The Videos
Johnten oneshot AU
Tags; NSFW, JOROK, FULL JOROK BENERAN, sex explicit content, local word profanity (ew,kntl), unprotected sex, slut shamming (lont), anal sex, anal fingering, oral sex, creampie, masturbation, deep throat, edging, blowjob, nipple play, kissing, degradation.
4540 words.
Hari ini Ten sedang work from home maka dari itu lelaki tersebut kali ini sedang berkutat di depan laptop miliknya, mengerjakan kerjaan yang bisa dibilang tidak terlalu banyak.
Berjam-jam Ten habiskan waktunya hanya untuk duduk di depan laptop sampai pantat miliknya terasa sakit terlalu lama duduk di sana. Namun, bagaimanapun Ten harus menyelesaikan semua pekerjaan yang ia dapatkan pada hari itu, ia hanya tidak suka memiliki utang pekerjaan.
Tepat pukul 2 siang, akhirnya pekerjaan Ten semua sudah ia selesaikan. Laptop miliknya langsung ia matikan lalu ditutup.
Ten merenggangkan tubuhnya lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin demi menyegarkan tenggorokannya yang sedikit kering.
Ten kembali membawa tubuhnya menuju sofa yang terletak di ruang TV apartemen yang bisa dibilang tidak besar itu lalu merebahkan badannya lalu mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di meja dekat sofa.
Tangannya sibuk mengetik, membalas pesan dari rekan kerjanya.
Dirasa semua sudah ia balas, Ten membawa tangannya untuk memencet logo berwarna biru dengan gambar burung yang ada di dalam ponselnya, aplikasi twitter.
Sekedar membaca berita yang terus menerus lewat timeline, lelaki itu sembari bermonolog mengomentari berita-berita panas yang ada di sana.
Jempolnya berhenti sebentar ketika tak sengaja satu video lewat di timeline twitternya itu. Menarik perhatian Ten, lelaki itu langsung memencet dan membuka video tersebut.
Adegan diantara dua lelaki menyapa indera penglihatan Ten, sedangkan indera pendengarnya dapat mendengar percakapan dengan bahasa yang sebenarnya tidak terlalu ia mengerti, bahasa Jepang.
Ten menelan ludahnya pelan kemudian menggaruk tengkuknya dan mengelus lehernya lalu kembali menutup video tersebut.
Jempolnya kembali sibuk membuka menutup tweet lucu atau berita lainnya yang mampir di timelinenya. Namun, pikirannya tetap berhenti di video yang sebelumnya ia lihat. Dua lelaki sedang melakukan hubungan seksual.
Tubuhnya perlahan terasa panas, tenggorokannya ikut mengering. Hanya saja, Ten merasa libidonya perlahan naik dikarenakan secuil video tersebut.
Ten menggigit bibirnya, bergantian dengan jarinya yang juga ia kulum secara tiba-tiba.
Namun yang Ten rasakan, tubuhnya semakin terasa panas.
Jempol milik Ten buru-buru menutup aplikasi burung biru itu lalu mencari aplikasi file manager yang ada di ponsel miliknya itu.
Dengan cepat, jempolnya langsung memencet file dengan nama sex tape kemudian ia buka file tersebut.
Terpampanglah 16 video dengan nama file yang berbeda-beda.
Bukan, itu bukan film bokep melainkan sex tape dirinya dengan sang kekasih, Johnny.
Johnny dan Ten memang sangat suka memvideokan kegiatan sex mereka terutama Ten. Karena, jika suatu saat terjadi kejadian seperti saat ini dimana Johnny sedang sibuk kerja di kantornya, Ten akan menggunakan video-video tersebut untuk memuaskan tubuhnya yang sudah terangsang dan sangat ingin disentuh.
Dengan tangan yang terburu-buru, Ten membuka celananya lalu memencet play di salah satu video sex tape dirinya dengan Johnny.
Kali ini, Ten hanya membuka celananya saja tanpa membuka dalamannya. Lelaki itu membawa tangannya untuk mengelus pelan penis miliknya yang sudah tegang sejak tadi.
“Sshh-” Ten mendesis merasakan sesuatu yang menjalar di tubuhnya setelah ia mengelus penis miliknya, rasanya sangat nikmat. Ia butuh sentuhan lainnya.
“Open your legs.” Pinta Johnny membuat Ten melebarkan kedua kakinya. Johnny dapat melihat lubang milik Ten yang sudah berkedut di sana.
Johnny memegang kedua kaki milik Ten lalu ia letakkan kaki tersebut diantara pundaknya, kemudian tanpa aba-aba Johnny langsung menjilat lubang milik Ten membuat si pemilik menjerit bahkan menjepit Johnny yang sedang berada di antara pundaknya. Namun hal tersebut membuat Johnny semakin dalam menjilat dan memasukkan lidahnya ke dalam lubang milik Ten. Kepalanya terasa di tekan oleh kedua kaki Ten yang ada diantara kepalanya itu.
“Ohh- Johnny, gigit. Please, gigit lubang aku. Gatel.” Racau Ten membuat Johnny langsung menggigit lalu menjilat dan menghisap lubang milik Ten.
Mendengar suara yang keluar dari video tersebut membuat Ten langsung membuka dalamannya lalu menjilat dua jari miliknya kemudian ia arah kan dua jari tersebut untuk mengelus lubangnya, “Gatel banget bangsat, aa-ah..”
“Hold up.” Ucap Johnny lalu berdiri dari bersimpuhnya setelah menjilat dan mengigit lubang milik Ten. Hal tersebut membuat Ten merengek hebat.
“Kenapa?” Tanya Johnny membuat Ten rasanya ingin menangis dan berteriak, kenapa kekasihnya ini harus bertanya kenapa di saat dirinya sanagt ingin di sentuh dan diberi banyak jilatan juga gigitan di sekitar lubang sampai penisnya itu, sih?
“Aku ngga ngerti kalau kamu diem begini. Kenapa?” Tanya Johnny lagi, tidak mendengar jawaban dari Ten, Johnny langsung mengambil dalaman dan celananya berniat untuk menggunakannya kembali lalu meninggalkan Ten.
Melihat Johnny yang sudah siap siap menggunakan pakaian dalamnya itu, Ten langsung merangkak menuju Johnny lalu menarik dalaman milik Johnny, menahan lelaki itu agar tidak menggunakan dalamannya.
Johnny hanya mengernyitkan dahinya bingung, “Kamu gagu atau gimana sampai ngga bisa ngomong ditanya kenapa?”
“A-aku mau itu.... Kenapa berhenti?!”
Johnny kembali bingung, “Hah? Mau apa sih? Bilang yang bener coba. Ini mulut kok cuma bisa ngedesah aja? Nggak bisa jelasin mau apa?”
Ten tetap diam namun tangannya tetap memegang dalaman milik Johnny. Melihat Ten yang tidak kunjung mengeluarkan sepatah kalimat, Johnny langsung menarik dalamannya lalu ia pakai. Namun kegiatannya itu dicegah oleh Ten.
“Aku mau, mau ini masuk ke sini. Mau.. Mau, Johnny.” Mohon Ten dengan mata yang berbinar, mendongak menatap Johnny. Namun lelaki ini hanya tersenyum miring.
“Kamu ngomong apa sih, aku nggak ngerti. Minta yang bener.” Balas Johnny lagi.”
“Aku mau diewe, pakai kontol besar punya kamu. Kontol besar punya kamu, masuk ke lubang aku. Keluar masuk, eungh- di dalam lubang aku. A-ngh Johnny, please.” Mohon Ten lagi, ia sudah tidak tahan, lubangnya benar-benar gatal.
Seiring dengan desahan miliknya yang terdengar dari video, Ten juga ikut mendesah setelah memasukkan dua jari miliknya keluar masuk di dalam lubangnya, kepalanya mendongak keatas dengan mata yang terpejam menikmati rasa nikmat yang menjalar, “It feels so good. Oh, shit.”
Sudah terlalu ingin disentuh, Ten akhirnya meletakkan ponselnya di sebelah dan membiarkan video tersebut terus berjalan. Ten membawa tangannya yang satu lalu ia mengelus puting miliknya dari luar kemeja putih yang sedang ia gunakan.
Tangan kiri ia gunakan untuk terus mengelus dan bermain disekitar lubang miliknya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memilin dengan jari yang sebelumnya sudah ia kulum supaya terasa basah.
Tubuhnya memberikan efek kenikmatan sampai Ten berdesah nikmat dan menggema diseisi apartemen kosong miliknya ini.
“Ahh, anjing beneran lubang gue mau dimasukin sama kontol Johnny. Anjing, gatel banget ngga kuat, belum cukup. A-ahh anjing.” Racau Ten dengan tangannya yang tidak berhenti memasukkan kedua bahkan tiga jari miliknya keluar masuk di lubangnya yang sudah berkedut. Matanya ia pejam, menikmati setiap sentuhan yang ia berikan dengan tangannya sambil membayangkan penis besar milik Johnny yang sedang bermain-main di sekitar lubangnya.
Ten membawa tangannya untuk mengelus penis miliknya yang sudah sangat tegang, mungkin saja beberapa menit selanjutnya akan memuntahkan cairan miliknya dari sana.
Tangan kirinya sibuk mengelus lubang pipis lalu kembali ia bawa untuk mengelus batang berurat itu, ia mengocok kuat seiring dengan tangan kanan yang terus menerus mencubit, menarik puting miliknya yang sudah sangat mengeras.
“Nngh- Fuck, Fuck. A-ah, dikit lagi gue mau keluar. Nggak kuat, nggak tahan, mau keluar. Nngh- Johnny, mmau keluar!” Racau Ten sampai akhirnya tubuhnya bergetar hebat dan penisnya sukses memuntahkan cairan sperma yang bisa dibilang tidak sedikit sampai berceceran di lantai dan paha mulus miliknya.
Ten mengambil beberapa lembar tisu lalu ia bersihkan lelehan sperma miliknya yang tercecer di lantai maupun paha sampai tidak tersisa.
Nafas Ten memburu setelah pelepasannya. Namun, ia merasakan tubuhnya semakin memanas, lubangnya tetap terus berkedut dan penis miliknya yang baru saja mengeluarkan cairannya kembali menegang.
Ternyata, video yang sejak tadi tidak Ten matikan sedang mengeluarkan suara-suara berat milik Johnny yang mengucapkan kalimat kotor pada Ten dan hal tersebut membuat tubuh milik Ten terangsang kembali.
Panggil dia, lonte. Iya, dia lontenya Johnny. Hanya karena suara berat dan ucapan kotor Johnny bahkan melalui video rekaman saja lelaki ini sudah kembali terangsang, libidonya sudah memuncak.
“Bangsat, Bangsaaaattt. Gatel banget anjing gatellllll.” Maki Ten kemudian tangan kirinya ia bawa untuk mencari ponselnya yang lain, seingat Ten ponsel itu ada di sekitaran sini.
Setelah dapat, Ten memencet 1 untuk dial langsung ke nomor Johnny.
Sambil menunggu Johnny yang tak kunjung menjawab teleponnya, Ten kembali membawa tangannya menuju pusat selatan tubuhnya yang masih ingin disentuh terus menerus.
Cairan bening yang keluar dari penis milik Ten ia gunakan sebagai pelumas untuk kembali ia elus lubang miliknya.
Bersamaan dengan dua jari yang kembali masuk kedalam lubangnya, mata miliknya terpejam menikmati sensasi dua jarinya yang terus menabrak titik pusat milik Ten.
Terlalu lama Johnny tidak mengangkat, Ten kembali menelpon namun kali ini ia memencet loudspeaker pada telepon tersebut, tangan kanannya yang sebelumnya memegang ponsel langsung ia bawa untuk ia kulum, setelah terasa basah ia kembali memainkan puting miliknya yang masih mengeras.
“Halo, ada apa Ten? Kompornya nggak bisa nyala lagi?”
“Nngh– Johnny, pulang.” Desah Ten tanpa babibu membuat Johnny yang berada di ujung telepon sana langsung tersenyum kecil lalu membereskan barang-barang yang ada di mejanya sambil menjepit ponselnya yang masih terhubung dengan Ten, mendengar desah demi desah yang keluar dari mulut milik Ten.
“J-Johnny, nggak kuat. Lubangku, lubangku gatel banget. A-ahh.... Nggak selesai selesai, gatelnya.” Ucap Ten dengan tangan yang sibuk mengelus penisnya dan memilin sampai mencubit puting miliknya.
Ia butuh disentuh oleh Johnny. Itu yang Ten tau.
“Iya, ini aku lagi beres-beres barang. Kulum jari kamu, sampai basah terus masukin ke dalam lubang kamu.”
Ten mengikuti arahan yang diberikan oleh Johnny lalu ia kulum dua sampai tiga jari miliknya kembali sampai basah hingga salivanya menetes ke pinggir bibirnya lalu ia masukkan ke dalam lubang miliknya, dalam-dalam.
“Nggak kuat... Nggak kuat, gatel banget. Aa-ah... Please.”
“Lubangnya mau digimanain kok masih gatel aja sih?”
“Mau pakai kontolnya Johnny, tanganku kurang. Tanganku kurang, Aa-ahh. Rasanya, kalau dimasukin pakai kontol kamu, lubangku penuh, sesak, tapi enak. Mmau.......” Kalimat kalimat kotor tersebut keluar dari mulut milik Ten membuat Johnny kembali tersenyum, kekasihnya ini sudah benar-benar butuh sentuhan dari dirinya.
“Udah main dari kapan?”
“Daritadi, punyaku udah keluar satu- Aah! Aku- aku mau keluar, lagi.”
Ten mempercepat tempo permaiannnya dengan penis dan putih miliknya, kedua tangannya sibuk memanjakan tubuhnya yang sudah berada dititik teratas. Cairan miliknya ingin keluar, untuk ke dua kalinya.
“Tahan, tahan, Ten.”
Ten menggelengkan kepalanya meskipun ia tau Johnny tidak akan bisa melihat hal tersebut, desahannya semakin kencang seiring dengan pelepasannnya yang sudah mendekat.
Tubuhnya bergetar hebat, cairannya keluar lebih banyak dan berceceran lebih dari sebelumnya.
“Bad Kitten. Aku suruh kamu tahan, udah keluar?”
“Maaf, Jo. Aku nggak tahan. T-tapi, masih gatel... Terus gatel, denger suara Johnny, kayak gini, makin panas. Mau disentuh langsung, cium....” Racau Ten, tubuhnya ini memilik respon cepat kalau mendengar suara Johnny yang seperti ini.
“Dasar emang ya lonte begini, maunya disentuh terus. Sekarang kamu cepet cari tali. Tali apa aja, cepet. Stop sentuh tubuh kamu.”
Mendengar suruhan Johnny, Ten langsung berlarian mencari tali yang ada di dalam apartemen ini sedangkan Johnny sedang berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya di sana.
“Udah nemu belum?”
“AH! Nemu! Terus talinya buat apa?” tanya Ten sambil memandangi tali yang ia temukan antah berantah di apatemennya.
“Iket tangan kamu, dua-duanya pakai tali itu. Cepet,”
Ten melotot, pasalnya tubuhnya masih panas, ia masih ingin menyentuh tubuhnya untuk menyalurkan hasratnya yang meletup-letup itu. “Tapi... Aku masih mau-”
“Bisa ngerti bahasa manusia apa nggak? Kalau aku suruh iket, ya iket tangan kamu. Dua-duanya, Ten.”
Mendengar itu, Ten langsung berusaha mengikat kedua tangannya dan mencoba menghiraukan lubangnya yang kembali memberikan reaksi.
Iya, ia lupa mematikan video sex tape dirinya dengan Johnny.
“Suara apa itu Ten?”
Buru-buru sebelum mengikat kedua tangannya, Ten langsung mematikan video tersebut. “Itu, suara video..”
“Kamu sampe nonton bokep biar puas?”
“Gimana puas pake nonton bokep? Apa masih kurang?”
“Bukan bokep... Sex tape kita... Masih kurang.” Jawab Ten agak kesusahan karena lelaki ini sedang berusaha mengikat kedua tangannya.
“Lagian lubang kamu yang gatelan itu sok-sokan mau muasin pakai nonton sex tape.”
Ten meringis, merasakan lubangnya yang seperti dipanggil oleh Johnny langsung berkedut menjawab panggilan tersebut, “Nngh- jangan...”
“Kenapa? lubangnya kedut kedut ya dipanggil? Dasar lubang lonte. Udah diiket belum tangan kamu?”
“Udah... udah... Gatel... Gatel banget Jo... Panas semua tubuh aku panas, kontol aku mau dimainin, puting aku mau diisep. Nggak kuat, cepet pulang.”
“Hm, iya. Diem udah, jangan dibuka tangannya, jangan sentuh tubuh kamu tanpa izin dari aku. Diem. Jangan merengek terus. Aku nyetir dulu.”
“Cepet... cepet....”
Selanjutnya telepon tersebut dimatikan oleh Johnny sedangkan Ten sedang menahan tubuhnya yang terus-terusan ingin disentuh, tangannya ikut gatal ingin melepaskan ikatan tali ini. Namun ia memilih untuk nurut dengan Johnny, kekasihnya itu.
Ten mendengar seseorang sedang memasukkan kode apartemen dibelakang pintu, Ten yakin pasti itu Johnny.
Benar saja, kekasihnya pulang lalu membuka jasnya tak lupa Johnny gantung jas miliknya di gantungan yang ada di dekat pintu masuk apartemen.
Tanpa melihat kearah Ten, Johnny meletakkan tas miliknya di dekat gantungan tadi lalu mencuci tangannya di wastafel yang tak jauh dari sana.
Johnny tersenyum miring melihat kekasihnya yang sedang duduk tergeletak dibawah dan menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.
Johnny semakin tersenyum kala ia melihat Ten hanya menggunakan kemeja kebesaran warna putih transparan bahkan bagian dada terlebih di lingkaran puting milik Ten sangat tercetak akibat tersisa saliva akibat lelaki itu memainkan putingnya dengan jari yang sudah ia kulum sampai basah.
Johnny membawa kakinya menuju Ten sambil melonggarkan dasi yang ia gunakan.
Sesampainya Johnny di dekat Ten, Johnny berjongkok di sebelah Ten membuat Ten menatap Johnny dengan matanya sayunya itu.
“Buka dasi aku.”
“Tapi tangan aku diiket.”
“Aku ngga nyuruh kamu buat buka dasi aku pakai tangan kamu. Pakai gigi kamu, tarik dasi aku.” Pinta Johnny lalu dirinya mendekat kearah Ten sedangkan Ten memajukan tubuhnya untuk mendekat kearah Johnny lalu ia bawa bibirnya mendekat kearah simpulan dasi Johnny kemudian ia gigit ujung simpul tersebut supaya lepas.
Setelah dasi milik Johnny terlepas dari sana, Johnny memegang dagu milik Ten kemudian mengecup bibir milik Ten kilat. “Good kitten.”
Ten tersenyum namun selanjutnya Johnny kembali berdiri lalu melepaskan dasi miliknya dari leher kemudian ia lempar masuk ke dalam kamar Ten, membiarkan dasi itu tergeletak, siapa tau ia membutuhkannya nanti, pikirnya.
“Jo.......” Lirih Ten melihat Johnny yang enggan menyentuh dirinya bahkan meninggalkan dirinya dengan tangan yang masih terikat.
Johnny tidak mendengar panggilan Ten lalu perlahan lelaki itu menghadapkan dirinya kearah Ten, tangannya ia bawa perlahan membuka kancing kemeja putih yang ngepas dengan tubuhnya yang bisa dibilang terbentuk dengan bagus akibat dirinya gemar gym.
Ten yang melihat aksi Johnny hanya bisa menelan ludahnya. Johnny sedang menggoda dirinya, Johnny akan melakukan show di depannya dengan tangannya yang terikat.
Setelah kancing terakhir terbuka, Johnny melepas kemejanya sukses lelaki itu telanjang dada kemudian Johnny mengibaskan rambutnya lalu tersenyum miring ke arah Ten yang sudah menatap dirinya nafsu.
“Kenapa?” tanya Johnny lalu melempar kemejanya kemudian menuju arah pantry yang tak jauh dari sana. Kebetulan apartemennya tidak banyak sekatan kecuali kamar dan kamar mandi, sisanya seperti dapur dan ruang TV terbuka.
Johnny mendudukkan dirinya diatas meja pantry, hanya memandang Ten yang sedang merangkak ke arah dirinya.
“Mau ngapain?” Johnny menurunkan sedikit badannya untuk melihat Ten yang sudah ada dibawahnya.
“Mau diewe....” Ucap Ten menatap Johnny, matanya benar-benar terlihat seperti kucing yang memohon. Namun, sekali lagi, Johnny hanya tersenyum miring.
“Diewe sama siapa? Yang jelas dong kalo ngomong.” Ucap Johnny kemudian Ten berusaha membuat tubuhnya berdiri lalu berdiri di depan Johnny.
“Diewe sama Johnny. Pakai kontol gede punya kamu yang ini, terus terus itu nngh- bibirnya mau cium, mau cium...” Ten meminta dengan tangan yang masih terikat lalu menyentuh penis milik Johnny yang sebenarnya sudah mengeras dibelakang celana kantornya itu.
Bagaimana bisa ia tidak terangsang ketika masuk apartemen sudah disuguhkan pemandangan Ten yang tidak memakai bawahan hanya menggunakan kemeja putih kebesaran yang menutup sampai paha dan penisnya yang mengacung membuat bagian kemeja yang menutup sedikit terangkat.
Johnny menangkup pipi milik Ten lalu kembali menurunkan badannya supaya dekat dengan Ten lalu ia bawa jempolnya untuk mengelus bibir milik Ten, sontak bibir tersebut terbuka kecil, merasakan sentuhan yang sangat ia nanti sejak tadi.
Melihat bibir milik Ten yang sedikit terbuka, Johnny langsung memasukkan jempol miliknya membuat Ten langsung menghisap jempol tersebut, menjilat bak lolipop sambil mendesah kecil.
Johnny mengangkat tubuh Ten untuk ia pangku, keduanya sudah duduk diatas meja pantry dengan Ten yang ada di atas pangkuan Johnny. Tangan kanan Johnny sibuk menjaga kestabilan tubuh Ten supaya tidak jatuh kebelakang.
Johnny melepas jempol miliknya lalu mengganti jempol tersebut dengan bibirnya, mencium Ten kemudian jempolnya ia bawa menuju kancing-kancing kemeja milik Ten untuk ia buka.
Johnny memperdalam ciuman diantara keduanya, lidahnya sudah berhasil masuk kedalam mulut hangat milik Ten. Lidah milik Johnny sibuk mengabsen deretan gigi milik Ten kemudian bergulat dengan lidah milik Ten di sana sampai sampai saliva yang sudah tercampur milik keduanya menetes pelan dipinggir bibir Ten.
Setelah semua kancing kemeja milik Ten terbuka, Johnny melepas pagutan keduanya membuat Ten merengek, “Kenapa berentiii???”
“Aku buka dulu iketan tangan kamu. Tunggu, nggak sabaran banget kamu ya.” Ucap Johnny sambil membuka ikatan tali di tangan Ten sampai akhirnya terbuka. Toh memang sejak tadi iketan tersebut tidak terikat terlalu kuat. Sekali tarik, langsung lepas.
Dengan dibukanya ikatan tali tersebut membuat Ten langsung melebarkan tangannya kemudian memeluk tubuh tanpa helaian benang tersebut, Ten membawa tangannya untuk bermain di atas dada Johnny sedangkan Johnny sibuk membuka kemeja milik Ten sampai akhirnya lelaki mungil itu sukses telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.
Johnny mengelus pelan surai milik Ten lalu turun menuju daun telinga Ten membuat Ten merasakan sensasi geli akibat daun telinganya dielus pelan oleh Johnny sampai akhirnya turun sampai tengkuk Ten.
Johnny kembali mencium bibir milik Ten, lelaki itu meraup bibir tersebut, memperdalam ciumannya dengan tangan yang tidak tinggal diam ia bawa menuju puting milik Ten yang sudah mengeras.
Mencubit, menarik, sampai memilin, Johnny lakukan untuk puting milik Ten membuat sensasi lainnya terus berdatangan pada tubuh Ten.
Sedangkan Ten, tangannya hanya diam. Lelaki itu tidak akan menyentuh banyak pusat pusat milik Johnny sampai ia diizinkan oleh si pemilik.
Ten menepuk pundak Johnny beberapa kali tanda ia butuh pasokan oksigen.
Johnny melepas pagutan tersebut lalu mengusap pinggir bibir Ten yang tersisa saliva milik keduanya yang sudah tercampur lalu kembali mengecup bibir tersebut singkat.
Johnny menurunkan Ten dari pangkuannya kemudian berfikir sebentar sampai akhirnya ia memutuskan sesuatu.
Johnny turun dari pantry lalu menggendong tubuh milik Ten dan ia bawa tubuh tersebut ke sofa ruang TV, tempat yang sebelumnya menjadi tempat bermain Ten.
Johnny kembali menurunkan Ten, namun bukan di sofa. Johnny langsung duduk di sofa kemudian menatap Ten yang menunggu arahan dari Johnny.
“Ngapain diem aja?”
“Mmm... Aku harus ngapain...”
“Sini, duduk, di sini.” Ucap Johnny sambil menepuk pahanya.
“Madep ke depan, bukan madep ke aku.”
Mendenagr hal tersebut, Ten langsung mendudukkan dirinya di atas paha Johnny berlawanan.
Johnny memeluk kekasihnya itu dari belakang lalu meletakkan kepalanya di atas pundak milik Ten.
Johnny bawa tangannya untuk menggenggam penis milik Ten membuat Ten mendesis, penisnya kembali mengacung.
“Ini ya? ini yang mau disentuh? Dipegang? Dimainin?” tanya Johnny kemudian mengelus lubang pipis milik Ten membuat Ten mendongakkan kepalanya merasakan sensasi yang sangat nikmat.
“Kalau ditanya, jawab. Ngerti nggak?”
“Nngh- Ngerti.”
Johnny menaik turunkan tangannya di batang berurat milik Ten yang sudah menegang sambil terus mengelus lubang pipis milik Ten. “Enak? Enak nggak kontolnya dipegang, dimainin, dielus? Mau sampai muncrat-muncrat?”
Ten rasanya menggila, benar, tangannya dengan tangan Johnny, rasanya sangatlah beda. “Enak. Enak banget, Jo. Anghh, Mau, mau sampai muncrat-muncrat, terus.. Iyaahh, Jo terus cepetin!”
“Siapa kamu nyuruh nyuruh aku, hah?” Ucap Johnny lalu berhenti mengocok penis milik Ten membuat si pemilik merengek, pelepasannya diberhentikan.
“Aaaa Johnny, lagi. Lagi. Aku mau keluar, lagi.” Pinta Ten namun Johnny tetap diam dengan tangan yang setia di penis Ten namun tidak bergerak, hanya diam.
“Aku mau tangan kamu mainin dan ngocok terus kontol aku. Aku udah mau keluarrr, Nngghh-” Desah Ten membuat Johnny langsung mempercepat kembali tempo permainannya.
Ten semakin mendesah kala Johnny semakin mempercepat tempo permainannya, lubang pipisnya terus di elus oleh Johnny membuat pelepasannya semakin mendekat.
“A-aku mau keluarr!! Mmaauuu kelua- AAAAAA JOOHNNY BBUKAA JANGAN DITUTUP EUNGGHHH-aaahhh!” Ten meracau, menangis, Johnny menutup lubangnya disaat Ten sudah ingin memuntahkan spermanya dari penis miliknya.
Johnny menutup saluran tersebut, menahan pelepasan Ten kedua kalinya.
“Tell me, what you want, Kitten.”
“Mau dikontolin, mau diewe, mau dipuasin, mmauu keluuuarrr!!!” Ucap Ten berteriak membuat Johnny tersenyum kecil lalu membuka lubang pipis milik Ten sontak sperma milik Ten langsung muncrat mengenai meja yang ada di depan keduanya.
Nafas Ten kembali berderu, pelepasan kali ini rasanya luar biasa.
“Mau dikontolin?” tanya Johnny membuat Ten mengangguk cepat, lubangnya sudah sangat gatal.
“Berdiri.” Pinta Johnny lalu Ten langsung berdiri di depan Johnny.
Johnny ikut berdiri lalu membuka celana kantornya dan dalamannya di depan Ten, Ten dapat melihat penis besar milik Johnny yang juga sudah mengacung.
Johnny kembali duduk di sofa lalu menyuruh Ten udah berlutut di depannya.
“Yours” Ucap Johnny sambil menunjuk penisnya yang mengacung membuat Ten langsung mendekat lalu meraup penis besar tersebut ke dalam mulut hangatnya.
Tangan kanannya memegang penis milik Johnny sambil ia mainkan naik turun, sedangkan mulutnya tidak berhenti menjilat batang sampai lubang pipis milik Johnny membuat Johnny menggeram dan mendongakkan kepalanya merasakan nikmat dari mulut hangat dan permaiann tangan Ten.
“Deeper, Kitten.” Pinta Johnny kemudian Johnny mendorong pinggangnya membuat penisnya masuk sampai pangkal tenggorokan Ten membuat Ten tersedak sedikit namun lelaki itu tidka peduli dan lanjut menjilat dan menghisap hampir seluruh bagian penis Johnny memenuhi mulut Ten.
“Mulut kamu, cuma punya aku. Mulut kamu, enak banget, Kitten. Sialan.” Racau Johnny kemudian menekan kepala Ten menahan beberapa detik sampai akhirnya ia lepas membuat Ten ikut melepas penis milik Johnny kemudian saliva miliknya menetes dari pinggir bibirnya, deep throat, kesukaan Ten juga kesukaan Johnny.
Johnny berdiri dari duduknya membiarkan Ten yang masih bersimpuh lalu mengocok sedikit penisnya dengan tangan miliknya sedangkan Ten mendongakkan kepalanya melihat kearah Johnny yang sedang menggeram, menunggu perintah lainnya.
“Buka, buka mulut kamu cepet sialan, aku mau keluar!” Ucap Johnny semakin mempercepat tempo permainannya dengan penisnya sedangkan Ten langsung siap membuka mulutnya.
Johnny berhasil mengeluarkan pelepasan pertamanya, ia lepaskan tepat di lidah Ten meskipun sampai muncrat mengenai beberapa titik wajah Ten. “Telan semua peju aku, Ten.”
Ten menelan sperma milik Johnny yang ada di lidahnya kemudian menjilat beberapa sperma yang ada di wajahnya, membersihkan semua tanpa jejak.
Johnny ikut bersimpuh di depan Ten kemudian menarik tengkuk milik Ten, mencium bibir lelaki tersebut, bahkan Johnny bisa merasakan sisa spermanya di dalam mulut hangat milik Ten.
Tanpa melepas pagutannya, Johnny mengangkat tubuh Ten kemudian menggendong tubuh tersebut membawanya masuk ke dalam kamar.
Johnny dengan Ten yang berada di gendongannya langsung menjatuhkan tubuh Ten di atas kasur kemudian tangan milik Johnny langsung menuju puting milik Ten untuk kembali ia mainkan.
Johnny melepas pagutan keduanya kemudian turun untuk mencium leher, dada, dan sampailah Johnny di depan puting sebelah kanan milik Ten.
Johnny menghisap dan menjilat puting tersebut dengan tangan kiri Johnny yang sibuk memilin puting satunya.
“Sshh- Johnny, aahh enak banget. Ahh, pentil aku gatel, gigit! Gigit, Johnny.” Ucap Ten meracau tidak jelas membuat Johnny menggigit lalu menjilat puting miliknya kemudian mencubit puting lainnya memberi sensasi nikmat menjalar di tubuh Ten.
Johnny kembali menurunkan ciumannya, sampai ke perut Ten lalu mencium pucuk lubang pipis milik Ten.
Johnny mengangkat kedua kaki milik Ten, “Open your legs, so i can see your slutty hole say hi to me, Ten.”
Ten langsung melebarkan kakinya, terpampang jelas lubang Ten yang terlihat memerah akibat permainan Ten tadi yang sepertinya terlalu memaksa atau kurang pelumas.
Johnny langsung mendekatkan dirinya ke lubang Ten kemudian menjilat lubang tersebut membuat tubuh Ten menggelinjang geli karena sentuhan tersebut.
Johnny kembali menjilat sampai menghisap lubang tersebut, memberi kenikmatan untuk lubang milik Ten yang semakin terasa gatal.
“Nnghh Johnny, gatal. Gatal!” Racau Ten menikmati jilatan Johnny di lubangnya.
Mendengar kalimat tersebut, Johnny memberhentikan kegiatannya lalu menyodorkan dua sampai tiga jarinya ke mulut Ten, bermaksud untuk mengulum jari milik Johnny.
Ten nurut kemudian mengulum jari jari tersebut bahkan Johnny dengan sengaja memasukkan jarinya lebih dalam sampai pangkal tenggorokan Ten membuat lelaki itu tersedak, sedangkan Johnny tersenyum kemudian membawa jarinya mendekat kearah lubang Ten.
Dua jari, Johnny masukkan ke dalam lubang Ten kemudian lelaki itu mengecup singkat bibir milik Ten.
“Aah, enak banget. Enak, masukkin terus Jo!” Racau Ten membuat Johnny kembali tersenyum lalu menambahkan satu jari lagi, total tiga jari menubruk lubang Ten, membuka lubang tersebut, dan memperdalam.
Ketiga jari Johnny sibuk memberikan kenikmatan untuk lubang Ten yang sudah berkedut bahkan lubang milik Ten menjepit ketiga jari milik Johnny.
“Kalau kontol aku masuk ke lubang kamu, kayaknya enak dijepit di sana ya. Iya, jepit terus jari aku.” Ucap Johnny lalu menjilat bibir Ten membuat Ten membuka bibirnya sedikit sambil mendesah kecil merasakan lubangnya yang semakin terbuka.
“J-jo... Aku, aku mau keluar lagi, sshh- faster and deeper, please. Aku, mau keluar lagi nggak kuat...” Mohon Ten, meminta lelaki itu mempercepat dan memperdalam sodokan tiga jarinya pada lubang miliknya.
“Not now. Lemah banget lubang dan kontol lonte, baru pakai jari udah mau keluar lagi. Gimana dikontolin? Muncrat-muncrat sampai ngalahin air mancur?” Ucap Johnny kemudian mengeluarkan ketiga jarinya membuat Ten kembali menahan pelepasannya itu.
Ten merengek, “Mmau dikontolin. Dikontolin, lubang aku mau dikontolin sama kontol gede punya kamu. Masukinn.”
Johnny kemudian mendekatkan penisnya dengan lubang Ten lalu mengocok sebentar penisnya di depan lubang Ten selanjutnya ia masukkan penis miliknya ke dalam lubang milik Ten membuat Ten meringis kesakitan.
“Katanya mau dikontolin, kok nangis?” Tanya Johnny sambil terus menggempur titik nikmat Ten membuat lelaki itu terus mendesah dan meneriaki namanya sampai bergema di seisi kamar, memberikan sensasi lebih diantara atmosfer keduanya.
“Angghhh, enak! Enak, kontol kamu gede enak, angghhh terus masukin lagi, iya di situ!” Racau Ten membuat Johnny menengadahkan kepalanya, menikmati setiap titik dan setiap kali penisnya dijepit oleh lubang milik Ten.
“Aku mau keluaarr!!” Teriak Ten, sudah tidak bisa menahan pelepasannya, bahkan sedetik kemudian setelah berteriak, penis milik Ten langsung memuntahkan cairan sperma tersebut sampai berceceran kena seprai. Namun, Johnny belum sampai dipelepasannya.
“Nngghh, Johnny stop! Anghhh ohh my fucking god!” Ten terus berteriak, dirinya sudah pelepasan namun Johnny terus menggempur lubangnya membuat penisnya sedikit perih dan lubangnya ikut perih namun terus berkedut, menjepit terus-terusan penis milik Johnny.
“Argh! Aku mau keluar, sedikit lagi! Jangan jepit!!” Geram Johnny kemudian dalam sekali hentakan, sperma milik Johnny keluar di dalam lubang milik Ten.
Perlahan Johnny mengeluarkan penisnya dari lubang milik Ten, bahkan lelehan sperma milik Johnny menghiasi lubang Ten.
Johnny kembali mencium bibir milik Ten kemudian mengusap pipi kekasihnya, “Good Kitten.”
Ten tersenyum lalu mengusak pelan surai milik Johnny.
“IH KITA NGGAK BIKIN VIDEO BARU!!!!!” Teriak Ten setelah dirinya ingat bahwa kali ini permainannya lupa ia buatkan video.
Johnny terkekeh gemas, “Yaudah, nggak usah pakai sex tape sex tape an, besok besok kalau mau diewe, langsung telpon aku.”
Ten tersenyum lebar, “Meskipun kamu lagi rapat?”
Johnny tertawa sambil menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan libido Ten, “Atau mau kamu aku ewe di depan orang-orang pas lagi rapat? Kita ngewe di meja di tengah-tengah, diliatin sama rekan kerja aku. Semua orang pasti tau, kamu lonte aku deh hmm.”
Ucapan Johnny membuat Ten melotot kemudian memukul lengan kekasihnya itu, “IH KAMU MAH!”
Johnny tertawa kemudian mencubit pipi milik Ten. “Gimana? Lubangnya masih gatel? Masih mau diewe? Masih mau dikontolin? Duh duh lubangnya ini tau ya kontol enak yang mana, pantes demen.”
Mendengar ucapan Johnny, lubang Ten kembali berkedut, penisnya kembali mengacung, putingnya kembali mengeras. Ten menggigit bibirnya kemudian menatap Johnny sayu, “Nngh, Johnny.... i want more, please..“
Mendengar ucapan Ten membuat Johnny langsung meraup bibir milik Ten dan keduanya melanjutkan kegiatan mereka sampai waktu yang tidak ditentukan.
@roseschies.