you're my safest place

— sedikit cerita tentang johnten lainnya.

⚠️ abusive parents // blood // panic attack // suicidal thoughts


Prang

Suara pecahan piring yang dilempar terdengar kencang dikuping milik Ten. Lelaki itu mati-matian memeluk kakinya yang meringkuk menutup setengah badannya. Saat ini Ten sedang berlindung dibalik pintu kamar kecil miliknya, tempat di mana menurutnya tempat paling aman di dalam rumah yang besar dan megah ini.

“Liat tuh, anakmu mas! Mau jadi apa dia?! Mau jadi apa mas anakmu itu?! Mau kayak kamu yang ngemis-ngemis ke orang lain? Iya? Mas, anakku aku didik dengan benar, besarnya malah jadi kayak kamu! Kamu apain anakku mas?!” Teriak seorang wanita dari luar kamar dan diselingi suara pecahan piring lagi yang membuat Ten kembali memeluk tubuh ringkihnya itu.

Ten mengatur nafasnya pelan-pelan, jantungnya tidak berhenti berdebar. Jujur dia sangat takut, sangat takut mengecewakan orang tuanya.

Tapi ternyata, semua ketakutannya itu, benar-benar terjadi.

“Anakmu anakmu, dia juga anakku! Anak kita!” Bantah seorang pria yang terdengar juga frustasi.

Kedua yang diluar adalah kedua orang tua Ten. Dua manusia yang sedang saling teriak itu, meneriaki satu sama lain hanya karena anaknya, Ten tidak berhasil mendapatkan beasiswa S2 yang memang sejak awal Mama Ten inginkan, pun Papa Ten. Keduanya sangat mendambakan memiliki seorang anak yang mampu mendapatkan beasiswa S2 tersebut.

Namun, Ten gagal. Sekali lagi, Ten gagal.

“Aku gak sudi mas. Anakku, kamu apain mas.” Isak Mama dari luar kamar, Ten yang mendengar dari kamar ikut menangis dalam diam. Tangannya sudah penuh dengan lumuran darah, badannya gemetar hebat. Kepalanya pusing, sangat pusing.

Semua luka ini, luka yang terlihat dan tidak terlihat, semua dihasilkan oleh kedua orang tuanya.

Kedua orang tuanya, memberikan luka tanpa bekas dan luka yang akan membekas, entah sampai kapan di diri Ten.

Kedua orang tua, yang sayangnya Ten selalu banggakan.

Kedua orang tua, yang sangat Ten hormati.

Dan, kedua orang tua, yang sangat dirinya sayangi di hidupnya.

“Ma, Mama bilang Mama didik aku dengan benar. Ini, apa Ma? Semua luka ini, didikan Mama yang Mama bilang benar?” Cicit Ten pada dirinya sendiri kemudian ia melihat kearah beberapa luka yang masih mengeluarkan darah segar di telapak miliknya.

Hasil dari dirinya yang menahan pisau dari Mama yang hendak melempar kesembarang tempat. Ten takut, sangat takut jika pisau itu mengenai setitik tubuh milik Papa atau Mamanya.

“Anakmu, Gak pernah bisa banggain Mamanya. Anakku, mas. Kamu apain?” Teriak Mama lagi dengan isakannya yang luar biasa terdengar sampai kuping Ten.

Teriakan Mama, Ten tidak mau mendengar. Ten tidak mau mendengar teriakan dari seseorang yang sudah lelah melahirkan dirinya. Ma, maafin Ten. Ma, maafin Ten nggak pernah bisa banggain Mama.

“Kamu pikir aku gak capek Sya? Aku pulang malam, pergi pagi buat anak kita doang Sya! Aku juga mau anak kita jadi anak yang bisa membanggakan aku dan juga kamu Sya. Aku cari uang, tiap hari, pulang malam cuma buat anakku, anak kita Sya!” Papa jawab dengan teriakkan juga.

Selain teriakan Mama, teriakan Papa lah yang membuat Ten jatuh melemas dibelakang pintu.

Jika Papa sudah teriak, Ten benar-benar gagal.

Pa, maafin Ten. Papa capek ya cari uang untuk Ten. Tapi lagi-lagi Ten nggak bisa membanggakan Papa. Pa, maafin Ten.

Ten menghapus jejak air matanya di Pipi yang sudah memerah akibat tamparan sedikit keras dari Papa.

Ten membawa tangannya mencari ponsel yang sebelumnya ia lempar entah kemana kemudian memencet angka satu, dial cepat untuk nomor Johnny.

Ten menelpon Johnny dengan keadaan yang sedang menahan isak tangisnya dan tangan yang gemetar hebat.

“Jo? please take me out of here.

Tangan satunya ia bawa memegang tangan yang sedang memegang ponselnya.

Bahkan, tangannya sudah tidak kuat lagi untuk membawa beban ponsel miliknya. Tangannya gemetar begitu hebat.

Ten, stay. I will be there in five minutes. Please, bertahan ya?

Ten menggeleng meskipun ia tau Johnny tidak akan melihat aksinya itu, “Gak kuat, Jo.”

Aku udah di mobil, please tunggu aku. Kamu mau kan, nunggu aku sebentar?

Ten mengatur nafasnya, ia seperti sudah kehabisan nafas, “Jo, bawa aku pergi jauh. Kemana aja, please.

Ten bisa mendengar suara deruan mobil dari ujung telpon menandakan Johnny benar-benar sudah di dalam mobil dan menuju rumah besarnya ini.

Ten bahkan mati-matian menutup speaker telpon agar suara teriakan kedua orang tuanya tidak di dengar oleh Johnny.

I will, don't worry, sayang. Aku bakal bawa kamu pergi jauh dari lingkarang setan itu.

“Sejauh apa?”

Jauh pokoknya, Ten.

Kamu mau es krim nggak? Kamu kan suka es krim, aku bawa es krim nih.” Johnny sebenarnya bertanya seperti ini untuk mengalihkan Ten dari suara-suara teriakan di luar. Oh tentu saja, Johnny mendengar sangat jelas, bahkan Johnny tau Ten sangat bekerja keras dalam menutup speaker ponselnya itu.

“Eum mau. Dua yah, yang stroberiii!” Ten menjawab dengan antusias.

Namun sedetik kemudian, “Jo, dimana. Aku gak kuat lagi, sakit.”

Sayang, bertahan ya? Aku temenin lewat telpon, ini aku lagi muter balik abis itu sampe rumah kamu. Bawa dua es krim stroberi buat kesayangan aku yang kuat ini.

“Hehehe iya Jo. Mau es krim, mau Johnny.”

“Jo, sakit. A-ah darahnya ngalir terus Jo,” Ten memegang pelipisnya yang ternyata mulai mengeluarkan darah segar akibat dirinya yang daritadi tidak sadar menggaruk daerah sana demi menghilangkan rasa gemetarnya.

Ten mendengar suara grasak-grusuk dari ujung telepon kemudian ia mendangar suara dobrakan pintu yang terdengar nyata sampai ke kuping miliknya.

“Kalian masih mau teriak-teriak kayak gini di saat anak yang katanya kesayangan kalian sudah hampir mau mati di belakang pintu kamarnya?!” Teriak Johnny setelah mendobrak pintu tersebut, bahkan Johnny bisa melihat dengan jelas kedua orang tua Ten yang sedang adu mulut di dekat kamar Ten.

“Kamu gak usah ikut campur. Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Keluar dari rumah saya,” Balas Papa Ten.

Johnny tidak takut dan memajukan dirinya mendekat kearah Papa Ten dan menatap sengit. “Mohon maaf jika dirasa saya kurang sopan untuk ikut campur. Saya bukan siapa-siapa? Tapi saya tau semuanya, bahkan saya tau apa yang sedang dilakukan dan sedang dirasakan oleh anak kesayangan anda. Lalu, dimana letak saya bukan siapa-siapa? Anda yang orang tuanya, tau apa?”

Johnny berlari membuka pintu kamar Ten dengan pelan karena ia tau pasti lelaki ini sudah meringkuk dibelakang pintu.

Johnny bahkan meringis melihat keadaan Ten.

“Anak saya sedang belajar, kamu tau ap-”

Johnny keluar dari kamar Ten sambil membawa Ten di dalam gendongannya membuat kedua orang tua Ten sukses terkejut. Pasalnya, kedua orang tuanya ini tau bahwa Ten sedang melanjutkan belajarnya di dalam kamar setelah aksi debat kecilnya tadi itu.

“Anda, tau apa tentang anak anda? Jika ada soal mempertanyakan tentang anak anda, saya tau berapa nilai anda. Nol besar.” Ucap Johnny kemudian berlari sambil membawa tubuh Ten kedalam mobil.

Ia meletakkan tubuh Ten dengan sangat hati-hati.

Meskipun tubuh Ten sudah banyak lecet, Johnny tidak akan menambahkan lecet-lecet lainnya lagi.

Johnny mengambil kotak P3K yang ada di dalam mobilnya lalu membersihkan hingga mengobati luka yang terlihat milik Ten.

Meskipun Johnny tidak bisa sepenuhnya mengobati luka yang tidak terlihat, namun Johnny telaten untuk membersihkan luka yang terlihat. Setidaknya, Johnny berguna di dalam hidup Ten.

“Jo, nggak usah diobatin. Nanti juga luka lagi kok.” Tolak Ten namun Johnny tidak menghiraukan dan tetap melanjutkan aksi mengobati luka-luka milik Ten.

“Nanti aku obatin lagi ya, kita berangkat dulu jangan di sini. Nanti dua orang itu datengin kamu lagi.” Johnny menyelesaikan aksinya tersebut kemudian menjalankan mobilnya menuju suatu tempat.

Tempat yang jauh dari jangkauan orang tua Ten.

Tempat dimana, Ten akan merasa lebih aman.


“Jo, aku nggak minta kamu sewa karavan..” Ten terkejut melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.

Sebuah karavan, lengkap dengan berbagai jenis peralatan di dalamnya.

“Ten. Nurut ya?”

“Tapi Jo, karavan itu mahal.”

“Semahal apapun, gak masalah buat aku Ten. Aku cuma mau bawa kamu kesuatu tempat, tapi kamu tetap bisa tidur dengan nyenyak.” Johnny mengelus surai milik Ten dengan sayang kemudian melanjutkan ucapannya. “Masuk ya? Sini kita lanjut obatin dulu luka kamu, mau ke dokter?”

Ten menggeleng, “Enggak, mau sama kamu aja.”

Johnny tersenyum lalu mencium pucuk kepala milik Ten, oh tuhan dia sangat mencintai lelaki ini.

“Iya sama aku aja, yaudah masuk dulu ya? Kita obatin.”

Johnny kembali telaten mengobati semua luka-luka milik Ten, bahkan luka sekecil apapun Johnny obati.

“Sakit?”

Ten menggeleng, bahkan air mukanya terlihat biasa saja, padahal Johnny yang mengobati sedikit ikut nyeri melihat luka-luka milik Ten.

“Enggak sesakit hati aku Jo.”

“Jo, aku dibilang pelacur sama Papa aku sendiri. Mama aku bilang aku anak nggak berguna hanya karena aku gagal lolos beasiswa S2 di tempat yang mereka inginkan.”

Johnny masih dengan aksinya yang telaten mengobati luka Ten, mendengarkan lelaki tercintanya ini bercerita tanpa berniat menjeda cerita tersebut. Johnny tau, Ten membutuhkan tempat untuk mengeluarkan semua uneg-uneg yang ia miliki. Dan disini dia, mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Ten.

“Apa kalau aku meninggal sekarang, semua bakal baik-baik aja Jo? Apa kalau aku menghilang dari hadapan keduanya, semua bakal baik-baik aja? Mereka kayaknya bahagia ya kalau aku hilang dari dunia ini?”

Johnny mencium kening Ten, “Kok bisa mikir begitu, hm?”

Ten menggedikkan bahunya, “Aku kan nggak berguna Jo, as they said.”

“Kalau kamu nggak berguna, kamu nggak bakal bisa nyelesain studi S1 kamu hanya 3,5 tahun llau cumlaude. Kalau kamu nggak berguna, kamu nggak akan bisa lanjutin S2 bahkan di univ terbaik di kota ini.”

“Tapi nggak dengan lolos beasiswa S2 di tempat yang mereka inginkan, Jo. Aku nggak berguna, aku gagal.”

“Sayang, mereka belum ngerti. Mereka terlalu sering melihat ke kanan kiri dimana ada anak-anak kolega mereka. Mereka terlalu sering membandingkan kamu, disaat kamu sendiri punya kelebihan sendiri yang bahkan orang lain itu belum tentu punya.”

“Tapi Jo, aku cuma mau banggain mereka.”

See, you did your best. Kamu melakukan semua yang kamu bisa bahkan melebihi batas kamu sendiri. Kamu selalu bekerja keras atas apapun itu. Kamu sudah sangat sangat bekerja keras.”

“Mama dan Papa nggak lihat itu Jo. Mereka cuma lihat apa yang mereka mau.”

“Kamu itu anak mereka sayang. Kamu bukan robot mereka. Besok, aku bantu bangkit. Kita kalahin mereka dengan pikiran kolotnya, okay? Besok, aku dan kamu, kita sama-sama ya? It's not even your fault, as i said you really did your best.

Johnny mengelus surai milik Ten lalu mengecup pucuk kepala milik Ten, alih-alih memberikan semangat kepada lelaki kesayangannya ini.

Ten memeluk tubuh Johnny dengan kuat, Ia berharap orang tuanya memiliki pemikiran yang sama dengan Johnny.

Ia berharap, orang tuanya bisa sekali dua kali mengerti keadaannya, keadaan dimana ia tidak selamanya bisa menjadi anak yang diharapkan oleh orang tuanya, keadaan dimana ia berdiri menjadi diri sendiri bukan karena suruhan orang tuanya.

Benar kata Johnny, dia bukan robot. Dia memiliki kelebihan yang ada di dalam dirinya.

Sayang, kelebihan itu tertutupi oleh keinginan menggebu-gebu dari kedua orang tuanya.

“Sayang, ingat ya, jangan pernah salahin diri kamu sendiri disaat kamu nggak melakukan kesalahan. Ini hanya tentang bagaimana seseorang memandang kamu dari kacamata yang seperti apa. Jadi diri kamu sendiri, semua orang punya kelebihan. Terima kasih ya, sudah terus bertahan. Terima kasih ya, sudah terus bekerja keras demi mengisi keinginan orang tuamu.” Johnny mendekap tubuh bergetar milik Ten yang sudah menangis tak karuan.

“Johnny, mungkin kalau gak ada kamu. Aku nggak akan bisa lagi bertahan di sini. Terima kasih, sudah menahan dan ikut bertahan bersama aku. Maaf, aku nyusahin kamu ya? Pasti tadi kamu lagi asik main game. Maaf”

“Tuh, nggak perlu minta maaf sayang. Bukan salah kamu ya?”

Ten terkekeh gemas, ia mengecup bibir Johnny kilat, “Sayang sama kamu, Jo.”

Johnny tersenyum kemudian mengecup bibir Ten kembali, “Aku lebih sayang sama kamu Ten. Terima kasih ya sudah hadir.”

“Jo, kamu jadi salah satu alasan kenapa aku masih hidup dan bertahan di dunia ini.”

Johnny menggeleng, “Jangan. Aku bantu cari alasan lain ya?”

Ten terdiam bingung, “Kenapa?”

“Kalau misal sewaktu aku meninggal duluan, aku nggak mau kamu berhenti untuk tetap bertahan. Aku mau kamu terus jalan ke depan, aku mau kamu terus bangkit melawan dunia, melawan semua meskipun nggak ada aku. Nanti, kita cari alasan lain ya?”

Ten menangis, menangis lebih dari sebelumnya, Ya Tuhan.

“Hey hey, kok nangis?”

“Kamu baik banget jadi orang, aku jadi makin sayang.”

Johnny tertawa, sekarang dirinya bisa lega karena orang tersayangnya sudah mulai kembali memperlihatkan senyumannya itu.

Meskipun Johnny tau, jauh dilubuk hati Ten, lelaki itu masih sakit. Sangat sakit.

Karena sejatinya, serusak apapun Ten, Johnny akan selalu ada disamping untuk memperbaiki.


@roseschies