Weekend

— johnten mpreg au


Hari libur menjadi salah satu hari yang sangat ditunggu Ten maupun Johnny.

Biasanya, mereka selalu menghabiskan waktu berdua entah menonton film, atau saling bercerita satu sama lain. Pokoknya, seharian mereka habiskan hanya di kamar atau ruang TV tepatnya di sofa.

Kali ini, Ten dan Johnny memilih untuk menghabiskan waktu menonton film di ruang TV dengan melebarkan sofanya menjadi seperti tempat tidur.

Tontonan yang mereka pilih pun sangat acak. Toh, diakhir, film yang nontonin mereka asik ber-lovey dovey di sofa.

“Kok kamu lagi hamil demen nonton ginian sih yang?” Tanya Johnny sambil mengelus perut Ten dan meletakkan kepalanya di pundak milik Ten sementara Ten menaruh dagunya diatas kepala Johnny, asik menonton film zombie yang saat ini mereka tonton.

Iya, saat ini keduanya memilih film alive untuk ditonton. Tontonan Ten selama hamil agak aneh memang. Yang horror lah, zombie lah, tembak-tembak an lah. Johnny kan takut, ini anaknya gede jadi apa coba kalau dari kecil aja udah dikasih tontonan kayak gini.

“Seru tau Jo. Memacu adrenalin nih!” Ten ikut mengelus perutnya dan meletakan tangannya diatas tangan milik Johnny, merasakan perutnya yang semakin hari semakin membesar karena bayi yang di dalam semakin tumbuh.

Tiba-tiba saja, ide jail mendatangi pikiran Ten. Bukan tiba-tiba sih, emang sehari-hari juga ide jail Ten selalu datang untuk terus ngisengin suaminya itu.

Johnny yang semakin asik mengelus perut Ten tak lupa menciumi perut itu tiba-tiba berhenti karena Ten meringis.

“A-ah sakit Jo.” Ten merengek sambil mengelus perutnya.

Johnny tentu panik, tapi dia tidak mau memperlihatkan kepanikannya itu pada suami mungilnya, “Kenapa sayang?

Ten semakin mengelus perutnya dan berteriak kesakitan. Pipinya memerah, “Sakit banget Jo, perut akuu”

Masa tiba-tiba anak gue lahiran sekarang anjir??, Batin Johnny bingung.

“Joooo sakit bangettt huhuhuu” Ten semakin merengek dan menangis kesakitan sambil mengelus perutnya. Bahkan ia mencakar pelan lengan Johnny.

“Aduh sayang, tarik nafas pelan-pelan coba.” Ucap Johnny kemudian mengipas wajah Ten yang semakin memerah dengan tangannya.

“Sakiiitttttt”

Johnny masih berusaha buat mikir positif.

Pasalnya baru beberapa hari lalu, Ten check-up dan belum ada tanda-tanda lahiran. Bahkan masih jauh banget dari tanggal lahiran dan masih berbulan-bulan lagi. Anaknya sehat-sehat aja kok, emang aktif nendangin perut Ten.

Apa jangan-jangan gara-gara ditendangin mulu, terus perut Ten luka dari dalem., Johnny masih membatin sambil mengipasi suaminya.

“Aduh Jooo sakit banget gimana ini hueeeee” Ten semakin meringis kesakitan bahkan keringat mulai bercucuran dari pelipisnya.

“Tarik nafas dulu Ten, ayo satu dua tiga.”

“Jo aku bukan mau lahiraann kenapa kamu kayak orang aku mau lahiran.”

“Ya gimana dong sayang. Aduh... ini bayinya nggak bisa dipindah aja apa?”

Ucapan Johnny membuat Ten menahan tawanya setengah mampus. Emang bener, paling enak itu isengin suaminya. Ada aja kelakuannya.

Sayang kalau gini besok-besok apa aku aja ya yang hamil. Ya Tuhan aku nggak tega liat kamu kayak gini. Mau ke rumah sakit?” Tanya Johnny masih membantu Ten mengatur nafasnya dan mengipasi suami mungilnya itu.

Otak Johnny kalau lagi seperti ini suka nggak jalan pokoknya.

Ten menggeleng, “Nggak usah Jo. Udah mendingan, kayaknya tadi sempet kram aja sebentar.”

Johnny bernafas lega, Ten pun melonggarkan cakarannya di lengan Johnny.

“Syukurlah. Ya Tuhan aku panik banget, kamu tuh ih. Aku pikir perut kamu luka di dalem karena ditendangin terus sama bayi kita.”

Ten tertawa, “Ya mana mungkin sih Jo. Kamu aneh-aneh aja nih.”

Johnny kembali memeluk Ten dan meletakkan kepalanya di pundak Ten dan lanjut mengelus perut Ten, “Jangan bikin Papa kamu sakit ya.. Daddy khawatir sama Papa, jadi anak baik ya Nak.”

Ten terkekeh gemas lalu mengelus surai Johnny kemudian bicara menggunakan suara anak kecil yang dibuat-buat, “Iyah Daddy, aku baik-baik aja. Papa yang jail sama Daddy, soalnya tadi cuma isengin Daddy”

Setelah Ten berbicara seperti itu, Johnny berhenti mengelus perut Ten kemudian duduk dari tidurnya dan menatap Ten sampai matanya menyipit.

“TEEEEEEEEENNNNNN”

Johnny langsung menyerbu wajah Ten dan mencium wajah Ten sedangkan Ten hanya tertawa geli.

“Hehehe, asik anak kedua kamu yang hamil dan lahirin yaaa~”

Sayang....”

Kemudian Ten mencium pipi Johnny sampai terdengar sangat nyaring, “MUUUAAAHH!”

Johnny mau marah juga gimana ya...


@roseschies