special; the truth untold
Ten perlahan membuka matanya, ia berkedip beberapa kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk bertubrukan kedalam jangkauan matanya.
Kamar dengan cat warna putih, diisi dengan berbagai macam barang yang juga berwarna putih, bahkan seprei tempat tidur yang dirinya tiduri saat ini pun berwarna putih.
“Tennie, minum dulu.” Lelaki disamping kiri tempat tidur Ten membantu Ten untuk duduk dari tidurnya lalu memberikan segelas air mineral untuk Ten minum.
Ten tersenyum, “Terima kasih, Kun. Doyoung mana, kok sendiri?”
Kun sedikit gelagap, karena pasalnya lelaki beranama Kim Doyoung itu sedang mendatangi 'seseorang' bersama Yuta dan Jaehyun.
“Hari ini jadwalnya gue sendiri yang nemenin lo. Ada apa Tennie?”
Ten menggeleng, “Gue nggak perlu dijagain terus, Kun. Lo punya kehidupan sendiri, gue nggak mau nyusahin lo terus, ini udah dua tahun. Lo bisa pakai waktu lo untuk nerusin pendidikan lo atau kerja di tempat yang emang lo pengenin.”
“Dan ninggalin lo sendirian, disini? Nggak bisa Ten. Gue dan Doyoung nggak akan pernah mau lepasin lo dari jangkauan kita berdua.”
“Gue nggak sakit Kun! Gue nggak perlu dijagain.”
“Gue nggak bilang lo sakit, Tennie.” Kun mengelus surai milik Ten, menenangkan sahabat tersayangnya ini.
Badan Ten kembali bergetar, lelaki ini benar-benar susah dibilangin.
Sudah dua tahun, pasca kejadian yang menyakitkan untuk kembali diingat bagi Kun, Doyoung, dan juga Ten.
Namun, seperti yang bisa dilihat, kejadian itu meninggalkan bekas untuk Ten sangat luar biasa.
Siapa bilang, Ten sudah sepenuhnya benar-benar melupakan Johnny?
Siapa bilang, dirinya sudah sepenuhnya benar-benar lupa kejadian dua tahun atau bahkan tiga tahun lalu yang menimpa dirinya?
Siapa bilang, lelaki bernama Ten Lee, sudah sepenuhnya sembuh dari berbagai trauma yang dialaminya?
Siapa bilang, lelaki bernama Ten Lee, sudah sepenuhnya menemukan bahagia yang ia inginkan?
Oh, mungkin untuk masalah bahagia, Ten sudah menemukan.
Namun, kebahagiaan itu, hanya berhenti di pikirannya dengan alur yang ia buat sedemikian rupa apiknya.
Bahagia, bukan?
Karena, lelaki ini masih percaya, bahwa kebahagiaannya hanya bersama Johnny.
Sungguh, bekas dan memori yang ditinggalkan oleh Johnny untuk Ten, masih sangat diingat oleh lelaki ini, sedetail mungkin.
Terapi, obat-obatan, dan jenis hal lainnya selama dua tahun ini pihak keluarga hingga sahabatnya berikan, semua kalah dengan memori yang diberikan oleh Johnny.
“Tennie, you deserve a happy ending.”
“Gue udah nemu, Kun.”
“Oh iya? Coba cerita sama gue.”
“Gue dilamar Johnny, lo disana, Taeyong disana, Winwin disana, Doyoung, ka Yuta, dan ka Jaehyun pun disana. Lo semua, menjadi saksi dimana gue bisa menginjak akhir bahagia.”
Lagi, lagi dan lagi. Kun mendengar cerita yang selalu dibuat dengan apik oleh pemikiran Ten.
Semua terapi yang dilakukan, bisa dibilang sia-sia, karena sesungguhnya lelaki ini menolak penuh, untuk melupakan seseorang bernama Johnny.
Ia berharap, semua alur yang ia rangkai dengan indah di dalam pikirannya, bisa terjadi, dikehidupan selanjutnya.
Untuk jiwa Ten di masa depan, tolong, bahagialah sesuai dengan apa yang sudah ia harapkan.
Untuk kamu, tolong, titip pesan kepada lelaki bernama Johnny, bahwa lelaki bernama Ten, benar-benar ingin menyentuh akhir yang indah bersama lelaki bernama Johnny, entah seribu atau dua ribu tahun lagi, entah dikehidupan bagian mana, kapanpun itu, tolong, titip pesan ini. Jaga pesan ini, sepenuh hati.
@roseschies