They Know 🔞
— Johnten Oneshot AU
2k words.
Ten membuka matanya perlahan, lalu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya Ten duduk untuk merenggangkan tubuhnya.
Ten turun dari kasur yang sebelumnya jadi tempat ia tidur di sana lalu membawa kakinya menuju jendela yang tak jauh dari sana kemudian membuka gorden membuat cahaya pagi hari perlahan masuk menyinari kamarnya itu.
Setelah membuka gorden, Ten kembali menuju kasur untuk membangunkan suaminya yang masih tidur dengan wajah yang sedikit tidak suka karena cahaya yang sedikit menyinari kamar gelap itu.
“Jo, bangun...” Ten menepuk pipi Johnny pelan membuat si pemilik menggumam.
“Hm... Sebentar, lima menit lagi.”
Ten memutarkan bola matanya malas, lima menit bisa jadi satu jam selanjutnya Johnny masih tidur di atas kasur dengan baju yang terbuka memperlihatkan sedikit perutnya itu. Kebiasaan Johnny.
“Jo, bangun, jangan dibiasain lima menit lima menit gitu ah. Ayo mandi terus sarapan bareng sama anak-anak.” Ucap Ten lagi lalu mencubit-cubit kecil lengan berotot milik Johnny.
Johnny sukses membuka matanya perlahan, “Hmm, iyaaa ini aku banguunn aduh sakit yang...”
Johnny terdiam disaat ia tak sengaja melihat kearah Ten.
Saat ini Ten menggunakan celana pendek dengan baju kebesaran bahkan tulang selangka milik Ten terlihat di sana.
Johnny menelan ludahnya pelan-pelan, aduh kenapa harus begini sih pemandangan paginya....
Seingat Johnny semalam Ten tidak menggunakan pakaian ini, kenapa tiba-tiba berubah.
Dan, oh. Ten sangat tau, hal tersebut merupakan kelemahan Johnny. Tetapi mengapa suaminya ini malah sengaja memakai pakaian seperti itu.
Tanpa berfikir lama, Johnny menarik Ten, mengajak Ten untuk kembali tiduran di sebelah dirinya, Johnny memeluk erat tubuh mungil milik Ten, “Kenapa kamu lucu banget sih. Ini juga paha kemana-mana, pundak kamu itu looo bajunya melorot melorot. Kamu mau godain aku ya?”
“Ih Johnny, nggak kok! Semalem tuh panas jadi ya aku ganti celana pendek sama kaosan aja. Kamu tuh otaknya perlu dicuci dulu pagi-pagi udah mesum.” Decak Ten kemudian Ten mencoba untuk melepas pelukan Johnny karena ia ingin mandi.
“Mau kemana sayang? Dingin sini pelukan sama aku aja.” Ucap Johnny lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Ten.
“Mau mandiiiiiii.” Jawab Ten sambil cemberut, bibirnya ia manyun-manyunkan membuat Johnny terkekeh gemas lalu mengecup bibir milik Ten kilat.
“Gemes. Gemes. Semua yang ada di tubuh kamu semuanya gemes.” Ucap Johnny lalu mencubit cepat pipi milik Ten.
Johnny mengelus surai milik Ten pelan lalu menatap netra milik Ten yang terlihat sangat teduh itu, “Kamu gemes banget, makin sayang udah bertahun-tahun bareng juga tetep sayang.”
Ten tersenyum sampai terlihat semburat merah dari pipi milik Ten, “Johnny ih..”
Tennya ini malu, tetapi Johnny tetap tidak peduli, memang benar kok, suaminya ini benar-benar menggemaskan, setiap hari rasanya kadar rasa cinta miliknya terus bertambah, bahkan jika sudah overload, Johnny pun tidak peduli sampai meledak.
Johnny membawa tangannya lalu jempolnya ia gunakan untuk mengelus pipi milik Ten membuat Ten tak sadar menikmati sentuhan Johnny lalu menutup kedua matanya.
Johnny mengecup kedua kelopak mata milik Ten lalu mencium hidung mancung milik Ten tak lupa terakhir Johnny mencium bibir milik Ten.
Johnny membawa tangan satunya untuk menelusup masuk ke dalam baju milik Ten lalu mengelus punggung Ten. Entah, sentuhan itu membuat tubuh Ten semakin memanas, libidonya naik perlahan.
“Jo.... Jangan sekarang.. Nanti ketauan anak anak gimana.” Ucap Ten sambil menahan desahannya, ini terlalu nikmat bagi dirinya, sentuhan itu, Ten mau lagi dan lagi.
Johnny mengelus pipi Ten kembali lalu ia bawa jempol miliknya untuk mengusap bibir milik Ten, “Ngga mungkin sayang, mereka pasti lagi pada tidur apa lagi ini hari minggu. Cepet aja, aku janji pelan pelan kok.”
“Suananya lagi cocok yang, dingiinn. Yuk kita angetin bareng-bareng.” Lanjut Johnny lagi.
“Ih Johnny!”
Johnny terkekeh lalu kembali mencium bibir milik Ten, kali ini ia tambah dengan beberapa lumatan dengan tangan lain miliknya yang tak berhenti mengelus kulit punggung Ten menambah sensasi yang ada di sekitar mereka.
Ten kesal, Johnny bilang ia janji akan bermain pelan pelan kali ini.
Tetapi, apa ini!!!
Seharusnya sejak awal Ten tidak percaya Johnny akan bermain pelan dengan dirinya.
Tetapi, bagaimanapun juga, lain dengan ucapannya, Ten tetap menikmati setiap sentuhan dari Johnny dan hal tersebut benar-benar membuat libido miliknya naik begitu cepat.
Bahkan, Ten saat ini sedang dalam suasana panasnya.
“Jo, pelan-pel-AKH!” Rengek Ten setelah Johnny menghisap kencang-kencang puting milik ten yang sudah tegang sejak tadi.
Setelah merengek, Ten kembali mendesah nikmat akibat permainan Johnny dengan kedua putingnya. Johnny sibuk menghisap dan juga tangannya tak lupa ia pakai untuk memilin dan mengusap puting sebelahnya.
Kepala Ten menengadah akibat terlalu menikmati permainan yang diberikan oleh Johnny pada tubuhnya ini.
Johnny membawa tangan miliknya menuju selatan untuk meremas kedua bongkahan milik Ten.
“Sshh- Jo, please...”
“Eum? Kenapa sayang?” tanya Johnny sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Ten.
Johnny duduk di atas kasur lalu mengangkat tubuh milik Ten untuk ia pangku diatas tubuhnya.
Johnny mengelus surai milik Ten, saat ini keduanya sudah sama sama tidak menggunakan satu helai benang. Pakaian keduanya sudah dilepas sejak tadi, sejak awal permainan. Bahkan, seprei kasur keduanya sudah berantakan. Tak hanya itu, selimut dan bantal sudah berjatuhan.
Padahal, mereka belum sampai permainan puncak.
Sudah Ten bilang, Johnny itu tidak bisa dipercaya, apa itu pelan pelan. Baru begini saja sudah berantakan seperti kapal pecah kasur keduanya.
Johnny kembali mencium bibir milik Ten lalu melumat bibir tersebut, keduanya bermain lidah di sana sampai saliva yang sudah tercampur milik keduanya menetes dari pinggir bibir milik Ten.
Johnny membawa tangannya untuk menahan tubuh Ten sedangkan tangan lainnya ia bawa menuju selatan tubuh Ten, penis milik Ten.
Johnny mengelus pelan penis tersebut yang sudah terlihat tegang sejak tadi.
Ten tersentak lalu mendesah dalam ciumannya seiring dengan Johnny yang semakin memainkan penis miliknya.
Johnny menaikan tempo permainan pada penis milik Ten membuat Ten melepas ciuman panas keduanya, “Johnny, stop. Please, stop.“
Kuping milik Johnny seperti disumpal dan ia semakin menaikkan tempo permainannya, “Keluarin sayang, jangan ditahan.”
Ten menengadah, dirinya seperti ingin melepas semuanya. Johnny yang melihat leher mulus milik Ten lalu mencium leher milik Ten dengan tangan miliknya yang tidak berhenti mengocok penis milik Ten.
Ten rasanya seperti dibawa ke langit kesepuluh, permainan Johnny benar-benar gila.
“Jo, aku mau keluar!” Teriak Ten tidak tahan, sampai akhirnya tubuh miliknya bergelinjang, penis miliknya mengeluarkan cairan sperma sampai mengenai perut milik Johnny.
Johnny tersenyum lalu mengelus surai milik Ten lalu mengambil selembar tisu untuk membersihkan sperma milik Ten yang mengenai perut milik Johnny.
“Good Job, cutie pie.”
Setelah dirasa keduanya sudah terlalu lama untuk melakukan pemanasan, Johnny mengangkat pelan tubuh milik Ten sambil mengarahkan penik miliknya yang sudah tegang untuk ia masukkan kedalam lubang milik Ten.
Sebenarnya posisi ini adalah posisi yang Ten inginkan saat ini. Iya, keduanya sudah berunding sebelumnya tadi setelah Ten mengocok penis milik Johnny sambil memanjakan penis milik Johnny.
Setelah Johnny merasa penisnya menemukan lubang milik Ten, perlahan ia menurunkan tubuh Ten supaya penis miliknya semakin masuk kedalam lubang tersebut.
Wajah Ten perlahan terlihat kesakitan, ingatkan Ten bahwa penis milik Johnny tidak kecil.
Johnny memajukan tubuhnya untuk mencium bibir milik Ten sambil pelan-pelan ia menurunkan tubuh mungil milik Ten.
“Wait, Jo-” Ucap Ten menahan Johnny, menahan penis milik Johnny di dalam lubang miliknya.
Ten tidak tau ini Johnny rasanya menggila karena penis miliknya terasa di urut oleh dinding lubang miliknya.
“Pelan-pelan.....” Cicit Ten membuat Johnny mengangguk.
Percuma, percuma semua ucapan pelan-pelan Ten rasanya percuma.
Karena selanjutnya, Ten kembali ingat, Johnny yang ia kenal bertahun-tahun, tidak pernah mengenal kata pelan-pelan ketika sedang berhubungan dengan dirinya.
Tetapi lagi, Ten menikmatinya, menikmati setiap detik dimana penis milik Johnny menabrak dinding miliknya.
Ten tidak bisa menahan segala teriakan dari mulutnya, ia sudah kehilangan akal, rasa nikmat ini harus ia salurkan lewat teriakan dan desahan yang bergema di seisi kamar.
Tidak memakan waktu banyak untuk keduanya melakukan hubungan badan di pagi hari, tidak seperti biasanya yang mampu memakan waktu lama. Ten ini masih ingat, ia harus membuat sarapan untuk kedua anaknya yang sudah kelaparan di pagi hari.
Johnny dan Ten masih dalam posisi keduanya sama sama telanjang namun keduanya hanya sedang berpelukan, menikmati waktu setelah melakukan hubungan badan tadi.
Ten melihat kearah jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Sudah jam 8.
“Mandi Jo, anak-anak pasti udah nungguin.” Ucap Ten lalu melepas pelukan diantara keduanya.
“Yuk mandi bareng aja biar cepet.” Saran Johnny membuat Ten langsung menggeleng cepat. Ten itu tau, mandi bareng sama dengan lanjut melakukannya di dalam kamar mandi, yang ada bukan mempercepat tetapi memperlambat semuanya.
Melihat Ten yang langsung lari tanpa busana menuju kamar mandi membuat Johnny terkekeh lalu berteriak, “Pantatmu tuh geal geol gemes.”
“JOHNNY!”
Johnny tertawa sambil membayangkan bagaimana merahnya pipi Ten karena malu diledeki oleh Johnny.
Setelah keduanya selesai mandi dan bersih-bersih Ten langsung membuatkan sarapan sedangkan Johnny mengganti seprei kasurnya lalu membantu menyiapi segala jenis keperluan untuk makan di meja makan kemudian memanggil kedua anaknya di kamar masing-masing yang terletak di lantai dua.
“Bang, Dek, turun sini sarapan dulu. Udah bangun belum sayang?” Panggil Johnny sambil mengetuk pintu kamar milik Hendery dan Haechan bergantian.
Tak lama kemudian pintu kamar keduanya terbuka memperlihatkan Hendery dan Haechan yang sudah rapih wangi, seperti habis mandi.
“Iyaa Pa, habis mandii.” Jawab Haechan membuat Johnny mengangguk.
“Yaudah yuk turun kebawah, Papimu lagi masak tuh tapi kayaknya udah selesai.” Ajak Johnny kemudian Hendery dan Haechan mengekor dibelakang Johnny.
Ternyata benar, sesampainya mereka bertiga di meja makan, semua lauk sudah selesai Ten masak dan tinggal mereka santap bersama.
Johnny langsung duduk di tempatnya begitu juga Ten, Hendery, dan Haechan.
“Makan Papa Papi!” Ucap Hendery dan Haechan secara bersamaan membuat Johnny dan Ten tertawa, kedua anaknya ini kenapa kompak sekali kalau masalah makanan.
“Iya, makan sayang.”
Mereka berempat khidmat menikmati makanan yang Ten masak tadi. Masakan buatan Ten memang tidak ada duanya.
Hendery selalu menjadi orang pertama yang menyelesaikan makanannya itu dan disusul oleh Haechan.
Hendery meneguk air putih dari gelas yang berada di sebelah dirinya.
“Bang Hen, denger gak sih tadi tuh ya pas kita pulang jogging kayak ada orang yang sedang berbuat tidak senonoh.” Ucap Haechan sambil meneguk air putihnya, mengikuti abangnya.
Hendery meletakkan gelasnya lalu kembali menyuap lauk lebih yang ada di piringnya sambil melihat kearah Haechan, mengikuti alur pembicaraan adeknya ini. “Masa sih Dek? Pagi pagi gini? Ih geli banget nggak sih Dek? Siapa emang?”
Haechan menggedikkan bahunya, “Nggak tau siapa. Tapi emang iya tau Bang, terus yaa masa teriak teriak more please more please gitu Bang. Ih geli banget deh Bang.”
Mata milik Hendery melotot mendengarnya, “Ih amit amit deh Dek, semoga kita dijauhkan oleh orang-orang kayak gitu ya Dek.”
Haechan mengangguk setuju lalu menyuap lauk yang ada di piringnya, “Iya Bang.”
Mendengar percakapan diantara kedua anaknya membuat Johnny dan Ten hampir saja tersedak. Keduanya hanya tatap-tatapan berusaha senetral mungkin supaya tidak terlihat mencurigakan dan terlihat panik.
“Yang mereka nggak mungkin denger kan?”
“Nggak kayaknya, ya semoga aja bukan ngomongin kita.”
“Kayaknya bukan.”
Kira-kira seperti itulah percakapan antar mata ketemu mata diantara Johnny dan Ten.
Hendery yang sadar kedua orang tuanya sedang tatap-tatapan seperti mengobrol diantara matanya itu langsung menahan tawanya.
“Pa, besok jadi kan?”
“Hah? Jadi apa?'
“Ih Papa lupa?”
Johnny berfikir sejenak, memang apa yang akan mereka lakukan besok..... Otak milik Johnny sudah stuck karena ia masih panik, takut takut yang kedua anaknya omongin itu tentang Johnny dan Ten tadi pagi. Otaknya tidak bisa bekerja.
“OH! Iya iya jadi kok.”
Pagi di hari minggu kali ini, Hendery dan Haechan sebenarnya sudah ada janjian untuk jogging pagi. Tepat jam setengah delapan kurang, Hendery dan Haechan mengakhiri kegiatan joggingnya itu.
Sewaktu Haechan dan Hendery berjalan melewati kamar kedua orang tuanya, Haechan tidak sengaja mendengar barang jatuh dari sana. Haechan pikir Papa dan Papinya berantem.
Haechan berniat mau mendatangi masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.
Namun, langkahnya seketika berhenti ketika ia mendengar suara yang seharusnya Haechan juga Hendery tidak dengar.
Tubuh Haechan membeku sedangkan Hendery langsung ngedeham, memecah kecangunggan diantara keduanya.
“Ehm... Dek kita mandi aja yuk naik keatas. Yuk yuk.” Ajak Hendery pada Haechan yang masih berdiri diam di sana.
“Eh.. Iya Bang.” Hendery langsung menarik tangan Haechan jauh jauh dari kamar kedua orang tuanya. Haechan sudah legal dan paham tentang hal itu, tetapi tetap saja, mendengar secara langsung membuat Hendery dan Haechan sama sama canggung.
Setelah melihat Haechan sudah kembali ke dalam kamarnya, tersisalah Hendery, Johnny, dan Ten yang masih menonton televisi bersama.
“Pa, Pi, besok besok kalo main pagi pagi, suaranya kecilin ya heheheh. Dadaaahh Pa, Pi. Oh iya! Pake pengaman yaa, papa sama papi mau punya anak lagi emang?” Ucap Hendery setelahnya lelaki itu langsung kabur menuju kamarnya membuat Johnny dan Ten kembali lihat-lihatan.
Keduanya benar-benar malu, ternyata omongan di meja makan itu beneran membicarakan kegiatan mereka tadi pagi.
Entah, bagaimana kedepannya mereka akan menghadapi kedua anaknya, tetapi yang pasti hal tersebut membuat Johnny dan Ten tidak lagi melakukan kegiatan panas mereka di pagi hari.
Rasanya, malu sekali.
@roseschies