✨
tw // blood , violence , mention death & selfharm
Sesuai dengan janji Johnny yang akan tepat waktu mendatangi tempat yang sudah Jaehyun kirimkan lokasinya di grup, Johnny menginjakkan kaki di sebuah tempat yang asing tepat jam dua siang.
Johnny menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Jaehyun ataupun Yuta namun tidak ada siapa siapa di sana.
Johnny mengambil ponselnya yang berada di saku celana kemudian mencari kontak Jaehyun untuk ia telepon kemudian bertanya di mana lelaki tersebut berada.
Baru saja tangan Johnny ingin memencet tanda memanggil, pundaknya keburu ditepuk oleh seseorang dari belakang.
“Ekhm.” Deham Yuta setelah Johnny menengok kearah dirinya.
Yuta cukup kaget karena sekarang Johnny benar-benar terlihat berantakan. Kantung mata yang sudah berkantung bahkan menghitam, mukanya yang terlihat sangat lusuh, tubuh milik Johnny yang biasanya berotot sekarang terlihat lebih kurus. Pokoknya, seperti bukan Johnny yang Yuta kenal.
Yuta mendengus, rasanya kasihan melihat temannya dengan tatapan kosong seperti ini. Tetapi mengingat apa yang sudah dilakukan oleh temannya ini mood Yuta langsung berubah.
“Tunggu Jaehyun lagi di jalan. Lo duduk aja dulu, gak usah angkat suara, diem aja.” Pinta Yuta sambil menunjuk bangku yang ada di sana, menyuruh Johnny untuk duduk sambil menunggu Jaehyun sampai.
“Yut-”
“Gue gak nyuruh lo ngomong, Jo.” Ucap Yuta kemudian duduk di tempat duduk yang ada dan diikuti oleh Johnny yang duduk di sebelah Yuta. Akhirnya lelaki itu nurut untuk tidak membuka suara sama sekali.
Alasan Yuta menyuruh Johnny diam adalah Yuta sangat tidak ingin mendengar suara lemah Johnny, suaranya terdengar parau, lelaki ini pasti menghabiskan banyak air mata kemarin.
Dan Yuta, sudah lelah.
Dalam otak Yuta hanya berputar kalimat-kalimat mempertanyakan Johnny.
Johnny yang duduk di sebelah Yuta hanya menunduk sambil memainkan kuku jarinya dengan kaki yang bergerak terus-menerus tidak bisa diam.
Kepalanya benar-benar berisik antara menyalahkan dirinya dan juga mencari cara agar dirinya bisa mendapatkan alasan yang manusiawi, tak lupa sebagiannya lagi adalah mencari cara agar dirinya bisa bertemu dengan Ten lagi.
“Je!” Panggil Yuta kemudian berdiri dari tempat duduknya membuat Johnny ikutan berdiri dari tempat duduknya.
Johnny bisa melihat Jaehyun dengan pakaian kasual berjalan kearah dirinya dan Yuta.
Jantung Johnny semakin berdetak cepat setelah melihat seseorang yang berada di belakang Jaehyun dengan tatapan yang sangat sangat tidak bersahabat.
Tatapan itu, tatapan mematikan.
Taeyong, sepupu Ten.
Johnny pikir pertemuan kali ini hanya ada dirinya, Yuta, dan Jaehyun. Tak disangka, Taeyong ikut dalam pertemuan kali ini.
Sepersekian detik tatapan Johnny dan Taeyong bertemu. Seperti ada aliran listrik hal tersebut membuat Johnny bergedik ngeri.
Taeyong mempercepat tempo jalannya bahkan dirinya mendahului Jaehyun kemudian berdiri tepat di depan Johnny sedangkan tangan Yuta sudah ditarik oleh Jaehyun, memberi ruang untuk Taeyong, menghabisi Johnny, mungkin?
Tepat setelah tangan Yuta ditarik oleh Jaehyun, Taeyong melayangkan satu tonjokan tepat di pipi sebelah kanan Johnny.
Setelah tonjokan pertama, air mata milik Taeyong ikut turun kemudian Taeyong kembali melayangkan satu tonjokan tepat di pipi sebelah kiri Johnny.
“Gue gak nyangka ada manusia sejahat lo.” Ucap Taeyong kemudian kembali melayangkan satu tonjokan di lengan Johnny.
Taeyong mengusap air mata yang semakin menderas jatuh di pipinya, “Lo gak akan pernah tau seberjuang apa Ten buat dirinya sendiri.”
Tak memiliki tenaga lebih, Taeyong berhenti melayangkan tonjokkan lain pada Johnny kemudian menangis sesegukan di depan Johnny.
Jaehyun yang melihat Taeyong menangis langsung merangkul lelaki itu sambil menenangkannya.
“Lo itu bajingan!” Teriak Taeyong kemudian mendorong tubuh Johnny dengan tenaga yang ia miliki.
“Hiks, manusia kayak lo gak berhak dapet kesempatan dari sepupu gue!”
“Gue bahkan gak tega liat keadaan sepupu gue sekarang!”
Taeyong berteriak sambil menangis kemudian terus-terusan mendorong tubuh Johnny dengan tenaga minim.
“Yong, tolong dengerin gu-”
“DIEM! Gue gak mau denger bualan lo lagi, semua omong kosong. Semua yang keluar dari mulut lo, udah gak bisa gue percaya lagi. OMONG KOSONG!”
“Mana cutter? ada yang punya cutter gak?!” Tanya Taeyong membuat Jaehyun yang berada di sampingnya menatap Taeyong dengan tatapan bertanya.
“Buat apa sayang?” Tanya Jaehyun.
Sedangkan Yuta yang masih diam memerhatikan dari samping langsung memberi sinyal pada Jaehyun untuk mengantarkan Taeyong pulang, sepertinya emosi Taeyong sudah mencapai puncak.
“Mau ngasih tau ini orang kalau Ten dibelakang dia selalu nyakitin dirinya pake cutter. Cukup lama Ten berhenti dan mulai lagi karena ini orang berulah!” Jelas Taeyong membuat Johnny yang mendengar penjelasan itu pertama kali langsung terkejut.
Johnny selama ini tidak tau apa yang terjadi pada Ten di belakang dirinya. Bahkan Johnny tidak tau, selama ini cara Ten menenangkan dirinya dari masalah yang ada diantara mereka yaitu dengan menyayat tangannya menggunakan cutter.
Yuta dan Jaehyun yang baru juga mengetahui fakta tersebut langsung terkejut dan menutup mulutnya.
“Tega lo buat Ten terus-terusan nyakitin dirinya sendiri?! TEGA?! Sini mana cepet yang punya cutter gue pinjem, mau gue kasih tau rasanya kayak gimana ke ini orang. Biar dia tau, segimana sakitnya jadi Ten!”
Mengingat hal tersebut membuat air mata milik Taeyong kembali menetes.
Taeyong menghela nafas panjang kemudian mengangkat tangannya lagi.
Bugh
Tubuh Johnny sukses terjatuh akibat dorongan Taeyong yang sangat kuat kemudian Taeyong mendudukkan dirinya di atas tubuh Johnny lalu menonjok pipi Johnny.
Taeyong menonjok sambil berteriak dan menangis.
Melihat tonjokkan yang diberi Taeyong semakin brutal sampai membuat pinggir bibir Johnny robek, Jaehyun langsung menarik Taeyong dari atas tubuh Johnny lalu memanggul lelaki itu.
“TURUNIN GUE BANGSAT GUE BELOM SELESAI URUSAN SAMA SI BAJINGAN SATU ITU! TURUNIN GUE JUNG JAEHYUN! ARGH ANJING MATI LO SAMA GUE JOHNNY SUH! GAK BAKAL SUDI GUE LIAT LO HIDUP LAGI! LO UDAH NGAMBIL KEBAHAGIAAN SEPUPU GUE! LO UDAH NGERUSAK SEPUPU GUE!” Teriak Taeyong sambil berusaha melepaskan dirinya dari panggulan Jaehyun namun tenaga Jaehyun lebih kuat dibanding Taeyong yang sedang melemah saat ini dan Taeyong berhasil masuk ke dalam mobil Jaehyun.
Johnny berusaha bangun sambil mengelap darah yang keluar dari pinggir bibirnya lalu meringis sedangkan Yuta yang sedang berdiri di dekat Johnny langsung mengulurkan tangan untuk membantu Johnny.
Johnny menggeleng menolak bantuan Yuta, “Gak usah Yut, gue emang pantes dapet tonjokkan berkali-kali dari Taeyong. Sakit yang gue rasa gak sebanding dari sakit yang dirasa Ten selama ini.”
Yuta diam, Johnny menunduk merenungi dirinya sendiri. Berapa banyak hal lain yang ia tidak tau lagi tentang Ten.
“Duduk.” Pinta Yuta kemudian keduanya duduk di bangku yang sebelumnya mereka duduki juga.
Johnny masih menunduk, membayangkan Ten yang menyayat tangannya, Ten yang menangis sendirian di kamarnya.
“Yut, tolongin gue.” Johnny membuka suaranya, meminta pertolongan Yuta.
Yuta mendengus, “Lo liat sendiri tadi Taeyong aja gitu, gimana Ten?”
Johnny terdiam.
“Siapa lagi sekarang orangnya?” Tanya Yuta.
Kalimat 'lagi' yang diucapakn oleh Yuta bahkan sampai ditekan.
“Anaknya temen bokap gue. Gue salah banget Yut, gue pikir gue bisa nahan diri gue sendiri. Ternyata gak, dan gue keterusan sama dia.” Jelas Johnny membuat Yuta memijit pelipisnya.
“Dijodohin?” Tanya Yuta, lagi.
Johnny menggeleng.
“Suruh dia ketemu sama gue dan Jaehyun.” Pinta Yuta sedangkan Johnny terdiam.
Tak ada jawaban dari Johnny selama beberapa menit membuat Yuta angkat bicara lagi, “Kenapa? Lo mau jagain dia? Haha, yaudah terserah lo lah.”
Johnny menggeleng, “Ok, nanti gue bawa dia ketemu sama lo dan Jaehyun.”
Yuta mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya.
“Lo bisa pulang sendiri kan? Bisa lah, kalo gak kuat telepon aja tuh dia. Gue balik duluan.” Pamit Yuta lalu langsung meninggalkan Johnny sendirian.
Johnny menghela nafas lalu berdiri sambil menahan nyeri yang terus berdenyut dari pipinya.
Lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku celana lalu mencari satu kontak kemudian memanggil kontak tersebut.
“Kenapa mas?“
“Bisa jemput aku gak? Aku kirim lokasinya, makasih ya.”
“Oh iya bisa kok. Aku jemput ya tunggu siap-siap.“
Tut