something unknown
Jeno mengetikkan sebuah kalimat lagi dengan ponsel milik Mark yang pastinya pesan tersebut ditujukan untuk Haechan.
Chan, aku ngantuk, tidur duluan gapapa ya?
Tanpa menunggu Haechan membalas, Jeno langsung kembali meletakkan ponsel milik Mark di atas meja belajar Mark lalu Jeno mengambil handuk kecil yang tidak jauh dari sana kemudian ia bawa kakinya menuju kasur milik Mark dimana Mark sedang duduk di sana.
Jeno mengusap keringat yang sedikit membasahi pelipis Mark kemudian membantu kakaknya untuk duduk dengan benar di atas kasur.
“Kakak nggak minum obat sore, ya?”
Mark menggeleng kemudian terkekeh, “Lupa serius Jen. Padahal udah gue set alarm cuma kayaknya gue ketiduran pas bangun malah lupa minum.”
Jeno rasanya ingin mencubit kakaknya berkali-kali.
“Kak, obat sore kakak itu paling penting apa lagi buat sakit kepala kakak yang suka tiba-tiba muncul kayak gini.”
Meskipun mulut Jeno memarahi Mark, tetapi Jeno tetap telaten mengusap pelipis Mark membuat Mark tersenyum, adiknya ini tidak pernah berubah.
“Iya iya, lupa loh Jen.”
“Lupa mulu lupa, besok besok kakak lupa naro tangan gimana?!”
“Ya nggak mungkin lah Jen, lo nih ngada-ngada aja.”
“Ya abisan sering banget semuanya dilupain. Kakak tuh, ih pengen gue gebuk.”
Mark tersenyum tipis kemudian mengusap air mata yang keluar dari mata Jeno. Adiknya ini sangat emosional, ternyata.
“Gimana kalau gue nggak tau dari Haechan? Gimana kalau gue telat masuk ke kamar lo, kak?”
Jeno memberikan satu gelas air minum lalu memberikan Mark obat malamnya itu membuat Mark langsung meneguk obat obat tersebut.
“Gue panik banget kak tiba-tiba Haechan ngechat di grup nyuruh gue ngecek lo di kamar mana pake caps lock. Gue juga nggak tau kalau kontak lo udah di unblock sama Haechan karena dia nggak ada cerita apa apa di grup.” Lanjut Jeno kemudian mengambil gelas kosong tersebut lalu ia letakkan di atas meja belajar Mark.
Mark tiba-tiba teringat dengan Haechan, “Terus gimana? HP kakak mana?”
Jeno menggeleng kemudian menyuruh Mark untuk tiduran, “Udah, udah gue urus sekarang lo tidur kak.”
“Lo bilang apa sama Haechan?”
Jeno menggeleng lagi, “Nggak.”
“Bohong lagi?”
Jeno diam.
Sejak awal terjadinya masalah yang ada diantara Mark dan Haechan, Jeno memang selalu tutup mulut semua tentang Mark ke Haechan begitu pula sebaliknya, Jeno selalu tutup mulut semua tentang Haechan ke Mark.
Jeno berlaku seakan-akan masalah itu, tidak ada.
Jeno hanya ingin keduanya nggak terus memikirkan tentang satu sama lain.
Bahkan saat ini, Jeno berbohong lagi dan lagi pada Haechan.
Bagaimana jika Haechan tau yang sebenarnya, bisa bisa anak itu tengah malam ngetok pintu rumah hanya untuk bertemu dengan Mark.
“Jen.”
“Diem, nggak usah ngomong. Sana tidur.” Ucap Jeno, sedikit dingin.
“Jen, gue gapapa.”
“Berisik.”
“Lo nggak perlu begini, Jen.”
“Diem, gak?!” Bentak Jeno dengan tatapan yang lebih galak dari sebelumnya.
Mark mendengus, adiknya sejak awal, selalu seperti ini.
Sedangkan Jeno hanya diam duduk di pinggir kasur Mark, matanya menatap tembok kosong.
“Tidur, Kak.” Ucap Jeno tanpa melihat kearah Mark lalu bangun dari duduknya, ia bawa kakinya menuju pintu kamar Mark, keluar dari kamar Mark.
Sampai akhirnya pintu kamar Mark tertutup, meninggalkan Mark yang diam menatap pintu kamarnya dari arah kasur yang sedang ia duduki saat ini.
Adik gue, sejak dulu, nggak pernah berubah.
@roseschies