Tentang Papa.

Tepat jam 10 pagi, mereka berempat pergi menuju rumah sakit yang biasa menjadi tempat keempatnya untuk periksa atau berobat.

Sesampainya di sana, Ten ditemani oleh kedua anaknya duduk menunggu Johnny yang sedang mengurus registrasi terlebih dahulu sampai akhirnya mendapat nomor antrian.

“Nomor 45, nggak terlalu lama nunggunya. Paling cuma 5 pasien. Gimana, kepala sama perut kamu masih ngga enak?” Tanya Johnny setelah duduk di sebelah Ten membuat Hendery yang sebelumnya duduk di sana langsung minggir mempersilahkan Daddynya duduk di sana.

“Sedikit.” Jawab Ten.

Hendery memberikan satu botol minum pada Ten, “Ini Papa minum dulu.”

Sedangkan Haechan hanya merangkul lengan Ten, memeluk lengan Papanya itu, sambil berdoa semoga Papanya ini baik baik saja.


Setelah beberapa lama Ten diperiksa oleh dokter, Hendery dan Haechan yang diam menunggu di ruang tunggu langsung berdiri setelah melihat kedua orang tuanya keluar dari ruang periksa.

Hendery yang melihat muka Johnny yang tidak terdefinisikan langsung panik.

“Papa gimana??” Todong Haechan setelah Johnny dan Ten sampai di depan kedua anaknya yang sudah menunggu sejak tadi.

Ten tersenyum sampai terlihat deretan giginya lalu terkekeh dan menggaruk tengkuknya sedangkan Johnny hanya menggelengkan kepalanya.

“Papamu, cuma masuk angin.” Jawab Johnny membuat Hendery Haechan melotot sedangkan Ten cuma bisa nyengir.

Ih, dia kan tetep sakit meskipun masuk angin!

Mungkin memang over saja.


“IH TERUS KENAPA PAPA KEMAREN NANYA TENTANG ADEK??? DEDE PIKIR PAPA HAMIL BENERAN. DEDE SEBENERNYA SEDIH KALO PUNYA ADEK LAGI TAPI TETEP AJA GAK MAU BIKIN PAPA SEDIH.” Ucap Haechan sesampainya mereka berempat di rumah. Sejak tadi mereka hanya mengadu dan terus mengadu.

Ten menggaruk tengkuknya, “Papa abis nonton tentang baby gitu, lucu banget pengen gendong bayi lagi.”

“SI PAPA BIKIN PANIK SERUMAH TAU GAAAK IH.” Ucap Haechan lagi.

“Terus kemaren pas papa bilang pengen meluk boneka beruang sama mau makan bakso itu kenapa?” Sekarang giliran Hendery yang bertanya.

“Itu papa lagi pengen benerann, kepengen aja kenapa emangg masa harus ngidam dulu.” Jawab Ten membela dirinya.

“Ya nggak sih Pa. Tapi tetep ajaa, keinginan papa aneh kirain ngidam.”

“Tau ngga sih pa, sangking paniknya, Daddy sampe bikin grup khusus buat jadi detektif Papa.” Ucap Haechan membocorkan tentang grup detektif membuat Ten menatap Johnny sedangkan Johnny hanya bisa terkekeh.

“Ya abisan kamu aneh banget aku jadi curiga... Tapi gapapa yang penting kamu ngga kenapa kenapa. Semisal dari awal kamu ngga ngomong tentang anak kan aku juga ngga kepikir kamu hamil lagi...” Jawab Johnny, memang benar kok, sejak Ten mengungkit tentang adik, Johnny jadi kepikiran kalau memang benar Ten hamil lagi.

“Ada ada aja kalian tuh. Umur Papa tuh udah ngga cocok gendong anak lagi, udah cocoknya gendong cucu.” Ucap Ten membuat Haechan langsung menunjuk Hendery.

“TUH BANG DENGERIIINN.”

Dan hal tersebut berhasil membuat Haechan mendapatkan satu lemparan bantal dari Hendery.


“Terus kalo tentang kamu yang mau ini itu minta ke aku itu, kenapa yang?” Tanya Johnny setelah keduanya akhirnya menidurkan diri di kasur keduanya.

Ten membalikkan tubuhnya lalu menatap Johnny dan tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya, “Pengen aja, soalnya lucu liat muka panik kamu. Kamu sesayang itu ya sama aku?”

Johnny rasanya ingin mencubit mencium seluruh wajah milik Ten. Suaminya ini sudah berpuluh tahun, masa masih belum tau juga seberapa sayang dirinya pada lelaki mungil satu ini.

“Iya. Aku sayang banget sama kamu. Sayang aku ke kamu udah ngga bisa ditakar, udah meluber-luber. Pokoknya udah sayang banget, level teratas.” Ucap Johnny lalu mencium kening milik Ten lalu mencubit gemas hidung milik Ten.

“Aduhh! Katanya sayang tapi kok dianiyaya akunyaa.”

“Ini bukan dianiyaya, aku gemes sama kamu tau nggak. Yaampun, kamu ini hih.” Johnny langsung memeluk erat tubuh milik Ten membuat si pemilik memberontak. Ya tuhan, suaminya ini nggak sadar badan.


@roseschies