roseschies

their story

Setelah mereka semua masuk ke dalam link yang diberikan Yuta. Mata Johnny dan Ten bisa melihat mata milik Yuta dan Winwin keduanya sama sama sembab.

“Lo berdua kenapa sampe nangis gitu matanya sembab? Ada masalah besar?” Tanya Ten panik, terlebih mata Winwin masih merah.

Yuta menggeleng diikutin oleh Winwin yang juga menggeleng.

“Winnie kenapaaaa?” Tanya Taeyong pada Winwin.

Winwin lagi-lagi rasanya ingin jingkrak jingkrakan sangking bahagianya dan tidak sabar untuk bercerita pada sahabatnya ini.

“Ada apaa sih Yut? Kenapa? Cepet cerita.” Tanya Johnny membuat Jaehyun mengangguk setuju.

Mereka semua sudah penasaran.


Yuta baru saja pulang dari kantornya, rumahnya sepi karena Winwin sedang ada kegiatan sampai malam, Jaemin izin mengerjakan tugas kelompok di rumah Renjun bersama Haechan dan Jeno, hanya ada Dejun yang masih di rumah tetapi lelaki itu berada di dalam kamarnya.

Yuta memasuki kamarnya terlebih dahulu berniat untuk mengganti baju lalu menemui Dejun di kamarnya.

Baru saja Yuta membuka pintunya, kakinya seperti menginjak sesuatu di bawah saja.

Sebuah kertas.

Yuta mengambil kertas tersebut lalu ia buka karena kertas itu di lipat beberapa kali lipatan.

Setelah kertas tersebut terbuka, terpampang sebuah tulisan tangan di kertas itu.

Yuta membaca perlahan, kata demi kata Yuta cerna, sampai akhirnya air mata Yuta yang sudah terbendung perlahan pecah seiring dengan tulisan tangan tersebut mendekati akhir.

Yuta lipat kembali kertas tersebut lalu ia simpan di atas nakas, bermaksud untuk menyimpan kertas itu dan memberikan pada Winwin ketika Winwin pulang, nanti.

Sekitar satu jam Yuta menunggu kepulangan Winwin, akhirnya Winwin pulang kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar menemukan Yuta yang sedang duduk di depan meja rias yang biasa Winwin gunakan untuk memakai skincare.

“Yut, aku pulang.” Ucap Winwin lalu menutup pintunya membuat Yuta langsung berdiri dan memeluk Winwin.

Winwin bingung, ini suaminya kenapa.

“Win, Win... Aku... Win.... Gimana ini Win....” Ucap Yuta terbata-bata karena lelaki itu sedang menangis sekarang di dalam pelukan Winwin.

Winwin mengelus punggung Yuta tanpa mengetahui alasan mengapa lelaki itu menangis di sana.

“Kenapa Yut? Ada masalah di kantor? Atau ada apa?”

Yuta menggelengkan kepala lalu melepas pelukannya kemudian Yuta menjalankan kakinya menuju nakas di mana kertas yang sebelumnya ia baca berada.

Yuta mengambil kertas tersebut kemudian memberikan kertas tersebut pada Winwin.

“Ini apa Yut? Kamu dikejar rentenir? Punya banyak utang? Yuta?” Winwin bertanya-tanya namun Yuta hanya terkekeh melihat Winwin yang malah menebak-nebak asal.

“Dibuka, Win.” Pinta Yuta lalu Winwin membuka kertas tersebut.

Terpampang lah tulisan tangan yang sebelumnya dibacaYuta.

Teruntuk Om Yuta dan Om Winwin,

Sebelumnya, Mas Dejun mau bilang terima kasih banyak buat om Yuta dan om Winwin yang udah rela memberikan waktu menjaga Mas dan Nana. Mas banyak banyak terima kasih sama om Yuta dan om Winwin. Maaf kalau Mas dan Nana merepotkan selama tinggal di rumah Om Yuta dan Om Winwin.

Om, rasanya Mas dan Nana kurang mencoba untuk mendekatkan diri ke Om disaat Om berusaha untuk terus reach out kami berdua. Mas dan Nana, bingung om. Mas dan Nana, rasanya nggak berhak dapetin itu semua. Mas dan Nana, banyak sekali berhutang sama Om.

Mas dan Nana, boleh mulai mencoba untuk membuka diri kami berdua juga membalas semua yang udah Om kasih ke kami?

Mas dan Nana, sayang sama Om Yuta dan Om Winwin.

Om Yuta, Om Winwin, terima kasih banyak udah terus bersabar menghadapi Mas dan Nana.

Om Yuta, Om Winwin. Mas dan Nana, rasanya seperti diberi dua malaikat yang Ayah dan Bunda berikan pada kami. Malaikat berhati baik seperti Om Yuta dan Om Winwin.

Terima kasih banyak Om Yuta, Om Winwin.

Mas Dejun dan Nana, juga sayang sebanyak rasa sayang Om Yuta dan Om Winwin berikan.

Om....

Mas boleh, mau ke makam Ayah dan Bunda? Tapi Om harus ikut, Mas mau ceritain banyak tentang Om Yuta dan Om Winwin ke Ayah dan Bunda.

Malaikat yang dikirim Ayah dan Bunda sudah sampai.

Sepanjang membaca isi tulisan tangan di kertas tersebut Winwin tak berhenti tersenyum hingga menangis sampai membasahi kertas tersebut.

Winwin langsung memeluk erat tubuh Yuta, keduanya saling memeluk memahami rasa yang keduanya tidak pernah rasakan seumur hidupnya.

“Yut, aku izin nemuin Mas Dejun, boleh?” Izin Winwin pada Yuta membuat Yuta mengangguk kemudian Winwin menghapus jejak air matanya dan langsung keluar dari kamarnya.

Sepanjang jalan Winwin menuju kamar Dejun, Winwin mengatur nafas dan detak jantungnya yang nggak karuan itu.

Rasa senang, sedih, semuanya campur aduk.

Setelah sampai di depan kamar Dejun, Winwin mengetuk pintu kamar Dejun terlebih dahulu sambil menunggu Dejun membukakan pintu untuk dirinya.

Tak lama kemudian Dejun membuka pintu tersebut, setelah pintu terbuka dan terpampang Dejun dengan pakaian tidurnya, Winwin langsung menarik tubuh Dejun dan memeluk lelaki itu.

Pelukan ini terasa hangat untuk Dejun.

Dejun terdiam tak lama kemudian air matanya pecah hingga mengenai pipinya. Air mata miliknya turun semakin deras seiring eratnya pelukan Winwin.

Winwin bahkan sudah menangis sesegukan sejak pertama kali akhirnya ia bisa memeluk Dejun dimana dirinya sangat ingin memeluk lelaki tersebut dengan erat dan hangat.

Winwin melepas pelukan tersebut lalu tangannya ia bawa memegang kedua pipi milik Dejun. Winwin menatap wajah Dejun lalu mengusap air mata yang terus turun dari pelupuk mata Dejun. “Terima kasih, Mas.”

Dejun menggelengkan kepalanya, “Aku yang seharusnya bilang terima kasih sama Om. Terima kasih om udah nampung Mas dan Nana bahkan sampai memberi banyak perhatian ke kami berdua.”

Winwin tersenyum lalu kembali memeluk tubuh milik Dejun.

Sedangkan tak jauh dari sana, Yuta yang ternyata sedang mengintip aktifitas Dejun dan Winwin ikut menangis lalu mengusap air matanya.

Yuta ingin ikutan, tetapi dia terlalu malu. Jadilah, di sini Yuta mengintip sambil menangis sesegukan, sendirian.


Sepanjang Yuta dan Winwin bercerita ganti-gantian, keduanya lagi lagi mengeluarkan air mata bahagia.

Tak hanya Yuta dan Winwin, Taeyong dan Ten yang rasanya ikut bahagia mendengarnya ikut menangis dan memeluk tubuh suami masing-masing.

“Huhuhu, Winnie, you deserve it!” Ucap Ten yang hampir saja mengambil laptop yang berada di pangkuan Johnny untuk ia peluk.

“Yang, nggak sampe meluk laptop juga...” Sanggah Johnny membuat Ten melengkungkan bibirnya kebawah.

“HUHUHUHU JOHNNYYY MAU PELUK WINWIN.” Ten menangis memeluk Johnny membuat Johnny mengelus surai milik Ten lembut.

“Yut, selamat ya, pelan pelan pasti Yut. Lo udah keren banget serius.” Ucap Johnny membuat Yuta mengangguk sambil mengelus surai milik Winwin yang juga ikut menangis melihat Taeyong dan Ten.

Ini Jaehyun, Yuta, Johnny ketiganya sama sama mau ngomong tapi bingung tangisan suami mereka tak kalah keras.

“Winnieee besok ketemu pokoknya!!!” Ucap Taeyong membuat Ten mengangguk ikut setuju dan Winwin yang juga menyetujui ucapan Taeyong.

Johnny sedikit memajukan tubuhnya untuk mengetik sesuatu di laptopnya.

Gue ngomong di sini aja, ini Ten nangis kenceng banget gue mau ngomong bingung nggak enak.

Yuta dan Jaehyun yang membaca pesan tersebut langsung ketawa kecil lalu ikut mengirim pesan di kolom chat.

Emang mereka dari dulu begini, yang satu seneng semua seneng, yang satu sedih semua sedih. Salah juga gue cerita pas mereka lagi pisah, tapi gapapa seneng kan lo pada dapet peluk peluk.

Membaca pesan yang dikirim Yuta, Jaehyun langsung ikut membalas.

Tapi gapapa sih Yut, gue jadi lo juga rasanya mau cerita buru buru ke lo berdua. Sekali lagi, selamat Yut. Pokoknya lo berdua emang pantes banget buat dapetin semuanya. Akhirnya ya, Mas Dejun terbuka juga pelan pelan sama lo.

Gue juga bingung awalnya Je. Winwin emang cerita waktu malam dia ngirim surat itu, cuma sampe kebesokannya Dejun nggak bales surat dari Winwin, pikir gue sama Winwin Dejun masih mikir mikir juga. Lo tau nggak sih ini rasa senengnya tuh beneran campur banget. Gue kayak masih nggak nyangka. Gue alay banget gak sih.

Mana ada lo alay Yut. Normal dan sangat normal. Ditambah lo udah nunggu berapa tahun lamanya Yut.

Gue nggak sanggup kalo kedepannya tiba-tiba dipanggil Papa... Anjir gue bayanginnya keburu merinding mau nangis.

Gue paham banget Yut. Waktu Mark pertama kali akhirnya manggil gue dengan panggilan Ayah, dunia gue rasanya penuh dengan bunga. Senengnya bukan main. You deserve it Yut, sumpah. Perjuangan lo sama Winwin, penantian lo berdua pasti hasilnya bakal lebih dari apa yang lo pikirin di dalam otak lo.

Gue beneran turut berbahagia Yut.

Akhirnya setelah tangisan Ten, Taeyong,dan Winwin mereda, Johnny, Jaehyun, dan Yuta berhenti ngobrol di chat dan keenamnya langsung berbincang bersama di sana.

Apalagi kalau bukan, merancang liburan bersama tiga keluarga.

Meskipun mereka belum tau kapan ini akan terlaksana, tidak ada salahnya kan untuk merancang terlebih dahulu.


@roseschies

spend time

Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Hendery langsung mengambil dua helm, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Dejun lalu ia menuju motornya yang ada di parkiran.

Sembari menunggu memanaskan motornya sebentar, Hendery memakai helm dan jaketnya lalu mengecek bensin. “Bentar ini perasaan bensin baru gue isi deh.”

“Kerjaan si bapak gede ini mah gak ngisiin bensin lagi.” Hendery bermonolog lagi.

Sebelumnya Hendery sudah bertukar pesan dengan Dejun mengenai keberangkatan Hendery yang akan menjemput Dejun dalam beberapa menit ke depan, lagipula keduanya sudah setuju semalam kalau akan berangkat dari jam sepuluh.

Hendery akhirnya memutuskan untuk mengajak Dejun ke tempat rekreasi indoor supaya keduanya tidak kebanyakan meneduh akibat teriknya matahari.

Setelah dirasa motornya sudah siap digunakan, Hendery menjalankan motornya keluar dari parkiran lalu menuju rumah Dejun.

Tak memakan waktu banyak, akhirnya Hendery sampai di depan pagar rumah Dejun lalu turun dari motornya dan mencopot helm yang ia gunakan lalu memencet bel.

Seorang lelaki yang sebenarnya tidak ingin Hendery lihat untuk pertama kalinya menampakkan diri keluar dari rumah hanya menggunakan kaos kutang dan celana pendek sambil membawa kunci pagar.

“Hih masih pagi udah rusuh aja, sana sana pulang.” Ucap Yuta dengan kelakuannya yang bertolak belakang dengan ucapannya, ia sedang membukakan kunci pagar untuk Hendery.

“Udah siang om udah siang, bangun pagi makanya! Pantes Om Win sukanya sama Hen.” Ucap Hendery setelah Yuta membukakan pagar dan mempersilahkan Hendery untuk masuk ke dalam rumahnya.

Tanpa menjawab, Yuta hanya meledek Hendery dengan mukanya.

“Mas Dejun lagi siap siap, tunggu di dalem aja Hen, siapa tau mau bantuin Om nguras akuarium ikan, boleh.” Yuta mempersilahkan Hendery untuk duduk di sofa tamu yang tersedia sedangkan Yuta kembali membersihkan akuarium ikan yang berada di ruang tamu.

“Kamu nih Yut, masa si Hendery di suruh bersihin akuarium sih.” Suara Winwin tiba-tiba terdengar dari arah belakang, sepertinya dari dapur.

“Suruh cuci piring sekalian juga boleh.” Lanjut Winwin membuat Yuta terbahak, emang enak.

Hendery terkekeh, “Eh Om Win.”

Hendery berdiri dari tempat duduknya lalu salim dengan Winwin.

“Iya Hen. Tunggu ya, Mas Dejun lagi keatas sebentar tadi udah siap kok cuma ada yang ketinggal jadi naik lagi.” Ucap Winwin menjelaskan sedangkan Hendery hanya mengangguk paham lalu menunggu Dejun di sofa.

Tak lama kemudian Dejun turun dari tangga dan tersenyum kecil untuk menyapa Hendery yang sudah menunggu dirinya di ruang tamu.

“Om, aku pergi dulu ya.” Pamit Dejun pada Winwin dan Yuta diikuti oleh Hendery lalu keduanya bersalaman.

Yuta yang masih sibuk menguras akuarium ikan tidak ikut mengantar jadi hanya Winwin yang mengantar keduanya sampai pagar.

“Yaudah, hati-hati ya Bang, Mas.” Ucap Winwin lalu melambaikan tangan dan meninggalkan keduanya, canggung.

Hendery memberikan satu helm lebih yang sudah ia bawa pada Dejun, “Ini, helmnya dipake Jun.”

Dejun mengangguk lalu mengambil helm tersebut dari pegangan Hendery kemudian ia pakai di kepalanya.

Begitu juga dengan Hendery yang langsung memakai helm miliknya kemudian naik keatas motor dan menyalahkan mesin motornya.

“Gue naik ya?” Izin Dejun pada Hendery membuat Hendery mengangguk.

Trauma seperti terakhir ia memboncengi Dejun, akhirnya ia tidak lagi memberikan pundaknya pada Dejun karena Hendery tau ujungnya Dejun juga cuma pegangan dengan motornya.

“Udah?” Tanya Hendery membuat Dejun menyahut sebagai tanda jika dirinya sudah duduk dengan nyaman di belakang Hendery.

Akhirnya, motor Hendery melaju dengan kecepatan normal membelah jalan raya menuju tempat yang sudah Hendery ingat arahnya semalaman.


Setelah memakan waktu lumayan keduanya duduk diatas motor, akhirnya motor milik Hendery sampai juga membawa keduanya ke tempat rekreasi yang sudah Hendery pilih.

Setelah mendapatkan parkir untuk motornya, Hendery mengunci motornya lalu menaruh helmnya di dalem motor sedangkan helm lain ia cantolkan di cantolan yang ada di sana, tentu sudah dikunci supaya tidak dicuri. Helm mahal nih.

“Yuk.” Ajak Hendery membuat Dejun mengintil di belakang Hendery seperti anak hilang.

“Bentar, lo tunggu sini ya Jun? Biar gue aja yang ngantri beli tiketnya. Salah gue sih nggak beli online dulu.” Ucap Hendery sambil menunjuk tempat duduk kosong untuk Dejun.

Dejun baru saja ingin menolak Hendery namun Hendery sudah lebih dulu membuka mulutnya lagi, “Udah lo diem aja duduk di sini, oke? Gue ngantri dulu. Jangan kemana-mana.”

Hendery langsung lari mengantri di loket untuk membeli tiket masuk sedangkan Dejun hanya bisa pasrah dan akhirnya ia duduk diam menunggu Hendery selesai membeli tiket.

Tak lama kemudian, Hendery datang membawa dua tiket dan minuman di tangan lainnya lalu memberikan minuman tersebut untuk Dejun. “Nih, kebetulan gratis tadi beli tiket dapet minum.”

Bohong.

Padahal emang Hendery yang beli sendiri karena kasihan, sejak tadi ia lihat Dejun selalu mengelap keringatnya yang bercucur di dahinya sewaktu Hendery mengantri di loket.

“Makasih Hen. Lo gak minum juga?” Dejun mengambil pemberian Hendery lalu berdiri dari duduknya.

“Oh, gue tadi udah kok pas selesai beli tiket, haus soalnya.”

Bohong. Dia belum minum.

Dejun mengangguk lalu meneguk minuman tersebut sampai hampir habis.

Buset, haus banget apa gimana. Batin Hendery.

Setelah selesai minum, Dejun memasukan botol tersebut kedalam tas kecil yang ia pakai.

“Yuk, masuk.” Ajak Hendery lagi, kali ini Dejun berjalan di sebelah Hendery dan keduanya masuk bersama.

Dejun menatap sekeliling tempat rekreasi yang baru pertama kali ini ia datangi.

“Mau main apa dulu Jun?” Tanya Hendery sambil melihat kanan kiri namun Dejun tidak menjawab pertanyaan Hendery.

Hendery melihat kearah Dejun, “Lo mau main apa Jun?”

Dejun hanya menggeleng dan menggedikkan bahunya. “Gak tau.”

Ucapannya terkesan dingin, tetapi Hendery bahkan menyadari sesuatu. Tatapan Dejun, matanya sampai berbinar hanya karena menatap sekitar.

Hendery tersenyum kecil.

“Lo suka naik yang nyantai apa ekstrim?” Tanya Hendery lagi.

“Apa aja suka.” Jawab Dejun, seadanya kemudian kembali diam di sebelah Hendery.

Hendery mengangguk dan akhirnya mengajak Dejun untuk melihat peta wahana permainan yang ada di sini.

“Ini yuk?” Tunjuk Hendery pada salah satu wahana di sana, tidak terlalu ekstrim, tetapi tidak terlalu santai. Biasa saja, cocok untuk wahana pertama yang akan mereka mainkan.

Dejun mengangguk, “Oke, gue ngikut.”

Akhirnya keduanya berjalan menuju wahana tersebut dan masuk untuk main di sana.

Setelah selesai Hendery masih tertawa akibat permainan tadi sedangkan Dejun seperti menahan tawanya untuk keluar dan hanya terkekeh kecil lalu diam lagi.

Hendery yang melihat Dejun hanya tersenyum kecil. Gapapa, perlahan, pasti ada perubahan kok.

Hendery berkali-kali selalu menjadi orang yang memutuskan keduanya akan bermain apa selanjutnya dan Dejun hanya menjadi seorang pengikut untuk Hendery.

“Aduh Jun, lo gimana sih nembaknya tadi. Mana auto ketembak mulu lagi hahahaha.” Hendery tertawa sampai sakit perut mengingat Dejun yang tadi bermain tembak tembakan dengan dirinya seperti orang awam dan selalu mati karena tembakan dirinya sendiri yang memantul.

Dejun cemberut lalu memukul lengan Hendery, “Gue udah berusaha sekuat mungkin tadi megang pistolnya. Siapa suruh pistolnya jelek. Udah ah jangan ketawain gue!”

Melihat Dejun yang akhirnya memberi ekspresi lebih untuk candaannya Hendery tersenyum disela tawanya.

“Mau main apa lagi Jun?”

“Ke rumah kaca yuk?” Saran Dejun, untuk pertama kalinya.

Hendery mengangguk cepat lalu keduanya berjalan menuju rumah kaca.

Di dalam rumah kaca, seisi rumah kaca hanya diisi oleh suara Dejun dan Hendery.

Hendery yang terus-terusan memaki kaca yang tidak ada salah dan Dejun yang terus menertawai Hendery karena sejak awal keduanya masuk Hendery selalu terbentur kaca.

Bagi Dejun, ini adalah salah satu balas dendam setelah permainan sebelumnya Dejun dipermalukan habis-habisan oleh Hendery.

Setelah keduanya berhasil keluar, Dejun masih tertawa bahkan air matanya sampai keluar dari pinggir matanya akibat terlalu lelah tertawa, karena wajahnya Hendery yaampun benar benar sangat lucu.

Hendery hanya bisa mengusap jidatnya yang terus menerus terbentur kaca, “Aduh Jun sakit banget anjir lo mah bales dendam ya sama gue.”

“Ya lagian lo udah gue bilang kanan kanan juga.”

“Abisan pas pertama lo boongin gue, jadi gue nggak percaya lah!”

Dejun tertawa lagi, rasanya kenapa dirinya senang sekali ya.

Sedangkan Hendery yang melihat perlahan Dejun mengeluarkan sisi aslinya, sisi yang tidak pernah ia lihat langsung tersenyum.

Ternyata, segampang ini ya sebenarnya.

“Mau main apa lagi?”

“Duduk dulu boleh nggak? Gue capek ketawa Hen.” Ucap Dejun sambil memegang perutnya, ia lelah menertawakan Hendery.

Hendery mengangguk lalu mencari tempat duduk untuk dirinya dan Dejun.

“Tuh, tempat duduknya kosong.” Tunjuk Hendery lalu keduanya berlari agar tempat tersebut tidak keduluan orang.

Keduanya duduk di sana tanpa suara. Hendery yang masih meratapi dahinya dan Dejun yang bingung dengan dirinya sendiri.

Setelah selesai meratapi dahinya, Hendery melihat ke jam tangan yang ia gunakan. Sudah hampir jam lima sore. Ternyata sudah berjam-jam keduanya menghabiskan waktu di tempat rekreasi ini, pantas rasanya kaki Hendery pegal sekali.

Maklum, terbiasa hanya rebahan, di suruh jalan jalan gini.

Namun sedikit kemudian Hendery sadar akan sesuatu. Semalam ia sudah memikirkan hal lainnya.

Iya, Hendery sudah mencari tempat lain selain tempat rekreasi. Niat Hendery ingin mengajak Dejun ke tempat lain, lagi.

“Lo udah capek?” Tanya Hendery kemudian melihat kearah Dejun.

Dejun hanya diam.

“Belum ya? Mau ke puncak nggak? Naik motor, ke tempat biasa gue sama sugus kalo lagi kepengen liburan sedetik.” Ucap Hendery membuat mata Dejun lagi lagi terlihat membulat gemas di saat mendengar 'puncak'.

“Cuma kalau lo capek, gapapa kita pulang aja.” Tambah Hendery lagi karena Dejun hanya diam saja.

Dejun sebenarnya sangat ingin karena kapan lagi dia bisa ngabisin waktu benar benar hanya untuk dirinya sendiri, mengistirahatkan dirinya dari kesibukan duniawi yang belakangan ini sebanarnya dirinya ini butuhkan.

Akhirnya Dejun mengangguk.

Hendery berdiri dari tempat duduknya lalu merenggangkan tubuhnya begitu juga dengan Dejun yang ikut berdiri

“Yaudah, ayo kita berangkat sekarang. Nanti takut kemalaman.” Ucap Hendery lalu tak sengaja dirinya memegang tangan Dejun sebenarnya bermaksud untuk narik lelaki itu mengajak keluar dari tempat rekreasi.

Tetapi akibat Hendery yang secara tiba-tiba memegang tangan Dejun membuat Dejun terkejut.

“Eh, sorry sorry reflek.” Hendery tersadar lalu langsung melepas kaitan tangannya dengan tangan Dejun lalu melengos menjauh dari pandangan Dejun. Malu.

Dejun diam lalu menggaruk tengkuknya bingung. “Iya gapapa kok.”

Hendery terkekeh lalu berdeham, “Yaudah yuk.”

Akhirnya Hendery dan Dejun jalan sebelahan menuju tempat parkir di mana motor Hendery terparkir di sana lalu Hendery kembali menjalankan motornya menuju tempat yang biasa ia datangi itu.


Tepat jam setengah tujuh lebih keduanya sampai di tempat yang dimaksud Hendery. Tempat ini memang tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh hanya menggunakan motor kok.

Hendery kembali mengajak Dejun untuk masuk ke tempat tersebut lalu langsung mengajak Dejun ke tempat duduk yang biasa sugus duduki.

Setelah duduk, Dejun terpukau melihat pemandangan dari tempat keduanya duduk.

Melihat Dejun yang sepertinya sangat menyukai tujuan mereka kali ini, Hendery ikut senang. Ternyata pilihannya memang tidak salah untuk mengajak Dejun ke sini.

”.... Dulu ya?”

“Hah?”

Hendery tertawa, sejak tadi ia mengajak Dejun ngobrol ternyata anaknya sedang fokus dengan pemandangan yang ada. “Jun, gue pesen dulu ya?”

“Oh iya Hen.” Dejun malu sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

Hendery kembali terkekeh, “Terus lo mau pesen apa?”

“Emang ada apa?”

Hendery menunjuk selembar menu yang ada di depan Dejun, “Itu di depan lo ada menunya.”

Dejun mengangguk lalu melihat-lihat menu tersebut.

“Gue roti bakar aja deh Hen.”

“Minumnya?”

“Coklat panas aja deh.”

Hendery mengangguk, “Oke, gue pesen dulu ya?”

Dejun mengangguk lalu Hendery menuju kasir untuk memesan dan langsung membayar pesanan keduanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Dejun membuat Dejun terkejut.

“Pacarnya Hendery ya?” Tanya orang itu tiba-tiba membuat Dejun menggeleng.

“Tumben amat tu anak bawa gandengan, biasa bareng sama Lucas Mark.” Ucap lelaki itu lagi membuat Dejun hanya diam.

“Soalnya biasanya dua temennya selalu bawa pacarnya ke sini, cuma Hendery doang yang nggak pernah ngajak siapa siapa dan lo orang pertama yang diajak Hendery jadi gue pikir lo pacarnya Hendery.” Tambah lelaki tersebut, Dejun bingung ingin bereaksi seperti apa.

“Gue bukan paca—”

“Awas awas sana lo ngapain sih di sini, Han.” Usir Hendery yang ternyata sudah selesai memesan pesanan miliknya dan milik Dejun.

Yohan, lelaki yang sejak tadi mengintrogasi Dejun dan salah satu kenalan Hendery di tempat ini langsung minggir dari tempat di mans ia berdiri tadi.

“Weh bro, udah lama gak kesini, dateng dateng bawa gandengan aja lo.” Ucap Yohan kemudian mengajak Hendery bertos ria sedangkan Dejun hanya diam sesekali memperhatikan pemandangan sesekali memperhatikan Hendery dan lelaki yang dipanggil Han oleh Hendery itu berbincang.

“Gandengan udah kayak tuyul aja. Ini temen gue, namanya Dejun.” Ucap Hendery sambil memperkenalkan Dejun membuat Dejun langsung tersenyum.

“Jun, ini temen gue biasa nongkrong di sini bareng namanya, Yohan. Lupain aja namanya gak penting, orangnya juga gak penting.” Ucap Hendery sambil memperkenalkan Yohan pada Dejun.

Keduanya bersalaman lalu tersenyum, “Salam kenal.”

Sedetik.

Dua detik.

“Woi udah woi buset dah lama amat salamannya udah kayak salaman sama pejabat aja.”

Yohan tertawa, “Anjir lo. Yaudah dah gue ke sana dulu. Have fun Hen.” Pamit Yohan membuat Hendery mengangguk.

“Buat lo juga, have fun Jun. Santai aja di sini, semoga lo suka sama pemandangannya yang ngga kalah cantik, sama lo.” Ucap Yohan membuat Dejun tersenyum kecil lalu mengangguk, mengabaikan gombalan Yohan.

Hendery yang mendengar itu langsung ingin melempar Yohan dan membuat Yohan tertawa.

“Maap ya Jun, dia emang gitu emang otaknya rada rada.” Ucap Hendery. Dia nggak tau aja Dejun gak peduli sama sekali padahal.


Keduanya hampir menghabiskan setengah makanan ringan yang mereka pesan.

Hendery memesan mie kuah dan greentea latte sedangkan Dejun dengan robak dan cokelat panasnya itu.

“Jun.” Panggil Hendery setelah meneguk minumannya.

“Kenapa?” Sahut Dejun kemudian menyuap satu potongan robak miliknya.

“Gimana?” Tanya Hendery membuat Dejun bingung. Gimana apanya?

“Belajar lo. Ada kesulitan?” Tambah Hendery lagi.

Dejun menggeleng, “Gak kok.”

Hendery mengangguk, “Kalo lo?”

Pertanyaan Hendery ini rasanya lebih sulit dibanding soal soal tes ujian masuk univ yang sudah Dejun pelajari.

“Maksudnya?”

“Ya kalo lo? Ada kesulitan gak?”

“Kan tadi gue udah ja—”

“Bukan belajar. Kalo lo, lo ada kesulitan gak?”

Dejun diam, mencerna pertanyaan Hendery.

Setelah paham, Dejun tetap diam.

“Semua nggak perlu perfect Jun. Pasti ada cacatnya dan cacatnya belum tentu buruk, kok.”

“Eh, ini gue ngomong asal aja ya. Nggak matok konteks apa apa. Cuma ya lo anggap aja gue lagi pidato dan lo jadi pendengarnya.”

“Lo tau gak Jun?”

“Jadi, gue pernah liat gitu sih, apa ya, gue lupa liat di mana, cuma semua orang berhak bahagia, begitupun lo. Ya gak sih Jun?”

“Kapan terakhir lo ketawa selepas tadi setelah liat dahi gue kebentur kaca terus?”

Dejun diam diam mengingat kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti tadi.

Jawabannya, sudah lama, sekali. Sangat lama.

Hendery tau kok, Dejun tidak akan jawab pertanyaan.

“Dunia ini rasanya luas banget gak sih, kayak bahkan belum setengah gue jelajah tapi rasanya udah seluas ini.”

Ini beneran Dejun seperti sedang mendengarkan pidato.

“Kebahagiaan juga sama kayak dunia. Luas, banget. Bahkan belum setengahnya dirasain selama hidup ini, kayak lo bisa mikir bahagia gue batasnya ini ini ini, gue bahagia karena ini ini ini. Tapi lo nggak sadar sebenarnya kebahagiaan itu gak ada batasan sama sekali. Kayak, lo pikir dengan batas bahagia lo yang gini, lo gak akan bahagia lebih dari ini, tapi ternyata kadang jauh dari batas yang lo buat sendiri.”

“Yang jadi batasan itu cuma rasa takut lo, rasa takut yang nutupin diri sendiri. Ya gak sih?”

“Kayak, lo mau ini, lo yakin lo bakal bahagia karena ngelakuin ini, tapi lo takut.”

“Tapi dan selalu tapi yang jadi pembatas. Ya gak sih?”

Ini Hendery dari tadi ngomong ya gak sih di setiap ujung obrolan tetapi tetap saja dirinya berucap sendirian.

Ya karena Dejun sedang penuh dalam pemikirannya sendiri.

“Nih gimana ya semisal tapi diilangin sebentar. Ya sebenarnya rasa takut lo juga valid, takut manusiawi, cuma semisal itu jadi batas bahagia lo, apa nggak sayang?”

“At least, lo udah nyoba. Semisal gagal, toh gagal nggak selalu buruk, kan ya? Dari gagal lo, muncul lagi tuh opsi opsi lain yang di luar dugaan lo. Ya gak sih?”

“Jangan lupa bahagia Jun, karena lo juga berhak bahagia nggak cuma gue, atau orang sekitar lo. Lo juga berhak bahagia.”

“Om Winwin, Om Yuta juga pasti mau lo bahagia juga kok.”

Ucapan Hendery membuat Dejun terdiam.

Om Winwin dan Om Yuta.

Dejun jadi teringat isi surat yang diberikan Winwin untuk dirinya. Surat itu, bahkan belum sempat Dejun balas.

Apa benar jika kalimat Hendery ia gunakan untuk kasus ini, jika dirinya membuang kata tapi dalam pikirannya dan membalas surat dari Winwin, semua akan lebih baik daripada dugaannya.

Dejun hanya diam memandang pemandangan di depannya bahkan tak terasa angin semakin kencang meniup kesana kemari membuat Hendery langsung membuka mulutnya lagi.

“Udah mulai dingin, makin malem juga. Pulang yuk Jun?”

Dejun mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya. Belum juga keduanya jalan, Dejun sudah menarik tangan Hendery, memberhentikkan Hendery yang baru saja mau melangkahkan kakinya.

“Makasih ya Hen.”

“Buat?”

“Ya, buat hari ini? Oh iya, tadi tiket sama makanan berapa biar gue bayar sekarang takut lupa.”

“Gak usah Jun, anggap aja gue bayarin karena lo udah ngasih waktu lo sampe seharian gini.”

“Seriusan Hen, makanannya deh gue yang bayar.”

“Yaudah nanti aja lah gue lupa juga berapa harganya.”

Dejun mengangguk lalu keduanya berjalan keluar dari tempat tersebut lalu menuju tempat parkir motor Hendery.

Namun Dejun kembali memberhentikan aktifitas Hendery tetapi kali ini, ucapan Dejun membuat Hendery membeku di tempat.

“Lo gak jadi bikin video, Hen?”


@roseschies

his story

Setelah ketiganya update di twitter dan merenggangkan tubuhnya masing-masing, ini saatnya pembicaraan serius diantara ketiganya.

Apalagi kalah bukan gosip.

“Jadi gimana itu Win?” Ucap Ten tiba-tiba membuat dahi Winwin mengkerut, bingung. Sedangkan Taeyong sudah menyamankan duduknya, siap untuk mendengar cerita Winwin yang sudah ia pendam rasa penasarannya beberapa hari lalu.

Sewaktu mereka melakukan video call, ada sesuatu yang sebenarnya ingin Winwin ceritakan mengenai kedua anak angkatnya itu, tapi akhirnya Winwin mengurungkan niatnya mengingat ketiganya akan bertemu di waktu dekat untuk membuat kukis.

Ten sudah memeluk satu toples berisi kukis khusus untuk mereka bertiga. Posisi duduk mereka bertiga sekarang adalah Winwin-Ten-Taeyong, makanya kenapa Ten yang memegang toples tersebut karena Ten berada di sebelah keduanya.

“Bentar deh gue haus minum dulu.” Ucap Winwin lalu berdiri mengambil gelasnya kemudian mengisi air ke dalam gelas miliknya.

“Belom juga cerita udah haus aja lo Win.” Ujar Ten lalu Winwin kembali duduk di tempatnya kemudian meneguk minuman dari dalam gelasnya.

“Makanya ini, biar nanti ceritanya nggak kepotong gue minum dari sekarang.” Ucap Winwin setelah menghabiskan setengah air minum yang berada di dalam gelasnya.

“Eh tunggu, gue isi gelas juga bentar. Lo juga gak Ten?” Tanya Taeyong membuat Ten mengangguk.

“Ambil sendiri.” Ucap Taeyong lalu berlari menuju dispenser meninggalkan Ten yang rasanya ingin melempar toples ini kearah Taeyong.

“Sialan lo Yong.”

Akhirnya Ten ikut berdiri membawa gelasnya untuk ia isi di dispenser, amunisi takut takut kalau tengah cerita Winwin ia haus.


Setiap beberapa malam Winwin selalu menengok ke kamar Jaemin ataupun Dejun untuk sekedar bertanya bagaimana sekolah atau belajarnya.

Seperti yang sudah banyak orang tau, Jaemin perlahan sudah membalas panjang pertanyaan Winwin. Jaemin semakin responsif. Berbeda dengan Dejun. Dejun masih sama seperti Dejun yang biasanya, menjawab seadaanya.

Winwin melangkahkan kakinya dengan tangan yang sibuk membawa nampan berisi satu gelas susu hangat dan beberapa camilan untuk Dejun. Siapa tau susu hangat dan camilan yang diberikan oleh Winwin bisa menemani Dejun, pikir Winwin.

Winwin juga ingat, ujian masuk universitas Dejun tinggal menghitung hari lagi. Winwin yang tidak ingin membuat Dejun stress akibat belajar yang tiada henti juga dirinya yang memaksa untuk tetap mengajarkan Jaemin.

Winwin meletakkan nampan yang ia bawa di atas lemari yang ada di sebelah pintu kamar Dejun kemudian mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Dejun.

Belum juga jari-jari milik Winwin sampai pada permukaan pintu kamar, telinga milik Winwin sudah lebih dulu mendengar suara sesegukan seseorang dari dalam kamarnya.

Tubuh Winwin membeku kala ia mendengar suara tangisan itu semakin keras. Ia tidak salah dengar kok, suara itu, suara Dejun.

Baru saja Winwin ingin memutar kenop pintu kamar Dejun, aksinya itu sudah kembali berhenti lagi setelah ada suara seseorang dari dalam kamar Dejun.

“Ayah, Bunda. Dejun kangen sama Ayah Bunda.”

“Ayah, rasanya Dejun mau ikut sama Ayah. Ayah, tolong peluk Dejun, ajak Dejun masuk kedalam pelukan Ayah.”

“Bunda, semalam bunda datang ke mimpi Dejun. Bunda mau ngajak Dejun ya? Bunda, tolong ajak Dejun.”

“Tapi, Bunda, kalau Dejun ikut Bunda dan Ayah, Jaemin sama siapa? Dejun nggak mau Jaemin ikut kita. Dejun mau Jaemin selalu bahagia.”

“Ayah, Bunda. Dejun mau cerita, sedikit, boleh?”

Hening, tidak ada suara lanjutan hanya ada suara sesegukan dan tarikan nafas panjang di dalam kamar Dejun.

Winwin terdiam dengan tubuh yang mematung di depan kamar Dejun.

Winwin merasa bersalah telah menjauhkan Dejun dan Jaemin dengan tempat tinggal aslinya belum lagi makam kedua orang tua Dejun dan Jaemin, ada di sana.

Apa ini semua salah Winwin yang gegabah?

“Ayah, Bunda, Dejun bahagia di sini. Dejun senang diterima dan diberi banyak kasih sayang sama Om Winwin juga Om Yuta.”

Ucapan tersebut sukses membuat Winwin menggigit bibirnya, menahan tangisannya itu.

“Om Yuta dan Om Winwin, baik sekali sama Dejun. Baiknya bahkan terlalu baik sampai sampai rasanya Dejun nggak berhak untuk mendapatkan semua kebaikan itu dari Om Yuta dan Om Winwin.”

“Ayah, Bunda, apa salah kalau Dejun merasa kasih sayang yang diberi Om Yuta dan Om Winwin, sama besarnya dengan kasih sayang yang diberi Ayah Bunda untuk Dejun?”

“Hati Dejun rasanya hangat dan terasa dekat dengan Ayah dan Bunda disaat Om Yuta dan Om Winwin berada di dekat Dejun.”

Tubuh Winwin sudah tidak kuat menahan untuk tetap berdiri, ia bahkan jatuh terduduk di depan pintu kamar Dejun. Kalimat demi kalimat yang masuk ke dalam kuping Winwin, rasanya ingin Winwin menarik lelaki tersebut ke dalam dekapannya.

“Ayah, Bunda, Dejun bahagia bukan karena hanya itu. Jaemin di sini bisa nemuin temen yang cocok dengan dia. Bunda, ingatkan Dejun untuk tidak terlampau bahagia sampai rasanya ingin terbang sampai merusak genteng rumah Om Yuta. Dejun bahagia sekali, Bunda.”

“Jaemin, sejak dulu selalu menyendiri. Jaemin di sini menemukan temannya, Bun. Dejun, bahagia sekali.”

“Om Yuta dan Om Winwin, baik sekali. Ayah, Bunda, Dejun dan Jaemin rasanya seperti menemukan tempat singgah kedua yang begitu nyaman.”

“Dejun merasa bersalah karena ternyata Dejun menemukan tempat singgah yang sama seperti Ayah dan Bunda.”

“Ayah, Bunda. Gimana caranya Dejun bisa lebih terbuka sama Om Winwin dan Om Yuta?”

“Dejun ingin membalas semua perlakuan baik hingga kasih dan sayang yang diberikan Om Yuta dan Om Winwin untuk Dejun.”

“Ayah, Bunda. Dejun, sayang sama Om Yuta dan Om Winwin, sebesar Dejun sayang Ayah dan Bunda.”

Dejun menangis sejadinya, air matanya sudah membasahi setengah buku ujian miliknya.

Dejun, bukan tidak tau gimana caranya ia membuka diri untuk kedua omnya yang sudah berusaha untuk terus menghidupkan dirinya dan adiknya itu. Tetapi, Dejun rasanya seperti bersalah, entah mengapa.

Tetapi, semakin ia seperti ini, rasa bersalahnya akan semakin besar. Lagi, ia bingung dengan dirinya.

Dejun, lelah. Dejun lelah untuk tetap baik baik saja. Dejun lelah untuk terus bersikap sebagai orang tua juga sebagai kakak untuk Jaemin.

Semua terasa terburu-buru bagi Dejun. Namun, Dejun merasa dipaksa oleh keadaan.

Tidak, Dejun memaksa dirinya sendiri. Bukan, bukan keadaan yang memaksa dirinya.

Dirinya terlalu sibuk untuk terus membahagiakan adik satu-satunya, mencoba untuk tidak mengecewakan kedua omnya yang sudah siap menampung dia dan adiknya.

Tetapi Dejun lupa, dirinya sudah terlalu lelah untuk melakukan semua hal secara bersamaan. Dejun lupa, ia membutuhkan tempat cerita, mengeluarkan semua keluh kesah yang ia rasakan belakangan ini.

Dejun terlalu keras dengan dirinya sendiri.

Semua materi ujian, rasanya sudah terlalu menumpuk dengan rasa lelah di dalam kepalanya dan Dejun, tidak tau kemana ia harus mengeluarkan semua keluh kesahnya.

Adiknya? Tidak. Dejun tidak akan pernah mau membuat adiknya itu khawatir dengan dirinya.

Om Yuta dan Om Winwin? Dejun rasanya terlalu merepotkan jika ia mengeluarkan keluh kesahnya.

Winwin yang masih terduduk dengan air mata yang terus menetes dari matanya langsung mengusap air mata tersebut lalu berdiri kemudian mencari kertas dan pulpen yang berada di dekat sana.

Hai, Mas Dejun.

Mas Dejun, mas adalah manusia paling kuat dan hebat bagi Om Winwin. Maafin Om karena sudah lancang mendengar curahan hati Dejun malam ini. Niat Om ingin memberikan susu dan camilan untuk menjadi teman Dejun. Tetapi, om sadar, bukan susu dan camilan yang Dejun butuhkan. Dejun butuh seseorang untuk mendengar semua keluh kesah yang Dejun jaga sendirian.

Mas Dejun, kalau mas lupa, om selalu ada di sini, di samping Dejun, di belakang Dejun, dan di depan Dejun. Om selalu ada untuk Dejun. Kalau mas Dejun masih malu untuk bercerita sama Om, pakai surat ini untuk balas ucapan Om.

Mas Dejun, capeknya mas, mau dibagi sama om? Om dengan sangat amat merasa senang kalau mas mau berbagi apa yang mas rasain ke Om.

Mas Dejun, terima kasih. Terima kasih sudah menyayangi Om Winwin dan Om Yuta sama besar dengan kedua orang tua mas. Kami, juga menyayangi mas dan nana sama besar seperti orang tua yang menyayangi anaknya sendiri.

Mas Dejun, bahagianya mas, menunggu tuh di depan.

Susu dan camilan untuk mas Dejun.

— Om Winwin.

p.s: kalau mas kangen sama ayah dan bunda, bilang ya nanti kita pergi jenguk ke makam ayah dan bunda mas dan nana. dengan senang hati, kami akan antarkan kemanapun mas dan nana ingin pergi.

p.s.s: terima kasih, sudah bertahan dan terus bertahan, mas.

p.s.s.s: aduh tintanya habis, yaudah pokoknya, om selalu ada buat mas di sini.

Setelah menulis surat tersebut, Winwin memasukkan surat tersebut melalui lubang bawah pintu lalu mengetuh pintu kamar Dejun kemudian Winwin langsung lari meninggalkan kamar Dejun.


Ten dan Taeyong yang dengan khidmat mendengar cerita dari Winwin ikut menangis bombay.

“Hiks— Mas Dejun.” Ucap Ten disela-sela tangisannya itu.

Sedangkan Taeyong masih sibuk dengan tissue, hidungnya meler akibat menangis.

“Terus mas Dejun udah jawab surat lo Win?” Tanya Ten setelah mengelap air matanya.

Winwin menggelengkan kepalanya, “Belum, yang penting susu dan camilannya habis dimakan sama dia. Tadi pagi juga dia mulai senyum ke gue. Dia juga kaget mungkin adiknya tiba-tiba sakit. Gapapa, nggak mudah buat mas Dejun. Gue sama Yuta selalu sabar menunggu kok. Bahkan kami berdua nggak mengharapkan apa apa, cukup mas dan nana bahagia. Udah itu aja.”

Ten dan Taeyong mengangguk setuju.

Tak di sangka, tidak jauh dari di mana Ten, Taeyong, dan Winwin duduk. Hendery yang sebenarnya sedang ada di rumah karena hari ini ia tidak ada kelas sama sekali, niatnya ia ingin turun untuk mengambil yogurt dan cemilan di bawah setelah mendengar suara Winwin menyebut nama Dejun, Hendery langsung duduk di ujung tangga.

Iya, Hendery sejak tadi menguping di sana. Mendengarkan semua cerita yang dilontarkan oleh Winwin hingga akhir.

Tak jadi mengambil yogurt dan cemilan, Hendery langsung naik kembali ke kamarnya lalu mengambil ponselnya. Merencanakan sesuatu.


@roseschies

Cookies dan bolu karamel

Setelah Ten membukakan pintu untuk Taeyong yang sedari tadi sudah memencet bel rumahnya, Taeyong masuk ke dalam rumah Ten sambil membawa tentengan berisi bahan bahan yang ada di rumahnya.

“Gue taro sini ya Ten??” Taeyong meletakkan tentengan tersebut tidak jauh dari pantry yang ada di dapur sedangkan Ten sedang mengatur oven karena setelah ia baca cara membuat kukisnya pertama adalah atur oven sampai panas dulu.

Mereka lebih sering buat bolu atau kue dibanding kukis. Tetapi kali ini mereka lebih memilih untuk membuat kukis tentu untuk para anak anaknya itu.

Mereka tetap membuat bolu karamel sih, untuk mereka sendiri dan suami masing-masing.

Ten memberikan Taeyong apron untuk digunakan oleh lelaki itu lalu Taeyong memakai apron tersebut. “Tolongin dong Ten iketin.”

Ten langsung membantu mengikat tali apron tersebut.

“Woi woi santai aja ngiketnya anjir lo mau ngebunuh gue apa gimana.” Taeyong berdecak kesal sedangkan Ten tertawa karena ia mengikat tali apron tersebut lumayan kencang.

Taeyong mengambil ponsel Ten yang diletakkan di meja lalu membaca resep dan langka-langkah untuk membuat kukis.

“Tepung, baking soda, sama garem Ten. Eh ini mangkoknya gue pake yang ini yaa,” Ucap Taeyong lalu memberitahu Ten yang sedang mengambil tepung itu sebuah mangkok besar yang akan digunakan oleh Taeyong.

Ten mengangguk, “Iya pake yang itu aja kayaknya lebih gede. Nanti buat bolu gue cari lagi.”

“Nih tepungnya, itu baking sodanya di situ sama nih garem. Apalagi? Gue sambil ngeliatin oven sama siapin loyang buat nanti lo bikin kukisnya di atas loyang.” Tanya Ten pada Taeyong membuat Taeyong mengecek kembali ponsel milik Ten.

“Buat di mangkok lain butter yang udah dilelehin, gula pasir, gula palem, sama ekstrak vanila. Bentar ekstrak vanilanya ada di tentengan gue, ini butternya biar gue aja yang lelehin dulu deh.” Ucap Taeyong lalu Ten mengangguk kemudian keduanya berpencar mengambil bahan masing-masing.

Tak lama kemudian terdengar suara bel membuat Ten langsung berlarian keluar rumah untuk membukakan Winwin pintu.

“Aduh sorry ya gue telat, Nana baru tidur gue khawatir banget kalo gue tinggal.” Ucap Winwin setelah masuk ke dalam rumah Ten.

“Santai aja Win ini gue sama Taeyong juga baru mulai kok.” Ujar Ten lalu keduanya jalan menuju dapur menemui Taeyong.

“Hai Win!” Panggil Taeyong membuat Winwin tersenyum lalu meletakkan tentengan miliknya di sebelah tentengan milik Taeyong sedangkan Ten mengambil apron lainnya untuk Winwin.

“Eh Yong, udah mulai? Ini buat kukis dulu apa bolu dulu?” Tanya Winwin setelah melihat Taeyong yang sedang melelehkan butter di penggorengan.

Taeyong mengangguk, “Baru mulai kok ini gue lagi buat adonan kukis sih. Bolu karamel kan jagoan lo jadi nungguin lo aja takut salah salah takaran juga.”

Winwin tertawa, “Oke oke sini gue bantuin siapin bahan lainnya buat kukis.”

“Eh tunggu, ini pake apron dulu Win.” Ucap Ten lalu memberikan apron tersebut untuk Winwin kemudian Winwin memakai dan mengikat apron itu sendiri.

“Ini yang di adonan pertama mangkok yang ini apa aja isinya Yong?” Tanya Winwin sambil menunjuk mangkok yang lebih besar.

“Itu tepung, baking soda, sama garem Win. Takarannya coba liat di ponsel Ten itu di sebelah mangkok yang lebih kecil.” Ucap Taeyong sambil menunjuk ponsel Ten di sana.

Winwin mengangguk, “Oke okee.”

“Ovennya udah mulai agak panas, gue kecilin dulu sini gue bantu bikin adonan lainnya. Itu butternya udah Yong?” Tanya Ten lalu berjalan menuju sebelah Winwin, mendekati mangkok adonan kedua sambil menunggu Taeyong yang melelehkan butter.

“Awas awas panas nih, butternya udah. Masukin Ten bahan kedua di mangkok yang kecil biar gue masukin butternya.” Ucap Taeyong sambil membawa penggorengan dengan butter yang sudah meleleh.

Ketiganya saling bekerja sama mengadon adonan untuk kukis sampai akhirnya semua adonan sudah siap mereka bentuk di atas loyang yang sudah Ten bersihkan dan ia taro kertas khusus di atas loyang tersebut.

“Woiii bulet bikinnya anjir lo kegedean itu bikinnya!” Teriak Taeyong melihat Ten yang terlalu bersemangat memencet plastik berisi adonan membuat adonan tersebut terlalu besar berbeda dengan buatan dirinya dengan Winwin.

Ten terkekeh, “Yaudah anjir itu nanti gue yang makan deh gapapa lumayan gede.”

“Ntar kalo nggak mateng dalemnya biarin aja.” Tambah Winwin.

“Makanyaa buat gue aja itu jangan diambil nanti gue yang makan” Ucap Ten lalu ketiganya kembali memencet plastik berisi adonan tak lupa mereka menaburkan chocolate chips diatas adonan tersebut.

“Jadinya banyak juga ini,” Ucap Winwin setelah adonan miliknya habis.

“Baru kukis aja udah berapa loyang sendiri. Ini loyang lo udah cuma segini aja Ten?” Tanya Taeyong membuat Ten berfikir sejenak.

“Bentar kayaknya gue nyimpen loyang tambahan cuma 2. Tunggu gue cek di gudang deh.” Kemudian Ten langsung berjalan menuju gudang untuk mencari loyang tambahan.

Tak lama kemudian Ten datang membawa 2 loyang tambahan lalu Winwin mengambil loyang tersebut kemudian ia cuci. “Masih ada sisa adonan kukisnya?”

“Sedikit lagi sih ini. Muat satu loyang kayaknya.” Ucap Ten setelah melihat sisa adonan yang masih ada di mangkok.

“Yaudah ini lo berdua masukin di loyang ini, udah gue cuci. Gue cuci mangkok bekas ngadon tadi dulu deh biar bisa lanjut bikin adonan bolunya.” Ucap Winwin sambil memberikan satu loyang pada Taeyong yang berada di belakangnya kemudian Taeyong dan Ten kembali memasukan adonan ke dalam plastik lalu mereka bentuk di atas loyang.

Winwin masih lanjut mencuci bersih barang barang yang mereka gunakan untuk membuat kukis.

“Ini berapa lama di ovennya?” Tanya Taeyong pada Ten yang saat ini sedang memegang ponsel miliknya.

“11 menit sih di sini, cuma bilangnya sampai kuning kecoklatan. Tergantung adonan lo juga berarti sebesar apa.” Ucap Ten lalu ikut berada di belakang Taeyong, melihat Taeyong yang sedang mengatur oven.

“Patokannya bukan kukisnya si Ten berarti, yang ada nanti itu udah mateng yang lain gosong.” Ucap Taeyong membuat Winwin yang baru saja selesai mencuci piring langsung tertawa sedangkan Ten yang berada di belakang Taeyong langsung memukul lengan Taeyong.

“Sialan lo Yong. Eh, udah kelar Win? Sini gue bantuin bikin adonan bolunya biar kukisnya dijagain Taeyong.”

“Udah ini gue butuh panci sama loyang buat bolunya, biar bahannya gue siapin deh.”

Kemudian Ten mengambil panci dan loyang khusus bolu sedangkan Winwin mengambil bahan bahan di dalam tentengannya untuk bahan bolu karamel.

“Ini pancinya taro mana Win?” Tanya Ten setelah mencuci bersih pancinya.

“Di kompor aja, soalnya mau lelehin gula.” Ucap Winwin kemudian mendekat kearah kompor dengan bahan bahan pertama yang akan ia gunakan di dalam panci.

“Apalagi Win? Aduh wanginya udah harum banget itu kukisnya Yong, belom mateng?”

Taeyong melihat ke dalam oven kemudian menggeleng, “Dikit lagi sih ini.”

“Kocokin telur aja Ten, sama ini bahan bahan yang di sini nanti masukin semua satu mangkok.” Ucap Winwin sambil mengarahkan Ten bahan apa saja untuk adonan bolu ini.

Ten mengangguk paham lalu mengocok telur kemudian memasukan bahan bahan untuk bolu tersebut.

“Aduh! Eh ini loyang yang udah mateng taro mana? Aduh panas anjir woi jawab cepetan.” Taeyong mengaduh kesakitan akibat panas loyang yang ternyata masih terasa sampai kulit tangannya padahal ia sudah menggunakan sarung tangan oven.

Ten dan Winwin tertawa lalu Ten menunjuk tempat yang tak jauh dari Taeyong. “Taro situ aja Yong, disuruh di dinginin dulu kan baru dimasukin toples.”

Taeyong berlarian sambil membawa loyang lalu meletakkan loyang tersebut kemudian mengangguk, “Iya. Dicobain dulu enak gak baru masukin toples.”

“Yaiya dicobain dulu, tapi pasti enak sih.” Ucap Ten membuat Taeyong dan Winwin mengangguk.

“Ten liat Ten ini adonan lo yang kegedean, plis ngakak banget anjir dia gede sendiri.” Ucap Taeyong lalu tertawa sambil menunjuk adonan yang tadi Ten buat terlalu besar.

Ten berjalan menuju Taeyong sambil membawa adonan bolu di tangannya kemudian tertawa, “Anjir beneran belendung banget dong itu kukis. Yaudah nanti gue cobain yang itu, tapi gak gagal gagal banget sih itu.”

“Ini menteganya udah cair mana adonananya Ten.” Panggil Winwin yang sedang melelehkan mentega lalu Ten langsung berjalan kembali menuju Winwin kemudian memberikan adonan yang sedari tadi ia kocok.

“Ini loyangnya Win, udah gue cuci.” Ucap Ten lalu memberikan loyang untuk bolu tersebut pada Winwin.

Ketiganya lumayan menghabiskan waktu banyak untuk membuat 6 loyang kukis dan 2 loyang bolu karamel. Mereka juga sudah mencoba kukis yang perdana mereka buat, ternyata rasanya enak juga kok. Kalau bolu karamel sih, mereka sering bikin apalagi Winwin, sudah jagonya.

Setelah semua kukis dimasukkan ke dalam toples dan bolu yang sudah disimpan, ketiganya melepas apron masing-masing lalu duduk di sofa, merenggangkan tubuh masing-masing dan langsung mengambil ponsel untuk update di twitter.


@roseschies

Daddy dan Papa

Hendery sudah berdiri di dekat pintu masuk dengan tangan yang sibuk memegang kue yang sudah ia dan adiknya pesan.

Suara mobil milik Johnny sudah berhenti yang berarti adik dan kedua orang tuanya itu sudah semua keluar dari mobil bahkan Hendery sudah bisa mendengar suara Haechan dan Ten berbincang di luar sambil tertawa bersama.

Johnny membuka pintu sambil menertawai lelucon yang baru saja dilontarkan oleh Haechan, “Nemu darimana itu ka—”

Tiba-tiba saja ucapan Johnny terputus bersamaan dengan suara terompet yang terdengar kencang membuat Johnny terdiam sambil memegang kenop pintu rumahnya.

Johnny dan Ten sama sama diam memandang Hendery yang berdiri di depan keduanya sambil memegang kue bertuliskan “Happy Anniversary”.

Hendery mengambil mahkota yang sebelumnya ia letakkan di meja samping tak jauh dari dirinya lalu ia pakai kan mahkota tersebut ke kepala Johnny sedangkan Haechan yang baru saja mengambil mahkota yang terletak di sebelah pintu langsung memasangkan mahkota yang lebih kecil di kepala Ten membuat Ten terkejut.

Johnny dan Ten masih melongo, otaknya masih stuck dan diam. Mereka berdua sama sama terkejut.

Haechan berjalan menuju samping Hendery kemudian mulai bernyanyi sambil menepuk kedua tangannya.

“Selamat ulang tahun— pernikahan. Selamat ulang tahun— pernikahan. Selamat ulang tahun— pernikahan Daddy, Papa~”

Meskipun sedikit maksa bagian pernikahannya tetapi Haechan tidak peduli dan tetap bernyanyi diikuti oleh Hendery yang juga ikut bernyanyi untuk Daddy dan Papanya yang masih terkejut.

Ten bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan akibat terlalu kaget dengan hal yang bahkan tidak ia ekspetasi sama sekali.

Hendery memajukan tubuhnya mendekat kearah Johnny dan Ten, “Nggak ada lilin karena kemarin Abang sama Dede cari lilin sampe muter muter nggak ketemu yang cocok. Jadi, pura pura ada aja ya Dad, Pa.”

“Ayo tiup lilin invisiblenya Dad, Pa!” Ucap Haechan membuat Johnny dan Ten refleks meniup lilin yang tidak ada itu kemudian Haechan kembali bertepuk tangan dan mengambil kue tersebut lalu ia letakkan di meja samping.

Belum juga Johnny dan Ten membuka mulutnya, Hendery sudah lebih dulu angkat bicara.

“Dad, Pa, maaf ya Abang sama Dede belum bisa jadi anak yang berbakti kayak anak anak lain. Abang sama Dede juga belum bisa jadi anak yang bisa diandalkan buat Daddy sama Papa. Tapi Abang sama Dede mau berterima kasih sama Daddy dan Papa. Makasih Dad, Pa untuk semuanya. Daddy sama Papa udah ngurus kita berdua sejak dari jaman dalam perut sampai sebesar ini. Bahkan, semuanya nggak ada yang bisa bandingin usaha Daddy sama Papa buat besarin kita.

Daddy sama Papa adalah orang tua terbaik, terima kasih banyak ya Daddy Papaaa, ngurusin kita berdua pasti capek banget ya hehehe. Maaf ya Daddy Papaa. Kita berdua sayang sama Daddy dan Papa. Selamat hari ulang tahun pernikahan, Daddy Papa!!” Hendery mengucapkan kalimat tersebut dengan mata yang berkaca-kaca, ia bahkan menatap mata kedua orang tuanya secara bergantian.

Hendery maupun Haechan rasanya sangat berterima kasih kepada dua lelaki hebat yang berada di depan mereka ini. Tumbuhnya mereka semua berkat usaha orang tua mereka.

Ten yang sudah menangis sesegukan langsung mengangguk dan mengelap air matanya yang tidak ada hentinya keluar dari mata miliknya itu.

Sedangkan Johnny langsung mendongakkan kepala guna menahan air matanya yang hampir keluar dari pinggir matanya lalu mengusap pinggir mata tersebut.

Hendery dan Haechan langsung berhamburan menuju pelukan Johnny dan Ten membuat keduanya langsung menangkap tubuh anak mereka.

Ten mengelus surai milik Haechan yang berada di dekapannya dengan lembut sedangkan Johnny memeluk erat tubuh Hendery, anak sulungnya ini, luar biasa.

Johnny dan Hendery keduanya mati-matian menahan air mata yang hampir turun dari matanya. Bahkan, jika keduanya berkedip bisa saja air matanya langsung menetes.

Johnny melepaskan pelukannya dengan Hendery lalu menepuk kedua pundak Hendery kemudian menatap kedua mata Hendery yang sudah berkaca-kaca sama dengan dirinya.

“Abang, Dede terima kasih banyak. Kami berdua bahkan lupa hari ini ulang tahun pernikahan kami. Terima kasih ya udah selalu ingat tanggal kebahagiaan kami. Capeknya Daddy dan Papa semua terbayar karena kami berdua punya dua anak yang luar biasa hebat. Daddy dan Papa juga sayang sama Abang dan Dede.” Ucap Johnny sambil mengelus pucuk kepala Hendery, Haechan, dan Ten bergantian. Ketiga lelaki, yang selalu ia banggakan dalam hidupnya.

Ten tiba-tiba terkekeh sambil mengelap air matanya, “Ohh... Pantes kemarin aneh banget kelakuan kamu berdua jadi ini ya hahahaha.. Papa pikir kamu kesambet darimana, semaleman Daddy sama Papa mikirin sebelum tidur takut ada apa apa.”

“Sekali lagi terima kasih ya sayang. Papa dan Daddy bahagia kok mau abang dan dede kayak gimana. Kami punya kriteria sendiri untuk anak kami berdua dan abang dede udah terbaik dari yang terbaik.” Lanjut Ten kemudian seperti Johnny, ia mengelus pucuk kepala Hendery dan Haechan.

“Kita begini karena hasil didikan Daddy dan Papa, tanpa Daddy dan Papa kita nggak akan mungkin kayak gini. Apalagi keanehannya heheheh” Ucap Haechan lalu hidungnya langsung dicubit oleh Ten, gemas lihatnya.

Sebelum terlalu larut dan lupa, Haechan menarik tangan Ten dan Johnny bersamaan untuk masuk ke dalam rumahnya lalu memperlihatkan ruang tamu yang sudah di dekor oleh Hendery.

“Tadaaa~ Ini hasil dekor Abang selama beberapa jam tadi hehehe. Bagus kan Dad, Paa??” Ucap Haechan sambil memperlihatkan dekorasi tersebut.

Johnny dan Ten kembali terpukau. Dekorasi ini sangat simpel juga sangat bagus mengingat waktu yang Hendery gunakan untuk mendekor seperti ini tidak banyak dan Hendery melakukannya sendirian.

“Ini Abang yang dekor sendiri? Bagus banget bang... Makasih banyak ya Abang dan Dede juga, yaampun kalian tuhh.” Ucap Ten lalu melihat-lihat kembali dekorasi yang dibuat oleh Hendery begitu juga dengan Johnny. Dirinya terkejut karena anak sulungnya ini ternyata punya bakat terpendam. Buka event organizer kayaknya bisa nih.

“Ayo makan kuenyaaa, enak banget ini pilihan Dede.” Ajak Haechan lagi lalu mengambil kue tadi kemudian keempatnya duduk di sofa.

Akhirnya mereka menghabiskan waktu sambil makan kue dan saling melemparkan lelucon menambah canda tawa bersama diantara lingkaran mereka. Bahkan, Johnny juga menceritakan masa lalu dirinya yang bisa dibilang sangat buruk, tentu Johnny belum sempat menceritakan hal tersebut pada dua anaknya. Johnny menceritakan semua tanpa tertinggal sampai akhirnya Johnny dipertemukan oleh Ten.

Mendengar cerita Johnny membuat Haechan dan Hendery terkagum-kagum oleh kedua orang tuanya, lagi dan lagi.

“Sekarang Abang tau kenapa Abang dan Dede bisa kuat, karena kita punya Papa dan Daddy yang sama sama kuat.” Celetuk Hendery sedangkan Haechan setuju dengan ucapan Hendery.

Johnny dan Ten langsung saling melemparkan senyuman, keduanya berhasil.

Entah berhasil dalam konteks apa. Tetapi, rasanya keduanya sudah berhasil membangun keluarga kecilnya dengan hangat.

Tak lain dan tak bukan, baru saja suasana damai mereka rasakan, kali ini suara teriakan Haechan sudah terdengar.

“BABANG AH AMBIL AMBIL KUE DEDE!!”

“Dih, gitu aja kokk. Lo kan bisa ambil lagi tuh tuh masih banyaakkkk.”

“Abang juga bisa ambil lagi tuh, sana sanaa ngapain sih ih jorokkk.”

Johnny dan Ten tersenyum, ah... Rasanya kembali mendengar kerusuhan diantara kedua anaknya membuat mereka berdua senang. Aneh memang.

Johnny menarik tubuh Ten yang berada disampingnya lalu merangkul tubuh Ten itu lalu berbisik tepat dikuping Ten, “Terima kasih, malaikatku.”

Ucapan Johnny membuat pipi Ten memanas hingga memerah. Ten tersenyum lalu mengecup pipi Johnny kilat, “Terima kasih udah bertahan dan terus belajar untuk membangun keluarga kecil juga membesarkan dua anak bareng aku. Aku sayang sama kamu, Jo.”

Johnny mengelus surai milik Ten gemas lalu terkekeh mendengar suara teriakan lainnya dari Haechan. Iya, mereka beromantis ria dengan background kedua anaknya yang sedang adu mulut.

Bukan, bukan adu mulut sih lebih tepatnya Hendery yang gemar menjahili sang adik dan Haechan yang rasanya ingin mengubur sang kakak hidup hidup.


@roseschies