masih tertidur, pulas.
Namun keringat terus mengucur disekitar pelipis lelaki ini.
“Mimpi buruk lagi?” Johnny bermonolog sambil menghapus jejak keringat yang berada di pelipis Ten dengan tisu.
Sebenarnya, ini bukan sekali maupun kedua kalinya Johnny memergoki teman sekamarnya ini bermimpi buruk sampai mengigau.
Sudah sering, sering sekali. Namun, Johnny selalu diam, tidak pernah memberitaukan hal tersebut kepada Ten.
Lagipula, sudah satu tahun keduanya menjadi teman sekamar, kebiasaan pulang jam berapa pun Ten, Johnny mengetahui semuanya begitupun sebaliknya kok.
Masalah seperti ini, sudah seperti menjadi kebiasaan Johnny. Contohnya, mengelap keringat Ten yang mengucur di pelipisnya ketika Ten dihampiri mimpi buruk berlebih dan juga menenangi lelaki ini.
Johnny sendiri tidak ingin bertanya lebih lanjut, menurut dirinya, ini masih termasuk ranah privacy, toh Ten sendiri tidak pernah bertanya apakah dirinya pernah mengingau, mengorok, dan sejenisnya. Lebih kearah keduanya memang tertutup untuk masalah hal tersebut, sih.
Hal lumrah kan seseorang mengingau, mengorok, dan sejenisnya. Apalagi menjadi teman sekamar, harus bisa menerima itu semua.
“Hiks....”
Air muka Ten memancarkan kesedihan yang begitu mendalam, tubuhnya gelisah, keringatnya semakin mengucur. Johnny bawa tangannya untuk mengecek suhu tubuh Ten. Tidak terlalu panas namun menghangat.
Setelah itu, Johnny mengambil handuk kecil dengan baskom berisi air hangat lalu dicelupi handuk tersebut dan diperas kemudian di letakkan handuk tersebut di dahi milik Ten.
“Ten, it's okay gue disini. Lo gak perlu takut.”
Johnny kembali bermonolog, mendudukkan diri disamping kasur milik Ten. Jika sudah seperti ini, Johnny tidak akan tidur, sampai benar-benar dirasa keadaan Ten sudah kembali normal.
Tak lama kemudian, air muka Ten kembali seperti normal, sudah tidak ada kegelisahan lainnya.
Johnny mengambil handuk kecil tersebut lalu ia membawa dirinya kembali tidur, di kasur miliknya yang tak jauh dari kasur milik Ten.
Johnny kembali terbangun akibat suara kasur yang berdecit berkali-kali di dalam kamarnya.
Ini Ten lagi having sex sama siapa sih, kudu banget di kamar apa gimana, Pikir Johnny.
Johnny membuka matanya untuk melihat kearah kasur milik Ten, dengan takut-takut. Mana tau beneran, lalu Johnny melihat adegan live sex di depan matanya yang suci ini, kan keterlaluan.
Namun disana tidak ada siapa-siapa, hanya ada Ten yang masih tertidur dengan selimut yang sudah jatuh dari kasur milik Ten.
Mimpi buruk lagi, pasti.
Johnny membawa tubuhnya bangun dari kasur dan berjalan menuju kasur milik Ten, mengelap keringat yang membanjur sekujur tubuh Ten.
“Astaga, ini kaos sampe mandi air keringat begini. Mimpi apa sih, Ten?” Dumel Johnny namun tetap mengelap keringat Ten di beberapa titik.
Tubuh Ten kembali bergerak gelisah membuat Johnny bingung harus bagaimana.
Johnny menepuk pipi Ten pelan guna membangun lelaki ini dari mimpi buruknya, “Ten, bangun.”
Tubuh Ten semakin terlihat gelisah membuat Johnny kembali menepuk pipi Ten sedikit kencang, “Ten, bangun. Hey.”
“JOHNNY!” Ten teriak dari bangun tidurnya dengan air muka yang sedikit terkejut dan badannya yang seperti tersentak, bahkan Ten langsung memeluk Johnny.
Johnny sampai bisa merasakan detak jantung Ten yang tidak karuan itu.
“Johnny, takut.” Cicit Ten membuat Johnny mengelus punggun Ten.
“It's okay, gue disini Ten. Gak ada apa-apa, cuma ada gue. Tenang ya,”
Johnny hanya bisa melantukan kalimat penenang untuk Ten, sampai Johnny bisa merasakan tubuh Ten yang memberat dipelukannya dan dengkuran halus yang dapat ia dengar di kupingnya itu.
Seperti ini, ada dimana ketika Ten terbangun, tersentak, memeluk dirinya, lalu berbicara jika dirinya takut, lalu tertidur kembali di pelukan Johnny. Namun, keesokan paginya, Ten tidak mengingat hal tersebut.
Hari selanjutnya, kembali Johnny terbangun mendengar rintihan hampir kesebuah teriakan meminta tolong dari kasur teman sekamarnya itu.
Johnny baru saja ingin membangunkan dirinya dari tempat tidur miliknya itu, namun badannya sudah terlebih dahulu di tubruk oleh tubuh Ten.
“Johnny, takut. Jangan kemana-mana.”
Tubuh Ten bergetar, posisinya kali ini keduanya berbaring di kasur milik Johnny dengan Ten yang memeluk lengan Johnny namun matanya masih menutup.
Johnny membalikkan tubuhnya, memeluk lelaki ini, merengkuh seluruh tubuhnya dan dibawa dalam kehangatan pelukan milik Johnny.
Malam itu, keduanya tertidur pulas sambil memeluk tubuh masing-masing, di kasur sempit milik Johnny.
“Lo ngapain peluk badan gue Johnny!!” Teriak Ten dan mendorong tubuh Johnny yang masih tertidur itu.
Masih pagi, udah di tendang aja Johnny dari kasur yang bahkan itu kasur miliknya sendiri.
“Aduh, Ten sakit!” Johnny memegang kepalanya, gimana coba rasanya bangun secara terpaksa terus ditendang dari kasur.
“Ya lo ngapain melukin badan gue!” Teriak Ten tidak terima lalu menarik selimut yang ada di atas kasur namun sepersekian detik ia merasa janggal terhadap suatu hal.
Sejak kapan dia punya seprei dan selimut berwarna merah seperti ini, ya?
“Ini selimut sama seprei siapa anjir? Perasaan gue gak pernah punya dan gak bawa dari rumah selimut sama seprei jenisan gini?” Ten bermonolog sambil membulak-balikkan selimut tersebut.
“Ya karena itu bukan kasur lo anjing, ini kasur gue.” Jawab Johnny sambil bangun dari tendangan maut milik Ten tadi.
“Sok tau lo tolol, jangan menghak milikkan barang gue terus kenapa sih Jo! Ini kan kasur gue, lo kan pasti mesum semalem bangun terus meluk-meluk gue datengin gue ke kasur gue! Ngaku lo!”
Johnny menggeleng-gelengkan dirinya sendiri, ini anak emang suka nggak tau diri begini. Belom aja Johnny beberin semua dan membalikkan semua kalimat yang Ten ucapkan menjadi sebuah fakta.
“Diem berarti artinya bener!”
“Coba deh lo ngadep ke kiri, lo liat ada kasur lo disana kan?”
Setelah mendengar instruksi dari Johnny, Ten menghadapkan dirinya kearah kiri, dan benar dirinya bisa melihat kasur miliknya dengan seprei kesayangannya itu disana.
“Terus, yang lari ke kasur gue, dan meluk gue itu siapa?”
Ten berdiri dari kasur Johnny lalu berdecak kesal, “Ya enggak tau!”
Pipinya memerah, malu. Johnny tertawa melihatnya. Lelaki ini, ada saja kelakuannya tiap hari.
“Kuliah lo, jangan mikirin pelukan gue seharian.”
“Bacot Johnny anjing.”
“Dih, kasar. Nggak boleh gitu, nanti lari-lari meluk gue malem-malem lagi loh.”
“Yang namanya Johnny bangsat banget!” Teriak Ten lalu masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tersebut dengan kencang.
Sedangkan Johnny sedang tertawa kencang sambil memegang perutnya.
Belakangan ini mimpi buruk Ten intensitasnya semakin sering dan semakin sering pula Ten berlari-lari menuju kasur Johnny lalu memeluk dirinya kencang dan berakhir setiap pagi keduanya selalu meneriaki satu sama lain, alasannya karena Ten malu. Malu mengakui bahwa dirinya beberapa malam selalu berlari hanya untuk memeluk Johnny.
Toh, Johnny menikmati saja padahal.
Entah sudah terlalu lelah meneriaki satu sama lain, pagi ini setelah terjadi kembali Ten yang berlari dari kasurnya untuk memeluk Johnny dengan keringat yang mengucur, keduanya bangun dalam keadaan damai, bahkan Ten masih memeluk Johnny seperti guling sedangkan Johnny memeluk tubuh Ten seperti guling.
“Ten, gue punya penawaran terbaik nih.”
“Lo udah kayak sales aja anjir,”
“Mau dengerin gak anjing, kok jadi sales-salesan.”
“Kok lo ngegas sih bangsat, masih pagi jangan ngajak ribut mulu.”
Iya, mereka berdua saling mengatai masing-masing tapi pelukannya makin erat aja.
“Yaudah, gini penawarannya. Siapa tau ngebantu juga mengurangi intensitas mimpi buruk lo. Keren banget gak tuh gue, anjir emang pinter banget gak sih gue Ten?”
“Ya apa cepet bangsat, kok lo malah membanggakan diri sendiri sih.”
“Mulut lo kotor banget ya, apa perlu gue cium biar bersih?”
“Yaudah”
Terlampau santai Ten menjawab membuat Johnny tersentak, “Apanya yang yaudah?”
“Yaudah lanjutin penawaran lo anjing, ngomong mulu. Gue mau kuliah nih.”
“Oh, kirain” Johnny kembali mengeratkan pelukannya, Ten menyamankan tubuhnya dipelukan Johnny.
“Jadi, gimana kalau kita beli kasur yang king size biar kita tidur berdua aja dan lo nggak perlu bangun terus lari-lari buat meluk gue tiap malem, siapa tau kayak gitu bisa ngurangin intensitas mimpi buruk lo terus karena pelukan sama gue tiap malem. Gimana?”
Ten melepas pelukannya lalu menatap Johnny dan mengerutkan dahinya, “Nggak! Nggak mau, lo bau.”
Bukannya pindah ke kasur sendiri, Ten malah kembali memeluk tubuh Johnny setelah menolak penawaran Johnny.
“Katanya gue bau? Kok masih dipeluk aja?”
“Iya, baunya enak. Wangi. Suka banget Jo.”
Ini, Johnny digombalin ya?
Johnny menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jadi, bau apa wangi?”
“Tau ah!”
Lah, ngambek anaknya.
“Ini nggak mau pindah ke kasur lo?” Tanya Johnny pada Ten yang sedang membelakangi dirinya, pura-pura ngambek. Astaga.
Ten menggeleng namun masih membelakangi tubuh Johnny.
“Yaudah berarti besok gue beli kasur king size aja deh, kasian lo kesempitan gini Ten.”
Ten menggeleng dan tetap menolak, “Nggak mau!”
“Tapi nanti lo jatuh, emang lo mau sempit-sempitan gini sama gue?”
Ten mengangguk.
Johnny geleng-geleng melihat kelakuan teman sekamarnya ini, ada saja kelakuannya. Aneh pula.
@roseschies🌸