that guy
Setelah memastikan Papanya di sana baik-baik saja, Hendery melangkahkan kakinya menuju kamar adiknya yang berada di depan kamarnya.
“De?” Hendery mengetuk dan memanggil adiknya yang dipastikan berada di dalam kamarnya.
Tidak ada jawaban. Tipikal Haechan. Mau tidak mau Hendery langsung membuka pintu kamar Haechan dan terlihat Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya dalam diam dengan pulpen yang ada di tangannya serta buku yang terbuka tepat di depan mata Haechan.
Hendery mendudukkan dirinya di kasur Haechan. Melihat gerak gerik adiknya yang sedang mengerjakan tugasnya di meja belajar.
Lumayan lama mereka hanya diem-dieman.
Akhirnya Hendery membuka percakapan terlebih dahulu. “Kenapa?”
Tidak ada jawaban. Haechan diam, menutup mulutnya rapat rapat dengan tangan yang sibuk mencorat-coret buku yang ada di depan matanya.
Semakin sunyi, semakin Hendery bisa mendengar decitan pulpen yang terasa di tekan untuk ditulis di buku.
“De?”
Haechan menjatuhkan kepalanya, menelengkupkan wajahnya diatas meja. Haechan menahan teriakannya yang malah menjadi seperti teriakan menggema.
Hendery kemudian langsung berdiri menuju Haechan, ia memegang pundak adiknya. Spontan Haechan langsung menangis.
Hendery tidak membuka percakapan lain. Ia berdiri diam disebelah adiknya sambil mengelus surai lembut milik Haechan sedangkan Haechan masih menangis diatas meja.
Haechan bingung. Bingung harus berbuat apa. Rasanya Haechan ingin tenggelam.
Dia benar-benar takut harus cerita darimana.
“Bang.” Ucap Haechan disela-sela tangisannya.
“Iya, kenapa?”
“Jatuh cinta cuma bikin sakit. Nggak mau lagi.”
Mendengar ucapan Haechan, Hendery tau mau dibawa kemana arah pembicaraan ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan bagi Hendery adalah kenapa adiknya bisa berbicara seperti itu di grup keluarga.
Hendery tau, itu semua bukan bercandaan semata.
“Bang. Maafin dede ya, pasti papa sakit hati ya baca chat bercanda dede.”
“Dede tau itu bisa nyakitin hati papa. Jangan lupa buat minta maaf sama papa.”
Haechan mengangguk.
“De. Dede suka ya sama Mark?”
Haechan diam. Hendery ini suka tidak memberi aba-aba dulu.
“Oke, berarti bener ya dede suka sama Mark? Ditanya diem aja berarti bener.”
“Belakangan ini yang bikin dede kepikiran itu Mark ya?”
Haechan masih diam.
“Oke, bener.”
“Bang. Iya, semua yang abang bilang bener.”
“Dia udah ngapain kamu?”
Haechan menunduk. Tidak mau jawab.
Hendery membalikkan tubuhnya untuk menuju kamar miliknya namun belum sempat Hendery melangkah, Haechan sudah memegang tangan milik Hendery.
“Apa? Lo gak mau cerita kan? Biar gue yang nanya sama dia.”
“Jangan Bang.”
“Ya kalo lo gak mau cerita. Terserah sih de. Lo gak akan tau juga gue ngapain, kan? Impas. Kita sama sama diem aja ngelakuinnya.”
Mendengar ucapan Hendery yang sama sekali tidak bersahabat membuat Haechan akhirnya mendengus dan memutuskan untuk menceritakan apa yang sebelumnya dan baru saja terjadi pada dirinya dan Mark.
Hingga akhirnya Hendery membaca isi chat Haechan dengan Mark.
Reaksi Hendery?
Tentu saja, bisa membuat meja Haechan hampir rusak karena beberapa kali dirinya menonjok keras meja milik Haechan.
“Bang, jangan marahin kak Mark. Kalo dia tau aku cerita ke abang dia pasti makin benci sama aku karena aku kesannya ngaduan.”
“De. Please stop jagain dia dibelakang lo. Ini bukan ngadu namanya de, lo cerita. Lo ya de, pas kecil gue sayang sayang. Udah gede kenapa lo lebih sayang sama Mark. De, pikirin de sedikit aja deh. Mark yang udah kayak gitu ke lo, tapi malah lo jaga terus. Lo punya salah apa sih sama dia? Kaga ada de.”
Haechan menunduk. Abangnya benar. Dia terlalu bodoh untuk satu ini. Dia terlalu sering bersama Mark sejak dulu kecil. Kehilangan Mark rasanya puzzle kehidupannya ada yang hilang satu keping.
“Jadi gara-gara dia, lo ngomong kayak gitu di grup keluarga? De, omongan lo bikin papa sakit hati dan ngerasa jadi orang tua yang gagal didik anaknya loh de. Bukan lo yang harus ikutin kemauan dia. Percuma de, kalo dianya aja begitu. De, abang marah sama dede bukan abang nggak sayang sama dede. Abang sayang sama dede. Abang— ARGH MARK ANJING”
Hendery memukul meja belajar Haechan kembali lalu meninggalkan adiknya yang masih terdiam di kursi.
Hendery buru-buru mengambil ponselnya lalu mengetikkan sebuah kalimat di grup sugus.
Sedangkan Haechan, ia merenungkan banyak kalimat yang dilontarkan sang kakak pada dirinya. Semua benar. Benar menampar Haechan.
Hendery kembali ke kamar Haechan kemudian berdiri di sebelah Haechan yang masih duduk di kursinya. “Cerita sama Papa. Papa mikirin omongan lo terus.”
Haechan menggeleng, “Gak berani.”
Hendery mendenguskan nafasnya kasar. “Kalo gitu gue yang cerita sama Papa. Lo jangan lupa minta maaf sama Papa. Jangan berani-beraninya ya de lo maafin Mark dibelakang gue. Lupain si manusia tolol itu.”
Hendery lalu menutup pintu kamar Haechan kencang dan kembali ke kamarnya.
@roseschies