The warmth in him
“Dede minjem peng— Loh eh ini lagi ada apaannn?????” Hendery yang baru saja membuka pintu kamar Haechan dengan terburu-buru langsung bingung karena hawa kamar Haechan kenapa jadi menyedihkan begini.
“Loh Papa ngapain di sinii???” Tanya Hendery melihat Ten yang sedang tiduran di sebelah Haechan.
“Ikutan doonggg.” Teriak Hendery kemudian menidurkan tubuhnya diatas tubuh Haechan dan Ten.
Hendery nggak sadar apa kalau tubuhnya ini terlampau berat.
“Astaga abang beraaatt.” Haechan mendorong tubuh abangnya yang meniduri tubuhnya diatas.
Ten menggelengkan kepalanya, dari dulu memang Hendery tidak pernah berubah dan selalu merecoki kegiatan dirinya dengan si bungsu.
“Mau pinjem penggaris kan? Tuh tuh ambil aja di meja belajar ambil. Nggak modal banget penggaris aja minjem mulu!” Ledek Haechan sedangkan yang diledek tidak peduli dan langsung mengambil penggaris yang terletak di meja belajar Haechan.
“Daddy lagi ngapain Bang?” Tanya Ten pada Hendery, siapa tau anaknya itu tau sedang apa suaminya ditinggal oleh dirinya sebentar.
“Tadi pas abang turun sih lagi nonton TV sedih banget dah bengong doang udah kayak duda.” Hendery dan Haechan tertawa sedangkan Ten hanya bisa menggeleng-geleng.
Hendery keluar dari kamar adiknya sambil membawa penggaris sedangkan Haechan mendorong tubuh Ten, “Sana Paa temenin Daddy, kasian dia ditinggal Papa.”
Ten terkekeh, suaminya itu alay sekali baru juga ditinggal sebentar. “Daddymu tuh, Papa cuma tinggal bentar aja udah jadi sad boy.”
“Semua orang juga tau Pa, Daddy bucin akut sama Papa.”
Ten tertawa, benar juga.
“Yaudah, Papa kebawah ya? Dede tidur, besok sekolah. Udah disiapin kan peralatan sekolah besok?”
Haechan mengangguk. “Udah kok Paa, tenang aja.”
“Good night, my little bear“
“Ih Papaaaa!!!”
Ten tertawa kencang. Ten itu dulu sering meledeki suami dan kedua anaknya dengan sebuah panggilan. Untuk Haechan little bear, Abang big bear, sedangkan Johnny giant bear.
Ten menutup kamar Haechan kemudian menengok kearah kamar Hendery yang pintunya masih terbuka. “Ini kenapa pintunya dibuka bang?”
“Oh iya lupa ditutup Paa hehehe.”
“Tutup jangan lupa nanti banyak nyamuk.”
Hendery berdiri dari kursinya lalu menuju pintu. “Gimana, Pa?”
Ten tersenyum, dasar anaknya ini. Bilang aja bukan lupa tutup pintu tapi kepo.
“Baik-baik aja kok sayang. Banyak tugas bang?”
“Lumayan Pa.”
“Yaudah, jangan kemaleman ya sayang. Besok kelas jam berapa?”
“Siang sama sore Pa.”
Ten mengangguk, “Ok. Papa turun yaa?”
Hendery mengacungkan jempolnya lalu menutup pintu kamarnya.
@roseschies