spend time

Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Hendery langsung mengambil dua helm, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Dejun lalu ia menuju motornya yang ada di parkiran.

Sembari menunggu memanaskan motornya sebentar, Hendery memakai helm dan jaketnya lalu mengecek bensin. “Bentar ini perasaan bensin baru gue isi deh.”

“Kerjaan si bapak gede ini mah gak ngisiin bensin lagi.” Hendery bermonolog lagi.

Sebelumnya Hendery sudah bertukar pesan dengan Dejun mengenai keberangkatan Hendery yang akan menjemput Dejun dalam beberapa menit ke depan, lagipula keduanya sudah setuju semalam kalau akan berangkat dari jam sepuluh.

Hendery akhirnya memutuskan untuk mengajak Dejun ke tempat rekreasi indoor supaya keduanya tidak kebanyakan meneduh akibat teriknya matahari.

Setelah dirasa motornya sudah siap digunakan, Hendery menjalankan motornya keluar dari parkiran lalu menuju rumah Dejun.

Tak memakan waktu banyak, akhirnya Hendery sampai di depan pagar rumah Dejun lalu turun dari motornya dan mencopot helm yang ia gunakan lalu memencet bel.

Seorang lelaki yang sebenarnya tidak ingin Hendery lihat untuk pertama kalinya menampakkan diri keluar dari rumah hanya menggunakan kaos kutang dan celana pendek sambil membawa kunci pagar.

“Hih masih pagi udah rusuh aja, sana sana pulang.” Ucap Yuta dengan kelakuannya yang bertolak belakang dengan ucapannya, ia sedang membukakan kunci pagar untuk Hendery.

“Udah siang om udah siang, bangun pagi makanya! Pantes Om Win sukanya sama Hen.” Ucap Hendery setelah Yuta membukakan pagar dan mempersilahkan Hendery untuk masuk ke dalam rumahnya.

Tanpa menjawab, Yuta hanya meledek Hendery dengan mukanya.

“Mas Dejun lagi siap siap, tunggu di dalem aja Hen, siapa tau mau bantuin Om nguras akuarium ikan, boleh.” Yuta mempersilahkan Hendery untuk duduk di sofa tamu yang tersedia sedangkan Yuta kembali membersihkan akuarium ikan yang berada di ruang tamu.

“Kamu nih Yut, masa si Hendery di suruh bersihin akuarium sih.” Suara Winwin tiba-tiba terdengar dari arah belakang, sepertinya dari dapur.

“Suruh cuci piring sekalian juga boleh.” Lanjut Winwin membuat Yuta terbahak, emang enak.

Hendery terkekeh, “Eh Om Win.”

Hendery berdiri dari tempat duduknya lalu salim dengan Winwin.

“Iya Hen. Tunggu ya, Mas Dejun lagi keatas sebentar tadi udah siap kok cuma ada yang ketinggal jadi naik lagi.” Ucap Winwin menjelaskan sedangkan Hendery hanya mengangguk paham lalu menunggu Dejun di sofa.

Tak lama kemudian Dejun turun dari tangga dan tersenyum kecil untuk menyapa Hendery yang sudah menunggu dirinya di ruang tamu.

“Om, aku pergi dulu ya.” Pamit Dejun pada Winwin dan Yuta diikuti oleh Hendery lalu keduanya bersalaman.

Yuta yang masih sibuk menguras akuarium ikan tidak ikut mengantar jadi hanya Winwin yang mengantar keduanya sampai pagar.

“Yaudah, hati-hati ya Bang, Mas.” Ucap Winwin lalu melambaikan tangan dan meninggalkan keduanya, canggung.

Hendery memberikan satu helm lebih yang sudah ia bawa pada Dejun, “Ini, helmnya dipake Jun.”

Dejun mengangguk lalu mengambil helm tersebut dari pegangan Hendery kemudian ia pakai di kepalanya.

Begitu juga dengan Hendery yang langsung memakai helm miliknya kemudian naik keatas motor dan menyalahkan mesin motornya.

“Gue naik ya?” Izin Dejun pada Hendery membuat Hendery mengangguk.

Trauma seperti terakhir ia memboncengi Dejun, akhirnya ia tidak lagi memberikan pundaknya pada Dejun karena Hendery tau ujungnya Dejun juga cuma pegangan dengan motornya.

“Udah?” Tanya Hendery membuat Dejun menyahut sebagai tanda jika dirinya sudah duduk dengan nyaman di belakang Hendery.

Akhirnya, motor Hendery melaju dengan kecepatan normal membelah jalan raya menuju tempat yang sudah Hendery ingat arahnya semalaman.


Setelah memakan waktu lumayan keduanya duduk diatas motor, akhirnya motor milik Hendery sampai juga membawa keduanya ke tempat rekreasi yang sudah Hendery pilih.

Setelah mendapatkan parkir untuk motornya, Hendery mengunci motornya lalu menaruh helmnya di dalem motor sedangkan helm lain ia cantolkan di cantolan yang ada di sana, tentu sudah dikunci supaya tidak dicuri. Helm mahal nih.

“Yuk.” Ajak Hendery membuat Dejun mengintil di belakang Hendery seperti anak hilang.

“Bentar, lo tunggu sini ya Jun? Biar gue aja yang ngantri beli tiketnya. Salah gue sih nggak beli online dulu.” Ucap Hendery sambil menunjuk tempat duduk kosong untuk Dejun.

Dejun baru saja ingin menolak Hendery namun Hendery sudah lebih dulu membuka mulutnya lagi, “Udah lo diem aja duduk di sini, oke? Gue ngantri dulu. Jangan kemana-mana.”

Hendery langsung lari mengantri di loket untuk membeli tiket masuk sedangkan Dejun hanya bisa pasrah dan akhirnya ia duduk diam menunggu Hendery selesai membeli tiket.

Tak lama kemudian, Hendery datang membawa dua tiket dan minuman di tangan lainnya lalu memberikan minuman tersebut untuk Dejun. “Nih, kebetulan gratis tadi beli tiket dapet minum.”

Bohong.

Padahal emang Hendery yang beli sendiri karena kasihan, sejak tadi ia lihat Dejun selalu mengelap keringatnya yang bercucur di dahinya sewaktu Hendery mengantri di loket.

“Makasih Hen. Lo gak minum juga?” Dejun mengambil pemberian Hendery lalu berdiri dari duduknya.

“Oh, gue tadi udah kok pas selesai beli tiket, haus soalnya.”

Bohong. Dia belum minum.

Dejun mengangguk lalu meneguk minuman tersebut sampai hampir habis.

Buset, haus banget apa gimana. Batin Hendery.

Setelah selesai minum, Dejun memasukan botol tersebut kedalam tas kecil yang ia pakai.

“Yuk, masuk.” Ajak Hendery lagi, kali ini Dejun berjalan di sebelah Hendery dan keduanya masuk bersama.

Dejun menatap sekeliling tempat rekreasi yang baru pertama kali ini ia datangi.

“Mau main apa dulu Jun?” Tanya Hendery sambil melihat kanan kiri namun Dejun tidak menjawab pertanyaan Hendery.

Hendery melihat kearah Dejun, “Lo mau main apa Jun?”

Dejun hanya menggeleng dan menggedikkan bahunya. “Gak tau.”

Ucapannya terkesan dingin, tetapi Hendery bahkan menyadari sesuatu. Tatapan Dejun, matanya sampai berbinar hanya karena menatap sekitar.

Hendery tersenyum kecil.

“Lo suka naik yang nyantai apa ekstrim?” Tanya Hendery lagi.

“Apa aja suka.” Jawab Dejun, seadanya kemudian kembali diam di sebelah Hendery.

Hendery mengangguk dan akhirnya mengajak Dejun untuk melihat peta wahana permainan yang ada di sini.

“Ini yuk?” Tunjuk Hendery pada salah satu wahana di sana, tidak terlalu ekstrim, tetapi tidak terlalu santai. Biasa saja, cocok untuk wahana pertama yang akan mereka mainkan.

Dejun mengangguk, “Oke, gue ngikut.”

Akhirnya keduanya berjalan menuju wahana tersebut dan masuk untuk main di sana.

Setelah selesai Hendery masih tertawa akibat permainan tadi sedangkan Dejun seperti menahan tawanya untuk keluar dan hanya terkekeh kecil lalu diam lagi.

Hendery yang melihat Dejun hanya tersenyum kecil. Gapapa, perlahan, pasti ada perubahan kok.

Hendery berkali-kali selalu menjadi orang yang memutuskan keduanya akan bermain apa selanjutnya dan Dejun hanya menjadi seorang pengikut untuk Hendery.

“Aduh Jun, lo gimana sih nembaknya tadi. Mana auto ketembak mulu lagi hahahaha.” Hendery tertawa sampai sakit perut mengingat Dejun yang tadi bermain tembak tembakan dengan dirinya seperti orang awam dan selalu mati karena tembakan dirinya sendiri yang memantul.

Dejun cemberut lalu memukul lengan Hendery, “Gue udah berusaha sekuat mungkin tadi megang pistolnya. Siapa suruh pistolnya jelek. Udah ah jangan ketawain gue!”

Melihat Dejun yang akhirnya memberi ekspresi lebih untuk candaannya Hendery tersenyum disela tawanya.

“Mau main apa lagi Jun?”

“Ke rumah kaca yuk?” Saran Dejun, untuk pertama kalinya.

Hendery mengangguk cepat lalu keduanya berjalan menuju rumah kaca.

Di dalam rumah kaca, seisi rumah kaca hanya diisi oleh suara Dejun dan Hendery.

Hendery yang terus-terusan memaki kaca yang tidak ada salah dan Dejun yang terus menertawai Hendery karena sejak awal keduanya masuk Hendery selalu terbentur kaca.

Bagi Dejun, ini adalah salah satu balas dendam setelah permainan sebelumnya Dejun dipermalukan habis-habisan oleh Hendery.

Setelah keduanya berhasil keluar, Dejun masih tertawa bahkan air matanya sampai keluar dari pinggir matanya akibat terlalu lelah tertawa, karena wajahnya Hendery yaampun benar benar sangat lucu.

Hendery hanya bisa mengusap jidatnya yang terus menerus terbentur kaca, “Aduh Jun sakit banget anjir lo mah bales dendam ya sama gue.”

“Ya lagian lo udah gue bilang kanan kanan juga.”

“Abisan pas pertama lo boongin gue, jadi gue nggak percaya lah!”

Dejun tertawa lagi, rasanya kenapa dirinya senang sekali ya.

Sedangkan Hendery yang melihat perlahan Dejun mengeluarkan sisi aslinya, sisi yang tidak pernah ia lihat langsung tersenyum.

Ternyata, segampang ini ya sebenarnya.

“Mau main apa lagi?”

“Duduk dulu boleh nggak? Gue capek ketawa Hen.” Ucap Dejun sambil memegang perutnya, ia lelah menertawakan Hendery.

Hendery mengangguk lalu mencari tempat duduk untuk dirinya dan Dejun.

“Tuh, tempat duduknya kosong.” Tunjuk Hendery lalu keduanya berlari agar tempat tersebut tidak keduluan orang.

Keduanya duduk di sana tanpa suara. Hendery yang masih meratapi dahinya dan Dejun yang bingung dengan dirinya sendiri.

Setelah selesai meratapi dahinya, Hendery melihat ke jam tangan yang ia gunakan. Sudah hampir jam lima sore. Ternyata sudah berjam-jam keduanya menghabiskan waktu di tempat rekreasi ini, pantas rasanya kaki Hendery pegal sekali.

Maklum, terbiasa hanya rebahan, di suruh jalan jalan gini.

Namun sedikit kemudian Hendery sadar akan sesuatu. Semalam ia sudah memikirkan hal lainnya.

Iya, Hendery sudah mencari tempat lain selain tempat rekreasi. Niat Hendery ingin mengajak Dejun ke tempat lain, lagi.

“Lo udah capek?” Tanya Hendery kemudian melihat kearah Dejun.

Dejun hanya diam.

“Belum ya? Mau ke puncak nggak? Naik motor, ke tempat biasa gue sama sugus kalo lagi kepengen liburan sedetik.” Ucap Hendery membuat mata Dejun lagi lagi terlihat membulat gemas di saat mendengar 'puncak'.

“Cuma kalau lo capek, gapapa kita pulang aja.” Tambah Hendery lagi karena Dejun hanya diam saja.

Dejun sebenarnya sangat ingin karena kapan lagi dia bisa ngabisin waktu benar benar hanya untuk dirinya sendiri, mengistirahatkan dirinya dari kesibukan duniawi yang belakangan ini sebanarnya dirinya ini butuhkan.

Akhirnya Dejun mengangguk.

Hendery berdiri dari tempat duduknya lalu merenggangkan tubuhnya begitu juga dengan Dejun yang ikut berdiri

“Yaudah, ayo kita berangkat sekarang. Nanti takut kemalaman.” Ucap Hendery lalu tak sengaja dirinya memegang tangan Dejun sebenarnya bermaksud untuk narik lelaki itu mengajak keluar dari tempat rekreasi.

Tetapi akibat Hendery yang secara tiba-tiba memegang tangan Dejun membuat Dejun terkejut.

“Eh, sorry sorry reflek.” Hendery tersadar lalu langsung melepas kaitan tangannya dengan tangan Dejun lalu melengos menjauh dari pandangan Dejun. Malu.

Dejun diam lalu menggaruk tengkuknya bingung. “Iya gapapa kok.”

Hendery terkekeh lalu berdeham, “Yaudah yuk.”

Akhirnya Hendery dan Dejun jalan sebelahan menuju tempat parkir di mana motor Hendery terparkir di sana lalu Hendery kembali menjalankan motornya menuju tempat yang biasa ia datangi itu.


Tepat jam setengah tujuh lebih keduanya sampai di tempat yang dimaksud Hendery. Tempat ini memang tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh hanya menggunakan motor kok.

Hendery kembali mengajak Dejun untuk masuk ke tempat tersebut lalu langsung mengajak Dejun ke tempat duduk yang biasa sugus duduki.

Setelah duduk, Dejun terpukau melihat pemandangan dari tempat keduanya duduk.

Melihat Dejun yang sepertinya sangat menyukai tujuan mereka kali ini, Hendery ikut senang. Ternyata pilihannya memang tidak salah untuk mengajak Dejun ke sini.

”.... Dulu ya?”

“Hah?”

Hendery tertawa, sejak tadi ia mengajak Dejun ngobrol ternyata anaknya sedang fokus dengan pemandangan yang ada. “Jun, gue pesen dulu ya?”

“Oh iya Hen.” Dejun malu sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

Hendery kembali terkekeh, “Terus lo mau pesen apa?”

“Emang ada apa?”

Hendery menunjuk selembar menu yang ada di depan Dejun, “Itu di depan lo ada menunya.”

Dejun mengangguk lalu melihat-lihat menu tersebut.

“Gue roti bakar aja deh Hen.”

“Minumnya?”

“Coklat panas aja deh.”

Hendery mengangguk, “Oke, gue pesen dulu ya?”

Dejun mengangguk lalu Hendery menuju kasir untuk memesan dan langsung membayar pesanan keduanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Dejun membuat Dejun terkejut.

“Pacarnya Hendery ya?” Tanya orang itu tiba-tiba membuat Dejun menggeleng.

“Tumben amat tu anak bawa gandengan, biasa bareng sama Lucas Mark.” Ucap lelaki itu lagi membuat Dejun hanya diam.

“Soalnya biasanya dua temennya selalu bawa pacarnya ke sini, cuma Hendery doang yang nggak pernah ngajak siapa siapa dan lo orang pertama yang diajak Hendery jadi gue pikir lo pacarnya Hendery.” Tambah lelaki tersebut, Dejun bingung ingin bereaksi seperti apa.

“Gue bukan paca—”

“Awas awas sana lo ngapain sih di sini, Han.” Usir Hendery yang ternyata sudah selesai memesan pesanan miliknya dan milik Dejun.

Yohan, lelaki yang sejak tadi mengintrogasi Dejun dan salah satu kenalan Hendery di tempat ini langsung minggir dari tempat di mans ia berdiri tadi.

“Weh bro, udah lama gak kesini, dateng dateng bawa gandengan aja lo.” Ucap Yohan kemudian mengajak Hendery bertos ria sedangkan Dejun hanya diam sesekali memperhatikan pemandangan sesekali memperhatikan Hendery dan lelaki yang dipanggil Han oleh Hendery itu berbincang.

“Gandengan udah kayak tuyul aja. Ini temen gue, namanya Dejun.” Ucap Hendery sambil memperkenalkan Dejun membuat Dejun langsung tersenyum.

“Jun, ini temen gue biasa nongkrong di sini bareng namanya, Yohan. Lupain aja namanya gak penting, orangnya juga gak penting.” Ucap Hendery sambil memperkenalkan Yohan pada Dejun.

Keduanya bersalaman lalu tersenyum, “Salam kenal.”

Sedetik.

Dua detik.

“Woi udah woi buset dah lama amat salamannya udah kayak salaman sama pejabat aja.”

Yohan tertawa, “Anjir lo. Yaudah dah gue ke sana dulu. Have fun Hen.” Pamit Yohan membuat Hendery mengangguk.

“Buat lo juga, have fun Jun. Santai aja di sini, semoga lo suka sama pemandangannya yang ngga kalah cantik, sama lo.” Ucap Yohan membuat Dejun tersenyum kecil lalu mengangguk, mengabaikan gombalan Yohan.

Hendery yang mendengar itu langsung ingin melempar Yohan dan membuat Yohan tertawa.

“Maap ya Jun, dia emang gitu emang otaknya rada rada.” Ucap Hendery. Dia nggak tau aja Dejun gak peduli sama sekali padahal.


Keduanya hampir menghabiskan setengah makanan ringan yang mereka pesan.

Hendery memesan mie kuah dan greentea latte sedangkan Dejun dengan robak dan cokelat panasnya itu.

“Jun.” Panggil Hendery setelah meneguk minumannya.

“Kenapa?” Sahut Dejun kemudian menyuap satu potongan robak miliknya.

“Gimana?” Tanya Hendery membuat Dejun bingung. Gimana apanya?

“Belajar lo. Ada kesulitan?” Tambah Hendery lagi.

Dejun menggeleng, “Gak kok.”

Hendery mengangguk, “Kalo lo?”

Pertanyaan Hendery ini rasanya lebih sulit dibanding soal soal tes ujian masuk univ yang sudah Dejun pelajari.

“Maksudnya?”

“Ya kalo lo? Ada kesulitan gak?”

“Kan tadi gue udah ja—”

“Bukan belajar. Kalo lo, lo ada kesulitan gak?”

Dejun diam, mencerna pertanyaan Hendery.

Setelah paham, Dejun tetap diam.

“Semua nggak perlu perfect Jun. Pasti ada cacatnya dan cacatnya belum tentu buruk, kok.”

“Eh, ini gue ngomong asal aja ya. Nggak matok konteks apa apa. Cuma ya lo anggap aja gue lagi pidato dan lo jadi pendengarnya.”

“Lo tau gak Jun?”

“Jadi, gue pernah liat gitu sih, apa ya, gue lupa liat di mana, cuma semua orang berhak bahagia, begitupun lo. Ya gak sih Jun?”

“Kapan terakhir lo ketawa selepas tadi setelah liat dahi gue kebentur kaca terus?”

Dejun diam diam mengingat kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti tadi.

Jawabannya, sudah lama, sekali. Sangat lama.

Hendery tau kok, Dejun tidak akan jawab pertanyaan.

“Dunia ini rasanya luas banget gak sih, kayak bahkan belum setengah gue jelajah tapi rasanya udah seluas ini.”

Ini beneran Dejun seperti sedang mendengarkan pidato.

“Kebahagiaan juga sama kayak dunia. Luas, banget. Bahkan belum setengahnya dirasain selama hidup ini, kayak lo bisa mikir bahagia gue batasnya ini ini ini, gue bahagia karena ini ini ini. Tapi lo nggak sadar sebenarnya kebahagiaan itu gak ada batasan sama sekali. Kayak, lo pikir dengan batas bahagia lo yang gini, lo gak akan bahagia lebih dari ini, tapi ternyata kadang jauh dari batas yang lo buat sendiri.”

“Yang jadi batasan itu cuma rasa takut lo, rasa takut yang nutupin diri sendiri. Ya gak sih?”

“Kayak, lo mau ini, lo yakin lo bakal bahagia karena ngelakuin ini, tapi lo takut.”

“Tapi dan selalu tapi yang jadi pembatas. Ya gak sih?”

Ini Hendery dari tadi ngomong ya gak sih di setiap ujung obrolan tetapi tetap saja dirinya berucap sendirian.

Ya karena Dejun sedang penuh dalam pemikirannya sendiri.

“Nih gimana ya semisal tapi diilangin sebentar. Ya sebenarnya rasa takut lo juga valid, takut manusiawi, cuma semisal itu jadi batas bahagia lo, apa nggak sayang?”

“At least, lo udah nyoba. Semisal gagal, toh gagal nggak selalu buruk, kan ya? Dari gagal lo, muncul lagi tuh opsi opsi lain yang di luar dugaan lo. Ya gak sih?”

“Jangan lupa bahagia Jun, karena lo juga berhak bahagia nggak cuma gue, atau orang sekitar lo. Lo juga berhak bahagia.”

“Om Winwin, Om Yuta juga pasti mau lo bahagia juga kok.”

Ucapan Hendery membuat Dejun terdiam.

Om Winwin dan Om Yuta.

Dejun jadi teringat isi surat yang diberikan Winwin untuk dirinya. Surat itu, bahkan belum sempat Dejun balas.

Apa benar jika kalimat Hendery ia gunakan untuk kasus ini, jika dirinya membuang kata tapi dalam pikirannya dan membalas surat dari Winwin, semua akan lebih baik daripada dugaannya.

Dejun hanya diam memandang pemandangan di depannya bahkan tak terasa angin semakin kencang meniup kesana kemari membuat Hendery langsung membuka mulutnya lagi.

“Udah mulai dingin, makin malem juga. Pulang yuk Jun?”

Dejun mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya. Belum juga keduanya jalan, Dejun sudah menarik tangan Hendery, memberhentikkan Hendery yang baru saja mau melangkahkan kakinya.

“Makasih ya Hen.”

“Buat?”

“Ya, buat hari ini? Oh iya, tadi tiket sama makanan berapa biar gue bayar sekarang takut lupa.”

“Gak usah Jun, anggap aja gue bayarin karena lo udah ngasih waktu lo sampe seharian gini.”

“Seriusan Hen, makanannya deh gue yang bayar.”

“Yaudah nanti aja lah gue lupa juga berapa harganya.”

Dejun mengangguk lalu keduanya berjalan keluar dari tempat tersebut lalu menuju tempat parkir motor Hendery.

Namun Dejun kembali memberhentikan aktifitas Hendery tetapi kali ini, ucapan Dejun membuat Hendery membeku di tempat.

“Lo gak jadi bikin video, Hen?”


@roseschies