The Tragedy
— Johnten oneshot AU
TW // car accident , major character death , depression , self harm , panic attack , attempt of suicide , mental issue , mentioning blood .
Setelah Ten menerima pesan bahwa Kun sudah di depan unitnya, Ten buru-buru menggunakan sandalnya lalu berlari-lari kecil menuju pintu untuk membukakan pintu untuk Kun yang sudah menunggu di depan sana.
“Hoi!” Sapa Kun setelah mendengar pintu terbuka lalu Kun dapat melihat Ten dengan pakaian rumahnya berdiri di belakang pintu lalu mempersilahkan Kun untuk masuk.
“Lama banget lo gue tungguin daritadi juga.” Oceh Ten lalu menutup pintu tersebut lalu mengajak Kun untuk masuk ke dalam apartemennya. Sedangkan Kun yang sudah menjadikan apartemen milik Ten menjadi tempat berlindung keduanya itu langsung memakai sandal miliknya yang memang dikhususkan untuk dirinya di sini.
Kun membawa kakinya menuju meja makan yang terletak diantara dapur dan ruang TV kemudian menaruh bungkusan yang ia beli tadi sebelum menuju apartemen Ten. “Ini gue beliin makanan buat lo juga, ngoceh aja bocah. Mau dipanasin nggak?”
Sedangkan Ten yang sudah duduk kembali di sofa dan menikmati tontonannya di televisi mengangguk mendengar ucapan Kun. “Mau dong. Eh, emang lo beli apaan?”
“Sup sama gorengan sih. Kayaknya supnya udah agak dingin, gue tau lo nggak suka sama makanan yang mulai dingin.” Jelas Kun kemudian mengeluarkan makanan yang ia beli satu persatu dari bungkusannya untuk ia panaskan.
“Ohh, kalo gitu gorengannya panasin juga lah di microwave.”
Kun memutarkan bola matanya malas. “Iya bos besar.”
Ten tertawa kencang, ia sangat suka menyuruh-nyuruh sahabatnya itu. Tidak, Ten bukan orang yang seperti itu kok. Hanya saja ia terlalu malas untuk membantu Kun saat ini dan lagipula Kun juga mau saja ia suruh bahkan dengan senang hati.
Dia tidak tau aja, kalau Kun sudah mengeluarkan banyak sumpah serapah dalam hatinya hanya untuk seseorang bernama Ten Chittaphon.
Ten menonton televisi dengan khidmat sedangkan Kun sedang menghangatkan sup serta memanaskan gorengan di dalam microwave yang memang tersedia di unit milik Ten.
Tidak ada pembicaraan lebih lanjut karena keduanya asik dengan kegiatan masing-masing.
Kecelakaan beruntun atau kecelakaan karambol yang melibatkan empat kendaraan terjadi di xxx. Kecelakaan ini melibatkan pikap, minibus, dan dua truk. Tampak kendaraan paling belakang truk tronton yang mengalami rusak di bagian kemudi.
Di depan truk tronton terdapat dump truk yang juga mengalami rusak di bagian kemudia. Kemudian di depannya lagi terdapat pikap yang ringsek di bagian depan, serta minibus yang mengalami rusak di bagian bodi depan.
“JOHNNY!”
Terdengar suara teriakan dari arah ruang TV membuat Kun yang sedang mengaduk sup buru-buru mematikan kompor lalu berlari menuju Ten yang sedang meringkuk serta menutup telinga dan matanya dengan kedua tangan yang ia miliki, badan milik Ten bergetar hebat.
“J-JOHNNY!”
Ten teriak lagi saat ini dengan tangan yang seperti ingin menahan sesuatu. Badannya semakin gemetar, giginya menggeretak mengikuti badannya yang bergemetar.
Tanpa bertanya, Kun langsung memeluk tubuh Ten erat lalu mengelus rambut milik Ten bermaksud untuk menenangkan sahabatnya ini, kemudian mematikan saluran televisi tersebut.
“J-jo- hah- K-un, Joh- Johnny Kun.” Ucap Ten dengan terbata-bata, nafasnya seperti terambil satu persatu membuat Kun mencari oksigen yang biasanya Ten letakan di pinggir sofa.
Kun mengipasi Ten dengan tangan satu miliknya yang sibuk mencari oksigen tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Kun langsung memberikan oksigen tersebut pada Ten lalu Ten menghisap oksigen tersebut pelan-pelan.
Kun panik bukan main. Ini merupakan pertama kali ia melihat Ten yang secara tiba-tiba seperti ini.
Ten memang terkadang membutuhkan oksigen untuk rasa sesaknya. Tetapi kali ini, rasanya berbeda.
Ten mengalami panic attack yang bisa dibilang terlihat parah.
“It's okay Ten. Gue di sini sama lo. It's okay.” Kun mengelap keringat yang membasahi pelipis Ten.
Setelah Ten merasa dirinya cukup menghirup banyak oksigen dari alat bantu tersebut, ia melepas kemudian terdiam menatap televisi yang sudah mati di depannya.
Televisi yang mati tersebut memberi reaksi pantulan membuat Ten melihat dirinya yang sedang duduk di sofa dengan kaki yang meringkuk dan badan bagian belakang Kun yang berada di sebelahnya.
Tiba-tiba saja air mata turun dari pinggir mata milik Ten membuat Kun bingung lalu menghapus jejak air mata tersebut dan memeluk sahabatnya.
Kun bingung sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba seperti itu dan kenapa tiba-tiba seperti ini.
Tetapi Kun tiba-tiba tersadar akan suatu hal.
Berita kecelakaan yang baru saja Ten dengar di televisi dan reaksi Ten setelahnya yang memanggil nama Johnny.
Kekasih Ten.
Hari ini merupakan hari yang sangat dinanti oleh Ten maupun Johnny. Setelah keduanya dilanda dengan banyaknya pekerjaan yang menimpa, akhirnya mereka memiliki waktu luang untuk sekedar bertemu dan saling berbagi sentuhan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Johnny melingkarkan tangannya di pundak milik Ten sedangkan Ten melingkarkan tangannya tepat di pinggang Johnny lalu meletakkan kepalanya di pundak milik Johnny.
“Aduuh, pacar aku manja banget begini. Di apartemen kamu aja ya? Nggak usah ke tempat rekreasi, kayaknya enakan di apartemen kita bisa cuddle.” Ucap Johnny melihat kekasihnya yang bermanja meletakkan kepalanya di pundak miliknya saat keduanya sedang berjalan menuju basement untuk mengambil mobil milik Johnny di sana.
Ten menggeleng. “Nggak mau. Aku lagi kepengen ke tempat rekreasi Jo. Kita udah jarang ngabisin waktu berdua masa cuma di apartemen. Maunya main!”
Johnny terkekeh lalu membawa tangannya untuk mencubit hidung mancung milik Ten. “Iya iyaaa. Apapun untuk kesayangan aku yang gemes ini.”
Sesampainya keduanya di depan mobil milik Johnny. Johnny membantu membukakan pintu mobil untuk Ten. “Silahkan masuk Ten Suh.”
Mendengar hal tersebut, Ten mencubit pinggang Johnny. “Sembarangan aja ganti marga orang ih.”
Johnny terkekeh lalu mencium kening milik Ten lalu memasangkan seatbelt untuk Ten kemudian menutup pintu tersebut. Johnny mutar untuk masuk ke dalam seat miliknya.
Setelah Johnny menyalakan mobilnya, Ten memajukan tubuhnya lalu menarik seatbelt milik Johnny. “Dipakai dong seatbeltnya. Bandel.”
Johnny terkekeh gemas. “Makasih sayang.”
Kemudian Johnny menjalankan mobilnya menuju tempat rekreasi yang ingin Ten datangi belakangan ini.
Di jalan keduanya saling melontarkan canda dan tawa bersama juga menceritakan keseharian mereka belakangan ini. Kerjaan keduanya benar-benar menyita waktu luang mereka untuk bercerita dan melepas canda tawa seperti ini. Tetapi, keduanya bahagia bisa kembali berbagi cerita lagi.
“Jo ihh!!” Ten memukul lengan Johnny karena sejak tadi Johnny gemar sekali meledek Ten yang sedang cerita kalau kemarin dirinya sempat kena teguran dari atasannya akibat suatu hal yang menurut Ten sangat aneh. Tetapi, Johnny malah meledeki dan menertawakan hal tersebut.
“Lagian atasan kamu ada ada aja. Begitu doang pake kena teguran. Kehilangan kamu baru tau rasa. Aku aja nggak mau kehilangan kamu, terlalu berharga sih.” Gombal Johnny diakhir membuat pipi Ten memerah, ia malu. Dasar Johnny.
Johnny tertawa lalu membawa tangannya mencubit pipi milik Ten. “Ih manyun-manyun aja. Cium nih.”
“Gak! Ngendarain mobil yang bener ih. Nanti kecelakaan aja.” Ucap Ten membuat Johnny memukul paha milik Ten.
“Eh, ucapannya sembarangan aja kamu lohh.”
Entah siapa yang mengaminkan ucapan Ten, detik selanjutnya mobil milik Johnny tertabrak dengan kencang dari samping dan tabrakan tersebut mengenai bagian mobil di mana Johnny berada begitu kencang.
Yang Ten tau, sebelum dirinya kehilangan kesadaran akibat kecelakan tersebut adalah dirinya yang melihat kepala milik Johnny yang bocor dan mengeluarkan darah, hidung Johnny yang juga mengeluarkan darah, tangan yang bercucuran darah akibat tabrakan tangannya dengan stang mobil dan pintu mobil, pipi milik Johnny yang juga mengeluarkan darah akibat terkena serpihan kaca depan dan pintu mobilnya, serta suara decitan ban mobil entah mobil milik Johnny atau truk yang menabrak sisi kanan mobil milik Johnny.
Butuh waktu lama untuk Kun menemani Ten di hari-hari gelapnya itu. Hari di mana ia ditinggal untuk selamanya oleh sang kekasih, Johnny Suh.
Kun pikir, belakangan ini Ten sudah semakin membaik. Tetapi setelah melihat kejadian Ten saat mendengar berita kecelakaan itu, Kun menutup pikiran tersebut dan berusaha untuk mengulik kembali apa yang terjadi dengan temannya ini dan apa yang ditutupi oleh Ten.
Kun sudah beberapa kali mengajak Ten untuk ke psikolog setidaknya Ten memiliki penanganan yang cukup dari seorang profesional.
Tetapi, Ten selalu menolak.
Diam-diam juga Kun bertanya-tanya mengenai temannya ke salah satu temannya yang memang psikolog, Taeil.
Bahkan Kun berbicara mengenai kejadian di mana Ten teriak lalu sesak nafas setelah mendengar berita kecelakaan pada Taeil.
Ten mengalami trauma yang begitu mendalam.
Taeil memang sudah memberikan rekomendasi pada Kun untuk sebaiknya Ten dibawa kepada dirinya.
Lagi-lagi Ten menolak.
Semakin hari intensitas Kun mengunjungi apartemen Ten pun terlihat semakin sering. Banyak sekali alasan yang digunakan Kun di mulai dari bosan sendirian di apartemen sampai ingin bertemu nyamuk yang berada di rumah Ten karena katanya ia ingin berkenalan.
Padahal semuanya hanya alasan karena ia takut, Ten akan berbuat lebih dari apa yang Kun bayangkan.
Hari selanjutnya, Kun diminta oleh Ten untuk membawakan dirinya makanan karena dirinya sedang ingin makanan yang biasa Kun bawakan, yaitu sup.
Dikarenakan Kun yang terus menerus mengunjungi apartemen Ten, akhirnya Ten memberikan passcode apartemennya pada Kun maka dari itu, saat ini Kun langsung memencet passcode apartemen milik Ten.
Sesaat Kun masuk ke dalam unit Ten, Mata Kun melihat Ten yang sedang berdiri diatas bangku dengan tubuh yang lemas dan tali yang sudah siap digantung di atas.
Ten sedang melakukan percobaan bunuh diri tepat di saat Kun masuk ke dalam apartemennya.
Kun menjatuhkan bungkusan yang ia bawa lalu berlari dari tempatnya untuk menyelamatkan temannya dari percobaan tersebut.
Kun menggendong tubuh lemas milik Ten. Ten tidak berkutik sama sekali, tatapannya sangat kosong.
Kun menangis sambil memeluk tubuh lemas Ten, ia dekap tubuh tersebut erat.
Jika Kun tidak datang tepat waktu, mungkin dirinya akan kehilangan dua orang dalam satu tahun.
“K-Kun. Gue nggak kuat hidup lebih lama lagi.”
Kun menggeleng keras, menolak ucapan temannya itu.
“Setiap hari, setiap malam gue selalu kebangun. Gue selalu keingat gimana keadaan Johnny sewaktu itu. Kun, gue ARGHHHH-” Ten berteriak kemudian memukul hingga menjambak kepalanya keras.
Kun yang melihat aksi Ten tepat di depannya itu langsung mengelus tangan milik Ten tanpa menarik takut takut jika tangan milik Ten ia tarik, semakin membuat Ten menjabak kepalanya.
Kun menenangkan temannya, ia bahkan tidak tahu harus mengeluarkan kalimat apa. Karena, di saat seperti ini, semua kalimat yang ia keluarkan pasti hanya ditolak oleh pemikiran Ten yang sedang berkabut.
Ten menangis hingga meraung-raung sambil meneriaki nama Johnny di dalam pelukan Kun. Hingga akhirnya, kesadaran Ten hilang dan dirinya jatuh pingsan tepat dipelukan Kun.
@roseschies