sugus dan warkop
Setelah lumayan banyak memakan waktu dari menunggu pesanan sampai cerita dari a sampai z, akhirnya ketiga lelaki itu sampai pada makanan penutup mereka yaitu es campur.
“Temen lo siapa si namanya? Penasaran gue, jadi dendam nih pengen gue cubit bibirnya sekata-kata aja kalo ngomong.” Ucap Lucas sambil menyuap es campur dengan sendok ke dalam mulutnya.
Hendery mengangguk ikut setuju, “Asli. Kalo gak ada mereka pasti adem adem aja hidup ya nggak sih.”
“Iya lah, semua akar permasalahan emang ada di mulut temennya si Mark, sialan emang. Udah nimbulin masalah, eh nggak keliatan pula batang idungnya.” Tambah Lucas lagi, menggebu-gebu emosi miliknya.
Mark menggedikkan bahunya, “Dahlah gue nggak mau inget inget lagi. Gue mau fokus benerin diri dan benerin semuanya.”
Lucas yang greget rasanya ingin menabok semua orang yang lewat depan mukanya, sayang saat ini nggak ada orang yang lewat depan dirinya sama sekali.
“Hih, yaudahlah. Bodoamat dendam kesumat gue sama itu orang yang nggak tau siapa lah.”
Hendery tertawa, “Lo kenapa sih anjir Cas, heran banget gue.”
“Ya lagian dia udah bikin bola bola ubi gue sedih terus bikin temen gue kayak gini. Lo nggak kesel apa Hen.”
Hendery mengangguk, wah kalau ditanya kesel apa enggak sudah pasti jawabannya kesel. Banget. Tapi ya mau gimana masa dirinya harus sewa jasa detektif untuk mencari siapa teman Mark.
“Lo pikir aje sendiri Cas. Gue nggak kesel namanya gue bukan manusia anjir.”
Sedangkan Mark yang berada di tengah antara Hendery dan Lucas hanya diam sambil mengaduk-aduk es campur miliknya.
Jujur, ia merindukan Haechan.
Hendery yang melihat Mark hanya diam bengong langsung menepuk pundak Mark, “Woi.”
“HAE— Hah apa?”
Mendengar ceplosan Mark membuat Lucas tertawa sedangkan Hendery hanya menggeleng.
“Kaga, lo bengong aja ngeri kesambet.” Lanjut Hendery.
Sedangkan Lucas, “Kesambet setan Haechan iya kayaknya.”
Rasanya Mark mau mengumpat aja, malu.
“Kangen lo ya sama adek gue?” Tanya Hendery sedangkan yang ditanya hanya diam saja masih sambil mengaduk es campur yang sudah hampir meleleh sempurna itu.
Bak sebuah karma yang langsung menimpa Mark. Jika sebelumnya Haechan-lah yang selalu seperti ini, merindukan Mark. Sekarang kebalikannya.
“Nanti kalo udah mendingan, gue ceritain pelan-pelan tentang masalah lo ke adek gue. Adek gue untuk sementara waktu pasti mau jauh jauh dari jangkauan lo dulu.” Ucap Hendery. Dipikir, Haechan memang seharusnya mengetahui akar masalah yang terjadi pada Mark, kan?
“Thanks Hen. Kontak gue di block kayaknya sama adek lo. Yaudah gapapa, gue kasih ruang buat dia. Gue emang udah keterlaluan juga hahaha.” Ucap Mark diakhiri dengan tawa yang terdengar seperti tawa palsu. Ia lebih ke menertawakan dirinya sendiri.
Tetapi, Hendery dan Lucas malah mengangguk menyetujui. Ya memang nggak ada salahnya sih ucapan Mark.
“Eh, ujian masuk univ bulan depan ya?” Tanya Lucas tiba-tiba membuat Hendery teringat akan Dejun, lelaki itu kan hendak mengikuti ujian masuk univnya.
“Lah iya udah mau bulan depan. Nggak sadar gue.” Timpal Hendery setelah mengecek kalender yang ada di dalam ponselnya.
“Dejun gimana Hen?”
Hendery menggedikkan bahunya, sudah lama juga ia tidak bertukar pesan dengan Dejun. “Terakhir sih gue udah ngasih rekomen buku buat belajar belajar. Nanti deh gue coba tanya sekalian bantu.”
Setelah es campur milik ketiganya habis dan juga mereka yang lelah bercuap-cuap selama hampir dua jam akhirnya mereka mengabgkat dirinya keluar dari warkop karena waktu yang sudah hampir menunjukkan jam 3, jam Mark untuk masuk kelas sorenya itu dan jam untuk Hendery menjemput adiknya di sekolah.
Sejak 15 menit lalu ponselnya sudah heboh akibat adek dan papanya yang berisik mengingatkan dirinya untuk menjemput Haechan.
Haechan masih sebel karena abangnya itu sempat lupa untuk menjemput dirinya.
@roseschies