an apology
Hendery meletakkan ponselnya di meja belajarnya kemudian ikut duduk di tempat tidur yang di mana Mark sedang duduk terdiam di sana.
“Hen.”
“Hm, kenapa?”
“Gue semalem kena tampar Ayah gue.”
Hendery mengangguk, dirinya nggak kaget sih. Toh, dari awal dirinya juga memang ingin menampar Mark, meskipun akhirnya cuma nampar sekali biar Mark sadar.
“Kemarin gue nyakitin hati Papi gue juga Hen.”
“Gue bilang kalau Papi bukan orang tua asli gue.”
“HAH?!” Hendery terkejut mendengar pengakuan Mark yang terlalu tiba-tiba ini.
Mark menunduk kemudian memainkan jari-jarinya, “Gue nggak bermaksud bilang begitu, tapi mulut gue nggak sinkron sama isi kepala gue.”
“Semalem rasanya keluarga gue pecah banget Hen dan semuanya karena gue.”
Hendery tidak habis pikir sama Mark. Mark ini terlalu berusaha keras dengan dirinya. Seharusnya dirinya beristirahat apalagi semalem katanya terjadi sesuatu yang mungkin parah tetapi dirinya malah memaksa untuk meminta maaf pada Haechan dan juga kedua orang tuanya hari ini juga.
“Lo mau dengerin gue nggak?”
Hendery mengangguk, “Emang harusnya lo daridulu kayak gini. Gue selalu dengerin lo. Kenapa?”
Setelah Mark terbangun dari pingsannya itu, ia benar-benar hanya diam memandang kesegala arah di dalam kamarnya. Ia meratapi semua kesalahannya dan juga ucapan serta perlakuannya terutama ke Papinya sendiri.
Akhirnya Mark bangun dari tempat tidurnya lalu membawa kakinya keluar dari kamarnya untuk menuju lantai satu di mana kamar Taeyong berada.
Ia ingin meminta maaf kepada Papinya.
Mark pelan-pelan menuruni tangga sambil berfikir dan juga merangkai kalimat di dalam kepalanya, apa saja yang harus ia ucapkan kepada Taeyong.
Brak
Mark mendengar pintu ditutup secara kencang dari lantai satu kemudian selanjutnya ia mendengar namanya dipanggil secara lantang oleh satu suara yang sangat Mark kenal, Ayahnya.
“MARK.” Jaehyun berteriak setelah menutup pintu kamarnya kencang. Kepalanya mendidih setelah mendengar pengakuan dari Taeyong tentang ucapan Mark kepada Taeyong.
“Jaehyun dengerin dulu!” Sedangkan Taeyong berusaha untuk mencegah Jaehyun yang sudah mengepalkan tangannya dan berjalan menuju tangga untuk menemui Mark yang dipikirnya ada di dalam kamar.
Mark yang baru saja sampai di tangga paling akhir langsung terkejut dengan teriakan sang Ayah membuat tubuhnya bergetar ketakutan. Teriakan Ayah, benar-benar menakutkan.
Jaehyun itu memang jarang sekali marah, tetapi kalau Jaehyun sudah marah. Habislah semua orang.
Taeyong yang melihat Mark di dekat tangga langsung berlari memeluk anaknya, menjaga sang anak dari amarah suaminya yang memuncak.
“Jaehyun, tolong jangan marahin Mark.” Taeyong memeluk kuat kuat tubuh Mark.
Mark rasanya ingin menangis. Papinya ini ternyata masih menjaga dirinya bahkan setelah ucapan jahat dari dirinya yang terlontar tadi.
Jaehyun berdiri di depan Mark dan Taeyong dengan tangan yang terkepal sangat kuat, bahkan urat-urat Jaehyun sudah menampak di sekujur wajahnya. Mati-matian dirinya untuk menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.
“Ayah dan Papi nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu ya Mark. Terutama ucapan kamu yang seenaknya keluar dari mulut kamu. Siapa yang ngajarin kamu Mark?! Kamu pikir Papi kamu nggak punya hati hah?! Kamu nggak tau siapa yang pertama kali bahagia sampe nangis karena akhirnya bisa memeluk kamu dan bawa pulang ke rumah ini itu siapa? Papi Mark. Papi! Kamu itu pilihan Papi. Kamu tau nggak siapa yang ngajarin kamu belajar disaat kamu ngeluh susah, kamu tau nggak siapa yang nemenin kamu tidur disaat kamu mimpi buruk itu siapa? Papi Mark. PAPI! SEMUANYA PAPI LAKUIN BUAT KAMU MARK. Dengan tega kamu bilang kayak gitu di depan muka Papi?!” Jaehyun mengeluarkan semua ucapannya dengan tangan yang masih terkepal sangat kuat.
Sedangkan Taeyong masih memeluk Mark sambil menangis, ia masih menjaga anak pertamanya.
“Jaehyun, udahh” Larang Taeyong kemudian memegang tangan Jaehyun lalu dielus tangan Jaehyun guna meredakan emosi Jaehyun.
Mark?
Ia sudah menangis dipelukan Taeyong. Ia menangis mendengar semua ucapan yang dilontarkan oleh Jaehyun.
Benar, Ayahnya benar. Semuanya selalu ia dapatkan karena Papinya. Papinya itu benar-benar menyayangi dirinya seperti anak yang ia lahirkan sendiri. Papinya itu nggak pernah pilih kasih dengan Jeno, adiknya. Semua Papinya berikan secara rata.
“Kamu enggak akan pernah tau Mark, Papi hampir kehilangan nyawanya karena ngejagain kamu.” Ucapan terakhir Jaehyun membuat Mark terkejut ditambah Jaehyun yang menampar tepat di pipi Mark.
“JAEHYUN!”
Taeyong menggeleng kemudian mengelus pipi Mark tepat dibekas tamparan Jaehyun, “Enggak sayang enggak. Papi baik baik aja kok. Ya sayang, Papi nggak kenapa kenapa.”
Mark kemudian melepaskan pelukan Taeyong lalu membawa tubuh Taeyong untuk berdiri di depannya.
Setelah Taeyong berdiri dengan benar, Mark menjatuhkan tubuhnya berlutut tepat di depan Taeyong.
Mark menundukkan kepalanya, menangis sampai air matanya menetes mengenai lantai.
Taeyong yang melihat anaknya berlutut di depannya langsung terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya.
Sedangkan Jaehyun, sudah tidak bisa dideskripsikan lagi. Pemandangan ini, tolong hanya sekali dalam seumur hidup, batinnya.
“Papi, Mark minta maaf.” Sepatah kalimat keluar dari mulut Mark membuat Taeyong menggelengkan kepalanya lalu mengajak Mark untuk berdiri dari bersimpuhnya itu.
Namun Mark memaksakan diri untuk tetap berlutut di depan Taeyong.
Bahkan sekarang Mark memeluk kaki Taeyong menangis sesegukan sambil memeluk kaki milik Taeyong, “Mark minta maaf. Ucapan Mark udah bikin Papi sakit hati. Mark minta maaf sama Papi.”
Taeyong mendudukkan dirinya kemudian memeluk tubuh Mark kuat-kuat, dunia miliknya rasanya runtuh melihat anak pertamanya sampai bertekuk lutut di depannya. “Papi maafin Mark. Papi maafin. Mark itu anak kesayangan Papi. Mark nggak ada bedanya sama Jeno. Mark sama Jeno itu sama, sama sama anak kesayangan Papi.”
“Papi maafin Mark.” Ucap Mark lagi disela-sela tangisannya sambil memeluk erat Taeyong.
Jaehyun yang sedang berdiri disamping keduanya, merasa gagal.
“Ayah malu kak.”
“Jaehyun!”
“Ayah malu sama Om Johnny dan Om Ten. Ayah malu. Malu banget kak. Ayah bahkan nggak tau mau ngomong apa ke mereka tentang perlakuan kamu ke anaknya. Ayah malu banget, kak.”
“Jaehyun udah!”
“Tapi Ayah lebih malu sama diri Ayah sendiri karena udah gagal ngedidik anak Ayah sendiri.”
“Ayah malu, nak. Ayah malu sama diri sendiri. Ayah udah gagal jadi orang tua buat Mark.”
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jaehyun membuat Mark semakin bersalah.
Jeno yang baru saja turun setelah mendengar suara berisik dari kamarnya langsung terdiam di depan tangga.
Pemandangan macam apa ini. Semuanya menangis di depan matanya.
Bahkan Ayahnya yang ia kenal sebagai orang yang sangat kuat. Matanya sudah berkaca-kaca sambil menatap Kakaknya yang sedang berpelukan dengan Papinya di lantai.
Jaehyun menghembuskan nafasnya pelan, menahan air matanya yang ingin keluar dari matanya.
Mark menggelengkan kepalanya kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Papinya di dalam pelukannya itu.
Mark berdiri tepat di depan Jaehyun lalu menunduk.
Mark kembali berlutut di depan Jaehyun membuat Jeno yang melihat hal tersebut menganga karena terkejut.
“Ayah, maafin Mark. Ayah bukan orang tua yang gagal. Ayah selalu menjadi panutan Mark dari dulu. Ayah, ini salah Mark. Mark yang salah, bukan salah Ayah apalagi didikan Ayah. Ayah, maafin Mark.”
Jaehyun yang melihat dan mendengar ucapan anaknya itu langsung menangis tanpa ditahan lagi.
Jeno langsung berlari menuju keluarganya itu lalu memeluk tubuh Mark dari belakang.
“Kakak.”
Taeyong ikut memeluk tubuh Jeno dan Mark kedalam dekapannya. Memeluk erat kedua anaknya itu.
Jaehyun terduduk di depan Mark kemudian memeluk ketiga lelaki yang sangat ia sayangi dalam hidupnya. Ketiga lelaki yang mampu mengubah hidupnya. Ketiga lelaki yang mati-matian selalu ia jaga di dalam hidupnya. Ketiga lelaki yang bahkan lebih berharga dari hidupnya.
“Maafin Ayah belum bisa jadi kepala keluarga yang baik buat keluarga Ayah.”
Taeyong menggeleng kemudian memeluk Jaehyun sambil memeluk kedua anaknya juga.
Malam itu, keempatnya mengeluarkan tangisan sambil memeluk satu sama lain di dalam rumahnya.
Dan malam itu juga, keempatnya belajar banyak hal. Terutama Jaehyun dan Taeyong.
Setelah bercerita pada Hendery, dirinya menangis kembali.
Sudah banyak sekali kekacauan yang ia buat bukan hanya untuk keluarganya.
“Hen, gue bisa kan ngerubah semuanya?”
Hendery mengangguk, “Bisa. Lo bisa.”
“Lo yakin mau ketemu Daddy sama Papa gue sekarang? Lo berantakan banget Mark.”
Mark mengangguk mantap.
“Mereka udah sampe di bawah. Lo yakin?”
“Iya yakin Hen. Tapi bentar gue butuh minum.”
Hendery menggeleng lalu terkekeh, dasar.
Kemudian Hendery memberikan minum untuk Mark setelahnya keduanya turun kebawah untuk bertemu dengan Johnny dan Ten.
@roseschies