thank you and sorry
Setelah bebersih diri, Johnny dan Ten keluar dari kamarnya yang ternyata sudah ada Mark dan Hendery yang duduk di depan TV. Keduanya sedang menonton netflix sambil menunggu Johnny dan Ten yang bebersih setelah beraktifitas dari luar.
“Abang, Mark.” Ten memanggil keduanya membuat Mark dan Hendery menengok kearah Ten yang sudah berdiri di dekat sofa dengan Johnny yang ada di sebelahnya kemudian Hendery mematikan TV tersebut.
“Om.” Mark langsung berdiri kaku menghadap kearah Johnny dan Ten.
“Eh, duduk aja Mark gapapa. Sini duduk sebelah Hendery.” Ucap Ten kemudian menyuruh Mark untuk duduk di sebelah Hendery yang berada di dekatnya.
Mark menggeleng, “Gapapa Om, Mark berdiri aja ngomongnya.”
Ten berdiri kemudian membawa tubuh Mark untuk duduk di sampingnya, “Gapapa, kita omongin sambil duduk ya?”
Melihat Ten yang sudah lebih tenang dibanding sebelumnya membuat Johnny tersenyum, Johnny tau bagi Ten melakukan hal tersebut sangat sulit. Tetapi tidak ia sangka, Ten memilih jalan ini.
“Om Johnny, Om Ten. Maafin Mark ya. Maafin ucapan dan perlakuan Mark ke Haechan. Maafin Mark karena Mark Haechan jadi kayak gini.”
“Om Johnny dan Om Ten secara pribadi maafin Mark kok. Melihat Mark yang berusaha buat berbicara sama kami langsung seperti ini membuat kami paham, kalau Mark masih ada keinginan buat merubah semuanya ya?” Johnny membenarkan duduknya menghadap langsung ke arah Mark yang berada di sebelah Ten.
“Semalam Ayah dan Papi Mark nelfon kami berdua, Kami sudah tau apa yang terjadi dari sisi Mark.” Lanjut Johnny membuat Mark menunduk.
“Om Johnny dan Om Ten nggak bisa berperan banyak, karena masalah ini kan milik Mark dan Haechan. Kami cuma titip pesan ke Mark untuk Mark ingat selalu sampai kapapun ya? Lain kali lebih hati-hati, ucapan kadang nggak sengaja ngebuat seseorang sakit hati. Sebelum bicara baiknya dipikir dulu, kalau emang situasinya lagi nggak baik, lebih baik diam dulu baru diceritakan setelah situasi membaik.”
“Mark kan nggak tau apa yang terjadi sama Haechan di belakang sana. Apa yang sedang Haechan lewatin sendirian. Begitu juga Haechan, Haechan nggak tau apa yang terjadi sama Mark. Kenapa Mark tiba-tiba berubah pun menjadi salah satu yang Haechan pikirin terus menerus. Komunikasi antar satu sama lain itu penting, Mark. Om tau, Kalian berdua tuh sama. Sama-sama dipendem semua.”
Mendengar ucapan yang dikeluarkan dari mulut Johnny membuat Mark mengangguk paham. “Om, makasih banyak ya. Maafin Mark juga ya Om.”
Johnny dan Ten mengangguk.
“Untuk masalah kamu dan Haechan. Semuanya kami kembalikan sama kalian berdua ya? Kami berdua maafin Mark. Untuk Haechan, semuanya balik lagi ke Haechan sendiri. Om enggak bisa bantu banyak, karena yang merasakan semuanya kan Haechan. Semua balik lagi jadi pilihan Haechan dan Mark. Mark yang mau kayak gimana kedepannya dan Haechan yang mau maafin Mark atau enggak.” Ucap Ten kemudian mengelus pundak Mark, memberikan sedikit semangat untuk lelaki yang rapuh ini.
Johnny dan Ten tau, Mark itu orang baik. Apalagi setelah tau semuanya dan alasan kenapa Mark seperti itu.
Dan, Mereka juga tau, apa yang akan dipilih oleh sang anak nantinya.
Setelah dirasa sudah terlalu malam akhirnya Mark pulang kerumahnya dan Hendery mengantarkan Mark sampai pagar meninggalkan Johnny dan Ten berdua di sofa depan TV.
“Apa yang kita lakuin bener kan Jo?” Tanya Ten menatap Johnny yang berada di sampingnya.
Johnny mengangguk lalu mengelus surai milik Ten, “Iya. Suamiku kuat banget. Sini peluk dulu.”
Kemudian Johnny langsung memeluk dengan gemas tubuh milik Ten.
“Tolong dong kalo mau peluk pelukan di kamar aja. Duh, ngotorin pemandangan ajaa.” Ledek Hendery setelah kembali masuk ke dalam rumahnya dan menemukan kedua orang tuanya yang sedang lovey dovey di ruang TV.
Johnny terkekeh, “Kamu iri bilang aja bang. Makanya cari pacar!”
Hendery mendengus, “DIH? Ngapain cari, yang mau sama Abang banyak.”
“Terus?”
“Yang Abang mau, nggak mau sama Abang.”
Ucapan Hendery membuat Johnny dan Ten tertawa ngakak. Ada aja masalah percintaan di dalam keluarganya ini. Heran.
“Udah ah, Papa mau ke kamar Dede dulu siapa tau dia udah bangun.” Ucap Ten kemudian melepas tangan Johnny yang daritadi masih bertengger di pundaknya itu.
Johnny mengangguk, “Yaudah gih.”
Setelahnya Ten naik ke lantai dua lalu menuju kamar anak bungsunya, untuk menemani si bungsu yang sedang sedih itu.
Hendery yang baru saja ingin naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarnya langsung berhenti setelah mendengar Johnny memanggil dirinya.
“Sini Bang.”
“Hih mau ngapain nih?!”
“Buset dah kayak Daddy mau rampok aja. Sini duduk dulu, kita bapak anak hour dulu.”
Hendery memutarkan bola matanya malas, dasar Daddynya ini.
Akhirnya Hendery duduk disebelah Johnny kemudian Johnny merangkul tubuh Hendery, “Siapa tuh inceran kamu?”
“Ish, Daddy beneran kayak tetangga kepoan!”
Johnny terkekeh, “Ya abis. Biasanya liat cuma kamu sama Mark, Lucas. Ini tiba-tiba udah punya inceran aja. Jangan jangan kamu ngincer Lucas ya?!”
Tebakan Johnny membuat Hendery melotot, “Mana ada!”
“Ya siapa tau kan. Temen deket kamu itu itu doang abisan dari dulu. Mana ada yang baru.”
Dengan tidak mau kalahnya Hendery menjawab, “Loh, Daddy juga temennya itu itu doang dari dulu. Om Jaehyun sama Om Yuta doang.”
Johnny tertawa lalu mencubit hidung Hendery gemas, “Dasar. Bisaan aja kamu.”
Kemudian keduanya diam dengan tangan Johnny yang masih merangkul pundak Hendery.
Johnny meskipun diam diam begini, tetapi ia tau, anaknya ini terlihat sedang lelah.
Johnny tau, Hendery pasti sedang bingung harus membela yang mana.
“Bang, jangan lupa istirahat.”
Hendery mengangguk, “Iyaa.”
Ih, Hendery tuh nggak bisa kalau harus ngomong serius sama Daddynya. Aneeehhh.
“Berat ya Bang? Tapi jangan lupa Abang harus utamain diri Abang sendiri.”
“Abang pasti bingung harus ngebela yang mana. Nggak perlu ada yang kamu bela karena mereka bukan pilihan, Bang. Jadilah Abang buat Haechan dan tetapi jadilah teman buat Mark. Karena jauh dari sebelum masalah ini muncul kamu udah jadi bagian dari hidup mereka entah dalam posisi apapun itu. Buat masalah mereka biar jadi masalah mereka masing-masing, tugas Abang tetep. Jadi Abang buat Haechan dan jadi teman buat Mark.”
Johnny menepuk pundak Hendery, memberi semangat untuk anaknya yang terlihat lelah sendirian.
Hendery yang mendengar ucapan Johnny hanya bisa menunduk, duh dia malu banget kalau harus denger kayak begini tapi keluar dari mulut Daddynya.
“Kenapa kamu nunduk aja? Nyari emas?”
Hendery menggeleng.
“Emas yang kamu cari mah di rumah Om Yuta kali.”
Ucapan Johnny yang secara tiba-tiba itu membuat Hendery melotot terkejut, “Apaansih Dad!”
Johnny tertawa, jadi bener dugaan dia. Dasar.
“Intinya inget kata-kata Daddy Bang. Abang udah jadi Abang yang baik buat Dede dan udah jadi teman yang baik buat Mark. Tapi jangan lupa sama diri Abang sendiri. Ya? Dengerin loh ini Daddy ngomong kamu nih.”
Johnny mencubit pinggang Hendery, gemas sama anak pertamanya yang kalau diajak ngobrol serius sama dirinya sok sok an malu malu kucing.
“Ih iya iyaa Dad!”
“Tidur gih, besok ada kelas?”
Hendery mengangguk, “Ada.”
“Kapan kamu sidang?”
“DAD AKU BARU SEMESTER DUA???????”
Johnny tertawa, “Kirain udah semester akhir gitu.”
“Udah ah, dasar bapak bapak satu ini rusuh aja. Sana sana tiduurr Dad, besok kerja kan.”
“Iyalah, kalo Daddy nggak kerja kamu makan pakai uang siapa.”
“Nah bagus, semangat kerjanya Daddy. Dadaahh Abang naik dulu.”
Hendery kemudian berdiri dari duduknya lalu naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Johnny tersenyum-senyum sendiri di depan TV setelahnya lalu membawa kakinya untuk masuk ke dalam kamar sambil menunggu Ten turun kebawah.
@roseschies