their story

Setelah mereka semua masuk ke dalam link yang diberikan Yuta. Mata Johnny dan Ten bisa melihat mata milik Yuta dan Winwin keduanya sama sama sembab.

“Lo berdua kenapa sampe nangis gitu matanya sembab? Ada masalah besar?” Tanya Ten panik, terlebih mata Winwin masih merah.

Yuta menggeleng diikutin oleh Winwin yang juga menggeleng.

“Winnie kenapaaaa?” Tanya Taeyong pada Winwin.

Winwin lagi-lagi rasanya ingin jingkrak jingkrakan sangking bahagianya dan tidak sabar untuk bercerita pada sahabatnya ini.

“Ada apaa sih Yut? Kenapa? Cepet cerita.” Tanya Johnny membuat Jaehyun mengangguk setuju.

Mereka semua sudah penasaran.


Yuta baru saja pulang dari kantornya, rumahnya sepi karena Winwin sedang ada kegiatan sampai malam, Jaemin izin mengerjakan tugas kelompok di rumah Renjun bersama Haechan dan Jeno, hanya ada Dejun yang masih di rumah tetapi lelaki itu berada di dalam kamarnya.

Yuta memasuki kamarnya terlebih dahulu berniat untuk mengganti baju lalu menemui Dejun di kamarnya.

Baru saja Yuta membuka pintunya, kakinya seperti menginjak sesuatu di bawah saja.

Sebuah kertas.

Yuta mengambil kertas tersebut lalu ia buka karena kertas itu di lipat beberapa kali lipatan.

Setelah kertas tersebut terbuka, terpampang sebuah tulisan tangan di kertas itu.

Yuta membaca perlahan, kata demi kata Yuta cerna, sampai akhirnya air mata Yuta yang sudah terbendung perlahan pecah seiring dengan tulisan tangan tersebut mendekati akhir.

Yuta lipat kembali kertas tersebut lalu ia simpan di atas nakas, bermaksud untuk menyimpan kertas itu dan memberikan pada Winwin ketika Winwin pulang, nanti.

Sekitar satu jam Yuta menunggu kepulangan Winwin, akhirnya Winwin pulang kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar menemukan Yuta yang sedang duduk di depan meja rias yang biasa Winwin gunakan untuk memakai skincare.

“Yut, aku pulang.” Ucap Winwin lalu menutup pintunya membuat Yuta langsung berdiri dan memeluk Winwin.

Winwin bingung, ini suaminya kenapa.

“Win, Win... Aku... Win.... Gimana ini Win....” Ucap Yuta terbata-bata karena lelaki itu sedang menangis sekarang di dalam pelukan Winwin.

Winwin mengelus punggung Yuta tanpa mengetahui alasan mengapa lelaki itu menangis di sana.

“Kenapa Yut? Ada masalah di kantor? Atau ada apa?”

Yuta menggelengkan kepala lalu melepas pelukannya kemudian Yuta menjalankan kakinya menuju nakas di mana kertas yang sebelumnya ia baca berada.

Yuta mengambil kertas tersebut kemudian memberikan kertas tersebut pada Winwin.

“Ini apa Yut? Kamu dikejar rentenir? Punya banyak utang? Yuta?” Winwin bertanya-tanya namun Yuta hanya terkekeh melihat Winwin yang malah menebak-nebak asal.

“Dibuka, Win.” Pinta Yuta lalu Winwin membuka kertas tersebut.

Terpampang lah tulisan tangan yang sebelumnya dibacaYuta.

Teruntuk Om Yuta dan Om Winwin,

Sebelumnya, Mas Dejun mau bilang terima kasih banyak buat om Yuta dan om Winwin yang udah rela memberikan waktu menjaga Mas dan Nana. Mas banyak banyak terima kasih sama om Yuta dan om Winwin. Maaf kalau Mas dan Nana merepotkan selama tinggal di rumah Om Yuta dan Om Winwin.

Om, rasanya Mas dan Nana kurang mencoba untuk mendekatkan diri ke Om disaat Om berusaha untuk terus reach out kami berdua. Mas dan Nana, bingung om. Mas dan Nana, rasanya nggak berhak dapetin itu semua. Mas dan Nana, banyak sekali berhutang sama Om.

Mas dan Nana, boleh mulai mencoba untuk membuka diri kami berdua juga membalas semua yang udah Om kasih ke kami?

Mas dan Nana, sayang sama Om Yuta dan Om Winwin.

Om Yuta, Om Winwin, terima kasih banyak udah terus bersabar menghadapi Mas dan Nana.

Om Yuta, Om Winwin. Mas dan Nana, rasanya seperti diberi dua malaikat yang Ayah dan Bunda berikan pada kami. Malaikat berhati baik seperti Om Yuta dan Om Winwin.

Terima kasih banyak Om Yuta, Om Winwin.

Mas Dejun dan Nana, juga sayang sebanyak rasa sayang Om Yuta dan Om Winwin berikan.

Om....

Mas boleh, mau ke makam Ayah dan Bunda? Tapi Om harus ikut, Mas mau ceritain banyak tentang Om Yuta dan Om Winwin ke Ayah dan Bunda.

Malaikat yang dikirim Ayah dan Bunda sudah sampai.

Sepanjang membaca isi tulisan tangan di kertas tersebut Winwin tak berhenti tersenyum hingga menangis sampai membasahi kertas tersebut.

Winwin langsung memeluk erat tubuh Yuta, keduanya saling memeluk memahami rasa yang keduanya tidak pernah rasakan seumur hidupnya.

“Yut, aku izin nemuin Mas Dejun, boleh?” Izin Winwin pada Yuta membuat Yuta mengangguk kemudian Winwin menghapus jejak air matanya dan langsung keluar dari kamarnya.

Sepanjang jalan Winwin menuju kamar Dejun, Winwin mengatur nafas dan detak jantungnya yang nggak karuan itu.

Rasa senang, sedih, semuanya campur aduk.

Setelah sampai di depan kamar Dejun, Winwin mengetuk pintu kamar Dejun terlebih dahulu sambil menunggu Dejun membukakan pintu untuk dirinya.

Tak lama kemudian Dejun membuka pintu tersebut, setelah pintu terbuka dan terpampang Dejun dengan pakaian tidurnya, Winwin langsung menarik tubuh Dejun dan memeluk lelaki itu.

Pelukan ini terasa hangat untuk Dejun.

Dejun terdiam tak lama kemudian air matanya pecah hingga mengenai pipinya. Air mata miliknya turun semakin deras seiring eratnya pelukan Winwin.

Winwin bahkan sudah menangis sesegukan sejak pertama kali akhirnya ia bisa memeluk Dejun dimana dirinya sangat ingin memeluk lelaki tersebut dengan erat dan hangat.

Winwin melepas pelukan tersebut lalu tangannya ia bawa memegang kedua pipi milik Dejun. Winwin menatap wajah Dejun lalu mengusap air mata yang terus turun dari pelupuk mata Dejun. “Terima kasih, Mas.”

Dejun menggelengkan kepalanya, “Aku yang seharusnya bilang terima kasih sama Om. Terima kasih om udah nampung Mas dan Nana bahkan sampai memberi banyak perhatian ke kami berdua.”

Winwin tersenyum lalu kembali memeluk tubuh milik Dejun.

Sedangkan tak jauh dari sana, Yuta yang ternyata sedang mengintip aktifitas Dejun dan Winwin ikut menangis lalu mengusap air matanya.

Yuta ingin ikutan, tetapi dia terlalu malu. Jadilah, di sini Yuta mengintip sambil menangis sesegukan, sendirian.


Sepanjang Yuta dan Winwin bercerita ganti-gantian, keduanya lagi lagi mengeluarkan air mata bahagia.

Tak hanya Yuta dan Winwin, Taeyong dan Ten yang rasanya ikut bahagia mendengarnya ikut menangis dan memeluk tubuh suami masing-masing.

“Huhuhu, Winnie, you deserve it!” Ucap Ten yang hampir saja mengambil laptop yang berada di pangkuan Johnny untuk ia peluk.

“Yang, nggak sampe meluk laptop juga...” Sanggah Johnny membuat Ten melengkungkan bibirnya kebawah.

“HUHUHUHU JOHNNYYY MAU PELUK WINWIN.” Ten menangis memeluk Johnny membuat Johnny mengelus surai milik Ten lembut.

“Yut, selamat ya, pelan pelan pasti Yut. Lo udah keren banget serius.” Ucap Johnny membuat Yuta mengangguk sambil mengelus surai milik Winwin yang juga ikut menangis melihat Taeyong dan Ten.

Ini Jaehyun, Yuta, Johnny ketiganya sama sama mau ngomong tapi bingung tangisan suami mereka tak kalah keras.

“Winnieee besok ketemu pokoknya!!!” Ucap Taeyong membuat Ten mengangguk ikut setuju dan Winwin yang juga menyetujui ucapan Taeyong.

Johnny sedikit memajukan tubuhnya untuk mengetik sesuatu di laptopnya.

Gue ngomong di sini aja, ini Ten nangis kenceng banget gue mau ngomong bingung nggak enak.

Yuta dan Jaehyun yang membaca pesan tersebut langsung ketawa kecil lalu ikut mengirim pesan di kolom chat.

Emang mereka dari dulu begini, yang satu seneng semua seneng, yang satu sedih semua sedih. Salah juga gue cerita pas mereka lagi pisah, tapi gapapa seneng kan lo pada dapet peluk peluk.

Membaca pesan yang dikirim Yuta, Jaehyun langsung ikut membalas.

Tapi gapapa sih Yut, gue jadi lo juga rasanya mau cerita buru buru ke lo berdua. Sekali lagi, selamat Yut. Pokoknya lo berdua emang pantes banget buat dapetin semuanya. Akhirnya ya, Mas Dejun terbuka juga pelan pelan sama lo.

Gue juga bingung awalnya Je. Winwin emang cerita waktu malam dia ngirim surat itu, cuma sampe kebesokannya Dejun nggak bales surat dari Winwin, pikir gue sama Winwin Dejun masih mikir mikir juga. Lo tau nggak sih ini rasa senengnya tuh beneran campur banget. Gue kayak masih nggak nyangka. Gue alay banget gak sih.

Mana ada lo alay Yut. Normal dan sangat normal. Ditambah lo udah nunggu berapa tahun lamanya Yut.

Gue nggak sanggup kalo kedepannya tiba-tiba dipanggil Papa... Anjir gue bayanginnya keburu merinding mau nangis.

Gue paham banget Yut. Waktu Mark pertama kali akhirnya manggil gue dengan panggilan Ayah, dunia gue rasanya penuh dengan bunga. Senengnya bukan main. You deserve it Yut, sumpah. Perjuangan lo sama Winwin, penantian lo berdua pasti hasilnya bakal lebih dari apa yang lo pikirin di dalam otak lo.

Gue beneran turut berbahagia Yut.

Akhirnya setelah tangisan Ten, Taeyong,dan Winwin mereda, Johnny, Jaehyun, dan Yuta berhenti ngobrol di chat dan keenamnya langsung berbincang bersama di sana.

Apalagi kalau bukan, merancang liburan bersama tiga keluarga.

Meskipun mereka belum tau kapan ini akan terlaksana, tidak ada salahnya kan untuk merancang terlebih dahulu.


@roseschies