Terima kasih, Ten Lee.
⚠️ mpreg, mention suicidal thoughts and depression.
Pasti banyak yang bertanya.
Kenapa sih, gue mau nikah sama orang serewel Ten, seiseng Ten, semanja Ten, seribet Ten, dan se se se Ten yang lain.
Padahal, banyak orang yang lebih dari Ten, katanya.
Mereka nggak tau, dan mereka nggak akan pernah tau seberapa berharganya Ten buat gue dan hidup gue.
Mungkin kalau gue nggak ketemu sama Ten waktu lalu, gue nggak akan jadi Johnny yang seperti sekarang ini, dan mungkin -MUNGKIN nggak akan ada yang kenal sama siapa Johnny Suh karena MUNGKIN gue udah nggak akan hadir lagi di dunia ini sampai sekarang.
Simpel. Tapi, ucapan Ten kala itu bisa bikin gue bangkit dan ngerubah banyak mindset kolot gue. Ten selalu bisa bantu gue untuk terus bangkit dan bahkan, disaat gue harus istirahat, Ten juga selalu ada di sana untuk selalu nyemangatin gue dan bilang bahwa istirahat sebentar bukan berarti gue manusia lemah.
Dulu, Ten pernah bilang, “Jo, gue emang nggak pintar merangkai kata, tapi kalau lo butuh orang yang bisa dengerin lo, gue selalu di sini Jo. Kuping gue dibuat kayaknya emang buat dengerin omongan lo.”
Iya, emang se-simpel itu kalimat Ten.
Tapi, lagi. Ucapan simpel itu bisa ngebuat gue yang lagi rapuh-rapuhnya langsung bangkit dan paham bahwa masih ada orang yang mau dengerin omongan gue. Iya, itu Ten orangnya.
Dia sama sekali nggak pernah merasa keberatan untuk dengerin ucapan ngelantur gue disaat gue lagi mabok. Dia sama sekali nggak pernah merasa keberatan untuk dengerin ucapan sumpah serapah gue buat dunia yang udah bercandain hidup gue terus-terusan. Dia sama sekali nggak pernah merasa keberatan untuk dengerin semua cerita nggak jelas sampai jelas dari mulut gue.
Dia itu, beda.
Dan semua orang, nggak akan pernah paham dengan hal tersebut.
Gue nggak akan pernah bosen buat berterima kasih sebanyak-banyaknya sama lelaki mungil satu ini.
Ten, Terima kasih.
Terima kasih, sudah menyelamatkan hidup gue.
Terima kasih, sudah memberi banyak warna untuk hidup gue yang bahkan abu-abu sampai hampir hitam.
Terima kasih, sudah berjuang demi menghidupkan keluarga kecil kita.
Dan, sekali lagi. Terima kasih banyak sudah berjuang untuk melahirkan anak pertama kita, Hendery Suh.
Hendery bakal jadi anak yang sekuat kamu, Papanya.
Sekali lagi.
Ten, Terima kasih. Banyak. Sekali.
.
“Jo, lebay banget sih pake nangis segala!” Ucap Ten mencubit lengan Johnny yang sudah mengeluarkan air mata dan membuyarkan lamunan Johnny.
Johnny menghapus jejak air matanya kemudian tersenyum manis dan mengelus poni yang menutup kening suami mungilnya ini, “Kamu tuh! aku lagi sedih sedih juga malah dicubit.”
“Lagian kamu serem diem doang cuma natap aku, aku panggil panggilin malah ngelamun sampe nangis coba. Mikirin apa sih?”
“Mikirin kamu. Kamu lagi begini aja cantik banget.”
“Ih apasih! Gombal banget.” Setelahnya Ten mencubit lengan Johnny kembali karena ia malu sampai pipinya memerah.
“Jo, Hendery mana?” Tanya Ten, ia habis tidur sebentar tadi dan baru sadar bayinya itu tidak ada di dekat dirinya bahkan dipelukan Johnny.
Johnny menunjuk box yang tidak jauh dari kasur Ten, “Lagi bobo tadi, rewel sebentar cuma langsung bobo lagi.”
Ten mengangguk.
“Bisa bawa Hendery kesini nggak Jo? Aku mau meluk dia.”
Kemudian Johnny bangun dari tempat duduknya dan jalan menuju box Hendery lalu menggendong Hendery dengan pelan agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tertidur pulas.
Johnny meletakkan tubuh Hendery tepat diatas dada Ten dengan pelan kemudian kembali duduk.
Ten mengelus tubuh mungil Hendery yang sedang menyamankan dirinya di dada milik Ten.
“Jo, dia ganteng ya kayak aku, mukanya aku banget liat deh, kamunya nggak ada hehehehe.” Ledek Ten sambil mengelus tubuh Hendery.
Johnny bawa tangannya lalu meletakkan tangannya tepat diatas tangan Ten, ikut mengelus tubuh Hendery.
“Gapapa yang penting anakku sehat, Papanya juga sehat.”
Ten jadi malu kalau Johnny sudah seperti ini, kemudian Ten membawa tangannya untuk mengelus kepala Johnny, “Terima kasih Daddy~”
Johnny tersenyum kemudian mencubit hidung mancung milik Ten, “Aku yang terima kasih sama kamu sayang, sini cium”
Kemudian Johnny mencium kening Ten tak lupa Johnny juga mencium pucuk kepala Hendery, “Sehat-sehat malaikatnya Daddy.”
Namun, setelah Johnny mencium pucuk kepala Hendery, Hendery langsung terbangun dan menangis.
“Ututuut, Daddy bau ya sayang. Belum mandi 3 hari dia hehehehe.” Ledek Ten pada Johnny karena Hendery setelah dicium oleh Johnny langsung menangis membuat Johnny terkekeh.
Memang benar kok, dia belum mandi 3 hari selama di rumah sakit. Padahal, Jaehyun dan Yuta sudah menyuruh Johnny untuk pulang mandi sebentar biar mereka yang jaga Ten dan si bayi tetapi Johnny menolak.
Omong-omong tentang Jaehyun dan Yuta. Para Om-nya Hendery itu terlihat sangat bahagia bahkan sama bahagianya dengan Johnny.
Mereka akan merelakan sebagian hartanya untuk Hendery jika sudah besar nanti. Hendery bakal jadi anak yang disayang oleh kedua Om-nya itu.
Meskipun mereka tau, mereka bakal jadi sasaran empuk Hendery nantinya. Toh, sejak masih janin mereka sudah biasa direpoti oleh Hendery, kan?
Johnny sendiri masih tidak menyangka, saat ini dirinya bisa membangun keluarga kecilnya sendiri.
Bahkan, hidupnya bersama dengan Ten saja ia sudah sangat bersyukur dan ternyata Tuhan berkata lain lalu Hendery lahir untuk menambah kehangatan di keluarga kecilnya itu.
Baru saja Johnny ingin bermesra-mesraan dengan kedua malaikatnya itu, tiba-tiba pintu kamar rawat Ten terbuka lebar.
“Selamat siang ponakan Om yang ganteng~” Ucap Yuta dengan Jaehyun yang menengok dari belakang sambil membawa bouquet bunga yang lumayan besar untuk Ten.
Bersamaan dengan suara Yuta yang bisa dibilang lumayan keras, Hendery kembali menangis. Padahal Ten baru saja meredakan tangisan Hendery.
“Yut berisik!” Omel Ten membuat Yuta terkekeh, lupa kali dia kalau Hendery masih bayi baru lahir.
“Hendery, besok main lego sama Om yaa.” Tawar Jaehyun membuat Johnny mencubit pinggang Jaehyun gemas.
Ini kedua temannya kenapa sih. Mereka kira Hendery udah balita atau gimana?
“Jangan mau Hen. Balapan aja sama Om yaa Hen.” Timpal Yuta semakin membuat Ten dan Johnny geleng-geleng.
“Nak, jangan sedih ya kamu punya dua Om otaknya agak geser semua.” Ucap Ten membuat Yuta dan Jaehyun ikut tertawa, padahal mereka dibilang otaknya geser.
Johnny tersenyum melihat hal tersebut.
Hendery, kamu disayang banyak orang.
Sama seperti Papamu.
Hendery, jagoannya Daddy dan Papa, jangan cepet gede ya...
Terima kasih sudah mengikuti johnten mpreg series sampai beneran lahir dan jadilah Hendery!
@roseschies