roseschies

Johnten oneshot AU

Tags; NSFW, JOROK, FULL JOROK BENERAN, sex explicit content, local word profanity (ew,kntl), unprotected sex, slut shamming (lont), anal sex, anal fingering, oral sex, creampie, masturbation, deep throat, edging, blowjob, nipple play, kissing, degradation.

4540 words.


Hari ini Ten sedang work from home maka dari itu lelaki tersebut kali ini sedang berkutat di depan laptop miliknya, mengerjakan kerjaan yang bisa dibilang tidak terlalu banyak.

Berjam-jam Ten habiskan waktunya hanya untuk duduk di depan laptop sampai pantat miliknya terasa sakit terlalu lama duduk di sana. Namun, bagaimanapun Ten harus menyelesaikan semua pekerjaan yang ia dapatkan pada hari itu, ia hanya tidak suka memiliki utang pekerjaan.

Tepat pukul 2 siang, akhirnya pekerjaan Ten semua sudah ia selesaikan. Laptop miliknya langsung ia matikan lalu ditutup.

Ten merenggangkan tubuhnya lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin demi menyegarkan tenggorokannya yang sedikit kering.

Ten kembali membawa tubuhnya menuju sofa yang terletak di ruang TV apartemen yang bisa dibilang tidak besar itu lalu merebahkan badannya lalu mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di meja dekat sofa.

Tangannya sibuk mengetik, membalas pesan dari rekan kerjanya.

Dirasa semua sudah ia balas, Ten membawa tangannya untuk memencet logo berwarna biru dengan gambar burung yang ada di dalam ponselnya, aplikasi twitter.

Sekedar membaca berita yang terus menerus lewat timeline, lelaki itu sembari bermonolog mengomentari berita-berita panas yang ada di sana.

Jempolnya berhenti sebentar ketika tak sengaja satu video lewat di timeline twitternya itu. Menarik perhatian Ten, lelaki itu langsung memencet dan membuka video tersebut.

Adegan diantara dua lelaki menyapa indera penglihatan Ten, sedangkan indera pendengarnya dapat mendengar percakapan dengan bahasa yang sebenarnya tidak terlalu ia mengerti, bahasa Jepang.

Ten menelan ludahnya pelan kemudian menggaruk tengkuknya dan mengelus lehernya lalu kembali menutup video tersebut.

Jempolnya kembali sibuk membuka menutup tweet lucu atau berita lainnya yang mampir di timelinenya. Namun, pikirannya tetap berhenti di video yang sebelumnya ia lihat. Dua lelaki sedang melakukan hubungan seksual.

Tubuhnya perlahan terasa panas, tenggorokannya ikut mengering. Hanya saja, Ten merasa libidonya perlahan naik dikarenakan secuil video tersebut.

Ten menggigit bibirnya, bergantian dengan jarinya yang juga ia kulum secara tiba-tiba.

Namun yang Ten rasakan, tubuhnya semakin terasa panas.

Jempol milik Ten buru-buru menutup aplikasi burung biru itu lalu mencari aplikasi file manager yang ada di ponsel miliknya itu.

Dengan cepat, jempolnya langsung memencet file dengan nama sex tape kemudian ia buka file tersebut.

Terpampanglah 16 video dengan nama file yang berbeda-beda.

Bukan, itu bukan film bokep melainkan sex tape dirinya dengan sang kekasih, Johnny.

Johnny dan Ten memang sangat suka memvideokan kegiatan sex mereka terutama Ten. Karena, jika suatu saat terjadi kejadian seperti saat ini dimana Johnny sedang sibuk kerja di kantornya, Ten akan menggunakan video-video tersebut untuk memuaskan tubuhnya yang sudah terangsang dan sangat ingin disentuh.

Dengan tangan yang terburu-buru, Ten membuka celananya lalu memencet play di salah satu video sex tape dirinya dengan Johnny.

Kali ini, Ten hanya membuka celananya saja tanpa membuka dalamannya. Lelaki itu membawa tangannya untuk mengelus pelan penis miliknya yang sudah tegang sejak tadi.

“Sshh-” Ten mendesis merasakan sesuatu yang menjalar di tubuhnya setelah ia mengelus penis miliknya, rasanya sangat nikmat. Ia butuh sentuhan lainnya.

“Open your legs.” Pinta Johnny membuat Ten melebarkan kedua kakinya. Johnny dapat melihat lubang milik Ten yang sudah berkedut di sana.

Johnny memegang kedua kaki milik Ten lalu ia letakkan kaki tersebut diantara pundaknya, kemudian tanpa aba-aba Johnny langsung menjilat lubang milik Ten membuat si pemilik menjerit bahkan menjepit Johnny yang sedang berada di antara pundaknya. Namun hal tersebut membuat Johnny semakin dalam menjilat dan memasukkan lidahnya ke dalam lubang milik Ten. Kepalanya terasa di tekan oleh kedua kaki Ten yang ada diantara kepalanya itu.

“Ohh- Johnny, gigit. Please, gigit lubang aku. Gatel.” Racau Ten membuat Johnny langsung menggigit lalu menjilat dan menghisap lubang milik Ten.

Mendengar suara yang keluar dari video tersebut membuat Ten langsung membuka dalamannya lalu menjilat dua jari miliknya kemudian ia arah kan dua jari tersebut untuk mengelus lubangnya, “Gatel banget bangsat, aa-ah..”

“Hold up.” Ucap Johnny lalu berdiri dari bersimpuhnya setelah menjilat dan mengigit lubang milik Ten. Hal tersebut membuat Ten merengek hebat.

“Kenapa?” Tanya Johnny membuat Ten rasanya ingin menangis dan berteriak, kenapa kekasihnya ini harus bertanya kenapa di saat dirinya sanagt ingin di sentuh dan diberi banyak jilatan juga gigitan di sekitar lubang sampai penisnya itu, sih?

“Aku ngga ngerti kalau kamu diem begini. Kenapa?” Tanya Johnny lagi, tidak mendengar jawaban dari Ten, Johnny langsung mengambil dalaman dan celananya berniat untuk menggunakannya kembali lalu meninggalkan Ten.

Melihat Johnny yang sudah siap siap menggunakan pakaian dalamnya itu, Ten langsung merangkak menuju Johnny lalu menarik dalaman milik Johnny, menahan lelaki itu agar tidak menggunakan dalamannya.

Johnny hanya mengernyitkan dahinya bingung, “Kamu gagu atau gimana sampai ngga bisa ngomong ditanya kenapa?”

“A-aku mau itu.... Kenapa berhenti?!”

Johnny kembali bingung, “Hah? Mau apa sih? Bilang yang bener coba. Ini mulut kok cuma bisa ngedesah aja? Nggak bisa jelasin mau apa?”

Ten tetap diam namun tangannya tetap memegang dalaman milik Johnny. Melihat Ten yang tidak kunjung mengeluarkan sepatah kalimat, Johnny langsung menarik dalamannya lalu ia pakai. Namun kegiatannya itu dicegah oleh Ten.

“Aku mau, mau ini masuk ke sini. Mau.. Mau, Johnny.” Mohon Ten dengan mata yang berbinar, mendongak menatap Johnny. Namun lelaki ini hanya tersenyum miring.

“Kamu ngomong apa sih, aku nggak ngerti. Minta yang bener.” Balas Johnny lagi.”

“Aku mau diewe, pakai kontol besar punya kamu. Kontol besar punya kamu, masuk ke lubang aku. Keluar masuk, eungh- di dalam lubang aku. A-ngh Johnny, please.” Mohon Ten lagi, ia sudah tidak tahan, lubangnya benar-benar gatal.

Seiring dengan desahan miliknya yang terdengar dari video, Ten juga ikut mendesah setelah memasukkan dua jari miliknya keluar masuk di dalam lubangnya, kepalanya mendongak keatas dengan mata yang terpejam menikmati rasa nikmat yang menjalar, “It feels so good. Oh, shit.”

Sudah terlalu ingin disentuh, Ten akhirnya meletakkan ponselnya di sebelah dan membiarkan video tersebut terus berjalan. Ten membawa tangannya yang satu lalu ia mengelus puting miliknya dari luar kemeja putih yang sedang ia gunakan.

Tangan kiri ia gunakan untuk terus mengelus dan bermain disekitar lubang miliknya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memilin dengan jari yang sebelumnya sudah ia kulum supaya terasa basah.

Tubuhnya memberikan efek kenikmatan sampai Ten berdesah nikmat dan menggema diseisi apartemen kosong miliknya ini.

“Ahh, anjing beneran lubang gue mau dimasukin sama kontol Johnny. Anjing, gatel banget ngga kuat, belum cukup. A-ahh anjing.” Racau Ten dengan tangannya yang tidak berhenti memasukkan kedua bahkan tiga jari miliknya keluar masuk di lubangnya yang sudah berkedut. Matanya ia pejam, menikmati setiap sentuhan yang ia berikan dengan tangannya sambil membayangkan penis besar milik Johnny yang sedang bermain-main di sekitar lubangnya.

Ten membawa tangannya untuk mengelus penis miliknya yang sudah sangat tegang, mungkin saja beberapa menit selanjutnya akan memuntahkan cairan miliknya dari sana.

Tangan kirinya sibuk mengelus lubang pipis lalu kembali ia bawa untuk mengelus batang berurat itu, ia mengocok kuat seiring dengan tangan kanan yang terus menerus mencubit, menarik puting miliknya yang sudah sangat mengeras.

“Nngh- Fuck, Fuck. A-ah, dikit lagi gue mau keluar. Nggak kuat, nggak tahan, mau keluar. Nngh- Johnny, mmau keluar!” Racau Ten sampai akhirnya tubuhnya bergetar hebat dan penisnya sukses memuntahkan cairan sperma yang bisa dibilang tidak sedikit sampai berceceran di lantai dan paha mulus miliknya.

Ten mengambil beberapa lembar tisu lalu ia bersihkan lelehan sperma miliknya yang tercecer di lantai maupun paha sampai tidak tersisa.

Nafas Ten memburu setelah pelepasannya. Namun, ia merasakan tubuhnya semakin memanas, lubangnya tetap terus berkedut dan penis miliknya yang baru saja mengeluarkan cairannya kembali menegang.

Ternyata, video yang sejak tadi tidak Ten matikan sedang mengeluarkan suara-suara berat milik Johnny yang mengucapkan kalimat kotor pada Ten dan hal tersebut membuat tubuh milik Ten terangsang kembali.

Panggil dia, lonte. Iya, dia lontenya Johnny. Hanya karena suara berat dan ucapan kotor Johnny bahkan melalui video rekaman saja lelaki ini sudah kembali terangsang, libidonya sudah memuncak.

“Bangsat, Bangsaaaattt. Gatel banget anjing gatellllll.” Maki Ten kemudian tangan kirinya ia bawa untuk mencari ponselnya yang lain, seingat Ten ponsel itu ada di sekitaran sini.

Setelah dapat, Ten memencet 1 untuk dial langsung ke nomor Johnny.

Sambil menunggu Johnny yang tak kunjung menjawab teleponnya, Ten kembali membawa tangannya menuju pusat selatan tubuhnya yang masih ingin disentuh terus menerus.

Cairan bening yang keluar dari penis milik Ten ia gunakan sebagai pelumas untuk kembali ia elus lubang miliknya.

Bersamaan dengan dua jari yang kembali masuk kedalam lubangnya, mata miliknya terpejam menikmati sensasi dua jarinya yang terus menabrak titik pusat milik Ten.

Terlalu lama Johnny tidak mengangkat, Ten kembali menelpon namun kali ini ia memencet loudspeaker pada telepon tersebut, tangan kanannya yang sebelumnya memegang ponsel langsung ia bawa untuk ia kulum, setelah terasa basah ia kembali memainkan puting miliknya yang masih mengeras.

“Halo, ada apa Ten? Kompornya nggak bisa nyala lagi?”

Nngh– Johnny, pulang.” Desah Ten tanpa babibu membuat Johnny yang berada di ujung telepon sana langsung tersenyum kecil lalu membereskan barang-barang yang ada di mejanya sambil menjepit ponselnya yang masih terhubung dengan Ten, mendengar desah demi desah yang keluar dari mulut milik Ten.

“J-Johnny, nggak kuat. Lubangku, lubangku gatel banget. A-ahh.... Nggak selesai selesai, gatelnya.” Ucap Ten dengan tangan yang sibuk mengelus penisnya dan memilin sampai mencubit puting miliknya.

Ia butuh disentuh oleh Johnny. Itu yang Ten tau.

“Iya, ini aku lagi beres-beres barang. Kulum jari kamu, sampai basah terus masukin ke dalam lubang kamu.”

Ten mengikuti arahan yang diberikan oleh Johnny lalu ia kulum dua sampai tiga jari miliknya kembali sampai basah hingga salivanya menetes ke pinggir bibirnya lalu ia masukkan ke dalam lubang miliknya, dalam-dalam.

“Nggak kuat... Nggak kuat, gatel banget. Aa-ah... Please.”

“Lubangnya mau digimanain kok masih gatel aja sih?”

“Mau pakai kontolnya Johnny, tanganku kurang. Tanganku kurang, Aa-ahh. Rasanya, kalau dimasukin pakai kontol kamu, lubangku penuh, sesak, tapi enak. Mmau.......” Kalimat kalimat kotor tersebut keluar dari mulut milik Ten membuat Johnny kembali tersenyum, kekasihnya ini sudah benar-benar butuh sentuhan dari dirinya.

“Udah main dari kapan?”

“Daritadi, punyaku udah keluar satu- Aah! Aku- aku mau keluar, lagi.”

Ten mempercepat tempo permaiannnya dengan penis dan putih miliknya, kedua tangannya sibuk memanjakan tubuhnya yang sudah berada dititik teratas. Cairan miliknya ingin keluar, untuk ke dua kalinya.

“Tahan, tahan, Ten.”

Ten menggelengkan kepalanya meskipun ia tau Johnny tidak akan bisa melihat hal tersebut, desahannya semakin kencang seiring dengan pelepasannnya yang sudah mendekat.

Tubuhnya bergetar hebat, cairannya keluar lebih banyak dan berceceran lebih dari sebelumnya.

“Bad Kitten. Aku suruh kamu tahan, udah keluar?”

“Maaf, Jo. Aku nggak tahan. T-tapi, masih gatel... Terus gatel, denger suara Johnny, kayak gini, makin panas. Mau disentuh langsung, cium....” Racau Ten, tubuhnya ini memilik respon cepat kalau mendengar suara Johnny yang seperti ini.

“Dasar emang ya lonte begini, maunya disentuh terus. Sekarang kamu cepet cari tali. Tali apa aja, cepet. Stop sentuh tubuh kamu.”

Mendengar suruhan Johnny, Ten langsung berlarian mencari tali yang ada di dalam apartemen ini sedangkan Johnny sedang berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya di sana.

“Udah nemu belum?”

“AH! Nemu! Terus talinya buat apa?” tanya Ten sambil memandangi tali yang ia temukan antah berantah di apatemennya.

“Iket tangan kamu, dua-duanya pakai tali itu. Cepet,”

Ten melotot, pasalnya tubuhnya masih panas, ia masih ingin menyentuh tubuhnya untuk menyalurkan hasratnya yang meletup-letup itu. “Tapi... Aku masih mau-”

“Bisa ngerti bahasa manusia apa nggak? Kalau aku suruh iket, ya iket tangan kamu. Dua-duanya, Ten.”

Mendengar itu, Ten langsung berusaha mengikat kedua tangannya dan mencoba menghiraukan lubangnya yang kembali memberikan reaksi.

Iya, ia lupa mematikan video sex tape dirinya dengan Johnny.

“Suara apa itu Ten?”

Buru-buru sebelum mengikat kedua tangannya, Ten langsung mematikan video tersebut. “Itu, suara video..”

“Kamu sampe nonton bokep biar puas?”

“Gimana puas pake nonton bokep? Apa masih kurang?”

“Bukan bokep... Sex tape kita... Masih kurang.” Jawab Ten agak kesusahan karena lelaki ini sedang berusaha mengikat kedua tangannya.

“Lagian lubang kamu yang gatelan itu sok-sokan mau muasin pakai nonton sex tape.”

Ten meringis, merasakan lubangnya yang seperti dipanggil oleh Johnny langsung berkedut menjawab panggilan tersebut, “Nngh- jangan...”

“Kenapa? lubangnya kedut kedut ya dipanggil? Dasar lubang lonte. Udah diiket belum tangan kamu?”

“Udah... udah... Gatel... Gatel banget Jo... Panas semua tubuh aku panas, kontol aku mau dimainin, puting aku mau diisep. Nggak kuat, cepet pulang.”

“Hm, iya. Diem udah, jangan dibuka tangannya, jangan sentuh tubuh kamu tanpa izin dari aku. Diem. Jangan merengek terus. Aku nyetir dulu.”

“Cepet... cepet....”

Selanjutnya telepon tersebut dimatikan oleh Johnny sedangkan Ten sedang menahan tubuhnya yang terus-terusan ingin disentuh, tangannya ikut gatal ingin melepaskan ikatan tali ini. Namun ia memilih untuk nurut dengan Johnny, kekasihnya itu.


Ten mendengar seseorang sedang memasukkan kode apartemen dibelakang pintu, Ten yakin pasti itu Johnny.

Benar saja, kekasihnya pulang lalu membuka jasnya tak lupa Johnny gantung jas miliknya di gantungan yang ada di dekat pintu masuk apartemen.

Tanpa melihat kearah Ten, Johnny meletakkan tas miliknya di dekat gantungan tadi lalu mencuci tangannya di wastafel yang tak jauh dari sana.

Johnny tersenyum miring melihat kekasihnya yang sedang duduk tergeletak dibawah dan menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.

Johnny semakin tersenyum kala ia melihat Ten hanya menggunakan kemeja kebesaran warna putih transparan bahkan bagian dada terlebih di lingkaran puting milik Ten sangat tercetak akibat tersisa saliva akibat lelaki itu memainkan putingnya dengan jari yang sudah ia kulum sampai basah.

Johnny membawa kakinya menuju Ten sambil melonggarkan dasi yang ia gunakan.

Sesampainya Johnny di dekat Ten, Johnny berjongkok di sebelah Ten membuat Ten menatap Johnny dengan matanya sayunya itu.

“Buka dasi aku.”

“Tapi tangan aku diiket.”

“Aku ngga nyuruh kamu buat buka dasi aku pakai tangan kamu. Pakai gigi kamu, tarik dasi aku.” Pinta Johnny lalu dirinya mendekat kearah Ten sedangkan Ten memajukan tubuhnya untuk mendekat kearah Johnny lalu ia bawa bibirnya mendekat kearah simpulan dasi Johnny kemudian ia gigit ujung simpul tersebut supaya lepas.

Setelah dasi milik Johnny terlepas dari sana, Johnny memegang dagu milik Ten kemudian mengecup bibir milik Ten kilat. “Good kitten.”

Ten tersenyum namun selanjutnya Johnny kembali berdiri lalu melepaskan dasi miliknya dari leher kemudian ia lempar masuk ke dalam kamar Ten, membiarkan dasi itu tergeletak, siapa tau ia membutuhkannya nanti, pikirnya.

“Jo.......” Lirih Ten melihat Johnny yang enggan menyentuh dirinya bahkan meninggalkan dirinya dengan tangan yang masih terikat.

Johnny tidak mendengar panggilan Ten lalu perlahan lelaki itu menghadapkan dirinya kearah Ten, tangannya ia bawa perlahan membuka kancing kemeja putih yang ngepas dengan tubuhnya yang bisa dibilang terbentuk dengan bagus akibat dirinya gemar gym.

Ten yang melihat aksi Johnny hanya bisa menelan ludahnya. Johnny sedang menggoda dirinya, Johnny akan melakukan show di depannya dengan tangannya yang terikat.

Setelah kancing terakhir terbuka, Johnny melepas kemejanya sukses lelaki itu telanjang dada kemudian Johnny mengibaskan rambutnya lalu tersenyum miring ke arah Ten yang sudah menatap dirinya nafsu.

“Kenapa?” tanya Johnny lalu melempar kemejanya kemudian menuju arah pantry yang tak jauh dari sana. Kebetulan apartemennya tidak banyak sekatan kecuali kamar dan kamar mandi, sisanya seperti dapur dan ruang TV terbuka.

Johnny mendudukkan dirinya diatas meja pantry, hanya memandang Ten yang sedang merangkak ke arah dirinya.

“Mau ngapain?” Johnny menurunkan sedikit badannya untuk melihat Ten yang sudah ada dibawahnya.

“Mau diewe....” Ucap Ten menatap Johnny, matanya benar-benar terlihat seperti kucing yang memohon. Namun, sekali lagi, Johnny hanya tersenyum miring.

“Diewe sama siapa? Yang jelas dong kalo ngomong.” Ucap Johnny kemudian Ten berusaha membuat tubuhnya berdiri lalu berdiri di depan Johnny.

“Diewe sama Johnny. Pakai kontol gede punya kamu yang ini, terus terus itu nngh- bibirnya mau cium, mau cium...” Ten meminta dengan tangan yang masih terikat lalu menyentuh penis milik Johnny yang sebenarnya sudah mengeras dibelakang celana kantornya itu.

Bagaimana bisa ia tidak terangsang ketika masuk apartemen sudah disuguhkan pemandangan Ten yang tidak memakai bawahan hanya menggunakan kemeja putih kebesaran yang menutup sampai paha dan penisnya yang mengacung membuat bagian kemeja yang menutup sedikit terangkat.

Johnny menangkup pipi milik Ten lalu kembali menurunkan badannya supaya dekat dengan Ten lalu ia bawa jempolnya untuk mengelus bibir milik Ten, sontak bibir tersebut terbuka kecil, merasakan sentuhan yang sangat ia nanti sejak tadi.

Melihat bibir milik Ten yang sedikit terbuka, Johnny langsung memasukkan jempol miliknya membuat Ten langsung menghisap jempol tersebut, menjilat bak lolipop sambil mendesah kecil.

Johnny mengangkat tubuh Ten untuk ia pangku, keduanya sudah duduk diatas meja pantry dengan Ten yang ada di atas pangkuan Johnny. Tangan kanan Johnny sibuk menjaga kestabilan tubuh Ten supaya tidak jatuh kebelakang.

Johnny melepas jempol miliknya lalu mengganti jempol tersebut dengan bibirnya, mencium Ten kemudian jempolnya ia bawa menuju kancing-kancing kemeja milik Ten untuk ia buka.

Johnny memperdalam ciuman diantara keduanya, lidahnya sudah berhasil masuk kedalam mulut hangat milik Ten. Lidah milik Johnny sibuk mengabsen deretan gigi milik Ten kemudian bergulat dengan lidah milik Ten di sana sampai sampai saliva yang sudah tercampur milik keduanya menetes pelan dipinggir bibir Ten.

Setelah semua kancing kemeja milik Ten terbuka, Johnny melepas pagutan keduanya membuat Ten merengek, “Kenapa berentiii???”

“Aku buka dulu iketan tangan kamu. Tunggu, nggak sabaran banget kamu ya.” Ucap Johnny sambil membuka ikatan tali di tangan Ten sampai akhirnya terbuka. Toh memang sejak tadi iketan tersebut tidak terikat terlalu kuat. Sekali tarik, langsung lepas.

Dengan dibukanya ikatan tali tersebut membuat Ten langsung melebarkan tangannya kemudian memeluk tubuh tanpa helaian benang tersebut, Ten membawa tangannya untuk bermain di atas dada Johnny sedangkan Johnny sibuk membuka kemeja milik Ten sampai akhirnya lelaki mungil itu sukses telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Johnny mengelus pelan surai milik Ten lalu turun menuju daun telinga Ten membuat Ten merasakan sensasi geli akibat daun telinganya dielus pelan oleh Johnny sampai akhirnya turun sampai tengkuk Ten.

Johnny kembali mencium bibir milik Ten, lelaki itu meraup bibir tersebut, memperdalam ciumannya dengan tangan yang tidak tinggal diam ia bawa menuju puting milik Ten yang sudah mengeras.

Mencubit, menarik, sampai memilin, Johnny lakukan untuk puting milik Ten membuat sensasi lainnya terus berdatangan pada tubuh Ten.

Sedangkan Ten, tangannya hanya diam. Lelaki itu tidak akan menyentuh banyak pusat pusat milik Johnny sampai ia diizinkan oleh si pemilik.

Ten menepuk pundak Johnny beberapa kali tanda ia butuh pasokan oksigen.

Johnny melepas pagutan tersebut lalu mengusap pinggir bibir Ten yang tersisa saliva milik keduanya yang sudah tercampur lalu kembali mengecup bibir tersebut singkat.

Johnny menurunkan Ten dari pangkuannya kemudian berfikir sebentar sampai akhirnya ia memutuskan sesuatu.

Johnny turun dari pantry lalu menggendong tubuh milik Ten dan ia bawa tubuh tersebut ke sofa ruang TV, tempat yang sebelumnya menjadi tempat bermain Ten.

Johnny kembali menurunkan Ten, namun bukan di sofa. Johnny langsung duduk di sofa kemudian menatap Ten yang menunggu arahan dari Johnny.

“Ngapain diem aja?”

“Mmm... Aku harus ngapain...”

“Sini, duduk, di sini.” Ucap Johnny sambil menepuk pahanya.

“Madep ke depan, bukan madep ke aku.”

Mendenagr hal tersebut, Ten langsung mendudukkan dirinya di atas paha Johnny berlawanan.

Johnny memeluk kekasihnya itu dari belakang lalu meletakkan kepalanya di atas pundak milik Ten.

Johnny bawa tangannya untuk menggenggam penis milik Ten membuat Ten mendesis, penisnya kembali mengacung.

“Ini ya? ini yang mau disentuh? Dipegang? Dimainin?” tanya Johnny kemudian mengelus lubang pipis milik Ten membuat Ten mendongakkan kepalanya merasakan sensasi yang sangat nikmat.

“Kalau ditanya, jawab. Ngerti nggak?”

“Nngh- Ngerti.”

Johnny menaik turunkan tangannya di batang berurat milik Ten yang sudah menegang sambil terus mengelus lubang pipis milik Ten. “Enak? Enak nggak kontolnya dipegang, dimainin, dielus? Mau sampai muncrat-muncrat?”

Ten rasanya menggila, benar, tangannya dengan tangan Johnny, rasanya sangatlah beda. “Enak. Enak banget, Jo. Anghh, Mau, mau sampai muncrat-muncrat, terus.. Iyaahh, Jo terus cepetin!”

“Siapa kamu nyuruh nyuruh aku, hah?” Ucap Johnny lalu berhenti mengocok penis milik Ten membuat si pemilik merengek, pelepasannya diberhentikan.

“Aaaa Johnny, lagi. Lagi. Aku mau keluar, lagi.” Pinta Ten namun Johnny tetap diam dengan tangan yang setia di penis Ten namun tidak bergerak, hanya diam.

“Aku mau tangan kamu mainin dan ngocok terus kontol aku. Aku udah mau keluarrr, Nngghh-” Desah Ten membuat Johnny langsung mempercepat kembali tempo permainannya.

Ten semakin mendesah kala Johnny semakin mempercepat tempo permainannya, lubang pipisnya terus di elus oleh Johnny membuat pelepasannya semakin mendekat.

“A-aku mau keluarr!! Mmaauuu kelua- AAAAAA JOOHNNY BBUKAA JANGAN DITUTUP EUNGGHHH-aaahhh!” Ten meracau, menangis, Johnny menutup lubangnya disaat Ten sudah ingin memuntahkan spermanya dari penis miliknya.

Johnny menutup saluran tersebut, menahan pelepasan Ten kedua kalinya.

“Tell me, what you want, Kitten.”

“Mau dikontolin, mau diewe, mau dipuasin, mmauu keluuuarrr!!!” Ucap Ten berteriak membuat Johnny tersenyum kecil lalu membuka lubang pipis milik Ten sontak sperma milik Ten langsung muncrat mengenai meja yang ada di depan keduanya.

Nafas Ten kembali berderu, pelepasan kali ini rasanya luar biasa.

“Mau dikontolin?” tanya Johnny membuat Ten mengangguk cepat, lubangnya sudah sangat gatal.

“Berdiri.” Pinta Johnny lalu Ten langsung berdiri di depan Johnny.

Johnny ikut berdiri lalu membuka celana kantornya dan dalamannya di depan Ten, Ten dapat melihat penis besar milik Johnny yang juga sudah mengacung.

Johnny kembali duduk di sofa lalu menyuruh Ten udah berlutut di depannya.

Yours” Ucap Johnny sambil menunjuk penisnya yang mengacung membuat Ten langsung mendekat lalu meraup penis besar tersebut ke dalam mulut hangatnya.

Tangan kanannya memegang penis milik Johnny sambil ia mainkan naik turun, sedangkan mulutnya tidak berhenti menjilat batang sampai lubang pipis milik Johnny membuat Johnny menggeram dan mendongakkan kepalanya merasakan nikmat dari mulut hangat dan permaiann tangan Ten.

“Deeper, Kitten.” Pinta Johnny kemudian Johnny mendorong pinggangnya membuat penisnya masuk sampai pangkal tenggorokan Ten membuat Ten tersedak sedikit namun lelaki itu tidka peduli dan lanjut menjilat dan menghisap hampir seluruh bagian penis Johnny memenuhi mulut Ten.

“Mulut kamu, cuma punya aku. Mulut kamu, enak banget, Kitten. Sialan.” Racau Johnny kemudian menekan kepala Ten menahan beberapa detik sampai akhirnya ia lepas membuat Ten ikut melepas penis milik Johnny kemudian saliva miliknya menetes dari pinggir bibirnya, deep throat, kesukaan Ten juga kesukaan Johnny.

Johnny berdiri dari duduknya membiarkan Ten yang masih bersimpuh lalu mengocok sedikit penisnya dengan tangan miliknya sedangkan Ten mendongakkan kepalanya melihat kearah Johnny yang sedang menggeram, menunggu perintah lainnya.

“Buka, buka mulut kamu cepet sialan, aku mau keluar!” Ucap Johnny semakin mempercepat tempo permainannya dengan penisnya sedangkan Ten langsung siap membuka mulutnya.

Johnny berhasil mengeluarkan pelepasan pertamanya, ia lepaskan tepat di lidah Ten meskipun sampai muncrat mengenai beberapa titik wajah Ten. “Telan semua peju aku, Ten.”

Ten menelan sperma milik Johnny yang ada di lidahnya kemudian menjilat beberapa sperma yang ada di wajahnya, membersihkan semua tanpa jejak.

Johnny ikut bersimpuh di depan Ten kemudian menarik tengkuk milik Ten, mencium bibir lelaki tersebut, bahkan Johnny bisa merasakan sisa spermanya di dalam mulut hangat milik Ten.

Tanpa melepas pagutannya, Johnny mengangkat tubuh Ten kemudian menggendong tubuh tersebut membawanya masuk ke dalam kamar.

Johnny dengan Ten yang berada di gendongannya langsung menjatuhkan tubuh Ten di atas kasur kemudian tangan milik Johnny langsung menuju puting milik Ten untuk kembali ia mainkan.

Johnny melepas pagutan keduanya kemudian turun untuk mencium leher, dada, dan sampailah Johnny di depan puting sebelah kanan milik Ten.

Johnny menghisap dan menjilat puting tersebut dengan tangan kiri Johnny yang sibuk memilin puting satunya.

“Sshh- Johnny, aahh enak banget. Ahh, pentil aku gatel, gigit! Gigit, Johnny.” Ucap Ten meracau tidak jelas membuat Johnny menggigit lalu menjilat puting miliknya kemudian mencubit puting lainnya memberi sensasi nikmat menjalar di tubuh Ten.

Johnny kembali menurunkan ciumannya, sampai ke perut Ten lalu mencium pucuk lubang pipis milik Ten.

Johnny mengangkat kedua kaki milik Ten, “Open your legs, so i can see your slutty hole say hi to me, Ten.”

Ten langsung melebarkan kakinya, terpampang jelas lubang Ten yang terlihat memerah akibat permainan Ten tadi yang sepertinya terlalu memaksa atau kurang pelumas.

Johnny langsung mendekatkan dirinya ke lubang Ten kemudian menjilat lubang tersebut membuat tubuh Ten menggelinjang geli karena sentuhan tersebut.

Johnny kembali menjilat sampai menghisap lubang tersebut, memberi kenikmatan untuk lubang milik Ten yang semakin terasa gatal.

“Nnghh Johnny, gatal. Gatal!” Racau Ten menikmati jilatan Johnny di lubangnya.

Mendengar kalimat tersebut, Johnny memberhentikan kegiatannya lalu menyodorkan dua sampai tiga jarinya ke mulut Ten, bermaksud untuk mengulum jari milik Johnny.

Ten nurut kemudian mengulum jari jari tersebut bahkan Johnny dengan sengaja memasukkan jarinya lebih dalam sampai pangkal tenggorokan Ten membuat lelaki itu tersedak, sedangkan Johnny tersenyum kemudian membawa jarinya mendekat kearah lubang Ten.

Dua jari, Johnny masukkan ke dalam lubang Ten kemudian lelaki itu mengecup singkat bibir milik Ten.

“Aah, enak banget. Enak, masukkin terus Jo!” Racau Ten membuat Johnny kembali tersenyum lalu menambahkan satu jari lagi, total tiga jari menubruk lubang Ten, membuka lubang tersebut, dan memperdalam.

Ketiga jari Johnny sibuk memberikan kenikmatan untuk lubang Ten yang sudah berkedut bahkan lubang milik Ten menjepit ketiga jari milik Johnny.

“Kalau kontol aku masuk ke lubang kamu, kayaknya enak dijepit di sana ya. Iya, jepit terus jari aku.” Ucap Johnny lalu menjilat bibir Ten membuat Ten membuka bibirnya sedikit sambil mendesah kecil merasakan lubangnya yang semakin terbuka.

“J-jo... Aku, aku mau keluar lagi, sshh- faster and deeper, please. Aku, mau keluar lagi nggak kuat...” Mohon Ten, meminta lelaki itu mempercepat dan memperdalam sodokan tiga jarinya pada lubang miliknya.

“Not now. Lemah banget lubang dan kontol lonte, baru pakai jari udah mau keluar lagi. Gimana dikontolin? Muncrat-muncrat sampai ngalahin air mancur?” Ucap Johnny kemudian mengeluarkan ketiga jarinya membuat Ten kembali menahan pelepasannya itu.

Ten merengek, “Mmau dikontolin. Dikontolin, lubang aku mau dikontolin sama kontol gede punya kamu. Masukinn.”

Johnny kemudian mendekatkan penisnya dengan lubang Ten lalu mengocok sebentar penisnya di depan lubang Ten selanjutnya ia masukkan penis miliknya ke dalam lubang milik Ten membuat Ten meringis kesakitan.

“Katanya mau dikontolin, kok nangis?” Tanya Johnny sambil terus menggempur titik nikmat Ten membuat lelaki itu terus mendesah dan meneriaki namanya sampai bergema di seisi kamar, memberikan sensasi lebih diantara atmosfer keduanya.

“Angghhh, enak! Enak, kontol kamu gede enak, angghhh terus masukin lagi, iya di situ!” Racau Ten membuat Johnny menengadahkan kepalanya, menikmati setiap titik dan setiap kali penisnya dijepit oleh lubang milik Ten.

“Aku mau keluaarr!!” Teriak Ten, sudah tidak bisa menahan pelepasannya, bahkan sedetik kemudian setelah berteriak, penis milik Ten langsung memuntahkan cairan sperma tersebut sampai berceceran kena seprai. Namun, Johnny belum sampai dipelepasannya.

“Nngghh, Johnny stop! Anghhh ohh my fucking god!” Ten terus berteriak, dirinya sudah pelepasan namun Johnny terus menggempur lubangnya membuat penisnya sedikit perih dan lubangnya ikut perih namun terus berkedut, menjepit terus-terusan penis milik Johnny.

“Argh! Aku mau keluar, sedikit lagi! Jangan jepit!!” Geram Johnny kemudian dalam sekali hentakan, sperma milik Johnny keluar di dalam lubang milik Ten.

Perlahan Johnny mengeluarkan penisnya dari lubang milik Ten, bahkan lelehan sperma milik Johnny menghiasi lubang Ten.

Johnny kembali mencium bibir milik Ten kemudian mengusap pipi kekasihnya, “Good Kitten.”

Ten tersenyum lalu mengusak pelan surai milik Johnny.

“IH KITA NGGAK BIKIN VIDEO BARU!!!!!” Teriak Ten setelah dirinya ingat bahwa kali ini permainannya lupa ia buatkan video.

Johnny terkekeh gemas, “Yaudah, nggak usah pakai sex tape sex tape an, besok besok kalau mau diewe, langsung telpon aku.”

Ten tersenyum lebar, “Meskipun kamu lagi rapat?”

Johnny tertawa sambil menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan libido Ten, “Atau mau kamu aku ewe di depan orang-orang pas lagi rapat? Kita ngewe di meja di tengah-tengah, diliatin sama rekan kerja aku. Semua orang pasti tau, kamu lonte aku deh hmm.”

Ucapan Johnny membuat Ten melotot kemudian memukul lengan kekasihnya itu, “IH KAMU MAH!”

Johnny tertawa kemudian mencubit pipi milik Ten. “Gimana? Lubangnya masih gatel? Masih mau diewe? Masih mau dikontolin? Duh duh lubangnya ini tau ya kontol enak yang mana, pantes demen.”

Mendengar ucapan Johnny, lubang Ten kembali berkedut, penisnya kembali mengacung, putingnya kembali mengeras. Ten menggigit bibirnya kemudian menatap Johnny sayu, “Nngh, Johnny.... i want more, please..

Mendengar ucapan Ten membuat Johnny langsung meraup bibir milik Ten dan keduanya melanjutkan kegiatan mereka sampai waktu yang tidak ditentukan.


@roseschies.

love lose

Johnten oneshot AU

// cheating , toxic relationship , major character death


“Kamu bisa ngga sih ngga usah kayak anak-anak? Begitu doang cemburu, apa-apa cemburu.” Bentak Johnny tepat di depan wajah Ten membuat Ten sedikit tersentak sampai dirinya memundurkan tubuhnya, menjauh sedikit dari Johnny.

Lelaki itu memberi jarak antara dirinya dengan sang kekasih.

Lelah? Sangat. Ten sangat lelah, adu mulut dengan kekasihnya seperti sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ten.

“Tahan bisa ngga? Tahan, Ten. Semua ngga sesuai apa yang kamu pikirin.” Tambah Johnny.

Ten setuju.

Ten setuju dengan ucapan tadi. Semua belum tentu sesuai dengan apa yang dia pikirin.

Tapi, Johnny, tolong, pahami lelaki ini. “Kamu selalu ngomong kayak gini ke aku. Tapi apa Jo?”

Johnny mengernyitkan dahinya, bingung. “Tapi? Apa tapi? Aku kapan bohongin kamu sih Ten?”

Ten kali ini, menyerah. Ia benar-benar sudah lelah. Adu mulut dengan Johnny tepat di tengah jalan komplek yang sepi, entah sudah jam berapa ini.

Ten menghela nafasnya lalu menatap mata milik Johnny lekat lekat, ia kuatkan dirinya, menahan agar tangisannya tidak turun secepat kilat.

Dia bukan lelaki lemah, hanya saja sudah terlalu lelah.

“Satu, kamu bilang udah lost contact sama mantan kamu? Buktinya apa? Kamu masih chat kok sama dia. Du—”

“Loh, aku chat sama dia juga karena kebutuhan dia.” Sela Johnny, bahkan Ten belum menyelesaikan semua penjabaran yang ia miliki.

“Bisa dengerin aku dulu??”

Johnny diam, memberi kesempatan untuk Ten melanjutkan ucapannya.

“Dua, jangan kira aku bego ya Johnny. Kamu bilang tanggal 25 kamu di rumah tapi apa, kamu ketemu kan sama dia? Dia ngechat kamu karena butuh kamu, butuh kamu untuk mendengarkan dia. Kamu ketemuan sama dia, tapi apa yang kamu bilang ke aku? Kamu di rumah.”

“Tapi dia minta ketemu aku karena dia butuh temen cerita, Ten.” Jawab Johnny lagi lagi memotong ucapan Ten.

“Sumpah ya Johnny. Aku nggak peduli tapi tapi kamu. Tolong, pahami konteks MASALAH yang lagi aku jelasin. Kalau dari awal kamu bilang kamu ketemu sama mantan kamu, aku ngga akan semarah ini. Kenapa harus bohong, kenapa Jo?” Ten sedikit menaikkan suaranya, meminta jawaban dari Johnny.

“Kalau aku jujur, kamu nanti cemburu. Semua dicemburuin.”

“Kenapa harus bohong?!”

“Kamu kenapa cemburuan?!”

Ten menghela nafasnya, berdebat adu mulut dengan kekasihnya, benar benar menghabiskan tenaganya.

“Tiga, kamu pikir aku ngga tau kamu saling kirim emot cium, peluk, dan sebagainya??”

“Kamu kenapa sembarang buka buka pesan aku sih?? Itu privacy aku, Ten. Jangan melewati batas kamu.”

Ten tau, ia melewati batas privacy Johnny. Tapi, Johnny lupa atau apa? Dirinya sendiri yang memberi akses pada Ten. Dan, salahkah Ten membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya?

Ten tersenyum kecil, “Kenapa ya, setiap aku marah, kamu ikut marah. Ujungnya apa? Aku yang minta maaf. Coba, setiap kamu marah, aku selalu berusaha buat cari dimana kesalahan aku, aku berusaha meminta maaf ke kamu sampai kamu benar benar memaafkan aku. Jo, kenapa? Aku punya salah apa sama kamu? Aku ngga minta banyak Jo. Aku cuma minta satu, tolong mengerti. Aku cuma butuh itu. Aku capek, capek Jo.”

Air mata lolos dari pinggir mata milik Ten. Sesak di dadanya kian terasa menyakitkan. Mengucapkan kata demi kata seperti ini, rasanya, sakit sekali bagi Ten.

Ten tidak masalah jika ia dibilang seperti lelaki kemakan cinta. Memang, memang benar. Ten takut. Takut sekali ia akan kehilangan Johnny.

Tetapi, kali ini ia sudah menyerah. Ia sudah lelah.

Ten sadar, sebagaimanapun Ten meminta Johnny untuk berubah, tetapi jika Johnny memang dasarnya tidak ada keinginan untuk berubah, Ten tidak bisa melakukan banyak hal, selain, meninggalkan seseorang yang memang tidak sama dengannya.

Rasanya, hanya dirinya yang berjuang di dalam hubungannya. Karena, rasanya, Johnny seperti berjuang dengan orang lain.

Hubungan ini, untuk apa, untuk siapa. Dua tahun, terbuang sia-sia.

“Apa aku pernah marah balik ke kamu setiap kamu marah karena hal kecil yang udah aku lakuin? Aku selalu cari cara supaya apa yang kamu mau, kamu dapetin.” Ucap Ten, mengeluarkan beberapa kata yang masih mampu ia ucapkan meskipun sesak di dada semakin terasa menyakitkan.

“Aku butuh waktu, Ten.” Ucap Johnny. Bukannya membalas semua ucapan yang Ten berikan, Johnny malah mengucapkan kalimat lain, di luar konteks.

Ten mengangguk tanpa mengucapkan kalimat lain. Ia terlalu lelah, kepalanya sudah kosong. Kosong sekali. Pandangannya sudah kehilangan arah.

Ten membalikkan tubuhnya lalu berjalan tanpa arah meninggalkan Johnny yang masih berdiri di sana.

Tak lama kemudian Johnny membalikkan tubuhnya lalu berjalan, untuk pulang.

Ten membawa kakinya, menyeret kakinya entah kemana. Pandangannya kosong, pikirannya jauh lebih kosong.

Satu yang ada dipikirannya, Johnny, semoga bahagia.

Satu detik kemudian telinga milik Johnny mendengar suara tabrakan yang tak jauh dari tempat dimana ia berdiri.

Detik selanjutnya, Johnny membalikkan tubuhnya lalu berlari ke tempat dimana tubuh milik Ten terbaring di jalan tepat di depan mobil dengan darah yang sudah keluar dari beberapa titik di tubuhnya.

Detik terakhir, pikiran yang ada di dalam pikiran Ten tetap sama. Satu. Johnny, semoga bahagia.


@roseschies

perkara jamu.

Setelah akhirnya Taeyong dan Winwin menemukan di mana Ten berada, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar Johnny dan Ten yang sebelumnya Winwin sudah mengirim pesan pada Johnny untuk meminta izin masuk ke dalam kamarnya dan diizinkan.

“KELUAR GAA LOOO, GUE GIGIT NIH, GUE ZOMBIEEEE.” Teriak Ten membuat Taeyong dan Winwin tertawa terbahak-bahak, temannya ini menolak keras sampai sepert ini.

Padahal serius deh, jamu yang dibuat oleh Winwin tidak sepahit jamu biasanya. Jaemin saja sampai minta nambah, katanya manis dan enak.

“Ten, serius gue ini, jamu buatan gue ngga pahit kayak bayangan lo. Gue mana pernah ngibul sih.” Ucap Winwin lalu berjonjok di dekat Ten.

Astaga, tiga lelaki ini sudah berumur loh. Tetapi lagaknya seperti anak anak yang sedang saling ngambek begini.

“Biar cepet sembuh Ten. Gue ikut minum jamunya deh, biar semisal pahit, rasa pahitnya ngga lo rasain sendiri.” Timpal Taeyong lalu menarik kaki Ten membuat siempunya memberontak sampai akhirnya kaos kaki milik Ten copot dari kakinya dan sudah pindah tempat ke tangan Taeyong.

Winwin mengangguk, “Iya gue juga minum deh nemenin lo. Ayo Ten, lo ngga kangen motret emang??”

Winwin dan Taeyong masih berusaha membujuk Ten semaksimal mungkin sebisa mereka.

Ten membalikkan tubuhnya lalu duduk diatas matras yang tadi ia tiduri itu. Wajah lelaki itu tiba-tiba berseri, “BENER YAAA??? LO BERDUA MINUM JUGA YAA???”

“Iya elah beneran nih, gue setia kawan kan tuh mau nemenin temennya bersusah-susah bersama gini.” Jawab Taeyong membuat Ten memutarkan bola matanya malas.

Winwin berdiri dari jongkoknya lalu mengajak kedua temannya untuk meracik jamu buatannya, “Yaudah ayo kita bikin bareng bareng.”

Taeyong dan Ten mengangguk lalu ketiganya menuju dapur meskipun Ten sebenernya masih takut. Takut kalau jamunya pahit dan kedua temannya mengerjai dirinya.

Beberapa menit Winwin meracik jamu, Winwin benar benar membuat 3 cangkir.

Diam diam Taeyong sudah menelan ludahnya, tapi mana mungkin ia mencopot ucapannya tadi.

Sedangkan Ten rasanya sudah seperti siap menerima kematiannya.

Padahal mereka hanya ingin meminum jamu, tolong.

Winwin mengambil satu cangkir terlebih dahulu untuk Ten lalu memberikan cangkir tersebut untuk Ten, “Nih, buat yang sakit dulu diminum.”

Ten menggelengkan kepalanya kuat kuat, “Ngga mau gue gamauuu, gue udah sembuh kok udah sembuh serius.”

Winwin menatap Taeyong kemudoan keduanya memberi sinyal yang sama.

Taeyong memegang tubuh Ten agar tidak berontak sedangan Winwin membantu Ten untuk meminum jamu tersebut.

“WOIII INI NAMANYA PEMAKSAAN WOIIII!!!!!! LO BERDUA BISA DITUNTUTTTT!!!!” Teriak Ten sedangkan Taeyong semakin tertawa dibuatnya.

Winwin pelan-pelan bawa cangkir itu mendekat kearah mulut Ten, “Sedikiiitt aja Ten. Cobain duluu, semisal ngga suka yaudah ngga dipaksa lagi. Cobain duluuu.”

Pelan pelan Winwin membantu Ten minum jamu itu.

Setelah beberapa tegukan, Ten terdiam lalu mengerjapkan kedua matanya.

“Gimana Ten?” Tanya Winwin lalu meletakkan cangkirnya di meja.

Ten melihat kearah dua temannya secara bergantian lalu tak lama kemudian ia memeluk Winwkn erat erat.

“WINNIIIIEEEEE KOK ENAAAAKKKK??????”


@roseschies

apartment

Sesampainya Taeyong di depan unit apartemen, mengingat pesan dari Jaehyun akhirnya Taeyong langsung memasukkan passcode unit tersebut.

Taeyong membuka pintu tersebut dan mengintip sebentar ke dalam apartemen. Sepi. Ini Jaehyun beneran sudah sampaikan? Masa dia duluan yang sampai? Padahal Taeyong bisa dibilang ngaret setengah jam lebih karena terkena macet.

Taeyong melepas sepatu yang ia gunakan lalu memakai sendal khusus di dalam miliknya kemudian menengok kesana kemari mencari keberadaan Jaehyun.

“Jaehyun?”

Tidak ada jawaban.

Mungkin benar Jaehyun belum sampai.

Taeyong langsung membawa kakinya menuju ruang tengah, niatnya menunggu Jaehyun.

Namun tiba-tiba, “DOR!”

“YA TUHAN— JAEHYUN!”

Jaehyun datang dari ruangan kosong membuat Taeyong terkejut setengah mati, jantungnya hampir copot, sungguh.

Taeyong memukul pelan tubuh milik Jaehyun membuat siempunya mengaduh kesakitan, “Aduh aduh yongyong sakit ampun ampunn.”

“Aku kaget tau! Kamu nih aku pikir belum sampe.” Omel Taeyong kemudian melipat kedua tangan di dada, sebal dengan Jaehyun.

Jaehyun hanya terkekeh lalu menarik tangan milik Taeyong, mengajak kekasihnya untuk duduk di sofa. “Maaf lohh, hehehe. Tapi kamu gemes juga kagetnya.”

Taeyong kembali memukul lengan milik Jaehyun, antara kesal dan malu, sepertinya bercampur.

Taeyong ingat tadi ia menjatuhkan tasnya yang berisi baju ganti besok dan laptop miliknya sewaktu ia dikejutkan oleh Jaehyun.

“Sebentar, tuh tas aku yang berisi laptop jadi jatuh!”

Sedangkan yang diomeli hanya terkekeh lagi lalu menyenderkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Taeyong.

“Jaehyun, ini tas aku ditaro mana?”

“Taro kamar aja yang, gapapa.”

Taeyong langsung masuk menuju kamar yang tersedia lalu meletakkan tasnya kemudian menyusul Jaehyun, duduk di sofa.

Sedikit canggung. Tetapi Taeyong berusaha mengikis jarak diantara keduanya. Taeyong menggeser tubuhnya mendekat kearah Jaehyun, perlahan ia buang rasa malunya.

Jaehyun yang merasa Taeyong mendekat kearahnya langsung menarik tubuh milik Taeyong untuk ia rangkul, semakin mendekat dengan tubuhnya.

Jaehyun mengelus pelan pundak milik Taeyong lalu meletakkan kepala Taeyong di pundaknya. “Pundak aku, cuma punya kamu. Sesuka hati kamu mau letakkin kepalamu dipundakku, ngga apa-apa, yongyong.”

Pipi milik Taeyong bersemu merah hampir semerah tomat. Ia malu, sungguh. Tetapi ini terasa sangat nyaman.

Dengan berani, Taeyong melingkarkan tangannya memeluk pinggang Jaehyun dan menyamankan tubuhnya.

Jaehyun tersenyum lalu mengecup puncak kepala Taeyong pelan dan selanjutnya ia mengelus pucuk kepala Taeyong.

Yang diberi afeksi hanya bisa menahan detak jantungnya yang semakin tidak karuan itu. Taeyong, bisa gila kalau seperti ini sampai besok.


Hari sudah semakin malam. Taeyong dan Jaehyun keduanya sudah sama sama mandi membersihkan diri. Keduanya sudah sama sama menggunakan piyamanya masing-masing.

Sejak tadi, keduanya sudah melakukan beberapa hal dari nonton bersama sampai makan malam bersama. Tentu dengan makanan yang dibawa oleh Kun secara tiba-tiba.

Jaehyun menidurkan tubuhnya di kasur kemudian mengajak Taeyong untuk tidur disampingnya, “Sini, yang.”

Sepertinya rasa malu Taeyong sudah menguap karena saat ini Taeyong langsung membawa tubuhnya untuk tidur disamping Jaehyun lalu memeluk erat tubuh milik Jaehyun bak guling yang akan menemani ia tidur nantinya.

“Gemasnya. Kamu udah ngantuk?” Tanya Jaehyun sambil mengusap pelan surai milik Taeyong.

Taeyong menggelengkan kepalanya, “Belum. Ngga bisa tidur kayaknya sampe besok.”

“Kenapa?”

“Jantungku ngga berenti berdetak cepat. Aduh.”

Jaehyun tertawa, terlihat, sangat terlihat kok.

“Kalo jantungmu berhenti berdetak, aku yang panik.”

“Bukan begitu!”

“Hahaha iyaa paham kok. Ini jantungnya disuruh santai aja yaa, kasihan yongyong kecapean karena kecepetan berdetak ya.”

Taeyonf tersenyum kecil. Kenapa rasanya nyaman sekali, ya?

Entah pelukan atau ucapan yang dilontarkan sejak tadi dari mulut Jaehyun. Rasanya semua terasa nyaman untuk Taeyong.

Tiba-tiba saja suasana menjadi sedikit sedih, untuk Taeyong. Ia merasa sedih, karena kejadian seperti ini sangat langka.

“Kenapa sayang?” Tanya Jaehyun ketika ia merasa Taeyong sedikit menurunkan pundaknya.

“Gapapa..”

Jaehyun tersenyum kecil kemudian kembali memeluk erat tubuh Jaehyun. “Yang ada di depan, jangan dipikirin dulu. Kita nikmatin yang ada dulu sekarang ya?

“Aku mau egois sekali aja, mau kayak gini terus sama kamu. Mau waktu kita ngga tersita karena kamu yang sibuk. Mau waktu kita lebih karena ngga harus ngumpet ngumpet. Mau deklarasikan bahwa pacar aku itu Jung Jaehyun. Tapi aku urung semua niatku.”

“Aku urung semuanya. Keinget lagi semua ucapan aku dan ucapan kamu dari pertama kali aku dan kamu memutuskan untuk punya hubungan lebih. Mengingat semua ucapan dan segala titip sampai izin dan tetek bengek yang diucapkan Kun buat aku. Aku jadi semakin menghargai waktu sedikit apapun sama kamu. Kayak gini. Sebentar, tapi rasanya aku bahagia banget, Jaehyun.” Lanjut Taeyong.

Memang awalnya terasa tidak mudah bagi Taeyong untuk menjalin hubungan dengan seorang artis papan atas ditambah ia mengagumi lelaki ini, semua karya lelaki ini ia kagumi.

Tapi Taeyong tau, kesempatan ini, ngga akan datang lagi. Kesempatan ini hanya untuk dirinya.

“Hari ini, malam ini. Lupain title aku sebagai artis dan lupain title kamu sebagai fans. Aku dan kamu adalah pasangan. Pasangan yang menjalin hubungan lebih dan saling memberi afeksi satu sama lain. Aku dan kamu malam ini saling memiliki. Malam ini, tempat ini, cuma ada kamu dan aku. Terima kasih udah mau ngertiin aku sebagai apapun aku di mata kamu.” Jaehyun benar benar merasa berterima kasih. Karena kali ini, dirinya benar benar tidak salah memilih pasangan. Banyak sekali berita di luaran yang tidak enak di dengar bagi artis seperti dirinya.

Ah... Taeyong, memang pilihan yang benar untuk Jaehyun.


@roseschies

Tentang Papa.

Tepat jam 10 pagi, mereka berempat pergi menuju rumah sakit yang biasa menjadi tempat keempatnya untuk periksa atau berobat.

Sesampainya di sana, Ten ditemani oleh kedua anaknya duduk menunggu Johnny yang sedang mengurus registrasi terlebih dahulu sampai akhirnya mendapat nomor antrian.

“Nomor 45, nggak terlalu lama nunggunya. Paling cuma 5 pasien. Gimana, kepala sama perut kamu masih ngga enak?” Tanya Johnny setelah duduk di sebelah Ten membuat Hendery yang sebelumnya duduk di sana langsung minggir mempersilahkan Daddynya duduk di sana.

“Sedikit.” Jawab Ten.

Hendery memberikan satu botol minum pada Ten, “Ini Papa minum dulu.”

Sedangkan Haechan hanya merangkul lengan Ten, memeluk lengan Papanya itu, sambil berdoa semoga Papanya ini baik baik saja.


Setelah beberapa lama Ten diperiksa oleh dokter, Hendery dan Haechan yang diam menunggu di ruang tunggu langsung berdiri setelah melihat kedua orang tuanya keluar dari ruang periksa.

Hendery yang melihat muka Johnny yang tidak terdefinisikan langsung panik.

“Papa gimana??” Todong Haechan setelah Johnny dan Ten sampai di depan kedua anaknya yang sudah menunggu sejak tadi.

Ten tersenyum sampai terlihat deretan giginya lalu terkekeh dan menggaruk tengkuknya sedangkan Johnny hanya menggelengkan kepalanya.

“Papamu, cuma masuk angin.” Jawab Johnny membuat Hendery Haechan melotot sedangkan Ten cuma bisa nyengir.

Ih, dia kan tetep sakit meskipun masuk angin!

Mungkin memang over saja.


“IH TERUS KENAPA PAPA KEMAREN NANYA TENTANG ADEK??? DEDE PIKIR PAPA HAMIL BENERAN. DEDE SEBENERNYA SEDIH KALO PUNYA ADEK LAGI TAPI TETEP AJA GAK MAU BIKIN PAPA SEDIH.” Ucap Haechan sesampainya mereka berempat di rumah. Sejak tadi mereka hanya mengadu dan terus mengadu.

Ten menggaruk tengkuknya, “Papa abis nonton tentang baby gitu, lucu banget pengen gendong bayi lagi.”

“SI PAPA BIKIN PANIK SERUMAH TAU GAAAK IH.” Ucap Haechan lagi.

“Terus kemaren pas papa bilang pengen meluk boneka beruang sama mau makan bakso itu kenapa?” Sekarang giliran Hendery yang bertanya.

“Itu papa lagi pengen benerann, kepengen aja kenapa emangg masa harus ngidam dulu.” Jawab Ten membela dirinya.

“Ya nggak sih Pa. Tapi tetep ajaa, keinginan papa aneh kirain ngidam.”

“Tau ngga sih pa, sangking paniknya, Daddy sampe bikin grup khusus buat jadi detektif Papa.” Ucap Haechan membocorkan tentang grup detektif membuat Ten menatap Johnny sedangkan Johnny hanya bisa terkekeh.

“Ya abisan kamu aneh banget aku jadi curiga... Tapi gapapa yang penting kamu ngga kenapa kenapa. Semisal dari awal kamu ngga ngomong tentang anak kan aku juga ngga kepikir kamu hamil lagi...” Jawab Johnny, memang benar kok, sejak Ten mengungkit tentang adik, Johnny jadi kepikiran kalau memang benar Ten hamil lagi.

“Ada ada aja kalian tuh. Umur Papa tuh udah ngga cocok gendong anak lagi, udah cocoknya gendong cucu.” Ucap Ten membuat Haechan langsung menunjuk Hendery.

“TUH BANG DENGERIIINN.”

Dan hal tersebut berhasil membuat Haechan mendapatkan satu lemparan bantal dari Hendery.


“Terus kalo tentang kamu yang mau ini itu minta ke aku itu, kenapa yang?” Tanya Johnny setelah keduanya akhirnya menidurkan diri di kasur keduanya.

Ten membalikkan tubuhnya lalu menatap Johnny dan tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya, “Pengen aja, soalnya lucu liat muka panik kamu. Kamu sesayang itu ya sama aku?”

Johnny rasanya ingin mencubit mencium seluruh wajah milik Ten. Suaminya ini sudah berpuluh tahun, masa masih belum tau juga seberapa sayang dirinya pada lelaki mungil satu ini.

“Iya. Aku sayang banget sama kamu. Sayang aku ke kamu udah ngga bisa ditakar, udah meluber-luber. Pokoknya udah sayang banget, level teratas.” Ucap Johnny lalu mencium kening milik Ten lalu mencubit gemas hidung milik Ten.

“Aduhh! Katanya sayang tapi kok dianiyaya akunyaa.”

“Ini bukan dianiyaya, aku gemes sama kamu tau nggak. Yaampun, kamu ini hih.” Johnny langsung memeluk erat tubuh milik Ten membuat si pemilik memberontak. Ya tuhan, suaminya ini nggak sadar badan.


@roseschies

Kantor Jaehyun

Johnny yang sedang ada pertemuan untuk membahas kelanjutan tentang kegiatan antara dirinya dengan Jaehyun dan Yuta langsung memijit pelipisnya setelah membaca chat dari Hendery.

Jantungnya sudah tidak karuan sangking paniknya. Sudah begitu, Hendery seperti mendramatisir keadaan, semakin paniklah Johnny.

“Ini Ten kenapa ya.... Masa dia nge prank tapi udah berapa hari mual mual terus. Kalau pun hamil lagi, masa sih....” Johnny bermonolog tetapi Yuta dan Jaehyunbyang sedang duduk diantara Johnny dapat mendengar ucapan itu.

“Kenapa lagi emang? Lo kayak panik banget tadi?” Tanya Yuta membuat Johnny menjelaskan kejadian tadi.

“Menurut lo hamil apa ngga? Semisal ngga, tapi ini kadar keinginannya udah mulai ditingkat keinginan aneh.” Ucap Johnny membuat Yuta dan Jaehyun saling liat-liatan.

“Anterin gue Yut.” Ucap Johnny membuat Yuta mengangguk sedangkan Jaehyun terkejut. Ini dia lagi lagi ditinggal sendirian?

Bagaimana lagi.. Johnny ke kantor Jaehyun bersama Yuta karena sebelumnya, Johnny mampir ke kantor Yuta dan Johnny menitipkan mobilnya di sana berakhir keduanya ke kantor Jaehyun bersama menggunakan mobil milik Yuta.

“Anjir lah, Dejavu banget gue ditinggal sendirian mimpin rapat.” Ucap Jaehyun sedangkan Johnny sudah tidak peduli, Johnny sudah bersiap-siap lalu berbicara pada Jungwoo serta timnya dan mereka memaklumi, sangat.

Sedangkan Yuta langsung menepuk pundak Jaehyun lalu berkata, “Gapapa je. Udah pengalaman kan? Titip rapat dulu, nanti gue balik lagi. Daah.”

“Sialan lo berdua!” Ucap Jaehyun membuat Yuta tertawa lalu berlari mengikuti Johnny menuju mobil milik Yuta yang terparkir di parkiran kantor Jaehyun.


@roseschies

Ngisengin anak sendiri.

Sesampainya Ten di depan pintu kamar anak pertamanya itu, Ten langsung mengetuk pintu tersebut sambil menunggu sahutan dari sang anak.

“Masuk aja Paa, nggak di kuncii.” Teriak Hendery dari dalam kamar membuat Ten langsung membuka pintu kamar Hendery.

Ten bisa lihat seisi ruang kamar Hendery yang tidak begitu luas juga tidak begitu sempit. Terpenting, rapih dan wangi.

Ten membawa kakinya menuju kasur milik Hendery lalu mendudukkan tubuhnya di sana sambil melihat Hendery yang sedang mengerjakan tugas di laptop miliknya.

“Lagi kerjain tugas Bang?” Tanya Ten membuat Hendery memberhentikan aktifitasnya lalu membalikkan kursinya untuk menjawab pertanyaan Papanya itu.

Hendery mengangguk, “Iya Paa.”

“Papa ganggu nggak?”

“Nggak lahh. Mana pernah Papa gangguu. Papa kenapa? Berantem ya sama Daddy?”

“Huss, kamu nih. Ngga kok, Papa cuma pengen kesini aja.”

Ten menidurkan tubuhnya diatas kasur milik Hendery, “Yaudah kamu lanjut ngerjain tugasnya aja Bang.”

Hendery mengangguk lalu memutarkan kembali kursinya.

“Wangi apa bang ini, kok kayaknya Papa baru nyium yang ini?” Tanya Ten lalu mengambil satu guling untuk ia peluk.

“Ohh, itu kemarin ada diskon spray gitu, enak ngga Pa wanginya??”

“Wangi, tapi kayak bukan kamu deh Bang. Wanginya lumayan manis, biasa kamu sukanya wewangian mirip wangi Daddy.”

“Lagi mau coba wangi lain ajaa sih Pa. Kemarin nemu wangi yang kayak biasa, cuma abisss.”

Ten mengangguk-angguk paham kemudian menatap sekitar kamar milik anak pertamanya itu. Dibanding kamar Haechan, kamar milik Hendery tergolong minimalis. Dekorasi di dalam kamar Hendery lebih sedikit dibanding kamar Haechan.

Kamar milik Hendery juga lebih banyak dihias berbagai macam peralatan gaming dan jenis lain yang Ten tidak paham. Dan ang membedakan lagi, kamar Hendery lebih ke nuansa gelap, kalau Haechan lebih berwarna terang dengan banyak macam dekorasi yang ditempel oleh Haechan.

Belum lagi barang-barang yang disimpan di kamar Haechan lebih beragam dan berwarna. Apalagi untuk wangi, Haechan lebih ikut dengan Ten. Keduanya menyukai wangi manis buah.

“Papa beneran gapapa kan?” Tanya Hendery lagi, dia bingung karena aneh aja tiba-tiba Papanya ini izin mau ke kamarnya lalu hanya tiduran saja sambil memandangi kamarnya.

Ten terkekeh, “Gapapa bangggg. Emang abang maunya Papa kenapa kenapa?”

“Ehh nggak gitu Paa yaampun.”

“Kamu gimana sayang kuliahnya?”

“Berjalan dengan lancar sih Pa.. Baru dua semester juga.”

Ten mengangguk paham.

Ten berdiri dari tidurnya di kasur Hendery lalu mendekat kearah Hendery yang sedang duduk di kursi belajarnya itu. “Tanggal apa nih Bang?”

Ten tak sengaja melihat tanggal yang tertulis di sticky notes dekat laptop milik Hendery.

“Ohh... Itu, tanggal ujian Paa.”

“Ujian akhir semester?”

Hendery mengangguk.

“Loh, kamu cepet banget bang udah mau ganti semester lagi aja.”

“Berarti si Dede juga dikit lagi udah mau kenaikan dong... Yaampun Papa lupa banget.” Lanjut Ten membuat Hendery mengangguk, seingat Hendery tanggal ujiannya tak jauh juga dengan tanggal ujian Adiknya itu.

“Yaudah deh, Papa ke kamar Dede dulu ya Bang. Jangan malem malem tidurnya ya, besok ada kelas?”

Hendery menggeleng, “Ngga Pa, besok aku ngga ada kelas jadi di rumah aja.”

“Yaudah, Papa ke kamar Dede yaa Bang.”

“Iyaa Paa.”

Ten langsung keluar dari kamar Hendery lalu tak lupa ia menutup pintu kamar Hendery kemudian menuju kamar Haechan yang berada di depan kamar Hendery.

Ten mengetuk pintu kamar Haechan kemudian memanggil sang anak, “Dedee, ini Papa.”

“Masuk aja Paaaa.” Teriak Haechan dari dalam membuat Ten langsung masuk ke dalam.

Ten dapat melihat punggung Haechan karena sang anak sedang duduk di meja belajarnya, bahkan Ten bisa lihat ponsel milik Haechan yang ia letakkan di phone holder yang sedang menampilkan wajah seseorang yang sangat Ten kenal. Siapa lagi kalau bukan Mark.

“Loh, lagi telfonan yaa sama Kak Mark?” Tanya Ten setelah mendekat kearah Haechan.

Haechan mengangguk lalu Mark langsung tersenyum setelah sadar ada Ten dibelakang Haechan.

“Haii Om Ten.” Sapa Mark membuat Ten tersenyum.

“Haloo, Mark! Aduh maaf ya Om jadi ganggu nih hehehe.”

Mark terlihat sedikit panik dan tidak enak, “Eh ngga kok Om. Om ngga ganggu hahaha. Ini juga aku cuma lagi ngajarin Haechan aja dia bilang ada yang bingung sama pelajarannya.”

Ten mengangguk kemudian tersenyum mendengarkan Mark yang langsung menjelaskan kepada dirinya, “Aduhh, makasih yaa Mark udah mau bantuin Haechan.”

Mark tersenyum lalu mengangguk.

Ten bisa lihat bahwa lelaki itu juga sepertinya sedang mengisi sesuatu di dalam sebuah buku.. Tetapi Ten tidak tahu, apa itu.

“Mark gimana, sehat?”

“Sehat Om. Om Ten kata Papi lagi sakit ya?? Cepet sembuh Om.”

Ten terkekeh, “Udah baikan kok Mark. Titip salam buat Papimu yaa, Mark.”

Mark mengangguk, “Iya Om, nanti Mark sampaikan ke Papi.”

“Ihh, kok jadi kalian yang ngobrol sihhh.” Haechan berdecak kesal, ini kenapa dia jadi yang dianggurin.

Ten dan Mark tertawa. Ten mengusak rambut milik Haechan, “Ngambek ajaa kamu De. Yaudah gih lanjut belajarnya sama Kak Mark. Papa keluar lagi yaa?”

Haechan mengangguk, “Iya Pa. Papa jangan banyak bergerak, Papa istirahat sanaa banyak banyak!”

Ten terkekeh gemas lalu kembali mengusak rambut milik Haechan, “Iya sayangg. Udah tuh ditunggu Kak Marknya. Mark, Om duluan ya. Makasih ya nak udah mau ajarin Haechan.”

“Iya Om, nggak masalah selama Mark bisa hehehe. Cepet sembuh Om!”

Ten mengangguk lalu meninggalkan Haechan yang langsung memminta Mark mengajarkan dirinya.

Bahkan sebelum Ten benar benar menutup pintunya, Ten dapat mendengar suara Haechan.

“Kakak, coba aku mau liat tracker Kakak. Gimana ngisinya? Itu udah aku buat paling gampang, pokoknya Kakak harus isi supaya Kakak ngerasa lega dan ada tempat buat curahin semuanya ya. Jangan lupa diminum obatnya, nanti next appointment aku temenin lagi ya Kakkk.”

Ten menutup pintu kamar Haechan lalu tersenyum. Anaknya itu, entah harus seperti apa lagi Ten mengucapkan terima kasih karena sudah membantu orang lain.

Ten tidak sadar. Benar, anaknya sudah semakin dewasa.


@roseschies

— Johnten Oneshot AU

2k words.


Ten membuka matanya perlahan, lalu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya Ten duduk untuk merenggangkan tubuhnya.

Ten turun dari kasur yang sebelumnya jadi tempat ia tidur di sana lalu membawa kakinya menuju jendela yang tak jauh dari sana kemudian membuka gorden membuat cahaya pagi hari perlahan masuk menyinari kamarnya itu.

Setelah membuka gorden, Ten kembali menuju kasur untuk membangunkan suaminya yang masih tidur dengan wajah yang sedikit tidak suka karena cahaya yang sedikit menyinari kamar gelap itu.

“Jo, bangun...” Ten menepuk pipi Johnny pelan membuat si pemilik menggumam.

“Hm... Sebentar, lima menit lagi.”

Ten memutarkan bola matanya malas, lima menit bisa jadi satu jam selanjutnya Johnny masih tidur di atas kasur dengan baju yang terbuka memperlihatkan sedikit perutnya itu. Kebiasaan Johnny.

“Jo, bangun, jangan dibiasain lima menit lima menit gitu ah. Ayo mandi terus sarapan bareng sama anak-anak.” Ucap Ten lagi lalu mencubit-cubit kecil lengan berotot milik Johnny.

Johnny sukses membuka matanya perlahan, “Hmm, iyaaa ini aku banguunn aduh sakit yang...”

Johnny terdiam disaat ia tak sengaja melihat kearah Ten.

Saat ini Ten menggunakan celana pendek dengan baju kebesaran bahkan tulang selangka milik Ten terlihat di sana.

Johnny menelan ludahnya pelan-pelan, aduh kenapa harus begini sih pemandangan paginya....

Seingat Johnny semalam Ten tidak menggunakan pakaian ini, kenapa tiba-tiba berubah.

Dan, oh. Ten sangat tau, hal tersebut merupakan kelemahan Johnny. Tetapi mengapa suaminya ini malah sengaja memakai pakaian seperti itu.

Tanpa berfikir lama, Johnny menarik Ten, mengajak Ten untuk kembali tiduran di sebelah dirinya, Johnny memeluk erat tubuh mungil milik Ten, “Kenapa kamu lucu banget sih. Ini juga paha kemana-mana, pundak kamu itu looo bajunya melorot melorot. Kamu mau godain aku ya?”

“Ih Johnny, nggak kok! Semalem tuh panas jadi ya aku ganti celana pendek sama kaosan aja. Kamu tuh otaknya perlu dicuci dulu pagi-pagi udah mesum.” Decak Ten kemudian Ten mencoba untuk melepas pelukan Johnny karena ia ingin mandi.

“Mau kemana sayang? Dingin sini pelukan sama aku aja.” Ucap Johnny lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Ten.

“Mau mandiiiiiii.” Jawab Ten sambil cemberut, bibirnya ia manyun-manyunkan membuat Johnny terkekeh gemas lalu mengecup bibir milik Ten kilat.

“Gemes. Gemes. Semua yang ada di tubuh kamu semuanya gemes.” Ucap Johnny lalu mencubit cepat pipi milik Ten.

Johnny mengelus surai milik Ten pelan lalu menatap netra milik Ten yang terlihat sangat teduh itu, “Kamu gemes banget, makin sayang udah bertahun-tahun bareng juga tetep sayang.”

Ten tersenyum sampai terlihat semburat merah dari pipi milik Ten, “Johnny ih..”

Tennya ini malu, tetapi Johnny tetap tidak peduli, memang benar kok, suaminya ini benar-benar menggemaskan, setiap hari rasanya kadar rasa cinta miliknya terus bertambah, bahkan jika sudah overload, Johnny pun tidak peduli sampai meledak.

Johnny membawa tangannya lalu jempolnya ia gunakan untuk mengelus pipi milik Ten membuat Ten tak sadar menikmati sentuhan Johnny lalu menutup kedua matanya.

Johnny mengecup kedua kelopak mata milik Ten lalu mencium hidung mancung milik Ten tak lupa terakhir Johnny mencium bibir milik Ten.

Johnny membawa tangan satunya untuk menelusup masuk ke dalam baju milik Ten lalu mengelus punggung Ten. Entah, sentuhan itu membuat tubuh Ten semakin memanas, libidonya naik perlahan.

“Jo.... Jangan sekarang.. Nanti ketauan anak anak gimana.” Ucap Ten sambil menahan desahannya, ini terlalu nikmat bagi dirinya, sentuhan itu, Ten mau lagi dan lagi.

Johnny mengelus pipi Ten kembali lalu ia bawa jempol miliknya untuk mengusap bibir milik Ten, “Ngga mungkin sayang, mereka pasti lagi pada tidur apa lagi ini hari minggu. Cepet aja, aku janji pelan pelan kok.”

“Suananya lagi cocok yang, dingiinn. Yuk kita angetin bareng-bareng.” Lanjut Johnny lagi.

“Ih Johnny!”

Johnny terkekeh lalu kembali mencium bibir milik Ten, kali ini ia tambah dengan beberapa lumatan dengan tangan lain miliknya yang tak berhenti mengelus kulit punggung Ten menambah sensasi yang ada di sekitar mereka.


Ten kesal, Johnny bilang ia janji akan bermain pelan pelan kali ini.

Tetapi, apa ini!!!

Seharusnya sejak awal Ten tidak percaya Johnny akan bermain pelan dengan dirinya.

Tetapi, bagaimanapun juga, lain dengan ucapannya, Ten tetap menikmati setiap sentuhan dari Johnny dan hal tersebut benar-benar membuat libido miliknya naik begitu cepat.

Bahkan, Ten saat ini sedang dalam suasana panasnya.

“Jo, pelan-pel-AKH!” Rengek Ten setelah Johnny menghisap kencang-kencang puting milik ten yang sudah tegang sejak tadi.

Setelah merengek, Ten kembali mendesah nikmat akibat permainan Johnny dengan kedua putingnya. Johnny sibuk menghisap dan juga tangannya tak lupa ia pakai untuk memilin dan mengusap puting sebelahnya.

Kepala Ten menengadah akibat terlalu menikmati permainan yang diberikan oleh Johnny pada tubuhnya ini.

Johnny membawa tangan miliknya menuju selatan untuk meremas kedua bongkahan milik Ten.

“Sshh- Jo, please...”

“Eum? Kenapa sayang?” tanya Johnny sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Ten.

Johnny duduk di atas kasur lalu mengangkat tubuh milik Ten untuk ia pangku diatas tubuhnya.

Johnny mengelus surai milik Ten, saat ini keduanya sudah sama sama tidak menggunakan satu helai benang. Pakaian keduanya sudah dilepas sejak tadi, sejak awal permainan. Bahkan, seprei kasur keduanya sudah berantakan. Tak hanya itu, selimut dan bantal sudah berjatuhan.

Padahal, mereka belum sampai permainan puncak.

Sudah Ten bilang, Johnny itu tidak bisa dipercaya, apa itu pelan pelan. Baru begini saja sudah berantakan seperti kapal pecah kasur keduanya.

Johnny kembali mencium bibir milik Ten lalu melumat bibir tersebut, keduanya bermain lidah di sana sampai saliva yang sudah tercampur milik keduanya menetes dari pinggir bibir milik Ten.

Johnny membawa tangannya untuk menahan tubuh Ten sedangkan tangan lainnya ia bawa menuju selatan tubuh Ten, penis milik Ten.

Johnny mengelus pelan penis tersebut yang sudah terlihat tegang sejak tadi.

Ten tersentak lalu mendesah dalam ciumannya seiring dengan Johnny yang semakin memainkan penis miliknya.

Johnny menaikan tempo permainan pada penis milik Ten membuat Ten melepas ciuman panas keduanya, “Johnny, stop. Please, stop.

Kuping milik Johnny seperti disumpal dan ia semakin menaikkan tempo permainannya, “Keluarin sayang, jangan ditahan.”

Ten menengadah, dirinya seperti ingin melepas semuanya. Johnny yang melihat leher mulus milik Ten lalu mencium leher milik Ten dengan tangan miliknya yang tidak berhenti mengocok penis milik Ten.

Ten rasanya seperti dibawa ke langit kesepuluh, permainan Johnny benar-benar gila.

“Jo, aku mau keluar!” Teriak Ten tidak tahan, sampai akhirnya tubuh miliknya bergelinjang, penis miliknya mengeluarkan cairan sperma sampai mengenai perut milik Johnny.

Johnny tersenyum lalu mengelus surai milik Ten lalu mengambil selembar tisu untuk membersihkan sperma milik Ten yang mengenai perut milik Johnny.

“Good Job, cutie pie.”

Setelah dirasa keduanya sudah terlalu lama untuk melakukan pemanasan, Johnny mengangkat pelan tubuh milik Ten sambil mengarahkan penik miliknya yang sudah tegang untuk ia masukkan kedalam lubang milik Ten.

Sebenarnya posisi ini adalah posisi yang Ten inginkan saat ini. Iya, keduanya sudah berunding sebelumnya tadi setelah Ten mengocok penis milik Johnny sambil memanjakan penis milik Johnny.

Setelah Johnny merasa penisnya menemukan lubang milik Ten, perlahan ia menurunkan tubuh Ten supaya penis miliknya semakin masuk kedalam lubang tersebut.

Wajah Ten perlahan terlihat kesakitan, ingatkan Ten bahwa penis milik Johnny tidak kecil.

Johnny memajukan tubuhnya untuk mencium bibir milik Ten sambil pelan-pelan ia menurunkan tubuh mungil milik Ten.

Wait, Jo-” Ucap Ten menahan Johnny, menahan penis milik Johnny di dalam lubang miliknya.

Ten tidak tau ini Johnny rasanya menggila karena penis miliknya terasa di urut oleh dinding lubang miliknya.

“Pelan-pelan.....” Cicit Ten membuat Johnny mengangguk.

Percuma, percuma semua ucapan pelan-pelan Ten rasanya percuma.

Karena selanjutnya, Ten kembali ingat, Johnny yang ia kenal bertahun-tahun, tidak pernah mengenal kata pelan-pelan ketika sedang berhubungan dengan dirinya.

Tetapi lagi, Ten menikmatinya, menikmati setiap detik dimana penis milik Johnny menabrak dinding miliknya.

Ten tidak bisa menahan segala teriakan dari mulutnya, ia sudah kehilangan akal, rasa nikmat ini harus ia salurkan lewat teriakan dan desahan yang bergema di seisi kamar.


Tidak memakan waktu banyak untuk keduanya melakukan hubungan badan di pagi hari, tidak seperti biasanya yang mampu memakan waktu lama. Ten ini masih ingat, ia harus membuat sarapan untuk kedua anaknya yang sudah kelaparan di pagi hari.

Johnny dan Ten masih dalam posisi keduanya sama sama telanjang namun keduanya hanya sedang berpelukan, menikmati waktu setelah melakukan hubungan badan tadi.

Ten melihat kearah jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Sudah jam 8.

“Mandi Jo, anak-anak pasti udah nungguin.” Ucap Ten lalu melepas pelukan diantara keduanya.

“Yuk mandi bareng aja biar cepet.” Saran Johnny membuat Ten langsung menggeleng cepat. Ten itu tau, mandi bareng sama dengan lanjut melakukannya di dalam kamar mandi, yang ada bukan mempercepat tetapi memperlambat semuanya.

Melihat Ten yang langsung lari tanpa busana menuju kamar mandi membuat Johnny terkekeh lalu berteriak, “Pantatmu tuh geal geol gemes.”

“JOHNNY!”

Johnny tertawa sambil membayangkan bagaimana merahnya pipi Ten karena malu diledeki oleh Johnny.


Setelah keduanya selesai mandi dan bersih-bersih Ten langsung membuatkan sarapan sedangkan Johnny mengganti seprei kasurnya lalu membantu menyiapi segala jenis keperluan untuk makan di meja makan kemudian memanggil kedua anaknya di kamar masing-masing yang terletak di lantai dua.

“Bang, Dek, turun sini sarapan dulu. Udah bangun belum sayang?” Panggil Johnny sambil mengetuk pintu kamar milik Hendery dan Haechan bergantian.

Tak lama kemudian pintu kamar keduanya terbuka memperlihatkan Hendery dan Haechan yang sudah rapih wangi, seperti habis mandi.

“Iyaa Pa, habis mandii.” Jawab Haechan membuat Johnny mengangguk.

“Yaudah yuk turun kebawah, Papimu lagi masak tuh tapi kayaknya udah selesai.” Ajak Johnny kemudian Hendery dan Haechan mengekor dibelakang Johnny.

Ternyata benar, sesampainya mereka bertiga di meja makan, semua lauk sudah selesai Ten masak dan tinggal mereka santap bersama.

Johnny langsung duduk di tempatnya begitu juga Ten, Hendery, dan Haechan.

“Makan Papa Papi!” Ucap Hendery dan Haechan secara bersamaan membuat Johnny dan Ten tertawa, kedua anaknya ini kenapa kompak sekali kalau masalah makanan.

“Iya, makan sayang.”

Mereka berempat khidmat menikmati makanan yang Ten masak tadi. Masakan buatan Ten memang tidak ada duanya.

Hendery selalu menjadi orang pertama yang menyelesaikan makanannya itu dan disusul oleh Haechan.

Hendery meneguk air putih dari gelas yang berada di sebelah dirinya.

“Bang Hen, denger gak sih tadi tuh ya pas kita pulang jogging kayak ada orang yang sedang berbuat tidak senonoh.” Ucap Haechan sambil meneguk air putihnya, mengikuti abangnya.

Hendery meletakkan gelasnya lalu kembali menyuap lauk lebih yang ada di piringnya sambil melihat kearah Haechan, mengikuti alur pembicaraan adeknya ini. “Masa sih Dek? Pagi pagi gini? Ih geli banget nggak sih Dek? Siapa emang?”

Haechan menggedikkan bahunya, “Nggak tau siapa. Tapi emang iya tau Bang, terus yaa masa teriak teriak more please more please gitu Bang. Ih geli banget deh Bang.”

Mata milik Hendery melotot mendengarnya, “Ih amit amit deh Dek, semoga kita dijauhkan oleh orang-orang kayak gitu ya Dek.”

Haechan mengangguk setuju lalu menyuap lauk yang ada di piringnya, “Iya Bang.”

Mendengar percakapan diantara kedua anaknya membuat Johnny dan Ten hampir saja tersedak. Keduanya hanya tatap-tatapan berusaha senetral mungkin supaya tidak terlihat mencurigakan dan terlihat panik.

“Yang mereka nggak mungkin denger kan?”

“Nggak kayaknya, ya semoga aja bukan ngomongin kita.”

“Kayaknya bukan.”

Kira-kira seperti itulah percakapan antar mata ketemu mata diantara Johnny dan Ten.

Hendery yang sadar kedua orang tuanya sedang tatap-tatapan seperti mengobrol diantara matanya itu langsung menahan tawanya.

“Pa, besok jadi kan?”

“Hah? Jadi apa?'

“Ih Papa lupa?”

Johnny berfikir sejenak, memang apa yang akan mereka lakukan besok..... Otak milik Johnny sudah stuck karena ia masih panik, takut takut yang kedua anaknya omongin itu tentang Johnny dan Ten tadi pagi. Otaknya tidak bisa bekerja.

“OH! Iya iya jadi kok.”


Pagi di hari minggu kali ini, Hendery dan Haechan sebenarnya sudah ada janjian untuk jogging pagi. Tepat jam setengah delapan kurang, Hendery dan Haechan mengakhiri kegiatan joggingnya itu.

Sewaktu Haechan dan Hendery berjalan melewati kamar kedua orang tuanya, Haechan tidak sengaja mendengar barang jatuh dari sana. Haechan pikir Papa dan Papinya berantem.

Haechan berniat mau mendatangi masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.

Namun, langkahnya seketika berhenti ketika ia mendengar suara yang seharusnya Haechan juga Hendery tidak dengar.

Tubuh Haechan membeku sedangkan Hendery langsung ngedeham, memecah kecangunggan diantara keduanya.

“Ehm... Dek kita mandi aja yuk naik keatas. Yuk yuk.” Ajak Hendery pada Haechan yang masih berdiri diam di sana.

“Eh.. Iya Bang.” Hendery langsung menarik tangan Haechan jauh jauh dari kamar kedua orang tuanya. Haechan sudah legal dan paham tentang hal itu, tetapi tetap saja, mendengar secara langsung membuat Hendery dan Haechan sama sama canggung.


Setelah melihat Haechan sudah kembali ke dalam kamarnya, tersisalah Hendery, Johnny, dan Ten yang masih menonton televisi bersama.

“Pa, Pi, besok besok kalo main pagi pagi, suaranya kecilin ya heheheh. Dadaaahh Pa, Pi. Oh iya! Pake pengaman yaa, papa sama papi mau punya anak lagi emang?” Ucap Hendery setelahnya lelaki itu langsung kabur menuju kamarnya membuat Johnny dan Ten kembali lihat-lihatan.

Keduanya benar-benar malu, ternyata omongan di meja makan itu beneran membicarakan kegiatan mereka tadi pagi.

Entah, bagaimana kedepannya mereka akan menghadapi kedua anaknya, tetapi yang pasti hal tersebut membuat Johnny dan Ten tidak lagi melakukan kegiatan panas mereka di pagi hari.

Rasanya, malu sekali.


@roseschies

― Johnten oneshot AU

IB Song : Solji – You Don't Even Know If It Hurts

1,8k+ Words.


“Ayo Jo! Cepett nanti keburu tutuupppp!” Seru Ten sambil menarik-narik tangan Johnny yang berada dibelakangnya. Sedangkan Johnny hanya nurut dengan Ten sambil terkekeh.

“Pelan-pelan Tennie. Cafenya baru buka gimana bisa mau tutup.” Bagaimana bisa cafe yang baru saja buka jam 10.00 sudah tutup di jam 12.00.

Saat ini Johnny dan Ten ingin melakukan cafe date, berbeda dengan date yang biasa mereka lakukan. Kali ini, date yang akan mereka lakukan yaitu tepatnya di cat cafe, kebetulan tempatnya dekat dengan tempat tinggal Johnny.

Sewaktu Johnny bercerita kalau ada cat cafe yang baru saja dibuka dekat tempatnya, Ten langsung menarik begitu saja tangan Johnny. Bahkan Johnny tidak sempat berganti baju. Ya bagaimana, dirinya juga tidak menyangka Ten akan secepat itu menarik dirinya.

“Yang ini kan Jo?” Tunjuk Ten membaut Johnny mengangguk. Keadaan cafe lumayan ramai dari dugaannya. Biasanya, Ten tidak ingin masuk kedalam tempat yang terlalu ramai. Tetapi, ini berbeda. Tanpa berfikir lama, Ten langsung kembali menarik tangan Johnny masuk ke dalam.

“Selamat datang, sebelumnya apa Masnya sudah reservasi terlebih dahulu?” Tanya seorang pegawai di sana dan di jawab gelengan oleh Ten.

Raut wajah Ten perlahan berubah seiring sang pegawai melanjutkan kalimatnya, “Mohon maaf, tetapi cafe kami hanya menerima pelanggan yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu, Mas.”

Senyuman yang sebelumnya tercetak di wajah Ten langsung menghilang begitu saja. Tangan Ten yang sejak tadi menggenggam tangan Johnny langsung terlepas.

Johnny tersenyum tipis kemudian memajukan dirinya mendekat kearah pegawai cafe ini.

“Mohon maaf, Mas. Sebelumnya kami berdua tidak tau kalau harus melakukan reservasi terlebih dahulu karena memang tidak ada informasinya sama sekali. Apa nggak bisa Mas untuk kami sejam saja tidak jadi masalah bagi kami.” Ucap Johnny sedikit memohon sedangkan Ten masih diam di sebelah Johnny, berharap hal tersebut bisa diterima oleh si pegawai cafe ini.

Si pegawai tersenyum, “Maaf Mas, sudah jadi kebijakan dari atasan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu.”

Mendengar hal tersebut, Ten menarik hoodie yang digunakan Johnny, “Udah Jo, Nggak apa-apa besok besok aja masih bisa kok. Yuk, ke tempat kamu lagi aja.”

Johnny paham, sangat paham. Mulut Ten bisa bilang nggak masalah, tetapi raut wajah Ten berbicara yang lain. Lelaki ini kecewa juga sedih. Johnny tau, pasti sudah banyak sekali bayangan apa yang akan ia lakukan di cat cafe ini di dalam pikiran Ten.

“Maaf ya Mas...” Ucap si pegawai lagi membuat Ten tersenyum lalu mengangguk.

“Nggak apa-apa Mas, makasih ya. Yuk Jo, udah nggak apa-apa besok lagi aja aku masih mau kok.” Ten memeluk lengan Johnny lalu menarik Johnny keluar dari cat cafe tersebut.

Johnny memberhentikan langkahnya membuat Ten bertanya-tanya, “Kenapa Jo?”

Johnny melihat sekitar lalu menemukan satu bangku panjang di pinggir cat cafe tersebut, “Tennie, tunggu sini sebentar, mau?”

“Kamu mau ngapain? Udah Nggak apa-apa Johnny, kita ikutin kebijakan cafenya, ya?”

Johnny tersenyum lalu mengelus lembut surai milik Ten, “Kamu duduk sini dulu sebentar ya sayang?”

Ten mengangguk lalu duduk di sana, sedangkan Johnny berjalan masuk ke dalam cat cafe lagi, entah apa yang akan dilakukan oleh Johnny, Ten pun tidak tau.

Tak lama kemudian, Johnny keluar dari cat cafe tersebut lalu berdiri di depan Ten sambil mengulurkan tangannya kearah Ten, “Yuk?”

“Kamu habis ngapain Jo?” Tanya Ten mendongakkan kepalanya.

“Nggak ngapa-ngapain sayang. Yuk kita pulang.” Ucap Johnny lalu Ten langsung menggenggam tangan Johnny.

Baru saja Johnny dan Ten ingin berjalan menjauh dari cafe tersebut, suara pegawai yang tadi berbincang dengan keduanya langsung terdengar masuk ke kuping keduanya.

“Mas! Mas!”

Johnny dan Ten serempak menghadapkan diri kebelakang, keduanya bisa lihat pegawai cafe tersebut memanggil keduanya membuat keduanya hanya lihat-lihatan namun mereka langsung mendekat kearah pegawai tersebut.

“Mas, tadi kata atasan saya khusus untuk masnya dibolehkan tanpa reservasi, kebetulan hari ini kami juga baru mulai buka, mungkin juga jadi salah satu pembelajaran untuk kami supaya kedepannya lebih jelas mengenai sistem reservasi di cat cafe ini. Silahkan, Mas.” Jelas si pegawai membuat Ten tak bisa lagi menutupi rasa senangnya, ia tersenyum sangat lebar. Sangat senang.

Johnny tersenyum lalu mengangguk dan merangkul Ten sedangkan Ten langsung memeluk pinggang Johnny, keduanya masuk ke dalam cat cafe tersebut.

“Waaaaa! Johnny kucingnya lucu lucu bangettttt.” Seru Ten setelah melihat beberapa kucing yang berjalan kesana kemari, ekornya yang bergerak lucu membuat Ten kegirangan sendiri melihatnya.

“Tennie sayang, kamu mau minum atau makan apa?” Tanya Johnny namun lelaki itu dihiraukan oleh sang kekasih.

“JOHNNYY LUCU BANGEETT ITUUU YANG ITUUUU!” Pekik Ten sambil menunjuk satu kucing yang sedang tiduran membuat perut besarnya terlihat oleh Ten.

“Hai, nama kamu siapa?” Ten menjongkokkan dirinya lalu mengelus kucing yang sejak tadi duduk diam di depan dirinya. Bulunya sangat halus berwarna putih tulang.

“Itu namanya Mochi, Mas.” Jawab si pegawai yang berdiri dekat Ten.

Sedangkan Johnny yang sejak tadi pertanyaannya tidak dijawab oleh Ten hanya bisa menggelengkan kepala lalu memesankan beberapa cemilan dan juga minuman untuk keduanya pada pegawai lain.

“Ini boleh digendong?” Tanya Ten pada pegawai yang sedang berdiri di dekatnya.

Pegawai tersebut menggangguk lalu mengambil kucing bernama mochi tersebut lalu memberikan mochi pada Ten.

“Hai Mochi, kamu lucu banget. Bulumu halus, kamu haruuummm.” Ucap Ten mengajak obrol kucing tersebut.

“Sama kayak kamu, lucu dan harum.” Sambar Johnny lalu mengusak surai milik Ten.

“Ish kamu nih Jo. Mochi, kenalin ini Johnny. Dia raksasa tapi jangan takut, dia baik kok hehehe.” Tak lupa juga Ten memperkenalkan teman barunya ini pada kekasihnya.

Johnny terkekeh, ternyata memang tidak salah ia sedikit memohon lebih kepada si pegawai untuk memberikan kesempatan bagi keduanya di sini, walau hanya satu jam saja.

Johnny sejak tadi hanya duduk, ia memang tidak terlalu suka kucing, berbeda dengan Ten yang sangat sangat menyukai kucing. Sejak awal, kekasihnya itu berlarian kesana kemari, mencari kucing lucu lainnya lalu menggendong kucing-kucing itu dan tak lupa ia kenalkan pada Johnny.

Johnny rasanya ingin menggigit Ten sekarang juga, kekasihnya ini sangat menggemaskan.

Sepertinya energi Ten sudah mulai habis, lelaki itu akhirnya duduk tepat di depan Johnny.

“Johnny.”

“Hm? Kenapa sayang? Kok udahan?”

“Terima kasih ya?”

“Untuk?”

“Ya.... Untuk semuanya, terima kasih.”

Johnny tersenyum lalu mengangguk.

“Johnny.”

“Iya sayang?”

“Love you.” Ucap Ten lalu berdiri dari tempatnya, lari menjauh dari Johnny dan mendekatkan diri kearah kucing-kucing yang sedang bermain.

Johnny terkekeh sendirian, ya tuhan, kekasihnya itu, luar biasa menggemaskan.

I love you too, Tennie.

Johnny membuka matanya lalu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.

Setelah dirasa pemandangannya lebih baik, Johnny mendudukkan dirinya di atas kasur lalu terdiam.

Johnny tersenyum lalu mengusap air matanya yang ternyata menetes entah sejak kapan.

Johnny sadar, kejadian tersebut hanyalah sebuah mimpi. Bolehkan Johnny sedikit berharap, ia terus tidur supaya cerita dirinya dan Ten tidak berhenti sampai situ saja.

Egois. Egois sekali, Johnny Suh.


“Oi Jo!” Terdengar suara seseorang yang sangat Johnny kenal memanggil dirinya. Yuta, teman dekatnya.

“Yut! Gue cariin daritadi, kirain gue salah cafe.” Ucap Johnny sesampainya ia di meja dimana Yuta sudah duduk bersama Taeyong dan Taeil. Mereka adalah teman satu kampus Johnny dulu.

“Lo yang kayak orang ilang adanya Jo. Udah gitu cuma celingak celinguk di depan.” Timpal Taeyong membuat Yuta dan Taeil setuju.

“Sini duduk Jo, lo mau pesen apa?” Ucap Taeil menepuk tempat duduk di sebelahnya yang kosong lalu memberikan buku menu pada Johnny.

“Lo pada udah pesen?” tanya Johnny sambil membulak-balikkan buku menu tersebut.

“Belom.”

“Lah, gue kira udah. Yaudah ini pesennya barengan aja, gue yang bayar deh sekalian.” Ucap Johnny lalu memberikan buku menu pada teman-temannya terlebih dahulu.

Yuta, Taeyong, dan Taeil saling memandang lalu bersorak, “Weh serius Jo? Kesambet apa lo?”

“Lagi baik nih gue, cepetan nanti gue pesenin.”

“Lo udah ganteng, tajir, baik hati dan tidak sombong kenapa masih jomblo aja dah Jo.” Ucapan yang keluar dari mulut Yuta membuat Taeyong menginjak kaki Yuta yang berada di samping dirinya, bahkan Taeil memberi tatapan mengisyaratkan sesuatu pada Yuta membuat Yuta berdeham.

“Ah iya. thanks ya Jo! Sehat-sehat lah lo.” Lanjut Yuta membuat Johnny tertawa.

“Iya udah pesen sana pesen.”

Lumayan memakan waktu lama untuk keempatnya menghabiskan waktu bersama di cafe itu. Suasana cafe yang sepi pun rasanya ramai hanya diisi oleh suara mereka berempat yang terus-terusan tertawa.

Satupun pegawai tidak ada yang berani menyuruh mereka untuk keluar. Ya bagaimana, mereka sudah menjadi pelanggang tetap dan tidak masalah bagi para pegawai di sini untuk mereka berempat meramaikan cafe ini. Toh, mereka nggak membuat kericuhan sama sekali hanya ramai saja.

“Lo udah bahagia bahagia aja nih setelah kejadian yang lalu.” Ucap Taeil kemudian menepuk pundak Johnny. Mereka tau, kejadian yang lalu bagi Johnny merupakan kejadian yang rasanya Johnny tidak ingin rasakan seumur hidupnya.

Johnny tertawa, “Hahaha iya nih, mau gimanapun gue juga ngga boleh sedih terus-terusan lah.”

Tetapi, ia bohong.

Ia bohong jika dirinya sudah baik baik saja bahkan setelah satu tahun terlewati.

Bohong jika dirinya sudah tidak dihantui oleh kejadian satu tahun lalu.

Bohong jika ia tidak merindukkan lelaki mungil yang selalu mengisi kekosongan dalam hidupnya.

Tidak ada yang mengetahui tentang rasa sakitnya.

Ia rasakan semua untuk dirinya. Hanya untuk dirinya. Ia membiarkan orang lain tau, bahwa dirinya sudah jauh lebih baik. Pada kenyataannya, tidak ada yang berubah.


Sore ini, Johnny memilih untuk lari sore mengitari kompleknya. Sudah lama sekali ia tidak lari sore semenjak dirinya sibuk dengan pekerjaannya.

Mumpung libur, Johnny pikir ini waktunya ia mengisi hari hanya untuk dirinya, memanjakan dirinya dengan cara berolahraga.

Sudah satu putaran Johnny lewati, entah kakinya tiba-tiba membawa dirinya menuju satu tempat yang sebenarnya Johnny hindari.

Rumah Ten yang dulu.

Johnny berhenti tepat di depan rumah kosong itu, hanya memandang rumah tersebut.

Johnny ingat, sangat ingat dalam pikirannya.

Dulu, ia sangat sering bermain dengan Ten di sini, ia ingat dulu ia sering berdua dengan Ten di teras rumah Ten hanya memandangi langit di sore hari sambil bercerita di mana Ten menidurkan kepalanya di paha milik Johnny dan tangan Johnny yang tak berhenti mengelus surai milik ten.

Dan sekarang di sini Johnny, memandang langit yang sama seperti dulu, namun hanya sendirian, tanpa Ten di sisinya.

Tak ingin berlarut dalam kesedihannya lagi, Johnny kembali jalan untuk mengitari komplek lagi.

Namun, dirinya kembali berhenti ketika netranya melihat seseorang yang sangat ia kenal baru saja keluar dari sebuah mobil yang tak jauh dari tempat dimana ia berdiri.

Di sana Ten berdiri sambil membenarkan pakaiannya lalu menutup pintu mobil.

Tubuh Johnny membeku ketika netra miliknya bertemu dengan netra milik Ten.

Rasanya Johnny ingin lari dan memeluk tubuh Ten, tetapi kakinya terasa begitu berat.

Semakin berat disaat ada seorang lelaki yang merangkul tubuh Ten dan membawa bayi dalam gendongannya lalu mencium pucuk kepala Ten.

Johnny tersenyum dari jauh, Ten yang masih memandangi Johnny sadar Johnny tersenyum kearahnya, Ten menganggukkan diri seperti mengisyaratkan, kamu juga harus bahagia, Johnny. Meskipun bukan sama aku. Maaf untuk semuanya.

Johnny memang bodoh, dirinya menunggu, menunggu cintanya kembali padanya. Padahal, dirinya tau betul, sangat tau, yang ia tunggu, tak akan mungkin kembali lagi padanya.

Lelaki mungilnya itu sudah bahagia dengan lelaki lain, bukan dirinya.

Sedangkan disini, dirinya masih terus terbayang dengan kenangan yang seperti menabrak pikiran Johnny untuk terus masuk dan meninggalkan bekas rasa sakit yang entah sampai kapan akan hilang.


@roseschies

🌸

“Hen?” Panggil Dejun disebrang sana setelah Hendery menerima panggilan dari Dejun.

“Masuk Jun, sorry ya gue tadi dipanggil lagi sama papa gue.” Ucap Hendery kemudian duduk di kasurnya lalu menyenderkan badannya supaya lebih nyaman.

Dejun mengangguk lalu diam sibuk melihat kearah komputernya karena Hendery bisa lihat cahaya terang yang terpancar dari komputer milik Dejun di sana.

“Oh iya, coba lo buka websitenya.” Ucap Hendery, untung dia gak lupa niat mereka video call itu apa.

Dejun kembali mengangguk lalu mengetikkan website daftar ujian.

Sejun kemudian membalikkan kameranya membuat Hendery dapat melihat halaman utama website.

“Pencet yang kanan atas itu Jun. Terus lo sign up, masuk aja sesuai di sana.”

Dejun mengangguk lalu memencet sign up.

Namun, terlihat di sana tulisannya gagal.

“Begitu Hen keluarnya, daritadi. Gak mungkin overload kan jam segini?”

“Kayaknya lagi error atau maintenance deh websitenya.”

Dejun membalikkan kembali kameranya membuat Hendery saat ini bisa melihat wajah cemberut Dejun yang jarang sekali Hendery lihat.

Habis, biasanya Hendery cuma bisa liat wajah Dejun yang cuka lurus lurus saja.

“Gimana ya....”

Dejun masih mengotak-atik sambil mencari berita sedangkan Hendery diam sambil berfikir.

“Jun,”

“Apa?”

“Gue bantuin mau? Gue yang sign up dan daftarin, semisal boleh nanti lo kirim aja data data lo. Tapi ini sih kalo lo mau aja..” Tawar Hendery membuat Dejun berfikir sejenak.

Dejun akhirnya mengangguk menerima tawaran Hendery, lagi juga Dejun percaya Hendery tidak akan aneh aneh dengan data data miliknya, kan?

“Boleh, tapi ngerepotin lo ga Hen?”

Hendery menggeleng, “Ga kok, santai aja nanti gue coba terus. Lo cukup nikmatin weekend lo pergi besok, daftar ujian lo aman sama gue.”

“Thanks ya Hen.”

“Iya Jun, santai aja nanti kirim ke imess gue ya.”

Dejun mengangguk.

Hening. Keduanya hanya diam tanpa suara.

Oh, ada suara typing keyboard Dejun. Hendery rasanya seperti sedang menonton tayangan asmr keyboard atau study vlog. Tapi bedanya ini private study vlog.

Entah antara Dejun lupa kalau mereka masih video call atau memang keduanya yang tidak ada niat untuk mematikan video call tersebut.

“Jun.” Panggil Hendery tiba-tiba membuat Dejun terkejut mendengar suara lelaki.

Dejun ternyata lupa, video call mereka masih tersambung.

“Loh, gue pikir udah lo matiin?” Ucap Dejun membuat Hendery menggaruk pelipisnya, dia malah nungguin Dejun yang mematikan sambungan telepon mereka.

“Belom, gue pikir lo mau matiin. Takutnya masih ada butuh bantuan jadi belom gue matiin.”

“Lo ga tidur Jun? Bukannya besok lo pergi?” Lanjut Hendery.

Selanjutnya Dejun langsung menguao membuat Hendery terkekeh kecil dilanjut dengan Dejun yang langsung malu karena ketauan menahan ngantuknya.

“Tidur lo.”

Dejun mengangguk, “Oke, thanks ya Hen. Sorry sekali lagi ngerepotin.”

Hendery tersenyum kecil, “Ga kok Jun.”

“Duluan Hen.”

“Iya Jun, gue belakangan.”

Mendengar ucapan Hendery, Dejun langsung menahan tangannya yang baru saja ingin mematikan sambungan telepon mereka.

“Bentar, gue penasaran kenapa setiap gue bilang duluan selalu lo jawab belakangan?”

Hendery tertawa, “Iya kan lo bilang lo duluan, ya gue belakangan. Gitu pokoknya.”

Dejun menggaruk kepalanya, bingung.

“Yaudah ga usah lo pikirin juga Jun.”

“Gapaham gue, yaudah dul— Gue matiin ya Hen.”

Hendery tertawa mendengar Dejun yang berhenti mengucapkan duluan pada dirinya karena tau apa jawaban yang akan diberikan oleh Hendery untuk Dejun.

“Iya Jun.”

Akhirnya sambungan mereka benar benar mati, sedangkan Dejun masih berusaha mencari titik tentang 'belakangan' Hendery.

Sampai akhirnya Dejun tertawa sendiri setelah paham apa yang dimaksud Duluan dan Belakangan itu.


@roseschies