video call

Sudah sekitar satu jam mereka berbincang banyak di video call kali ini. Entah dari ngomongin pelajaran, gibahin guru, dan nggak lupa mereka juga gibahin anak kelas yang super nyebelin.

Gini gini mereka emang sering gibah kalo lagi bareng. Bahkan, di kelas aja sering gibah. Kecuali Jaemin sih, dia lebih ngikut aja.

Sampai saat ini mereka berempat masih terkoneksi dalam video call tetapi sudah melakukan kegiatan masing-masing.

Jeno yang sedang main game di ponselnya, Renjun yang lagi scroll social media, Jaemin yang sedang ngemil sambil baca novel, dan Haechan yang sedang mendekor buku jurnalnya.

Buku jurnal tersebut berisi kegiatan apa saja yang akan dia lakukan nanti, terus mata pelajarannya tak lupa ia tandai mata pelajaran yang ia rasa harus ia pelajarin lebih dalam. Kemudian Haechan mendekor kertas selanjutnya untuk hal lain nanti kalau sudah kepikiran.

Saat sedang sibuk menulis kegiatan, Haechan tiba-tiba membuka suara, “Eh, saran dong kegiatan deket-deket ini apalagi sih?”

Jeno yang mendengar pertanyaan Haechan langsung nyeletuk, “Lo dari tadi bahkan pas di sekolah nyari kegiatan mulu.”

Bersamaan dengan Jeno, Jaemin ikut angkat suara, “Ada, olimpiade kalo nggak salah deh.”

Mendengar ucapan Jaemin, Haechan langsung menjawab dengan antusias, “Oh iya bener! Oke kita ikut olimpiade juga. Terus ada apa lagi?”

Bahkan omongan Jeno ia hiraukan dan Haechan lanjut mendekor jurnalnya lalu menulis keterangan untuk ikut olimpiade ketika sudah buka nanti.

Haechan memilih spidol yang akan ia gunakan kemudian menulis kembali di atas buku jurnal miliknya.

Jeno kembali angkat suara, “Lo aneh dah chan.”

“Apaan?”

“Lo nggak biasanya gini tiba-tiba nyari banyak kegiatan dalam sewaktu. Kayak, tiba-tiba jebret, berburu kegiatan. Bukan Haechan banget.” Lanjut Jeno kemudian meletakkan ponselnya lalu menatap layar laptopnya.

“Ya kenapa sih Jen temennya mau sibuk dan cari pengalaman nih sebelum terlambat.” Jawab Haechan lalu mengukir sesuatu di pinggir-pinggir kertas tersebut.

Renjun yang dari tadi hanya menyimak sambil scroll social media langsung meletakkan ponselnya lalu ikut menimbrung dalam percakapan tersebut, “Tapi bener kata Jeno, lo aneh.”

“Aneh gimana sih? Gue biasa aja kan ya Naa?”

Jaemin hanya diam.

“Jujur aja chan.” Lanjut Jeno.

“Jujur apa dah Jen? Gue selalu jujur jir.” Jawab Haechan sambil masih mengukir di atas kertas tersebut.

Hening.

Jeno membuka suara lagi, “Lo lagi nyibukkin diri biar nggak inget-inget terus tentang kakak gue kan?”

Haechan tertawa, “Hah? Apasih mana ada anjir.”

Jeno, Renjun, bahkan Jaemin sangat tau tawa Haechan yang benar benar tertawa itu seperti apa.

Renjun menghela nafas mendengar tawa Haechan. Tawa miliknya terlalu dipaksa dan terkesan canggung.

“Nggak gini caranya chan. Namanya lo nyakitin diri lo sendiri.” Ucap Renjun sedangkan Haechan masih menutup mulutnya dan sibuk mengukir.

“Gue seneng kok kalo lo mau coba banyak hal. Tapi gak serentak langsung dalam sewaktu gini.” Lanjut Renjun. Jaemin dan Jeno menganggukkan kepala setuju dengan Renjun.

“Badan lo chan, peduliin diri lo.” Tambah Jeno.

Haechan diam namun kupingnya mendengar semua ucapan sahabatnya itu.

Haechan tidak bisa mengelak. Memang benar kok, dirinya itu sedang mencoba untuk mencari banyak kegiatan supaya kepalanya ini tidak terus-terusan memikirkan Mark, Mark, dan Mark.

“Gue capek.” Ucap Haechan lalu berhenti mengukir kemudian meletakkan spidolnya di atas buku jurnal miliknya.

“Gue capek banget, Jen, Njun, Na. Serius gue nggak bisa bohong lagi, kepala gue beneran penuh sama Kak Mark. Mau sesibuk apapun diri gue, kepala gue tetep penuh sama Kak Mark.”

“Lo berdua tau Jen, Njun sedeket apa gue sama Kak Mark sejak kecil.” Lanjut Haechan.

“Terus gue harus apa lagi biar gue berhenti mikirin Kak Mark? Gue harus apa dan harus gimana biar Kak Mark pergi dari pikiran gue?” Tanya Haechan.

Pertanyaan yang terasa sulit dijawab untuk ketiga temannya itu.

Jeno, Renjun, dan Jaemin bukan Haechan yang merasakan sesakit apa yang dirasakan oleh Haechan kala itu.

Tetapi ketiga temannya tidak bisa kalau harus melihat Haechan yang terus-terusan menyakiti dirinya sendiri agar pikiran tentang Mark hilang dari dirinya.

Solusi? Bahkan ketiganya sudah tidak tau solusi apa lagi yang harus mereka berikan untuk Haechan.

Lagi. Mereka bukan Haechan.

“Chan, Istirahatin diri dan pikiran lo yuk? Kita having fun, mau? Kita cari udara segar bareng. Kita main, kemanapun lo mau pergi, ayo, kita mau kok temenin lo. Lo mau ke puncak, ayo. Lo mau ke tempat tertinggi buat teriak ngeluarin uneg-uneg lo, ayo. Semua kita jabanin, kita temenin chan.” Ucap Jeno sedangkan Haechan masih menunduk, dirinya lelah dengan diri sendiri.

“Pasti ada cara chan. Gue yakin pasti ada cara lain selain nyakitin diri lo perlahan kayak gini. Bener kata Jeno. Lo mau kemana, kita temenin chan.” Tambah Renjun membuat Jeno dan Jaemin mengangguk.

Haechan mendengus, “Bener. Gue udah nggak bisa mikir jernih lagi, yang gue pikirin cuma gimana supaya pikiran gue nggak terus terusan penuh secepatnya.”

Jaemin menggeleng, “Lo nggak salah kok nyibukkin diri lo apalagi kalau emang mau cari pengalaman. Bener kok, kapan lagi karena waktunya udah mau mepet buat cari pengalaman.”

“Tapi, semua ada porsinya. Nggak sekaligus lo ambil dalam satu waktu chan. Badan lo cuma satu. Waktu lo emang 24 jam, tapi kan nggak 24 jam harus lo pergunakan buat melakukan kegiatan begitu. Ada 8 jam, waktu lo untuk mengistirahatkan diri kayak tidur. Terus juga ada beberapa jam lagi lo sisihin buat keluarga lo. Belum lagi buat makan, mandi, dan lain-lain.” Tambah Jaemin membuat Jeno dan Renjun ikut setuju.

“Kita bukan temen yang mau ngelarang temennya buat berkegiatan kok, nggak chan. Tapi kita cuma nggak mau cara lo yang seperti nyakitin diri lo sendiri gini. Paham kan?” Ucap Jeno.

Haechan mengangguk lalu tersenyum, “Thanks ya udah khawatir sama gue. Bubar bubar, gue nggak suka serius serius ahh.”

“Tapi gue serius tentang kalo lo misal mau kemana gitu, bosen juga gue di rumah.” Celetuk Jeno.

“Yah, gue udah ada urusan keluarga weekend ini. Next deh, nanti atur waktu lain. Eh, atau nggak setelah ujian aja nanti kita self reward sekalian.” Saran Haechan membuat Jeno, Renjun, dan Jaemin mengangguk setuju.

“Jen, gue mau naik rollercoaster malem malem bakal lo temenin nggak?” Ucap Haechan tiba-tiba setelah hening beberapa detik.

Jaemin dan Renjun tertawa. Jokes ini memang hanya dimengerti oleh momogi terlebih jokes ini dibuat oleh Haechan dengan Jeno sasarannya.

Jeno menepuk jidatnya, “Lo anjir masih aja. Mending sini ikut gue main.”

Haechan langsung menutup buku jurnalnya lalu mengambil ponselnya begitu juga dengan Jaemin yang langsung menutup novelnya kemudian mengambil ponselnya.

Mereka akhirnya ikut bermain game bersama Jeno.

Biarkan mereka malam ini bersenang-senang dengan cara mereka.


@roseschies