roseschies

video call

Sudah sekitar satu jam mereka berbincang banyak di video call kali ini. Entah dari ngomongin pelajaran, gibahin guru, dan nggak lupa mereka juga gibahin anak kelas yang super nyebelin.

Gini gini mereka emang sering gibah kalo lagi bareng. Bahkan, di kelas aja sering gibah. Kecuali Jaemin sih, dia lebih ngikut aja.

Sampai saat ini mereka berempat masih terkoneksi dalam video call tetapi sudah melakukan kegiatan masing-masing.

Jeno yang sedang main game di ponselnya, Renjun yang lagi scroll social media, Jaemin yang sedang ngemil sambil baca novel, dan Haechan yang sedang mendekor buku jurnalnya.

Buku jurnal tersebut berisi kegiatan apa saja yang akan dia lakukan nanti, terus mata pelajarannya tak lupa ia tandai mata pelajaran yang ia rasa harus ia pelajarin lebih dalam. Kemudian Haechan mendekor kertas selanjutnya untuk hal lain nanti kalau sudah kepikiran.

Saat sedang sibuk menulis kegiatan, Haechan tiba-tiba membuka suara, “Eh, saran dong kegiatan deket-deket ini apalagi sih?”

Jeno yang mendengar pertanyaan Haechan langsung nyeletuk, “Lo dari tadi bahkan pas di sekolah nyari kegiatan mulu.”

Bersamaan dengan Jeno, Jaemin ikut angkat suara, “Ada, olimpiade kalo nggak salah deh.”

Mendengar ucapan Jaemin, Haechan langsung menjawab dengan antusias, “Oh iya bener! Oke kita ikut olimpiade juga. Terus ada apa lagi?”

Bahkan omongan Jeno ia hiraukan dan Haechan lanjut mendekor jurnalnya lalu menulis keterangan untuk ikut olimpiade ketika sudah buka nanti.

Haechan memilih spidol yang akan ia gunakan kemudian menulis kembali di atas buku jurnal miliknya.

Jeno kembali angkat suara, “Lo aneh dah chan.”

“Apaan?”

“Lo nggak biasanya gini tiba-tiba nyari banyak kegiatan dalam sewaktu. Kayak, tiba-tiba jebret, berburu kegiatan. Bukan Haechan banget.” Lanjut Jeno kemudian meletakkan ponselnya lalu menatap layar laptopnya.

“Ya kenapa sih Jen temennya mau sibuk dan cari pengalaman nih sebelum terlambat.” Jawab Haechan lalu mengukir sesuatu di pinggir-pinggir kertas tersebut.

Renjun yang dari tadi hanya menyimak sambil scroll social media langsung meletakkan ponselnya lalu ikut menimbrung dalam percakapan tersebut, “Tapi bener kata Jeno, lo aneh.”

“Aneh gimana sih? Gue biasa aja kan ya Naa?”

Jaemin hanya diam.

“Jujur aja chan.” Lanjut Jeno.

“Jujur apa dah Jen? Gue selalu jujur jir.” Jawab Haechan sambil masih mengukir di atas kertas tersebut.

Hening.

Jeno membuka suara lagi, “Lo lagi nyibukkin diri biar nggak inget-inget terus tentang kakak gue kan?”

Haechan tertawa, “Hah? Apasih mana ada anjir.”

Jeno, Renjun, bahkan Jaemin sangat tau tawa Haechan yang benar benar tertawa itu seperti apa.

Renjun menghela nafas mendengar tawa Haechan. Tawa miliknya terlalu dipaksa dan terkesan canggung.

“Nggak gini caranya chan. Namanya lo nyakitin diri lo sendiri.” Ucap Renjun sedangkan Haechan masih menutup mulutnya dan sibuk mengukir.

“Gue seneng kok kalo lo mau coba banyak hal. Tapi gak serentak langsung dalam sewaktu gini.” Lanjut Renjun. Jaemin dan Jeno menganggukkan kepala setuju dengan Renjun.

“Badan lo chan, peduliin diri lo.” Tambah Jeno.

Haechan diam namun kupingnya mendengar semua ucapan sahabatnya itu.

Haechan tidak bisa mengelak. Memang benar kok, dirinya itu sedang mencoba untuk mencari banyak kegiatan supaya kepalanya ini tidak terus-terusan memikirkan Mark, Mark, dan Mark.

“Gue capek.” Ucap Haechan lalu berhenti mengukir kemudian meletakkan spidolnya di atas buku jurnal miliknya.

“Gue capek banget, Jen, Njun, Na. Serius gue nggak bisa bohong lagi, kepala gue beneran penuh sama Kak Mark. Mau sesibuk apapun diri gue, kepala gue tetep penuh sama Kak Mark.”

“Lo berdua tau Jen, Njun sedeket apa gue sama Kak Mark sejak kecil.” Lanjut Haechan.

“Terus gue harus apa lagi biar gue berhenti mikirin Kak Mark? Gue harus apa dan harus gimana biar Kak Mark pergi dari pikiran gue?” Tanya Haechan.

Pertanyaan yang terasa sulit dijawab untuk ketiga temannya itu.

Jeno, Renjun, dan Jaemin bukan Haechan yang merasakan sesakit apa yang dirasakan oleh Haechan kala itu.

Tetapi ketiga temannya tidak bisa kalau harus melihat Haechan yang terus-terusan menyakiti dirinya sendiri agar pikiran tentang Mark hilang dari dirinya.

Solusi? Bahkan ketiganya sudah tidak tau solusi apa lagi yang harus mereka berikan untuk Haechan.

Lagi. Mereka bukan Haechan.

“Chan, Istirahatin diri dan pikiran lo yuk? Kita having fun, mau? Kita cari udara segar bareng. Kita main, kemanapun lo mau pergi, ayo, kita mau kok temenin lo. Lo mau ke puncak, ayo. Lo mau ke tempat tertinggi buat teriak ngeluarin uneg-uneg lo, ayo. Semua kita jabanin, kita temenin chan.” Ucap Jeno sedangkan Haechan masih menunduk, dirinya lelah dengan diri sendiri.

“Pasti ada cara chan. Gue yakin pasti ada cara lain selain nyakitin diri lo perlahan kayak gini. Bener kata Jeno. Lo mau kemana, kita temenin chan.” Tambah Renjun membuat Jeno dan Jaemin mengangguk.

Haechan mendengus, “Bener. Gue udah nggak bisa mikir jernih lagi, yang gue pikirin cuma gimana supaya pikiran gue nggak terus terusan penuh secepatnya.”

Jaemin menggeleng, “Lo nggak salah kok nyibukkin diri lo apalagi kalau emang mau cari pengalaman. Bener kok, kapan lagi karena waktunya udah mau mepet buat cari pengalaman.”

“Tapi, semua ada porsinya. Nggak sekaligus lo ambil dalam satu waktu chan. Badan lo cuma satu. Waktu lo emang 24 jam, tapi kan nggak 24 jam harus lo pergunakan buat melakukan kegiatan begitu. Ada 8 jam, waktu lo untuk mengistirahatkan diri kayak tidur. Terus juga ada beberapa jam lagi lo sisihin buat keluarga lo. Belum lagi buat makan, mandi, dan lain-lain.” Tambah Jaemin membuat Jeno dan Renjun ikut setuju.

“Kita bukan temen yang mau ngelarang temennya buat berkegiatan kok, nggak chan. Tapi kita cuma nggak mau cara lo yang seperti nyakitin diri lo sendiri gini. Paham kan?” Ucap Jeno.

Haechan mengangguk lalu tersenyum, “Thanks ya udah khawatir sama gue. Bubar bubar, gue nggak suka serius serius ahh.”

“Tapi gue serius tentang kalo lo misal mau kemana gitu, bosen juga gue di rumah.” Celetuk Jeno.

“Yah, gue udah ada urusan keluarga weekend ini. Next deh, nanti atur waktu lain. Eh, atau nggak setelah ujian aja nanti kita self reward sekalian.” Saran Haechan membuat Jeno, Renjun, dan Jaemin mengangguk setuju.

“Jen, gue mau naik rollercoaster malem malem bakal lo temenin nggak?” Ucap Haechan tiba-tiba setelah hening beberapa detik.

Jaemin dan Renjun tertawa. Jokes ini memang hanya dimengerti oleh momogi terlebih jokes ini dibuat oleh Haechan dengan Jeno sasarannya.

Jeno menepuk jidatnya, “Lo anjir masih aja. Mending sini ikut gue main.”

Haechan langsung menutup buku jurnalnya lalu mengambil ponselnya begitu juga dengan Jaemin yang langsung menutup novelnya kemudian mengambil ponselnya.

Mereka akhirnya ikut bermain game bersama Jeno.

Biarkan mereka malam ini bersenang-senang dengan cara mereka.


@roseschies

chit chat

cw // kissing

“Jo,” Panggil Ten sedangkan Johnny yang sedang menutup koper langsung berhenti dan menengok kearah Ten sambil menyahut panggilan dari Ten.

“Emang abang sama Dejun ada apa deh? Kok kayaknya kamu godain abang sama Dejun terus?” Tanya Ten lalu mengambil koper yang sudah ditutup oleh Johnny kemudian ia geret dan diletakkan di dekat pintu.

Johnny terkekeh kemudian duduk di atas kasur sedangkan Ten selesai meletakkan koper langsung ikut duduk di atas kasur dan meletakkan kepalanya di atas dada bidang milik Johnny, “Ga ada apa apa sih. Tapi emang kamu nggak ngerasa sesuatu gitu?”

Ten menggeleng, “Nggak. Emang kenapa? Kayaknya mereka biasa biasa aja tuh kayak abang ke Lucas Mark.”

Johnny mencubit hidung milik Ten gemas, suami mungilnya ini kurang peka ternyata. Padahal kan terlihat jelas setiap Dejun sedang di rumah mereka, gerak gerik Hendery beda.

“Ih kenapa hidung aku dicubit sih!” Ten memukul dada Johnny membuat Johnny mengaduh kesakitan lalu terkekeh.

“Kamu, gemes banget padahal udah punya dua anak tetep aja awet muda.”

Ten langsung menutup kupingnya, ia tau sekali habis ini Johnny akan berbicara tentang apa.

“Soalnya suaminya aku sih ya, jadi kamu awet muda deh— Kamu mah begitu sampe tutup kuping.” Ambek Johnny kemudian memanyunkan bibirnya membuat Ten bergidik ngeri.

Tak ada perubahan Johnny tetap memanyunkan bibirnya kebawah, masih ngambek dengan suaminya itu. “Aku ngambek kok di diemin ajaa????”

Ten menjulurkan lidahnya, “Ya biariinn.”

Tanpa aba-aba Johnny memajukan tubuhnya kemudian mengecup bibir Ten membuat si pemilik berteriak keras.

“JOHNNY!!!!”

Johnny tertawa gemas melihat Ten yang sekarang malah memanyunkan bibirnya kebawah, bete dia.

Johnny merentangkan tangannya, “Sini sini iya nggak, bercanda sayangku. Sini peluk, kita bobo.”

Ten terkekeh lalu merangkak kearah Johnny lalu kembali menidurkan kepalanya di atas dada milik Johnny sedangkan Johnny kemudian mengecup pucuk kepala Ten dengan sayang.

“Jantung kamu berisik banget Jo hehehe.” Ledek Ten tetapi Johnny tetap asik mengelus surai milik Ten.

Sudah berbelas tahun lebih mereka bersama, tetapi rasanya setiap berada di sebelah Ten tidak pernah ada yang berubah entah untuk jantung, hati, dan pikirannya. Semuanya selalu sama sampai detik ini.

Tak mendengar respon apa apa dari Johnny membuat Ten mendongakkan kepalanya untuk melihat kearah Johnny sedangkan Johnny hanya memasang wajah bertanya.

Ten menggeleng, “Nggak gapapa hehehe.”

“Kenapa sayang?”

Ten menggeleng, lagi kali ini bibirnya terasa kering kemudian ia bawa lidahnya untuk menjilat bibirnya.

Jantung milik Ten tiba-tiba berdegup kencang seiring dengan Johnny yang semakin menatap dirinya lekat.

Tatapan Johnny turun kearah bibir Ten lalu Johnny membawa tangannya mengelus bibir itu pelan.

Johnny memajukan tubuhnya lalu mengecup kembali bibir milik Ten.

Beberapa detik hanya menempel. Namun, di detik selanjutnya Johnny membuka mulutnya kemudian lidah miliknya meminta Ten untuk membuka mulutnya dan Ten langsung mempersilahkan sang tamu tersebut masuk untuk mengobrak-abrik isi mulutnya.

Setelah dirasa Ten kehabisan nafas, Ten memukul dada Johnny membuat keduanya terkekeh masing-masing dengan Johnny yang mengelap saliva milik keduanya yang tertinggal di pinggir bibir Ten.

“Dah yuk, bobo. Sini.” Ucap Johnny lalu merengkuh tubuh mungil milik Ten masuk kedalam pelukannya kemudian menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya.

Johnny mengecup kening Ten, “Selamat tidur, mimpi indah sayang.”

Ten mengangguk lalu menutup kedua matanya, “Hm, Kamu juga Jo.”

°°°

@roseschies

planning

Saat ini keluarga Suh sedang berada di ruang TV di mana Ten dan si bungsu Haechan duduk di sofa sedangkan Johnny dan si sulung Hendery duduk di karpet sedang menonton siaran televisi.

Sekitar jam delapan malam Johnny dan Ten keduanya sama-sama sampai di rumah membuat mereka akhirnya menyisihkan waktu untuk sekedar berkumpul bersama keluarganya di ruang TV.

Oh, Johnny juga ingin membicarakan mengenai jalan-jalan yang sebelumnya sudah ia rencanakan.

“Oh iya, Daddy belum bilang yaa, weekend ini pada kosong jadwal kan? Harus kosong dongg karena kita mau jalan-jalan!” Ucap Johnny membuat Haechan yang sebelumnya seperti jelly tanpa tulang menidurkan dirinya di rangkulan sang Papa langsung duduk tegap terkejut mendengar ucapan Johnny.

“Serius Dad?????” Tanya Haechan, ia masih terkejut. Dia benar benar butuh liburan.

Ten mengangguk lalu mengelus surai milik Haechan lembut, “Iya sayang. Kemarin Daddy sama Papa udah coba cari cari penginapan yang tempatnya enak buat kita sekeluarga nginap di sana. Pasti dede suka dehh.”

Johnny ikut mengangguk setuju, “Jadi gimana? Pada bisa kan sabtu pagi ini kita berangkat.”

Hendery mengangguk, “Bisaa kok. Harus bawa baju berapa deh?”

“Terserah abang, yang pasti baju tidur satu, baju pergi sama baju santai. Tambahin juga boleh buat lebih takut kotor-kotoran.” Jawab Ten sedangkan Johnny hanya menyimak. Toh, baju dia udah disiapin duluan sama Ten.

Sedangkan Haechan sudah ada dalam dunianya sendiri, memikirkan baju yang harus dia bawa yang mana dan berapa. Bahkan Haechan sudah punya niat mau ngapain di sana, yang pasti list pertama adalah ngisengin abangnya.

Hendery mengacungkan jempol, “Baik bossss!”

“Jangan lupa bawa handuk, cuci muka, gosok gigi masing-masing. Nggak ada tuh omongan lupa bawa handuk. Ya abang?” Ucap Ten yang sebenarnya memang ditujukan untuk Hendery karena anak itu suka pelupa apalagi handuk.

Hendery terkekeh, “Iyaaa papaaa.”

“Dede mau siap siap ahh. Sekalian dede baru inget mau video call sama momogi. Dede naik yaa Daddy, Papa, Abangg.” Pamit Haechan. Johnny, Ten, dan Hendery mengangguk lalu Haechan berdiri dari duduknya kemudian berlari menuju kamarnya di lantai dua.

Tersisalah ketiga lelaki ini di ruang TV.

“Eh iya Bang.” Panggil Ten sebelum Hendery beranjak dari duduknya membuat Hendery kembali duduk di karpet.

“Kenapa Pa?”

“Ini... Papa boleh minta tolong?”

Hendery mengangguk, “Ya boleh lah Pa? Mau minta tolong apaa Pa?”

“Itu, tadi Om Winwin cerita tentang Dejun. Tanggal ujiannya dikit lagi ya Bang?”

“Iya denger denger sih gitu. Emang kenapa Pa?”

“Om Winwin bilang, katanya Dejun keliatan kayak capek banget ngejar materi ujian. Om Winwin mau bantuin juga nggak paham paham banget. Abang, bisa bantuin?” Tanya Ten. Iya, selalu kalau ada kesempatan diantara Ten, Winwin, dan Taeyong mereka pasti gosip.

Hendery terlihat berfikir lalu mengangguk, “Bisa Pa. Tenang ajaa!”

Johnny yang daritadi menyimak dan duduk diam di karpet langsung angkat suara, “Iya bener tenang aja. Buat Dejun mah apa yang nggak ya Bang?”

Ucapan Johnny membuat Ten tertawa lalu geleng-geleng sedangkan Hendery memalingkan wajahnya, malu.

Daddynya ini selalu deh.

“Yaudah abang naik dulu ke kamar ya Daddy, Papa.” Pamit Hendery lalu berdiri dari duduknya.

Johnny dan Ten mengangguk.

“Semangat ngechat Dejunnya. Jangan gemeter apalagi salah tingkah Bang.”

“DADDY!”

Sedangkan Ten hanya mencolek lengan Johnny, “Jo ah kamu nih usil aja sama anak sendiri.”

“Lucu soalnya heheh. Yaudah, yuk?”

“Yuk apa?”

“Recharge kekuatan!” Ucap Johnny lalu mengangkat tubuh Ten. Dibawanya tubuh mungil itu dengan hati-hati menuju kamar mereka. Sedangkan Ten yang digendong langsung melingkarkan tangannya di leher Johnny sambil tersenyum.


@roseschies

Sampai dua tahun selanjutnya, Ten masih tetap dalam keadaan halusinasinya, menolak apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Johnny di waktu lalu.

Kun yang sedang duduk di sebelah kasur milik Ten langsung membantu lelaki itu duduk di kasurnya setelah menceritakan happy ending dalam halusinasinya.

“Doyoung lagi di jalan mau kesini, lo butuh apa?” Tanya Kun kemudian memberikan minum lagi untuk Ten.

Kalau boleh Ten jujur, Ten butuh Johnny, yang dulu.

Terlalu mustahil jadi, “Martabak hehe.”

Kun menggelengkan kepala lalu mengirim sebuah pesan pada Doyoung untuk membeli martabak sebentar sebelum sampai ke sini.

Setelah beberapa jam menunggu Doyoung sampai dengan martabak pesanan Ten, akhirnya terdengar suara ketukkan di pintu kamar Ten ini.

“Masuk aja, Doy.” Ucap Kun kemudian Doyoung si pengetuk pintu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Ten sambil membawa tentengan titipan dari Ten yaitu martabak.

Doyoung mengangkat tentengannya lalu tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya itu, “Ini dia martabak buat si pemalas!”

Ten melempar sebuah kertas yang berada di nakas sebelah kasurnya ke arah Doyoung kemudian mencibir, “Nyebelin!”

Doyoung dan Kun tertawa kemudian Doyoung meletakkan tentengan tersebut di nakas sedangkan Kun mengambil piring untuk Ten memakan martabaknya itu.

“Nih, lo makan dulu ya? Gue sama Doyoung keluar dulu sebentar.” Ucap Kun sambil memberi piring berisi dua buah martabak untuk Ten sedangkan Ten langsung mengangguk patuh.

Kun menarik tangan Doyoung keluar dari kamar Ten lalu menodong sebuah pertanyaan, “Maksud chat lo apa?”

Doyoung mengajak Kun duduk kemudian menghela nafas panjang sambil memijit pelipisnya. Sudah dua tahun, tetapi masalah dua tahun lalu masih saja berkeliling di sekitar mereka.

“Inget gak sih dulu kita mikir kalo si lelaki itu tau Johnny punya pacar di belakang dia?”

Kun mengangguk, ia sangat ingat itu.

Doyoung menggelengkan kepala, “Semua itu salah besar Kun. Lelaki itu sama sekali gak tau kalau Johnny punya pacar di belakang dia. Jadi, waktu kita ketemu dia itu, dia clueless dan sama sekali nggak ngerti ada apa dibelakang itu. Pas dia nanya ke Johnny, Johnny bohong dan memutar balikkan fakta. Dan iya, sesuai yang gue bilang di chat, Johnny masih sama dia sampe sekarang.”

Kun menggebrak bangku yang sedang ia duduki dengan tangannya yang mengepal, “Udah gila.”

“Terus akhirnya dia udah tau?” Tanya Kun lagi.

Doyoung menangguk, “Gue omongin semua tanpa terlewat di depan muka dia. Ya akhirnya dia sampe mohon mohon ke gue dan minta maaf karena dia sama sekali nggak tau. Yang gue tau sebelum gue pulang, dia sama Johnny cekcok gak tau deh diputusin kali.”

“Kenapa gak lo tonjok aja sih, anjir gue greget mau nonjok juga dari dua tahun lalu gak kesampean.”

“Gue sempet nonjok dua kali terus tangan gue di tahan sama ka Jae. Ka Jae bilang biar dia yang urus Johnny. Dia ngeliat gue udah nangis nangis jadi gak tega, katanya.” Jelas Doyoung lalu berdiri mencari minum untuk dirinya, haus juga.

Setelah mendapatkan minuman untuk dirinya Doyoung kembali duduk di sebelah Kun lalu memanjangkan kakinya, “Kun, udah mulai sekarang kita putus semuanya. Gak perlu ada kita temuin dia lagi. Gue, lo, Winwin, dan ka Taeyong. Kita udahin aja buat ngulik masalah ini. Percuma, yang ada kita cuma emosi terus-terusan dan ngerasa jadi penghambat Ten sembuh karena kita yang kayak masih nyimpen dendam sama Johnny.”

Kun setuju, “Bener. Mulai sekarang kita beneran harus fokus sama penyembuhan Ten. Dua tahun, nggak ada perubahan. Kita juga nggak berubah masih aja kayak dulu. Lebih baik kita duluan, nggak ada yang tau kedepannya Ten pelan-pelan ikut sembuh.”

Doyoung mengangguk, setuju juga dengan ucapan Kun.

“Doyoung, Kun?” Panggil Ten dengan kepala yang menyembul dari belakang pintu kamarnya mencari Doyoung dan Kun.

Doyoung dan Kun yang mendengar suara Ten langsung berdiri lalu berjalan menuju Ten.

“Kenapa?” tanya Kun sesampainya dia di depan Ten bersama Doyoung.

Ten nyengir sampai memperlihatkan deretan giginya, ia tersenyum sangat manis. “Hehehe gapapa. Takut, jangan kemana-mana.”

Doyoung dan Kun menggeleng lalu tersenyum dan mengajak Ten masuk ke dalam kamarnya lagi.

Iya, sejak dua tahun lalu Ten semakin takut untuk ditinggal sendirian.


@roseschies

Seminggu kemudian akhirnya Johnny membawa salah satu sosok yang ingin ditemui oleh Jaehyun dan Yuta. Sebelumnya, Johnny sudah memberikan titik lokasi di grup agar Jaehyun dan Yuta mudah menemui mereka.

“Mas, ini ada apa sih emang?” Tanya lelaki itu pada Johnny yang sedang berdiri di sampingnya.

Johnny menggeleng, “Ga ada apa-apa kok.”

Tak lama kemudian Johnny bisa mendengar suara mobil Jaehyun dan Yuta sampai.

Tangan Johnny semakin keringat dingin, kemudian menunggu Jaehyun dan Yuta turun dari mobilnya sedangkan lelaki yang berada di samping Johnny hanya diam menunggu karena sebenarnya dia tidak tau ada apa ini, dirinya hanya nurut ucapan Johnny saja.

Jaehyun dan Yuta turun dari pintu pengemudi dengan mata yang sembab dan merah. Kedua lelaki itu terlihat benar-benar lelah dan sepertinya habis menangis.

Tetapi ketika melihat lelaki yang berada di samping Johnny dan Johnny yang sedang memegang erat tangan lelaki itu membuat mimik wajah Yuta dan Jaehyun berubah, wajah mereka berdua memerah menahan emosi.

Yuta dan Jaehyun berjalan menuju di mana Johnny dan lelaki tersebut berdiri.

“Oh, dia?” Tanya Yuta langsung to the point kemudian Johnny mengangguk.

“Mas, ini ada ap-”

“Wow, panggilannya beneran udah mas mas ya? Ck.” Celetuk Jaehyun membuat lelaki itu berhenti mengucap, menciut.

Yuta menghela nafas, “Lo tau, gue sama Jaehyun habis ketemu sama Ten. Sengaja sih gue ceritain begini.”

Johnny yang mendengar hal tersebut langsung terkejut, “Kabarnya dia gimana Yut?”

Jaehyun tertawa gak ada lawan ternyata Johnny. Bahkan di samping lelaki ini aja masih bisa nanyain kabar lelaki lain. Haduh.

“Ten itu siapa Mas?” Tanya lelaki itu lagi.

Yuta menggelengkan kepala, pinter banget temennya ini nutupin sesuatu.

Yuta dan Jaehyun bahkan sampai kehabisan kata melihat se-tragis apa hidup Ten saat ini. Yuta dan Jaehyun mampu menutup mulutnya rapat-rapat mengenai di mana Ten sekarang.

Intinya, Ten dibawa ke suatu tempat di mana Johnny sama sekali tidak akan pernah bisa menemukan tempat itu. Ten juga disediain psikiater 24 jam hanya khusus nemenin Ten. Taeyong dan Winwin selalu berganti-gantian nemenin Ten di sana. Bahkan, Kun dan Doyoung rela pindah tempat kerja supaya tidak jauh dari tempat Ten berada.

Omong-omong tentang Kun dan Doyoung, Yuta langsung kembali ke mobilnya lalu membuka pintu belakang.

Johnny sukses menganga lebar.

Di sana ada Kun dan Doyoung dengan tatapan yang sama dengan Taeyong sebelumnya. Namun kali ini, terlihat lebih datar, tanpa ekspresi.

Tetapi siapapun bisa tau, tatapan itu menyimpan banyak dendam besar.

“Gue gak nyuruh lo buat bawa Kun dan Doyoung, Je.” Johnny meninggikan suaranya pada Jaehyun membuat Jaehyun berdecak kesal.

“Sahabatnya wajib tau, siapa sosok lelaki yang bikin sahabatnya sampe segitunya, Jo.” Timpal Yuta sesampainya ia di depan Johnny, Jaehyun, dan lelaki itu bersama dengan Kun dan Doyoung di belakangnya.

Tatapan Doyoung berubah menjadi tatapan tidak suka kemudian ia maju memberanikan diri untuk mendorong lelaki yang berdiri di samping Johnny. “Oh, lo orang dibalik akun lumba-lumba? Sukses ya lo bedua ngerusak hidup seseorang.”

Doyoung tertawa entah menertawakan apa tetapi beda dengan matanya yang mengeluarkan air mata, ia terlalu menahan emosi yang ada di dalam tubuhnya.

“Gila, bercanda banget lo berdua. Lucu banget, ayo dong ketawa hahaha, gitu.” Tambah Doyoung lalu sepersekian detik tawanya hilang dan ia bawa tangannya mengusap air mata yang menetes di pipinya. Mimik wajahnya berubah menjadi datar lagi.

“Lo tau gak sih? ada seseorang yang berjuang hidup matinya di sana? Hahahah. Kurang ajar. Lo itu kurang ajar! Berhasil lo ngambil Johnny dari seseorang, berhasil banget. Murahan lo?” Teriak Doyoung tepat di depan muka lelaki yang berada di samping Johnny membuat Johnny mendorong pelan tubuh Doyoung menjauh dari lelaki itu.

“Lo gak berhak marahin dia sampe kayak gini.” Ucap Johnny tanpa berpikir panjang kemudian menarik lelaki itu supaya tetap berada di dekatnya.

Doyoung meremat tangannya kuat-kuat sedangkan Kun tertawa hebat sambil menepuk tangannya.

“Oh sekarang lo belain dia? IYA? Lo gila, sinting, gak waras Johnny.” Teriak Kun dilanjut dengan tawanya dan tepuk tangan melihat kelakuan Johnny yang tiada tanding.

“Tapi gak membenarkan lo harus ngata-ngatain dia.” Tambah Johnny masih menjaga lelaki tersebut.

“Dan lo juga gak bisa seenak jidat nyakitin sahabat gue, DUA KALI JOHNNY.” Bentak Doyoung sedangkan Johnny langsung menunduk, diam.

Tangan Johnny masih memegang erat lelaki itu sedangkan lelaki yang berada di samping Johnny hanya diam tidak bereaksi sama sekali.

“Sekarang gue tau dan gue gak perlu nanya siapa yang lo pilih, pasti jawabannya dia kan.” Final Doyoung kemudian memundurkan diri sampai berdiri tepat di sebelah Yuta dan Kun.

Doyoung memegang tangan Kun dan Yuta lalu menarik kedua lelaki itu menuju mobil Yuta tanpa meminta persetujuan. Sedangkan Jaehyun ikut berlari menuju mobilnya meninggalkan Johnny dan lelaki itu.

“Itu orang tau gak sih kalo Johnny punya pacar dibelakang dia?” Tanya Kun tiba-tiba setelah masuk ke dalam mobil Yuta.

Doyoung mengedikkan bahu, “Au dah. Tau kali. Diliat dari reaksinya yang kayak orang nggak bersalah berarti dia tau dan dia ngerasa menang karena dia berhasil dapetin Johnny. Iya gak sih?”

“Mana gue tau anjir, lo main narik gue aja belom juga kelar nanya.”

Doyoung mengusap wajahnya frustasi, “Abisan gue kesel anjing. Bodo amat lah. Emosi gue liat muka mereka, mau nonjok tapi liat bekas tonjokkan Taeyong masih ada jadi gajadi. Takutnya makin runyam.”

Kun menghela nafas, “Yaudah, gak usah peduliin tuh dia. Sekarang kita cukup jaga Ten aja. Udah beberapa minggu dia masih gumamin nama Johnny terus.”

Doyoung mengangguk, masa pemulihan Ten sepertinya tidak akan cepat dan memakan waktu lama.


@roseschies

tw // blood , violence , mention death & selfharm

Sesuai dengan janji Johnny yang akan tepat waktu mendatangi tempat yang sudah Jaehyun kirimkan lokasinya di grup, Johnny menginjakkan kaki di sebuah tempat yang asing tepat jam dua siang.

Johnny menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Jaehyun ataupun Yuta namun tidak ada siapa siapa di sana.

Johnny mengambil ponselnya yang berada di saku celana kemudian mencari kontak Jaehyun untuk ia telepon kemudian bertanya di mana lelaki tersebut berada.

Baru saja tangan Johnny ingin memencet tanda memanggil, pundaknya keburu ditepuk oleh seseorang dari belakang.

Ekhm.” Deham Yuta setelah Johnny menengok kearah dirinya.

Yuta cukup kaget karena sekarang Johnny benar-benar terlihat berantakan. Kantung mata yang sudah berkantung bahkan menghitam, mukanya yang terlihat sangat lusuh, tubuh milik Johnny yang biasanya berotot sekarang terlihat lebih kurus. Pokoknya, seperti bukan Johnny yang Yuta kenal.

Yuta mendengus, rasanya kasihan melihat temannya dengan tatapan kosong seperti ini. Tetapi mengingat apa yang sudah dilakukan oleh temannya ini mood Yuta langsung berubah.

“Tunggu Jaehyun lagi di jalan. Lo duduk aja dulu, gak usah angkat suara, diem aja.” Pinta Yuta sambil menunjuk bangku yang ada di sana, menyuruh Johnny untuk duduk sambil menunggu Jaehyun sampai.

“Yut-”

“Gue gak nyuruh lo ngomong, Jo.” Ucap Yuta kemudian duduk di tempat duduk yang ada dan diikuti oleh Johnny yang duduk di sebelah Yuta. Akhirnya lelaki itu nurut untuk tidak membuka suara sama sekali.

Alasan Yuta menyuruh Johnny diam adalah Yuta sangat tidak ingin mendengar suara lemah Johnny, suaranya terdengar parau, lelaki ini pasti menghabiskan banyak air mata kemarin.

Dan Yuta, sudah lelah.

Dalam otak Yuta hanya berputar kalimat-kalimat mempertanyakan Johnny.

Johnny yang duduk di sebelah Yuta hanya menunduk sambil memainkan kuku jarinya dengan kaki yang bergerak terus-menerus tidak bisa diam.

Kepalanya benar-benar berisik antara menyalahkan dirinya dan juga mencari cara agar dirinya bisa mendapatkan alasan yang manusiawi, tak lupa sebagiannya lagi adalah mencari cara agar dirinya bisa bertemu dengan Ten lagi.

“Je!” Panggil Yuta kemudian berdiri dari tempat duduknya membuat Johnny ikutan berdiri dari tempat duduknya.

Johnny bisa melihat Jaehyun dengan pakaian kasual berjalan kearah dirinya dan Yuta.

Jantung Johnny semakin berdetak cepat setelah melihat seseorang yang berada di belakang Jaehyun dengan tatapan yang sangat sangat tidak bersahabat.

Tatapan itu, tatapan mematikan.

Taeyong, sepupu Ten.

Johnny pikir pertemuan kali ini hanya ada dirinya, Yuta, dan Jaehyun. Tak disangka, Taeyong ikut dalam pertemuan kali ini.

Sepersekian detik tatapan Johnny dan Taeyong bertemu. Seperti ada aliran listrik hal tersebut membuat Johnny bergedik ngeri.

Taeyong mempercepat tempo jalannya bahkan dirinya mendahului Jaehyun kemudian berdiri tepat di depan Johnny sedangkan tangan Yuta sudah ditarik oleh Jaehyun, memberi ruang untuk Taeyong, menghabisi Johnny, mungkin?

Tepat setelah tangan Yuta ditarik oleh Jaehyun, Taeyong melayangkan satu tonjokan tepat di pipi sebelah kanan Johnny.

Setelah tonjokan pertama, air mata milik Taeyong ikut turun kemudian Taeyong kembali melayangkan satu tonjokan tepat di pipi sebelah kiri Johnny.

“Gue gak nyangka ada manusia sejahat lo.” Ucap Taeyong kemudian kembali melayangkan satu tonjokan di lengan Johnny.

Taeyong mengusap air mata yang semakin menderas jatuh di pipinya, “Lo gak akan pernah tau seberjuang apa Ten buat dirinya sendiri.”

Tak memiliki tenaga lebih, Taeyong berhenti melayangkan tonjokkan lain pada Johnny kemudian menangis sesegukan di depan Johnny.

Jaehyun yang melihat Taeyong menangis langsung merangkul lelaki itu sambil menenangkannya.

“Lo itu bajingan!” Teriak Taeyong kemudian mendorong tubuh Johnny dengan tenaga yang ia miliki.

Hiks, manusia kayak lo gak berhak dapet kesempatan dari sepupu gue!”

“Gue bahkan gak tega liat keadaan sepupu gue sekarang!”

Taeyong berteriak sambil menangis kemudian terus-terusan mendorong tubuh Johnny dengan tenaga minim.

“Yong, tolong dengerin gu-”

“DIEM! Gue gak mau denger bualan lo lagi, semua omong kosong. Semua yang keluar dari mulut lo, udah gak bisa gue percaya lagi. OMONG KOSONG!”

“Mana cutter? ada yang punya cutter gak?!” Tanya Taeyong membuat Jaehyun yang berada di sampingnya menatap Taeyong dengan tatapan bertanya.

“Buat apa sayang?” Tanya Jaehyun.

Sedangkan Yuta yang masih diam memerhatikan dari samping langsung memberi sinyal pada Jaehyun untuk mengantarkan Taeyong pulang, sepertinya emosi Taeyong sudah mencapai puncak.

“Mau ngasih tau ini orang kalau Ten dibelakang dia selalu nyakitin dirinya pake cutter. Cukup lama Ten berhenti dan mulai lagi karena ini orang berulah!” Jelas Taeyong membuat Johnny yang mendengar penjelasan itu pertama kali langsung terkejut.

Johnny selama ini tidak tau apa yang terjadi pada Ten di belakang dirinya. Bahkan Johnny tidak tau, selama ini cara Ten menenangkan dirinya dari masalah yang ada diantara mereka yaitu dengan menyayat tangannya menggunakan cutter.

Yuta dan Jaehyun yang baru juga mengetahui fakta tersebut langsung terkejut dan menutup mulutnya.

“Tega lo buat Ten terus-terusan nyakitin dirinya sendiri?! TEGA?! Sini mana cepet yang punya cutter gue pinjem, mau gue kasih tau rasanya kayak gimana ke ini orang. Biar dia tau, segimana sakitnya jadi Ten!”

Mengingat hal tersebut membuat air mata milik Taeyong kembali menetes.

Taeyong menghela nafas panjang kemudian mengangkat tangannya lagi.

Bugh

Tubuh Johnny sukses terjatuh akibat dorongan Taeyong yang sangat kuat kemudian Taeyong mendudukkan dirinya di atas tubuh Johnny lalu menonjok pipi Johnny.

Taeyong menonjok sambil berteriak dan menangis.

Melihat tonjokkan yang diberi Taeyong semakin brutal sampai membuat pinggir bibir Johnny robek, Jaehyun langsung menarik Taeyong dari atas tubuh Johnny lalu memanggul lelaki itu.

“TURUNIN GUE BANGSAT GUE BELOM SELESAI URUSAN SAMA SI BAJINGAN SATU ITU! TURUNIN GUE JUNG JAEHYUN! ARGH ANJING MATI LO SAMA GUE JOHNNY SUH! GAK BAKAL SUDI GUE LIAT LO HIDUP LAGI! LO UDAH NGAMBIL KEBAHAGIAAN SEPUPU GUE! LO UDAH NGERUSAK SEPUPU GUE!” Teriak Taeyong sambil berusaha melepaskan dirinya dari panggulan Jaehyun namun tenaga Jaehyun lebih kuat dibanding Taeyong yang sedang melemah saat ini dan Taeyong berhasil masuk ke dalam mobil Jaehyun.

Johnny berusaha bangun sambil mengelap darah yang keluar dari pinggir bibirnya lalu meringis sedangkan Yuta yang sedang berdiri di dekat Johnny langsung mengulurkan tangan untuk membantu Johnny.

Johnny menggeleng menolak bantuan Yuta, “Gak usah Yut, gue emang pantes dapet tonjokkan berkali-kali dari Taeyong. Sakit yang gue rasa gak sebanding dari sakit yang dirasa Ten selama ini.”

Yuta diam, Johnny menunduk merenungi dirinya sendiri. Berapa banyak hal lain yang ia tidak tau lagi tentang Ten.

“Duduk.” Pinta Yuta kemudian keduanya duduk di bangku yang sebelumnya mereka duduki juga.

Johnny masih menunduk, membayangkan Ten yang menyayat tangannya, Ten yang menangis sendirian di kamarnya.

“Yut, tolongin gue.” Johnny membuka suaranya, meminta pertolongan Yuta.

Yuta mendengus, “Lo liat sendiri tadi Taeyong aja gitu, gimana Ten?”

Johnny terdiam.

“Siapa lagi sekarang orangnya?” Tanya Yuta.

Kalimat 'lagi' yang diucapakn oleh Yuta bahkan sampai ditekan.

“Anaknya temen bokap gue. Gue salah banget Yut, gue pikir gue bisa nahan diri gue sendiri. Ternyata gak, dan gue keterusan sama dia.” Jelas Johnny membuat Yuta memijit pelipisnya.

“Dijodohin?” Tanya Yuta, lagi.

Johnny menggeleng.

“Suruh dia ketemu sama gue dan Jaehyun.” Pinta Yuta sedangkan Johnny terdiam.

Tak ada jawaban dari Johnny selama beberapa menit membuat Yuta angkat bicara lagi, “Kenapa? Lo mau jagain dia? Haha, yaudah terserah lo lah.”

Johnny menggeleng, “Ok, nanti gue bawa dia ketemu sama lo dan Jaehyun.”

Yuta mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya.

“Lo bisa pulang sendiri kan? Bisa lah, kalo gak kuat telepon aja tuh dia. Gue balik duluan.” Pamit Yuta lalu langsung meninggalkan Johnny sendirian.

Johnny menghela nafas lalu berdiri sambil menahan nyeri yang terus berdenyut dari pipinya.

Lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku celana lalu mencari satu kontak kemudian memanggil kontak tersebut.

Kenapa mas?

“Bisa jemput aku gak? Aku kirim lokasinya, makasih ya.”

Oh iya bisa kok. Aku jemput ya tunggu siap-siap.

Tut


Selamat ulang tahun, Hendery Suh.

Halo, jagoannya Daddy.

Maaf ya, Daddy jago kandang hehehe....

Selamat ulang tahun buat malaikat kedua Daddy (yang pertama Papamu). Selamat ulang tahun buat jagoannya Daddy.

Bang, Maaf ya kalau Daddy belum bisa jadi orang tua yang baik selama Abang dilahirkan ke dunia ini. Daddy bakal terus belajar buat jadi orang tua yang baik buat Abang dan Dede.

Bang, kamu cepet banget gedenya ya....

Daddy ingat dulu kamu masih sekecil genggaman Daddy, oke ini berlebihan. Tapi dulu kamu keciill banget dibanding Dede. Rasanya mau Daddy jaga sepenuh hati biar nggak hilang, padahal nggak akan hilang juga ya Bang kamu kan nggak segede kelereng hehehe....

Dulu kamu selalu lari-lari muterin sofa rumah terkadang sampai lupa pakai celana dan dalaman karena kamu excited banget karena mau Daddy ajak main kerumah Om Yuta. Kata kamu dulu, “Daddyyy Om Yuta kereenn punya banyak ombil-ombilan di rumahnyaa, Dery mau jadi pembalap nanti Dery minta ajarin Om Yuta naik ombil!”

Hahaha, ombil-ombil. Duh, Daddy mau nangis sebentar.

Udah, hehehe, Daddy lanjut yaa...

Kamu daridulu selalu baik ke semua orang, kamu yang nggak pernah pilih-pilih teman, semua orang kamu ajak jadi teman kamu. Bang, terima kasih ya?

Daddy tau, Abang kuat. Sekuat Abang yang bisa nerima semua masalah lapang dada dan mencoba buat menyelesaikan semuanya satu persatu pakai cara Abang.

Tapi, Daddy juga tau, jadi Abang itu enggak mudah. Daddy cuma mau bilang, Abang jangan lupa, Abang nggak sendirian.

Abang punya Daddy, Abang punya Papa, dan Abang punya Dede. Kalau kata Papa, Abang punya diri Abang sendiri. Hahaha berasa trademark kalimat Papa ya, Papa selalu bilang gitu ke Daddy, Dede, pasti Abang juga pernah denger omongan Papa yang kayak gitu.

Bang, mungkin kita kalau lagi berdua rasanya canggung ya Bang? Duh, Daddy juga bingung Bang. Gimana, kalau kita coba buat runtuhin tembok canggung diantara kita? Beli dimana ya senjatanya Bang. Hahaha, pasti kamu lagi ngedumel “Apasih jokes Daddy tua banget.”

Duh, Bang..

Sekali lagi sekalian penutup,

Selamat ulang tahun, jagoannya Daddy. Hendery Suh.

Terima kasih sudah jadi pelengkap dihidup Daddy dan terima kasih sudah berusaha untuk terus menjadi diri Abang dan nggak lupa sekitar.

Daddy, sayang sama Abang. <3

Tertanda,

Johnny Suh. Daddy yang ganteng sejagat raya milik Abang seorang. :)

5 Tahun Kemudian

⚠️ car accident, character death.

Tidak banyak perubahan dari diri Ten, bahkan statusnya masih sama seperti 5 tahun lalu, menjomblo. Berbeda dengan sahabatnya yang sudah memiliki gandengan.

Tadinya, Ten berniat untuk mengajak Taeyong bermain ke tempat wisata, ia baru saja melihat iklan bahwa ada tempat wisata yang baru dibuka seminggu lalu, dekat dengan tempat tinggalnya.

Tetapi, tidak jadi.

Ten ingat, hari minggu adalah hari dimana Taeyong dan kekasihnya menghabiskan waktu berdua maka dari itu Ten mengurung niatnya.

Dan disinilah Ten, di depan televisi miliknya yang sedang menyiarkan berita terkini.

Ten tidak terlalu menyukai siaran berita, namun sudah berkali-kali dirinya muter-muter mencari tontonan yang menarik tetapi hasilnya tidak ada yang menarik perhatian dirinya.

Seorang pejalan kaki mengenaskan setelah tertabrak mobil yang tengah menyalip. Di duga pengemudi mobil tersebut sedang mengantuk dan tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya dan hendak menyalip kendaraan yang berada di depannya.

Kecelakaan yang mengakibatkan satu orang tewas ini terjadi di perempatan dekat tempat wisata yang baru saja dibuka minggu lalu.

Seorang polisi menerangkan, korban berinisial J meninggal dunia ditempat setelah mengalami luka serius di bagian kepala.

Berikut merupakan video yang sempat direkam oleh saksi yang berada di TKP.

Ten menyimak berita tersebut dengan serius. Bahkan matanya tidak berkedip.

Padahal, baru saja dirinya berniat kesana bersama Taeyong.

Kemudian video amatir yang sempat direkam oleh saksi di TKP mulai dimainkan di siaran berita tersebut.

Ten terkejut setengah mati.

Warna baju yang digunakan sang korban, persis dengan mimpi 5 tahun lalu yang masih Ten ingat.

Mimpi kecelakaan itu, terasa nyata setelah dirinya menonton video amatir dari saksi di TKP.

Bulu kuduknya merinding sekujur tubuh. Badan miliknya melemas.

Ten dapat melihat senyuman yang terlihat di bibir korban setelah si saksi memperbesar video amatir miliknya.

Senyuman itu.

Dunia ini sudah gila. Bukan, bukan dunia ini.

Dirinya yang sudah gila.

Mimpi 5 tahun lalu, menjadi sebuah kenyataan.

Ten kembali teringat pesan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.

Jangan sampai telat sedikit pun.

Ten memang datang, tetapi ia telat 5 menit.

Tidak mungkinkan, kalau omongan bahwa si pemilik nomor tidak dikenal itu adalah jodohnya, merupakan sebuah kebenaran?

Tidak mungkin, kan?

Ten langsung mengambil jaket miliknya yang tergantung kemudian memakai jaket tersebut dengan cepat. Tak lupa Ten mematikan televisi tersebut lalu mengambil ponselnya, memencet titik lokasi yang 5 tahun lalu ia datangi itu.

Iya, dirinya tidak pernah menghapus pesan tersebut.

Dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya, Ten mengendarai motor miliknya menuju lokasi itu.

Lumayan memakan waktu lama, Ten sampai di tempat di mana ia bisa memarkirkan motornya kemudian ia berlari sekuat tenaga untuk menuju titik lokasi.

Jantung yang berdegup kencang, tangannya yang berkeringat, pikiran dan mulutnya yang terus mengucap bahwa ini semua tidak mungkin. Ten terus menerus menggelengkan kepalanya sambil terus berlari menuju titik lokasi.

Sesampainya ia di titik lokasi, dirinya tetap tidak menemukan siapa siapa di sana.

Tubuh Ten terjatuh di damparan pasir pantai. Angin menghembus sedikit kencang menerpa dahi Ten.

Kalau memang ternyata semua itu benar,

Berarti....

Lelaki itu....

Seseorang yang hidup 5 tahun lebih dulu dari dirinya.

Aneh.

Lebih aneh lagi, banyak kejadian yang semakin Ten pikirkan, benar-benar terlalu pas.

Jika Ten tidak telat dan tepat waktu, mungkin saja ia benar benar bertemu dengan seseorang itu.

Dan, mungkin berita yang baru saja ia dengar, bukan berita itu.

Pasti, jika Ten tidak telat, dirinya bukan lagi mengajak Taeyong untuk bermain di tempat wisata yang baru buka seminggu lalu.

Jika Ten tidak telat, pasti si korban kecelakaan maut itu, mungkin saja sedang menyebrangi jalanan dengan menggandeng tangan seseorang. Iya, tangan dirinya. Bersama dengan dirinya. Di sana.

Semakin memikirkan hal tersebut, perlahan air mata milik Ten jatuh tepat ketika Ten berkedip.

Kian menderas, Ten menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya. Meredam tangisannya.

Dia sudah membunuh seseorang hanya karena keterlambatan dirinya di 5 tahun lalu.

Dia sudah membunuh seseorang yang bahkan belum sempat dia temui.

Dia sudah membunuh seseorang, yang mengaku sebagai jodohnya di masa yang akan datang.

Dirinya sudah menjadi pembunuh bagi takdir hidupnya sendiri.


@roseschies

Destiny

Ten menginjakkan kakinya tepat di titik lokasi di mana si 'seseorang' tersebut kirimkan kepada dirinya minggu lalu.

Ten mengambil ponsel yang berada di saku celananya untuk melihat jam.

22.05.

Ten hanya telat 5 menit.

Ten menengok kesana kemari mencari 'seseorang' tersebut namun tidak ada siapa-siapa, hanya ada laut lepas yang Ten lihat dengan matanya.

Iya, Ten sekarang berada di sebuah pantai, bahkan Ten baru sadar kalau ada pantai seperti ini di dekat daerahnya.

Padahal beberapa hari lalu Ten dan Taeyong mencari lokasi ini dengan susah payah, tetapi kali ini dirinya menemukan lokasi ini sangat mudah.

Menunggu 5 menit, 10 menit, bahkan 30 menit namun Ten tidak kunjung bertemu dengan 'seseorang' tersebut.

Ten mendengus, kesal dengan dirinya yang gampang percaya dengan hal seperti ini.

Apa jangan-jangan, 'seseorang' itu sudah pergi karena di sana tertulis bahwa dirinya harus tepat waktu.

Tetapi, Ten hanya telat 5 menit kok?! Tidak jadi masalah, seharusnya kan?

“Bisa-bisanya gue dimainin kayak gini. Woi siapapun lo, keluar gak?!” Teriak Ten namun hanya angin yang membalas teriakannya.

Sudah terlalu lama ia menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti.

Benar kata sahabatnya, Taeyong.

Seharusnya memang ia tetap tidak percaya akan hal tersebut. Mimpi hanyalah mimpi.

Ten akhirnya bangun dari duduknya kemudian membersihkan celana miliknya yang kotor terkena pasir kemudian meninggalkan tempat tersebut lalu kembali pulang menuju kosannya menggunakan motor milik Taeyong.


@roseschies

— Johnten oneshot AU

IB Song : I'm in love – Ra.D

1614 words.


Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Lelaki keturunan Thailand yang rela pergi jauh dan meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu demi menuntaskan pendidikannya di Negara orang lain.

Tidak mengenal siapapun, bahkan ia masih tidak terlalu lancar dengan bahasa sini.

Seperti orang linglung hanya menengok kanan kiri mencari bantuan kepada siapapun yang bisa membantu dirinya sambil membawa satu berkas berwarna merah di tangan kanannya. Kedua tangannya bahkan terlihat sangat penuh dengan barang akibat tangan kirinya yang juga sibuk memegang ponsel untuk melihat kearah maps yang ada di sana, matanya perlahan membaca maps guna memahami jalan yang ada.

Terlihat lelaki itu menggerutu kesal karena berkali-kali ia membaca maps tetapi tak kunjung memahami lokasi tersebut, hampir saja berkas yang berada di tangan kanannya itu berjatuhan.

Baru saja Johnny ingin membawa kakinya menuju tempat di mana lelaki tersebut berada tetapi lebih dahulu seorang lelaki mendekat kearahnya, keduanya berbicara dengan bahasa tubuh masing-masing dan sampai akhirnya mata milik si lelaki itu berbinar karena akhirnya ia menemukan seseorang yang ingin membantu dirinya menemukan gedung yang sejak tadi ia cari.

Mata itu, mata yang bisa membuat siapapun yang menatap terhipnotis, juga bibirnya yang terlihat mengerucut setiap menggerutu kesal ketika dirinya membaca maps terlihat sangat lucu. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, terlihat menggemaskan saat bersemangat ketika mengetahui dirinya dibantu oleh seseorang.

Semua hal tersebut, tidak pernah Johnny lupakan seumur hidupnya. Bahkan, debaran jantung yang pertama kali Johnny rasakan seumur hidupnya setelah mata miliknya memperhatikan mata milik lelaki tersebut. Johnny masih ingat.

Johnny tidak akan pernah melupakan, lelaki dengan berkas di tangan sebelah kanan, ponsel di tangan sebelah kiri, mata yang sangat memikat siapapun, bibir yang terlihat lucu, dan wajah yang terbilang cantik untuk seorang lelaki.

Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.


Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Kejadian tidak terduga, tepat awal masuk kuliah Johnny dapat melihat dengan matanya sendiri. Tidak jauh dari tempatnya, lelaki yang waktu lalu, lelaki yang selalu memenuhi kepala Johnny untuk beberapa waktu belakangan ini berdiri di dekat ruang kelas di mana kelas tersebut biasa digunakan untuk anak jurusannya.

Ternyata, mereka satu jurusan.

Lelaki tersebut terlihat tersenyum hingga matanya pun ikut tersenyum mendengar cerita teman yang ada di depannya. Tentu, menggunakan bahasa yang sama-sama keduanya pahami, bahasa inggris juga bahasa tubuh.

Karena waktu yang begitu mepet dengan mata kuliahnya juga dosen yang sudah jalan tidak jauh dari dekat kelasnya membuat Johnny ikut buru-buru masuk ke dalam kelasnya untuk duduk di tempat yang biasa ia duduki di dalam kelas.

Ternyata, sekedar ingin melemparkan senyuman dan bersapa dengan seseorang yang baru dan mampu membuat jantungmu berdebar bukanlah sesuatu yang mudah.

Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.


Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Waktu pertama kali pada akhirnya keadaan benar-benar berteman baik dengan keduanya, di mana akhirnya Johnny dapat membuka mulutnya untuk bersapa dengan lelaki tersebut adalah saat keduanya menjadi anggota Himpunan Mahasiswa di jurusan mereka.

Johnny yang dengan gugup membawa kakinya menuju lelaki tersebut yang sedang duduk sambil menulis di atas buku miliknya itu kemudian menyentuh pundak lelaki tersebut lalu berkata dengan suara yang entah keluar dari mulut Johnny terdengar sangat aneh, “Hai?”

Lelaki tersebut berhenti menulis lalu mendongak untuk melihat siapa orang yang sudah menyentuh pundaknya, setelah melihat keberadaan Johnny yang berdiri tinggi menjulang di sebelahnya itu, bibir miliknya tersenyum lebar, “Oh, Hai?”

Setidaknya, sudah ada kemajuan diantara keduanya.

Ternyata, setelah berhasil bersapa dengan seseorang yang baru dan mampu membuat jantungmu berdebar merupakan suatu hal yang mudah, jika memang keadaan berpihak padamu.

Sesuatu yang terlihat sangat sulit adalah mengatakan bahwa, aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihat dirimu. Itu, bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan, terlihat sangat sulit jauh lebih sulit.

Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.


Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Sesuatu yang dilakukan pertama kali selalu membuat gugup.

Terlebih untuk pertama kali di mana akhirnya Johnny mengungkapkan perasaannya kepada lelaki bernama Ten.

Jika aku tidak mengatakan kepadamu terlebih dahulu, Aku takut kehilangan dirimu.

Kata-kata tersebut tiap malam bermain dan berputar di kepala Johnny.

Johnny buru-buru mengambil ponselnya kemudian membuka ruang obrolan dirinya dengan Ten.

Johnny menuliskan sebuah pesan. Sedikit ragu-ragu, kemudian menghapusnya lagi.

Ia tulis, hapus, tulis, hapus. Rasanya semua tulisannya terasa aneh, maka dari itu Johnny memutuskan untuk mengirim sebuah pesan lain pada Ten.

Apa kau besok sibuk? Jika kau memiliki waktu, bisakah kau luangkan sedikit waktu untuk bertemu denganku? Sepertinya bertemu di kantin fakultas terdengar tidak buruk.

Dengan gugup, Johnny menunggu pesan miliknya di balas oleh si penerima.

Suara detak jantung miliknya bahkan sudah melebihi satu ketukan dibanding detak jam dinding yang berada di dalam kamarnya.

Jantungnya, rasanya ingin meledak saat ini juga ditambah terdengar suara notifikasi dari ponselnya menandakan seseorang membalas pesan Johnny.

Dengan harap, Johnny perlahan menggeser lockscreen ponselnya kemudian membuka ruang obrolan dirinya dengan Ten.

Oh, Johnny. Tidak, aku tidak sibuk. Baik, aku akan bertemu denganmu di kantin fakultas. Jam berapa?

Bagaimana kalau jam 12 jika kau tidak keberatan.

Tidak, aku tidak masalah. Baiklah jam 12. Sampai bertemu besok, Johnny.

Sampai bertemu besok, Ten.

Cepat cepat Johnny menutup ruang obrolan tersebut kemudian melempar ponselnya ke atas kasur kemudian tersenyum seperti orang gila sambil menatap langit-langit kamarnya.

Berdoa dengan segenap hati, besok akan menjadi harinya.

*****

Waktu terasa begitu cepat bagi Johnny.

Saat ini dirinya sudah duduk di meja kantin fakultas, menunggu kehadiran Ten. Bahkan Johnny sudah duduk sejak pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit.

Kehadiran Ten langsung mendapat atensi lebih dari Johnny, lelaki mungil tersebut berusaha untuk menembus keramaian kantin fakultas hingga akhirnya lelaki tersebut sampai di tempat di mana Johnny sudah duduk dengan manis di sana.

“Hai?”

“Duduk, Ten.”

Kemudian Ten langsung duduk di depan Johnny yang sedang diam-diam memperhatikan Ten di depannya.

Johnny berdeham lalu mencoba untuk membuka obrolan diantara keduanya, “Ekhm, mau makan dulu?”

“Oh, boleh. Aku mau pesan nasi katsu saja.”

“Ok. Aku sama sepertimu, biar aku yang pesankan ya? Tunggu sebentar.”

Johnny kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan membelah keramaian kantin fakultas untuk menuju kedai yang menjual nasi katsu. Kedai tersebut lumayan jauh dari tempat duduk keduanya.

Dari tempat duduknya, Ten diam-diam tersenyum tersipu malu melihat punggung Johnny yang sedang membelah keramaian demi memesan makanan untuknya.

Cukup memakan waktu yang banyak hingga akhirnya Johnny membawa satu nampan berisi dua piring nasi katsu juga dua minuman yang sebenarnya Ten tidak pesan sebelumnya namun Johnny inisiatif untuk membelikan Ten minuman.

Setelah sampai di tempat duduknya Johnny memberikan satu piring dan satu minuman untuk Ten kemudian mengambil miliknya lalu duduk kembali di depan Ten.

“Terima kasih, Johnny.”

“Tidak masalah, Ten. Makanlah, pelan-pelan. Aku belikan minum takut takut kau tersedak. Terlalu sulit hanya untuk membeli sebuah minuman di dalam. Ramai sekali.”

Ten terkekeh, memang sih ini jam istirahat. Banyak sekali mahasiswa berlalu-lalang di lorong kantin fakultas saling sahut menyahut memesan pesanan untuk mereka santap di waktu istirahat seperti ini.

“Hahaha, Bisa saja. Tapi, terima kasih banyak untuk inisiatifnya. Makan, John.”

Johnny mengangguk lalu mempersilahkan Ten untuk makan.

Untuk beberapa waktu kedepan, keduanya hening dan khidmat memakan makanan yang berada di depan masing-masing.

Setelah keduanya selesai dengan makanannya masing-masing dan tak lupa keduanya sudah meneguk minumannya masing-masing, saat saat yang Johnny tunggu akhirnya tiba. Degup jantungnya kian memburu, cepat.

Menghela nafas pelan, Johnny kemudian mulai membuka mulutnya untuk berbicara pada Ten di tengah keramaian kantin fakultas.

“Ten.” Panggilnya membuat Ten yang barusan sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya lalu menatap mata Johnny yang mulai berbeda.

Mata tersebut, memancarkan aura yang berbeda. Hal tersebut membuat Ten menjadi salah tingkah sendiri.

“Iya?”

Johnny dengan pelan mengambil tangan milik Ten kemudian mengaitkan tangan tersebut dengan tangan miliknya. Kaitan tersebut terasa sangat pas. Tangan mungil milik Ten, sangat cocok di dekap di dalam tangan miliknya.

Johnny menatap tangan milik Ten kemudian mengusap punggung tangan Ten dengan ibu jarinya, ia usap perlahan merasakan halusnya kulit punggung tangan Ten kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat lurus lurus wajah Ten.

Degup jantung keduanya seperti sedang berlomba siapa dulu yang lebih cepat saat ini.

Sebenarnya sejak pertama kali aku bertemu denganmu, Di suatu tempat jauh di dalam hatiku, Dirimu jatuh seperti gelombang yang kuat, Kau satu-satunya yang ku pikirkan sepanjang hari, Aku bisa menjadi kekasih yang baik untukmu, Aku juga ingin menjadi pelindung untukmu, Aku akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia di dunia.

“Eum, Maukah kau menjadi kekasihku?”

Terlihat tidak romantis akibat suara ramai dari kanan, kiri, depan, dan belakang namun kalimat yang dilontarkan oleh Johnny mampu diterima dengan sangat baik oleh kuping Ten, bahkan pipi milik Ten kian memanas melihat bibir milik Johnny yang menyunggingkan sebuah senyuman manis diakhir kalimatnya.

Tanpa berfikir lama dan tak mau buang waktu, Ten tersenyum hingga matanya ikut tersenyum. Senyumannya itu terlihat sangat bahagia lalu Ten mengangguk antusias.

Ten menerima Johnny menjadi kekasihnya.

Ten menerima Johnny menjadi seseorang yang mulai sekarang akan menemani dirinya seharian di dalam hidupnya.

Ten menerima Johnny untuk masuk ke dalam hidupnya.

Hari ini, Johnny berhasil memiliki lelaki tersebut secara utuh. Ten miliknya. Johnny miliknya. Keduanya saling memiliki satu sama lain.

Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.


Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Namanya yang sangat indah sama dengan pemiliknya.

Lelaki bernama Ten tidak hanya indah, tetapi sangat berharga.

Lelaki itu, sangat sangat berharga. Bahkan rasanya Johnny ingin sekali menjaga lelaki itu seumur hidupnya.

Lelaki yang mampu membuat Johnny merasakan degup jantung lebih kencang daripada biasanya. Lelaki yang mampu membuat Johnny merasakan apa itu jatuh cinta. Lelaki yang mampu membuat Johnny rasanya takut, kehilangan seseorang yang suatu waktu akan meninggalkannya.

Tetapi, Johnny percaya, dirinya percaya pada Ten juga keadaan diantara keduanya.

Aku pikir aku tak akan pernah jatuh cinta. Tapi aku jatuh cinta, karena aku ingin mencintaimu.

Mungkin jika orang tersebut bukanlah Ten, Johnny tidak akan bisa sejatuh cinta ini dengan seseorang.

Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Kau begitu menakjubkan.


@roseschies.