Sesuatu yang perlu Tama ketahui
Ketukan pintu menyapa pagi hari Tama yang rasanya Tama tidak ingin bangun dari tidurnya setelah mengingat fakta bahwa mulai hari ini Tama sudah resmi menjadi suami dari Johannes.
Namun ketukan pintu terus terdengar dibarengi dengan suara yang sangat familiar di kuping Tama. Suara Mamanya.
“Tama.. Nak??”
Iya saat ini Tama masih di rumah Mamanya, Tama dan mungkin Johannes akan pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan oleh Papa Johannes lusa besok.
Tama buru-buru membuka pintu lalu terpampang wajah cantik dari Mamanya yang terlihat sedikit panik di sana.
“Loh, Tama kok sendirian?? Johan kemana Nak??” Tanya Mama sambil celingak-celinguk melihat ke dalam kamar anaknya yang tak terlihat sedikitpun batang hidung Johannes.
Tama sedikit tertawa kemudian menggedikkan bahunya, “Ngga tau. Johan semalem bilang mau keluar, tapi belum pulang, kali.”
Tama dapat mendengar helaan nafas Mama di sana.
“Tama...”
“Noo, it's okay Ma. Johan pasti pulang, mungkin nanti. Mama ngga usah khawatir ya? Urusan Johan, biar Tama yang selesaikan. Mama banyak istirahat, pasti capek kemarin habis ngobrol banyak sama rekan rekan Mama.” Ucap Tama menenangkan Mamanya itu.
Tama yakin, Papa Johannes sebelumnya sudah lebih dulu memberi pesan untuk Mamanya, wajah panik Mama sewaktu Tama membukakan pintu tercetak jelas. Pasti, tentang Johannes.
Mama mendudukkan dirinya di sofa yang ada di dalam kamar Tama sedangkan Tama sibuk merapihkan tempat tidurnya setelah ia pakai semalaman.
Kenapa Tama rasanya seperti duda ya..... Padahal baru saja menikah kemarin.
“Tama, tama beneran ngga kenal sama Johannes?” Tanya Mama tiba-tiba membuat Tama memberhentikan aktifitas bebersihnya itu lalu menengok sedikit kearah Mama yang sedang memangku sesuatu di atas pahanya.
Tama menggelengkan kepalanya.
“Ngga Ma. Tama mana pernah kenal sama orang yang ngga tau soapn santun tapi selalu ngomongin sopan santun ke Tama. Duh Ma, sebenernya Tama masih clueless sampai sekarang, kok Mama bisa-bisanya jodohin Tama sama orang kayak dia sih??” Jawaban Tama di dengar baik oleh Mama membuat wanita tersebut menunduk sedikit.
Oh, ditambah fakta, bahkan baru hari pertama setelah menikah, Tama sudah ditinggal semalaman oleh Johannes.
“Tama, sini, duduk sebelah Mama.” Ucap Mama lalu menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya, sedangkan Tama hanya bisa menurut lalu duduk tepat di sebelah Mamanya.
Mama mulai membuka buku besar yang sejak tadi ada di pangkuannya itu membuat Tama semakin penasaran, ada apa sih.
Itu ternyata album foto masa kecil Tama dan beberapa kenangan yang tersisa milik Tama sewaktu dirinya masih tinggal di kota yang sebenarnya Tama tidak ingin mengingat lagi.
“Ma, kenapa buka ini lagi?” Tanya Tama, meminta penjelasan lebih dari sang Mama.
Mama tersenyum kecil kemudian menatap anak satu-satunya itu lalu mengelus satu buah foto.
Di sana terlihat dua anak kecil sedang bergandeng tangan, meskipun tidak terlihat wajahnya, tetap sepertinya seisi dunia tau bahwa keduanya sedang berbagi rasa yang dinamakan kebahagiaan.
“Tama ingat ini Tama foto sama siapa?”
Tama mengangguk, bagaimana bisa ia melupakan orang tersebut.
“Tama, dengerin Mama ya? Sekaget apapun Tama, tunggu sampai Mama selesai bicara, ya sayang??”
Tama lagi-lagi hanya mengangguk patuh.
“Ini, Johannes. Johannes, suami Tama sekarang.” Ucap Mama sambil menunjuk foto tersebut, menunjuk tangan lelaki yang sedang bergandengan dengan dirinya di masa kecil lalu.
Tama tentu tidak bisa menutupi keterkejutannnya itu.
“Tama, awalnya Mama juga ngga ingat kalau Johannes ini, sama dengan lelaki yang sudah berpuluh tahun Tama cari keberadaannya. Awalnya, Mama dan Papa Johan pertama kali ketemu, kita berdua sama sekali tidak ingat.”
“Tapi satu yang Mama ingat. Nama belakang Johan. Pradipta.”
Tama memijit pelipisnya pelan. Benar, Tama bahkan lupa bahw faktanya nama belakang Johan adalah Pradipta.
Nama belakang yang sama dengan lelaki yang sudah Tama cari sejak berpuluh tahun lamanya.
Lelaki bernama Evano.
“Ma....”
“Iya sayang, dia, dia Johannes Evano Pradipta, sama dengan orang yang ini, orang yang sedang bergandengan tangan sama kamu di sini.” Ucap Mama sambil kembali menunjuk foto tersebut sedangkan Tama masih sibuk dengan keterkejutannya yang tiada henti.
“Ma, jangan bercanda.”
“Emang dia ngga mirip??”
“NGGAK MAA????”
Namun sedetik kemudian Tama sadar akan sesuatu.
“Ma...”
“Mama bener. Mama bener. Iya, itu Johannes Evano Pradipta yang sama dengan Tama kenal, si lelaki keras kepala.”
Fakta yang tidak akan pernah Tama lupakan. Mulut pedas dan keras kepala Evano—maksudnya Johannes kecil dulu, sama persis dengan Johannes Pradipta, suaminya saat ini.
Tama rasanya bingung ingin senang atau sedih atau bahkan takut. Semuanya berkeliling di kepala Tama.
“Ma , kenapa dia ngapus nama Evano dari namanya??”
“Tama, Evano itu cuma nama kecil Johan. Dan memang setelah kepergian kita dari kota tersebut, Papanya Johannes memutuskan buat copot nama Evano dari nama Johan.”
Satu hal lain lagi yang perlu Tama ingat. Sejak dulu kecil, ia sama sekali tidak tau nama Johannes selain Evano dan Pradipta.
Tama hanya mengenal, Evano, teman kecilnya.
@roseschies