roseschies

— Johnten oneshot AU

TW // car accident , major character death , depression , self harm , panic attack , attempt of suicide , mental issue , mentioning blood .


Setelah Ten menerima pesan bahwa Kun sudah di depan unitnya, Ten buru-buru menggunakan sandalnya lalu berlari-lari kecil menuju pintu untuk membukakan pintu untuk Kun yang sudah menunggu di depan sana.

“Hoi!” Sapa Kun setelah mendengar pintu terbuka lalu Kun dapat melihat Ten dengan pakaian rumahnya berdiri di belakang pintu lalu mempersilahkan Kun untuk masuk.

“Lama banget lo gue tungguin daritadi juga.” Oceh Ten lalu menutup pintu tersebut lalu mengajak Kun untuk masuk ke dalam apartemennya. Sedangkan Kun yang sudah menjadikan apartemen milik Ten menjadi tempat berlindung keduanya itu langsung memakai sandal miliknya yang memang dikhususkan untuk dirinya di sini.

Kun membawa kakinya menuju meja makan yang terletak diantara dapur dan ruang TV kemudian menaruh bungkusan yang ia beli tadi sebelum menuju apartemen Ten. “Ini gue beliin makanan buat lo juga, ngoceh aja bocah. Mau dipanasin nggak?”

Sedangkan Ten yang sudah duduk kembali di sofa dan menikmati tontonannya di televisi mengangguk mendengar ucapan Kun. “Mau dong. Eh, emang lo beli apaan?”

“Sup sama gorengan sih. Kayaknya supnya udah agak dingin, gue tau lo nggak suka sama makanan yang mulai dingin.” Jelas Kun kemudian mengeluarkan makanan yang ia beli satu persatu dari bungkusannya untuk ia panaskan.

“Ohh, kalo gitu gorengannya panasin juga lah di microwave.”

Kun memutarkan bola matanya malas. “Iya bos besar.”

Ten tertawa kencang, ia sangat suka menyuruh-nyuruh sahabatnya itu. Tidak, Ten bukan orang yang seperti itu kok. Hanya saja ia terlalu malas untuk membantu Kun saat ini dan lagipula Kun juga mau saja ia suruh bahkan dengan senang hati.

Dia tidak tau aja, kalau Kun sudah mengeluarkan banyak sumpah serapah dalam hatinya hanya untuk seseorang bernama Ten Chittaphon.

Ten menonton televisi dengan khidmat sedangkan Kun sedang menghangatkan sup serta memanaskan gorengan di dalam microwave yang memang tersedia di unit milik Ten.

Tidak ada pembicaraan lebih lanjut karena keduanya asik dengan kegiatan masing-masing.

Kecelakaan beruntun atau kecelakaan karambol yang melibatkan empat kendaraan terjadi di xxx. Kecelakaan ini melibatkan pikap, minibus, dan dua truk. Tampak kendaraan paling belakang truk tronton yang mengalami rusak di bagian kemudi.

Di depan truk tronton terdapat dump truk yang juga mengalami rusak di bagian kemudia. Kemudian di depannya lagi terdapat pikap yang ringsek di bagian depan, serta minibus yang mengalami rusak di bagian bodi depan.

“JOHNNY!”

Terdengar suara teriakan dari arah ruang TV membuat Kun yang sedang mengaduk sup buru-buru mematikan kompor lalu berlari menuju Ten yang sedang meringkuk serta menutup telinga dan matanya dengan kedua tangan yang ia miliki, badan milik Ten bergetar hebat.

“J-JOHNNY!”

Ten teriak lagi saat ini dengan tangan yang seperti ingin menahan sesuatu. Badannya semakin gemetar, giginya menggeretak mengikuti badannya yang bergemetar.

Tanpa bertanya, Kun langsung memeluk tubuh Ten erat lalu mengelus rambut milik Ten bermaksud untuk menenangkan sahabatnya ini, kemudian mematikan saluran televisi tersebut.

“J-jo- hah- K-un, Joh- Johnny Kun.” Ucap Ten dengan terbata-bata, nafasnya seperti terambil satu persatu membuat Kun mencari oksigen yang biasanya Ten letakan di pinggir sofa.

Kun mengipasi Ten dengan tangan satu miliknya yang sibuk mencari oksigen tersebut.

Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Kun langsung memberikan oksigen tersebut pada Ten lalu Ten menghisap oksigen tersebut pelan-pelan.

Kun panik bukan main. Ini merupakan pertama kali ia melihat Ten yang secara tiba-tiba seperti ini.

Ten memang terkadang membutuhkan oksigen untuk rasa sesaknya. Tetapi kali ini, rasanya berbeda.

Ten mengalami panic attack yang bisa dibilang terlihat parah.

It's okay Ten. Gue di sini sama lo. It's okay.” Kun mengelap keringat yang membasahi pelipis Ten.

Setelah Ten merasa dirinya cukup menghirup banyak oksigen dari alat bantu tersebut, ia melepas kemudian terdiam menatap televisi yang sudah mati di depannya.

Televisi yang mati tersebut memberi reaksi pantulan membuat Ten melihat dirinya yang sedang duduk di sofa dengan kaki yang meringkuk dan badan bagian belakang Kun yang berada di sebelahnya.

Tiba-tiba saja air mata turun dari pinggir mata milik Ten membuat Kun bingung lalu menghapus jejak air mata tersebut dan memeluk sahabatnya.

Kun bingung sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba seperti itu dan kenapa tiba-tiba seperti ini.

Tetapi Kun tiba-tiba tersadar akan suatu hal.

Berita kecelakaan yang baru saja Ten dengar di televisi dan reaksi Ten setelahnya yang memanggil nama Johnny.

Kekasih Ten.


Hari ini merupakan hari yang sangat dinanti oleh Ten maupun Johnny. Setelah keduanya dilanda dengan banyaknya pekerjaan yang menimpa, akhirnya mereka memiliki waktu luang untuk sekedar bertemu dan saling berbagi sentuhan yang sudah lama tidak mereka lakukan.

Johnny melingkarkan tangannya di pundak milik Ten sedangkan Ten melingkarkan tangannya tepat di pinggang Johnny lalu meletakkan kepalanya di pundak milik Johnny.

“Aduuh, pacar aku manja banget begini. Di apartemen kamu aja ya? Nggak usah ke tempat rekreasi, kayaknya enakan di apartemen kita bisa cuddle.” Ucap Johnny melihat kekasihnya yang bermanja meletakkan kepalanya di pundak miliknya saat keduanya sedang berjalan menuju basement untuk mengambil mobil milik Johnny di sana.

Ten menggeleng. “Nggak mau. Aku lagi kepengen ke tempat rekreasi Jo. Kita udah jarang ngabisin waktu berdua masa cuma di apartemen. Maunya main!”

Johnny terkekeh lalu membawa tangannya untuk mencubit hidung mancung milik Ten. “Iya iyaaa. Apapun untuk kesayangan aku yang gemes ini.”

Sesampainya keduanya di depan mobil milik Johnny. Johnny membantu membukakan pintu mobil untuk Ten. “Silahkan masuk Ten Suh.”

Mendengar hal tersebut, Ten mencubit pinggang Johnny. “Sembarangan aja ganti marga orang ih.”

Johnny terkekeh lalu mencium kening milik Ten lalu memasangkan seatbelt untuk Ten kemudian menutup pintu tersebut. Johnny mutar untuk masuk ke dalam seat miliknya.

Setelah Johnny menyalakan mobilnya, Ten memajukan tubuhnya lalu menarik seatbelt milik Johnny. “Dipakai dong seatbeltnya. Bandel.”

Johnny terkekeh gemas. “Makasih sayang.”

Kemudian Johnny menjalankan mobilnya menuju tempat rekreasi yang ingin Ten datangi belakangan ini.

Di jalan keduanya saling melontarkan canda dan tawa bersama juga menceritakan keseharian mereka belakangan ini. Kerjaan keduanya benar-benar menyita waktu luang mereka untuk bercerita dan melepas canda tawa seperti ini. Tetapi, keduanya bahagia bisa kembali berbagi cerita lagi.

“Jo ihh!!” Ten memukul lengan Johnny karena sejak tadi Johnny gemar sekali meledek Ten yang sedang cerita kalau kemarin dirinya sempat kena teguran dari atasannya akibat suatu hal yang menurut Ten sangat aneh. Tetapi, Johnny malah meledeki dan menertawakan hal tersebut.

“Lagian atasan kamu ada ada aja. Begitu doang pake kena teguran. Kehilangan kamu baru tau rasa. Aku aja nggak mau kehilangan kamu, terlalu berharga sih.” Gombal Johnny diakhir membuat pipi Ten memerah, ia malu. Dasar Johnny.

Johnny tertawa lalu membawa tangannya mencubit pipi milik Ten. “Ih manyun-manyun aja. Cium nih.”

“Gak! Ngendarain mobil yang bener ih. Nanti kecelakaan aja.” Ucap Ten membuat Johnny memukul paha milik Ten.

“Eh, ucapannya sembarangan aja kamu lohh.”

Entah siapa yang mengaminkan ucapan Ten, detik selanjutnya mobil milik Johnny tertabrak dengan kencang dari samping dan tabrakan tersebut mengenai bagian mobil di mana Johnny berada begitu kencang.

Yang Ten tau, sebelum dirinya kehilangan kesadaran akibat kecelakan tersebut adalah dirinya yang melihat kepala milik Johnny yang bocor dan mengeluarkan darah, hidung Johnny yang juga mengeluarkan darah, tangan yang bercucuran darah akibat tabrakan tangannya dengan stang mobil dan pintu mobil, pipi milik Johnny yang juga mengeluarkan darah akibat terkena serpihan kaca depan dan pintu mobilnya, serta suara decitan ban mobil entah mobil milik Johnny atau truk yang menabrak sisi kanan mobil milik Johnny.


Butuh waktu lama untuk Kun menemani Ten di hari-hari gelapnya itu. Hari di mana ia ditinggal untuk selamanya oleh sang kekasih, Johnny Suh.

Kun pikir, belakangan ini Ten sudah semakin membaik. Tetapi setelah melihat kejadian Ten saat mendengar berita kecelakaan itu, Kun menutup pikiran tersebut dan berusaha untuk mengulik kembali apa yang terjadi dengan temannya ini dan apa yang ditutupi oleh Ten.

Kun sudah beberapa kali mengajak Ten untuk ke psikolog setidaknya Ten memiliki penanganan yang cukup dari seorang profesional.

Tetapi, Ten selalu menolak.

Diam-diam juga Kun bertanya-tanya mengenai temannya ke salah satu temannya yang memang psikolog, Taeil.

Bahkan Kun berbicara mengenai kejadian di mana Ten teriak lalu sesak nafas setelah mendengar berita kecelakaan pada Taeil.

Ten mengalami trauma yang begitu mendalam.

Taeil memang sudah memberikan rekomendasi pada Kun untuk sebaiknya Ten dibawa kepada dirinya.

Lagi-lagi Ten menolak.

Semakin hari intensitas Kun mengunjungi apartemen Ten pun terlihat semakin sering. Banyak sekali alasan yang digunakan Kun di mulai dari bosan sendirian di apartemen sampai ingin bertemu nyamuk yang berada di rumah Ten karena katanya ia ingin berkenalan.

Padahal semuanya hanya alasan karena ia takut, Ten akan berbuat lebih dari apa yang Kun bayangkan.

Hari selanjutnya, Kun diminta oleh Ten untuk membawakan dirinya makanan karena dirinya sedang ingin makanan yang biasa Kun bawakan, yaitu sup.

Dikarenakan Kun yang terus menerus mengunjungi apartemen Ten, akhirnya Ten memberikan passcode apartemennya pada Kun maka dari itu, saat ini Kun langsung memencet passcode apartemen milik Ten.

Sesaat Kun masuk ke dalam unit Ten, Mata Kun melihat Ten yang sedang berdiri diatas bangku dengan tubuh yang lemas dan tali yang sudah siap digantung di atas.

Ten sedang melakukan percobaan bunuh diri tepat di saat Kun masuk ke dalam apartemennya.

Kun menjatuhkan bungkusan yang ia bawa lalu berlari dari tempatnya untuk menyelamatkan temannya dari percobaan tersebut.

Kun menggendong tubuh lemas milik Ten. Ten tidak berkutik sama sekali, tatapannya sangat kosong.

Kun menangis sambil memeluk tubuh lemas Ten, ia dekap tubuh tersebut erat.

Jika Kun tidak datang tepat waktu, mungkin dirinya akan kehilangan dua orang dalam satu tahun.

“K-Kun. Gue nggak kuat hidup lebih lama lagi.”

Kun menggeleng keras, menolak ucapan temannya itu.

“Setiap hari, setiap malam gue selalu kebangun. Gue selalu keingat gimana keadaan Johnny sewaktu itu. Kun, gue ARGHHHH-” Ten berteriak kemudian memukul hingga menjambak kepalanya keras.

Kun yang melihat aksi Ten tepat di depannya itu langsung mengelus tangan milik Ten tanpa menarik takut takut jika tangan milik Ten ia tarik, semakin membuat Ten menjabak kepalanya.

Kun menenangkan temannya, ia bahkan tidak tahu harus mengeluarkan kalimat apa. Karena, di saat seperti ini, semua kalimat yang ia keluarkan pasti hanya ditolak oleh pemikiran Ten yang sedang berkabut.

Ten menangis hingga meraung-raung sambil meneriaki nama Johnny di dalam pelukan Kun. Hingga akhirnya, kesadaran Ten hilang dan dirinya jatuh pingsan tepat dipelukan Kun.


@roseschies

Hard, for me. (2,6k+ words)

Setelah memastikan Ten sudah pergi menuju rumah Winwin. Hendery bersiap-siap untuk menemui Mark yang dipastikan berada di rumahnya itu. Untungnya hari ini Hendery tidak ada janji untuk mengantar jemput adiknya ke sekolah karena Haechan sudah ada janji terlebih dahulu dengan teman-temannya untuk bersepeda bersama ke sekolah.

Hendery sudah menahan emosinya seharian kemarin. Dirinya sangat menunggu hari ini, entah hari ini akan menjadi hari putusnya tali pertemanan dirinya dengan Mark atau berbanding terbalik yang pasti Hendery masih menyimpan emosi yang sangat mendalam untuk Mark.

Tidak ada yang tau aksi Hendery ke rumah Mark hari ini selain Johnny. Ia merahasiakan dari Haechan maupun Ten karena Hendery tau, kedua orang ini akan melarang Hendery.

Dengan berjalan kaki, Hendery berjalan menuju gang sebelah di mana rumah Mark berada. Untungnya rumah keduanya tidak terlalu berjauhan. Terlalu malas untuk Hendery mengeluarkan motor lalu harus memarkirkan kembali motornya di rumah orang.

Hendery memencet bel yang ada di dekat pagar rumah Mark.

Tak lama kemudian, Taeyong keluar dari pintu kemudian berjalan menuju pagar, menemui Hendery si pemencet bel.

“Om. Maaf ganggu waktu om ya.” Sapa Hendery setelah melihat Taeyong yang keluar dari pintu.

Taeyong tersenyum lalu membuka pagarnya mempersilahkan Hendery dengan gampangnya untuk masuk ke dalam rumahnya.

Taeyong tau kok, Hendery akan menemui Mark dalam waktu dekat. Benar saja prediksi Taeyong. Rasa sayang Hendery terhadap adiknya benar-benar tidak ada yang bisa mengalahkan dan Taeyong tidak menahan Hendery sama sekali karena Taeyong tau, anaknya itu memang salah dan keduanya butuh berbicara satu sama lain entah sebagai apapun itu.

“Mau ketemu Mark ya?”

Hendery mengangguk.

“Nggak lupa kan kamar Mark? Naik aja dia di kamar kok.”

Bagaimana Hendery bisa lupa di mana kamar Mark? Dia berteman dengan Mark bukan hanya satu tahun dua tahun saja. Ah, Hendery rasanya ingin menangis saja mengingat ini.

“Iya om masih kok. Eum ... kalau gitu, Hen naik ya om?”

Taeyong mengangguk lalu meninggalkan Hendery menuju ruang TV untuk melanjutkan tontonannya yang tertunda tadi.

Diam diam Taeyong berharap keduanya menemukan jalan keluar. Taeyong tau kok, keduanya sama sama sudah besar. Jika terjadi pemukulan diantara keduanya, mungkin memang itu satu-satunya cara bagi mereka berdua melepas emosi yang ada di dalam dirinya, terutama Hendery.

Tapi Taeyong tau, Hendery maupun Mark, tidak akan melakukan hal seperti itu.

Namun, siapa yang tau. Taeyong pun tidak bisa menilai lagi dari raut wajah emosi yang dipancarkan oleh Hendery sejak tadi. Bahkan tatapan Hendery, rasanya Taeyong ingin mengumpat. Takut.

Taeyong memiliki banyak alasan kenapa dirinya dengan gampang mempersilahkan Hendery untuk menemui Mark secara langsung, kok.

Akhirnya Hendery naik ke lantai dua lalu menuju kamar Mark dengan pintu kamar berwarna biru terang dan terdapat beberapa sticker yang lagi-lagi hasil dirinya dengan Mark yang menempel sticker tersebut sejak kecil.

Terlalu banyak memori yang ia buat dengan Mark. Tetapi, adiknya lebih berharga daripada apapun.

Hendery mendengus, melihat banyak hal yang sudah ia lewati dengan Mark semakin membuat dirinya kesal. Mark, yang dirinya percaya. Kenapa bisa seperti itu pada adiknya. Mark, lelaki yang sangat mengetahui sebagaimana berharganya Haechan bagi Hendery.

Bahkan, Mark yang tau Hendery tidak akan pernah pandang bulu untuk siapapun yang berani-beraninya menyakiti adiknya itu.

Hendery mengetuk pintu tersebut, “Mark, buka. Gue tau lo di dalem kamar dan gue tau lo baca chat gue di grup.”

Tidak ada jawaban, Hendery mengetuk kembali pintu tersebut. “Mark, jangan jadi pengecut. Gak usah kabur lo. Gue tau lo di dalem kamar. Buka.”

Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Hendery membuka knop pintu dan ternyata pintu tersebut tidak terkunci.

Hendery membuka pintu kasar, lalu mencari si pemilik kamar yang daritadi tidak menyaut.

Mata Hendery menangkap sosok yang ia cari sedang duduk di kasur miliknya sambil menyelimuti setengah tubuhnya dengan selimut.

Iya, Mark.

Hendery mengepalkan tangannya kuat-kuat, emosinya memuncak ketika ia melihat Mark di sana.

“LO APAIN ADEK GUE?!” Teriak Hendery sambil berjalan menuju kasur Mark.

Tidak ada jawaban, Mark diam.

“JAWAB BRENGSEK. LO APAIN ADEK GUE?!”

Hendery duduk di depan Mark, menahan tangannya yang bisa saja dalam detik berikutnya melayang ke pipi Mark.

Hendery menarik baju Mark, mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Mark. Mark tidak bereaksi apa-apa. Mark, tetap diam. “LO KENAPA NYAKITIN HATI ADEK GUE MARK? LO KENAPA SETEGA ITU NGOMONG KAYAK GITU KE ADEK GUE YANG BAHKAN NGGAK TAU SALAH DIA APA.”

Hendery memperkuat cengkraman tangannya di baju Mark. “MARK JAWAB GUE. BRENGSEK.”

Benar-benar tidak ada jawaban dari diri Mark. Mark sama sekali tidak membuka mulutnya.

Mark perlahan menatap Hendery. Tatapan milik Mark terlihat sangat kosong. Hendery melonggarkan cengkraman tangan pada baju milik Mark. Hendery melihat kearah kepala kanan Mark, bahkan dirinya tidak sadar sejak tadi kalau ada perban di kepala bagian kanan Mark.

“Mark- Kenapa lo diem aja? Mark!”

Hendery menggoyangkan tubuh Mark. Dirinya bingung, kenapa temannya ini diam saja. Dan lagi, perban itu. Kenapa?

Taeyong yang ternyata ikut naik ke lantai dua dan menyusul menuju kamar Mark langsung berdiri di belakang Hendery lalu menepuk pundak Hendery. “Hen, ada yang mau om bicarain sama Hendery. Hendery mau ikut om?”

Hendery menatap Taeyong kemudian kembali menatap Mark yang masih saja diam dengan tatapan kosongnya enggan membuka mulutnya.

“Om, Mark kenapa?”

“Ikut om ya? Kita bicara di kamar Jeno aja.”

Akhirnya Hendery mengangguk dan mengikut di belakang Taeyong meskipun dirinya sesekali menghadap kebelakang untuk melihat Mark yang masih saja diam tak berkutik.

Sesampainya Taeyong dan Hendery di kamar Jeno, keduanya duduk di kasur milik Jeno.

Hendery tidak membuka percakapan sama sekali, dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi pada Mark, sahabatnya itu.

Taeyong membuka laci belajar Jeno lalu mengambil secarik kertas yang ia butuhkan untuk saat ini. Taeyong memang sudah izin pada Jeno sebelumnya dan Jeno mempersilahkan. Lagipula, itu kebaikan untuk semua terutama kakak dan sahabatnya.

“Om, Mark kenapa? Kenapa tatapan Mark kayak kosong gitu? Terus kepalanya kenapa di perban?”

Taeyong duduk di sebelah Hendery sambil memegang secarik kertas tersebut. “Hen, sebelumnya om minta maaf ke Hendery atas nama Mark. Om tau kok, pasti susah maafin Mark karena kelakuan Mark yang seenaknya ke Haechan. Om pun nggak membenarkan Mark.”

“Kemarin, Mark ngebenturin kepalanya ke meja di depan Jeno dan sampai pingsan di pelukan Jeno. Perban itu hasil dari dirinya yang ngebenturin kepalanya ke meja. Hen, om pun nggak tau apa yang terjadi sama Mark karena om belum bicara banyak sama Mark sejak kemarin. Om Jaehyun sempat memarahi Mark semalam, tetapi Mark masih sama persis dengan apa yang kamu lihat. Mark cuma diem, tatapannya kosong tanpa suara apapun yang keluar dari mulutnya.”

“Hen, om nggak tau siapa lagi yang bisa bantu Mark buat ngomong. Terlalu nggak tau diri kalau om minta tolong sama Hendery disaat adik Hendery yang menjadi korban di sini. Tapi, kemarin Jeno nemuin kertas ini diatas meja belajar Mark sewaktu Jeno nganterin makanan buat Mark. Akhirnya, kami semua sedikit paham apa yang terjadi sama Mark. Dia cerita di dalam surat ini. Ada nama kamu di sebut di sana. Kamu boleh baca surat ini, Hen.”

Kemudian Taeyong memberikan kertas tersebut pada Hendery.

Hendery membaca pelan isi kertas tersebut. Terlalu banyak coret-coretan di pinggir-pinggir kertas tersebut. Tetapi, Hendery langsung terfokus sama isi tulisan di dalam kertas tersebut.

Semua orang nolak kehadiran gue. Semua temen gue nolak gue karena menurut mereka gue berbeda sama mereka. Kenapa sebuah persamaan bisa terasa salah. Semakin kesini, semua terasa jauh. Entah diri gue, atau semua hubungan yang udah gue buat dari lama. Gue, siapa. Gue, di mana.

Ayah, Papi, Jeno. Kakak di mana. Kenapa rasanya Kakak seperti kehilangan diri kakak sendiri. Kakak nggak mau kayak gini. Kakak sayang sama seseorang yang ada di dalam hati kakak. Sebagaimana mata kakak menghindari untuk melihat orang tersebut, tetapi hati kakak terus-terusan berteriak nama seseorang yang ada di dalam sana.

Ayah, Papi. Kakak udah jadi orang yang gagal. Kakak udah kehilangan semua. Terutama, ucapan Kakak ke Papi. Papi, maaf. Mungkin permintaan maaf dari kakak terasa kurang karena ucapan kakak kemarin terlalu menyakiti hati Papi. Ayah, maafin kakak udah nyakitin hati Papi. Maaf, udah bikin Ayah juga jadi marah marah sama kelakuan kakak dan bikin Ayah malu sama om Johnny maupun om Ten.

Ayah, Papi. kehadiran kakak cuma menjadi sebuah kesalahan ya?

Jeno, pasti kamu malu ya punya kakak seperti kakak. Kamu pasti malu ya kakakmu udah nyakitin perasaan temen kesayangan kamu.

Ayah, Papi, Jeno. Kakak, hilang.

Kakak bahkan nggak tau apa yang hilang dan dimana kakak harus cari.

Mark, minta maaf. Minta maaf sama Ayah dan Papi. Maaf kalau kehadiran Mark hanya membuat Ayah dan Papi malu.

Mark, minta maaf. Minta maaf sama Jeno. Kalau kehadiran Mark hanya menyusahkan Jeno.

Mark, minta maaf untuk seseorang yang ada di dalam hati Mark sejak dulu. Maaf, semua perkataanku terlalu jahat untuk kamu dapatkan. Maaf, jika semua kalimat itu harus kamu dapatkan. Maaf, jika hal tersebut kamu dapatkan dari aku.

Mark minta maaf terutama untuk Ayah, Papi, dan Jeno. Juga, Mark minta maaf kepada Om Johnny, Om Ten, Hendery, dan Haechan yang mungkin mereka nggak akan memaafkan kesalahan Mark dan mungkin mereka udah terlanjur benci sama Mark.

Sekali lagi, maaf. Karena kehadiran Mark hanya menjadi sebuah kesalahan dan membuat Ayah, Papi, dan Jeno malu.

Meskipun kata demi kata yang dituangkan oleh Mark berantakan di dalam surat itu. Hendery mengerti, apa yang ingin Mark sampaikan di dalam surat.

Mark benar-benar mengeluarkan semua pikiran yang ada di kepalanya ke dalam surat tersebut. Tidak peduli apakah surat tersebut terbaca oleh yang membaca, Mark hanya ingin menuangkan semua yang sudah menumpuk di kepalanya.

“Hen, om nggak tau kalau Mark bener-bener udah kehilangan arah. Dia kehilangan dirinya. Mungkin kalimat yang dikeluarkan Mark ke Haechan keterlaluan dan om pun nggak membenarkan kalimat Mark.”

“Om, Hendery kenal Mark nggak cuma satu dua tahun. Mark itu, sama. Semua selalu dia bawa sendiri, dia pikul sendiri. Semua masalah yang Mark timpa, Mark nggak pernah mau bagi sama siapapun. Hasilnya semua menumpuk dan disaat dia udah nggak kuat menumpuk itu semua, Mark keluarin ke orang yang salah. Om, sulit.”

Taeyong memeluk Hendery. Taeyong tau, sesulit apa bagi Hendery. Baginya, Mark adalah teman sehidup sematinya. Dan, baginya, Haechan adalah adik berharga yang hanya ada satu di dunia ini. Dua-duanya begitu berharga bagi Hendery.

Di sisi lain, Hendery sangat ingin merangkul Mark, membawa Mark kembali menemukan dirinya. Namun, di sisi lain, dirinya tidak bisa membenarkan perlakuan Mark pada Haechan. Selain itu, perlakuan Mark lah yang membuat Haechan menjadi murung. Membuat Haechan yang sama-sama memiliki banyak pemikiran di kepalanya.

Hendery diam-diam menangis dipelukan Taeyong, kenapa semuanya terasa sulit bagi dirinya.

“Om, Hendery mau ketemu Mark lagi.”

Taeyong mengangguk lalu mempersilahkan Hendery untuk kembali masuk ke dalam kamar Mark.

Setelah Hendery masuk ke dalam kamar Mark, Hendery masih bisa melihat Mark dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Duduk diatas kasur, dengan tatapan kosong.

Hendery duduk tepat di depan Mark.

Keduanya diam tidak ada yang mau membuka percakapan terlebih dahulu.

Hendery menatap Mark, bahkan Mark sekarang bukan seperti Mark yang Hendery kenal.

“Mark, lo tolol. Lo beneran manusia yang nggak punya hati. Adek gue yang nggak punya salah apa-apa lo jadiin imbas dari masalah lo. Ucapan dan perlakuan lo bener-bener ngebuat adek gue sakit hati. Apa lo pikir dengan semua ucapan dan perlakuan lo, semua masalah bakal selesai? Nggak. Masalah satu persatu akan bertambah. Nggak cuma lo, adek gue pun sakit hati Mark. Lo nggak akan pernah tau gimana kesusahannya adek gue, gimana kepikirannya adek gue terhadap ucapan dan perlakuan lo ke adek gue. Lo nggak akan pernah tau. Cuma adek gue yang ngerasain susahnya jadi dia. Mark Bangsat Jung. Cocok buat lo. Terima aja.”

“Itu yang mau gue ucapin buat lo sebagai kakaknya Haechan.”

“Sekarang, gue bakal ngomong sama lo sebagai teman lo.”

“Mark, lo kenapa? Kenapa lo nggak ngomong sama gue dan Lucas tentang ini? Mark, lo kenapa diem aja? Lo temen gue Mark dan selamanya lo akan menjadi temen gue. Dari dulu, siapa yang selalu ada di samping gue di saat gue punya masalah. Lo Mark. Dari dulu, siapa yang selalu ada buat gue di saat semua orang menjauh dari gue. Lo Mark. Lo satu-satunya yang ada buat gue. Sekarang, rasanya sakit Mark liat temen gue yang selalu ada buat gue malah sedang berjuang melawan masalahnya sendirian. Rasanya- Sakit Mark.”

Hendery mengeluarkan semua ucapan yang sangat sangat ia sampaikan untuk Mark. Mati matian Hendery menahan air matanya untuk tidak turun saat ini.

“Mark, gue temen lo. Gue kakaknya Haechan. Mark. Tolong-”

Mark yang daritadi hanya diam langsung memeluk tubuh Hendery. Keduanya menangis di dalam pelukan itu.

“Hen, gue mau ketemu Haechan.”

Hendery menggeleng. “Adek gue gak mau ketemu sama lo.”

Mark melepaskan pelukannya kemudian menatap Hendery. “Hen, gue mau minta maaf secara langsung sama dia. Hen, kasih gue izin.”

Mark menangis di depan Hendery, tubuhnya bergetar. Ia merasa sangat bodoh. Tapi tolong, jangan biarkan Mark tidak bisa meminta maaf secara langsung pada Haechan. Dirinya akan terus merasa bersalah jika tidak bisa meminta maaf secara langsung pada Haechan.

“Hen, gue tau terlalu berat buat maafin gue. Gue tau gue udah tolol seperti apa yang lo ucapin ke gue. Iya, gue tau. Tapi tolong Hen, biarin gue minta maaf di depan Haechan secara langsung.”

“Lo mau minta maaf gimana Mark?”

“Gue mau minta maaf karena perlakuan dan ucapan gue yang udah jahat sama dia. Gue tau gue salah. Gue nggak bisa janji kalau gue akan berubah tetapi gue bakal buktiin gue bakal berubah.”

“Berubah buat siapa? Mark, kalo lo berubah cuma karena mau dimaafin Haechan. Gue yakin, adek gue nggak akan mau maafin lo. Sebelum lo kayak gitu, perlahan lo harus coba buat memaafkan diri lo sendiri. Mark, gue nggak mau lo semakin menjauh dari diri lo yang asli. Plis, diri lo dulu.”

Mendengar ucapan Hendery, Mark terdiam. Benar, dirinya harusnya memaafkan diri dia sendiri dan menerima dirinya itu.

“Hen, gue jahat banget. Lo terlalu baik Hen. Gue, nggak pantes banget jadi temen lo lagi. Gue nggak pantes banget buat dimaafin lo apalagi Haechan.”

Hendery menonjok pipi Mark membuat Mark mengaduh kesakitan lalu mengelus pipinya. “Gue benci lo yang kayak gini Mark. Jangan ngerendahin diri lo sendiri. Lo pantes, kalo udah bisa menerima diri lo sendiri. Kalo lo aja kayak gini terus, gue yakin adek gue gak akan pernah mau maafin lo. Begitu pula gue.”

“Gue izinin. Karena memang seharusnya lo minta maaf di depan Haechan.”

“Kecuali, kalo lo masih terus nyalahin diri lo kayak gini. Gue gaakan izinin lo. Entah sebagai temen lo atau kakaknya Haechan.”

Mark mengangguk paham.

“Jeno kayaknya udah pulang berarti adek gue juga udah pulang. Di rumah dia sendirian, gue pulang dulu.”

Hendery berdiri dari duduknya namun Mark dengan sigap menahan tangan Hendery.

“Hen, makasih ya.”

“Hhh, susah Mark. Diri gue berasa perang batin antara nyelametin lo sebagai temen gue atau mukul lo sebagai kakaknya Haechan. Tapi, gue bakal ngelakuin dua-duanya sekaligus. Oh, tadi gue udah mukul lo deh. Sekali. Nanti lagi ya.”

“Hen, gue boleh ikut nggak?”

“Mau ngapain? Mau nyuciin baju gue lo?”

“Minta maaf sama Haechan.”

Mendengar ucapan Mark, Hendery menaikkan satu alisnya. “Yakin lo?”

Mark mengangguk, “Gue yakin Hen. Udah semaleman gue merenung dan mikirin ini semua.”

“Kalo semisal adek gue nolak buat ketemu lo atau ngomong sama lo, lo udah siap belum?”

Mark mengangguk lagi, “Gue siap. Siap Hen. Itu semua konsekuensi yang harus gue terima akibat dari perlakuan gue ke dia. Setidaknya, gue ada keinginan buat minta maaf dan ketemu sama dia, kan Hen?”

Hendery mendengus, “Yaudah. Gue nggak ikut campur mau adek gue maafin lo apa enggak. Tapi gue yakin sih adek gue nggak akan maafin lo. Gue aja belom maafin lo.”

Mark meringis mendengar ucapan Hendery.

Gue aja belom maafin lo.

Mark harus tau diri, butuh waktu lama untuk orang-orang memaafkan ucapan dan perlakuan yang sudah ia lontarkan untuk seseorang yang tidak memiliki salah apapun.

Dan Mark harus terima, bahwa mendapatkan maaf dari mereka, itu sulit.

Namun lagi, tolong biarkan Mark membangun semua dari awal. Membenarkan apa yang sudah ia rusak. Meskipun dirinya tau, semua akan terasa berbeda.

Akhirnya, Mark ganti baju lalu turun kebawah bersama Hendery kemudian izin kepada Taeyong bahwa dirinya akan ikut bersama Hendery.


@roseschies

regrets always comes second

“p.s: kakak jangan lupa makan ya. inget, kakak punya maag! mulai sekarang, sekali kakak lupa makan, sehari juga berkurang kita ketemu. -shc”

Mark memandangi notes kecil yang ia tempel tepat di frame foto di mana foto dirinya dengan Haechan terpajang. Terlihat keduanya sedang memeluk satu boneka diantara keduanya. Foto tersebut diambil sekitar 10 tahun lalu atas keinginan Mark. Dia ingin memiliki satu foto dirinya dengan Haechan dan akan ia panjang seumur hidup di kamar, katanya dulu.

Terbangun dari mimpi buruknya benar-benar membuat Mark terdiam dan hanya memandang kesegala arah di kamarnya. Kepalanya sakit, bahkan ia tidak sadar sudah ada perban yang menempel di kepalanya. Ia menghela nafas panjang. Sebenarnya, apa yang ia inginkan, sih. Entah, semua terasa semakin jauh dari pemikirannya. Haechan, tidak kenapa kenapa kan? Haechan-nya itu, baik-baik saja kan. Bahkan, sepertinya mengucapkan Haechan-nya terlalu tidak tau diri untuk Mark setelah banyak ucapan dan perlakuan jahat yang ia lempar kepada adik manisnya yang tidak memiliki salah apapun.

Mark tau, yang jahat di sini hanya dirinya. Pemikiran kolot dan semua perlakuan semena-mena Mark lah yang sangat jahat di sini. Mark tidak bisa bohong, ia menyimpan begitu dalam perasaan lebih untuk Haechan sejak dulu. Tetapi semua yang keluar dari mulutnya, hanya kalimat kalimat berbanding terbalik dari apa yang ia rasakan. Ia hanya mengeluarkan kalimat jahat untuk orang yang salah.

Jika sejak dulu Mark menghiraukan semua kalimat temannya, mungkin Mark akan tetap menjadi Mark yang Haechan, Jeno, dan Hendery kenal. Ia, Mark yang selalu ada di sebelah Haechan. Mark yang selalu menomorsatukan Haechan. Mark yang selalu ada untuk Haechan. Dan, Mark yang akan setia menemani adik manisnya itu di saat Haechan tidak bisa tidur.

Sayang, Mark yang baru saja disebutkan, sudah hilang ditelan oleh pemikiran bodohnya sendiri. Pemikiran yang terbuat oleh ucapan orang lain yang bahkan bukan siapa siapa di dalam hidupnya.

Mark, sudah kehilangan banyak hal dalam dirinya.

Pantaskah Mark untuk kembali dan meminta serta memohon maaf pada Haechan?

Pantaskah Mark untuk kembali menjadi orang yang akan selalu berada di samping Haechan?

Pantaskah Mark menyanyikan banyak lagu untuk Haechan di saat Haechan tidak bisa tertidur?

Dan, pantaskah Mark mendapatkan permintaan maaf dari Haechan?

Rasanya, Mark terlalu tidak tau diri jika meminta semua hal untuk kembali seperti semula. Tetapi, Mark akan mencoba untuk membangun kepercayaan Haechan dari awal lagi. Begitu juga dengan Papinya, ia sudah sangat menyakiti hati Papinya yang sudah lelah membesarkan dirinya sejak kecil.

Tolong, biarkan Mark membangun semua hal yang sudah ia rusak. Biarkan lelaki ini, membangun semua dari awal, hingga dirinya merasa pantas.

Meskipun ia tau, pada akhirnya semua akan terasa beda.

“Sekarang, meskipun aku lupa makan, kita juga nggak akan ketemu ya chan. Hahahah. Aku bodoh banget chan.”

Semua yang rusak mungkin akan bisa dibetulkan. Tetapi, semua yang rusak belum tentu akan kembali seperti semula. Kerusakan yang terjadi akan terus dan selalu membekas.

Ketika dirinya ingin merasa diterima oleh orang lain tetapi ia lupa caranya mencapai hal tersebut membuat dirinya terasa jauh dari dirinya sendiri. Ia gagal untuk bisa menerima dirinya sendiri.

Mark kehilangan arah. Mark kehilangan dirinya. Mark hanya butuh seseorang untuk membantu dirinya yang sedang tersesat dan menemukan dirinya kembali.


@roseschies

he lost himself and people around him

TW // head banging (?)

Taeyong meletakkan ponselnya kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai dua tepatnya menuju kamar Mark. Sebenarnya Taeyong melarang Jaehyun untuk pulang lebih cepat karena Taeyong tau, Jaehyun dan Mark itu sama. Sama-sama keras kepala, yang ada masalah nggak selesai dan muncul lagi masalah baru.

Sesampainya Taeyong di depan pintu kamar Mark, tak lupa Taeyong mengetuk pintu kamar Mark. “Kak?”

Tanpa menunggu jawaban dari Mark yang berada di dalam kamar, Taeyong langsung membuka pintu kamar Mark.

Taeyong bisa melihat Mark yang sedang duduk di lantai pinggir kasurnya. Mark hanya diam dan menatap lantai dengan tatapan kosong.

Sebenarnya Taeyong tidak tega, anaknya ini seperti kehilangan arah. Tapi Taeyong harus tegas dan bisa membawa anaknya kembali pada pelukannya.

Taeyong duduk di depan anaknya kemudian memegang pundak milik Mark, “Kak, kakak ada yang mau diceritain ke Papi?”

Mark masih diam, menatap lantai kosong.

“Papi nggak pernah maksa anak Papi mau suka sama perempuan atau laki-laki. Papi nggak pernah memaksa apa apa untuk anak Papi. tapi, Papi nggak membenarkan kamu sampai ngomong begitu ke Haechan.”

“Kak, Papi selalu bilang. Kalau kakak punya masalah, jangan sampai bawa seseorang yang bahkan nggak tau apa-apa ikut terseret ke masalah kamu. Papi dan Ayah juga Adek selalu terbuka sama Kakak.”

Mau sebanyak apa Taeyong berbicara pada anaknya, Mark hanya diam dan terus diam.

“Kak, kamu malu ya punya orang tua dua duanya laki-laki?”

Mark mendongakkan kepalanya, bibirnya perlahan terbuka ingin mengucapkan sepatah kata.

“Lagi pula Papi bukan orang tua asli aku.”

Ucapan yang dikeluarkan Mark membuat Taeyong menjauhkan tangannya dari kepala milik Mark. Hatinya luar biasa sakit.

Ucapan Mark memang tidak salah dan Taeyong membenarkan hal tersebut. Mark bukan anaknya. Untuk apa dirinya malu punya orang tua lelaki dua-duanya disaat keduanya bukan orang tua Mark.

Taeyong berdiri dari duduknya kemudian mengigit bibir bawahnya, ia tidak boleh menangis di depan Mark.

Akhirnya Taeyong keluar kamar meninggalkan Mark di dalam yang semakin terdiam hanya menatap lantai. Hidupnya sudah rusak, sekalian saja ia rusak. Pikirnya.

Taeyong menutup pelan pintu kamar Mark kemudian ia terjatuh tepat di depan kamar Mark sambil menangis menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Jeno yang baru saja keluar dari kamar yang berada tidak jauh dari kamar Mark langsung terkejut melihat Papinya itu menangis tepat di depan kamar Mark.

“PAPI?!” Jeno lari kemudian memegang kedua pundak milik Taeyong.

“Papi diapain sama kak Mark?!” Jeno teriak di depan Taeyong, meminta jawab. Tetapi Taeyong sama sekali tidak memberi jawaban. Ia menutup bibirnya rapat rapat. Taeyong hanya tidak mau, Jeno membenci kakaknya.

Jeno membantu Taeyong berdiri lalu membawa Taeyong untuk duduk di kasur yang berada di kamarnya. “Papi tunggu sini. Jangan kemana-mana.”

Kemudian Jeno berbalik menuju kamar Mark namun Taeyong lebih dulu menahan tangan Jeno. “Dek, nggak usah. Papi gapapa kok, kak mark lagi butuh waktu.”

Jeno melepaskan kaitan tangan Taeyong kemudian membalikkan badannya menatap Papinya itu, “Pi, kalau sampe bikin papi nangis kayak gini, kak Mark udah keterlaluan Pi. Papi diem.”

Jeno lari menuju kamar Mark kemudian membuka dengan kencang pintu kamar Mark dan terlihat Mark yang masih belum beranjak dari tempatnya yang sebelumnya Taeyong lihat juga. Terduduk di lantai sebelah kasurnya sambil menatap lantai kosong.

Jeno mengepalkan tangannya keras, sudah menyakiti temannya, harus juga kakaknya menyakiti Papinya.

“Sekarang apa lagi? Gue hidup juga udah salah dimata semua orang. Tampar gue.” Ucap Mark setelah melihat adiknya masuk sambil mengepalkan tangannya, seakan-akan Jeno ingin menampar berkali lipat di pipi kanan atau kiri miliknya. Mark sudah siap, ia memang berhak mendapatkan itu semua.

Jeno memberhentikan langkahnya. Hati Jeno sedikit teriris melihat Kakaknya yang hanya duduk di lantai lemah dengan tatapannya yang kosong. Bahkan suara yang barusan keluar dari mulut Mark, terlihat sangat hampa. Mark seperti kehilangan sesuatu yang bahkan dirinya tidak tau apa itu.

“KAK!” Jeno teriak histeris karena baru saja Mark membenturkan kepalanya ke arah meja yang berada di samping kanannya.

Tidak berhenti sekali dua kali, Mark terus-terusan membentukan kepalanya ke meja, tidak peduli dengan rasa sakit yang muncul di kepalanya. “Gue bego udah ngomong kayak gitu ke Haechan.”

Duk!

“Gue tolol udah ngomong kayak gitu di depan Papi.”

Duk!

Benturan kali ini lebih kencang daripada benturan sebelumnya. “Gue bego plus tolol udah bikin Papi nangis.”

Mark mendongakkan kepalanya, matanya terlihat kosong, tidak ada air mata disana, hanya kekosongan yang ada di mata Mark. “Jen, gue bodoh banget ya Jen. Papi emang bukan orang tua asli gue, tapi Papi yang udah ngebesarin gue.”

Mark kembali membenturkan kepalanya kearah meja membuat Jeno yang masih terkejut melihat kelakuan Kakaknya langsung berlari dan menahan kepala Mark.

“KAK!” Jeno teriak lagi di depan Mark sambil menjaga kepala Kakaknya agar tidak dibenturkan kembali ke meja.

Bahkan Jeno meringis, pasti rasanya sangat sakit.

Mark diam. Tak lama kemudian Mark menangis, dirinya merasa menjadi orang yang sangat bodoh bisa berbicara dan berlaku seperti itu hanya karena omongan orang lain yang bahkan nggak masuk di kehidupannya sama sekali dan bisa ngebuat dirinya merusak banyak hubungan dirinya entah dengan Haechan atau mungkin dengan Papinya.

Baru kali ini Jeno melihat Mark yang serapuh ini. Jeno pun tidak membenarkan Mark yang berbicara asal seperti itu entah ke Haechan atau Papinya.

Iya, Jeno sudah bertanya sebelumnya pada Hendery dan Hendery sudah menjelaskan semua tanpa terkecuali pada Jeno. Maka dari itu, Jeno baru saja ingin menemui kakaknya yang ada di kamar ternyata malah melihat Papinya menangis di depan kamar Mark.

Jeno tau, sangat tau. Mark itu sama dengan Haechan. Semua selalu ia pendam. Sejarang itu Mark bercerita hal hal yang sepenting ini pada Jeno. Dan yang selalu Jeno pastikan, Jeno tau. Kakaknya baik-baik saja. Nyatanya, jauh.

Jika Haechan membisu, maka cara Mark yaitu dengan mengucapkan semua demi menghilangkan pikiran yang berkecambuk di kepalanya itu dengan kalimat-kalimat sembarang. Kalimat yang hanya ada di pikirannya, dan seharusnya kalimat yang sebaiknya terus berada di pikirannya.

“Jen, pusing—”

Tubuh Mark sukses terjatuh tepat dipelukan Jeno. Kakaknya itu pingsan, tepat di depan kepalanya.


@roseschies

that guy

Setelah memastikan Papanya di sana baik-baik saja, Hendery melangkahkan kakinya menuju kamar adiknya yang berada di depan kamarnya.

“De?” Hendery mengetuk dan memanggil adiknya yang dipastikan berada di dalam kamarnya.

Tidak ada jawaban. Tipikal Haechan. Mau tidak mau Hendery langsung membuka pintu kamar Haechan dan terlihat Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya dalam diam dengan pulpen yang ada di tangannya serta buku yang terbuka tepat di depan mata Haechan.

Hendery mendudukkan dirinya di kasur Haechan. Melihat gerak gerik adiknya yang sedang mengerjakan tugasnya di meja belajar.

Lumayan lama mereka hanya diem-dieman.

Akhirnya Hendery membuka percakapan terlebih dahulu. “Kenapa?”

Tidak ada jawaban. Haechan diam, menutup mulutnya rapat rapat dengan tangan yang sibuk mencorat-coret buku yang ada di depan matanya.

Semakin sunyi, semakin Hendery bisa mendengar decitan pulpen yang terasa di tekan untuk ditulis di buku.

“De?”

Haechan menjatuhkan kepalanya, menelengkupkan wajahnya diatas meja. Haechan menahan teriakannya yang malah menjadi seperti teriakan menggema.

Hendery kemudian langsung berdiri menuju Haechan, ia memegang pundak adiknya. Spontan Haechan langsung menangis.

Hendery tidak membuka percakapan lain. Ia berdiri diam disebelah adiknya sambil mengelus surai lembut milik Haechan sedangkan Haechan masih menangis diatas meja.

Haechan bingung. Bingung harus berbuat apa. Rasanya Haechan ingin tenggelam.

Dia benar-benar takut harus cerita darimana.

“Bang.” Ucap Haechan disela-sela tangisannya.

“Iya, kenapa?”

“Jatuh cinta cuma bikin sakit. Nggak mau lagi.”

Mendengar ucapan Haechan, Hendery tau mau dibawa kemana arah pembicaraan ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan bagi Hendery adalah kenapa adiknya bisa berbicara seperti itu di grup keluarga.

Hendery tau, itu semua bukan bercandaan semata.

“Bang. Maafin dede ya, pasti papa sakit hati ya baca chat bercanda dede.”

“Dede tau itu bisa nyakitin hati papa. Jangan lupa buat minta maaf sama papa.”

Haechan mengangguk.

“De. Dede suka ya sama Mark?”

Haechan diam. Hendery ini suka tidak memberi aba-aba dulu.

“Oke, berarti bener ya dede suka sama Mark? Ditanya diem aja berarti bener.”

“Belakangan ini yang bikin dede kepikiran itu Mark ya?”

Haechan masih diam.

“Oke, bener.”

“Bang. Iya, semua yang abang bilang bener.”

“Dia udah ngapain kamu?”

Haechan menunduk. Tidak mau jawab.

Hendery membalikkan tubuhnya untuk menuju kamar miliknya namun belum sempat Hendery melangkah, Haechan sudah memegang tangan milik Hendery.

“Apa? Lo gak mau cerita kan? Biar gue yang nanya sama dia.”

“Jangan Bang.”

“Ya kalo lo gak mau cerita. Terserah sih de. Lo gak akan tau juga gue ngapain, kan? Impas. Kita sama sama diem aja ngelakuinnya.”

Mendengar ucapan Hendery yang sama sekali tidak bersahabat membuat Haechan akhirnya mendengus dan memutuskan untuk menceritakan apa yang sebelumnya dan baru saja terjadi pada dirinya dan Mark.

Hingga akhirnya Hendery membaca isi chat Haechan dengan Mark.

Reaksi Hendery?

Tentu saja, bisa membuat meja Haechan hampir rusak karena beberapa kali dirinya menonjok keras meja milik Haechan.

“Bang, jangan marahin kak Mark. Kalo dia tau aku cerita ke abang dia pasti makin benci sama aku karena aku kesannya ngaduan.”

“De. Please stop jagain dia dibelakang lo. Ini bukan ngadu namanya de, lo cerita. Lo ya de, pas kecil gue sayang sayang. Udah gede kenapa lo lebih sayang sama Mark. De, pikirin de sedikit aja deh. Mark yang udah kayak gitu ke lo, tapi malah lo jaga terus. Lo punya salah apa sih sama dia? Kaga ada de.”

Haechan menunduk. Abangnya benar. Dia terlalu bodoh untuk satu ini. Dia terlalu sering bersama Mark sejak dulu kecil. Kehilangan Mark rasanya puzzle kehidupannya ada yang hilang satu keping.

“Jadi gara-gara dia, lo ngomong kayak gitu di grup keluarga? De, omongan lo bikin papa sakit hati dan ngerasa jadi orang tua yang gagal didik anaknya loh de. Bukan lo yang harus ikutin kemauan dia. Percuma de, kalo dianya aja begitu. De, abang marah sama dede bukan abang nggak sayang sama dede. Abang sayang sama dede. Abang— ARGH MARK ANJING”

Hendery memukul meja belajar Haechan kembali lalu meninggalkan adiknya yang masih terdiam di kursi.

Hendery buru-buru mengambil ponselnya lalu mengetikkan sebuah kalimat di grup sugus.

Sedangkan Haechan, ia merenungkan banyak kalimat yang dilontarkan sang kakak pada dirinya. Semua benar. Benar menampar Haechan.

Hendery kembali ke kamar Haechan kemudian berdiri di sebelah Haechan yang masih duduk di kursinya. “Cerita sama Papa. Papa mikirin omongan lo terus.”

Haechan menggeleng, “Gak berani.”

Hendery mendenguskan nafasnya kasar. “Kalo gitu gue yang cerita sama Papa. Lo jangan lupa minta maaf sama Papa. Jangan berani-beraninya ya de lo maafin Mark dibelakang gue. Lupain si manusia tolol itu.”

Hendery lalu menutup pintu kamar Haechan kencang dan kembali ke kamarnya.


@roseschies

that feeling only belongs to you

Hendery yang baru saja membeli minum untuk dirinya dan sang adik langsung berjalan menuju Haechan yang sudah duduk manis dipinggir.

Kedua orang tuanya sedang mencari makanan untuk mereka makan nantinya sekalian jalan jalan di sekitar. Memamg Hendery dan Haechan yang memilih untuk tinggal disini.

Hendery duduk di sebelah Haechan kemudian memberikan satu botol yang sebelumnya sudah dibukakan oleh Hendery pada Haechan. “Nih. Semangat banget de.”

Haechan mengambil botol tersebut lalu meminum hampir setengah lebih botol minum tersebut lalu terkekeh. “Lumayan bisa sedikit melepas penat.”

Hendery mengangguk ikut setuju.

Keduanya diam hanya memandang lautan lepas yang sedang tenang di depannya itu.

Haechan menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya setelah satu memori terlintas di kepalanya.

Namun, ia cepat cepat menggelengkan kepalanya untuk melupakan kejadian yang baru saja ia ingat.

“Bang.”

“Hm?” Hendery menyauti panggilan adiknya tanpa menghadap kearah adiknya. Keduanya sama sama sedang terlena dengan pandangan lepas seperti ini.

“Gapapa.” Jawab Haechan kembali menutup mulutnya.

“Kalo ada yang mau dibicarain, ngomong aja de. Abang dengerin kok.”

Haechan mengangguk tapi tidak kunjung membuka mulutnya.

“Bang, kalau gue suka sama orang. Lo marah nggak?”

“Hah? Ya ngapain gue marah. Perasaan lo kan punya lo bukan punya gue.”

“Kalo orangnya lo kenal, gimana?”

“Ya bagus dong. Bukannya berarti gue kenal banget sama dia?”

Hendery tidak ingin bertanya siapa orangnya. Yang pasti, Hendery sudah memegang jawaban pasti di dalam pikirannya. Siapa lagi? Semua orangpun bisa melihat hal tersebut.

Haechan mengangguk-angguk. “Iya bener juga.”

“Widiihhh, dedenya abang udah gede yaaa.”

“Emang??!!”

“Lo tuh masih keliatan kecil aja di mata gue de. Hahaha. Tapi kalo besok besok lo mau ceritain tentang rasa suka lo, orang yang lo suka, atau bahkan sakit sakitnya memiliki perasaan suka. Lo boleh berbagi sama gue de.”

Haechan mengangguk.

Andai Hendery tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin, bukan ini jawaban yang keluar dari mulut Hendery.

Perbincangan antara Haechan dan Hendery akhirnya diinterupsi oleh Johnny yang tiba tiba datang merusuh diantara dua anaknya.


@roseschies

that feeling only belongs to you

Hendery yang baru saja membeli minum untuk dirinya dan sang adik langsung berjalan menuju Haechan yang sudah duduk manis dipinggir.

Kedua orang tuanya sedang mencari makanan untuk mereka makan nantinya sekalian jalan jalan di sekitar. Memamg Hendery dan Haechan yang memilih untuk tinggal disini.

Hendery duduk di sebelah Haechan kemudian memberikan satu botol yang sebelumnya sudah dibukakan oleh Hendery pada Haechan. “Nih. Semangat banget de.”

Haechan mengambil botol tersebut lalu meminum hampir setengah lebih botol minum tersebut lalu terkekeh. “Lumayan bisa sedikit melepas penat.”

Hendery mengangguk ikut setuju.

Keduanya diam hanya memandang lautan lepas yang sedang tenang di depannya itu.

Haechan menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya setelah satu memori terlintak di kepalanya.

Namun, ia cepat cepat menggelengkan kepalanya untuk melupakan kejadian yang baru saja ia ingat.

“Bang.”

“Hm?” Hendery menyauti panggilan adiknya tanpa menghadap kearah adiknya. Keduanya sama sama sedang terlena dengan pandangan lepas seperti ini.

“Gapapa.” Jawab Haechan kembali menutup mulutnya.

“Kalo ada yang mau dibicarain, ngomong aja de. Abang dengerin kok.”

Haechan mengangguk tapi tidak kunjung membuka mulutnya.

“Bang, kalau gue suka sama orang. Lo marah nggak?”

“Hah? Ya ngapain gue marah. Perasaan lo kan punya lo bukan punya gue.”

“Kalo orangnya lo kenal, gimana?”

“Ya bagus dong. Bukannya berarti gue kenal banget sama dia?”

Hendery tidak ingin bertanya siapa orangnya. Yang pasti, Hendery sudah memegang jawaban pasti di dalam pikirannya. Siapa lagi? Semua orangpun bisa melihat hal tersebut.

Haechan mengangguk-angguk. “Iya bener juga.”

“Widiihhh, dedenya abang udah gede yaaa.”

“Emang??!!”

“Lo tuh masih keliatan kecil aja di mata gue de. Hahaha. Tapi kalo besok besok lo mau ceritain tentang rasa suka lo, orang yang lo suka, atau bahkan sakit sakitnya memiliki perasaan suka. Lo boleh berbagi sama gue de.”

Haechan mengangguk.

Andai Hendery tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin, bukan ini jawaban yang keluar dari mulut Hendery.

Perbincangan antara Haechan dan Hendery akhirnya diinterupsi oleh Johnny yang tiba tiba datang merusuh diantara dua anaknya.


@roseschies

Sugus and dejun

Hari semakin malam. Dua member sugus sudah semua sampai di rumah Hendery begitu juga dengan Dejun si calon member baru diantara lingkaran pertemanan ini.

“Woi apinya kegedean woii.” Lucas dengan kepanikannya yang sedang memasang api di kompor membuat Hendery yang baru saja sampai di atap langsung menggelengkan kepala.

“Dikecilin anjir, ini pake kompor portabel bukan areng.” Hendery mengecilkan kompornya meninggalkan Lucas yang nyengir.

Mark yang baru sampai di atas bersamaan dengan Dejun sambil membawa beberapa pisau dari bawah hanya bisa tertawa. Sedangkan Dejun, ia bingung harus apa.

“Weetts ini si jun jun itu ya?” Tunjuk Lucas pada Dejun karena Dejun baru saja datang.

Dejun mengangguk.

“Berisik lo anjir cas.” Mark memukul lengan Lucas sedangkan yang dipukul terkekeh.

“Sini sini jun, gabung sama kita.” Ajak Lucas yang melihat Dejun masih berdiri diam.

Akhirnya keempat lelaki tersebut duduk diantara daging dan kompor portabel yang ada di depan meja mereka.

“Eh, kenalin gue Lucas.” Lucas memperkenalkan dirinya kemudian menjabat tangan Dejun.

“Oh iya, gue Dejun.”

“Lo katanya mau masuk kesos ya? Gue anak kesos nih. Masuk kesos aja, rame loh. Nanti gue kasih trik and tips di kesos biar nilai lo aman sentosa. Kecuali sama dosen killer ya.” Lucas yang memang selalu menjadi orang yang talkactive berusaha untuk mencairkan suasana yang ada diantara mereka.

“Ohh iya. Gue masih mikir sih mau masuk mana hehe.”

“Udah kesos aja. Lumayan gak sih dapet kating seganteng gue.”

Hendery yang mendengar ucapan Lucas melemparkan lap yang tak jauh dari jaungkannya. “Najis lo. Ini buruan masak dagingnya.”

“Iya iya anjir.”

Sedangkan Mark sudah lebih dulu sibuk dengan perdagingannya itu.

“Nih Jun, lo mau gue masakin atau masak sendiri?” Tawar Hendery yang berada di sebelah Dejun.

“Masak sendiri aja.”

Hendery itu, gak ada kapok kapoknya berkali-kali di tolak pun, tetap terus menawarkan suatu hal pada Dejun. Padahal dirinya tau, apa yang akan dijawab oleh Dejun.

Hendery memberikan sumpit untuk Dejun.

“Thanks.”

Akhirnya keempatnya asik memasak daging, meskipun di dominasi oleh suara Lucas, Hendery, dan Mark yang saling serang dan tawa kencang akibat minyak yang terus mengciprat kesegala arah. Dejun yang baru saja bergabung agak terkena kultur shock, karena ternyata mereka seberisik ini.

“Bangsat ini minyaknya demen sama gue apa gimana sih, nyiprat gue mulu. Mark gantian tempat kek, lo adem aja di sana.” Misuh Lucas sambil menjauh dari kompro karena daritadi cipratan minyaknya selalu mengenai tempat Lucas.

Mark yang berada di sebelah Lucas menolak. “Biarin aja emang pantesnya lo di azab kan tuh!”

Hendery tertawa kencang. Tak lama kemudian dirinya tersedak daging yang baru saja ia suap kedalam mulutnya menimbulkan tawa dahsyat dari Lucas dan Mark.

“Ketawa lo berdua anjing kaga ada benernya punya temen.” Ucap Hendery setelah minum dan menetralisir nafasnya.

“Eh, adek lo gak diajak Hen?” Tanya Lucas tiba-tiba. Pantas saja daritadi dia merasa ada yang kurang entah apa. Ternyata, versi mini dirinya tidak ada di sini.

Dejun juga baru sadar kalau daritadi tidak ada Haechan. Tumben.

Sedangkan Mark masih asik dengan dagingnya.

“Oh iyaa. Bentar deh, gue coba ke kamarnya dulu.”

“DAGING GUE JANGAN DIAMBIL SETAN.”

Lucas yang diam diam ingin mengambil daging milik Hendery langsung tertangkap basah.


Hendery mengetuk pintu kamar adiknya lalu memanggil sang adik.

“De, ini abang.”

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka menampilkan Haechan dengan celana pendek dan kaos oblong miliknya. “Apa?”

“Ayo ikutan di atass.” Ajak Hendery. Haechan yang mendengar ajakan Hendery hanya terdiam.

Dirinya sudah janji akan menolak ajakan abangnya jika memang mengajak dirinya untuk ikut kumpul bersama teman-temannya itu.

Haechan menggeleng, “Aku banyak tugas bang. Next time ajaaa.”

“Yaahh. Mau abang masakin nggak dagingnya?”

Haechan menggeleng lagi. “Nggak usah, buat abang sama temen-temen abang ajaa. Have fun yaa.”

“Yaudah kalo gitu deh. Selamat jadi budak tugas de.”

Hendery lalu kembali menuju atap untuk bergabung lagi dengan teman-temannya itu.

“Haechan lagi banyak tugas katanya.”

“Yaahhh versi mini guee. Yaudahdah.” Ucap Lucas sambil cemberut.

Diam-diam ada satu orang yang sedang menunduk dalam diam menikmati dagingnya entah sebenarnya dia pura-pura tidak peduli atau memang sebenarnya tidak peduli sama sekali.


@roseschies

The warmth in him

“Dede minjem peng— Loh eh ini lagi ada apaannn?????” Hendery yang baru saja membuka pintu kamar Haechan dengan terburu-buru langsung bingung karena hawa kamar Haechan kenapa jadi menyedihkan begini.

“Loh Papa ngapain di sinii???” Tanya Hendery melihat Ten yang sedang tiduran di sebelah Haechan.

“Ikutan doonggg.” Teriak Hendery kemudian menidurkan tubuhnya diatas tubuh Haechan dan Ten.

Hendery nggak sadar apa kalau tubuhnya ini terlampau berat.

“Astaga abang beraaatt.” Haechan mendorong tubuh abangnya yang meniduri tubuhnya diatas.

Ten menggelengkan kepalanya, dari dulu memang Hendery tidak pernah berubah dan selalu merecoki kegiatan dirinya dengan si bungsu.

“Mau pinjem penggaris kan? Tuh tuh ambil aja di meja belajar ambil. Nggak modal banget penggaris aja minjem mulu!” Ledek Haechan sedangkan yang diledek tidak peduli dan langsung mengambil penggaris yang terletak di meja belajar Haechan.

“Daddy lagi ngapain Bang?” Tanya Ten pada Hendery, siapa tau anaknya itu tau sedang apa suaminya ditinggal oleh dirinya sebentar.

“Tadi pas abang turun sih lagi nonton TV sedih banget dah bengong doang udah kayak duda.” Hendery dan Haechan tertawa sedangkan Ten hanya bisa menggeleng-geleng.

Hendery keluar dari kamar adiknya sambil membawa penggaris sedangkan Haechan mendorong tubuh Ten, “Sana Paa temenin Daddy, kasian dia ditinggal Papa.”

Ten terkekeh, suaminya itu alay sekali baru juga ditinggal sebentar. “Daddymu tuh, Papa cuma tinggal bentar aja udah jadi sad boy.”

“Semua orang juga tau Pa, Daddy bucin akut sama Papa.”

Ten tertawa, benar juga.

“Yaudah, Papa kebawah ya? Dede tidur, besok sekolah. Udah disiapin kan peralatan sekolah besok?”

Haechan mengangguk. “Udah kok Paa, tenang aja.”

Good night, my little bear

“Ih Papaaaa!!!”

Ten tertawa kencang. Ten itu dulu sering meledeki suami dan kedua anaknya dengan sebuah panggilan. Untuk Haechan little bear, Abang big bear, sedangkan Johnny giant bear.

Ten menutup kamar Haechan kemudian menengok kearah kamar Hendery yang pintunya masih terbuka. “Ini kenapa pintunya dibuka bang?”

“Oh iya lupa ditutup Paa hehehe.”

“Tutup jangan lupa nanti banyak nyamuk.”

Hendery berdiri dari kursinya lalu menuju pintu. “Gimana, Pa?”

Ten tersenyum, dasar anaknya ini. Bilang aja bukan lupa tutup pintu tapi kepo.

“Baik-baik aja kok sayang. Banyak tugas bang?”

“Lumayan Pa.”

“Yaudah, jangan kemaleman ya sayang. Besok kelas jam berapa?”

“Siang sama sore Pa.”

Ten mengangguk, “Ok. Papa turun yaa?”

Hendery mengacungkan jempolnya lalu menutup pintu kamarnya.


@roseschies

Don't forget that you have yourself.

Sekitar pukul sembilan malam, Ten naik ke lantai dua lalu menuju kamar anak bungsunya.

Seperti pembicaraan sebelumnya bersama Johnny. Ten akhirnya memutuskan untuk menemui Haechan sekalian menemani si bungsu hingga terlelap malam ini di kamar milik Haechan.

Ten mengetuk pelan pintu kamar Haechan menunggu sautan dari si pemilik kamar yang entah sedang apa di dalam.

“De, ini Papa.” Ten kembali mengetuk kamar Haechan sambil berbicara bahwa dirinya lah yang sedang mengetuk.

“Masuk aja Pa nggak dikunci.” Sahutan Haechan terdengar sampai kuping Ten membuat Ten masuk kedalam kamar Haechan setelah dirinya diperbolehkan masuk oleh si pemilik kamar.

Ten bisa melihat Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya sambil melukis abstrak di atas kanvas.

Melihat itu, Ten akhirnya duduk di kasur Haechan melihat gerak-gerik anak bungsunya dari belakang.

“Gambar apa sayang?” Tanya Ten memecah keheningan diantara keduanya.

“Abstrak aja Pa, lagi iseng hehehe. Bentar Pa, aku cuci tangan dulu yaaa.”

Haechan kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk mencuci tangannya yang kotor terkena cat.

Ten berdiri lalu menuju meja belajar Haechan, melihat gambar yang barusan dibuat oleh si bungsu.

Lukisan abstrak. Sebagai orang yang sedikit mengerti seni. Ten paham apa yang sedang Haechan salurkan kedalam lukisan abstrak ini.

Perasaannya yang tak terdefinisikan.

Pikiran yang terkurung di dalam kepalanya, yang tidak bisa dikeluarkan lewat kata-kata.

Setelah melihat hasil lukisan Haechan. Ten kembali duduk di kasur Haechan menunggu anaknya selesai membersihkan tangannya.

Keputusan Ten untuk mengunjungi anaknya malam ini adalah keputusan paling benar. Anaknya pasti membutuhkan dirinya meskipun tidak secara langsung meminta dirinya untuk menemaninya.

Ten melihat beberapa boneka beruang yang selalu ada di pinggir kasur Haechan. Hampir semua pemberian dari orang lain. Entah dirinya, Abang, Daddy, atau teman dekatnya.

Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Ten menengok kearah kamar mandi lalu mengambil satu buah boneka kecil yang kalau tidak salah ini adalah pemberian dari Johnny. “De, ini pasangannya mana?”

“Jatuh kayaknya Pa, sebentar Dede cek di kolong kasur.”

Haechan akhirnya menunduk untuk melihat ke kolong kasur. “Adaaa Pa. Bentar aku ambil.”

Haechan lalu masuk kedalam kolong kasurnya untuk mengambil pasangan si boneka beruang kecil tersebut dengan susah payah.

Duk!

“Aduh!”

“Pelan-pelan De keluarnya yaampun sampe kejedot begitu.”

“Aku kirain udah sampe ternyata masih di dalem kolong.” Haechan terkekeh sambil mengelus kepalanya kemudian duduk di sebelah Ten lalu memberikan pasangan tersebut pada Ten.

“Yah, kotor Pa.”

“Gapapa, nanti Papa cuci ya. Semua yang kotor pasti masih bisa bersih kok, yang penting dia nggak kehilangan pasangannya lagi.”

Haechan mengangguk.

“Kamu ujian semester kapan de?”

“Masih lama pa, belum juga ujian tengah semester.”

“Sekolah nggak ada kesulitan kan sayang?”

Haechan menggeleng. “Nggak Pa. Sekolah biasa aja paling muter muter Renjun Jeno. Eh, sekarang nambah Jaemin deh hehehe.”

“Betah ya kamu temenan sama Renjun Jeno.”

“Betah lah Pa. Meskipun mereka ngeselin, cuma mereka temen yang bisa Dede andelin.”

“Bagus kalo gitu dongg. Terus Jaemin gimana De? Dia seneng kan gabung sama kamu dan temen-temen kamu?”

“Seneng kok Paa. Oh iya Pa, Jaemin pinter banget tau Pa. Dia padahal baru masuk ditengah jalan tapi langsung bisa ngikutin pelajaran.”

“Waahh, berarti bener kata Om Winwin. Jaemin sama Dejun itu sayang banget ya kalau nggak dilanjut sekolahnya. Mereka berdua sama sama pinter.”

Haechan mengangguk setuju. “Kita berempat kadang tuker tukeran saling ngajarin gitu Paa.”

“Pinternya anak Papa. Sini boboan.”

Ten menepuk kasur sebelahnya untuk Haechan tiduri disampingnya.

Haechan akhirnya menidurkan tubuhnya disamping Papanya itu.

Sudah lama ia tidak seperti ini dengan anak-anaknya, pikir Ten.

Mendengarkan cerita yang dilanturkan oleh anaknya, menjahili anaknya, dan tak lupa memeluk anaknya di atas kasur.

Ten mengelus surai milik Haechan lembut. Keduanya tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.

Haechan yang hanya menikmati elusan Ten dan Ten yang bingung ingin memulai pembicaraan apa diantara keduanya.

“Pa.”

“Hm?”

People come and go, right?

Ten mengangguk masih dengan tangannya yang mengelus surai milik Haechan.

“Kalau aku egois aku nggak mau seseorang itu meninggalkan aku, boleh nggak?”

“Kenapa Dede bisa mikir begitu?”

“Aku sayang sama dia.”

Ten terdiam, ia bingung kemana arah pembicaraan ini namun ia tetap mendengarkan anak bungsunya bercerita.

Konteks sayang itu terlalu banyak. Entah untuk teman atau seseorang yang berharga bagi dirinya. Ten tidak pernah mengotakkan bahwa kalimat sayang hanya untuk pasangan.

“Pa, kenapa manusia jahat ya pa?”

“Aku udah berusaha untuk terus baik ke semua orang. Tapi kenapa ada aja manusia yang jahat sama aku.”

Haechan diam.

“Jahat baiknya manusia, kita nggak bisa mengontrol. Jahat baiknya manusia, itu pilihan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Dede yang bisa memilih, mau baikin dia atau jahatin dia balik. Semua pilihan yang Dede pilih, dampaknya pun akan Dede rasakan sendiri. Dede boleh kok egois karena dede punya keinginan. Tapi Dede juga nggak bisa mengontrol perilaku orang lain sesuai apa yang Dede mau. De, realita itu jauh dari ekspetasi. Dua kemungkinan, entah realita yang kita dapat melebihi ekspetasi kita, atau bisa jadi ekspetasi kita yang terlalu berlebihan.”

“Pesan Papa, pilih apa yang menurut Dede baik untuk Dede. Buang apa yang menurut Dede menganggu pikiran Dede. Papa tau kok nggak gampang. Tapi kalau Dede terlalu larut, yang sakit Dede, kan?”

“Pa, aku nggak mau kalau dia yang ninggalin aku. Apa nggak ada cara lain?”

“Kuncinya cuma komunikasi sayang. Semua harus berawal dari komunikasi asal kedua belah pihak sama sama menggunakan kepala dingin.”

Komunikasi, ya?

Haechan bahkan sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Bukan, bukan Haechan tetapi lelaki yang sejak dulu bersarang dipikirinnya.

“Haechan, Papa nggak tau apa yang lagi kamu lewatin sekarang, siapa yang kamu pikirin dan apa yang kamu lagi perjuangin. Tapi, Haechan jangan lupa, Haechan punya Papa, punya Daddy, punya Abang, dan nggak lupa Haechan punya diri Haechan sendiri yang lebih kuat lebih dari perkiraan Haechan sendiri. Apa apa yang Haechan lagi rasain, mau dibagi sama Papa?”

Haechan diam. Ia rasa belum waktunya untuk menceritakan apa yang sedang menganggu pikirannya sekarang. Haechan masih merasa bahwa dirinya bisa melewati semua yang ia hadapi untuk sekarang.

It's okay, Papa nggak maksa Haechan buat cerita kok. Papa berterima kasih sama Haechan udah mau ngeluarin pemikiran Haechan barusan. Papa inget kalimat yang selalu Daddy bilang setiap Papa lagi banyak pikiran. Kata Daddy, everything's gonna be alright. Anak Papa udah besar, udah pinter pilih jalan yang menurut kamu benar. Kalau kamu tersesat akibat pilihan Dede sendiri, jangan lupa ada Papa, Daddy, dan Abang yang bakal ajak Dede balik kesini lagi. Dede paham?”

Haechan mengangguk. Sepertinya dirinya sudah terlalu larut dengan pikiran yang mengumpul di kepalanya membuat banyak orang yang tak mengerti apa apa ikut khawatir akan dirinya.

Tapi, Haechan juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dirinya, benar benar membutuhkan sosok lelaki tersebut.


@roseschies