roseschies

sugus dan warkop

Setelah lumayan banyak memakan waktu dari menunggu pesanan sampai cerita dari a sampai z, akhirnya ketiga lelaki itu sampai pada makanan penutup mereka yaitu es campur.

“Temen lo siapa si namanya? Penasaran gue, jadi dendam nih pengen gue cubit bibirnya sekata-kata aja kalo ngomong.” Ucap Lucas sambil menyuap es campur dengan sendok ke dalam mulutnya.

Hendery mengangguk ikut setuju, “Asli. Kalo gak ada mereka pasti adem adem aja hidup ya nggak sih.”

“Iya lah, semua akar permasalahan emang ada di mulut temennya si Mark, sialan emang. Udah nimbulin masalah, eh nggak keliatan pula batang idungnya.” Tambah Lucas lagi, menggebu-gebu emosi miliknya.

Mark menggedikkan bahunya, “Dahlah gue nggak mau inget inget lagi. Gue mau fokus benerin diri dan benerin semuanya.”

Lucas yang greget rasanya ingin menabok semua orang yang lewat depan mukanya, sayang saat ini nggak ada orang yang lewat depan dirinya sama sekali.

“Hih, yaudahlah. Bodoamat dendam kesumat gue sama itu orang yang nggak tau siapa lah.”

Hendery tertawa, “Lo kenapa sih anjir Cas, heran banget gue.”

“Ya lagian dia udah bikin bola bola ubi gue sedih terus bikin temen gue kayak gini. Lo nggak kesel apa Hen.”

Hendery mengangguk, wah kalau ditanya kesel apa enggak sudah pasti jawabannya kesel. Banget. Tapi ya mau gimana masa dirinya harus sewa jasa detektif untuk mencari siapa teman Mark.

“Lo pikir aje sendiri Cas. Gue nggak kesel namanya gue bukan manusia anjir.”

Sedangkan Mark yang berada di tengah antara Hendery dan Lucas hanya diam sambil mengaduk-aduk es campur miliknya.

Jujur, ia merindukan Haechan.

Hendery yang melihat Mark hanya diam bengong langsung menepuk pundak Mark, “Woi.”

“HAE— Hah apa?”

Mendengar ceplosan Mark membuat Lucas tertawa sedangkan Hendery hanya menggeleng.

“Kaga, lo bengong aja ngeri kesambet.” Lanjut Hendery.

Sedangkan Lucas, “Kesambet setan Haechan iya kayaknya.”

Rasanya Mark mau mengumpat aja, malu.

“Kangen lo ya sama adek gue?” Tanya Hendery sedangkan yang ditanya hanya diam saja masih sambil mengaduk es campur yang sudah hampir meleleh sempurna itu.

Bak sebuah karma yang langsung menimpa Mark. Jika sebelumnya Haechan-lah yang selalu seperti ini, merindukan Mark. Sekarang kebalikannya.

“Nanti kalo udah mendingan, gue ceritain pelan-pelan tentang masalah lo ke adek gue. Adek gue untuk sementara waktu pasti mau jauh jauh dari jangkauan lo dulu.” Ucap Hendery. Dipikir, Haechan memang seharusnya mengetahui akar masalah yang terjadi pada Mark, kan?

“Thanks Hen. Kontak gue di block kayaknya sama adek lo. Yaudah gapapa, gue kasih ruang buat dia. Gue emang udah keterlaluan juga hahaha.” Ucap Mark diakhiri dengan tawa yang terdengar seperti tawa palsu. Ia lebih ke menertawakan dirinya sendiri.

Tetapi, Hendery dan Lucas malah mengangguk menyetujui. Ya memang nggak ada salahnya sih ucapan Mark.

“Eh, ujian masuk univ bulan depan ya?” Tanya Lucas tiba-tiba membuat Hendery teringat akan Dejun, lelaki itu kan hendak mengikuti ujian masuk univnya.

“Lah iya udah mau bulan depan. Nggak sadar gue.” Timpal Hendery setelah mengecek kalender yang ada di dalam ponselnya.

“Dejun gimana Hen?”

Hendery menggedikkan bahunya, sudah lama juga ia tidak bertukar pesan dengan Dejun. “Terakhir sih gue udah ngasih rekomen buku buat belajar belajar. Nanti deh gue coba tanya sekalian bantu.”

Setelah es campur milik ketiganya habis dan juga mereka yang lelah bercuap-cuap selama hampir dua jam akhirnya mereka mengabgkat dirinya keluar dari warkop karena waktu yang sudah hampir menunjukkan jam 3, jam Mark untuk masuk kelas sorenya itu dan jam untuk Hendery menjemput adiknya di sekolah.

Sejak 15 menit lalu ponselnya sudah heboh akibat adek dan papanya yang berisik mengingatkan dirinya untuk menjemput Haechan.

Haechan masih sebel karena abangnya itu sempat lupa untuk menjemput dirinya.


@roseschies

Nighty Night.

Setelah meletakkan ponselnya di nakas, Johnny mencolek-colek lengan Ten yang masih sibuk cekikikan akibat sedang vidcall dengan Taeyong dan Winwin.

Ten menengok kearah Johnny lalu menaikkan satu alisnya bermaksud bertanya ada apa.

Johnny hanya menjawab dengan sebuah cemberut, bibirnya melengkung kebawah lalu kembali mencolek-colek lengan Ten kemudian Johnny mengucapkan sepatah kalimat tidak bersuara, “Mana katanya mau kelonan”.

Melihat hal tersebut membuat Ten menggeleng-geleng lalu kembali melihat kearah ipadnya yang masih terpampang muka Taeyong dan Winwin, “Udah malem, udahan dulu lah ya sakit perut gue ketawa mulu. Eh Win, besok jadi ke rumah? Mau ikut nggak Yong?”

Gue nggak jadi ten, ternyata besok nggak bisa. Sorry, next time deh gimana?

Emang pada mau ngapain?

Nggak ngapa-ngapain sih, bosen aja niatnya mau baking.

“Yaahhh, yaudah gapapa Win. Ini, gue lagi mau nyoba baking Yong. Sekalian buat bikinin Haechan yang manis manis.”

Kalo mau baking ikut dong, kabarin aja kapannya di grup ya. Besok juga gue nggak bisa sih soalnya mau ke rumah nyokap bentar.

Johnny mulai mencolek-colek lengan Ten lagi.

Kok gak selesai selesai sih, rutuk Johnny dalam hati.

“Yaudah nanti kita omongin aja di grup ya. Bye!”

Tut

Kemudian Ten menaruh ipadnya di nakas sebelah kasurnya lalu mencubit pipi Johnny dengan gemas, “Ih dasar bayi gede nggak sabaarrr”

“Hehehe biarin dong, abisan kamu nggak kelar kelar aku butuh recharge tenaga nih.”

Johnny kemudian menarik tubuh Ten masuk ke dalam pelukannya dan membuat Ten sukses tenggelam di dekapan Johnny.

Ten menghirup tubuh berbau maskulin milik Johnny, meresapi wangi suaminya itu. Rasanya sangat nyaman dan selalu menjadi wangi favoritnya.

“Kamu jadi besok ke mana dong? Mau ikut ke kantor aku aja?” Tanya Johnny sambil mengelus rambut milik Ten kemudian lanjut mengecup pucuk kepala Ten.

Ten menggeleng, “Nggak ah, ngerepotin kamu nanti. Aku di rumah aja bebersih gallery paling.”

“Bener nih nggak mau ikut?”

“Iyaaa benerr.”

“Yaudah kalau gitu. Besok dede aku yang anter dulu kan pulangnya sama abang?”

Ten mengangguk, “Iyaa. Besok dia kelasnya pagi semua jadi sorenya bisa jemput dede.”

Johnny mengangguk paham kemudian kembali mengelus rambut Ten sedangkan Ten semakin memeluk tubuh Johnny, entah ia rasanya hanya membutuhkannya untuk saat ini.

Terlalu nyaman dengan elusan yang diberikan Johnny, perlahan Ten menutup matanya hingga menjemput mimpinya.

Johnny yang mulai mendengar dengkuran halus dari Ten ikut tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala suami mungilnya, “Good night and sleep well, sayangku.”


@roseschies

Nighty Night.

Setelah meletakkan ponselnya di nakas, Johnny mencolek-colek lengan Ten yang masih sibuk cekikikan akibat sedang vidcall dengan Taeyong dan Winwin.

Ten menengok kearah Johnny lalu menaikkan satu alisnya bermaksud bertanya ada apa.

Johnny hanya menjawab dengan sebuah cemberut, bibirnya melengkung kebawah lalu kembali mencolek-colek lengan Ten kemudian Johnny mengucapkan sepatah kalimat tidak bersuara, “Mana katanya mau kelonan”.

Melihat hal tersebut membuat Ten menggeleng-geleng lalu kembali melihat kearah ipadnya yang masih terpampang muka Taeyong dan Winwin, “Udah malem, udahan dulu lah ya sakit perut gue ketawa mulu. Eh Win, besok jadi ke rumah? Mau ikut nggak Yong?”

Gue nggak jadi ten, ternyata besok nggak bisa. Sorry, next time deh gimana?

Emang pada mau ngapain?

Nggak ngapa-ngapain sih, bosen aja niatnya mau baking.

“Yaahhh, yaudah gapapa Win. Ini, gue lagi mau nyoba baking Yong. Sekalian buat bikinin Haechan yang manis manis.”

Kalo mau baking ikut dong, kabarin aja kapannya di grup ya. Besok juga gue nggak bisa sih soalnya mau ke rumah nyokap bentar.

Johnny mulai mencolek-colek lengan Ten lagi.

Kok gak selesai selesai sih, rutuk Johnny dalam hati.

“Yaudah nanti kita omongin aja di grup ya. Bye!”

Tut

Kemudian Ten menaruh ipadnya di nakas sebelah kasurnya lalu mencubit pipi Johnny dengan gemas, “Ih dasar bayi gede nggak sabaarrr”

“Hehehe biarin dong, abisan kamu nggak kelar kelar aku butuh recharge tenaga nih.”

Johnny kemudian menarik tubuh Ten masuk ke dalam pelukannya dan membuat Ten sukses tenggelam di dekapan Johnny.

Ten menghirup tubuh berbau maskulin milik Johnny, meresapi wangi suaminya itu. Rasanya sangat nyaman dan selalu menjadi wangi favoritnya.

“Kamu jadi besok ke mana dong? Mau ikut ke kantor aku aja?” Tanya Johnny sambil mengelus rambut milik Ten kemudian lanjut mengecup pucuk kepala Ten.

Ten menggeleng, “Nggak ah, ngerepotin kamu nanti. Aku di rumah aja bebersih studio paling.”

“Bener nih nggak mau ikut?”

“Iyaaa benerr.”

“Yaudah kalau gitu. Besok dede aku yang anter dulu kan pulangnya sama abang?”

Ten mengangguk, “Iyaa. Besok dia kelasnya pagi semua jadi sorenya bisa jemput dede.”

Johnny mengangguk paham kemudian kembali mengelus rambut Ten sedangkan Ten semakin memeluk tubuh Johnny, entah ia rasanya hanya membutuhkannya untuk saat ini.

Terlalu nyaman dengan elusan yang diberikan Johnny, perlahan Ten menutup matanya hingga menjemput mimpinya.

Johnny yang mulai mendengar dengkuran halus dari Ten ikut tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala suami mungilnya, “Good night and sleep well, sayangku.”


@roseschies

Nighty Night.

Setelah meletakkan ponselnya di nakas, Johnny mencolek-colek lengan Ten yang masih sibuk cekikikan akibat sedang vidcall dengan Taeyong dan Winwin.

Ten menengok kearah Johnny lalu menaikkan satu alisnya bermaksud bertanya ada apa.

Johnny hanya menjawab dengan sebuah cemberut, bibirnya melengkung kebawah lalu kembali mencolek-colek lengan Ten kemudian Johnny mengucapkan sepatah kalimat tidak bersuara, “Mana katanya mau kelonan”.

Melihat hal tersebut membuat Ten menggeleng-geleng lalu kembali melihat kearah ipadnya yang masih terpampang muka Taeyong dan Winwin, “Udah malem, udahan dulu lah ya sakit perut gue ketawa mulu. Eh Win, besok jadi ke rumah? Mau ikut nggak Yong?”

Gue nggak jadi ten, ternyata besok nggak bisa. Sorry, next time deh gimana?

Emang pada mau ngapain?

Nggak ngapa-ngapain sih, bosen aja niatnya mau baking.

“Yaahhh, yaudah gapapa Win. Ini, gue lagi mau nyoba baking Yong. Sekalian buat bikinin Haechan yang manis manis.”

Kalo mau baking ikut dong, kabarin aja kapannya di grup ya. Besok juga gue nggak bisa sih soalnyamau ke rumah nyokap bentar.

Johnny mulai mencolek-colek lengan Ten lagi.

Kok gak selesai selesai sih, rutuk Johnny dalam hati.

“Yaudah nanti kita omongin aja di grup ya. Bye!”

Tut

Kemudian Ten menaruh ipadnya di nakas sebelah kasurnya lalu mencubit pipi Johnny dengan gemas, “Ih dasar bayi gede nggak sabaarrr”

“Hehehe biarin dong, abisan kamu nggak kelar kelar aku butuh recharge tenaga nih.”

Johnny kemudian menarik tubuh Ten masuk ke dalam pelukannya dan membuat Ten sukses tenggelam di dekapan Johnny.

Ten menghirup tubuh berbau maskulin milik Johnny, meresapi wangi suaminya itu. Rasanya sangat nyaman dan selalu menjadi wangi favoritnya.

“Kamu jadi besok ke mana dong? Mau ikut ke kantor aku aja?” Tanya Johnny sambil mengelus rambut milik Ten kemudian lanjut mengecup pucuk kepala Ten.

Ten menggeleng, “Nggak ah, ngerepotin kamu nanti. Aku di rumah aja bebersih studio paling.”

“Bener nih nggak mau ikut?”

“Iyaaa benerr.”

“Yaudah kalau gitu. Besok dede aku yang anter dulu kan pulangnya sama abang?”

Ten mengangguk, “Iyaa. Besok dia kelasnya pagi semua jadi sorenya bisa jemput dede.”

Johnny mengangguk paham kemudian kembali mengelus rambut Ten sedangkan Ten semakin memeluk tubuh Johnny, entah ia rasanya hanya membutuhkannya untuk saat ini.

Terlalu nyaman dengan elusan yang diberikan Johnny, perlahan Ten menutup matanya hingga menjemput mimpinya.

Johnny yang mulai mendengar dengkuran halus dari Ten ikut tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala suami mungilnya, “Good night and sleep well, sayangku.”


@roseschies

Nighty Night.

Setelah meletakkan ponselnya di nakas, Johnny mencolek-colek lengan Ten yang masih sibuk cekikikan akibat sedang vidcall dengan Taeyong dan Winwin.

Ten menengok kearah Johnny lalu menaikkan satu alisnya bermaksud bertanya ada apa.

Johnny hanya menjawab dengan sebuah cemberut, bibirnya melengkung kebawah lalu kembali mencolek-colek lengan Ten kemudian Johnny mengucapkan sepatah kalimat tidak bersuara, “Mana katanya mau kelonan”.

Melihat hal tersebut membuat Ten menggeleng-geleng lalu kembali melihat kearah ipadnya yang masih terpampang muka Taeyong dan Winwin, “Udah malem, udahan dulu lah ya sakit perut gue ketawa mulu. Eh Win, besok jadi ke rumah? Mau ikut nggak Yong?”

Gue nggak jadi ten, ternyata besok nggak bisa. Sorry, next time deh gimana?

Emang pada mau ngapain?

Nggak ngapa-ngapain sih, bosen aja niatnya mau baking.

“Yaahhh, yaudah gapapa Win. Ini, gue lagi mau nyoba baking Yong. Sekalian buat bikinin Haechan yang manis manis.”

Kalo mau baking ikut dong, kabarin aja kapannya di grup ya. Besok juga gue mau ke rumah nyokap bentar.

Johnny mulai mencolek-colek lengan Ten lagi.

Kok gak selesai selesai sih, rutuk Johnny dalam hati.

“Yaudah nanti kita omongin aja di grup ya. Bye!”

Tut

Kemudian Ten menaruh ipadnya di nakas sebelah kasurnya lalu mencubit pipi Johnny dengan gemas, “Ih dasar bayi gede nggak sabaarrr”

“Hehehe biarin dong, abisan kamu nggak kelar kelar aku butuh recharge tenaga nih.”

Johnny kemudian menarik tubuh Ten masuk ke dalam pelukannya dan membuat Ten sukses tenggelam di dekapan Johnny.

Ten menghirup tubuh berbau maskulin milik Johnny, meresapi wangi suaminya itu. Rasanya sangat nyaman dan selalu menjadi wangi favoritnya.

“Kamu jadi besok ke mana dong? Mau ikut ke kantor aku aja?” Tanya Johnny sambil mengelus rambut milik Ten kemudian lanjut mengecup pucuk kepala Ten.

Ten menggeleng, “Nggak ah, ngerepotin kamu nanti. Aku di rumah aja bebersih studio paling.”

“Bener nih nggak mau ikut?”

“Iyaaa benerr.”

“Yaudah kalau gitu. Besok dede aku yang anter dulu kan pulangnya sama abang?”

Ten mengangguk, “Iyaa. Besok dia kelasnya pagi semua jadi sorenya bisa jemput dede.”

Johnny mengangguk paham kemudian kembali mengelus rambut Ten sedangkan Ten semakin memeluk tubuh Johnny, entah ia rasanya hanya membutuhkannya untuk saat ini.

Terlalu nyaman dengan elusan yang diberikan Johnny, perlahan Ten menutup matanya hingga menjemput mimpinya.

Johnny yang mulai mendengar dengkuran halus dari Ten ikut tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala suami mungilnya, “Good night and sleep well, sayangku.”


@roseschies

thank you and sorry

Setelah bebersih diri, Johnny dan Ten keluar dari kamarnya yang ternyata sudah ada Mark dan Hendery yang duduk di depan TV. Keduanya sedang menonton netflix sambil menunggu Johnny dan Ten yang bebersih setelah beraktifitas dari luar.

“Abang, Mark.” Ten memanggil keduanya membuat Mark dan Hendery menengok kearah Ten yang sudah berdiri di dekat sofa dengan Johnny yang ada di sebelahnya kemudian Hendery mematikan TV tersebut.

“Om.” Mark langsung berdiri kaku menghadap kearah Johnny dan Ten.

“Eh, duduk aja Mark gapapa. Sini duduk sebelah Hendery.” Ucap Ten kemudian menyuruh Mark untuk duduk di sebelah Hendery yang berada di dekatnya.

Mark menggeleng, “Gapapa Om, Mark berdiri aja ngomongnya.”

Ten berdiri kemudian membawa tubuh Mark untuk duduk di sampingnya, “Gapapa, kita omongin sambil duduk ya?”

Melihat Ten yang sudah lebih tenang dibanding sebelumnya membuat Johnny tersenyum, Johnny tau bagi Ten melakukan hal tersebut sangat sulit. Tetapi tidak ia sangka, Ten memilih jalan ini.

“Om Johnny, Om Ten. Maafin Mark ya. Maafin ucapan dan perlakuan Mark ke Haechan. Maafin Mark karena Mark Haechan jadi kayak gini.”

“Om Johnny dan Om Ten secara pribadi maafin Mark kok. Melihat Mark yang berusaha buat berbicara sama kami langsung seperti ini membuat kami paham, kalau Mark masih ada keinginan buat merubah semuanya ya?” Johnny membenarkan duduknya menghadap langsung ke arah Mark yang berada di sebelah Ten.

“Semalam Ayah dan Papi Mark nelfon kami berdua, Kami sudah tau apa yang terjadi dari sisi Mark.” Lanjut Johnny membuat Mark menunduk.

“Om Johnny dan Om Ten nggak bisa berperan banyak, karena masalah ini kan milik Mark dan Haechan. Kami cuma titip pesan ke Mark untuk Mark ingat selalu sampai kapapun ya? Lain kali lebih hati-hati, ucapan kadang nggak sengaja ngebuat seseorang sakit hati. Sebelum bicara baiknya dipikir dulu, kalau emang situasinya lagi nggak baik, lebih baik diam dulu baru diceritakan setelah situasi membaik.”

“Mark kan nggak tau apa yang terjadi sama Haechan di belakang sana. Apa yang sedang Haechan lewatin sendirian. Begitu juga Haechan, Haechan nggak tau apa yang terjadi sama Mark. Kenapa Mark tiba-tiba berubah pun menjadi salah satu yang Haechan pikirin terus menerus. Komunikasi antar satu sama lain itu penting, Mark. Om tau, Kalian berdua tuh sama. Sama-sama dipendem semua.”

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dari mulut Johnny membuat Mark mengangguk paham. “Om, makasih banyak ya. Maafin Mark juga ya Om.”

Johnny dan Ten mengangguk.

“Untuk masalah kamu dan Haechan. Semuanya kami kembalikan sama kalian berdua ya? Kami berdua maafin Mark. Untuk Haechan, semuanya balik lagi ke Haechan sendiri. Om enggak bisa bantu banyak, karena yang merasakan semuanya kan Haechan. Semua balik lagi jadi pilihan Haechan dan Mark. Mark yang mau kayak gimana kedepannya dan Haechan yang mau maafin Mark atau enggak.” Ucap Ten kemudian mengelus pundak Mark, memberikan sedikit semangat untuk lelaki yang rapuh ini.

Johnny dan Ten tau, Mark itu orang baik. Apalagi setelah tau semuanya dan alasan kenapa Mark seperti itu.

Dan, Mereka juga tau, apa yang akan dipilih oleh sang anak nantinya.

Setelah dirasa sudah terlalu malam akhirnya Mark pulang kerumahnya dan Hendery mengantarkan Mark sampai pagar meninggalkan Johnny dan Ten berdua di sofa depan TV.

“Apa yang kita lakuin bener kan Jo?” Tanya Ten menatap Johnny yang berada di sampingnya.

Johnny mengangguk lalu mengelus surai milik Ten, “Iya. Suamiku kuat banget. Sini peluk dulu.”

Kemudian Johnny langsung memeluk dengan gemas tubuh milik Ten.

“Tolong dong kalo mau peluk pelukan di kamar aja. Duh, ngotorin pemandangan ajaa.” Ledek Hendery setelah kembali masuk ke dalam rumahnya dan menemukan kedua orang tuanya yang sedang lovey dovey di ruang TV.

Johnny terkekeh, “Kamu iri bilang aja bang. Makanya cari pacar!”

Hendery mendengus, “DIH? Ngapain cari, yang mau sama Abang banyak.”

“Terus?”

“Yang Abang mau, nggak mau sama Abang.”

Ucapan Hendery membuat Johnny dan Ten tertawa ngakak. Ada aja masalah percintaan di dalam keluarganya ini. Heran.

“Udah ah, Papa mau ke kamar Dede dulu siapa tau dia udah bangun.” Ucap Ten kemudian melepas tangan Johnny yang daritadi masih bertengger di pundaknya itu.

Johnny mengangguk, “Yaudah gih.”

Setelahnya Ten naik ke lantai dua lalu menuju kamar anak bungsunya, untuk menemani si bungsu yang sedang sedih itu.

Hendery yang baru saja ingin naik ke lantai dua untuk menuju ke kamarnya langsung berhenti setelah mendengar Johnny memanggil dirinya.

“Sini Bang.”

“Hih mau ngapain nih?!”

“Buset dah kayak Daddy mau rampok aja. Sini duduk dulu, kita bapak anak hour dulu.”

Hendery memutarkan bola matanya malas, dasar Daddynya ini.

Akhirnya Hendery duduk disebelah Johnny kemudian Johnny merangkul tubuh Hendery, “Siapa tuh inceran kamu?”

“Ish, Daddy beneran kayak tetangga kepoan!”

Johnny terkekeh, “Ya abis. Biasanya liat cuma kamu sama Mark, Lucas. Ini tiba-tiba udah punya inceran aja. Jangan jangan kamu ngincer Lucas ya?!”

Tebakan Johnny membuat Hendery melotot, “Mana ada!”

“Ya siapa tau kan. Temen deket kamu itu itu doang abisan dari dulu. Mana ada yang baru.”

Dengan tidak mau kalahnya Hendery menjawab, “Loh, Daddy juga temennya itu itu doang dari dulu. Om Jaehyun sama Om Yuta doang.”

Johnny tertawa lalu mencubit hidung Hendery gemas, “Dasar. Bisaan aja kamu.”

Kemudian keduanya diam dengan tangan Johnny yang masih merangkul pundak Hendery.

Johnny meskipun diam diam begini, tetapi ia tau, anaknya ini terlihat sedang lelah.

Johnny tau, Hendery pasti sedang bingung harus membela yang mana.

“Bang, jangan lupa istirahat.”

Hendery mengangguk, “Iyaa.”

Ih, Hendery tuh nggak bisa kalau harus ngomong serius sama Daddynya. Aneeehhh.

“Berat ya Bang? Tapi jangan lupa Abang harus utamain diri Abang sendiri.”

“Abang pasti bingung harus ngebela yang mana. Nggak perlu ada yang kamu bela karena mereka bukan pilihan, Bang. Jadilah Abang buat Haechan dan tetapi jadilah teman buat Mark. Karena jauh dari sebelum masalah ini muncul kamu udah jadi bagian dari hidup mereka entah dalam posisi apapun itu. Buat masalah mereka biar jadi masalah mereka masing-masing, tugas Abang tetep. Jadi Abang buat Haechan dan jadi teman buat Mark.”

Johnny menepuk pundak Hendery, memberi semangat untuk anaknya yang terlihat lelah sendirian.

Hendery yang mendengar ucapan Johnny hanya bisa menunduk, duh dia malu banget kalau harus denger kayak begini tapi keluar dari mulut Daddynya.

“Kenapa kamu nunduk aja? Nyari emas?”

Hendery menggeleng.

“Emas yang kamu cari mah di rumah Om Yuta kali.”

Ucapan Johnny yang secara tiba-tiba itu membuat Hendery melotot terkejut, “Apaansih Dad!”

Johnny tertawa, jadi bener dugaan dia. Dasar.

“Intinya inget kata-kata Daddy Bang. Abang udah jadi Abang yang baik buat Dede dan udah jadi teman yang baik buat Mark. Tapi jangan lupa sama diri Abang sendiri. Ya? Dengerin loh ini Daddy ngomong kamu nih.”

Johnny mencubit pinggang Hendery, gemas sama anak pertamanya yang kalau diajak ngobrol serius sama dirinya sok sok an malu malu kucing.

“Ih iya iyaa Dad!”

“Tidur gih, besok ada kelas?”

Hendery mengangguk, “Ada.”

“Kapan kamu sidang?”

“DAD AKU BARU SEMESTER DUA???????”

Johnny tertawa, “Kirain udah semester akhir gitu.”

“Udah ah, dasar bapak bapak satu ini rusuh aja. Sana sana tiduurr Dad, besok kerja kan.”

“Iyalah, kalo Daddy nggak kerja kamu makan pakai uang siapa.”

“Nah bagus, semangat kerjanya Daddy. Dadaahh Abang naik dulu.”

Hendery kemudian berdiri dari duduknya lalu naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Johnny tersenyum-senyum sendiri di depan TV setelahnya lalu membawa kakinya untuk masuk ke dalam kamar sambil menunggu Ten turun kebawah.


@roseschies

an apology

Hendery meletakkan ponselnya di meja belajarnya kemudian ikut duduk di tempat tidur yang di mana Mark sedang duduk terdiam di sana.

“Hen.”

“Hm, kenapa?”

“Gue semalem kena tampar Ayah gue.”

Hendery mengangguk, dirinya nggak kaget sih. Toh, dari awal dirinya juga memang ingin menampar Mark, meskipun akhirnya cuma nampar sekali biar Mark sadar.

“Kemarin gue nyakitin hati Papi gue juga Hen.”

“Gue bilang kalau Papi bukan orang tua asli gue.”

“HAH?!” Hendery terkejut mendengar pengakuan Mark yang terlalu tiba-tiba ini.

Mark menunduk kemudian memainkan jari-jarinya, “Gue nggak bermaksud bilang begitu, tapi mulut gue nggak sinkron sama isi kepala gue.”

“Semalem rasanya keluarga gue pecah banget Hen dan semuanya karena gue.”

Hendery tidak habis pikir sama Mark. Mark ini terlalu berusaha keras dengan dirinya. Seharusnya dirinya beristirahat apalagi semalem katanya terjadi sesuatu yang mungkin parah tetapi dirinya malah memaksa untuk meminta maaf pada Haechan dan juga kedua orang tuanya hari ini juga.

“Lo mau dengerin gue nggak?”

Hendery mengangguk, “Emang harusnya lo daridulu kayak gini. Gue selalu dengerin lo. Kenapa?”


Setelah Mark terbangun dari pingsannya itu, ia benar-benar hanya diam memandang kesegala arah di dalam kamarnya. Ia meratapi semua kesalahannya dan juga ucapan serta perlakuannya terutama ke Papinya sendiri.

Akhirnya Mark bangun dari tempat tidurnya lalu membawa kakinya keluar dari kamarnya untuk menuju lantai satu di mana kamar Taeyong berada.

Ia ingin meminta maaf kepada Papinya.

Mark pelan-pelan menuruni tangga sambil berfikir dan juga merangkai kalimat di dalam kepalanya, apa saja yang harus ia ucapkan kepada Taeyong.

Brak

Mark mendengar pintu ditutup secara kencang dari lantai satu kemudian selanjutnya ia mendengar namanya dipanggil secara lantang oleh satu suara yang sangat Mark kenal, Ayahnya.

“MARK.” Jaehyun berteriak setelah menutup pintu kamarnya kencang. Kepalanya mendidih setelah mendengar pengakuan dari Taeyong tentang ucapan Mark kepada Taeyong.

“Jaehyun dengerin dulu!” Sedangkan Taeyong berusaha untuk mencegah Jaehyun yang sudah mengepalkan tangannya dan berjalan menuju tangga untuk menemui Mark yang dipikirnya ada di dalam kamar.

Mark yang baru saja sampai di tangga paling akhir langsung terkejut dengan teriakan sang Ayah membuat tubuhnya bergetar ketakutan. Teriakan Ayah, benar-benar menakutkan.

Jaehyun itu memang jarang sekali marah, tetapi kalau Jaehyun sudah marah. Habislah semua orang.

Taeyong yang melihat Mark di dekat tangga langsung berlari memeluk anaknya, menjaga sang anak dari amarah suaminya yang memuncak.

“Jaehyun, tolong jangan marahin Mark.” Taeyong memeluk kuat kuat tubuh Mark.

Mark rasanya ingin menangis. Papinya ini ternyata masih menjaga dirinya bahkan setelah ucapan jahat dari dirinya yang terlontar tadi.

Jaehyun berdiri di depan Mark dan Taeyong dengan tangan yang terkepal sangat kuat, bahkan urat-urat Jaehyun sudah menampak di sekujur wajahnya. Mati-matian dirinya untuk menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.

“Ayah dan Papi nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu ya Mark. Terutama ucapan kamu yang seenaknya keluar dari mulut kamu. Siapa yang ngajarin kamu Mark?! Kamu pikir Papi kamu nggak punya hati hah?! Kamu nggak tau siapa yang pertama kali bahagia sampe nangis karena akhirnya bisa memeluk kamu dan bawa pulang ke rumah ini itu siapa? Papi Mark. Papi! Kamu itu pilihan Papi. Kamu tau nggak siapa yang ngajarin kamu belajar disaat kamu ngeluh susah, kamu tau nggak siapa yang nemenin kamu tidur disaat kamu mimpi buruk itu siapa? Papi Mark. PAPI! SEMUANYA PAPI LAKUIN BUAT KAMU MARK. Dengan tega kamu bilang kayak gitu di depan muka Papi?!” Jaehyun mengeluarkan semua ucapannya dengan tangan yang masih terkepal sangat kuat.

Sedangkan Taeyong masih memeluk Mark sambil menangis, ia masih menjaga anak pertamanya.

“Jaehyun, udahh” Larang Taeyong kemudian memegang tangan Jaehyun lalu dielus tangan Jaehyun guna meredakan emosi Jaehyun.

Mark?

Ia sudah menangis dipelukan Taeyong. Ia menangis mendengar semua ucapan yang dilontarkan oleh Jaehyun.

Benar, Ayahnya benar. Semuanya selalu ia dapatkan karena Papinya. Papinya itu benar-benar menyayangi dirinya seperti anak yang ia lahirkan sendiri. Papinya itu nggak pernah pilih kasih dengan Jeno, adiknya. Semua Papinya berikan secara rata.

“Kamu enggak akan pernah tau Mark, Papi hampir kehilangan nyawanya karena ngejagain kamu.” Ucapan terakhir Jaehyun membuat Mark terkejut ditambah Jaehyun yang menampar tepat di pipi Mark.

“JAEHYUN!”

Taeyong menggeleng kemudian mengelus pipi Mark tepat dibekas tamparan Jaehyun, “Enggak sayang enggak. Papi baik baik aja kok. Ya sayang, Papi nggak kenapa kenapa.”

Mark kemudian melepaskan pelukan Taeyong lalu membawa tubuh Taeyong untuk berdiri di depannya.

Setelah Taeyong berdiri dengan benar, Mark menjatuhkan tubuhnya berlutut tepat di depan Taeyong.

Mark menundukkan kepalanya, menangis sampai air matanya menetes mengenai lantai.

Taeyong yang melihat anaknya berlutut di depannya langsung terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya.

Sedangkan Jaehyun, sudah tidak bisa dideskripsikan lagi. Pemandangan ini, tolong hanya sekali dalam seumur hidup, batinnya.

“Papi, Mark minta maaf.” Sepatah kalimat keluar dari mulut Mark membuat Taeyong menggelengkan kepalanya lalu mengajak Mark untuk berdiri dari bersimpuhnya itu.

Namun Mark memaksakan diri untuk tetap berlutut di depan Taeyong.

Bahkan sekarang Mark memeluk kaki Taeyong menangis sesegukan sambil memeluk kaki milik Taeyong, “Mark minta maaf. Ucapan Mark udah bikin Papi sakit hati. Mark minta maaf sama Papi.”

Taeyong mendudukkan dirinya kemudian memeluk tubuh Mark kuat-kuat, dunia miliknya rasanya runtuh melihat anak pertamanya sampai bertekuk lutut di depannya. “Papi maafin Mark. Papi maafin. Mark itu anak kesayangan Papi. Mark nggak ada bedanya sama Jeno. Mark sama Jeno itu sama, sama sama anak kesayangan Papi.”

“Papi maafin Mark.” Ucap Mark lagi disela-sela tangisannya sambil memeluk erat Taeyong.

Jaehyun yang sedang berdiri disamping keduanya, merasa gagal.

“Ayah malu kak.”

“Jaehyun!”

“Ayah malu sama Om Johnny dan Om Ten. Ayah malu. Malu banget kak. Ayah bahkan nggak tau mau ngomong apa ke mereka tentang perlakuan kamu ke anaknya. Ayah malu banget, kak.”

“Jaehyun udah!”

“Tapi Ayah lebih malu sama diri Ayah sendiri karena udah gagal ngedidik anak Ayah sendiri.”

“Ayah malu, nak. Ayah malu sama diri sendiri. Ayah udah gagal jadi orang tua buat Mark.”

Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jaehyun membuat Mark semakin bersalah.

Jeno yang baru saja turun setelah mendengar suara berisik dari kamarnya langsung terdiam di depan tangga.

Pemandangan macam apa ini. Semuanya menangis di depan matanya.

Bahkan Ayahnya yang ia kenal sebagai orang yang sangat kuat. Matanya sudah berkaca-kaca sambil menatap Kakaknya yang sedang berpelukan dengan Papinya di lantai.

Jaehyun menghembuskan nafasnya pelan, menahan air matanya yang ingin keluar dari matanya.

Mark menggelengkan kepalanya kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Papinya di dalam pelukannya itu.

Mark berdiri tepat di depan Jaehyun lalu menunduk.

Mark kembali berlutut di depan Jaehyun membuat Jeno yang melihat hal tersebut menganga karena terkejut.

“Ayah, maafin Mark. Ayah bukan orang tua yang gagal. Ayah selalu menjadi panutan Mark dari dulu. Ayah, ini salah Mark. Mark yang salah, bukan salah Ayah apalagi didikan Ayah. Ayah, maafin Mark.”

Jaehyun yang melihat dan mendengar ucapan anaknya itu langsung menangis tanpa ditahan lagi.

Jeno langsung berlari menuju keluarganya itu lalu memeluk tubuh Mark dari belakang.

“Kakak.”

Taeyong ikut memeluk tubuh Jeno dan Mark kedalam dekapannya. Memeluk erat kedua anaknya itu.

Jaehyun terduduk di depan Mark kemudian memeluk ketiga lelaki yang sangat ia sayangi dalam hidupnya. Ketiga lelaki yang mampu mengubah hidupnya. Ketiga lelaki yang mati-matian selalu ia jaga di dalam hidupnya. Ketiga lelaki yang bahkan lebih berharga dari hidupnya.

“Maafin Ayah belum bisa jadi kepala keluarga yang baik buat keluarga Ayah.”

Taeyong menggeleng kemudian memeluk Jaehyun sambil memeluk kedua anaknya juga.

Malam itu, keempatnya mengeluarkan tangisan sambil memeluk satu sama lain di dalam rumahnya.

Dan malam itu juga, keempatnya belajar banyak hal. Terutama Jaehyun dan Taeyong.


Setelah bercerita pada Hendery, dirinya menangis kembali.

Sudah banyak sekali kekacauan yang ia buat bukan hanya untuk keluarganya.

“Hen, gue bisa kan ngerubah semuanya?”

Hendery mengangguk, “Bisa. Lo bisa.”

“Lo yakin mau ketemu Daddy sama Papa gue sekarang? Lo berantakan banget Mark.”

Mark mengangguk mantap.

“Mereka udah sampe di bawah. Lo yakin?”

“Iya yakin Hen. Tapi bentar gue butuh minum.”

Hendery menggeleng lalu terkekeh, dasar.

Kemudian Hendery memberikan minum untuk Mark setelahnya keduanya turun kebawah untuk bertemu dengan Johnny dan Ten.


@roseschies

believes

“Daahh Win~ Besok-besok ajak lagi yaa.” Pamit Ten pada Winwin yang sudah masuk ke dalam mobil.

“Daah, hati-hati Ten! Makasih juga yaa.” Winwin melambaikan tangannya dari dalam mobil sedangkan Yuta yang sudah duduk di kusir kemudi ikut melambaikan tangannya.

Setelah mobil Yuta dan Winwin hilang dari pandangan mata Ten. Johnny mengajak Ten untuk masuk ke dalam mobilnya lalu keduanya pulang.

“Yang, ada yang mau ketemu.” Ucap Johnny membuka percakapan setelah menyalahkan mesin mobilnya.

Sedangkan Ten yang baru saja memasang seatbeltnya langsung menengok kearah Johnny, “Siapa?”

“Mark.”

Ten mengangguk lalu Johnny maupun Ten diam setelah Johnny menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.

“Aku nggak bisa marah sama Mark, Jo.”

“Nggak ada yang nyuruh kamu buat marah sama Mark, sayang.”

“Rasanya sakit liat Haechan, tapi terlalu gak tega buat marah sama Mark juga. Dua-duanya bener-bener berjuang buat diri masing-masing.”

“Siapa yang tega liat anaknya digituin. Aku pun marah, rasanya mau aku berantakin rumah Jaehyun. Aku rasanya mau nampar Mark. Tapi dibalik itu semua pasti kan ada alasan kenapa Mark kayak gitu ditambah kita udah denger semuanya dari Jaehyun dan Taeyong semalem.”

Ten mengangguk-angguk. Setelah semalam ia mendengar curhatan Taeyong sambil menangis-nangis. Ia beneran tidak tega.

“Gini, sayang. Nanti kita dengerin dulu ya apa kata Mark baru kita kasih nasihat dia entah sebagai orang tua Haechan atau sebagai manusia biasa.”

“Kamu aja yang marahin Mark ya?”

Johnny terkekeh gemas lalu mencubit pipi Ten, “Kamu kenapa gemesin gini sih? Sayang, nggak perlu ada yang di marahin. Perlunya dibilangin dan diajarin lagi. Percuma dimarahin, yang ada makin memperparah keadaan. Kita juga bukan orang tua Mark yang wajib mendisiplinkan anaknya.”

“Maaf ya Jo, aku tau kamu susah payah nahan emosi kamu ke Mark, kan? Aku tau susah jadi kamu, kan Jo?”

Johnny menggeleng lalu mengelus surai milik Ten lembut, “Enggak sayang. Jangan begitu ah. Semua punya kesulitan masing-masing. Aku, kamu, Mark, Dede, ataupun Abang bahkan Jaehyun dan juga Taeyong yang jadi orang tua Mark pun semuanya punya kesulitan masing-masing. Sayang, aku memang nahan emosi ke Mark. Tapi kamu liat sendiri semalem gimana? Apa aku harus mengeluarkan emosi ke Mark yang sama kayak Jaehyun? Sayang, kita enggak tau mental Mark kayak gimana, pun kita enggak tau apalagi yang udah Mark lewatin sebelum aku ngeluarin emosi aku ke Mark.”

“Gini, nanti kita bicarain baik-baik ya sama Mark? Dia udah cukup dapet caci maki dari sana sini. Apa mau kamu tambahin?”

Ten menggeleng cepat. “Enggak. Apa nggak ada cara lain? Aku sakit hati anakku yang enggak salah di gituin, tapi aku juga nggak mau membuat anak orang lain juga makin parah karena aku. Keinget lagi semalem Taeyong sampe nangis-nangis minta ke kita buat nggak marahin Mark.”

Johnny mengelus tangan Ten kemudian ia genggam tangan tersebut, “Ada. Ada kok. Tenangin diri kamu ya?”

Ten mengangguk. Ia percaya pada suaminya, pilihan suaminya itu tidak pernah salah.


@roseschies

it's hurts, for us.

Sesampainya Mark dan Hendery di kediaman Suh, keduanya langsung naik ke lantai dua di mana kamar milik Haechan dan Hendery berada.

Untuk masalah ini, Hendery sendiri tidak mau banyak ikut campur maka dari itu dirinya meninggalkan Mark tepat di depan kamar Haechan lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengirim pesan kepada entah siapa yang bisa dia recokin kali ini.

Mark berdiri menatap pintu kamar Haechan kemudian menarik lalu membuang nafas demi menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.

Mark takut.

Tapi mau bagaimanapun, dirinya harus meminta maaf kepada Haechan sebelum terlambat.

Mark mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Haechan.

“Masuk aja abang.” Teriak Haechan dari dalam kamarnya, pikir Haechan Hendery yang mengetuk pintu tersebut karena yang ia tau kedua orang tuanya pasti belum pulang.

Setelah mendengar jawaban dari dalam, Mark membuka pintu kamar Haechan.

Netra milik Mark dapat menangkap pemandangan di mana Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya dan sepertinya sedang mengerjakan tugasnya atau mungkin baru selesai mengerjakan tugasnya.

“Chan.”

Mendengar suara yang sangat Haechan kenal itu membuat Haechan membeku. Tangannya yang sebelumnya sedang menulis di atas buku langsung berhenti, badannya pun ikut kaku.

Haechan tidak memalingkan pandangannya dari buku tugas miliknya sedangkan Mark semakin mendekat kearah dirinya yang sedang duduk di meja belajar.

Mark menjathkan tubuhnya, berlutut di samping kursi yang sedang Haechan duduki.

Sedangkan Haechan sendiri tidak menyangka kalau tiba-tiba Mark berlutut di samping dirinya yang sedang duduk di kursi. Haechan mengeratkan pegangan pada pulpen yang sedang ia pegang saat ini.

“Chan.”

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali bahkan Haechan sama sekali tidak berniat untuk membuka mulutnya untuk menjawab panggilan tersebut. Haechan sibuk mengeratkan pegangan pada pulpennya, menahan dirinya untuk tidak memalingkan pandangan untuk memandang Mark yang sedang berlutut di samping dirinya.

“Adek ...”

Panggilan itu ....

Haechan rasanya mau mengambil earphone untuk menyumpal kupingnya. Mendengar suara Mark hanya bisa membuat dirinya dilanda kegundahan.

Ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya sangat merindukan suara ini, terlebih panggilan tersebut yang memang seharusnya keluar hanya dari mulut seseorang bernama Mark Jung.

“Chan, a— aku—”

Belum juga Mark menyelesaikan rentetan kalimat yang akan ia ucapkan namun dirinya sudah terdiam kembali menutup mulutnya rapat rapat. Dirinya merasa bahwa sudah sangat tidak mungkin akan mendapatkan maaf dari Haechan. Mark sudah keterlaluan.

Tetapi, dirinya kembali berfikir bahwa tidak ada salahnya meminta maaf. Setidaknya, Mark sudah berusaha untuk meminta maaf, kan? Juga, dirinya memang bermaksud untuk berbuah. Entah untuk dirinya atau orang yang ada di sekitar. Semua kekacauan ini, Mark harus bertanggung jawab.

“Maaf.”

“Chan, aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku tau susah bagi kamu untuk memaafkan aku. Chan, aku minta maaf...”

“Kak. Keluar.”

“Chan—”

“Aku bilang keluar. Keluar kak. Aku nggak mau lihat kakak dan yang paling utama aku nggak mau denger suara kakak.”

“Tolong— Keluar kak.”

“KELUAR KAK”

Haechan teriak tanpa melihat kearah Mark bahkan Haechan memunggungi dan melihat kearah yang berlawanan arah di mana Mark berada. Dirinya harus kuat kuat menahan air mata yang sepersekian detik mungkin akan jatuh dari matanya.

Mendengar teriakan dan penolakan Haechan membuat tubuh Mark bergetar. Ia berdiri dari berlututnya itu lalu menatap punggung Haechan.

Punggung Haechan bergetar.

Rasanya Mark ingin menampar dirinya sendiri.

Dulu dirinya lah yang susah payah menjaga Haechan agar lelaki itu tidak menangis.

Tetapi sekarang, dirinya merupakan alasan mengapa Haechan menangis. Bahkan tepat di depan matanya, Mark melihat punggung Haechan yang bergetar. Tangisan itu mati-matian Haechan tahan.

“Maaf. Aku benar-benar minta maaf tulus dari hati aku yang paling dalam. Chan, selama ini kalimat aku pasti jahat banget ya ke kamu. Seharusnya kamu nggak pernah dapetin ucapan kayak gitu dan bahkan kamu nggak layak dapet kalimat jahat seperti itu. Tapi sayangnya, semua kalimat jahat itu kamu dapetin dari aku.”

Mark menarik nafasnya, matanya terdiam menatap punggung Haechan yang bergetar.

“Chan, aku nggak akan berhenti buat ngerubah diri aku dan juga memperbaiki hubungan kita. Mungkin rasanya tidak terlalu diri kalau aku meminta hubungan yang sama dengan sebelumnya. Tetapi aku tau, semuanya nggak akan pernah sama. Tapi Chan, aku nggak akan pernah berhenti untuk apapun itu. Aku beri kamu ruang, akupun memberi ruang untuk diri aku sendiri. Jangan lupa makan, ya?”

Sebelum meninggalkan kamar Haechan, Mark meninggalkan sebungkus jajanan kecil dan ia letakkan di atas meja belajar Haechan. Jajanan itu merupakan jajan favorit Haechan sejak dulu dan Mark nggak akan pernah melupakan hal tersebut seumur hidupnya.

Mark keluar dari kamar Haechan lalu menutup pintu kamar tersebut pelan.

Di saat Mark menutup pintu kamar Haechan, lelaki yang masih berada di dalam kamar tersebut kemudian langsung menangis lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja, meredam tangisannya yang semakin keras. Haechan menangis meraung-raung di dalam sana.

Bahkan Mark yang masih berada di depan pintu, dirinya masih memegang kenop pintu kamar Haechan. Mengeratkan pegangan tangannya pada kenop pintu kamar Haechan.

Tangisan itu, begitu menyakitkan untuk di dengar oleh kuping Mark.

Semakin menyakitkan bagi Mark adalah alasan dibalik tangisan itu. Dirinyalah yang membuat tangisan itu keluar dari adik manisnya.

Mark menjongkokkan dirinya tepat di depan pintu kamar Haechan, menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya. Ternyata menahan nangis itu sakit sekali ya.

Mark mengepalkan tangannya kuat kuat demi menahan tangisannya yang mungkin sedikit lagi akan keluar lalu kembali menarik dan membuang nafas untuk mengatur dirinya.


@roseschies

it's hurts, for us.

Sesampainya Mark dan Hendery di kediaman Suh, keduanya langsung naik ke lantai dua di mana kamar milik Haechan dan Hendery berada.

Untuk masalah ini, Hendery sendiri tidak mau banyak ikut campur maka dari itu dirinya meninggalkan Mark tepat di depan kamar Haechan lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengirim pesan kepada entah siapa yang bisa dia recokin kali ini.

Mark berdiri menatap pintu kamar Haechan kemudian menarik lalu membuang nafas demi menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.

Mark takut.

Tapi mau bagaimanapun, dirinya harus meminta maaf kepada Haechan sebelum terlambat.

Mark mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Haechan.

“Masuk aja abang.” Teriak Haechan dari dalam kamarnya, pikir Haechan Hendery yang mengetuk pintu tersebut karena yang ia tau kedua orang tuanya pasti belum pulang.

Setelah mendengar jawaban dari dalam, Mark membuka pintu kamar Haechan.

Netra milik Mark dapat menangkap pemandangan di mana Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya dan sepertinya sedang mengerjakan tugasnya atau mungkin baru selesai mengerjakan tugasnya.

“Chan.”

Mendengar suara yang sangat Haechan kenal itu membuat Haechan membeku. Tangannya yang sebelumnya sedang menulis di atas buku langsung berhenti, badannya pun ikut kaku.

Haechan tidak memalingkan pandangannya dari buku tugas miliknya sedangkan Mark semakin mendekat kearah dirinya yang sedang duduk di meja belajar.

Mark menjathkan tubuhnya, berlutut di samping kursi yang sedang Haechan duduki.

Sedangkan Haechan sendiri tidak menyangka kalau tiba-tiba Mark berlutut di samping dirinya yang sedang duduk di kursi. Haechan mengeratkan pegangan pada pulpen yang sedang ia pegang saat ini.

“Chan.”

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali bahkan Haechan sama sekali tidak berniat untuk membuka mulutnya untuk menjawab panggilan tersebut. Haechan sibuk mengeratkan pegangan pada pulpennya, menahan dirinya untuk tidak memalingkan pandangan untuk memandang Mark yang sedang berlutut di samping dirinya.

“Adek ...”

Panggilan itu ....

Haechan rasanya mau mengambil earphone untuk menyumpal kupingnya. Mendengar suara Mark hanya bisa membuat dirinya dilanda kegundahan.

Ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya sangat merindukan suara ini, terlebih panggilan tersebut yang memang seharusnya keluar hanya dari mulut seseorang bernama Mark Jung.

“Chan, a— aku—”

Belum juga Mark menyelesaikan rentetan kalimat yang akan ia ucapkan namun dirinya sudah terdiam kembali menutup mulutnya rapat rapat. Dirinya merasa bahwa sudah sangat tidak mungkin akan mendapatkan maaf dari Haechan. Mark sudah keterlaluan.

Tetapi, dirinya kembali berfikir bahwa tidak ada salahnya meminta maaf. Setidaknya, Mark sudah berusaha untuk meminta maaf, kan? Juga, dirinya memang bermaksud untuk berubah. Entah untuk dirinya atau orang yang ada di sekitar. Semua kekacauan ini, Mark harus bertanggung jawab.

“Maaf.”

“Chan, aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku tau susah bagi kamu untuk memaafkan aku. Chan, aku minta maaf...”

“Kak. Keluar.”

“Chan—”

“Aku bilang keluar. Keluar kak. Aku nggak mau lihat kakak dan yang paling utama aku nggak mau denger suara kakak.”

“Tolong— Keluar kak.”

“KELUAR KAK”

Haechan teriak tanpa melihat kearah Mark bahkan Haechan memunggungi dan melihat kearah yang berlawanan arah di mana Mark berada. Dirinya harus kuat kuat menahan air mata yang sepersekian detik mungkin akan jatuh dari matanya.

Mendengar teriakan dan penolakan Haechan membuat tubuh Mark bergetar. Ia berdiri dari berlututnya itu lalu menatap punggung Haechan.

Punggung Haechan bergetar.

Rasanya Mark ingin menampar dirinya sendiri.

Dulu dirinya lah yang susah payah menjaga Haechan agar lelaki itu tidak menangis.

Tetapi sekarang, dirinya merupakan alasan mengapa Haechan menangis. Bahkan tepat di depan matanya, Mark melihat punggung Haechan yang bergetar. Tangisan itu mati-matian Haechan tahan.

“Maaf. Aku benar-benar minta maaf tulus dari hati aku yang paling dalam. Chan, selama ini kalimat aku pasti jahat banget ya ke kamu. Seharusnya kamu nggak pernah dapetin ucapan kayak gitu dan bahkan kamu nggak layak dapet kalimat jahat seperti itu. Tapi sayangnya, semua kalimat jahat itu kamu dapetin dari aku.”

Mark menarik nafasnya, matanya terdiam menatap punggung Haechan yang bergetar.

“Chan, aku nggak akan berhenti buat ngerubah diri aku dan juga memperbaiki hubungan kita. Mungkin rasanya tidak terlalu diri kalau aku meminta hubungan yang sama dengan sebelumnya. Tetapi aku tau, semuanya nggak akan pernah sama. Tapi Chan, aku nggak akan pernah berhenti untuk apapun itu. Aku beri kamu ruang, akupun memberi ruang untuk diri aku sendiri. Jangan lupa makan, ya?”

Sebelum meninggalkan kamar Haechan, Mark meninggalkan sebungkus jajanan kecil dan ia letakkan di atas meja belajar Haechan. Jajanan itu merupakan jajan favorit Haechan sejak dulu dan Mark nggak akan pernah melupakan hal tersebut seumur hidupnya.

Mark keluar dari kamar Haechan lalu menutup pintu kamar tersebut pelan.

Di saat Mark menutup pintu kamar Haechan, lelaki yang masih berada di dalam kamar tersebut kemudian langsung menangis lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja, meredam tangisannya yang semakin keras. Haechan menangis meraung-raung di dalam sana.

Bahkan Mark yang masih berada di depan pintu, dirinya masih memegang kenop pintu kamar Haechan. Mengeratkan pegangan tangannya pada kenop pintu kamar Haechan.

Tangisan itu, begitu menyakitkan untuk di dengar oleh kuping Mark.

Semakin menyakitkan bagi Mark adalah alasan dibalik tangisan itu. Dirinyalah yang membuat tangisan itu keluar dari adik manisnya.

Mark menjongkokkan dirinya tepat di depan pintu kamar Haechan, menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya. Ternyata menahan nangis itu sakit sekali ya.

Mark mengepalkan tangannya kuat kuat demi menahan tangisannya yang mungkin sedikit lagi akan keluar lalu kembali menarik dan membuang nafas untuk mengatur dirinya.


@roseschies