taking care of yourself is the main thing, he said.
Setelah Hendery menjemput adiknya di sekolah, Hendery kemudian langsung menjalankan motornya kembali menuju ke kediaman Nakamoto untuk menjemput Dejun.
Hari ini Hendery sudah seperti tukang antar jemput bagi semua orang. Tapi tidak masalah kok, Hendery melakukannya dengan senang hati.
Tidak butuh waktu lama untuk Hendery sampai di depan kediaman Nakomoto untuk menjemput Dejun.
Hendery turun dari motornya untuk memencet bel yang ada di dekat pagar kemudian menunggu Dejun sambil menyenderkan tubuhnya pada motor miliknya.
Tak lama kemudian Dejun keluar dari rumah kemudian menutup pagar membuat Hendery berdiri dari sandarannya dan membuka helm yang sebelumnya masih bertengger di kepalanya, bersiap untuk menyapa Dejun.
“Hai.” Sapa Hendery singkat pada Dejun membuat Dejun menyunggingkan senyuman kecil untuk Hendery kemudian ikut melambaikan tangan.
“Hai, sorry ya gue ngerepotin lo.” Ucap Dejun pada Hendery, ini merupakan ucapan terpanjang Dejun untuk Hendery pada percakapan hari ini.
Hendery menggeleng, “Eh, Nggak kok santai aja lagi gue udah kelar kelas.”
Hendery memberikan satu buah helm untuk Dejun pakai sedangkan dirinya kembali memakai helm miliknya lalu menaiki motornya.
Tidak ada adegan romantis seperti memasangkan helm, Dejun pun selesai memakai helm.
“Gue naik ya.” Izin Dejun pada Hendery.
“Pegang gue aja.” Ucap Hendery sambil menepuk pundaknya agar Dejun bisa memegang pundaknya sebagai tumpuan.
Dikarenakan motor yang dimiliki Hendery merupakan motor tinggi membuat si penumpang agak susah untuk menaiki motor tersebut.
Alih-alih memegang pundak Hendery, Dejun akhirnya memegang badan belakang motor untuk menjadi tumpuan dirinya naik keatas motor meninggalkan Hendery yang canggung karena sebelumnya dengan kepedean yang ada pada dirinya, Hendery malah menawarkan pundaknya untuk menjadi tumpuan Dejun.
“Udah?” Tanya Hendery lagi untuk memastikan si penumpang sudah dengan nyaman duduk dibelakang.
Dejun mengangguk. Untungnya Hendery melihat hal tersebut dari kaca spion motor.
Hendery langsung menjalankan motornya pelan menuju suatu Mall yang tak jauh dari daerahnya.
“Biasanya buku yang ini agak akurat, Jun.” Tunjuk Hendery pada salah satu buku untuk mengikuti tes masuk ke kampus.
“Tapi semua buku beginian gak ada yang akurat sih.” Tambah Hendery lagi membuat Dejun mengangguk kemudian mengambil buku yang sebelumnya ditunjuk Hendery sebagai rekomendasi lalu melihat-lihat buku tersebut.
“Lo butuh berapa buku?”
“Gak usah banyak banyak sih kata gue, satu atau dua juga cukup. Soalnya lebih ke biasain buat kerjain soal aja. Semua buku isinya sama aja Jun.” Tambah Hendery lagi memberi saran untuk Dejun yang bahkan belum sempat untuk menyuarakan suaranya.
Dejun mengangguk setuju pada saran Hendery, “Satu aja.”
“Ok. Jadi lo mau ambil yang mana?” Hendery berdiri di samping Dejun, menunggu Dejun sambil mengetuk-ngetuk jarinya diatas tumpukan buku.
Sedangkan Dejun fokus mencari buku yang menurutnya menarik untuk ia kerjakan nantinya. Terutama dalam hal warna. Dejun akan semangat mengerjakan buku tersebut jika warna bukunya memiliki warna terang.
Agak lama Dejun menimang buku tersebut. Biasanya Hendery akan mengomel jika memilih buku saja lama sekali —Terutama adiknya, karena adiknya agak pemilih seperti Papanya. Tetapi kali ini, Hendery ikut asik dalam kegiatan memilih buku meskipun Dejun hanya diam dan membulak-balikkan buku tersebut di depan Hendery.
“Ini aja deh.” Final Dejun yang akhirnya memilih buku rekomendasi Hendery.
Siapa tau rekomendasi dari yang sudah berpengalaman sedikit berguna, pikir Dejun.
“Ok. Lo ada yang mau dicari lagi?” Tanya Hendery pada Dejun membuat Dejun menggeleng.
“Ini aja.”
“Yaudah, yuk ke kasir.”
Akhirnya keduanya berjalan menuju kasir untuk membayar buku yang dibeli oleh Dejun sedangkan Hendery menunggu diluar barisan sambil melihat-lihat buku diantara tumpukan buku yang ada.
Ah, tidak ada satupun buku yang menarik perhatian Hendery sekarang.
“Yuk” Ucap Dejun yang ternyata sudah selesai membayar buku dan akhirnya Hendery menyelesaikan kegiatan melihat-lihat buku lalu mengangguk.
Keduanya keluar dari toko buku tersebut. “Lo mau makan dulu nggak Jun?”
“Nggak usah, gue baru makan.” Bohong, Dejun belum makan padahal. Tapi ia takut merepoti Hendery karena sudah menunggu dirinya terlalu lama hanya mencari dan memilih buku yang padahal hanya satu itu.
“Beli makanan ringan gitu?” Tawaran Hendery membuat Dejun berpikir.
Dejun akhirnya mengangguk, “Boleh deh.”
Pikirnya Dejun merasa tidak enak jika pulang dengan tangan kosong akhirnya Dejun memilih membelikan makanan ringan untuk Adiknya dan kedua omnya.
“Lo nggak beli?” Tanya Hendery yang ternyata ikut dalam barisan, berdiri disebelah Dejun.
Dejun menggeleng.
Hendery menghela nafas kemudian setelah Dejun selesai dengan transaksinya, giliran Hendery yang membeli dan Dejun gantian menunggu Hendery.
“Nih.” Hendery memberikan satu bungkus yang berisi dua buah roti pada Dejun membuat Dejun bingung, dirinya kan sudah beli.
“Buat lo.” Ucap Hendery masih dengan tangan yang memberikan bungkusan tersebut untuk Dejun.
“Nggak usah Hen.”
“Udah gue bayar, nggak bisa dibalikin. Nih, ambil aja.”
“Aduh, ngerepotin banget Hen.”
“Lo boleh peduli sama orang lain tapi jangan lupa, lo juga perlu peduli sama diri lo sendiri Jun.”
Ucapan Hendery membuat Dejun terdiam. Jarang sekali ada orang yang bisa berbicara realita seperti itu pada Dejun.
Dejun mengangguk lalu mengambil bungkusan tersebut. “Makasih Hen.”
“Sama-sama. Dan satu lagi, gue nggak pernah ngerasa di repotin lo kok. Lo kan temen gue, dari awal gue dengan senang hati nawarin lo kalau ada sesuatu yang butuh bantuan bilang aja ke gue. Okay?”
Dejun mengangguk lagi. “Thanks.”
“Yaudah yuk pulang.”
Keduanya berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor Hendery lalu pulang ke rumah masing-masing tanpa mampir ke tempat lain.
Dan lagi-lagi, itu semua selalu menjadi Dejun yang menolak tawaran Hendery.
Meskipun hanya beberapa jam Hendery bersama Dejun. Namun lelaki itu bisa menyimpulkan apa yang dimaksud Yuta sebelumnya.
@roseschies