roseschies

🌸

“Hen?” Panggil Dejun disebrang sana setelah Hendery menerima panggilan dari Dejun.

“Masuk Jun, sorry ya gue tadi dipanggil lagi sama papa gue.” Ucap Hendery kemudian duduk di kasurnya lalu menyenderkan badannya supaya lebih nyaman.

Dejun mengangguk lalu diam sibuk melihat kearah komputernya karena Hendery bisa lihat cahaya terang yang terpancar dari komputer milik Dejun di sana.

“Oh iya, coba lo buka websitenya.” Ucap Hendery, untung dia gak lupa niat mereka video call itu apa.

Dejun kembali mengangguk lalu mengetikkan website daftar ujian.

Sejun kemudian membalikkan kameranya membuat Hendery dapat melihat halaman utama website.

“Pencet yang kanan atas itu Jun. Terus lo sign up, masuk aja sesuai di sana.”

Dejun mengangguk lalu memencet sign up.

Namun, terlihat di sana tulisannya gagal.

“Begitu Hen keluarnya, daritadi. Gak mungkin overload kan jam segini?”

“Kayaknya lagi error atau maintenance deh websitenya.”

Dejun membalikkan kembali kameranya membuat Hendery saat ini bisa melihat wajah cemberut Dejun yang jarang sekali Hendery lihat.

Habis, biasanya Hendery cuma bisa liat wajah Dejun yang cuka lurus lurus saja.

“Gimana ya....”

Dejun masih mengotak-atik sambil mencari berita sedangkan Hendery diam sambil berfikir.

“Jun,”

“Apa?”

“Gue bantuin mau? Gue yang sign up dan daftarin, semisal boleh nanti lo kirim aja data data lo. Tapi ini sih kalo lo mau aja..” Tawar Hendery membuat Dejun berfikir sejenak.

Dejun akhirnya mengangguk menerima tawaran Hendery, lagi juga Dejun percaya Hendery tidak akan aneh aneh dengan data data miliknya, kan?

“Boleh, tapi ngerepotin lo ga Hen?”

Hendery menggeleng, “Ga kok, santai aja nanti gue coba terus. Lo cukup nikmatin weekend lo pergi besok, daftar ujian lo aman sama gue.”

“Thanks ya Hen.”

“Iya Jun, santai aja nanti kirim ke imess gue ya.”

Dejun mengangguk.

Hening. Keduanya hanya diam tanpa suara.

Oh, ada suara typing keyboard Dejun. Hendery rasanya seperti sedang menonton tayangan asmr keyboard atau study vlog. Tapi bedanya ini private study vlog.

Entah antara Dejun lupa kalau mereka masih video call atau memang keduanya yang tidak ada niat untuk mematikan video call tersebut.

“Jun.” Panggil Hendery tiba-tiba membuat Dejun terkejut mendengar suara lelaki.

Dejun ternyata lupa, video call mereka masih tersambung.

“Loh, gue pikir udah lo matiin?” Ucap Dejun membuat Hendery menggaruk pelipisnya, dia malah nungguin Dejun yang mematikan sambungan telepon mereka.

“Belom, gue pikir lo mau matiin. Takutnya masih ada butuh bantuan jadi belom gue matiin.”

“Lo ga tidur Jun? Bukannya besok lo pergi?” Lanjut Hendery.

Selanjutnya Dejun langsung menguao membuat Hendery terkekeh kecil dilanjut dengan Dejun yang langsung malu karena ketauan menahan ngantuknya.

“Tidur lo.”

Dejun mengangguk, “Oke, thanks ya Hen. Sorry sekali lagi ngerepotin.”

Hendery tersenyum kecil, “Ga kok Jun.”

“Duluan Hen.”

“Iya Jun, gue belakangan.”

Mendengar ucapan Hendery, Dejun langsung menahan tangannya yang baru saja ingin mematikan sambungan telepon mereka.

“Bentar, gue penasaran kenapa setiap gue bilang duluan selalu lo jawab belakangan?”

Hendery tertawa, “Iya kan lo bilang lo duluan, ya gue belakangan. Gitu pokoknya.”

Dejun menggaruk kepalanya, bingung.

“Yaudah ga usah lo pikirin juga Jun.”

“Gapaham gue, yaudah dul— Gue matiin ya Hen.”

Hendery tertawa mendengar Dejun yang berhenti mengucapkan duluan pada dirinya karena tau apa jawaban yang akan diberikan oleh Hendery untuk Dejun.

“Iya Jun.”

Akhirnya sambungan mereka benar benar mati, sedangkan Dejun masih berusaha mencari titik tentang 'belakangan' Hendery.

Sampai akhirnya Dejun tertawa sendiri setelah paham apa yang dimaksud Duluan dan Belakangan itu.


@roseschies

🌸

Seperti biasa, setiap jprotector ngumpul pasti kegiatan mereka akan diisi dengan menonton MV Jaehyun sampai membicarakan Jaehyun.

Apapun itu, semua obrolan pasti masuk ke dalam topik jprotector.

“Tau gak sih, kemarin tuh ada lewat gitu di TL gue, ya gara-gara ada yang ladenin sih. Si oknum ini ngetweet katanya comeback Jaehyun bakalan flop ditambah Jaehyun kayaknya gak peduli banget sama fansnya karena ninggalin tanpa kabar sampe sekarang. GAK JELAS BANGET KAN, KAYAK LU SIAPA NGURUS BANGET.” Cerita Haechan pada semua member jprotector sambil menggebu-gebu.

Entah, seperti unofficial Haechan itu menjadi salah satu member jprotector yang selalu tau lebih dulu tentang haters haters Jaehyun.

Semua hanya bisa menggelengkan kepala.

“Emang semakin terkenal, semakin banyak juga orang iri dan orang yang demen ngurusin begitu.” Celetuk Doyoung membuat semuanya mengangguk setuju.

“Kayaknya bakal ada bersih bersih search bar pt.2 ini mah, gila haters Jaehyun makin menggila di comeback sekarang dan pasti bakal bawa bawa omongan yang sebelum sebelumnya. Biasa haters kehabisan topik mau ngehate tapi Jaehyun aslinya terlalu bersih buat di hate ck.” Ucap Winwin menambahkan.

“Wadoh bakal ada Ka Yong dengan tweet 50 ribunya lagi gak sih ini?” Sahut Jungwoo membuat jprotector mengingat kejadian Taeyong dengan 50 ribu tweetnya untuk Jaehyun.

Xiaojun menepukkan tangannya mengingat sesuatu, “EH IYA BENEERR. Yang sampe Ka Yong di notis Jaehyun itu ya? Kira-kira bakal kejadian lagi ga ya, IRIIII.”

Ucapan Xiaojun membuat Ten langsung menatap kearah Taeyong sedangkan Taeyong juga langsung memberi suatu sinyal pada Ten.

“Weeeehhh lo pada gak laper apaa?” Ucap Ten sebelum akhirnya semua orang malah membahas hal tersebut.

Taeyong ingin tertawa, dasar Ten.

Tetapi benar, sejak tadi mereka belum makan karena terlalu sibuk membicarakan Jaehyun dan comebacknya yang sampai saat ini belum ada hilalnya juga.


Hari ini jprotector benar benar seharian sampai malam bersama di rumah Doyoung.

Bahkan, akhirnya mereka makan malam bersama di rumah Doyoung bermodalkan pesan delivery karena mereka tidak sadar sejak tadi mengobrol sudah sampai jam sembilan malam.

Jaehyun juga sampai jam segini sama sekali tidak menghubungi Taeyong.

Namun Taeyong memaklumi itu, mungkin memang Jaehyun sedang sibuk.

Toh, Taeyong juga sedang quality time bersama teman-temannya.

“Eh pada pulang jam berapa?” Tanya Jungwoo tiba-tiba.

Ini mereka pada gak lupa pulang kan.

“Kelar makan dah pulang kita.” Jawab Taeyong membuat semuanya mengangguk setuju.

Semua makan sampai kira-kira jam setengah sebelas. Iya makannya lama karena lagi lagi mereka terus mengeluarkan topik gosip hangat diantara mereka.

Tepat jam sebelas kurang, jprotector akhirnya pulang dari rumah Doyoung dan tentu Jungwoo mengantarkan kembali Taeyong ke rumahnya.


@roseschies

selamat hari ayah, daddy dan papa.

2.048 words


Hendery mengetuk pintu kamar Haechan dengan brutal membuat si pemilik kamar yang sedang asik bermain dengan Jeno langsung misuh sambil membuka headset yang sedang ia gunakan. “BERISIKKKK MASUK AJA HIH.”

Namun Hendery tetaplah Hendery, abangnya itu tetap mengetuk pintu kamar Haechan membuat Haechan rasanya ingin menjambak rambut milik Hendery.

Haechan membuka pintu kamarnya dan terpampanglah wajah jahil Hendery di sana.

“Ngapain sih ah rusuh banget lo bang.”

“Lagi ngapain siiii? Telponan lo ya sama Mark sampe nggak mau diganggu gitu.” Ucap Hendery sambil mengintip-intip ke dalam kamar Haechan.

Haechan menggeleng lalu mempersilahkan Hendery untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Lagi main sama Jeno. Ngapain?”

Hendery lalu mendudukan diri di karpet yang ada di kamar Haechan lalu menyuruh Haechan untuk ikut duduk di sana.

“Punya kertas HVS, pensil, pulpen, penghapus, spidol, sama kertas origami gak lo?” Tanya Hendery sedangkan Haechan mengangguk.

“Punya lah, emang abang semua minjem ke gue.” Jawab Haechan membuat Hendery terkekeh. Memang sih, abangnya itu bahkan penggaris aja selalu pinjam ke Haechan. Kalau kata Hendery, adiknya itu seperti ATK berjalan.

“Sini, bawain semuanya.” Pinta Hendery membuat Haechan terbingung, abangnya ini mau ngapain sih.

“Udah muka lo gak usah bengong gitu. Kita bikin kartu ucapan buat Daddy sana Papa.” Tambah Hendery setelah melihat Haechan hanya diam sambil memandang dirinya.

“OH. Oke bentar dulu.” Haechan langsung lari menuju komputer miliknya, izin pada Jeno jika dirinya selesai bermain lalu mematikan komputer tersebut kemudian mengambil peralatan yang kira-kira mereka butuhkan.

Setelah Haechan mendapatkan semuanya, Haechan bawa semua peralatan itu dengan dua tangannya sedangkan Hendery hanya bersantai ria di karpet, selonjoran di sana tanpa ada keinginan untuk berdiri membantu adiknya.

“BANTUIN KEK INI BANYAK YAAAA.” Gerutu Haechan membuat Hendery tertawa. Senang dirinya melihat adiknya itu kesusahan sendiri sambil misuh-misuh karena sejak tadi barang-barang kecil selalu berjatuhan.

Sambil tertawa, Hendery berdiri lalu mengambil beberapa barang dari tangan Haechan untuk membantu adiknya itu. “Iya iyaa udah gak usah memble gitu buset dah.”

Haechan memberikan tatapan mematikan pada Hendery lalu memukul lengan milik Hendery. “Ish nyebelin. Yaudah ini mau digimanain emang?”

“Oh. Dede punya ide, kita gambar aja di kertas HVS ini terus kertas origami itu buat kartu ucapannya.”

“Kayak bisa gambar aja lo de.”

“DIH MEREMEHKAN YAAA???”

“Bukan meremehkan, fakta adanya.”

“Gini gini jiwa art Papa nurun ke gue ya!”

Hendery tertawa, dirinya tau kok Haechan lebih pintar menggambar dibanding dirinya yang membuat garis saja masih mencang-mencong abstrak seperti hidupnya.

“Yaudah kalo gitu lo gambar di situ, gue nulis kartu ucapannya. Gimana? Tapi kita sama sama ngasih ide, gue kasih ide tambahan buat gambarnya, lo juga kasih ide kartu ucapan dari lo buat Daddy Papa. Deal?”

Haechan mengangguk setuju. “Oke.”

Akhirnya, mereka berdua masing-masing sibuk dengan kegiatan masing masing.

Haechan yang sibuk mengambar di atas kertas HVS dan Hendery yang sibuk menulis ucapan di atas kertas origami.

“De, gimana?” tanya Hendery setelah menulis hampir setengah dari origami tersebut.

Haechan membaca kilat kemudian mengangguk, “Bagus Bang. Bentar sini gue tambahin.”

Haechan menagmbil kertas origami tersebut lalu menulis beberapa ucapan untuk Daddy dan Papanya itu.

“Nih, tinggal gambarnya, babang mau tambahin apa?” Tanya Haechan membuat Hendery melihat kearah gambar yang sudah setengah Haechan lakukan di sana.

Hendery mengambil pensil kemudian ikut menggambar di atas kertas HVS.

Hendery menggambar wajah Daddy sedangkan Haechan mengambar wajah Papanya.

“SIAPA ITU BANG????!!!” Haechan terkejut melihat gambar yang dibuat oleh Hendery, bahkan jauh dari kemiripan Daddynya itu.

“Daddy lah ini?! Tuh liat, ini tuh Daddy banget de.” Ucap Hendery memberi tau detail untuk gambar Daddynya yang ia buat.

Kemudian Hendery memberi bulatan disekitar gambar Daddynya itu lalu menulis “Ini Daddy. By, Abang.”

“Tanpa di tulis juga semua orang tau itu gambarnya abang.” Ucap Haechan kemudian ikut seperti abangnya, memberi bulatan disekitar gambar Papanya itu lalu menulis, “Ini Papa buatan Dede.” tak lupa ia tambahkan hati kecil di sana.

“Sok imut lo de pake love love.” Ucap Hendery setelah melihat adiknya itu menggambar hati kecil.

“Dih apasih bang sewot aja sewooottt.” Haechan tak peduli kemudian lanjut menggambar sesuatu untuk menambah hiasan di sana tak lupa ia juga menulis namanya besar-besar menggunakan spidol warna warni.

Melihat itu, Hendery ikut menulis namanya bahkan lebih besar dari nama Haechan menggunakan spidol warna terang.

“Dahhh!” ucap Haechan dilanjutkan dengan Hendery yang meletakkan spidol milik adiknya secara sembarang kemudian merenggangkan badannya.

“Pegel juga bikin ginian doang.” Ucap Hendery kemudian menidurkan tubuhnya di atas karpet.

Haechan menggeleng, “Gapapa bang, paham namanya udah berumur suka cepet pegel.”

“Sialan lo.”


Malamnya, Haechan dan Hendery turun bersama untuk makan malam bersama kedua orang tuanya di bawah.

Haechan sudah membawa sesuatu yang mereka buat tadi siang di tangannya.

“Ayo sini abang, dede makan malam dulu.” Ajak Ten sedangkan Johnny sudah duduk di bangkunya.

Hendery menghadapkan diri kearah Haechan membuat Haechan mengangguk lalu keduanya berjalan menuju meja makan di mana kedua orang tuanya sudah menunggu mereka.

Sesampainya mereka di meja makan, keduanya hanya berdiri sambil tersenyum.

“Kenapa senyum aja? Ayo makan sini duduk.” Ucap Johnny setelah melihat kedua anaknya hanya berdiri tersenyum di sana.

Namun Haechan dan Hendery tetap berdiri lalu terkekeh.

Johnny dan Ten bingung dan hanya tatap-tatapan.

Anakmu, dikasih obat apa yang kok begini. Kira-kira begitu yang ingin Johnny sampaikan pada Ten sedangkan Ten hanya menggedikkan bahu, dia juga tidak tau anaknya kenapa.

“Ada apa sayang? Serem ah senyum senyum berdiri doang gitu.” Ucap Ten lagi sedangkan Haechan semakin terkekeh, Haechan gemas sendiri.

Kemudian Haechan mengeluarkan sesuatu yang ia bawa sejak tadi. “Tadaaa~”

“Apa itu? Hasil ulangan dede?” Tanya Ten kemudian berdiri dari tempta duduknya sedangkan Johnny hanya melirik kepo.

Haechan menggeleng, “Nggak. Ini buat Daddy sama Papa dari Abang dan Dede.”

“Eiiitttss nanti ajaaa ih diliatnya, makan dulu. Laperr.” Haechan menahan Ten yang baru saja ingin membuka amplop tersebut kemudian ia mengangguk dan mereka berempat kahirnya duduk di kursi masing-masing lalu makan bersama dengan khidmat.


Akhirnya, setelah menghabiskan waktu malam bersama, Haechan dan Hendery naik ke kamar masing-masing begitu juga dengan Johnny dan Ten yang langsung masuk ke dalam kamarnya.

Johnny langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi sedangkan Ten menunggu Johnny selesai dan duduk di kasur.

“Udah nih, kamu cuci muka sama gosok dulu gih.” Johnny mengusap wajahnya pada handuk kemudian menyuruh Ten untuk segera cuci muka dan gosok gigi.

Ten mengangguk lalu menuju kamar mandi.

Johnny mengecup kilat bibir Ten ketika Ten melewati dirinya membuat Ten terkejut.

“Ih! kaget aku tau kamu nih main nyosor aja.”

Sedangkan Johnny hanya terkekeh kemudian lanjut mengusap wajahnya kemudian menggantuk handuk pada tempatnya, kalau tidak bisa bisa ia diamuk oleh Ten jika menaruh barang dengan sembarang.

Sambil menunggu Ten, Johnny mengecek ponselnya sambil membalas beberapa pesan yang masuk.

Tak lama kemudian, keduanya sudah selesai dengan rutinitas sebelum tidurnya.

Ten tiba-tiba teringat amplop yang diberikan oleh Haechan sewaktu makan malam tadi, langsung saja ia ambil amplop tersebut yang ia letakkan di atas meja rias lalu ia bawa dan kembali duduk diatas kasur bersama Johnny.

“Untung aku nggak lupa. Ini apa ya Jo?” Tanya Ten sambil membulak-balikkan amplop tersebut sedangkan Johnny langsung menyelesaikan kegiatan mengecek ponselnya lalu menaruh ponsel miliknya di nakas sebelah kasur.

Johnny mengambil amplop tersebut kemudian menerka-nerka apa isi amplop tersebut.

Johnny membuka pelan amplop tersebut yang dipakaikan stiker bentuk smile untuk merekatkan amplop tersebut.

Amplop tersebut berisi satu kertas HVS putih dan satu origami berwarna biru.

Johnny dan Ten saling tatap menatap melihat isinya, semakin penasaran.

Johnny mengambil kertas HVS tersebut kemudian ia berikan origami berwarna biru itu kepada Ten.

Pertama, Johnny buka kertas HVS tersebut.

Terpampanglah gambar yang sudah Hendery dan Haechan buat siang tadi membuat Johnny dan Ten terkejut.

“Ini Daddy. By, Abang.” Ucap Johnny sambil membaca tulisan yang ada di sana lalu tertawa.

Sedangkan Ten sedang memerhatikan gambar wajah dirinya yang dibuat oleh Haechan. Ten tersenyum, “Lucu banget yaampun.”

Johnny menunjuk satu gambar kecil dan sebuah tulisan di sana. “Liat yang, gemes banget.”

Di sana ada gambar bayi dan satu anak balita, kemudian di atasnya tertulis tulisan “Abang & Dede”

Kemudian di sebelahnya ada lagi gambar balita dan anak yang lebih besar lagi. tertulis lagi, “Abang & Dede”

“Ini pertumbuhan Dede dan Abang. Kami bisa tumbuh karena Daddy dan Papa.” Ten membaca tulisan yang tertulis di sana kemudian tersenyum kecil.

Ten meletakkan kepalanya di pundak Johnny, menyamankan dirinya untuk melihat-lihat lagi apa yang ada di kertas HVS itu.

Johnny tertawa keras setelah melihat satu tulisan dan gambar lain. Gambar uang kemudian tulisan disampingnya, 'Daddy' dan gambar kamera dengan tulisan, 'Papa'.

Ten ikut tertawa, “Memang kamu kan uang berjalan mereka.”

“Ohiya, tadi origaminya mana yang?”

Ten yang sedang memegang origami tersebut langsung memberikan origaminya pada Johnny.

Johnny membuka origami tersebut kemudian terpampanglah tulisan yang lumayan panajang. Keduanya sangat mengenal, itu adalah tulisan Hendery dan Haechan.

Ten memeluk tubuh Johnny dan kembali meletakkan kepalanya di pundak Johnny.

“Jo.....” Ucap Ten sewaktu ia baru saja melihat kalimat awal dari tulisan tersebut.

Johnny mengelus surai Ten kemudian mengecup pucuk kepala Ten. “Dibaca pelan-pelan ya, Daddy dan Papa.”

Selamat hari special untuk kedua lelaki paling keren sedunia setidaknya untuk Abang dan Dede

Hari ini dan besok akan Abang dan Dede dedikasikan untuk Daddy dan Papa! Tapi, karena hari ini Abang dan Dede belum kasih apa apa, jadi besok double deh!

Tapi, jangan suruh Abang dan Dede bebersih rumah ya. Cape:(

Daddy, Papa terima kasih ya. Terima kasih untuk semua yang sudah Daddy dan Papa berikan untuk Abang dan Dede.

Kita berdua tau, rasanya ucapan terima kasih semua terasa kurang dengan semua yang sudah Daddy dan Papa berdua berikan. Karena, semua yang Daddy dan Papa berikan, tidak bisa dibandingkan dengan semua hal yang ada di dunia.

Sekecil apapun yang menurut Daddy dan Papa berikan untuk kita, bagi kita semuanya terasa sangat berharga.

Daddy, Papa. Terima kasih sudah mendengar semua keluh kesah kita berdua bahkan disaat Daddy dan Papa sedang lelah dengan dunia Daddy dan Papa sendiri.

Daddy, Papa. Dede janji nggak akan nyusahin Daddy Papa lagi.

Dad, Pa, tulisan di atas hanya bualan semata. Dia lagi cari perhatian biasa, biarin aja.

ABANG JUGA

Serius dong De.

Daddy, Papa. Meskipun Abang dan Dede susah dibilangin, bandel, iseng, pokoknya selalu nyusahin Daddy dan Papa, tapi ingat, kita berdua itu jiplakan Daddy dan Papa jadi jangan salahin kita kalau kita begini ya hehehe.

Dad, Pa itu tulisannya Dede ya bukan Abang yang bilang sumpaahhh.

Daddy, Papa. Dede capek nulisnya, intinya selamat hari special untuk dua lelaki yang lebih special dari apapun di dunia ini. Dede sayang banget sama Daddy dan Papa, meskipun Dede susah nurut tapi Dede beneran sayang sama Daddy dan Papa kok. :D

Daddy, Papa. Abang memang nggak bisa mengekspresikan rasa sayang Abang ke Daddy dan Papa seperti Dede. Tetapi, percayalah, Abang sama besarnya sayang ke Daddy dan Papa. Daddy dan Papa yang sejak dulu selalu mau direpotin Abang, Daddy dan Papa yang tak kenal lelah ngurus Abang, Daddy dan Papa yang selalu ada buat Abang kapanpun itu.

We love you, our superhero.

-Babang jelek & Dede Ganteng

-BABANG GANTENG & DEDE JELEK

-BABANG GANTENG & DEDE GANTENG

Sepanjang membaca isi surat tersebut Ten dan Johnny tak ada hentinya tersenyum, tertawa, sampai menitihkan air mata.

Untuk Ten, lelaki mungil itu tidak hanya menitihkan air mata, ia sudah banjir sedangkan Johnny masih bisa menahan air matanya.

Johnny kembali mencium pucuk kepala Ten, “Manisnya mereka, pasti turunan kamu.”

“Kuatnya mereka, pasti turunan kamu.”

“Mereka bener, mereka itu jiplakan kita dengan versi yang lebih baru.”

Ten tertawa dengan hidung yang sedikit mampet lalu mengangguk.

Johnny meletakkan dua kertas itu di nakas sebelah kasur kemudian merengkuh tubuh mungil Ten masuk ke dalam pelukannya.

Johnny mencubit gemas hidung merah Ten yang sejak tadi menangis sewaktu membaca surat tersebut.

“Selamat hari special, Daddy.” Ucap Ten tiba-tiba membuat Johnny kembali mencubit hidung milik Ten.

“Selamat hari special, Papa.”

Ten memajukan tubuhnya kemudian mengecup kilat bibir Johnny lalu kembali memeluk tubuh Johnny.

“Gemasnya. Kamu kenapa, malu?”

Ten menggeleng.

“Hehehe malu yaa panggil Daddy. Coba coba sekali lagi aku mau denger lagi.” Ucap Johnny, ia sangat suka menjahili Ten.

“Ih!”

“Kenapa sayang?”

“Gapapa, Daddy.”

Johnny rasanya ingin teriak, belasan hampir puluhan tahun keduanya menikah, Ten memang lebih senang memanggil Johnny dengan panggilan namanya.

“Gemasnya, ayo sini bobo.”

Ten mengangguk lalu menyamankan tubuhnya di dalam pelukan Johnny.

Johnny mengelus surai milik Ten. “Selamat tidur, jagoannya Abang dan Dede.”

“Selamat tidur juga untuk jagoannya Abang, Dede, dan Papa.”

Johnny tersenyum lalu menutup matanya, keduanya menjemput mimpi mereka bersama dalam pelukan yang kian mengerat.


@roseschies

― Johnten oneshot AU

IB Song : Kesedihanku – Sammy Simorangkir

// major character death.

1.379 words.


Ten menginjakkan kakinya di dalam rumah, ia bawa kakinya menuju sofa yang tidak jauh dari pintu rumah.

Ten terduduk diam di sana, kepalanya tak berhenti menengok kesana kemari, mencari sesuatu entah apa itu.

Tangannya tak diam memainkan cincin yang terpaut di jari miliknya, cincin pertunangan dirinya beberapa minggu lalu yang baru saja terlaksana.

“Ten, mau minum?” Tanya sepupu Ten, Kun. Ten menjawab dengan gelengan kepala membuat Kun mengangguk, ia paham dengan sepupunya lalu meninggalkan sepupunya untuk mendatangi orang yang terus berdatangan.

“Kak, makan yuk?” Sepupunya yang lain kembali mendatangi Ten dan duduk di sebelah Ten sambil menepuk paha milik Ten.

“Belum lapar, Jun.” Tolak Ten, lagi.

Dejun hanya menghela nafasnya, “Gue bawain ya, Kak?”

Ten menggelengkan kepalanya lagi. “Enggak Jun, masih kenyang.”

“Yaudah, kalau lapar, bilang ya Kak? Nanti gue ambilin makanannya.” Ucap Dejun membuat Ten mengangguk, pura-pura paham saja.

Dejun kembali menepuk paha milik Ten lalu meninggalkan Ten yang masih diam menetap duduk di sofa.

Tak hanya Kun maupun Dejun, sepupu dan sodara Ten sejak tadi sibuk berlalu-lalang dekat Ten, bahkan tak hanya satu dua mengajak Ten mengobrol namun lagi lagi, Ten mengeluarkan respon menolak.

Rumah ini terlampau ramai, tetapi tidak bagi Ten, rasanya semua terasa sepi.


Ten membuka matanya setelah tidur beberapa jam.

Terasa tidak nyenyak untuk dirinya, tetapi setidaknya ia sudah mengistirahatkan dirinya sejenak.

Ten kembali hanya memandang kesana-kemari, dirinya semakin terasa kosong, bahkan lebih dari kemarin.

Tak sengaja, Ten melihat kearah nakas yang berada di samping kasurnya itu. Terdapat satu frame dengan foto seseorang yang sedang tersenyum manis.

Foto tunangannya, Johnny.

Image

Melihat foto tersebut membuat Ten ikut tersenyum lalu ia ambil frame tersebut dan ia bawa frame tersebut masuk ke dalam pelukannya.

Ten mengelus frame foto tersebut dengan jempol miliknya, tanpa Ten tahu, air matanya kembali turun dari mata miliknya.

Sampai akhirnya, terdengar suara seseorang mengetok pintu kamar Ten membuat Ten mengembalikan frame foto tersebut ke tempat semula kemudian mengusap jejak air mata yang tersisa.

Ten membawa tubuhnya untuk membuka pintu kamarnya lalu terpampanglah sepupunya itu di depan pintu.

“Ten, sarapan yuk bareng-bareng, makanannya udah siap di meja makan. Yuk?” Ajak Kun dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya itu membuat Ten mau tidak mau mengangguk, mengiyakan ajakan Kun.

Kun yang merasa lega karena akhirnya Ten tidak lagi menolak ajakannya langsung menarik tangan Ten menuju meja makan.

Di sana, sepupu sampai sodaranya yang masih menginap di sini sudah duduk di tempat masing-masing, tertinggal dua kursi, kursinya dan Kun.

Setelah Ten dan Kun menduduki kursinya masing-masing, akhirnya mereka semua makan bersama.

Suara dentingan antara piring dan sendok bergema di seisi ruangan, tak lupa canda gurau juga mengisi ruangan itu membuat suasana sangatlah ramai.

Kun sadar, Ten sejak tadi hanya diam memandangi lauk yang ada di depannya itu.

“Ten, dimakan dulu yuk?”

Ten tidak menjawab, dirinya hanya memegangi dan memutar-mutarkan cincin pertunangannya lalu akhirnya mengangguk.

Dejun yang sedang duduk di sebelah Ten setelah mengeluarkan candaan kepada Yangyang yang berada di depannya itu tak sengaja melihat tangan Ten yang sejak tadi terus-terusan mengelus cincinnya.

Dejun hanya bisa menghela nafas.

Dejun tahu, semuanya terasa cepat bagi sepupunya itu. Tapi, bagaimana juga, semua sudah terjadi dan kejadian itu siapapun tidak bisa menghentikannya, sekalipun Ten.

Suatu kehendak yang tak bisa diprediksi dan tidak bisa dihentikan.

Sebuah takdir.


Beberapa minggu kemudian, Ten sudah terlihat lebih baik dari beberapa minggu lalu.

Ten kembali ceria, ia kembali menjadi Ten yang semua orang kenal.

Meskipun semua orang tahu, ada sesuatu yang masih disimpan oleh lelaki mungil itu, di sana. Ia simpan rapat-rapat, di dalam dirinya.

Ten sedang buru-buru memakai sepatu miliknya sampai tiba-tiba Kun yang sedang menunggu Ten memberhentikan kegiatan Ten yang sedang memakai sepatu.

“Ten, bunganya mana?”

Ten terdiam, lalu langsung sadar akan sesuatu.

Bunga yang akan ia bawa dan ia cari sampai berhari-hari tidak ada di sampingnya yang ternyata tertinggal di kamarnya.

Ten langsung berlarian menuju kamarnya, kemudian ia kembali berhenti tepat di depan nakas yang terdapat frame dengan foto Johnny di sana.

Seakan-akan foto tersebut memberi senyuman untuknya, Ten menjawab senyuman tersebut dengan senyuman yang tak kalah manis sambil memandangi foto tersebut.

“Ten udah belum?” Suara Kun menginterupsi kegiatan Ten membuat Ten langsung cepat cepat mengambil bunga yang ada di atas kasur lalu kembali lari menuju garasi kemudian masuk ke dalam mobil bersama dengan Kun sedangkan Dejun dan Yangyang sudah menunggu Ten di dalam mobil.


Tidak memakan waktu lama, mobil milik Kun sudah sampai membuat Ten langsung turun dari mobil lalu langsung menuju suatu tempat.

Ten jalan sendirian kesana karena Kun, Dejun, dan Yangyang tidak ikut turun, mereka lebih memilih untuk menunggu di mobil dan memberi waktu lebih untuk sepupunya itu.

Bibir milik Ten melengkung keatas membuat sebuah senyuman tercetak indah di wajah Ten, kembali ia eratkan bunga yang ia bawa di dalam pelukannya sambil terus berjalan tanpa peduli sekitar.

Setelah Ten melihat sesuatu yang sudah ia kenal, Ten mempercepat tempo jalannya, jantunganya semakin berdegup cepat seiring dengan tempo jalannya yang semakin cepat.

Ten mendudukkan dirinya di pinggiran kemudian ia taruh bunga yang sejak tadi ia bawa ke dalam vas yang ada di sana. Vas bunga yang sebenarnya Ten bawa sendiri, sengaja dikhususkan untuk seseorang yang ia cintai seumur hidupnya.

Setelah menaruh bunga tersebut ke dalam vas, Ten kembali duduk.

Ten diam untuk beberapa menit.

Ten hanya memandangi gundukkan tanah yang ada di depannya.

Senyumannya, hilang.

Hai, Johnny.

Ten memandangi nisan yang ada di depannya kemudian ia elus nisan tersebut dengan sayang, seperti dirinya yang sedang mengelus surai lembut milik Johnny pada hari-hari biasanya.

Maaf ya, aku baru sempat nengok lagi. Kamu mau maafin aku kan?

Butuh beberapa waktu untuk aku akhirnya dapetin bunga kesukaan kamu.

Aku ingat, sewaktu itu kamu bilang, bunga ini adalah bunga kesukaan kamu. Kemarin, aku cari arti dari bunga ini karena aku penasaran kamu bilang bunga ini sangat kamu sukai dan kamu juga janji sama aku mau kasih bunga ini di hari pernikahan kita untuk aku. Kata kamu, kamu menitipkan pesan dalam bunga ini, untukku.

Bunga Dandelion.

Ten menghela nafasnya, rasa sesak di dadanya kian terasa menyakitkan dirinya.

Ten teringat pesan yang dititipkan oleh Johnny lewat bunga tersebut. Pesan yang begitu menyentuh hati Ten. Pesan yang tidak akan Ten lupakan, seumur hidupnya.

Beberapa detik, Ten hanya diam memandang. Angin terus menerus menyapa wajah dan tubuh milik Ten, namun lelaki itu tidak menghiraukan tetapit erus mengeratkan hoodie yang ia gunakan.

Ten kembali teringat sesuatu yang ia bawa di dalam kantong celananya.

Cincin pertunangan milik Johnny yang sudah dilepas dari tangan si pemilik.

Ten melihat kearah cincin milik Johnny yang berada di genggamannya kemudian melihat cincin yang ia gunakan bergantian terus menerus.

Ten taruh cincin tersebut di atas gundukkan tanah yang ada di depannya lalu Ten tersenyum kecil.

Cantik.

Tak lama kemudian, senyuman Ten kembali hilang.

Sekelibat kenangan manis dirinya dengan Johnny terus berputar di dalam pikirannya, tanpa henti.

Rasanya, menangis pun dirinya sudah tidak mampu. Air mata miliknya, seperti sudah kehabisan stok.

Dengan dirinya yang terus menangis, ia sadar, sekeras apapun tangisannya tidak lagi mampu mendatangkan Johnny untuk memeluk dan menenangkan dirinya.

Tangisannya hanya menghasilkan kehampaan dalam dirinya.

Dunia terus berputar, orang sekitar perlahan meninggalkannya, dan lagi, dunia terus berputar, terus begitu.

Ten mengambil kembali cincin milik Johnny yang sebelumnya ia letakkan di atas gundukkan tanah kemudian ia masukkan kembali ke dalam kantong, supaya tidak hilang.

Ten bangun dari duduknya kemudian ia bawa tangannya kembali mengelus nisan dengan pelan, sangat hati-hati.

Bagaimanapun, hidupku harus terus berjalan seperti biasanya kan Jo?

Aku nggak boleh terus berlarut dalam kesedihan yang nggak ada ujung. Aku harus bangkit dan terus menjalani hidupku, seperti biasanya.

Aku nggak nangis lagi karena kamu, nggak lagi sedih karena kamu bukan berarti aku melupakanmu. Hanya saja, kamu akan selalu menjadi kenangan terindah untukku.

Kemudian Ten kembali merogoh saku hoodie yang ia gunakan, mengeluarkan satu buah boneka kecil kemudian ia taruh di dekat vas bunga.

Ini, aku bawakan kamu teman biar kamu nggak merasa sendirian di sini. Anggap aja ini aku hehehe.

Aku pulang, ya?

Dengan hati yang rasanya tak ingin meninggalkan tunangannya sendirian, Ten tetap melangkahkan kakinya menjauh dari sana.

Ten akan menata kembali hidupnya dan Ten akan terus melanjutkan hidupnya.

Semua terasa lebih baru bagi Ten, tetapi hati dan perasaan miliknya akan tetap sama untuk Johnny, tunangannya itu.


@roseschies.

https://threebouquets.com/blogs/article/arti-dan-makna-filosofi-bunga-dandelion

complicated

Akhirnya jam istirahat yang paling ditunggu oleh murid murid datang juga.

“Udah ya ini aja? Awas lo tiba-tiba ada tambahan mendadak.” Ucap Jeno setelah menulis list makanan dan minuman yang dipesan oleh Haechan dan Renjun di dalam ponselnya itu.

Haechan dan Renjun mengangguk mantab, kali ini mereka tidak akan menyusahkan kedua temannya itu.

Jeno dan Jaemin pergi beli minuman dan makanan karena memang hari ini bagian mereka buat menerobos lautan manusia di kantin.

Tersisalah Renjun dan Haechan, sambil menunggu Jeno dan Jaemin keduanya saling berbagi cerita dari Haechan yang bercerita tentang dirinya dengan Mark kemarin sampai pada akhirnya Renjun membuka cerita miliknya.

“Nana makin deketin gue, chan.” Ucap Renjun mengawali ceritanya pada Haechan sedangkan Haechan hanya mengangguk, dirinya tau kok, sangat terlihat, bagi dirinya.

“Gue bingung banget, gimana ya chan.” Tambah Renjun lagi.

Haechan menggaruk tengkuknya, untuk masalah gimana, Haechan pun tidak punya hak, karena bagaimananya itu semua tergantung Renjun juga perasaan yang Renjun miliki.

Jika Haechan bilang percintaan Renjun ini rumit, memang. Memang Rumit.

Bakso jembatan depan.

Haechan dan Renjun bilang hal tersebut merupakan insiden bakso jembatan depan dan hanya Haechan juga Renjun yang mengetahui hal tersebut, karena Jeno itu orang yang nggak pekaan.

Suatu hal kecil yang dilakukan Jeno pada saat itu dapat membuat hati milik Renjun tergerak.

Renjun memang menyukai Jeno, temannya sendiri. Tetapi sudah bertahun-tahun Jeno sama sekali tidak tau akan hal tersebut.

Terlebih karena keduanya masih kecil dulu, masih SMP.

Renjun pikir, perasaan yang dia miliki untuk Jeno hanya sekedar cinta monyet, yang sebentar hilang gitu aja. Ternyata nggak, sampai detik ini, Renjun masih menyimpan perasaannya untuk Jeno dan hanya Renjun juga Haechan yang mengetahui hal tersebut.

Renjun bahkan sempat bilang sesuatu ke Haechan,

“Gapapa Chan, sampe kapanpun cukup gue aja yang rasain rasa ini, Jeno nggak perlu tau.”

Bahkan disaat Jeno sempat memiliki pasangan kala itu, Renjun hanya bisa tersenyum melihatnya.

Renjun kembali mengucapkan sesuatu ke Haechan,

“Chan, suka sama temen sendiri itu beneran harus hati-hati Chan. Gapapa Chan, gue lebih milih liat dia bahagia kayak gini ketimbang Jeno tau dan momogi rusak cuma karena gue egois akan perasaan gue.”

Bahkan disaat sekarang, Renjun pun sadar, Jeno menyukai Jaemin, teman barunya itu dan Renjun semakin mematung disaat dirinya juga sadar, Jaemin berusaha mendekati dirinya, sejak awal.

Haechan bukan buta terhadap hal tersebut, banyak sekali kelakuan ketiganya di sekolah yang tertangkap oleh mata Haechan.

Dari Jeno yang suka deketin Jaemin, Jaemin sih memang nggak nolak tetapi Haechan tau mata Jaemin tertuju untuk Renjun. Sedangkan Renjun yang sebenarnya lagi liatin Jeno, ngebuat Jaemin salah perkiraan.

Ah, memang benar, masalah percintaan mereka sangat rumit.

Haechan maupun Renjun belum bisa berfikir panjang tentang ini, tentang rasa milik Renjun untuk Jeno, rasa milik Jeno untuk Jaemin, rasa Jaemin untuk Renjun, juga tentang momogi, kedepannya.

Haechan tau, ketiga temannya ini lebih paham daripada siapapun, Haechan juga bersiap diri jadi mediator semisal semua akhirnya terkuak.

Karena apapun itu, pasti momogi suatu saat akan retak, meskipun tidak akan pernah pecah karena lem mereka, begitu rekat.

Renjun menatap jam dinding yang ada di dalam kelasnya, diam.

Haechan baru saja ingin membuka mulutnya untuk berbicara sesuatu pada Renjun,

“WOI SUASANA SERIUS AMAT. Nih makanannya udah dateng.” Tiba-tiba saja Jeno sudah datang menggebrak meja Haechan dan Renjun sambil meletakkan makanan milik keduanya.

Sialan Jung Jeno

Akhirnya Renjun hanya mengangguk sambil menatap Haechan membuat Haechan paham dan berakhir mereka makan bersama di meja milik Haechan dan Renjun.


@roseschies

missing you

Sudah sekitar satu jam lebih Haechan dan Jeno berkutat pada tugas mereka di kamar Jeno.

Kamar Jeno sukses dibuat berantakan akibat tugas mereka. Kertas HVS sampai kertas origami berserakan dimana-mana, dari lem kertas sampai selotip ikut berserakan dimana-mana.

“Anjir pegel banget.” Haechan merenggangkan tubuhnya lalu merebahkan dirinya di lantai yang pastinya berkarpet, disusul dengan Jeno yang juga ikut tiduran.

“Segini dulu cukup nggak sih chan? Minggu depan kan tugasnya dikumpul? Udah lumayan sih ini setengah lebih dapet.” Ucap Jeno sambil memainkan pulpennya.

Haechan mengangguk kemudian meletakkan kedua tangannya menyilang dibelakang kepala sebagai bantalan untuk kepalanya, “Iya udah setengah, tapi kalo bisa kelar minggu ini nggak sih? Biar minggu depan sebelum dikumpul kita fokus latihan buat presentasinya.”

Jeno mengangguk-anggukan kepalanya, “Yaudah minggu ini gue sekalian bikin bahan narasi buat presentasinya. Bagian gue yang ini kan?”

Jeno menunjuk bagian kanan diatas kertas karton tersebut, materi dirinya yang sebelumnya sudah ia bahas berdua bersama Haechan.

Haechan mengangguk, “Iya, yang ini baru gue. Nanti kita simulasi aja sebelum presentasi beneran.”

Jeno mengangguk, salah satu yang ia suka jika satu kelompok dengan salah satu anak momogi ya seperti ini, mereka tidak pernah menunda waktu, supaya waktu sisanya nanti bisa dipakai untuk yang lain dan dirinya tidak kepikiran tugasnya terus menerus.

Haechan mendudukkan dirinya kemudian berdiri dari duduknya tersebut, “Gue mau mau ngisi minum lagi ya Jen.”

Jeno mengangguk, “Masih inget kan lo sama dapur rumah gue?”

“Yaiyalah, emang ada yang berubah?”

“Nggak sih, ngeri dibawah nanti lo kesasar lagi.”

“Ngaco, kaga lah. Yaudah gue mau ambil minum dulu. Haus banget.”

Haechan membawa gelasnya yang mau dia isi ulang di dapur rumah Jeno. Haechan sudah biasa dan rumah Jeno memang benar benar sudah seperti rumah Haechan juga. Semua letak barang-barang yang ada di rumah Jeno, bahkan Haechan sudah khatam.

Haechan keluar dari kamar Jeno kemudian menutup pintu kamar Jeno lalu menuju tangga untuk turun dari lantai dua menuju lantai satu.

Bertepatan dengan Haechan yang tak sengaja melewti kamar Mark karena memang kamar Mark dan kamar Jeno berada depan depanan, jadi sebelum turun tangga pastinya Haechan akan melewati kamar Mark.

Terlihat pintu kamar Mark terbuka membuat Haechan menengok sedikit ke dalam kamar Mark.

Dilihat dari luar, kamar milik Mark kosong, tidak ada orang.

Dengan jantung yang sedikit berdegup, Haechan membuka sedikit pintu kamar Mark, terpampanglah kamar Mark tanpa pemiliknya.

Kamar milik Mark masih sama, semua tatanan barangnya bahkan belum berubah sedikitpun.

Tak hanya itu, kamar Mark masih sama hangatnya seperti dulu.

Perlahan bibir milik Haechan terangkat sedikit, tersenyum melihat satu frame foto yang terletak di meja belajar Mark dengan sticky notes yang ternyata masih tertempel di sana.

Iya, foto dirinya dengan Mark sambil memeluk satu teddy bear diantara keduanya dan sticky notes dengan tulisan tangan Haechan yang mengingatkan Mark untuk makan.

Haechan tersenyum kemudian mengelus pinggir frame foto itu.

Ia rindu dengan Mark dan semua kenangan indah dirinya bersama Mark.

Terlalu fokus dengan frame foto tersebut, Haechan terkejut ketika dirinya melihat terdapat beberapa bungkusan obat yang terletak tepat di depan frame foto tersebut.

Haechan tidak tau obat itu obat apa, karena Haechan tidak pernah liat Mark mengkonsumsi obat-obatan, terlebih Mark yang Haechan kenal sangat jarang sakit.

Tetapi bungkusan obat ini tidak hanya satu atau dua, lebih dari itu.

Tiba-tiba Haechan teringat dengan ucapan Mark tempo lalu.

“Haechan, kepala Kakak pusing. Haechan masih di sini kan?”

Haechan baru saja ingin mengambil satu bungkusan obat tersebut namun kegiatannya sudah terinterupsi kala ia mendengar suara seseorang masuk ke dalam kupingnya, suara yang terdengar sangat-sangat familiar dengan kupingnya itu.

“Adek?”

Tubuh Haechan menegang, kemudian kembali meletakkan bungkusan obat tersebut di tempatnya lalu memutar balikkan badannya.

Haechan mematung, memandangi Mark yang berada di ambang pintu dengan tangan yang sedang memegang satu buah cangkir.

Haechan memandangi Mark dari tempatnya, wajah milik Mark bahkan tidak bisa dibilang baik-baik saja, bahkan jauh dari kata baik-baik saja.

Mata yang sayu, bibir yang pecah dan kering, rambut berantakan, ah.... Ini bukan Mark yang biasa Haechan kenal.

Mark yang masih mematung juga tidak bisa mengangkat kakinya sama sekali, tubuhnya terasa kaku, ia tidak tau secepat ini ia akan bertemu dengan Haechan.

Dan mungkin, secepat ini juga, Haechan mengetahui tentang dirinya belakangan ini, semuanya.

Karena, yang dapat Mark lihat sebelum ia memanggil Haechan, ia dapat melihat punggung adik manisnya itu sedang turun, karena ia melihat sesuatu yang seharusnya dia tidak lihat. Iya, bungkusan obat milik Mark.

Haechan berlari menuju Mark kemudian menubrukkan tubuhnya ke tubuh Mark, lelaki itu memeluk erat tubuh Mark.

Haechan menangis sesegukkan tepat dipelukkan Mark.

Mark meletakkan cangkir yang sejak tadi ia pegang di meja dekat pintu kemudian menarik tubuh Haechan, semakin masuk kedalam pelukannya.

Tubuh keduanya bergetar akibat tangisan yang keluar dari mata masing-masing.

Mark mengelus punggung adik manisnya itu dengan sayang.

“Maafin kakak, ya?”

Haechan menggelengkan kepalanya, “Kakak, kakak nggak baik baik aja. Kakak bohong.”

Haechan semakin menangis ketika ia kembali mengingat bungkusan obat milik Mark.

Mark tersenyum tipis lalu menggigit bibirnya, menahan tangisannya untuk tidak keluar semakin kencang sekarang.

“Nggak, Kakak baik baik aja kok. Udah lebih baik.”

“Kamu gimana, dek?”

Haechan tidak sanggup bersuara lagi, dirinya terlalu larut dalam tangisannya yang semakin deras itu.

Mark mengelus surai milik Haechan lembut, wangi Haechan bahkan sama sekali tidak berubah, masih sama, selalu manis.

Haechan melepaskan pelukan tersebut kemudian mengusap air mata dari mata dan pipinya kemudian menatap wajah Mark.

Haechan bawa tangannya untuk mengelus pipi Mark membuat Mark menutup kedua matanya, air mata milik Mark sukses meluncur bebas ketika dirinya menutup matanya itu.

Mati-matian Mark menahan air matanya supaya tidak keluar, pada akhirnya air mata itu keluar juga.

“Badan kakak hangat, udah minum obat?” Tanya Haechan tiba-tiba.

Mark menggeleng, “Belum, ini abis ambil minum.”

Haechan mengangguk kemudian mengaitkan tangannya pada tangan milik Mark kemudian menarik tangan Mark, mengajak Mark untuk duduk di pinggir kasurnya.

“Obatnya yang mana?”

Mark menunjuk satu bungkusan yang terpisah dengan bungkusan yang berada di depan frame foto dirinya dengan Mark itu.

Haechan telaten membuka satu bungkus obat kemudian membantu Mark untuk meminum obat tersebut.

Tanpa bertanya, Haechan tetap membantu Mark.

“Makasih ya, chan.”

“Kakak tidur ya?”

Mark menggeleng, “Kakak tau, pasti banyak pertanyaan di kepala kamu kan? Sini, kakak jelasin pelan pelan ya?”

Haechan terdiam namun Mark langsung menarik tubuh Haechan untuk naik keatas kasur.

Keduanya tidur bersama diatas kasur milik Mark.

Mark menceritakan sesuatu yang belum sama sekali Haechan tau.

Tentang pertemuan Mark dengan teman Jaehyun.

Haechan lagi-lagi kembali menangis dipelukan Mark membuat Mark kembali memeluk tubuh adik manisnya itu.

Hampir satu jam, keduanya mengabiskan waktu di atas kasur milik Mark sampai pada akhirnya, Haechan lelah menangis dan akhirnya keduanya tertidur di sana.

Meninggalkan Jeno yang sejak awal pertemuan Mark dan Haechan menguping di pinggir pintu Mark.

Jeno tersenyum tipis, “Selamat.”

Kemudian Jeno perlahan masuk ke dalam kamar kakaknya itu lalu menyelimuti kedua lelaki yang sedang berpelukan dengan hidung yang sama-sama memerah akibat menangis.

“Hadeh, dua orang kalau abis baikan begini ya, mana sampe ketiduran berdua lagi.”

Jeno kemudian kembali menuju kamarnya lalu mengirimkan sebuah pesan untuk Hendery, memberitahu, sepertinya adiknya mungkin akan bermalam dirumahnya atau mungkin saja akan pulang lebih larut lagi.

Tanpa diberitahu alasan lebih lanjut, Hendery sudah paham apa yang sedang terjadi di sana.


@roseschies

Jaeyong oneshot.

2,3k+ words.

idol x fanboy.


TCITY mencetak rekor baru, lagi. Tepat satu bulan lalu, salah satu grup yang sedang popular itu mengeluarkan jadwal resmi konser mereka yang bertajuk ‘Forever Love’. Hari ini tepat pukul 12.00 siang, pembelian tiket yang dilaksanakan secara online di buka. Tak disangka, dalam hitungan detik, puluhan ribu tiket konser TCITY berhasil habis terjual.

“Gila lo Jay! Tangan lo terbuat dari apa sampe bisa dapet dua tiket dalam hitungan detik?” Ucap Yuta sambil bertepuk tangan melihat temannya yang berhasil membeli dua buah tiket konser TCITY.

Sedangkan Jaehyun yang biasa dipanggil Jay oleh Yuta langsung membanggakan dirinya sendiri. “Wets, kekuatan cinta buat Taeyong nih bro. Terima kasih lo sama gue, kalo gak karena gue lo juga nggak akan ketemu sama idol lo si Winwin, kan.”

Yuta langsung memeluk tubuh Jaehyun dari samping kemudian mengecup pipi milik Jaehyun, “Makasih Jay! Gue traktir siomay gerobak ye.”

Jaehyun yang tiba-tiba terkena ciuman mendadak dari Yuta langsung mengelap pipinya lalu memeperkan bekas lapnya itu ke baju Yuta, “Najis lo cium cium gue woi!”

“Traktiran tuh hanamasa kek, ini lah siomay gerobak. Lo liat itu perjuangan gue segimana berharganya bisa dapetin tiket konser yang habis terjual dalam hitungan detik! KURANG.” Tambah Jaehyun membuat Yuta menggelengkan kepalanya.

Yuta memukul lengan milik Jaehyun, “Gaya lo selangit banget dah Jay. Gue bakal traktir apa yang lo mau kalo gue di notis si kokoh ya.”

Jaehyun memutarkan matanya malas, “Ngimpi lo kejauhan. Gue nggak usah mimpi jauh jauh juga udah pasti Taeyong bakal notis gue secara gue ganteng siapa yang nggak mau liat gue.”

“Lo pilih gue bakar di sini apa gue sate dulu?” Ucap Yuta, sebal mendengar ucapan temannya.

Jaehyun terkekeh, “Canda elah. Tapi ya gue beneran kepikiran sesuatu, lo mau bantuin gue nggak Yut?”

“Apaan? Kaga usah aneh-aneh dah lo, apa lagi nyusahin.”

“Nggak anjir, serius ini ide gue cemerlang banget.”

“Yaudah apaan?”

Jaehyun menyuruh Yuta untuk lebih dekat dengan dirinya sedangkan Yuta hanya nurut kemudian Jaehyun membisikkan sesuatu tepat di kuping Jaehyun.

Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Jaehyun membuat Yuta langsung melotot dan menjauhkan diri dari Jaehyun, “PEMIKIRAN LO ANEH BANGET DAH SUMPAH.”

Jaehyun tertawa, “Lah, mau bantuin nggak lo? Siapa tau lo kecipratan juga.”

Yuta menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dia dengan pemikiran aneh temannya ini.

Nanti pas konser gue bakal bawa banner nama Taeyong, terus gue mau pura-pura pingsan di venue, pasti rusuh kan tuh mana tau Taeyong ngeliat terus khawatir sama gue karena gue bawa banner Taeyong dan dia pasti tau tuh gue fans dia. Eh, nanti pas kelaran konser dia nemuin gue di belakang.

Yuta memijat pelipisnya, pusing dengan pemikiran aneh temannya ini. “Gue tau Jay, lo mau banget di notis Taeyong, tapi nggak gini juga anjir.”

“Dih, mana tau beneran bekerja. Daripada gue tiba-tiba buka baju terus lo ngangkat badan gue, gue muter-muterin baju gue, lebih mending mana?”

Yuta semakin memijat pelipisnya, “Kaga ada yang mending, mending lo diem di rumah aja, gue yang nonton konser dah. Lo mau nonton konser apa bikin malu gue sih Jay.”

“Yang kedua bonus sih sebenernya.”

“Bangsat.”


Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu oleh Jaehyun dan Yuta datang juga. Iya, hari dimana konser TCITY berlangsung di kota mereka.

Jaehyun dan Yuta sudah bersiap-siap berdua sejak tadi pagi tepatnya di kosan milik Jaehyun. Mereka berdua akan menuju konser agak siangan menggunakan mobil milik Yuta.

“Weh, Gue bingung banget mau pake baju yang mana.” Ucap Jaehyun, lelaki ini sejak satu jam lalu masih telanjang dada dan berdiri di depan lemari bajunya, memilih baju yang akan ia pakai ke konser.

“Ya Tuhan lo mau nonton konser aja udah kayak mau fashion show, udahlah baju apa aja kalo perlu nggak usah pake baju sekalian.” Jawab Yuta sambil merenggangkan tubuhnya diatas kasur milik Jaehyun.

Jaehyun mengangguk setuju, “Gue setuju opsi lo yang kedua. Bagus nggak badan gue kalo nggak pake baju.”

Yuta menggeleng, “Mohon maaf nggak minat gue. Buruan ah Jay lo beneran mau fashion show ya?”

Jaehyun melipat dua tangannya di dada sambil melihat kembali kearah lemari bajunya dan memilih untuk tidak menjawab ucapan Yuta.

“Hm, ini aja deh. Kayaknya bagus.” Ucap Jaehyun sambil menarik satu baju dan satu kemeja dari dalam lemari bajunya.

Yuta langsung melihat kearah Jaehyun lalu menepuk jidatnya, lelah melihat perlakuan temannya itu. “Si bangsat ujungnya tetep aja kaos item lagi. Makan waktu doang dah emang nungguin lo ujungnya juga itu lagi itu lagi.”

Jaehyun langsung memakai kaosnya kemudian memakai kemeja yang sudah ia pilih tanpa ia kancing, “Dih kok lo protes si? Suka suka gue lah. Dah yuk berangkat, eh bentar parfum.”

Yuta menggelengkan kepalanya untuk kesekian kalinya melihat temannya yang begitu rempong sejak tadi.

Padahal Yuta juga begitu tadi di rumah, sibuk memilah-milih baju yang akan ia pakai dan bahkan Yuta menyemprotkan parfum hampir tiga puluh semprotan. Mandi parfum kali dia.

“Dah, gue udah ganteng meskipun selalu ganteng, yuk.” Ucap Jaehyun lalu mengambil dompet dan ponsel miliknya yang tergeletak di nakas.

“Tiketnya Jay jangan lupa.”

“Tenang aja udah paperless, filenya udah gue download juga punya gue sama punya lo, nanti gue kirim yang punya lo.”

Yuta mengangguk kemudian keduanya keluar dari kosan Jaehyun lalu menuju mobil Yuta yang sudah terparkir tidak rapih di parkiran kosan Jaehyun.

“Lo bisa markir gak sih?? Nyusahin aja ini gue mau masuk pintu jadi gak bisa.”

Iya, bagian passenger seat jika pintunya dibuka langsung mentok tembok, seharusnya Yuta bisa lebih geser sedikit markirnya.

“Protes mulu lo ya, bentar gue mundur dulu baru lo masuk.”

Jaehyun mengangguk lalu menunggu Yuta yang sedang memundurkan mobilnya.

“Kiw, atas nama Jaehyun? Mau nonton konser TCITY ya Kak? Mari bareng saya aja.” Ucap Yuta sambil menurunkan kaca mobilnya membuat Jaehyun mendesis.

“Dasar orang gila.”

Jaehyun langsung membuka pintu passenger seat kemudian duduk di sana dan memakai seatbelt.

Akhirnya, Jaehyun dan Yuta pergi menuju venue dimana konser TCITY berlangsung.


Sudah hampir satu jam lebih konser TCITY berlangsung. Bahkan Yuta dan Jaehyun sama sekali tidak merasa lelah, keduanya sama sama menikmati konser TCITY kali ini.

Jaehyun tak ada hentinya memotret hingga memvideokan Taeyong dari segala banyak arah. Tetapi satu, Taeyong tak kunjung mendekat kearahnya.

Jaehyun kurang apa, ya?

Jaehyun menyenggol siku Yuta yang berada disampingnya, temannya itu sedang meneriaki nama Winwin sejak tadi, Jaehyun rasa suara Yuta pulang-pulang habis. Niat Yuta meneriaki nama Winwin supaya Winwin bisa menemukan dirinya tetapi hasilnya juga sama seperti Jaehyun, Winwin bahkan tidak kunjung datang kearah mereka.

Yuta menaikkan alisnya memberi tanda bertanya untuk Jaehyun.

“Gue mau lakuin yang gue bilang waktu itu.” Ucap Jaehyun pada Yuta namun berisiknya suara di dalam venue benar-benar membuat Yuta tidak mendengar sama sekali ucapan Jaehyun.

“HAH APAAN SIH?” Yuta sedikit berteriak membuat Jaehyun ikut berteriak.

“GUE MAU LAKUIN YANG GUE BILANG WAKTU ITU.”

“YANG MANA?”

“PINGSAN, BURUAN LO DEKET GUE TANGKEP GUE.”

“WOI JANGAN GIL- BANGSAT PINGSAN BENERAN??????” Yuta langsung menangkap tubuh Jaehyun membuat orang-orang disekitar mereka berteriak terkejut karena ada seseorang yang tiba-tiba pingsan.

“TOLONG INI ADA YANG PINGSAN.” Ucap orang sebelah Yuta sedangkan Yuta masih diem sambil memegang tubuh Jaehyun yang sedang pura-pura pingsan itu.

Beberapa orang terus berteriak sampai akhirnya Taeyong yang tidak jauh dari sana langsung melihat kearah sana kemudian berbicara dengan mic miliknya, “Tolong teman-teman jangan rusuh ya, tenaga keamanan tolong itu di A10 ada yang pingsan.”

Taeyong berlari kearah dimana Yuta dan Jaehyun berdiri.

Taeyong melihat kearah Jaehyun yang sedang dibawa oleh tenaga keamanan konser, Taeyong melihat lelaki itu membawa banner dengan nama dirinya di sana.

Taeyong semakin khawatir, “Teman-teman jangan dorong-dorong ya, ayo perhatiin tubuh kalian masing-masing, kalau kegencet ingatkan teman sampingnya untuk beri space lebih supaya nggak ada yang pingsan lagi.”

Mata Taeyong itu tidak bisa bohong, sepanjang konser ia merasa khawatir terlebih karena yang pingsan itu salah satu fansnya. Taeyong berniat setelah konser menemuin lelaki itu dibelakang, jika ada waktu.

Setelah konser selesai dilaksanakan, Taeyong langsung bertanya kepada salah satu tenaga keamanan konser yang tadi membantu membawa tubuh lelaki yang pingsan itu. “Misi pak mau tanya, orang yang tadi pingsan itu dibawa kemana ya?”

“Oh, yang tadi dibawa kesana.”

“Saya boleh kesana?”

“Eh, kayaknya boleh? Saya kurang tau. Bisa dibicarakan sama orang yang disana.”

Taeyong mengangguk lalu mengucapkan terima kasih kepada tenaga keamanan tersebut kemudian berlari menuju ruang dimana katanya lelaki tersebut dibawa.

Taeyong bahkan sampai meninggalkan membernya itu membuat mereka semua bertanya-tanya, tetapi tidak banyak tanya dan membiarkan Taeyong.

Taeyong mengetuk pintu kemudian masuk mengintip kedalam.

Ada beberapa orang yang berjaga di sana membuat penjaga di sana ikut bertanya.

“Ehm, saya boleh masuk?”

Si penjaga tersebut hanya menggaruk kepalanya, mereka kan bukan manager Taeyong apalagi manager grup jadi mana bisa mengiyakan sesuatu.

“Saya izin masuk ya, mau lihat seseorang.” Ucap Taeyong lalu masuk kedalam sana.

Taeyong langsung melihat satu lelaki yang sejak tadi ia khawatirkan, lelaki itu sedang berbaring.

Taeyong menarik bangku kemudian duduk disamping lelaki itu.

Taeyong hanya diam menunggu sampai kiranya lelaki ini siuman.

Tak lama kemudian, niat Jaehyun ingin mengecek keadaan, dirinya sejak tadi menghitung waktu sampai konser berakhir. Jika hitungan Jaehyun tidak salah, konser saat ini sudah selesai.

Akhirnya, Jaehyun membuka matanya.

Jaehyun terkejut melihat disampingnya sudah ada Taeyong yang sedang duduk melihat kearah dirinya.

Taeyong tersenyum, “Kamu baik baik saja kan?”

Tidak ada jawaban, Taeyong berdiri dari duduknya kemudian mendekatkan tubuhnya kearah Jaehyun.

“Halo? Gimana udah lebih baik?”

Taeyong melambaikan tangannya tepat di depan wajah Jaehyun,

“Halo?”

“Jaehyun?”

“Jaehyun?”

“JAEHYUN WOI ANJENG KOK LO MASIH DIEM SIH GUE AJAK NGOMONG DARITADI OALA BUDEG KUPING LO?” Teriakkan Yuta membuat Jaehyun seratus persen sadar dari pikiran halunya itu.

“APAAN SIH LO GANGGU GUE AJA ANJIR.”

“LO MAU BEBERSIH VENUE? KONSERNYA UDAH KELAR ANJIR LO NGAPAIN SIH.”

Jaehyun bahkan sampai tidak sadar kalau ternyata konsernya benar benar sudah usai, stage sudah kosong dan beberapa orang di venue sedang mengantri untuk keluar.

“Ayo pulang, lo ngapain bengong aja daritadi anjir.”

“Gapapa, yuk lah balik badan gue pegel juga.”

“Sama, tenggorokan gue juga kering banget buset butuh minum.”

Yuta dan Jaehyun akhirnya ikut mengantri dibarisan untuk keluar dari venue konser.

“Pecah sih konser kali ini, suka banget gue. Mana ya tuhan kokoh gue ganteng banget Jaehyun, bisa gila gue dikit lagi.” Ucap Yuta membuat Jaehyun mengangguk-anggukan kepalanya.

Jaehyun itu masih dengan pikirannya sendiri, tolong ya Yuta.

“Gapapa Jay, next konser kalo konser lagi sih, lo bakal di notis sama Taeyong, yakin gue. Nanti kita lebih tepat aja pilih tempatnya supaya bisa pilih tempat yang biasa Taeyong dan Winwin datengin.”

“Masalahnya TCITY konser kayak seratus tahun sekali anjir. Tapi gapapa sih gue beberapa kali di notis sama Ten, lo liat nih gue punya video Ten dadah dadah di hp gue.” Ucap Jaehyun, setidaknya dirinya sempat di notis sekali dua kali oleh member TCITY yang lain, meskipun itu bukan bias utamanya, Taeyong.

“Lebay banget lo seratur tahun sekali. Ya nggak segitunya kali. Eh beli minum dulu yuk disitu, sumpah tenggorokan gue kering banget.” Yuta menunjuk satu kios yang tidak jauh dari pintu keluar membuat Jaehyun mengangguk saja, Jaehyun juga merasa haus ternyata.

Disaat Jaehyun dan Yuta membeli minuman masing-masing, tiba-tiba saja pundak Jaehyun ditepuk oleh seseorang dari belakang membuat Jaehyun memutarkan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang sudah menepuk pundaknya itu.

Seorang wanita.

“Permisi, mohon maaf menganggu waktu kalian. Saya punya titipan buat kamu.” Ucap wanita tersebut kemudian mengeluarkan satu buah kertas sedikit lecek dari kantong celananya.

“Ini, maaf ya lecek tadi buru-buru jadinya langsung lecek begitu. Langsung dibaca aja ya, jangan tanya apa apa dan tolong rahasiakan semua hal yang ada di dalam kertas itu. Terima kasih, saya pergi dulu.” Wanita itu langsung memberikan kertas tersebut pada Jaehyun lalu langsung pergi dari pandangan Jaehyun juga Yuta.

Jaehyun yang masih mencerna apa maksudnya hanya diam sedangkan Yuta penasaran.

“Apasih Jay?”

Jaehyun menggedikkan bahunya, “Mana gue tau. Ini dia nyogok gue buat beli barang dia apa gimana? Jangan jangan emang dia ngasih gue brosur iklan produk dia tapi ini caranya maksa banget gitu.”

“Gue nggak open endorse woi. Endorse aja bayar, ini lagi pemaksaan.” Teriak Jaehyun pada entah siapa membuat Yuta menggelengkan kepala. Sok sok an endorse, followers instagram aja nggak kalah sama jumlah member TCITY.

“Buka jangan Yut? Gue takutnya dijampe-jampe ini isinya.” Tanya Jaehyun pada Yuta.

“Terserah lo dah terserah lo sumpah Jay. Gue capek banget liat lo.” Yuta lelah dengan semua kelakuan Jaehyun yang aneh.

“Yaudah gue buka aja.”

Gini gini Yuta juga penasaran akhirnya lelaki itu mendekat kearah Yuta sambil menyedot minuman miliknya.

010-3423-879

Saya diberitahu oleh salah satu member saya, ada seorang penggemar saya yang membawa banner nama saya di section dia. Saya berniat untuk mendatangi kamu sewaktu member saya memberitahu hal tersebut, tetapi ternyata saya tidak sempat, waktunya terlalu mepet. Bagaimana jika saya dan kamu, bertemu diluar jadwal? Jika kamu tidak keberatan, ini nomor saya. Saya sudah meminta izin kepada manajer saya, maaf jika saya tidak mengirim surat ini secara pribadi, karena saya tidak diizinkan. Terima kasih sudah menjadi penggemar saya, saya senang.

Oh, saya tau kok kamu yang mana, karena saya sejak awal melihat kamu, kaos hitam dibalut dengan kemeja merah hitam, memakai topi hitam, membawa banner nama saya. Betul?

Oh, saya juga boleh meminta banner yang kamu bawa? Lucu sekali, warna pink dan biru hahaha, di venue terlihat sangat bersinar ditambah kamu yang memakai baju gelap tetapi membawa banner berwarna terang. Boleh ya?

Sekali lagi, Terima kasih. Hubungi saya ya.

TY.

Jaehyun terdiam, sedangkan Yuta sudah melotot dan melihat kearah surat tersebut kemudian melihat kearah Jaehyun, begitu terus.

“WOI?”

“Ssttt diem anjir bentar dulu, jantung gue mau copot. Masa sih?”

Yuta langsung memeluk tubuh Jaehyun erat-erat kemudian mengecup pipi Jaehyun, seperti biasanya.

Tetapi mereka lupa keduanya lagi diluar kosan, membuat si penjual minuman disana yang melihat mereka malah begitu langsung pura-pura melihat kesana kemari.

“BANGSAT NGGAK NYIUM PIPI GUE DI LUAR KOSAN DONG. ADUH NANTI KALO-“

“Nanti kalo Taeyong liat gue dikira punya pacar gimana?”

“HALU LO KETINGGIAN MENTANG MENTANG.”

Jaehyun masih tersenyum-senyum sendiri kemudian kembali membaca ulang isi surat tersebut.

Rasanya, mustahil.

Ini mimpi atau halu dirinya lagi kah?

“Yut, cubit gue.” Pinta Jaehyun.

Yuta mencubit lalu menarik kulit Jaehyun menimbulkan kemerahan di kulit putih Jaehyun.

“Bangsat gue nyuruh cubit biasa bukan pake Tarik segala.”

“Gak Jay, lo nggak mimpi. Beneran Jay.”

Jaehyun semakin tersenyum kala ia sadar, ini bukan mimpi apalagi halusinasi seperti tadi.

Yuta mencolek lengan Jaehyun membuat Jaehyun menaikkan alisnya tanda ia bertanya.

“Ajak gue ya, siapa tau gue bisa ketemu sama kokoh.”

“NGIMPI.”


@roseschies.

something unknown

Jeno mengetikkan sebuah kalimat lagi dengan ponsel milik Mark yang pastinya pesan tersebut ditujukan untuk Haechan.

Chan, aku ngantuk, tidur duluan gapapa ya?

Tanpa menunggu Haechan membalas, Jeno langsung kembali meletakkan ponsel milik Mark di atas meja belajar Mark lalu Jeno mengambil handuk kecil yang tidak jauh dari sana kemudian ia bawa kakinya menuju kasur milik Mark dimana Mark sedang duduk di sana.

Jeno mengusap keringat yang sedikit membasahi pelipis Mark kemudian membantu kakaknya untuk duduk dengan benar di atas kasur.

“Kakak nggak minum obat sore, ya?”

Mark menggeleng kemudian terkekeh, “Lupa serius Jen. Padahal udah gue set alarm cuma kayaknya gue ketiduran pas bangun malah lupa minum.”

Jeno rasanya ingin mencubit kakaknya berkali-kali.

“Kak, obat sore kakak itu paling penting apa lagi buat sakit kepala kakak yang suka tiba-tiba muncul kayak gini.”

Meskipun mulut Jeno memarahi Mark, tetapi Jeno tetap telaten mengusap pelipis Mark membuat Mark tersenyum, adiknya ini tidak pernah berubah.

“Iya iya, lupa loh Jen.”

“Lupa mulu lupa, besok besok kakak lupa naro tangan gimana?!”

“Ya nggak mungkin lah Jen, lo nih ngada-ngada aja.”

“Ya abisan sering banget semuanya dilupain. Kakak tuh, ih pengen gue gebuk.”

Mark tersenyum tipis kemudian mengusap air mata yang keluar dari mata Jeno. Adiknya ini sangat emosional, ternyata.

“Gimana kalau gue nggak tau dari Haechan? Gimana kalau gue telat masuk ke kamar lo, kak?”

Jeno memberikan satu gelas air minum lalu memberikan Mark obat malamnya itu membuat Mark langsung meneguk obat obat tersebut.

“Gue panik banget kak tiba-tiba Haechan ngechat di grup nyuruh gue ngecek lo di kamar mana pake caps lock. Gue juga nggak tau kalau kontak lo udah di unblock sama Haechan karena dia nggak ada cerita apa apa di grup.” Lanjut Jeno kemudian mengambil gelas kosong tersebut lalu ia letakkan di atas meja belajar Mark.

Mark tiba-tiba teringat dengan Haechan, “Terus gimana? HP kakak mana?”

Jeno menggeleng kemudian menyuruh Mark untuk tiduran, “Udah, udah gue urus sekarang lo tidur kak.”

“Lo bilang apa sama Haechan?”

Jeno menggeleng lagi, “Nggak.”

“Bohong lagi?”

Jeno diam.

Sejak awal terjadinya masalah yang ada diantara Mark dan Haechan, Jeno memang selalu tutup mulut semua tentang Mark ke Haechan begitu pula sebaliknya, Jeno selalu tutup mulut semua tentang Haechan ke Mark.

Jeno berlaku seakan-akan masalah itu, tidak ada.

Jeno hanya ingin keduanya nggak terus memikirkan tentang satu sama lain.

Bahkan saat ini, Jeno berbohong lagi dan lagi pada Haechan.

Bagaimana jika Haechan tau yang sebenarnya, bisa bisa anak itu tengah malam ngetok pintu rumah hanya untuk bertemu dengan Mark.

“Jen.”

“Diem, nggak usah ngomong. Sana tidur.” Ucap Jeno, sedikit dingin.

“Jen, gue gapapa.”

“Berisik.”

“Lo nggak perlu begini, Jen.”

“Diem, gak?!” Bentak Jeno dengan tatapan yang lebih galak dari sebelumnya.

Mark mendengus, adiknya sejak awal, selalu seperti ini.

Sedangkan Jeno hanya diam duduk di pinggir kasur Mark, matanya menatap tembok kosong.

“Tidur, Kak.” Ucap Jeno tanpa melihat kearah Mark lalu bangun dari duduknya, ia bawa kakinya menuju pintu kamar Mark, keluar dari kamar Mark.

Sampai akhirnya pintu kamar Mark tertutup, meninggalkan Mark yang diam menatap pintu kamarnya dari arah kasur yang sedang ia duduki saat ini.

Adik gue, sejak dulu, nggak pernah berubah.


@roseschies

always here

Mark membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Haechan, perlahan air matanya menetes, tubuhnya bergetar, tangannya melemas.

Mark, menangis. Adik kesayangannya itu, selalu ada untuk dirinya.

Tanpa Mark ketahui, tangannya tak sengaja memencet dial untuk nomor Haechan.

Mark menekuk lututnya kemudian memeluk lututnya, Mark menangis di sana. Mark berusaha meredam tangisannya yang ternyata semakin menggema.

“Haechan, Kakak minta maaf untuk semua perlakuan dan ucapan Kakak.”

“Hiks— Gue harus bangkit. Gue harus bangkit.”

“Iya. Kakak harus bangkit.”

Suara Haechan yang tiba-tiba masuk ke dalam kuping Mark membuat Mark lagi lagi terkejut.

Bahkan hanya mendengar suara Haechan mampu membuat Mark kembali menangis. “Adek?”

“Kakak. Kakak kenapa nangis?” Tanya Haechan dengan suara yang sama sumbangnya dengan Mark. Dirinya juga ikut menangis mendengar tangisan Mark sejak awal ketidaksengajaan Mark menelpon Haechan.

Mark menggeleng keras lalu menahan isak tangisnya, “Nggak. Kakak nggak nangis.”

Sunyi. Keduanya diam tanpa ucapan lain, hanya ada suara isakkan dari Mark dan Haechan, keduanya masih diam.

“Haechan,” Mark menggumam.

“Haechan,” Lagi.

“Haechan,” Kali ini lebih besar suara panggilannya yang keluar dari mulut Mark.

“Kakak, kenapa?”

Mark menggelengkan kepalanya lagi, “Haechan, kepala Kakak pusing. Haechan masih di sini kan?”

“Kak, aku selalu di sini.”

“Kalau Kakak matiin teleponnya, Haechan nggak kemana-mana kan?”

Belum juga Haechan menjawab, sambungan telepon keduanya sudah mati sepihak.


@roseschies

finally, he knows

Hendery membuka pelan pintu kamar Haechan sambil membawa svqueen dua bungkus dan juga Teh untuk dirinya dan susu untuk Haechan. Hendery beneran bawa sesuatu supaya keduanya bisa ngobrol dengan nyaman.

“Gue masuk ya de.” Ucap Hendery sambil menutup pintu kamar Haechan sedangkan Haechan hanya mengangguk. Saat ini Haechan sedang duduk di meja belajarnya dengan buku miliknya yang sedang terbuka.

Hendery meletakkan cokelat dan susu untuk Haechan di meja belajar sedangkan dirinya membawa cokelat miliknya dan teh yang sudah ia buat lalu duduk di karpet yang ada di kamar Haechan.

Haechan melihat abangnya sudah duduk di karpet langsung ikut sambil membawa cokelat dan susu yang sudah dibuatkan Hendery.

“Makasih bang.” Ucap Haechan lalu duduk di karpet bersama dengan Hendery.

Hendery mengangguk, “Makan dulu tuh cokelat, baru cerita.”

Haechan membuka bungkus cokelat yang ada dipegangannya lalu menggigit cokelat tersebut langsung tanpa dipotek. Toh semua cokelatnya punya dia.

“Abang makan juga, masa gue doang sendirian.”

Hendery langsung ikut membuka bungkusan cokelat miliknya dan ikut memakan cokelat tersebut.

Keduanya khidmat memakan cokelat masing-masing, hanya ada suara AC di dalam kamar Haechan.

“Abang.” Panggil Haechan membuat Hendery yang sedang menatap karpet langsung mendongak melihat kearah adiknya.

“Apa?”

“Abang marah nggak, kalau semisal dede bilang dede kangen sama kakak.”

Terbiasa sejak dulu, Haechan memang memanggil Mark dengan sebutan Kakak.

Hendery diam, ya marah sih nggak, cuma Hendery masih menunggu ucapan Haechan selanjutnya.

“Gue dari kemarin selalu coba buat menyibukkan diri biar lupa semua tentang Kakak. Tapi tetep nggak bisa dan bener kata momogi, gue jatuhnya jadi nyakitin diri sendiri karena diri gue yang terlalu sibuk semua dilakuin cuma biar lupain Kakak.”

“Padahal banyak cara buat lupain Kakak. Tapi, ada sesuatu dalam diri gue yang masih ngejanggal dan nggak bisa ngelepas apalagi sampai ngebenci Kakak.”

“Abang, waktu Kakak minta maaf langsung ke dede, dede rasanya mau marah tapi disamping itu dede rasanya mau meluk Kakak.”

“Suara Kakak waktu itu, berat banget nggak kayak biasanya.”

“Gue nggak sengaja liat mata Kakak, bengkak banget.”

“Semisal emang Kakak ngelakuin itu tanpa dasar apa apa, nggak mungkin sampai begitu kan ya Bang?”

“Gue inget, Kakak bilang dia malu karena temennya dulu bilang dia nggak normal karena suka sama cowo kayak gue. Emang salah ya Bang?”

“Kenapa Kakak harus dengerin omongan orang? Kenapa Kakak harus ngikutin omongan orang Bang?”

Haechan bingung dengan Mark sampai sekarang. Dirinya hanya tau alasan tersebut sebatas itu saja. Tetapi ternyata pikirannya ini semakin menumpuk, penasaran dengan hal lainnya yang ia belum tau.

Haechan tau, pasti Hendery mengetahui semuanya karena jika tidak, terlalu mustahil untuk Hendery tetap masih dekat dengan Mark.

Abangnya itu bilang, pernah nampar Mark. Hal tersebut benar benar membuat Haechan penasaran luar biasa.

Hatinya sakit, tetapi kepalanya tidak berhenti mengeluarkan pertanyaan pertanyaan lain.

“De.”

“Alasan Mark emang bener kok awalnya karena temen temen dia dulu ngehujat Mark dan bilang kayak gitu. Awalnya gue juga bingung kenapa Mark harus percaya dan dengerin omongan temennya yang cuma ngomentarin hidupnya disaat hidup dia ya punya dia.”

“Tapi saat itu, abang juga mikir, abang juga salah karena saat itu abang sama Lucas pisah sekolah sama Mark dan kami berdua sibuk sibuknya dan ngebuat Mark mau gak mau ya berteman sama temen satu sekolahannya. Mark diambang bingung karena dia butuh temen, tapi temennya berlaku begitu ke dia. Pun jika abang ada di posisi Mark, mungkin abang juga sama.”

“Dede pasti kenal gimana Mark. Mark itu semuanya dia lakuin yang terbaik yang penting orang nerima dia. Tapi dia lupa, ada sesuatu yang dia tinggal disaat dia berusaha supaya orang nerima keberadaan dia.”

“Diri Mark yang hilang dan semakin hilang.”

“Jeno pernah cerita sesuatu nggak ke dede?”

Haechan menggeleng, semenjak permasalahan dirinya dengan Mark, Jeno sama sekali tidak pernah membicarakan tentang kakaknya itu pada Haechan.

Hendery mengangguk paham, “Biar abang yang ceritain, mau denger?”

Haechan mengangguk.

“Sehari sewaktu Mark datengin dede buat minta maaf. Sebenernya ada sesuatu yang menimpa Mark. Banyak banget kejadian dalam seharian itu, Mark hilang kendali. Mark yang sempet ngomong tentang suatu hal ngebuat Om Taeyong sakit hati, Mark yang ngebenturin kepalanya karena merasa bersalah sama semuanya dan berakhir pingsan di depan Jeno, malamnya niat Mark mau minta maaf sama Om Taeyong dan berakhir dia kena tampar sama Om Jaehyun. Tetapi malamnya, Jeno nemuin surat yang ditulis abstrak sama Mark dan disitu, ada nama kita de. Bahkan dia cerita segimana hilangnya diri dia.”

“Mark sadar, sewaktu dia menjauh dari lo, dia juga jauh dari dirinya. Puncaknya ada sewaktu akhirnya Mark lepas kendali dan ngeluarin kalimat kalimat yang sejak awal Mark nggak akan pernah keluarin buat lo juga Om Taeyong.”

“Dede tau kenapa Abang masih bareng sama Mark? Karena Abang rasa Mark juga butuh temen yang terus ngebantu dia buat temuin jati dirinya kembali. Orang seperti Mark, memang salah, tapi bukan untuk Abang tinggal. Tapi, abang juga tau sakitnya dede kayak gimana, dan Abang akhirnya memberi banyak ruang untuk Dede juga Mark. Abang tetep jadi Kakak yang selalu ngejaga adiknya kok.”

Haechan terdiam sambil memainkan karpet.

“Abang juga udah cerita tentang dede ke Mark.”

“Abang cerita ke dua belah pihak bukan buat kalian merasa bersalah, bukan kok. Supaya kalian bisa tau apa yang kalian berdua rasain karena ya sebenernya masalah kalian tuh bisa diselesaikan.”

“Jadi, dede jangan merasa bersalah ya? Rasa sakit dede, perkataan kasar yang dede dapetin dari Mark, bahkan jika memang ujungnya dede benci sama Mark, dede nggak salah kok.”

“Inget nggak? Gue pernah bilang, apapun keputusan lo gue bakal temenin gimanapun itu. Lo mau jauhin Mark, gue temenin. Lo mau lupain Mark gue bakal bantuin dan temenin lo de.”

“Daddy dan Papa juga sebenernya udah tau semuanya dari Om Jaehyun dan Om Taeyong karena selepas kejadian malam itu, Om Jaehyun langsung nelfon Daddy. Makanya Daddy dan Papa juga maafin Mark dan titip pesan ke Abang. Kami bertiga percaya, sama semua keputusan Dede. Apapun yang dede ambil, kami bakal percaya itu yang terbaik buat dede.”

“Awalnya gue nggak mau ceritain semuanya sekarang tapi setelah liat kemarin, gue jadi ikut takut de semuanya makin jauh dari akar permasalahan.”

Setelah berbicara, Hendery kembali menenguk teh miliknya lalu merenggangkan tubuhnya, pegel juga.

“Sekarang semua terserah dede. Perasaan dede, punya dede. Mau gimana dede semua terserah dede. Yang penting, dede udah tau alasannya dan semua dibalik perlakuan Mark secara tuntas supaya pikiran yang terus muter di kepala dede hilang perlahan.”

Haechan mengangguk paham. “Abang, makasih ya.”

“Gue cuma cerita aja kok. Dede gue ini, anaknya kalo nggak dipancing berakhir cuma diem dan pikirannya terus muter dan akhirnya masalahnya nggak kelar kelar.”

“Aduh ngantuk dahh gue, gue balik kamar dulu deh. Sini susu lo, mau gue taro dibawah.”

Haechan memberikan gelas yang sudah kosong itu pada Hendery lalu Hendery langsung keluar dari kamar Haechan meninggalkan Haechan yang sedang berpikir jalan apa yang baik untuk dirinya dan Mark.


Lo udah melakukan yang terbaik Hen buat adik lo, buat temen-temen lo sekalipun. Semua yang lo lakuin, udah paling terbaik. Lo, keren banget pokoknya.

Hendery mengehela nafasnya lalu menarik selimut kemudian menutup matanya dan menjemput mimpi yang sudah menunggu.


@roseschies