selamat hari ayah, daddy dan papa.

2.048 words


Hendery mengetuk pintu kamar Haechan dengan brutal membuat si pemilik kamar yang sedang asik bermain dengan Jeno langsung misuh sambil membuka headset yang sedang ia gunakan. “BERISIKKKK MASUK AJA HIH.”

Namun Hendery tetaplah Hendery, abangnya itu tetap mengetuk pintu kamar Haechan membuat Haechan rasanya ingin menjambak rambut milik Hendery.

Haechan membuka pintu kamarnya dan terpampanglah wajah jahil Hendery di sana.

“Ngapain sih ah rusuh banget lo bang.”

“Lagi ngapain siiii? Telponan lo ya sama Mark sampe nggak mau diganggu gitu.” Ucap Hendery sambil mengintip-intip ke dalam kamar Haechan.

Haechan menggeleng lalu mempersilahkan Hendery untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Lagi main sama Jeno. Ngapain?”

Hendery lalu mendudukan diri di karpet yang ada di kamar Haechan lalu menyuruh Haechan untuk ikut duduk di sana.

“Punya kertas HVS, pensil, pulpen, penghapus, spidol, sama kertas origami gak lo?” Tanya Hendery sedangkan Haechan mengangguk.

“Punya lah, emang abang semua minjem ke gue.” Jawab Haechan membuat Hendery terkekeh. Memang sih, abangnya itu bahkan penggaris aja selalu pinjam ke Haechan. Kalau kata Hendery, adiknya itu seperti ATK berjalan.

“Sini, bawain semuanya.” Pinta Hendery membuat Haechan terbingung, abangnya ini mau ngapain sih.

“Udah muka lo gak usah bengong gitu. Kita bikin kartu ucapan buat Daddy sana Papa.” Tambah Hendery setelah melihat Haechan hanya diam sambil memandang dirinya.

“OH. Oke bentar dulu.” Haechan langsung lari menuju komputer miliknya, izin pada Jeno jika dirinya selesai bermain lalu mematikan komputer tersebut kemudian mengambil peralatan yang kira-kira mereka butuhkan.

Setelah Haechan mendapatkan semuanya, Haechan bawa semua peralatan itu dengan dua tangannya sedangkan Hendery hanya bersantai ria di karpet, selonjoran di sana tanpa ada keinginan untuk berdiri membantu adiknya.

“BANTUIN KEK INI BANYAK YAAAA.” Gerutu Haechan membuat Hendery tertawa. Senang dirinya melihat adiknya itu kesusahan sendiri sambil misuh-misuh karena sejak tadi barang-barang kecil selalu berjatuhan.

Sambil tertawa, Hendery berdiri lalu mengambil beberapa barang dari tangan Haechan untuk membantu adiknya itu. “Iya iyaa udah gak usah memble gitu buset dah.”

Haechan memberikan tatapan mematikan pada Hendery lalu memukul lengan milik Hendery. “Ish nyebelin. Yaudah ini mau digimanain emang?”

“Oh. Dede punya ide, kita gambar aja di kertas HVS ini terus kertas origami itu buat kartu ucapannya.”

“Kayak bisa gambar aja lo de.”

“DIH MEREMEHKAN YAAA???”

“Bukan meremehkan, fakta adanya.”

“Gini gini jiwa art Papa nurun ke gue ya!”

Hendery tertawa, dirinya tau kok Haechan lebih pintar menggambar dibanding dirinya yang membuat garis saja masih mencang-mencong abstrak seperti hidupnya.

“Yaudah kalo gitu lo gambar di situ, gue nulis kartu ucapannya. Gimana? Tapi kita sama sama ngasih ide, gue kasih ide tambahan buat gambarnya, lo juga kasih ide kartu ucapan dari lo buat Daddy Papa. Deal?”

Haechan mengangguk setuju. “Oke.”

Akhirnya, mereka berdua masing-masing sibuk dengan kegiatan masing masing.

Haechan yang sibuk mengambar di atas kertas HVS dan Hendery yang sibuk menulis ucapan di atas kertas origami.

“De, gimana?” tanya Hendery setelah menulis hampir setengah dari origami tersebut.

Haechan membaca kilat kemudian mengangguk, “Bagus Bang. Bentar sini gue tambahin.”

Haechan menagmbil kertas origami tersebut lalu menulis beberapa ucapan untuk Daddy dan Papanya itu.

“Nih, tinggal gambarnya, babang mau tambahin apa?” Tanya Haechan membuat Hendery melihat kearah gambar yang sudah setengah Haechan lakukan di sana.

Hendery mengambil pensil kemudian ikut menggambar di atas kertas HVS.

Hendery menggambar wajah Daddy sedangkan Haechan mengambar wajah Papanya.

“SIAPA ITU BANG????!!!” Haechan terkejut melihat gambar yang dibuat oleh Hendery, bahkan jauh dari kemiripan Daddynya itu.

“Daddy lah ini?! Tuh liat, ini tuh Daddy banget de.” Ucap Hendery memberi tau detail untuk gambar Daddynya yang ia buat.

Kemudian Hendery memberi bulatan disekitar gambar Daddynya itu lalu menulis “Ini Daddy. By, Abang.”

“Tanpa di tulis juga semua orang tau itu gambarnya abang.” Ucap Haechan kemudian ikut seperti abangnya, memberi bulatan disekitar gambar Papanya itu lalu menulis, “Ini Papa buatan Dede.” tak lupa ia tambahkan hati kecil di sana.

“Sok imut lo de pake love love.” Ucap Hendery setelah melihat adiknya itu menggambar hati kecil.

“Dih apasih bang sewot aja sewooottt.” Haechan tak peduli kemudian lanjut menggambar sesuatu untuk menambah hiasan di sana tak lupa ia juga menulis namanya besar-besar menggunakan spidol warna warni.

Melihat itu, Hendery ikut menulis namanya bahkan lebih besar dari nama Haechan menggunakan spidol warna terang.

“Dahhh!” ucap Haechan dilanjutkan dengan Hendery yang meletakkan spidol milik adiknya secara sembarang kemudian merenggangkan badannya.

“Pegel juga bikin ginian doang.” Ucap Hendery kemudian menidurkan tubuhnya di atas karpet.

Haechan menggeleng, “Gapapa bang, paham namanya udah berumur suka cepet pegel.”

“Sialan lo.”


Malamnya, Haechan dan Hendery turun bersama untuk makan malam bersama kedua orang tuanya di bawah.

Haechan sudah membawa sesuatu yang mereka buat tadi siang di tangannya.

“Ayo sini abang, dede makan malam dulu.” Ajak Ten sedangkan Johnny sudah duduk di bangkunya.

Hendery menghadapkan diri kearah Haechan membuat Haechan mengangguk lalu keduanya berjalan menuju meja makan di mana kedua orang tuanya sudah menunggu mereka.

Sesampainya mereka di meja makan, keduanya hanya berdiri sambil tersenyum.

“Kenapa senyum aja? Ayo makan sini duduk.” Ucap Johnny setelah melihat kedua anaknya hanya berdiri tersenyum di sana.

Namun Haechan dan Hendery tetap berdiri lalu terkekeh.

Johnny dan Ten bingung dan hanya tatap-tatapan.

Anakmu, dikasih obat apa yang kok begini. Kira-kira begitu yang ingin Johnny sampaikan pada Ten sedangkan Ten hanya menggedikkan bahu, dia juga tidak tau anaknya kenapa.

“Ada apa sayang? Serem ah senyum senyum berdiri doang gitu.” Ucap Ten lagi sedangkan Haechan semakin terkekeh, Haechan gemas sendiri.

Kemudian Haechan mengeluarkan sesuatu yang ia bawa sejak tadi. “Tadaaa~”

“Apa itu? Hasil ulangan dede?” Tanya Ten kemudian berdiri dari tempta duduknya sedangkan Johnny hanya melirik kepo.

Haechan menggeleng, “Nggak. Ini buat Daddy sama Papa dari Abang dan Dede.”

“Eiiitttss nanti ajaaa ih diliatnya, makan dulu. Laperr.” Haechan menahan Ten yang baru saja ingin membuka amplop tersebut kemudian ia mengangguk dan mereka berempat kahirnya duduk di kursi masing-masing lalu makan bersama dengan khidmat.


Akhirnya, setelah menghabiskan waktu malam bersama, Haechan dan Hendery naik ke kamar masing-masing begitu juga dengan Johnny dan Ten yang langsung masuk ke dalam kamarnya.

Johnny langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi sedangkan Ten menunggu Johnny selesai dan duduk di kasur.

“Udah nih, kamu cuci muka sama gosok dulu gih.” Johnny mengusap wajahnya pada handuk kemudian menyuruh Ten untuk segera cuci muka dan gosok gigi.

Ten mengangguk lalu menuju kamar mandi.

Johnny mengecup kilat bibir Ten ketika Ten melewati dirinya membuat Ten terkejut.

“Ih! kaget aku tau kamu nih main nyosor aja.”

Sedangkan Johnny hanya terkekeh kemudian lanjut mengusap wajahnya kemudian menggantuk handuk pada tempatnya, kalau tidak bisa bisa ia diamuk oleh Ten jika menaruh barang dengan sembarang.

Sambil menunggu Ten, Johnny mengecek ponselnya sambil membalas beberapa pesan yang masuk.

Tak lama kemudian, keduanya sudah selesai dengan rutinitas sebelum tidurnya.

Ten tiba-tiba teringat amplop yang diberikan oleh Haechan sewaktu makan malam tadi, langsung saja ia ambil amplop tersebut yang ia letakkan di atas meja rias lalu ia bawa dan kembali duduk diatas kasur bersama Johnny.

“Untung aku nggak lupa. Ini apa ya Jo?” Tanya Ten sambil membulak-balikkan amplop tersebut sedangkan Johnny langsung menyelesaikan kegiatan mengecek ponselnya lalu menaruh ponsel miliknya di nakas sebelah kasur.

Johnny mengambil amplop tersebut kemudian menerka-nerka apa isi amplop tersebut.

Johnny membuka pelan amplop tersebut yang dipakaikan stiker bentuk smile untuk merekatkan amplop tersebut.

Amplop tersebut berisi satu kertas HVS putih dan satu origami berwarna biru.

Johnny dan Ten saling tatap menatap melihat isinya, semakin penasaran.

Johnny mengambil kertas HVS tersebut kemudian ia berikan origami berwarna biru itu kepada Ten.

Pertama, Johnny buka kertas HVS tersebut.

Terpampanglah gambar yang sudah Hendery dan Haechan buat siang tadi membuat Johnny dan Ten terkejut.

“Ini Daddy. By, Abang.” Ucap Johnny sambil membaca tulisan yang ada di sana lalu tertawa.

Sedangkan Ten sedang memerhatikan gambar wajah dirinya yang dibuat oleh Haechan. Ten tersenyum, “Lucu banget yaampun.”

Johnny menunjuk satu gambar kecil dan sebuah tulisan di sana. “Liat yang, gemes banget.”

Di sana ada gambar bayi dan satu anak balita, kemudian di atasnya tertulis tulisan “Abang & Dede”

Kemudian di sebelahnya ada lagi gambar balita dan anak yang lebih besar lagi. tertulis lagi, “Abang & Dede”

“Ini pertumbuhan Dede dan Abang. Kami bisa tumbuh karena Daddy dan Papa.” Ten membaca tulisan yang tertulis di sana kemudian tersenyum kecil.

Ten meletakkan kepalanya di pundak Johnny, menyamankan dirinya untuk melihat-lihat lagi apa yang ada di kertas HVS itu.

Johnny tertawa keras setelah melihat satu tulisan dan gambar lain. Gambar uang kemudian tulisan disampingnya, 'Daddy' dan gambar kamera dengan tulisan, 'Papa'.

Ten ikut tertawa, “Memang kamu kan uang berjalan mereka.”

“Ohiya, tadi origaminya mana yang?”

Ten yang sedang memegang origami tersebut langsung memberikan origaminya pada Johnny.

Johnny membuka origami tersebut kemudian terpampanglah tulisan yang lumayan panajang. Keduanya sangat mengenal, itu adalah tulisan Hendery dan Haechan.

Ten memeluk tubuh Johnny dan kembali meletakkan kepalanya di pundak Johnny.

“Jo.....” Ucap Ten sewaktu ia baru saja melihat kalimat awal dari tulisan tersebut.

Johnny mengelus surai Ten kemudian mengecup pucuk kepala Ten. “Dibaca pelan-pelan ya, Daddy dan Papa.”

Selamat hari special untuk kedua lelaki paling keren sedunia setidaknya untuk Abang dan Dede

Hari ini dan besok akan Abang dan Dede dedikasikan untuk Daddy dan Papa! Tapi, karena hari ini Abang dan Dede belum kasih apa apa, jadi besok double deh!

Tapi, jangan suruh Abang dan Dede bebersih rumah ya. Cape:(

Daddy, Papa terima kasih ya. Terima kasih untuk semua yang sudah Daddy dan Papa berikan untuk Abang dan Dede.

Kita berdua tau, rasanya ucapan terima kasih semua terasa kurang dengan semua yang sudah Daddy dan Papa berdua berikan. Karena, semua yang Daddy dan Papa berikan, tidak bisa dibandingkan dengan semua hal yang ada di dunia.

Sekecil apapun yang menurut Daddy dan Papa berikan untuk kita, bagi kita semuanya terasa sangat berharga.

Daddy, Papa. Terima kasih sudah mendengar semua keluh kesah kita berdua bahkan disaat Daddy dan Papa sedang lelah dengan dunia Daddy dan Papa sendiri.

Daddy, Papa. Dede janji nggak akan nyusahin Daddy Papa lagi.

Dad, Pa, tulisan di atas hanya bualan semata. Dia lagi cari perhatian biasa, biarin aja.

ABANG JUGA

Serius dong De.

Daddy, Papa. Meskipun Abang dan Dede susah dibilangin, bandel, iseng, pokoknya selalu nyusahin Daddy dan Papa, tapi ingat, kita berdua itu jiplakan Daddy dan Papa jadi jangan salahin kita kalau kita begini ya hehehe.

Dad, Pa itu tulisannya Dede ya bukan Abang yang bilang sumpaahhh.

Daddy, Papa. Dede capek nulisnya, intinya selamat hari special untuk dua lelaki yang lebih special dari apapun di dunia ini. Dede sayang banget sama Daddy dan Papa, meskipun Dede susah nurut tapi Dede beneran sayang sama Daddy dan Papa kok. :D

Daddy, Papa. Abang memang nggak bisa mengekspresikan rasa sayang Abang ke Daddy dan Papa seperti Dede. Tetapi, percayalah, Abang sama besarnya sayang ke Daddy dan Papa. Daddy dan Papa yang sejak dulu selalu mau direpotin Abang, Daddy dan Papa yang tak kenal lelah ngurus Abang, Daddy dan Papa yang selalu ada buat Abang kapanpun itu.

We love you, our superhero.

-Babang jelek & Dede Ganteng

-BABANG GANTENG & DEDE JELEK

-BABANG GANTENG & DEDE GANTENG

Sepanjang membaca isi surat tersebut Ten dan Johnny tak ada hentinya tersenyum, tertawa, sampai menitihkan air mata.

Untuk Ten, lelaki mungil itu tidak hanya menitihkan air mata, ia sudah banjir sedangkan Johnny masih bisa menahan air matanya.

Johnny kembali mencium pucuk kepala Ten, “Manisnya mereka, pasti turunan kamu.”

“Kuatnya mereka, pasti turunan kamu.”

“Mereka bener, mereka itu jiplakan kita dengan versi yang lebih baru.”

Ten tertawa dengan hidung yang sedikit mampet lalu mengangguk.

Johnny meletakkan dua kertas itu di nakas sebelah kasur kemudian merengkuh tubuh mungil Ten masuk ke dalam pelukannya.

Johnny mencubit gemas hidung merah Ten yang sejak tadi menangis sewaktu membaca surat tersebut.

“Selamat hari special, Daddy.” Ucap Ten tiba-tiba membuat Johnny kembali mencubit hidung milik Ten.

“Selamat hari special, Papa.”

Ten memajukan tubuhnya kemudian mengecup kilat bibir Johnny lalu kembali memeluk tubuh Johnny.

“Gemasnya. Kamu kenapa, malu?”

Ten menggeleng.

“Hehehe malu yaa panggil Daddy. Coba coba sekali lagi aku mau denger lagi.” Ucap Johnny, ia sangat suka menjahili Ten.

“Ih!”

“Kenapa sayang?”

“Gapapa, Daddy.”

Johnny rasanya ingin teriak, belasan hampir puluhan tahun keduanya menikah, Ten memang lebih senang memanggil Johnny dengan panggilan namanya.

“Gemasnya, ayo sini bobo.”

Ten mengangguk lalu menyamankan tubuhnya di dalam pelukan Johnny.

Johnny mengelus surai milik Ten. “Selamat tidur, jagoannya Abang dan Dede.”

“Selamat tidur juga untuk jagoannya Abang, Dede, dan Papa.”

Johnny tersenyum lalu menutup matanya, keduanya menjemput mimpi mereka bersama dalam pelukan yang kian mengerat.


@roseschies