roseschies

He's the one who understand me.

Hendery meletakkan ponselnya kemudian berbicara pada dua temannya melalui discord. “Bentar ya.”

Hendery melepas headset yang ia gunakan lalu berdiri dari kursi gaming miliknya kemudian keluar dari kamarnya. Ia membawa kakinya menuju kamar sang adik yang berada tepat di depan kamarnya.

Hendery paham, adiknya ini belum tidur dan sangat bisa Hendery pastikan, tidak bisa tidur.

Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Hendery membuka pelan pintu kamar adiknya. Hendery bisa melihat gumpalan di kasur yang berarti adiknya sedang tiduran dibawah selimut.

“Gak bisa tidur ya?” Tanya Hendery langsung sambil duduk di pinggir kasur Haechan.

“Hm.” Jawab Haechan singkat.

“Gue temenin.” Ucap Hendery kemudian duduk di sebelah kasur milik Haechan lalu mengambil ponselnya yang tadi sempat ia kantongi.

Tanpa menunggu jawaban Haechan, Hendery sudah siap sedia menemani adiknya tanpa bersuara lebih lanjut. Hendery hanya fokus pada ponselnya, membuka twitter atau sekedar membaca gosip panas di tengah malam.

Haechan menutup matanya perlahan. Ia sedikit merasa tenang sekarang.

“Bang.”

“Hm, apa?”

“Gak jadi.”

“Yaudah.”

Hening.

“Bang.”

“Apa?

“Gapapa, manggil aja.”

“Oke.”

Hening, lagi.

“Ba—”

“Tidur, de.”

Haechan menutup mulutnya kemudian kembali menutup matanya, ia harus tidur.


taking care of yourself is the main thing, he said.

Setelah Hendery menjemput adiknya di sekolah, Hendery kemudian langsung menjalankan motornya kembali menuju ke kediaman Nakamoto untuk menjemput Dejun.

Hari ini Hendery sudah seperti tukang antar jemput bagi semua orang. Tapi tidak masalah kok, Hendery melakukannya dengan senang hati.

Tidak butuh waktu lama untuk Hendery sampai di depan kediaman Nakomoto untuk menjemput Dejun.

Hendery turun dari motornya untuk memencet bel yang ada di dekat pagar kemudian menunggu Dejun sambil menyenderkan tubuhnya pada motor miliknya.

Tak lama kemudian Dejun keluar dari rumah kemudian menutup pagar membuat Hendery berdiri dari sandarannya dan membuka helm yang sebelumnya masih bertengger di kepalanya, bersiap untuk menyapa Dejun.

“Hai.” Sapa Hendery singkat pada Dejun membuat Dejun menyunggingkan senyuman kecil untuk Hendery kemudian ikut melambaikan tangan.

“Hai, sorry ya gue ngerepotin lo.” Ucap Dejun pada Hendery, ini merupakan ucapan terpanjang Dejun untuk Hendery pada percakapan hari ini.

Hendery menggeleng, “Eh, Nggak kok santai aja lagi gue udah kelar kelas.”

Hendery memberikan satu buah helm untuk Dejun pakai sedangkan dirinya kembali memakai helm miliknya lalu menaiki motornya.

Tidak ada adegan romantis seperti memasangkan helm, Dejun pun selesai memakai helm.

“Gue naik ya.” Izin Dejun pada Hendery.

“Pegang gue aja.” Ucap Hendery sambil menepuk pundaknya agar Dejun bisa memegang pundaknya sebagai tumpuan.

Dikarenakan motor yang dimiliki Hendery merupakan motor tinggi membuat si penumpang agak susah untuk menaiki motor tersebut.

Alih-alih memegang pundak Hendery, Dejun akhirnya memegang badan belakang motor untuk menjadi tumpuan dirinya naik keatas motor meninggalkan Hendery yang canggung karena sebelumnya dengan kepedean yang ada pada dirinya, Hendery malah menawarkan pundaknya untuk menjadi tumpuan Dejun.

“Udah?” Tanya Hendery lagi untuk memastikan si penumpang sudah dengan nyaman duduk dibelakang.

Dejun mengangguk. Untungnya Hendery melihat hal tersebut dari kaca spion motor.

Hendery langsung menjalankan motornya pelan menuju suatu Mall yang tak jauh dari daerahnya.


“Biasanya buku yang ini agak akurat, Jun.” Tunjuk Hendery pada salah satu buku untuk mengikuti tes masuk ke kampus.

“Tapi semua buku beginian gak ada yang akurat sih.” Tambah Hendery lagi membuat Dejun mengangguk kemudian mengambil buku yang sebelumnya ditunjuk Hendery sebagai rekomendasi lalu melihat-lihat buku tersebut.

“Lo butuh berapa buku?”

“Gak usah banyak banyak sih kata gue, satu atau dua juga cukup. Soalnya lebih ke biasain buat kerjain soal aja. Semua buku isinya sama aja Jun.” Tambah Hendery lagi memberi saran untuk Dejun yang bahkan belum sempat untuk menyuarakan suaranya.

Dejun mengangguk setuju pada saran Hendery, “Satu aja.”

“Ok. Jadi lo mau ambil yang mana?” Hendery berdiri di samping Dejun, menunggu Dejun sambil mengetuk-ngetuk jarinya diatas tumpukan buku.

Sedangkan Dejun fokus mencari buku yang menurutnya menarik untuk ia kerjakan nantinya. Terutama dalam hal warna. Dejun akan semangat mengerjakan buku tersebut jika warna bukunya memiliki warna terang.

Agak lama Dejun menimang buku tersebut. Biasanya Hendery akan mengomel jika memilih buku saja lama sekali —Terutama adiknya, karena adiknya agak pemilih seperti Papanya. Tetapi kali ini, Hendery ikut asik dalam kegiatan memilih buku meskipun Dejun hanya diam dan membulak-balikkan buku tersebut di depan Hendery.

“Ini aja deh.” Final Dejun yang akhirnya memilih buku rekomendasi Hendery.

Siapa tau rekomendasi dari yang sudah berpengalaman sedikit berguna, pikir Dejun.

“Ok. Lo ada yang mau dicari lagi?” Tanya Hendery pada Dejun membuat Dejun menggeleng.

“Ini aja.”

“Yaudah, yuk ke kasir.”

Akhirnya keduanya berjalan menuju kasir untuk membayar buku yang dibeli oleh Dejun sedangkan Hendery menunggu diluar barisan sambil melihat-lihat buku diantara tumpukan buku yang ada.

Ah, tidak ada satupun buku yang menarik perhatian Hendery sekarang.

“Yuk” Ucap Dejun yang ternyata sudah selesai membayar buku dan akhirnya Hendery menyelesaikan kegiatan melihat-lihat buku lalu mengangguk.

Keduanya keluar dari toko buku tersebut. “Lo mau makan dulu nggak Jun?”

“Nggak usah, gue baru makan.” Bohong, Dejun belum makan padahal. Tapi ia takut merepoti Hendery karena sudah menunggu dirinya terlalu lama hanya mencari dan memilih buku yang padahal hanya satu itu.

“Beli makanan ringan gitu?” Tawaran Hendery membuat Dejun berpikir.

Dejun akhirnya mengangguk, “Boleh deh.”

Pikirnya Dejun merasa tidak enak jika pulang dengan tangan kosong akhirnya Dejun memilih membelikan makanan ringan untuk Adiknya dan kedua omnya.

“Lo nggak beli?” Tanya Hendery yang ternyata ikut dalam barisan, berdiri disebelah Dejun.

Dejun menggeleng.

Hendery menghela nafas kemudian setelah Dejun selesai dengan transaksinya, giliran Hendery yang membeli dan Dejun gantian menunggu Hendery.

“Nih.” Hendery memberikan satu bungkus yang berisi dua buah roti pada Dejun membuat Dejun bingung, dirinya kan sudah beli.

“Buat lo.” Ucap Hendery masih dengan tangan yang memberikan bungkusan tersebut untuk Dejun.

“Nggak usah Hen.”

“Udah gue bayar, nggak bisa dibalikin. Nih, ambil aja.”

“Aduh, ngerepotin banget Hen.”

“Lo boleh peduli sama orang lain tapi jangan lupa, lo juga perlu peduli sama diri lo sendiri Jun.”

Ucapan Hendery membuat Dejun terdiam. Jarang sekali ada orang yang bisa berbicara realita seperti itu pada Dejun.

Dejun mengangguk lalu mengambil bungkusan tersebut. “Makasih Hen.”

“Sama-sama. Dan satu lagi, gue nggak pernah ngerasa di repotin lo kok. Lo kan temen gue, dari awal gue dengan senang hati nawarin lo kalau ada sesuatu yang butuh bantuan bilang aja ke gue. Okay?”

Dejun mengangguk lagi. “Thanks.”

“Yaudah yuk pulang.”

Keduanya berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor Hendery lalu pulang ke rumah masing-masing tanpa mampir ke tempat lain.

Dan lagi-lagi, itu semua selalu menjadi Dejun yang menolak tawaran Hendery.

Meskipun hanya beberapa jam Hendery bersama Dejun. Namun lelaki itu bisa menyimpulkan apa yang dimaksud Yuta sebelumnya.


@roseschies

Cause you are my only brother.

Biasanya kalau aku lagi nggak bisa tidur pasti kakak selalu bela-belain dateng ke rumah nenteng-nenteng gitar terus cuma koloran doang abis itu nemenin aku di kamar bareng abang.

Sekarang, cuma abang yang nemenin di kamar.

Kenapa sih kak, apa semuanya nggak bisa balik seperti dulu lagi?

Kakak yang selalu iseng tiba-tiba ngechat nanyain hal aneh.

Kakak yang selalu ngegitar di depan aku.

Kakak yang selalu bawelin aku setiap mau ujian karena terlalu banyak belajar.

Kenapa sih kak?

Sekarang semuanya kerasa kakak itu seseorang yang lain.

“De? Heh bengong lagi lo. Kenapa sih? Gak usah sok sok an bilang gapapa gapapa. Lo tuh sama kayak Papa, udah sampe begini pasti ada yang dipikirin kan?” Hendery menepuk pundak Haechan membuat Haechan yang sedang bengong membuat banyak alur dan mengingat cerita manis di kepalanya sukses terbangun di dunia realita.

Ahh... cuma ada abang sekarang yang nemenin di depan aku, kak.

Haechan menggeleng, “Gapapa. Alay lo ah bang.”

Hendery menatap mata Haechan tajam kemudian memegang kedua pundak milik adiknya itu. “De, please. Daddy dan Papa dari dulu selalu ngajarin kita kalau punya emosi jangan dipendam untuk diri sendiri. Sesuatu yang dipendem itu cuma berujung sakit yang dirasain.”

“Bang, gue gapapa serius.”

Hendery menghela nafasnya kesal. Ia juga tidak bisa terus memaksa adiknya untuk bercerita pada dirinya. Namun dirinya takut, semakin adiknya memikirkan hal tersebut, akan berdampak buruk bagi kesehatan adiknya.

“Hhh, yaudah. Gue nggak maksa lo buat cerita. Tapi inget, kalo lo nggak berani cerita ke gue, papa, atau daddy lo masih punya momogi— maksud gue renjun dan jeno. Gue cuma ngingetin, semua yang dipendem nggak baik de.” Tanpa memaksa adiknya untuk bercerita, sekali lagi Hendery hanya mengingatkan adiknya.

Haechan mengangguk paham.

Maaf bang. Tapi aku nggak mau lihat abang berantem sama kak Mark. Cukup hubungan pertemanan aku sama kak Mark yang renggang aja. Hubungan abang sama kak Mark, jangan.

“Iya abang bawel banget ih.”

Hendery mencubit pucuk hidung milik Haechan, gemas sekali dia dengan sang adik. “Lo tuh susah dibilangin. Jual aja kali ya di tokopedia siapa tau laku.”

Haechan melempar bantal dan tepat sasaran mengenai wajah Hendery membuat Hendery mengambil bantal lainnya untuk ia serang kembali pada adiknya.

Keduanya tertawa geli, kekanakan-kanakan sekali cara bercanda mereka.

Kayaknya, mood lo udah balik ya de. Lo itu sumber kebahagiaan gue de dari dulu. Liat lo lesu kayak tadi rasanya dunia gue ikutan runtuh. Ikatan batin sesama mantan gangsing gue sama lo kayaknya kuat banget. Dari dulu, lo yang selalu ngikut gue. Gue nangis lo ikutan, gue ketawa lo ikutan. Berlaku sampe sekarang ternyata de. Lo sedih gue ngerasa hampa. Lo bahagia gue rasanya ikut tersenyum.

De, apapun yang lagi lo hadapi sekarang. Abang harap, semuanya akan baik-baik saja kedepannya ya. Tetap jadi sumber kebahagiaan keluarga ya de?


@roseschies

Barbeque time! !(2k+ words)!

Menjelang sore, kediaman keluarga Johnny mulai disibuki oleh penghuni rumah yang bulak-balik naik turun untuk meletakkan belanjaan yang baru saja mereka beli tadi untuk persiapan barbeque malam ini.

Untungnya, kemarin Ten sudah meminta Johnny untuk menyiapkan peralatan untuk barbeque di rooftop maka dari itu keempat lelaki tersebut tidak usah capek-capek naik turun lagi untuk mengambil peralatan lainnya karena semua sudah siap di rooftop berkat Johnny.

“Dede, pizzanya udah sampe di depan. Tolong diambil ya nak.” Ucap Johnny yang sedang mengecek kembali peralatan untuk barbeque nanti setelah mendengar notifikasi yang datang dari ponselnya memberitahu bahwa pesanan pizzanya sudah sampai.

Sedangkan Haechan yang sedang mengajak Louis memandangi pemandangan sore hari langsung mengiyakan suruhan Daddynya dan turun untuk mengambil pizzanya bersama Louis.

“Aduh dede, pelan-pelan turun tangganya nak. Itu si louis gendongnya yang bener masa kakinya gondol-gondol gituu.” Ucap Ten melihat anak bungsunya buru-buru turun tangga dari rooftop langsung memarahi si bungsu karena takut Haechan jatuh di tangga.

Haechan terkekeh, dia terlalu semangat untuk mengambil pesanan pizza yang dipesan oleh Daddynya sampai tidak sadar membawa louis sembarangan dan tidak melihat Ten yang sedang di dapur membersihkan pisau-pisau dan alat makan yang akan digunakan nantinya. “Iya papaa, maaf soalnya buru-buru mau ambil pizza di depan.”

“Iya hati-hati nak. Abang pizzanya nggak akan pergi kok nungguin dede pasti di depan.”

Baru saja Haechan mau membuka pintu, Hendery sudah duluan buka pintu tersebut dari luar sambil membawa bungkusan pizza. “Nih pizzanya.”

“Ih udah buru-buru juga aku turun.” Haechan mendecak kemudian mengambil pizzanya dari tangan Hendery.

“Makasih kek woi udah diambilin juga.”

“Hehehe, iyaa maaf. Makasih babaangg, nih gratis louis dari dede.” Haechan kemudian memindahkan louis dari gendongannya ke gendongan Hendery kemudian lari menuju rooftop untuk menaruh pizzanya di atas.

Hendery menggeleng-geleng, “Dede kenapa sih pa?”

Ten terkekeh, “Dia lagi seneng kali. Biarin aja bang. Oh iya, kamu nggak bantu daddy di atas?”

“Nungguin om Yuta sama om Jaehyun dateng aja. Aku sebagai penerima tamu hari ini.”

“Ah, ada yang ditunggu kali.” Goda Ten membuat Hendery mengelak.

“Dih, apaasih paa. Mana ada, ngada-ngada aja Papa. Ada yang mau aku bantu nggak pa?”

Ten memberikan piring pada Hendery, “Nih tolong cuci sekali lagi ya bang.”

Hendery mengangguk kemudian membantu Ten mencuci peralatan lainnya sampai dirasa cukup bersih untuk digunakan orang lain.

TingTong

“Bang, tolong liat di depan ada siapa, sini Papa lanjutin cucinya.” Pinta Ten kemudian mengambil piring yang sedang Hendery cuci kemudian Hendery mencuci tangannya lalu berlari menuju pagar, menjemput tamunya.

Tak lama kemudian.

“Masuk om.” Ucap Hendery mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah.

“Tennie!” Sapa Taeyong yang melihat Ten sedang berada di dapur langsung lari menuju Ten sedangkan Jaehyun melambaikan tangan dan tersenyum menyapa Ten.

“Daddymu mana Hen? Kak, Dek salam dulu sama om Ten.” Tanya Jaehyun pada Hendery lalu menyuruh kedua anaknya untuk salam dulu dengan tuan rumah.

Mark dan Jeno menghampiri Ten yang sudah berbicang dengan Taeyong bahkan Taeyong sudah menggunakan sarung tangan untuk mencuci piring bermaksud membantu Ten.

“Daddy udah diatas, mau dianter Hendery keatas om?” Tawar Hendery.

Jaehyun menggeleng, “Nggak usah om naik sendiri aja. Makasih ya Hen. Kak, Dek, Pi Ayah naik dulu ya.”

Taeyong, Mark, dan Jeno menjawab serempak. “Iya Yah.”

Giliran Jeno dan Mark yang mendekat kearah Hendery.

“Bang Hen, Haechan mana?” Tanya Jeno pada Hendery.

“Diatas sama Daddy, naik aja No.” Ucap Hendery.

“Haechan mulu kamu tuh.” Sela Mark membuat Jeno menatap Mark sinis.

“Idih, bilang aja kalo mau ikut main sama Haechan. Sewot mulu kakak mah.”

Mark menggeleng, “Mana ada. Yaudah sana main.”

Jeno mengangguk kemudian izin pada Hendery untuk naik duluan keatas menghampiri Haechan.

“Lo ngapain dah di bawah?” Tanya Mark.

“Nungguin keluarga lo sama keluarga om Yuta. Tadi sih gue lagi bantuin Papa nyuci piring, tapi sekarang udah ada om Taeyong. Kalo gue ikut bantuin kesannya ngerecokin. Eh, lo mau minum apa dulu nggak?”

Mark menggeleng, “Nggak usah bro santai aja. Eh iya, kata lo ponakan om Yuta temen main kita? Maksudnya gimana?”

“Iya, ponakan om Yuta seumuran sama kita. Dia juga mau masuk kampus kita semester depan, niatnya masuk kesos. Satu fakultas sama si Lucas.”

“Seumuran sama kita tapi baru masuk kampus semester depan, gimana maksudnya? gapyear dia?”

Hendery menggidikkan bahunya, ia juga tidak tau. Mau banyak tanyapun, setiap ditanya Dejun hanya menjawab itu-itu saja. Jadi agak canggung kalau Hendery tanya lebih jauh lagi.

“Siapa namanya?”

“De-”

TingTong

“Abang tolong itu dibukain pintunya. Om Yuta kayaknya udah sampe.” Teriak Ten meminta tolong pada Hendery membuat Hendery memberhentikan ucapannya pada Mark kemudian menyuruh Mark menunggu dirinya sedangkan Hendery berlari menuju pagar, membukakan pintu untuk tamu terakhirnya.

Tak lama kemudian.

“Ayo masuk om Winwin.” Ucap Hendery menyuruh Winwin masuk.

“Lah, om nggak boleh masuk nih?” Tanya Yuta sambil cemberut. Biasalah Yuta dan Hendery sejak dulu memang suka begini. Tapi, ini pemandangan yang aneh bagi dua member baru Nakamoto, Dejun dan Jaemin.

“Nggak. Om diluar aja dadah~” Goda Hendery kemudian mengajak Winwin, Dejun, dan Jaemin masuk. Yuta akhirnya masuk juga kok sambil tertawa.

“Tennie, Taeyongie~” Sapa Winwin langsung pada Taeyong dan Ten yang sedang berbincang sambil mencuci.

“Hai Win! Sini-sini. Eh ada Dejun sama Jaemin. Haii~” Sapa Ten pada kedua anak tersebut, keduanya mengintil Winwin mengikut menghampiri Ten dan Taeyong sambil berjalan malu-malu.

Sedangkan Hendery dicegat oleh Yuta, “Daddymu mana?”

“Diatas di rooftop. Naik aja sana om hus hus hussss.” Usir Hendery mendorong Yuta menuju tangga. Berbeda sewaktu dengan Jaehyun, Hendery menawarkan Jaehyun untuk diantar. Sedangkan dengan Yuta, Hendery malah menyuruh omnya itu untuk naik sendiri.

Akhirnya Yuta naik keatas lalu Hendery yang baru saja mau menghampiri Mark sudah dipanggil oleh Papanya.

“Abang, nih ajak Jaemin sama Dejun main yaa? Atau kalau mau langsung keatas, boleh kok.” Ucap Ten kemudian Hendery mengangguk patuh.

“Mas sama Nana bareng sama Hendery ya?” Dejun dan Jaemin hanya mengangguk patuh mendengar ucapan Winwin. Sedangkan Winwin ikut membantu Ten dan Taeyong membawa peralatan yang sudah dicuci menuju rooftop.

“Sini Jun, Na.” Hendery mengajak Dejun dan Jaemin menghampiri Mark yang masih duduk diam di ruang tamu.

“Kenalin, ini Mark. Anak pertamanya om Jaehyun, adeknya Mark udah diatas sama Haechan.” Hendery memperkenalkan Mark sedangkan Mark yang dikenalin oleh Hendery langsung berdiri dan menjabat tangan Dejun maupun Jaemin.

“Dejun. Ini adek gue namanya Jaemin.” Ucap Dejun singkat sambil memperkenalkan adiknya pada Mark.

“Eh, langsung naik aja yuk? Sekalian ngumpul sama yang lain. Lagi juga udah pada kumpul.” Ajak Hendery memotong suasana aneh diantara mereka berempat kemudian diangguki oleh ketiganya lalu langsung naik ke rooftop dimana sudah ramai sekali orang di sana. Lebih ke ramai teriakan Haechan dan Jeno, sih.

Hendery nggak ngebayangin kalau udah ada Renjun di sini. Adiknya itu, semakin ramai pasti. Bisa-bisa Jaemin yang baru kenal Haechan langsung sweat drops melihatnya.

Haechan yang melihat Jaemin dibelakang Abangnya langsung memanggil Jaemin. “Nana! Sini Naaa, jangan gabung mereka.”

“Yeee ni anak satuu emang.”

“Mas Dejun, Nananya aku pinjem boleh ya?” Izin Haechan sesampainya di depan Jaemin dan Dejun sambil meminta izin pada Dejun. Dejun mengangguk tersenyum kemudian melepas kaitan tangannya dengan si adik.

“Yuk Na.” Haechan mengaitkan tangannya di tangan Jaemin kemudian mengajak Jaemin ketempat dimana Jeno sudah duduk dan menunggu temannya itu.

“Kita di sini aja ya?” Ucap Hendery kemudian mengajak Mark dan Dejun duduk di sebuah karpet yang tak jauh dari orang tua.

Yuta yang melihat Dejun sudah duduk manis langsung angkat bicara. “Nah nih, anaknya udah naik.”

Ucapan Yuta membuat Jaehyun menengok kearah sumber yang dimaksud oleh Yuta kemudian tersenyum menatap Dejun. “Hai, Dejun ya?”

Dejun mengangguk kemudian menjabat tangan Jaehyun. “Iya om.”

“Saya Jaehyun, suaminya om Taeyong, Ayahnya Mark sama Jeno. Udah ketemu om Taeyong?”

Dejun mengangguk, “Udah om tadi di bawah.”

“Yaudah, semoga menikmati hari ini ya Dejun.” Ucap Jaehyun membuat Dejun mengangguk kemudian tersenyum.

“Itu tadi Ayah gue. Nah itu yang disana yang lagi ngobrol sama adek lo, itu adek gue namanya Jeno.” Ucap Mark tiba-tiba sambil menunjuk adiknya yang sedang mengobrol dengan Jaemin sedangkan Dejun mengangguk paham.

Tidak ada balasan lebih lanjut membuat Mark menatap Hendery seperti memberi sinyal dirinya harus apa sedangkan Hendery hanya menggedikkan bahunya.

“Jun, lo suka main game gitu nggak?” Tanya Hendery pada Dejun.

Dejun mengangguk, “Sekarang udah nggak sih.”

“Biasanya main apa?”

“Piano tiles.”

Mark dan Hendery hampir saja tertawa, maksudnya kan game online. Siapa tau bisa dia ajak main bareng sama Lucas nantinya.

Dan, biasanya game online jadi jembatan komunikasi antar orang baru.

“Nggak main game online Jun?” Tanya Hendery lagi.

“Oh, game online. Main kok. Cuma gak aktif banget.”

Hendery mengangguk, “Valorant? Main nggak?”

Dejun menggeleng.

“Yah, kirain main. Biar bisa mabar sama kita nanti.”

“Lagi gak ada waktu.”

Mark dan Hendery yang mendengar ucapan Dejun agak merasa tertohok. Karena, senggak ada waktunya mereka, pasti mereka masih bisa menyisihkan waktu untuk mabar.

“Sibuk ngurusin tes ya Jun?” Lagi lagi Hendery yang pertama bertanya.

Dan lagi-lagi Dejun hanya mengangguk.

“Lo kalo butuh bantuan, ngomong aja sama gue nanti gue bantuin.” Ucap Hendery lagi.

“Iya, makasih.”

Hendery menggaruk tengkuknya. Dia jadi mati gaya sendiri, sedangkan Mark hanya bisa menahan tawanya, ingin sekali dirinya menertawakan Hendery memecahkan Dejun si es berjalan ini.

Setelah selesai berbincang-bincang, akhirnya semua masakan sudah siap dan akhirnya mereka semua mendekat untuk siap membakar dan makan apa yang sudah siap dimakan.


Tak terasa waktu sudah berlalu begitu lama. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lampu tumblr milik Haechan sudah dinyalahkan oleh si pemilik yang sebelumnya sudah ia letakannya dari tiang ke tiang untuk menyinari rooftop yang sedikit gelap.

“Bentar gue mau ambil minum. Lo berdua mau minum nggak Na, No?” Tanya Haechan sambil berdiri.

Jaemin dan Jeno mengangguk.

“Gue nitip cemilan dong chan. Ambil yang banyak deh buat kita.” Ucap Jeno membuat Haechan mengangguk.

“Ada lagi nggak?”

Keduanya menggeleng.

Haechan menuju tempat cemilan kemudian menuju tempat minuman untuk mengambil minuman untuk dirinya, Jeno, dan Jaemin.

“Kak.” Sapa Haechan melihat Mark yang sedang menuangkan minuman untuk dirinya.

Mark yang mendengar suara tersebut berhenti menuang minuman kemudian melihat kearah Haechan kemudian lanjut menuang minumannya.

“Kak Mark.” Sapa Haechan lagi.

Suara tersebut entah membuat Mark lagi-lagi melihat kearah si sumber suara kemudian langsung melengos menatap tempat minumnya lalu mengambil minumannya. “Hm.”

“K-”

Baru saja Haechan mau membuka topik pembicaraan dengan Mark, Mark sudah meninggalkan Haechan yang terdiam sambil memegang tempat minumnya.

Haechan pelan-pelan menuangkan minumannya, pikirannya kembali terbayang melihat tatapan yang diberikan Mark tadi.

Tatapan tidak suka.

Memang Haechan salah apa?

Tidak, Haechan tidak ada salah apa-apa.

“Aduh-”

Akibat terlalu larut dalam pikirannya, minuman yang baru saja ia tuang tumpah sampai ketangannya.

Haechan menggelengkan kepalanya sendiri mencoba untuk menghilangkan pikirannya kemudian lanjut menuang minuman lalu kembali pada tempatnya, Jeno dan Jaemin sudah menunggunya. Lebih tepatnya menunggu minuman yang diambil oleh Haechan.

“Nih.” Ucap Haechan sambil memberikan dua buah gelas pada Jeno dan Jaemin kemudian Haechan kembali duduk diantara Jeno dan Jaemin.

Ia kembali terdiam dan hanya menyimak perbincangan antara Jeno dan Jaemin yang sedang membahas sebuah game yang biasa mereka mainkan bersama dengan Renjun.

Jeno yang tak sengaja melihat Haechan hanya diam saja langsung menepuk pundak Haechan, “Heh diem aja lo kesambet setan baru tau rasa malem-malem ini.”

“Kenapa Chan?” Kali ini Jaemin ikut angkat berbicara bertanya pada Haechan. Karena tidak biasanya Haechan menjadi diam dan tidak langsung menyambar pembicaraan antara dirinya dengan Jeno.

Haechan menggeleng kemudian menyesap minumannya lalu tersenyum. “Gapapa, lagi ngobrolin apa dah?”

Jeno yang lagi-lagi melihat tingkah aneh Haechan, langsung mengucapkan satu kalimat tembakan. “Kakak ya?”

Jaemin bingung menatap Haechan dan Jeno secara bergantian. Ditambah Setelah ucapan Jeno, Haechan hanya terdiam.

“Sebenernya gue juga bingung deh sama Kakak. Semenjak kuliah, dia jadi sensi terus kalo gue ngebahas lo. Gak jelas banget tuh orang, kayak abis kesambet setan nggak tau dimana.”

Haechan mengangguk, ia juga merasa kok semenjak Mark kuliah semakin renggang pertemanan dirinya dengan Mark.

“Yaudahlah, nggak usah bahas. Itu si Nana ampe cengo gitu.” Ucap Haechan tertawa melihat Jaemin yang bengong karena bingung, apa yang sedang mereka bahas di sini.

“Nanti lo juga tau Na. Biasalah remaja banyak drama.” Ucap Jeno membuat Jaemin mengangguk paham. Pahamin aja lah meskipun nggak paham.

Akhirnya, Haechan membuka camilan untuk dimakan ketiganya kemudian lanjut berbincang entah apapun itu dan tak jauh dari game dan guru killer yang ada di sekolah mereka. Seperti mewanti-wanti Jaemin untuk baik-baikin guru ini biar nilainya nggak terancam.


@roseschies

Nakamoto new member?

“Dede udah belom?” Tanya Hendery yang sedang mengintip dari pintu kamar Haechan. Haechan menggeleng kemudian menyaut. “Belom tunggu lagi nyari kaos kaki.”

Yaelah de, pake sendal aja. Kan kerumah om yutanya jalan kaki ngapain pake sepatu udah kayak mau perjalanan jauh aja rapih-rapih.”

“Ish, yaudaahh.”

“HP-mu jangan ditinggal itu,” Ucap Hendery sambil menunjuk ponsel milik Haechan yang masih tergeletak di meja belajar Haechan membuat Haechan berlari kembali menuju meja belajarnya untuk mengambil ponsel miliknya.

“Udah, ayo bang.” Haechan kemudian menutup pintunya dan menarik tangan Hendery lalu keduanya turun ke lantai satu mendatangi orang tuanya yang sudah menunggu di depan pintu rumah.

“Pintunya di kunci bang jangan lupa.” Pinta Ten dari luar pagar kemudian setelah Hendery dan Haechan keluar dari dalam rumah, Hendery mengunci pintu utama lalu mengantongi kuncinya di saku hoodie miliknya.

Akhirnya, keempatnya berjalan menuju gang D di mana rumah Yuta berada dimana hanya berbeda 2 gang dari rumah Johnny.

Setelah sampai di depan rumah Yuta, Johnny memencet bel dan menunggu si pemilik rumah keluar untuk membukakan pintu.

“Loh, udah sampe aja. Masuk sini masuk.” Winwin keluar dari rumahnya kemudian membukakan gembok pager untuk mempersilahkan keluarga Johnny masuk ke dalam rumahnya.

Setelah terbuka, Johnny dan Ten bertos ria sedangkan Hendery dan Haechan tak lupa bersalaman dengan Winwin.

Winwin mengajak keempatnya masuk ke dalam rumahnya dimana Yuta sudah duduk dengan manis di ruang tamu seperti sudah menunggu kedatangan keluarga Johnny.

Melihat Johnny masuk ke dalam rumah, Yuta berdiri lalu berpelukan dengan Johnny dan selanjutnya bersalaman dengan Ten dan kedua anaknya itu.

“Sebentar ya,” Ucap Winwin kemudian izin ke dalam untuk memanggil dua member lainnya yang sedang berada di kamar masing-masing sedangkan Yuta mempersilahkan Johnny dan keluarganya untuk duduk dan mereka berbincar sebentar sambil menunggu Winwin.

Pertama Winwin mengetuk pintu si anak pertama untuk memanggil anak tersebut dan mengajaknya bertemu dan berkenalan dengan keluarga Johnny.

“Mas?” Winwin menyembulkan kepalanya melihat kedalam kamar setelah mendengar sahutan dari si anak dari dalam kamarnya.

“Kenapa om?”

“Turun dulu yuk? Ada yang mau ketemu nih.”

Mendengar hal tersebut, lelaki tersebut mengangguk kemudian memakai jaket lalu keluar dari kamarnya mengintil Winwin yang sedang mengetuk kamar anak kedua.

Setelah mendengar sahutan dari dalam, Winwin membuka pintu kemudian menyapa si anak kedua. “Dek, turun dulu yuk, ada tamu nih.”

“Ohh, iya om. Tunggu sebentar.” Ucapnya kemudian mematikan komputernya lalu mengikuti Winwin.

“Lagi ngapain dek?” Tanya si anak pertama pada adiknya itu.

“Belajar, hari senin aku udah masuk kata om Winwin.” Ucap si adik membuat kakaknya yang mendengar mengangguk kemudian tersenyum lalu merangkul adiknya itu.

Setelah ketiganya sampai di bawah, Winwin menginterupsi sebentar pembicaraan antara Johnny dan Yuta membuat semua orang yang berada di ruang tamu menengok kearah Winwin.

Hendery dan Haechan saling lihat-lihatan bertanya satu sama lain siapa yang berada di belakang Winwin.

“Nah itu, sini Mas, Dek. Duduk sini sebelah om.” Ucap Yuta kemudian menyuruh kedua anak itu duduk di sebelahnya sedangkan Winwin ikut duduk di sebelah Ten, tempat duduk yang masih kosong.

Haechan menarik baju Ten kemudian berbisik sesuatu tepat di kuping Ten. “Pa, itu siapa?”

Ten yang mendengar ucapan Haechan tersenyum, “Coba tanya dong sama om Yuta om Winwin. Itu siapa?”

Haechan menggaruk tengkuknya kemudian langsung bertanya pada Yuta. “Siapa om? Kok nggak pernah liat?”

Yuta terkekeh kemudian memperkenalkan dua member baru yang tinggal di rumahnya ini.

Pertama, Yuta menepuk pundak si anak pertama yang sedang duduk manis di sebelahnya. “Kenalin, ini namanya Dejun. Oh iya, seumuran juga sama Hendery.”

Dejun yang disebut namanya langsung tersenyum kearah keluarga Johnny.

Kemudian Yuta lanjut menepuk pundak si anak kedua yang duduk berdempet disebelah kakanya itu. “Kalau yang ini, seumuran sama Haechan. Kenalin, namanya Jaemin. Mereka berdua ponakan om.”

Hendery dan Haechan yang mendengar Yuta akhirnya mengangguk kemudian melemparkan senyuman masing-masing kepada si dua anak tersebut.

“Mas, Dek kenalin yang ini namanya om Johnny, sebelahnya om Johnny namanya om Ten. Nah, Yang di situ, itu anaknya om Johnny sama om Ten. Yang pakai hoodie namanya Hendery, seumuran sama Mas Dejun. Sebelahnya Hendery namanya Haechan, seumuran sama Nana.”

Mendengar Yuta memperkenalkan keluarga Johnny, akhirnya keempat orang tersebut bersapa dengan Dejun dan Jaemin.

“Nana nanti senin masuk sekolah Haechan lohh.” Ucap Winwin membuat Haechan terkejut lalu menatap Jaemin berbinar. Ia senang jika mendapat teman baru, bosen karena temannya hanya Jeno dan Renjun terus menerus.

“Hai, Na.” Sapa Haechan membuat Jaemin tersenyum lalu menyapa Haechan kembali.

“Mas Dejun juga bakal satu kampus loh sama Abang.” Ucap Yuta membuat Winwin dan Ten yang mendengar ikut terkejut. Pasalnya, yang Ten tau dari cerita Winwin, anak pertamanya ini masih susah dibujuk untuk lanjut sekolah. Tetapi mendengar ucapan Yuta membuat Ten terkejut bahkan Winwin yang ternyata belum tau ikutan terkejut.

“Loh?”

“Anaknya akhirnya mau lanjut sekolah di kampus Hendery. Lagi nyiapin berkas-berkas buat tes nanti.” Lanjut Yuta menjelaskan pada Winwin dan Ten yang sepertinya bingung membuat keduanya mengangguk paham.

“Niatnya mau pilih jurusan apa Jun?” Tanya Hendery yang dipastikan untuk Dejun langsung.

Dejun yang ditanya langsung menggaruk tengkuknya, ia bingung. “Belum nentuin sih. Tapi kayaknya bakal masuk Kesejahteraan Sosial.”

“Wah, gue punya temen deket tuh anak kesos. Namanya Lucas.” Jawab Hendery antusias setelah mendengar jawaban Dejun. Sedangkan Dejun hanya terkekeh dan tidak ada obrolan lebih lanjut diantara keduanya.

“Nana, mau main sama Haechan dulu?” Tanya Winwin pada Jaemin membuat Jaemin mengangguk.

Akhirnya Haechan berdiri dan mengikuti Jaemin entah si anak itu mengajak Haechan kemana yang pasti bukan langsung ke kamar Jaemin karena Jaemin merasa kamarnya masih privacy miliknya.

Melihat Jaemin dan Haechan yang ternyata sudah mulai bisa mengakrabkan satu sama lain. Hendery tersenyum miris, dirinya masih dilanda kecanggungan antara dirinya dengan Dejun.

Sebenarnya Hendery sangat bisa mencairkan es yang ada diantara dirinya dan orang baru. Tetapi melihat Dejun yang cuma iya-iya saja menjawab pertanyaan Winwin dan tidak lanjut berbicara atau sekedar bertanya balik membuat Hendery ikut canggung.

“Selain kesos lo mau masuk mana Jun?” Tanya Hendery sedangkan Dejun hanya mengangkat kedua bahunya, ia tidak tahu.

Hendery mengangguk-angguk kemudian Dejun kembali diam, begitu juga dengan Hendery.

Ini dia nggak ada niat mau kepoin gue apa, Batin Hendery.

“Diajak ngobrol Dejunnya bang.” Pinta Ten melihat Hendery dan Dejun yang hanya saling diam.

Papanya nggak tau aja, di sini Hendery susah payah ngajak Dejun ngobrol tapi ujungnya cuma Hendery yang berbicara sedangkan hanya sepatah dua kata yang keluar dari mulut Dejun.

Rasanya Hendery mau tenggelam saja atau ikut bergabung dengan Haechan dan Jaemin yang sepertinya sedang seru membahas entah apa itu karena daritadi terdengar teriakan antusias Haechan.

“Jun, kalo ada yang mau ditanyain tentang kampus, tanyain aja ya ke gue. Sebisa mungkin gue jawab kok.” Ucap Hendery lagi.

Dan lagi-lagi, Dejun hanya mengangguk dan menyaut, “Iya.”


“Kok lo ngenalin Dejun sama Jaemin sebagai keponakan lo deh? Bukannya?” Tanya Johnny setelah sisa mereka berempat di ruang tamu. Ya meskipun Dejun sama Hendery masih deket dari ruang tamu, tapi dipastikan dari jarak segini keduanya tidak tau apa yang sedang dibicarakan oleh keempat orang ini.

“Ya masa gue harus ngomong yang benernya. Belom waktunya Jo, nanti aja. Lo nggak liat, mereka juga masih manggil gue sama Winwin pake panggilan om.”

Johnny mengangguk, “Iya juga sih. Tapi lo udah jelasin kan ke mereka?”

Yuta mengangguk mengiyakan pertanyaan Johnny. Yuta dan Winwin sudah membicarakan banyak hal kok ke Dejun dan Jaemin. Cuma, keduanya masih paham, susah untuk langsung bisa menerima Yuta dan Winwin sesuai apa yang diharapkan oleh keduanya dari Dejun dan Jaemin. Yang terpenting bagi Yuta dan Winwin sekarang hanya Dejun dan Jaemin yang mau dan merasa nyaman tinggal di rumah Yuta dan Winwin, sisanya biar mengikuti proses.

Meskipun Yuta dan Winwin tau, prosesnya akan sangat sulit mengingat Dejun dan Jaemin yang masih tertutup dengan Yuta Winwin, terlebih Dejun. Dejun itu terlalu misterius bagi Yuta dan Winwin berbeda dengan Jaemin.


@roseschies.

Gibahan malam

Setelah melakukan kegiatan bersama kedua anaknya, Johnny dan Ten masuk ke dalam kamar diikuti oleh kedua anaknya yang juga masuk ke dalam kamar masing-masing yang berada di lantai dua.

Johnny dan Ten memang sudah pindah dari apartemen lamanya dan memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang berada di satu komplek dengan kedua sahabatnya Jaehyun dan Yuta.

“Jo, kamu udah denger belum?” Tanya Ten membuka percakapan antara keduanya setelah selesai memakai skincare di wajah dan tak lupa bodycare di tubuhnya kemudian menuju kasur untuk ikut menidurkan tubuh di samping suaminya.

Johnny yang sejak tadi sedang memainkan ponselnya langsung mematikan ponsel miliknya kemudian bergeleng dan menatap suami mungil yang berada di sampingnya itu. “Tentang apa? Kamu nih habis gosip ya sama Winwin tadi.”

Ten terkekeh. “Bukan gosip Jo. Ini fakta, tadi Winwin juga sedikit curhat ke aku.”

“Kamu tau kan ya mereka belum punya anak sampai sekarang.”

Johnny mengangguk. Memang diantara mereka hanya Yuta dan Winwin yang memang belum memiliki omongan. Beberapa kali mereka ingin mengadopsi anak tetapi belum menemukan yang pas dan sesuai dengan mereka. Alhasil, selalu mengundur dan tidak jadi mengadopsi.

“Jadi, beberapa bulan lalu, Om dan Tantenya Yuta meninggal. Mereka ini punya dua anak. Awalnya Yuta pikir bakal ada yang mau ngurus mereka. Tapi ternyata beberapa minggu kemudian Winwin sempet nyinggung ini dan mereka berdua jawab belum ada dan berniat mereka ke panti aja.”

Ten bercerita sesuai apa yang Winwin ceritakan pada dirinya tadi. Bahkan, Ten masih ingat segimana sedihnya Winwin melihat dua anak tersebut.

“Ya gimana sih Jo. Winwin nggak dikaruniai seorang anak tiba-tiba denger kayak gitu. Sedih banget Winwin. Akhirnya coba buat ngobrol sama Yuta dan mereka sepakat buat bawa dua anak ini ke rumah mereka. Meskipun nggak langsung ngadopsi mereka sebagai anak. Tapi mereka cuma mau, kedua anak ini dapat tempat yang layak.”

“Belum lagi, mereka jadi putus sekolah. Beberapa bulan ini Winwin coba atur banyak cara biar kedua anak ini tetep lanjut sekolah. Ya meskipun si kakaknya telat satu tahun dan adeknya harus masuk sekolah dipertengahan sih. Oh, anak yang pertama seumuran abang tau Jo. Anak yang kedua seumuran dede.”

Johnny yang mendengar ucapan tersebut sedikit tersentak. Ini selengket inikah pertemanan mereka sampe-sampe anaknya seumuran semua....

“Loh, satu sekolah dong mereka? Atau nggak?”

“Winwin bilang yang anak kedua emang dimasukin ke sekolah dede sih. Senin besok baru mulai masuk dan langsung ikut pembelajaran.”

Johnny ngangguk paham, “Terus yang pertama?”

“Nah ini Jo. Dia kan kuliah ya, jadi ya mau nggak mau nunggu tes nanti. Tadinya aku saranin buat masuk ke kampus bareng abang. Eh, ternyata Winwin emang udah saranin gitu ke Yuta. Tapi, anaknya agak susah Jo. Anaknya segaenakan itu. Dia malah mau ngajarin adeknya aja. Dia nggak mau ngerepotin Yuta sama Winwin.”

“Anaknya padahal pinter banget Jo. Sayang, dia pasti punya cita-cita tinggi. Tapi setelah kedua orangtuanya meninggal dia milih buat jagain adeknya aja. Gitu sih kata Winwin. Gimana ya Jo.. Aku kasian liat Winwin kebingungan sendiri karena anaknya kekeuh.”

Johnny mengelus surai milik Ten kemudian menatap Ten. “Kita juga nggak bisa bantu banyak sayang. Bagaimanapun, semua keinginan kan harus dari anaknya sendiri. Mau dipaksa, kalau emang anaknya nggak mau gimana? Tapi aku yakin, Yuta sama Winwin pasti punya cara lain yang memang sama sama mengenakan buat kedua belah pihak. Kita tunggu aja ya?”

Ten mengangguk paham dan setuju dengan ucapan suaminya.

“Mereka kapan kerumah Yuta?”

“Udah di rumah Yuta dari tiga hari lalu karena senin depan kan anak keduanya udah harus masuk sekolah.”

Johnny mengangguk. “Hari sabtu kamu ada jadwal motret nggak?”

Ten menggeleng, “Nggak. Kenapa?”

“Kesana mau? Sekalian biar Haechan ketemu temennya dan siapa tau Hendery bisa sedikit bisa bikin hati anak pertamanya tergerak buat kuliah.”

Ten mengangguk. “Boleh. Aku nanti bilang Winwin deh.”

“Yaudah. Haechan sama Hendery nggak perlu dikasih tau, biar mereka tau langsung aja nanti.”

“Iya.”

“Eh Jo. Kamu liat deh chat abang tadi ke aku.”

Ten mengambil ponselnya yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya lalu membuka ruang obrolan dirinya bersama Hendery.

“Nih, liat.”

Johnny kemudian mengambil ponsel Ten lalu membaca pelan-pelan isi obrolan Ten dengan anak pertamanya itu.

Johnny senyum-senyum sendiri dibuatnya.

“Si abang dari dulu nggak berubah. Emang bener dia punya cara sendiri gimana khawatirin dan jaga adeknya.”

“Makanya, gimana aku nggak hangat liat abang kayak gitu. Aku mau marah juga gimana. Toh, yang penting abang paham. Kan?”

Johnny mengangguk lalu menaruh ponsel milik Ten kemudian memeluk tubuh suami mungilnya itu. “Iya bener sayang. Duh, jadi makin sayang aku sama kamu. Gimana ya.”

Akibat ucapan Johnny yang spontan, pipi Ten mulai memerah dan memanas. “Ih, kamu nih udah malem loh gombal aja.”

“Loh, ya nggak gombaaaall.”

“Udah tua ah nggak cocok!”

“Nggak cocok juga kamu masih merah merah gini pipinya.”

“Ih Jo!”

Johnny mencubit pipi Ten gemas. “Gemes banget kamu. Udah yuk tidur?”

Ten mengangguk kemudian menarik selimut lalu menyelimuti Johnny juga dirinya. “Good night, Jo.”

“Good night, sayang.”


johnten mpreg universe


Pagi-pagi buta Ten mengerang menahan sakit yang ada di perutnya sambil memegang perut miliknya.

Semakin dekat dengan tanggal semakin sering juga Ten mendapatkan kontraksi palsu. Sebagai pasangan yang sigap, Johnny pun sudah mengingat beberapa hal yang harus ia lakukan seperti saat dulu ia lakukan pada waktu itu Ten hamil Hendery.

“Sini, nafas pelan-pelan sayang.” Ucap Johnny sambil membantu suami mungilnya mengatur nafas.

Untungnya, kali ini Hendery masih tertidur pulas di kamarnya dan tidak akan menganggu atau memperparah keadaan Ten maupun Johnny. Meskipun Johnny beberapa kali memberitahu pada Hendery bahwa Papanya ini baik-baik saja namun bagaimanapun insting seorang anak apalagi masih balita seperti Hendery masih sangat takut bahwa Papanya kenapa-kenapa. Belum lagi, Hendery belum banyak tau mengenai apa yang sedang Ten rasakan.

Terkadang agar sang anak tidak khawatir dengan Ten, Ten harus diam diam menahan rasa sakitnya meskipun Johnny selalu mewanti-wanti agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Johnny hanya takut, terjadi hal hal yang tidak diinginkan entah untuk sang anak dan juga Ten nantinya.

“Jo, nanti kalau udah masuk ruang bersaling tolong jelasin ke Dery ya? Jangan sampe dia buat kekacauan di rumah sakit karena ngira aku kenapa-kenapa.” Ucap Ten membuat Johnny mengangguk paham.

Johnny juga sudah meminta tolong pada Yuta maupun Jaehyun sama seperti waktu Ten melahirkan Hendery bedanya saat ini kedua temannya itu harus siap kuping mendengar pertanyaan yang terucap dari bibir Hendery mengenai Papanya itu.

“Nanti aku temenin kamu di dalem, Hendery biar aku titip sama Yuta dan Jaehyun di luar.”

Ten menggeleng, “Kasihan Yuta sama Jaehyun udah sering direpotin tentang Hendery, Jo. Aku gapapa sendirian aja ya kamu temenin Hendery di dalem. Nanti atau nggak aku minta temenin Taeyong sama Winwin. Ya?”

Sekarang Johnny yang menggeleng lalu memegang kedua pundak Ten menatap kedua mata milik Ten, “Sayang, aku nggak akan biarin kamu berjuang di dalem sana sendiri. Biarin aku temenin kamu di dalam ya? Nanti aku jelasin ke Hendery biar anaknya paham, ya?”

Ten mendengus lalu mengangguk, mau bagaimanapun benar kata Johnny. Dia masih butuh semangat dari suaminya itu.

Johnny mengelus kening milik Ten kemudian menyuruh Ten untuk tidur kembali.

“Jo, aku boleh tidur bareng Dery?” Tanya Ten namun Johnny langsung mengangguk tanpa bertanya lebih lagi.

Ten bangun dari tidurnya kemudian menuju kamar Hendery yang berada di sebelah kamarnya lalu ikut tidur di samping Hendery yang masih menutup matanya, menikmati mimpi indah yang menghampiri dirinya.

Ten menaikan selimut hingga menutup setengah tubuh Hendery lalu memeluk tubuh milik Hendery sambil mengelus surai milik Hendery dan tak lupa ia mengecup kening milik Hendery.

“Abang, terima kasih ya udah mau terima calon adik abang bahkan disaat adiknya belum memunculkan diri di dunia yang sama dengan abang. Abang, Papa sama Daddy nggak akan pernah lupain abang sebagai anak pertama kami. Papa dan Daddy nggak akan pernah bosen bilang terima kasih sama abang udah jadi anak yang sangat baik. Tapi, Papa sama Daddy minta satu hal, tolong selalu jaga adik abang nanti ya? Mungkin nanti ada suatu saat Papa dan Daddy lebih memerhatikan adik abang, jangan pernah lupa kalau kami selalu memerhatikan abang sesuai dengan porsinya. Adik abang, memang lebih butuh perhatian kami begitu pula perhatian dari abangnya. Abang, maukan jadi abang yang disayang sama adiknya? Abang maukan membuat adik abang bangga punya abang seperti abang?” Ten bermonolog sambil mengelus surai milik Hendery dan diam-diam menahan air matanya turun dari matanya itu.

Ten bahkan bingung, kenapa tiba-tiba ia mengucapkan serentetan kata itu untuk Hendery. Namun, Ten masih melanjutkan kalimat-kalimat lainnya yang dipastikan Hendery tidak mendengar ucapan tersebut.

“Abang, Papa sayang sama abang pun Daddy sayang sama abang. Oh, calon adik abang juga sayang sama abang karena selama dia di perut, abang nggak lupa terus mengelus calon adik. Abang—”

Belum melanjutkan kalimatnya, Ten sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Akhirnya Ten menahan kalimat yang ingin ia keluarkan lalu mengatur nafasnya sebelum ia semakin menangis tertahan.

“Abang, jangan cepet besar ya?”

Ten menatap wajah damai milik Hendery kemudian mengecup kening, kedua pipi, hingga hidung milik Hendery.

“Rasanya kalau kamu udah jadi abang, kamu cepet banget besarnya nak. Papa egois masih mau liat kamu kecil yang merengek-rengek minta ini itu. Papa nggak bisa bayangin nanti kalau adiknya udah lahir.” Ten menangis lagi sambil memeluk erat Hendery.

Akibat pergerakan Ten, bibir Hendery tiba-tiba melengkung kebawah dengan mata yang terbuka pelan-pelan.

Hampir saja Hendery ingin protes pada Papanya namun melihat mata Papanya basah Hendery mengurung niatnya.

“Papa?”

Ten tersentak kemudian menghapus jejak air matanya lalu tersenyum pada Hendery, “Eh? Kok bangun sayang?”

“Papa meluk Dery kenceng banget, Dery sampe kaget terus bangun dari mimpi. Mimpinya lagi enak banget ih Pap— Papa kenapa nangiss?”

Mendengar cerita Hendery, bukan semakin menghapus jejak air matanya Ten malah semakin menangis membayangkan nanti jika adiknya sudah lahir, apa Hendery masih bisa bercerita seperti ini pada dirinya?

Ten menggeleng.

“Puk puk puk. Papa jangan nangis nanti adik di dalam perut Papa ikut sedih kalau Papa nangis. Puk puk puk.”

Hendery menepuk lengan Ten sambil memeluk setengah tubuh Ten. Anaknya ini, tidak tau apa sekuat apa Ten menahan tangisannya yang ingin membucah.

“Papa bobo sama Dery ya?” tanya Hendery membuat Ten mengangguk.

“Daddy bobo sama hantuuu hihihihihih.” Ejek Hendery membuat Ten tertawa disela-sela tangisannya.

Ten menghapus jejak air matanya lalu menatap Hendery tak lupa mencubit hidung milik Hendery, “Emang Dery nggak kasihan sama Daddy ditemenin hantu bobonya?”

Hendery menggeleng kemudian tersenyum, “Enggak! Soalnya Daddy bisa memberantas semua hantu di sini. Hantunya takut sama Daddy, badan Daddy besar!”

Ten tertawa mendengar ucapan Hendery kemudian lanjut menepuk-nepuk Hendery mengajak anaknya itu kembali tidur dan menjemput mimpi masing-masing, “Bobo lagi ya?”

Hendery mengangguk, “Iya bobo sama Papa!” kemudian memeluk tubuh Ten dan menutup matanya.

Johnny yang sebenarnya dari tadi menguping dari belakang pintu sudah menangis bombay mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Ten dan juga Hendery. Bahkan ia melupakan fakta bahwa ia diejek oleh anaknya karena terlalu larut dengan ucapan Ten pada anak pertamanya itu.

“Jelek banget gue sampe nangis gini. Tuhan, Ten terbuat dari apa sih manis banget gini.” Johnny bermonolog kemudian kembali menuju kasurnya sambil menghapus jejak air matanya.

Johnny menghadapkan tubuhnya menghadap ke kamar Hendery, seakan-akan mereka tidur bertiga dalam satu kasur.

“Kalau tadi kamu yang berterima-kasih sama Hendery. Aku di sini yang akan terus berterima-kasih sama kamu, Ten. Anak kita bisa jadi kayak gini karena didikan kamu. Terima kasih ya nggak pernah menyerah buat didik anak kita. Terima kasih ya nggak pernah nyerah sama hal apapun. Membesarkan anak nggak segampang itu, tapi disini aku bakal selalu temenin kamu dan belajar bareng sama kamu sampai kapanpun buat kedua anak kita. Terima kasih, malaikatku.”

Mendengar ucapannya sendiri, Johnny terkekeh sambil menghapus air matanya hanya karena berterima-kasih kepada suami mungilnya itu. Suaminya itu, nggak berhenti-berhenti memberikan banyak kebahagiaan dalam hidup Johnny. Entah sudah berapa kali lagi lelaki itu memberikan hal yang diluar dugaan Johnny.


“Daddy.” Hendery menarik kemeja yang digunakan Johnny sambil memanggil-manggil Johnny.

Johnny yang baru saja berbicara dengan orang rumah sakit kemudian jongkok untuk menyetarakan tingginya dengan sang anak, “Kenapa sayang?”

“Kenapa Papa masuk rumah sakit?”

“Papa mau lahiran sayang, adiknya Dery dikit lagi mau lahir.”

“Kenapa nggak lahiran di rumah aja? Emang nggak bisa?”

Johnny terkekeh, “Nggak sayang. Nanti Dery ditemenin sama Om Yuta dulu ya? Daddy temenin Papa di dalem? Nggak apa-apa kan?”

“Dery nggak boleh ikut temenin Papa? Daddy, Papa nggak kenapa kenapa kaann?”

“Papa baik-baik aja sayang. Dery belum bisa temenin Papa, nanti sama Om Yuta gapapa ya? nanti Om Jaehyun juga dateng bareng sama Mark nemenin Dery. Ya?”

“O? Mark juga ikutt? Yaaayyy! Oke Daddy!”

Setelah itu, Johnny mengajak Hendery untuk bertemu dengan Yuta yang sudah duduk di depan.

“Yut!”

“Eett, Gimana kabar Ten Jo?”

“Lagi ditemenin sama Taeyong Winwin di dalem.” ucap Johnny.

Taeyong dan Winwin terlebih Winwin banyak sekali membantu Ten belakangan ini.

Maka dari itu, sejak kemarin Ten selalu ditemenin oleh Winwin dan Taeyong yang tiba-tiba suka datang setelah bergantian mengurus Jeno dan Mark dengan Jaehyun.

“Ohiya lupa suami gue dari kemaren bareng Ten terus ya.”

“Jangan sampe lupa sama suami sendiri lo anjir.”

“Ya kaga, dapetinnya susah itu. Sampai harus mengeluarkan blood, sweat, and tears.”

“Buset, kayak lagu aja itu perjuangan.”

Johnny dan Yuta tertawa sedangkan Hendery yang tidak paham keduanya sedang membahas apa hanya bisa terdiam dalam duduknya. Hendery menunggu kedatangan Mark, dirinya tidak sabar mau pamerin adiknya nanti ke Mark.

“Mark!”

Hendery berteriak setelah melihat Mark yang sedang berpegangan tangan dengan Jaehyun dikejauhan.

Mendengar namanya dipanggil, Mark langsung menarik Jaehyun untuk berlari menuju Hendery, Yuta, dan Johnny.

“Deryy!”

“Jo, Yut!”

“Markk, sini duduk sini!” Hendery mengajak Mark untuk duduk bersama dengannya sedangkan Mark mengangguk patuh lalu ikut duduk disebelah Hendery meninggalkan Ayah dan kedua Omnya berbincang.

“Adik Dery hari ini keluar!” Ucap Hendery, akhirnya Hendery bisa berbicara seperti ini pada Mark.

Mark mengangguk, “Iya Ayah tadi bilang sama Mark. Terus mana adiknya Dery?”

Hendery menggedikkan bahunya, “Nggak tau. Kata Daddy masih harus tunggu sebentar. Mark temenin Dery ya?”

Mark mengangguk, “Iya Mark temenin Dery.”

Setelah selesai berbincang dengan Yuta dan Jaehyun, Johnny menghampiri anaknya kemudian berjongkok di depan anaknya itu, “Abang, Daddy masuk dulu ya temenin Papa? Abang disini bareng Mark sama Om Jaehyun, Om Yuta ya? Kalau mau kemana-mana izin dulu sama Om Jaehyun atau Om Yuta. Ya?”

Hendery mengangguk, “Daddy jangan lama-lama keluarin adiknya.”

Johnny terkekeh, “Iya sayang— Je, Yut jagain anak gue ya. Gue masuk dulu.”

“Yo santai aja Jo. Best of luck pokoknya. Gue bantu doa dari sini.” Ucap Yuta kemudian Johnny mengangguk dan meninggalkan mereka untuk masuk kedalam ruangan Ten.

Mendengar ucapan Yuta, Hendery kemudian menoel-noel Yuta yang baru saja duduk di sampingnya.

“Kenapa Dery?”

“Kok Om bantu doa dari sini? Emang kenapa Om?”

“Biar adiknya Dery keluarnya lancar. Dery juga bantu doa dari sini ya?”

“Ooo gitu. Yaudah Dery berdoa dulu kalau gitu.”

Selanjutnya, Hendery beneran berdoa diikuti oleh Mark yang ikut-ikutan berdoa membuat Jaehyun dan Yuta tertawa melihat kelakuan kedua anak kecil ini.


Setelah menunggu lumayan lama dan juga mendengarkan beberapa rengekan dari Hendery yang bertanya kenapa kedua orang tuanya belum keluar juga sampai sampai akhirnya Yuta mengajak Hendery dan Mark bermain di taman yang ada di rumah sakit demi menenangkan Hendery, sampai akhirnya Yuta mendapatkan pesan dari Jaehyun bahwa anak kedua Johnny dan Ten sudah lahir.

“Dery, Mark naik yuk? Mau ketemu adiknya Dery nggak?”

Hendery dan Mark mengangguk antusias kemudian Dery langsung memegang tangan kanan Yuta sedangkan Mark memegang tangan kiri Yuta.

“Siapp?”

“Siaapp Om! Ayooooo~” Teriak keduanya lalu Yuta berlari menarik-narik Hendery dan Mark yang cekikikan diajak lari-lari oleh Yuta.

Setelah sampai di lantai dimana ruangan Ten berada, Jaehyun melambaikan tangan pada Yuta, Mark, dan Hendery lalu ketiganya mendekat kearah Jaehyun.

“Udah boleh masuk Je?”

Jaehyun mengangguk kemudian jongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan Mark dan Hendery.

“Nanti di dalam jangan berisik ya?”

Mark dan Hendery mengangguk, nggak tau aja ini dua anak sebenernya beneran paham apa nggak sama apa yang diucapin Jaehyun tapi ngangguk-ngangguk aja karena udah nggak sabar mau ngeliat adiknya Hendery.

Mark menggenggam tangan Jaehyun sedangkan Hendery menggenggam tangan Yuta.

Setelah masuk keruangan Ten, Hendery berhamburan lari menuju Johnny yang baru saja meletakkan anak keduanya di boks sebelah Ten.

“Daddy!”

Hendery berlari-lari menuju Johnny sedangkan Johnny memberikan gesture untuk menurunkan volume suara.

“Sstt, adiknya Dery lagi bobo.” Ucap Johnny setelah mengangkat tubuh Hendery untuk digendong.

“O? Mana adiknya Dery Dad?” Tanya Hendery kemudian Johnny menunjuk boks yang ada di depannya dimana terisi bayi mungil yang tidak terlalu mungil karena berat badannya yang lumayan besar dibanding Hendery dulu.

Hendery menatap adiknya dengan mata yang berbinar kemudian menatap Johnny lagi, “Daddy, adiknya Dery gemes banget hihihi keciiiiil tapi lebih kecil Nono.”

“Daddy, nama adiknya Dery siapa?”

“Haechan.”

“Dede echan, dedenya Dery!”

Johnny tersenyum kemudian kembali melihat Haechan yang berada di boks, “Liat tuh, dedenya senyum-senyum seneng ketemu sama abangnya.”

“Daddy Daddy nunduk sedikit mau liat lebih deket!”

Johnny menurunkan sedikit tubuhnya menahan beban tubuh dirinya dan Hendery membiarkan Hendery melihat Haechan lebih dekat.

Mata Hendery tidak berhenti berbinar, ia senang sekali bisa lihat adiknya yang akhirnya lahir.

“Dede, haiiii. Dede, nanti kita main bareng yaaaa?”

Ten yang selesai berbincang dengan Taeyong mendengar ucapan Hendery ikut tersenyum kemudian memanggil anaknya itu, “Abang, lupa nih sama Papa? Kata Om Yuta tadi Abang nyariin Papa teruss.”

Hendery yang berada di gendongan Johnny langsung meminta untuk diturunkan lalu berlari menuju Ten, “Papaaaa!”

“Papa mau naik bolehh?”

Ten mengangguk, “Sini, Tolong naikin anaknya Jo.”

Johnny kemudian mengangkat Hendery, “Hati-hati ya sayang.”

“Makasih Daddy!”

Kemudian Hendery bertanya banyak hal pada Ten sedangkan Mark sedang menarik-narik tangan Papinya yang sedang duduk di sebelah kasur Ten melihat interaksi antara Ten dan Hendery.

“Papii, Mark mau lihat adiknya Dery. Ayoo temenin Papiii!”

Padahal, Hendery bilang mau ngasih tau adiknya tapi Mark malah dilupain.

“Ten, anak gue boleh liat kan?” Izin Taeyong pada Ten kemudian Ten mengangguk.

“Papiii ayooooo.”

“Iya sayang iyaa, sini Papi gendong.”

Mendengar Mark yang ingin melihat adiknya, Hendery kemudian ikut berbicara.

“Ih! Mark tunggu!”

“Daddy, tolongin Hendery ke dede”

Johnny yang masih berbicara dengan Jaehyun langsung mengangguk dan membantu anaknya untuk melihat adiknya, lagi.

Keempatnya sudah sampai di depan boks Haechan. Hendery melihat kearah Mark kemudian tersenyum senang.

Akhirnya, Hendery benar-benar bisa memamerkan adiknya pada Mark.

Baru saja Hendery ingin membuka mulut untuk memamerkan adiknya, Mark sudah berbicara lebih dulu.

“Papi, adiknya Dery lucu yaaa. Lebih lucu daripada Nono.”

Johnny tertawa, sedangkan Taeyong menggeleng-geleng mendengarkan ucapan Mark.

“Ih iya doongg! Adiknya Dery lucu kaaann” Pamer Hendery tak disangka Mark malah mengangguk setuju dengan ucapan tersebut.

“Adiknya Dery lucu banget. Papi, adiknya Dery boleh Mark bawa pulang nggak?”

Johnny semakin tertawa, ini gimana maksudnya coba.

“Loh, Nono nanti sedih kalau kakaknya lupa sama Nono lohh.”

Mark menggeleng, “Nggak, Mark nggak ngelupain Nono. Tapi Papiiii, adiknya Dery lucuuu.”

“Nanti Mark sama Nono aja yang main kerumah Dery ya?”

Mark mengangguk, “Kalau Mark nginep dirumah Dery boleh?”

“Iya, nanti ya sayang.”

“Yaaayyy!”

“Ih Mark nggak boleh ambil dedenya Deryyyy!”

Johnny terkekeh mendengar tolakan dari Hendery karena mendengar adiknya yang ingin diambil oleh Mark.

“Main bareng-bareng ya sayang?”

Hendery mengangguk, “Iya main bareng-bareng nanti sama Nono jugaa.”

Akhirnya kedua anak itu turun dari gendongan Papi dan Daddynya kemudian duduk di sofa karena Yuta mengajak main di sofa. Sebenarnya suruhan Johnny karena kalau tidak yang ada Haechan akan terus diganggu dan Haechan nggak tidur-tidur juga.


Sudah tiga bulan Haechan lahir dan menempati apartemen ini. Sudah satu tiga bulan juga, Hendery tak berhenti-henti bangga karena akhirnya dirinya menjadi abang dan memilik adik yang sangat menggemaskan seperti Haechan.

Hendery ini masih banyak penasaran pada adiknya, setiap hari ada saja yang ditanya oleh Hendery mengenai adiknya. Namun, Johnny maupun Ten tak pernah bosan menjawab semua pertanyaan Hendery sampai Hendery paham dan menjaga adiknya.

“Papaaa, Dery pulaangg~”

Hendery yang baru saja membuka sepatunya langsung berlari-lari menuju sofa di ruang TV dimana Ten dan sang adik sedang tidur bersama di sana.

Hendery baru pulang sekolah bersama Johnny yang belakangan ini menjadi supir antar jemput Hendery karena Ten yang sibuk mengurus Haechan dirumah.

“Dede, Abang pulang~” Ucap Hendery melihat Haechan yang ternyata sedang bangun.

Hendery ingin menyentuh tangan Haechan namun Ten keburu mencegah Hendery, “Abang, udah cuci tangan belum?”

Hendery terkekeh, “Hehehe, belum Papa.”

“Cuci tangan dulu ya? Abang kan habis dari luar, nanti kalau pegang pegang dede, kuman yang ada di tangan abang pindah ke dede.”

“Iya Papaa, Dery cuci tangan dulu yaa.”

“Dede, Abang cuci tangan dulu yaaa? Dede jangan bobooooo, main sama abang dulu yaaa?”

Ten terkekeh gemas kemudian mengangguk, “Iya abang, dede tungguinn~”

“Ayo abang cuci kaki cuci tangan ganti baju dulu baru main sama dede” Panggil Johnny membuat Hendery berlari-lari menuju Johnny.

“Okay Daddy!”

Setelah mencuci kaki, tangan, dan ganti baju. Hendery langsung lari menuju ruang TV menghampiri Ten dan Haechan yang sedang bercanda.

“Abaaangg ikuuuttttt!!” Teriak Hendery berlari-lari menuju Ten dan Haechan.

“Sini bang, dede lagi seneng nih kayaknya.”

Sedangkan Johnny yang sedang memegang ponselnya, sedang video call dengan Jaehyun ikut berjalan menuju ruang TV menghampiri keluarganya, “Jeno lagi aktif-aktifnya ya Je?”

Iya ini, makin protektif aja si Taeyong, mana Mark suka ikut-ikut ngerangkak ngejar-ngejar Jeno juga

Kakak, dijagain adeknya hati-hati ya sayang” Ini suara Taeyong yang sedang menjaga kedua anaknya bermain kesana kemari berdua.

Johnny tertawa kemudian duduk di sebelah Ten yang sedang menjaga Haechan sedangkan Hendery sedang mengajak obrol adiknya itu. Bahkan Hendery sudah bercerita pada Haechan mengenai harinya di sekolah pada hari itu.

Oi Ten! Gimana Haechan?

HAECHAN? AYAH MAU LIAATTT” Teriak Mark kemudian berdiri dari rangkakannya menuju Jaehyun yang sedang duduk di sofa membuat Jeno yang sedang merangkak ikut merangkak lebih cepat mengikuti Mark dari belakang membuat Taeyong ikut kesana kemari mengikut kedua anaknya itu.

Hai Om Ten! Om Johnny!” Sapa Mark setelah sampai di pangkuan Jaehyun.

“Hai Mark, loh Jeno mana?”

Nono lagi mainn sama Mark, main lari-larian hehehe. Om, Haechan belum bisa merangkak kayak Nono yaa?

“Belum sayang, nanti kalau udah bisa. Main bareng Nono sama Mark ya?”

Mark mengangguk, “Dery mana Om?

Tak lupa pula Mark bertanya mengenai kehadiran temannya itu.

Kemudian Ten mengarahkan kameranya pada Hendery yang sedang mengelus Haechan disebelahnya itu membuat Hendery menengok kearah ponsel dan melambaikan tangannya.

“Haii Mark!”

Derryyy! Itu Haechan?

“Iyaa, Haechan lagi main sama Dery. Nono mana Mark?”

Nono lagi main sama Papi. Nanti main bareng ya Dery?

Hendery mengangguk, “Iya Mark~”

Kakak, ini adeknya nyariinn.” Taeyong kembali memanggil Mark membuat Mark turun dari pangkuan Jaehyun kemudian kembali bermain kejar-kejaran bersama Jeno dan diselingi oleh suara cekikikan Jeno melihat kakaknya lari kesana kemari.

Jaehyun menggeleng-geleng kemudian lanjut berbicara dengan Ten dan Johnny.

Yaudahlah, nanti malem lagi Jo bahasnya. Gue mau nemenin anak-anak gue main dulu.

Johnny mengangguk, “Iya, jangan lupain quality time sama keluarga lah ya Je meskipun sesibuk apapun itu.”

Hahaha iya laahh, yaudah duluan dah Jo, Ten. Salam buat Hendery sama Haechan. Asik banget daritadi gue denger ceritanya si Hendery.

“Haha emang ini abangnya demen cerita sama adeknya. Bang, ini dadah dulu sama Om Jaehyun.”

Hendery langsung melambaikan tangannya pada Jaehyun, “Dadaahh Om Jaehyun!”

Dadah Hendery!

Kemudian video call tersebut dimatikan oleh keduanya, Johnny langsung meletakkan ponselnya kembali di kamar lalu ikut bergabung kembali dengan keluarganya, bermain dan melontarkan canda tawa bersama di ruang TV.

Ini bukan akhir cerita untuk keluarga kecil Johnny, melainkan awal cerita untuk keluarga kecil Johnny.

Entah apa yang akan dilalui mereka berempat bersama kedepannya, Johnny hanya selalu berharap yang terbaik bagi keluarganya kelak.


@roseschies

Johnten mpreg universe.


Jika dulu sewaktu hamil Hendery, Ten sempat ngidam sate padang jam dua pagi, berbeda dengan kehamilan Ten yang kedua ini. Jika ngidam Ten dulu masih bisa Johnny lakukan dengan mencari keluar yang masih menjual sate padang di jam dua pagi meskipun susah tetapi Johnny berhasil mendapatkannya, tetapi kali ini ngidam Ten dihamilnya yang kedua sedikit... bisa dibilang rumit?

Pasalnya, Ten benar-benar sangat lengket dengan banyak orang. Mungkin jika hal tersebut dilakukan pada siang hari, Johnny akan mudah mengantarkan Ten ke rumah orang-orang yang ingin sekali Ten peluk. Jika memang Ten ingin memeluk Johnny sekalipun jam dua pagi, Johnny akan mudah melakukannya.

Tetapi, kali ini, Ten bangun tepat jam 2 lebih 15 menit pagi sambil merengek-rengek kepada Johnny yang baru saja membuka matanya.

“Jo, mau kerumah Taeyong, mau peluk Taeyong. Aku nggak bisa tidur Jo.” Pinta Ten sambil menarik-narik lengan Johnny.

Johnny sukses terbangun mendengar keinginan Ten di hari yang bahkan masih sangat pagi ini, Johnny sampai terduduk kemudian menghadapkan dirinya pada Ten yang masih memeluk lengannya itu.

Mungkin Johnny bisa saja langsung menuju rumah Taeyong mengantarkan Ten pada Taeyong. Tetapi kali ini keadaannya berbeda. Taeyong sudah berada di rumah sakit karena persalinannya sudah tinggal menghitung jam.

“Ayoo Jo.” Rengek Ten lagi. Johnny mengelus rambut milik Ten mencoba untuk menjelaskan pada suami mungilnya ini.

Sayang, Taeyong kan udah dirumah sakit.” Johnny menyelipkan rambut Ten yang mulai memanjang hingga menutup kupingnya itu dan ia selipkan dibelakang kuping Ten.

Bibir milik Ten sukses melengkung, ia sedih tidak bisa memeluk Taeyong saat ini.

Video call aja ya?” Tawar Johnny akhirnya Ten mengangguk patuh lalu Johnny langsung mengambil ponselnya mencari kontak Jaehyun untuk ia telfon, dini hari.

Aduh, sorry ya Je...., Batin Johnny lagi entah keberapa kali ini dia meminta maaf pada teman-temannya.

Cukup lama Johnny menunggu Jaehyun mengangkat telfonnya membuat pundak dan bibir Ten semakin melorot.

“Sabar ya sayang, ini masih pagi banget mungkin mereka udah tidur.” Ucap Johnny sambil memeluk Ten, menenangkan suami mungilnya yang banyak mau itu.

“Yaudah gapapa deh Jo, matiin aj-”

Ngapain lo nelfon pagi buta gini?

Baru saja Ten ingin menyuruh Johnny untuk mematikan telfon tersebut, ternyata Jaehyun sudah mengangkat terlebih dahulu.

Terlihat Jaehyun dengan mata yang mulai berkantung mungkin karena lelah menjaga Taeyong serta Mark yang mulai tidak bisa jauh dari Taeyong terus menerus belakangan ini.

“Belom tidur lo?” Tanya Johnny membuka percakapan sebelum menuju intinya, setidaknya ia basa-basi dulu nanya kabar temannya itu.

Jaehyun menggeleng kemudian mendudukan dirinya di sofa yang ada di sana, “Belom, baru kelar nidurin Taeyong sama Mark. Ada apaan Jo?

Mendengar Jaehyun mengucapkan nama Taeyong, Ten langsung merampas ponsel milik Johnny, “Taeyong mana?”

Jaehyun membalikkan kameranya kemudian mengarahkan kearah tempat tidur Taeyong dimana Taeyong sedang tertidur di sana.

Entah bawaan bayi atau bagaimana, Ten langsung memeluk Johnny sambil meraung-raung meneriaki nama Taeyong.

“Huhuhu Taeyongg.”

“Ssshh- kok jadi nangis sayang?” Tanya Johnny kemudian meletakkan ponselnya sebentar tanpa mematikan video call dirinya dengan Jaehyun lalu mengelus rambut Ten sambil memeluk tubuh Ten.

Ten masih sesegukan sambil memeluk Johnny, Ten membayangkan dia sedang memeluk Taeyong meskipun badan Johnny lebih besar tetapi biarin saja, dia hanya ingin memeluk Taeyong sekarang.

“Nanti kita ketemu Taeyong ya siangan sekalian liat babynya Taeyong. Sekarang tidur ya?” Ucap Johnny masih sambil mengelus kepala Ten, membuat Ten menguap tiba-tiba. Ia merasa ngantuk dielus seperti itu.

Tak lama kemudian tidak ada suara rengekan lain melainkan berubah dengan suara dengkuran halus dari Ten yang ternyata sudah tertidur di pelukan Johnny membuat Johnny menggeleng lalu tersenyum.

Johnny mengambil ponselnya, ternyata sambungan video call dirinya dengan Jaehyun masih tersambung dan Jaehyun yang daritadi hanya mendengar dan menyaksikan dua lelaki itu saling kelon mengelon hanya bisa memutarkan bola matanya.

Jadi, Jaehyun ditelfon tepat setengah 3 pagi hanya untuk menonton dua orang ngelon? Kasian Jaehyun.

Ada ada aja kenapa si suami lo yang satu itu.” Ucap Jaehyun setelah ia melihat wajah Johnny lagi di layar ponselnya sambil menggeleng-geleng tidak paham.

“Heh, suami gue cuma satu ya anjir, ngada-ngada. Yaudah dah Je, thanks.”

Berguna banget gue anjir bagi nusa dan bangs-

Belum selesai Jaehyun berbicara, Johnny langsung mematikan sambungan video call tersebut lalu menaruh ponselnya di nakas kemudian memeluk tubuh Ten kembali dan ikut tidur meninggalkan Jaehyun yang disebrang sana sedang mencak-mencak sebal dengan Johnny.


Jika dulu sewaktu hamil Hendery, Johnny juga ikut morning sickness seperti Ten. Kali ini berbeda. Meskipun intensitas morning sickness Ten tidak sesering dulu sewaktu hamil Hendery, hamilnya yang sekarang lebih jarang Ten terkena morning sickness.

Sewaktu hari pertama Ten morning sickness sehabis sarapan entah karena apa tapi yang pasti Ten langsung berlari-lari menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi meninggalkan Hendery yang tiba-tiba menangis melihat Papanya seperti itu sambil berlari-lari kecil mengikuti Papanya dari belakang.

“Papaaaa kenapaa??? Daddy huhuhu Papa kenapa muntah-muntah?? Papaa itu jangan buang-buang makanan huhuhu kasihan Daddy udah masak dimuntahin sama Papaaa. Daddyyy makanannya nggak enak apa yaaa?”

Johnny yang masih membantu Ten mengurut tengkuknya bingung ia harus membantu Ten atau menenangkan anaknya yang sedang panik.

Iya, hamil keduanya ini bukan membuat Johnny ikut morning sickness seperti sebelumnya, tetapi morning sickness dikehamilan keduanya ini keadaannya diperparah oleh Hendery yang selalu menangis melihat Ten muntah sampai tubuhnya sedikit lemas.

Setelah selesai membantu Ten mengeluarkan isi perutnya, Johnny izin kepada Ten untuk menenangkan anaknya, “Bentar ya sayang, aku gendong Hendery dulu. Gapapa?” Kemudian Ten mengangguk.

“Gapapa Jo. Tolong jelasin ya ke dia, maaf ngerepotin. Kepalaku jadi agak pusing.”

“Nggak ngerepotin, udah tugas aku kok. Kamu istirahat aja, aku bawa Hendery ke ruang TV dulu.”

Ten mengangguk kemudian Johnny langsung mengendong Hendery dan membawanya ke ruang TV sedangkan Ten menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya sebentar.

“Abang kenapa nangis?” Tanya Johnny sedangkan Hendery masih sesegukan sambil mengelap air matanya, bibirnya masih melengkung kebawah.

“Hiks, Papa kenapa Dad? Papa nggak suka makanan Daddy yaa?” Tanya Hendery membuat Johnny menggeleng kemudian tersenyum dan meletakkan Hendery di sofa.

Johnny ikut duduk di sebelah Hendery kemudian membawa Hendery ke dalam pelukannya, “Abang sekarang udah ya nangisnya? Papa baik-baik aja kok. Papa suka kok sama makanan Daddy. Papa juga nggak sakit.”

Hendery mengangguk meskipun masih mengelap air matanya dengan lengan miliknya, “Benerkan Papa baik baik ajaa?”

Johnny mengangguk, “Abang mau liat Papa?”

Hendery mengangguk antusias sampai dirinya berdiri di sofa namun Johnny sigap memegang tubuh Hendery takut jatuh terjengkang. “Mau mau mau!”

“Tapi Abang pelan-pelan yah? Papa lagi istirahat sebentar.”

Hendery mengangguk patuh kemudian keduanya turun dari sofa. Johnny memegang tangan kanan Hendery lalu keduanya jalan menuju kamar dimana Ten sedang tidur disana.

Hendery mengetuk pintu sebelum masuk kemudian memanggil Ten dari luar, “Papa, Dery masuk ya?”

Tidak ada jawaban yang memungkinkan Ten sudah tertidur di dalam membuat Johnny kemudian berbicara lagi pada Hendery, “Dibuka aja bang pintunya. Papa kayaknya udah tidur, pelan-pelan ya bang.”

“Aduh nggak nyampe Daddy! Tolong bukain ya Daddy hehehe. Nanti Dery mau minta minum susu yang banyak biar bisa setinggi Daddy ah sama Papa!”

Johnny menggeleng-geleng dan terkekeh, anaknya ini gemas sekali. Johnny kemudian memutar kenop pintu kemudian keduanya masuk kedalam kamar.

Di sana terlihat Ten yang sudah bergelung dibawah selimut dengan mata tertutup, benar saja Ten sudah tertidur.

Melihat hal tersebut, Hendery langsung melepas kaitan tangannya dengan Johnny lalu berlari dan susah payah menaiki kasur karena kasur yang digunakan Johnny dan Ten lumayan tinggi.

“Aduh abang pelan-pelan nanti jatuh sini Daddy bantuin.” Johnny mengangkat tubuh Hendery membuat Hendery berterima-kasih kepada Johnny.

“Papa?” Hendery mendekatkan wajahnya dengan wajah milik Ten yang sedang tertidur, mengecek keadaan Papanya itu.

Kemudian Hendery ikut merebahkan tubuhnya disamping Ten lalu memeluk Ten dengan tangannya yang mungil. “Papa jangan sakit ya, nanti Dery sedih. Puk puk puk, Papa sembuh Papa sembuh” Gumam Hendery sambil menepuk lengan Ten membuat Ten terbangun lalu tersenyum dan menarik tubuh Hendery kedalam pelukannya.

“Papa nggak sakit, makasih ya abang udah jengukin Papa ke kamar.”

Johnny yang melihat hal tersebut hanya tersenyum kemudian berjalan mendatangi keduanya yang diam-diam ternyata Hendery ikut tertidur di pelukan Ten.

Johnny menarik selimut kemudian menyelimuti kedua lelaki itu lalu mencium pucuk kepala Ten dan juga Hendery, “Selamat tidur, jagoannya Daddy.”

Lalu Johnny mematikan lampu kamar dan menutup pintu kamar, ia melanjutkan kerjaannya di ruang tamu yang sempat tertunda sebentar.


Hari ini Johnny, Ten, dan Hendery baru saja menjenguk Taeyong serta bayinya yang baru saja lahir dua minggu lalu.

“Daddy, bayinya keciiill banget cuma segenggaman Dery!” Komentar Hendery setelah ketiganya sampai dirumah.

Johnny dan Ten tertawa mendengar ucapan Hendery, mana ada bayi segengaman anak balita.

“Tadi namanya siapa Pa? Dery lupaa.” Tanya Hendery pada Papanya yang sedang mengambil minuman untuk dirinya, Johnny, dan juga Hendery.

“Jeno sayang.” Jawab Johnny kemudian mengajak Hendery untuk mencuci kakinya di kamar mandi.

Hendery mengangguk-angguk, “Oh iya nono, hehehe lucuu.”

“Kok nono?” Tanya Johnny yang sedang membantu Hendery mencuci kakinya.

“Tadi Mark bilang dipanggilnya nono. Gapapa kan Dery panggil nono juga?”

“Ohh gitu, dibolehin nggak Dery sama Mark manggil adiknya Mark nono juga?”

Hendery menggeleng, “Boleh, katanya panggil aja nono. Soalnya katanya adiknya Mark kalau dipanggil nono dia ketawa ketawa lucu.”

“Adiknya Dery kapan keluar Dad?” Tanya Hendery lagi setelah mencuci kaki membuat Johnny memberhentikan aktifitasnya.

“Sedikit lagi. Dery masih sabar nunggu kan?”

Hendery mengangguk semangat, “Masih! Ayo Daddy mainnnn.”

Hendery menarik tangan Johnny dan mengajak Johnny menuju ruang TV dimana ruangan tersebut juga menjadi ruang bermain Hendery.

“Jo, ponsel kamu tadi bunyi tuh kayaknya telfon dari Jaehyun.” Ucap Ten setelah melihat keberadaan Johnny dan Hendery yang baru saja mencuci kakinya kemudian memberikan gelas minum pada Johnny lalu membawa gelas milik Hendery juga.

“Abang, minum dulu nih.” Ucap ten lalu memberikan gelas milik Hendery dan disambut baik oleh Hendery.

“Terima kasih Papa.” Kemudian Hendery meneguk minumannya dan memberikan gelas kosong tersebut pada Ten lagi.

“Abang, Daddy nelfon om Jaehyun dulu ya? Abang tunggu sebentar sama Papa yaa?” Ucap Johnny kemudian Hendery mengangguk lalu mengajak Papanya untuk menemaninya bermain menggantikan Daddynya itu.

Johnny langsung menelfon Jaehyun balik dan langsung diangkat oleh Jaehyun.

“Kenapa Je?”

Dery mana Jo? Anak gue nyariin nih katanya mau video call sama Dery dan minta telfonin.

“Bentar-”

“Abang, ini Mark nyariin.” Johnny kemudian berjalan menuju Hendery dan Ten yang sedang duduk di karpet.

Johnny duduk disebelah Hendery memegang ponselnya yang sudah berganti dengan video call dan mulai menampakkan Jaehyun dan Mark yang berada di depan Jaehyun.

Mark melambaikan tangannya, “Deryyyy!

Hendery membalas lambaian tangan Mark kemudian memanggil nama Mark juga. “Kenapaa Markk?”

Mark kemudian menghadapkan tubuhnya kebelakang untuk berbicara pada Jaehyun, “Ayah ayah, bawa hp Ayah ke Jenoo.

Jaehyun yang diminta seperti itu hanya menurut sedangkan Johnny dan Ten saling lihat-lihatan, bingung anak pertama Jaehyun ini mau ngapain.

“Daddy kok Mark sama Om Jaehyun hilang?” Tanya Hendery sambil menujuk ponsel Johnny karena tiba-tiba jadi hitam.

“Tunggu sebentar, Om Jaehyun sama Mark lagi jalan ke Jeno katanya.”

Hendery mengangguk kemudian menunggu sampai dirinya bisa melihat Mark dan Jaehyun lagi di layar ponsel.

Mau buat apa kak?” Ini Jaehyun lagi nanya ke Mark.

Buka lagi Yah kameranya kasih liat Adek ke Dery.

Johnny, Ten, dan Hendery bisa melihat dengan jelas di layar ponsel wajah Jeno yang sedang tertidur pulas dengan Taeyong yang berada di sebelah Jeno.

Ini mau ngapain kak?” Tanya Taeyong pada Mark.

“Nono lagi boboo?” Tanya Hendery membuat Mark menyaut. “Iyaaa, liatt Dery, Nono lagi boboo.

Johnny dan Ten hanya tertawa, Mark ternyata mau memamerkan adiknya kepada Hendery padahal ketiganya baru saja mampir ke sana.

Hendery yang melihat Jeno tiba-tiba menguap ikut tersenyum girang, “Nono lucuuu, keciiill.”

Udah dulu yaa Dery, Dadahh!” Ucap Mark membuat Johnny dan Ten lagi-lagi saling lihat-lihatan, lah udah?

“Dadahh Mark!”

Ini udah Ayah. Makasih ya Yah udah minjemin.” Terdengar samar Mark mengembalikan ponselnya pada Jaehyun tanpa mematikan sambungan video call tersebut membuat Johnny dan Ten bisa melihat muka bingung Jaehyun melihat kelakuan anaknya.

Hendery juga sudah kembali bermain memainkan mainannya.

Anak gue kenapa dah.” Tanya Jaehyun pada dirinya sendiri membuat Johnny dan Ten tertawa.

“Biarin aja, dia lagi seneng terus mau kasih tauin adeknya ke Hendery.”

Ten mengangguk setuju dengan Johnny.

Yaudah dah, sorry kalo ganggu Jo, Ten. Salam buat Hendery

“Bang, ini ada salam dari Om Jaehyun.” Panggil Ten kemudian Hendery berhenti bermain lalu nongol lagi di video call.

“Om Jaehyun!” Sapa Hendery membuat Jaehyun tersenyum dan melambaikan tangannya.

Daahh

Lalu sambungan video call terputus. Johnny dan Ten lanjut menemani anaknya bermain berbagai macam permainan yang Hendery pilih.

Hari terus berganti, intensitas Mark menelpon ke ponsel Johnny ataupun Ten juga semakin sering.

Nono sedang ini, Nono sedang itu, Nono lagi ini, Nono lagi itu. Semua Mark tuangkan dan ia ceritakan pada Hendery.

Bahkan pernah sekali Mark menelfon lalu mengarahkan kameranya kearah adiknya yang sedang mengganti pampers karena Jeno habis membuang hajatnya membuat Taeyong menggeleng tidak paham dengan kelakuan anak pertamanya itu.

Hendery yang bingung apa yang sedang Mark perlihatkan hanya diam menatap layar ponsel.

Kakak, ngapain itu kameranya kok diliatin ke adeknya? Adeknya lagi ganti pampers iniiii.” Ini suara Taeyong bertanya pada Mark yang asik memamerkan adiknya pada Hendery.

Ten yang berada di sebelah Hendery ikut melihat kemudian menggeleng-geleng.

Ih Papi! Nono lagi buang air besar, Dery harus liat.

Kakakk, kok adeknya lagi ganti pampers dipamerin juga ke Dery yaampun Kak. Matiin kak, maluuuu ini adeknya.

Ten tertawa sedangkan Hendery bingung karena layar ponselnya hanya memperlihatkan gambar yang buram akibat sinyal yang kurang bagus.

“Kak Mark, adeknya lagi ganti pampers ituu. Nanti telfon lagi ya?” Ucap Ten membuat Mark mengganti kameranya memperlihatkan dirinya yang sedang cemberut.

Yaudah deh. Dadaahh Dery dadahh Om Ten!” Ucap Mark membuat Hendery tersenyum lalu melambaikan tangan meskipun dia masih bingung.

Setelah sambungan tersebut mati, Hendery melihat kearah Ten, “Pa, itu tadi kenapa?”

“Itu, Mark mau ngasih tau kamu adeknya lagi buang air besar dan ganti pampers.”

Hendery mengangguk kemudian diam tidak melanjutkan mainnya lagi.

Diam-diam bibirnya melengkung kebawah.

“Abang kenapa sayang?”

“Dery kesel.”

“Kenapa kesel?”

Johnny yang baru saja keluar dari kamarnya langsung bingung mendengar percakapan antara suami dan anaknya kemudian bergabung dan duduk di sebelah Hendery sambil memberikan sinyal pada Ten bertanya ada apa dan Ten hanya menggidikkan bahunya.

“Dery kesel, adiknya Dery nggak lahir-lahir. Papa, kenapa lama banget!”

“Dery kesel, Mark pamerin adiknya terus ke Dery.”

“Nanti kalau adiknya Dery udah keluar, Dery mau pamer juga ke Mark pokoknya!!!!!”

Melihat Hendery yang mencak-mencak dan berusaha untuk balas dendam nanti ke Mark membuat Johnny mengelus rambut milik Hendery demi menenangkan anaknya yang sepertinya cemburu karena temannya sudah memiliki adik dan adiknya belum juga muncul.

“Abang, coba sini lihat Daddy.” Hendery menghadapkan dirinya pada Johnny sambil cemberut, masih sebal dengan Mark.

Johnny menggeser poni milik Hendery, “Mark cuma lagi seneng punya adik, nanti Dery pasti ngerasain rasanya jadi Mark. Hendery temen baik Mark, kan?”

Hendery mengangguk.

“Kalau hendery temen baik Mark, ladenin Marknya ya? Sayang sama nono juga, jangan sebel sama nono karena Mark selalu pamerin nono ke Dery. Dery sayang nggak sama Mark?”

Hendery mengangguk, “Sayang sama Mark, sayang sama nono juga.”

“Nanti kalau adiknya Dery udah lahir, Dery pasti sama kayak Mark. Gimana kalau Mark nanti sebel sama Dery karena Dery pamerin adiknya terus ke Mark?”

Hendery menggeleng, “Nggak boleh, Mark harus liat adiknya Dery!”

“Masih sabar kan nunggu adiknya Dery?”

Hendery mengangguk semangat, “Dery bakal tungguin adiknya Dery. Ya kan Papaaa?”

Hendery kemudian menghadapkan dirinya kearah Ten yang berada di sebelah kirinya membuat Ten mengangguk lalu mengusap pucuk kepala Hendery gemas.

“Dery masih kesel sama Mark?” Tanya Johnny lagi kemudian Hendery menggeleng.

“Bener? Kalau masih kesel sama Mark, bilang yaa? Cerita sama Papa atau Daddy” Ucap Johnny dan diangguki oleh Hendery.

“Dery nggak kesel lagi sama Mark. Soalnya, Jeno juga adik Dery, ya kan Pa?”

Ten mengangguk, “Iya, Jeno adiknya Dery juga. Mark pasti seneng karena Dery sayang juga sama Jeno seperti Mark yang sayang sama Jeno.”

“Daddy, boleh pinjem hp Daddy?”

“Buat apa sayang?”

“Telpon Om Jaehyun. Mau liat nono sama Mark!”

Mendengar ucapan Hendery, Johnny tersenyum lalu mengusak rambut Hendery gemas, “Iya tunggu sebentar yaa bang.”


Johnny mengelus perut Ten yang sudah semakin membesar kemudian mengecup perut Ten, “Dapet jadwal kapan yang?”

“3 minggu lagi, cuma nggak tau kalau dia mau buru-buru keluar bisa aja kan.” Ucap Ten sambil ikut mengelus perutnya. Dibanding hamil waktu Hendery, perutnya lebih besar sedikit sekarang.

Sepertinya calon anaknya akan lahir dengan berat badan yang lumayan dan akan lebih gembil dibanding Hendery nantinya.

“Hamil sekarang aneh deh Jo. Dulu waktu Hendery aku ribet banget sama wangi kamu kan ya? Harus ini itu atau nggak pasti aku muntah. Tapi hamil yang sekarang aku malah suka banget sama wangi kamu. Bikin kepengen terus-terusan sama kamu.”

Bener kata Ten. Hamilnya yang sekarang benar-benar membuat Ten ingin selalu mengendus di dada milik suaminya itu. Entah, rasanya bau Johnny seperti membuatnya candu saat ini lebih dari biasanya. Rasa ingin memeluk tubuh Johnny pun selalu meningkat.

Bahkan pernah suatu hari Ten sampai menyuruh Johnny untuk work from home karena Ten ingin memeluk Johnny terus-terusan. Saat itu kebetulan Hendery sedang dititipkan di rumah Yuta karena Hendery terus menerus merengek ingin main bersama Yuta.

“Gapapa, aku suka kamu kayak gimanapun juga.”

“Ih, gombal banget maless.”

“Loh, ya nggak gombal loh yang. Eh, katanya kamu udah nyiapin nama buat anak kita yang sekarang?”

Ten mengangguk.

Jika anak pertamanya Johnny yang memberi nama, untuk anak keduanya Ten ingin dirinya yang memberikan nama untuk anaknya yang sekarang.

“Ada deh, nanti aja. Bagus pokoknya namanya! Kalau arti nama Hendery bisa mendatangkan uang, anak kedua kita akan menyinari dan juga menjadi penghangat bagi sekitar.”

Johnny tersenyum kemudian mencubit hidung Ten gemas, “Apapun nama yang kamu pilih, aku percayakan sama kamu pasti arti dan doa di dalamnya bagus.”

Ten yang mendengar ucapan Johnny kemudian mencubit pinggang Johnny, “Ih males banget gombal teruuuss Jo.”

“Udah diem, sini.”

Johnny mengecup bibir Ten, “I love you,”

Ten rasanya ingin menangis, entah ia merasa belakangan ini dirinya sangat emosional dan ia merasa sudah lama tidak seperti ini dengan Johnny karena terhalang Hendery dan juga anak keduanya.

Ten kembali mengecup bibir Johnny dan tersenyum, “I love you the most, Johnny.

“Ihh gombaaall” Ledek Johnny membuat Ten kembali mencubit pinggang Johnny sampai akhirnya keduanya lelah dan tertidur pulang dalam pelukan masing-masing.


satu lagi menuju kelahiran dede<3

@roseschies.

Johnten / Seo family mpreg universe.


“DADDDYYYYY” Hendery berteriak memanggil Johnny sambil berlari-lari dengan tubuh yang masih sedikit basah keluar dari kamar mandi menuju dapur dimana Johnny berada. Kebetulan Johnny sedang membuatkan makan malam untuk ketiganya.

“Ya Tuhan Dery tunggu dulu pake celana dulu sayangg” Teriak Ten dari belakang Hendery ikut berlari-lari sambil membawa celana milik Hendery.

Iya, Hendery lari dari kamar mandi hanya menggunakan atasan tanpa bawahan, bahkan dalaman pun belum sempat terpakai karena Hendery langsung lari menuju Johnny karena ingin pamer sesuatu.

Johnny yang sedang memasak mendengar kegaduhan kemudian menoleh kebelakang dimana Hendery sudah berdiri sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi susunya itu.

“Daddy berhenti masak dulu! sini cium Dery!” Pinta Hendery membuat Johnny bingung sedangkan Ten masih setengah berlari dirinya sedikit lelah akibat tubuhnya yang sedang mengandung anak lagi, kalau kalau ada yang lupa.

“Ih! Daddy jangan dieeemm ajaaa! ini lohh Dery pakai sabun wangi stobeliiii Papa beliin wangii banget Daddyy!” Ternyata, Hendery ingin pamer kalau Papanya—Ten baru saja membelikan sabun wangi strawberry untuk Hendery. Sampai-sampai Hendery lupa, kalau ia belum memakai dalaman dan juga celana.

“Astaga Dery, kok nggak pakai celana gini keluar kamar mandi?” Tanya Johnny kemudian jongkok untuk menyetarakan tinggi dirinya dengan sang anak. Ucapan Johnny membuat mata milik Hendery sedikit melotot, kaget.

Hendery melihat kebawah kemudian berteriak lalu menutup kemaluannya, “Aaaaaa Pap— ADUH!”

Baru saja Hendery ingin berteriak lalu berlari menuju Ten untuk berbicara bahwa dirinya belum menggunakan dalaman, ternyata Ten sudah berada di belakang tubuh Hendery membuat keduanya bertabrakan satu sama lain.

Johnny yang melihat hanya menggeleng-geleng, ada-ada saja ini.

Oh, mengenai hal tentang 'kepemilikan' yang ada di tubuh Hendery, kebetulan Johnny dan Ten memang sudah mengajarkan pada Hendery dasar-dasar yang harus Hendery ingat sesuai dengan umur anak itu sekarang. Terutama mengenai siapa saja yang boleh memegang dan melihat kepemilikannya itu.

Untungnya, anaknya ini sangat cepat mengerti apa yang diajarkan oleh kedua orang tuanya itu.

“Pakai dulu dalaman dan celananya Kakak. Nanti Daddy cium kok kalau udah dipakai semua ya?” Ucap Johnny sambil mematikan kompor, kebetulan masakannya sudah selesai dimasak.

Hendery yang sedang menggunakan dalaman sendiri kemudian berhenti lalu menatap Johnny yang agak jauh dari pandangannya membuat Johnny berjongkok sebentar agar anaknya itu dapat melihat dirinya dengan mudah.

“Dery nggak mau dipanggil Kakak.” Tolak Hendery tiba-tiba membuat Johnny dan Ten saling pandang memandang, bingung.

Padahal, Hendery sendiri yang sangat antusias memiliki adik, entah kenapa tiba-tiba dia berbicara seperti ini.

“Loh, sedikit lagi kan Dery mau jadi kakak? jadi mulai sekarang Daddy sama Papa manggil Dery kakak ya?” Jelas Ten pada anaknya kemudian memberikan celana milik Hendery kepada si pemilik untuk digunakan sendiri.

Hendery menggeleng, “Nggak mau. Mau panggilan yang lain ada nggak Pa? Soalnya, Mark cerita katanya dia nanti dipanggil kakak sama adiknya, Dery nggak mau kembar kayak Mark!”

Disaat Mark yang selalu ingin sama seperti yang lain, disinilah Hendery yang selalu ingin berbeda dengan yang lain. Untung, mereka nggak pernah berantem.

Ten terkekeh kemudian mencubit hidung Hendery gemas, “Yaudah Abang gimana?”

Hendery mengangguk antusias, “Okay! Abang Hen, Papa Ten, Daddy Jo, dan— Eung, nama adiknya siapa Pa?”

“Belum ada sayang, tunggu sedikit lagi ya?” Jawab Ten sedangkan Johnny kembali menyiapkan makanan untuk dihidangkan.

Hendery mengangguk kemudian ia berjalan menuju meja makan untuk menunggu makanan siap.

Ten ikut membantu Johnny untuk mengambil piring yang akan digunakan kemudian ia letakkan satu persatu di meja.

Hendery mengambil piring yang berada di tangan Ten, piring miliknya untuk ia gunakan nanti. Ten tiba-tiba tersenyum melihat anaknya yang sigap membantu tanpa disuruh oleh dirinya kemudian mengelus pucuk kepala Hendery, “Terima kasih ya Dery.”

Hendery menggeleng, “Abang!”

Ten terkekeh, “Iya, terima kasih Abang.”

“Ini diaaa makanan malam ini!” Ucap Johnny sambil menaruh main dish di tengah meja makan membuat Hendery tersenyum senang.

Akhirnya, ketiganya makan dengan khidmat di meja makan.


Selesai ketiganya makan, bagian Ten yang menyuci piring sedangkan Johnny menemani Hendery di ruang keluarga sambil mengajarkan Hendery atau sekedar membacakan cerita untuk Hendery.

Setelah Ten selesai dengan kegiatan mencuci piringnya, Ten ikut duduk diantara Hendery dan Johnny, ia menyempil diantara kedua lelaki ini. Mentang-mentang tubuhnya mungil, masuk aja.

“Ih Papaaaa sempiiiitttt” Ucap Hendery meskipun begitu ia malah bergeser membuat Ten nyaman dalam duduknya.

“Lagi pada ngapainnn? Seru banget mau ikutannn dong” Sambar Ten membuat Johnny diam, seperti menyembunyikan sesuatu sedangkan Hendery berdiri kemudian duduk dipangkuan Ten. Untungnya anak ini pelan-pelan duduk dipangkuannya, jika tidak bisa bahaya anak yang berada dalam kandungannya terkena guncangan luar biasa dari kakaknya.

“Tadi Daddy cerita, waktu Dery masih diperut Papa hihihihi.” Hendery mengawali cerita yang sepertinya Ten tau akan dibawa kemana cerita ini. Diam-diam Johnny sudah melengos tidak ingin melihat kearah Ten sebelum terkena tatapan mematikan dari Ten.

“Daddy cerita apa sama Dery?” Tanya Ten sambil memegang tubuh anaknya agar tidak terjengkang kebelakang.

“Katanya waktu itu, Papa minta beliin Daddy sate padang jam dua pagi! Terus, akhirnya Daddy bela-belain buat beli sate padang pagi pagi cuma buat Papa. Daddy keren bangeeettttt.” Hendery bercerita dengan antusias, matanya ikut berbinar membayangkan Johnny seperti superhero untuk Ten. Padahal mah.

Sedangkan Johnny yang sedang dibangga-banggakan oleh anaknya tersenyum bangga.

“Tapi Papa lebih keren daripada Daddy, deh.” Hendery menarik ucapannya membuat pundak Johnny menurun sedangkan Ten tertawa melihatnya.

Ten mencium pipi gembil milik Hendery membuat Hendery terkekeh senang.

Hendery menyentuh perut milik Ten yang mulai membesar karena usia kandungannya mulai menyentuh 4 bulan.

“Papa perutnya udah mulai besar kayak Om Taeyong. Tapi Om Taeyong sekarang perutnya udah besar banget.” Ucap Hendery sambil mengelus perut milik Ten.

Iya, sekarang Taeyong sudah 9 bulan mungkin beberapa minggu atau hari lagi Taeyong akan lahiran.

Hendery sudah mulai terbiasa melihat perut Ten yang perlahan membesar, meskipun pada awalnya Hendery kaget bahkan dirinya sampai menangis melihat perut Ten yang semakin membesar.

Pasti Hendery setiap pagi selalu bilang pada Ten, “Papaaa perut Papa kenapa gede banget?! Papa nggak makan dinosaurus kaann? Lepehiinn Papaaaaaa.” Kemudian menangis kencang sambil berlari-lari memutari sofa. Ia takut Papanya makan dinosaurus beneran.

Setelah beberapa kali Johnny menjelaskan pada Hendery menggunakan bahasa yang cocok dengan seumuran Hendery, akhirnya Hendery paham. Meskipun, beberapa hari kemudian Hendery akan kembali bertanya apakah adiknya berada di dalam perut Papanya kemudian mengembang seperti adonan kue?

“Dede?” Ucap Hendery sambil mengetuk-ngetuk perut Ten membuat Johnny tertawa. Dipikir sedang masuk kedalam rumah atau kamar kali ya.

Ten terkekeh, “Bukan diketuk sayang, di elus-elus coba.”

Kemudian Hendery mengelus perut Ten kembali sambil menggumamkan kalimat 'Dede' 'Dede' 'Dede' sampai ia menguap lalu menidurkan tubuhnya di dada Ten.

Ten mengelus rambut Hendery, “Abang, bobo di kamar ya?”

Hendery menggeleng menolak dan menyamankan pelukannya.

Johnny kemudian mengelus rambut milik Ten sambil bergumam, “Gapapa?”

Ten tersenyum lalu mengangguk, “Tapi nanti aku nggak kuat gendongnya.”

“Iya, nanti aku aja yang gendong dia ya ke kamar.”

Ten mengangguk lalu lanjut mengelus rambut milik Hendery sampai Hendery tertidur pulas di pelukan Ten.

Johnny yang melihat hal tersebut kemudian pelan-pelan menggendong tubuh Hendery meskipun agak sulit karena Hendery yang memeluk tubuh Ten lumayan erat.

Hendery sedikit menggeliat dalam tidurnya, takut-takut ia terbangun Johnny kembali menepuk pantat Hendery kemudian membawa Hendery kedalam kamarnya.

Ten pelan-pelan bangun dari duduknya lalu mengikut ke dalam kamar Hendery yang ternyata Hendery sudah tidur dengan nyenyak kembali di kasur.

Johnny yang melihat Ten mengintip langsung mengangguk menandakan semua dalam kontrolnya dan tidak ada masalah kemudian Ten mematikan lampu kamar Hendery lalu keduanya keluar dari kamar Hendery.

Seteah keluar dari kamar Hendery, Ten langsung memeluk tubuh Johnny dan menghirup aroma maskulin dari tubuh Johnny membuat Johnny terkekeh. “Kenapa sayang?”

Ten menggeleng.

Oh, sesi manjanya lagi kambuh. Maka dari itu Johnny menggendong tubuh Ten dan ia bawa ke kamar milik mereka.

“Aku berat ya?” Tanya Ten dalam gendongan Johnny. Johnny menggeleng.

“Masa?”

“Iya sayang. Kamu ada yang dimau nggak? Tumben nggak minta sesuatu gitu.” Tanya Johnny setelah merebahkan tubuh milik Ten di kasur.

Ten menggeleng, “Belum, cuma pengen cium bau kamu aja.”

Johnny sedikit bersyukur karena sewaktu kehamilan Hendery malah Ten sangat tidak menyukai bau Johnny, berkali-kali dirinya muntah hanya karena bau tubuh Johnny yang berakhir Johnny ikutan muntah-muntah hanya karena bau tubuh Jaehyun.

“Sini, peluk.” Johnny melebarkan tangannya kemudian Ten masuk kedalam pelukan Johnny.

“Tapi, aku kangen Winwin.” Bibir Ten ikut melengkung kebawah, entah rasanya ia sangat merindukan Winwin saat ini.

“Besok kerumah Yuta aja ya?”

Ten menggeleng, “Nggak mau ketemu Yuta, maunya ketemu Winwin.”

“Loh, kan Yuta sama Winwin satu rumah sayang.”

“Yuta suruh keluar dulu, nggak boleh dirumah.”

Oh, ngidam ini namanya. Mulai banyak mau.

“Yaudah, besok aku suruh Yuta keluar rumah ya?” Final Johnny membuat Ten tersenyum sangat lebar, lalu mengecup bibir milik Johnny kilat.

“Terima kasih suamiku paling ganteng sejagat raya ini!” Johnny terkekeh, suami mungilnya ini, benar-benar menggemaskan.

“Cepet bilang sekarang sama Yutanya.” Ucap Ten lagi membuat Johnny bingung.

“Loh, kan biar besok pagi aku udah nggak liat Yuta di rumah berarti dia harus keluar rumah sekarang.”

Yut, maaf ya lagi-lagi lo jadi tumbal ngidamnya Ten, Batin Johnny kemudian mengambil ponsel miliknya namun ponselnya langsung ditarik oleh Ten. Ten mencari kontak Winwin lalu memencet video call.

Tak lama kemudian, terlihat wajah Winwin dengan setengah wajah milik Yuta yang sedang menidurkan kepalanya di pundak Winwin. Penasaran ceritanya.

Haaaiii Ten! Kenapa malam-malam vidcall?

“Winwinn, besok gue kerumah yaa?”

Wah, ada apa nihh?

“Gapapa, pengen kesana ajaa. Tapi, Yuta suruh keluar rumah dulu. Gue nggak mau liat muka dia.”

Mendengar ucapan Ten, Winwin langsung tertawa sedangkan Yuta langsung terduduk tidak terima dengan ucapan Ten.

Lah, apa salah muka gue woi.” Ini suara Yuta yang ikut menyambar.

“Ih, diem lo jangan ngomong jadi polusi suara nih.”

Oala jan-

Sstt Yut, jangan ngomong kasar ah. Di rumah Ten ada anak kecil.

Sedangkan Yuta langsung terkekeh kemudian meminta maaf pada Winwin.

Winwin kembali menatap layar ponsel, “Iya nanti bisa gue atur. Mau jam berapa kesini?

“Jam 9 pagi ya?”

Pagi amat, lo mau bantu bersih-bersih rumah gue ya.” Ini Yuta lagi kemudian Yuta diberi hadiah cubitan dipinggangnya sampai mengaduh kesakitan.

Johnny hanya tertawa melihat sahabatnya dijadikan bahan sana sini. Sabar ya Yut kalau kata Johnny.

Iya boleh Ten, berkabar aja ya biar nanti Yuta gue usir.

Yang, masa aku diusir beneran sih.” Ini lagi lagi Yuta dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya seperti mengadu.

Bentar ya Ten.” Kemudian Winwin menjauhkan ponselnya tanpa nge-mute video call tersebut membuat Johnny maupun Ten bisa mendengar suara mereka samar-samar.

Kamu tuh, Ten lagi ngidam namanya. Turutin aja Yut.

Masa aku diusir dari rumah sendiri sih yang.

Ya aku nggak akan usir kamu beneran Yutaaa. Nanti kamu ngumpet aja dimana kek yang nggak bisa Ten liat. Yaa?

Johnny hanya tertawa mendengarkan sedangkan Ten lebih ke bodo amat, intinya dia nggak mau liat muka Yuta besok di rumah Winwin.

Yaudah deh iyaaa. Jatah ya?

Johnny semakin tertawa, emang otaknya Yuta ini nggak jauh jauh dari jatah.

Iya iyaaa, dasar.

Setelah itu Winwin mengambil ponselnya lagi lalu berbicara pada Ten, “Semua aman Ten. Besok dateng yaa kerumah. Hendery dibawa juga?

Ten mengangguk, “Gapapa kan Win?”

Ya gapapa dongg, gue tunggu ya!

“Daaah Win!”

Winwin tersenyum sedangkan Yuta yang berada di sebelahnya masih dengan bibir yang melengkung kebawah, sebel dia.

Daaah Ten, John!

Ten menutup panggilan tersebut lalu memberikan ponsel milik Johnny pada pemiliknya lalu mencium bibir Johnny, “Good night, Jo

Good night, sayang.


Hendery yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Johnny bahwa pagi ini ia akan kerumah Yuta langsung semangat untuk mandi dan buru-buru sarapan. Bahkan ia membawa berbagai macam jenis mainan untuk dibawa kerumah Yuta.

“Papa Papa, hari ini kita kerumah Om Yuta ya?” tanya Hendery setelah menyelesaikan sarapannya.

“Kerumah Om Winwin.”

Johnny tertawa, masih saja suaminya ini.

“Loh, Om Yuta sama Om Winwin emang beda rumah?”

“Om Winwin sama Om Yuta satu rumah kok. Dery udah siap semuanya?” Demi mengalihkan pembicaraan, akhirnya Johnny bertanya kesiapan Hendery untuk ke rumah Yuta. Daripada semakin panjang mengingat sepertinya suaminya ini sedang menolak keberadaan Yuta di dunia ini.

Hendery mengangguk kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengambil ransel miliknya dan ditujukan untuk Johnny, “Udah! Berangkat sekarang Daddy?”

“Daddy sama Papa bersih-bersih piring kotor dulu ya sayang, Dery duduk dulu di sofa ya?”

Hendery mengangguk lagi lalu menuju sofa sambil menggeret tasnya, lumayan berat juga bawaan Hendery.

“Ini biar aku yang cuci, kamu temenin Hendery aja ya?” Ucap Johnny pada Ten yang baru saja ingin mencuci piring namun Ten menggeleng. Johnny dengan sifat posesifnya.

“Aku masih kuat Jo. Kamu bebersih meja aja.”

“Tapi-”

“Jo. Aku masih kuat, masih 4 bulan belum ada apa apanya Jo.” Ucap Ten lagi memotong ucapan Johnny membuat Johnny mendengus lalu mengangguk.

“Kamu jangan capek-capek sayang.”

“Nggak Jo, gih bebersih meja biar cepet. Hendery kayaknya semangat banget mau main.”

Johnny tertawa, “Ya gimana, dia seneng bisa ketemu sama Yuta lagi kayaknya. Cuma sama Yuta dia bisa main mobil-mobilan, kalo sama Jaehyun kamu tau sendiri, selalu ada Mark dan berujung main mainan punya Mark yang jarang ada mobil-mobilan.”

Ten mengangguk setuju lalu kembali mencuci piringnya sebelum Hendery mengamuk karena lama menunggu.

Akhirnya setelah semua sudah beres, ketiganya menuju kediaman Yuta dan Winwin menggunakan mobil.


“Titip dulu ya Win. Maaf ngerepotin.” Ucap Johnny setelah berpamitan pada Ten maupun Hendery yang sudah masuk duluan kedalam rumah.

Winwin mengangguk, “Lo mau kemana sekarang Jo?”

“Nemenin Jaehyun check up si Taeyong sekalian nemenin Mark.”

“Loh, Mark ajak kesini aja?”

“Anaknya mulai nggak mau lepas dari Taeyong, Win. Niat gue juga tadi mau ngajak Mark kesini buat main sama Hendery, cuma kata Jaehyun gitu.”

“Ohh, iya sihh. Yaudah hati-hati deh Jo.”

“Gue berangkat dulu dah Win, thanks sekali lagi.”

“Santai.”

Akhirnya, Johnny masuk kedalam mobilnya lalu melambaikan tangan pada Winwin sedangkan Winwin setelahnya langsung masuk kedalam rumah.

Baru saja Winwin menginjakkan kaki di rumahnya, kakinya sudah digoyang-goyangkan oleh Hendery, “Om Winwin, Om Yuta manahh?”

Kebiasaan Hendery setiap saat kerumah Winwin adalah mencari dimana Yuta berada.

Winwin jongkok kemudian berbisik di kuping Hendery, “Om Yuta ada dikamar, Dery kesana sendiri gapapa ya? Papanya Dery lagi nggak mau ketemu Om Yuta jadi Om Yuta lagi ngumpet.”

Hendery yang mendengar matanya langsung membulat, “Papa sama Om Yuta lagi main petak umpet ya Om?”

Winwin mengangguk, “Iya, jangan sampai Om Yuta ketemu sama Papa ya nanti Om Yuta kalah.”

Hendery mengangguk lalu memberikan jempol pada Winwin bahwa ia paham kemudian berlari menuju kamar Winwin sambil berteriak, “Om Yutaaaaaaaaaaa~”

Winwin terkekeh gemas lalu menuju ruang TV mendatangi Ten yang sudah duduk di sana.


Hendery mengetuk pintu kamar milik Yuta dan Winwin, “Om Yutaaa bukain pintuu ini Dery.”

Kemudian terdengar suara grasak-grusuk dari dalam kamar, Yuta berlari menuju pintu membukakan pintu untuk Hendery yang sudah menunggu dirinya di luar.

Setelah pintu terbuka, Hendery langsung menubruk kaki Yuta memeluk setengah badan Yuta, “Om Yuta kemana ajaa!”

Yuta terkekeh kemudian jongkok dan mengangkat tubuh Hendery, “Om Yuta lagi sibuk, maaf ya?”

“Om Yuta kayak Daddy, sibuk!”

“Iya kan kerjaan Om Yuta sama kayak Daddynya Dery. Loh, Dery kenapa ke sini?”

“Itu, tadi Daddy bilang, Papa lagi ngidam mau ketemu Om Winwin terus Dery mau ikut soalnya mau ketemu Om Yuta hehehehe.”

Yuta mencubit pipi gembil milik Hendery gemas, “Lucu banget sih kamu lucuuuu.”

“Aduh Om Yutaa kekerasan nyubitnyaaa!” Adu Hendery membuat Yuta mengelus pipi Hendery dan meminta maaf pada Hendery.

“Tapi Om, Dery mau tanya.”

“Dery mau tanya apa?”

Hendery menghadapkan dirinya kearah Yuta yang berada disampingnya itu, “Ngidam itu apa Om?”

Yuta terkekeh lalu tersenyum mendengar pertanyaan Hendery.

Semoga, Yuta tidak menjelaskan yang aneh-aneh kepada anak pertama Johnny dan Ten itu.


@roseschies

johnten mpreg universe


Setelah menerima pesan tersebut, Johnny yang baru saja selesai rapat langsung buru-buru pulang untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Bahkan, sepanjang jalan Johnny tidak berhenti tersenyum lebar hingga giginya kering.

Dirinya tidak pernah menyangka bahwa ia akan memiliki dua anak bersama Ten. Meskipun kehadiran Hendery sudah sangat membuat dirinya dan Ten bahagia, tetapi menambah satu anggota lagi, tidak jadi masalah bagi dirinya dan Ten.

Tak lupa Johnny membawakan satu buah es krim untuk Hendery karena tadi pagi dirinya sudah berjanji pada anaknya jika pulang nanti, dirinya akan membelikan Hendery es krim.

Meskipun terjadi cekcok sebentar dengan Ten karena anaknya jika sudah makan es krim, hidungnya akan meler. Tapi melihat mata memohon anaknya itu, akhirnya Ten kalah dan meminta Johnny untuk membelikan es krim untuk dirinya juga.

Memang, tidak bapak tidak anak, sama saja.

Sesampainya di depan pintu apartemen, Johnny memencet pin apartemennya itu kemudian masuk ke dalam dan melepas sepatu serta menaruh jasnya di gantungan di samping pintu.

“Ten, Hendery? Daddy pulang~” Johnny celingak celinguk sampai di dalam apartemennya mencari suami mungilnya dan anak mininya itu.

Namun dirinya tidak menemukan kedua lelaki tersebut di sana.

“Ten, Hendery?” Panggil Johnny lagi namun tidak ada sahutan dari Ten maupun Hendery.

Kuping Johnny tiba-tiba mendengar suara grusuk-grusuk dari kamar Hendery yang tidak jauh dari ruang tamu.

“Papa, itu Daddy manggil kitaa. Katanya kalau dipanggil harus jawab, gimana dong Paaa.” Terdengar suara Hendery yang setengah berbisik sepertinya pada Ten yang berada di depannya itu.

Johnny yang mendengar bisikan Hendery langsung terkekeh kecil.

“Sstt... Tapi kita kan lagi ngumpet sayang, masa nyahut panggilan Daddy.” Ten ikut berbisik, yang bahkan bisa dibilang dirinya bukan berbisik. Buktinya, Johnny bisa mendengar dengan jelas ucapan Ten dari belakang pintu kamar Hendery.

Johnny menggeleng-geleng melihat kelakuan suami dan anaknya itu dan menunggu kedua lelaki itu keluar dari aksi 'bersembunyi dari Daddy' itu.

“Oh! iya bener juga ya Pa hehehe. Yaudah, kita diem-diem aja ya Pa di sini hihihi.” Kekeh Hendery kemudian mengintip dari celah pintu kamarnya, mencari di mana Johnny berada.

“Ekhm. Ini dimana yaaa Papa Ten dan Hendery~” Teriak Johnny sambil celingak celinguk lagi mencari Ten dan Hendery yang sebenarnya dirinya sudah tau di mana keberadaan kedua lelaki tersebut.

Mendengar hal tersebut, Hendery terkekeh menertawakan Johnny, “Daddy kasian ya Pa nggak bisa nemuin kita.”

“Ayo, kita kagetin Daddy.” Ajak Ten kemudian memberikan aba-aba pada Hendery untuk mengejutkan Johnny yang mulai mendekat kearah kamar Hendery sebelum Johnny benar-benar membuka pintu kamar Hendery.

“Dor!” Hendery keluar dari kamarnya kemudian mengejutkan Johnny yang sudah berdiri satu jengkal dari depan pintu kamar Hendery.

Mengikuti permainan anaknya, Johnny kemudian pura-pura terkejut kemudian mengangkat Hendery, “Aduh! Kaget Daddy. Ngumpet yaaa anaknya Daddy nihhh.”

Hendery cekikikan digendongan Johnny kemudian memberikan kecupan di pipi Johnny kilat dengan bibir basahnya yang sebelumnya ia jilat terlebih dahulu, “Muaaaahh!”

Ten kemudian mendekat kearah Johnny lalu mencium tangan Johnny sedangkan Johnny mencium pucuk kepala Ten. Ritual sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja.

“Hihihi kissing timeeee. Papa Papa, Dery juga mau di cium!” Pinta Hendery sambil memberontak dalam gendongan Johnny.

Ten langsung mencium pipi gembil milik Hendery membuat Hendery mengangkat kedua tangannya, ia senang jika di cium oleh kedua orang tuanya ini.

Johnny kemudian mendaratkan Hendery di sofa ruang tamu kemudian membiarkan anaknya bermain dengan beberapa mainan yang ada di sana lalu berjalan menuju dapur sedangkan Ten mengekor di belakang Johnny.

“Gimana sekolahnya Hendery yang?” Tanya Johnny pada Ten yang sedang membuka bungkusan yang dibawa oleh Johnny sepulang kerja tadi.

“Anaknya tadi habis dapet pujian dari gurunya. Katanya Hendery pinter, cepet paham apa yang diajarin sama gurunya.” Ucap Ten lalu mengambil piring milik Hendery dan membuka bungkusan es krim milik Hendery dan ia taruh es krim tersebut di piring agar Hendery tidak susah memakan es krim tersebut. Selain itu, agar es krimnya tidak berceceran.

Johnny mengangguk paham, “Sini es krimnya Hendery, biar aku yang kasih ke dia.”

Ten memberikan piring milik Hendery pada Johnny kemudian ia kembali mengekor di belakang Johnny sambil membawa es krim miliknya untuk dimakan bersama Hendery nanti.

Keduanya duduk diantara Hendery yang ternyata sedang menulis entah apa itu dengan krayon dan juga spidol miliknya.

“Waah, lagi bikin apa nihh?” Tanya Johnny sesampainya ia di sebelah Hendery yang sedang fokus menulis.

“Ini! Tadi di sekolah Dery belajar ini, terus Dery suka sama pelajarannya. Jadi Dery mau belajar lagii.” Ucapan Hendery membuat Johnny dan Ten saling lihat-lihatan. Ajaib juga anaknya bisa suka sama belajar. Gen dari mana ini?

“Dery istirahat dulu ya? Kita makan es krim, mau?” Ucap Johnny kemudian memberikan piring milik Hendery yang sudah ada es krim di sana lalu Hendery megangguk dan menutup buku miliknya kemudian mengambil piring tersebut dan berterima kasih pada Johnny.

“Papa mam es krim jugaa?” Tanya Hendery pada Ten yang baru saja mendaratkan pantatnya di sebelah Hendery lalu mengangguk.

“Di makan sayang es krimnya, nanti meleleh tuh.” Ucap Ten menunjuk es krim milik Hendery yang sedikit lagi meleleh kemudian Hendery langsung mengambil es krim tersebut dan menjilat es krim tersebut telaten.

“Dery, tadi dapet pujian ya dari Bu Guru?” tanya Johnny sambil mengelus surai milik Hendery sedangkan sang anak masih asik menjilati es krimnya sambil menggayut pada tubuh Ten.

Hendery mengangguk antusias, “Iyaa. Tadi Dery dikasih dua bintang sama Bu Guru, katanya Dery pinter terus Dery minta satu bintang lagi sama Bu Gurunya hehehehe.”

Mendengar ucapan anaknya, Johnny tertawa. Bener-bener jeplakannya siapa ini yaampun.

“Loh, kok Dery minta satu bintang lagi sama Bu Gurunya? Kan Dery udah punya dua? Kurang?” Tanya Johnny, penasaran.

Hendery menggeleng, “Enggak. Dery kasih ke Lucas! Kasian Lucas hari ini nggak dapet bintang dari Bu Guru.”

Johnny dan Ten ikut tersenyum mendengar jawaban sang anak. Anak satu ini, benar-benar seajaib itu, “Waah~ Terima kasih ya kakak Dery udah baik sama temennya hari ini.”

Hendery berhenti menjilati es krimnya, ia bingung kemudian mendongakkan kepalanya menatap Ten dan Johnny bergantian, “Tapi Dery kan bukan kakak?”

Johnny kemudian menatap Ten bingung dan bertanya pada Ten tanpa mengeluarkan suara, “Kamu belum bilang sama Hendery?

Ten menggeleng.

“Dery kalau punya adik, mau nggak?” Tanya Johnny lagi.

Hendery mengangguk senang, “Mau!”

Ten menghembuskan nafas lega, sebelumnya ia takut jika Hendery menolak untuk memiliki seorang adik. Karena, banyak sekali kasus anak pertama menolak untuk memiliki seorang adik hanya karena takut tidak disayang lagi oleh kedua orang tuanya atau kasih sayangnya sudah dialihkan untuk adiknya itu.

Ten dan Johnny bersyukur, Hendery sepertinya senang jika dirinya memiliki seorang adik.

Hendery berhenti menjilati es krimnya yang sudah mau habis kemudian menengok kearah Johnny dan Ten bergantian, “Mana adiknya?”

Ten terkekeh, “Dery mau nunggu sembilan bulan buat ketemu adik?”

Dery menggaruk kepalanya bingung, “Emang Papa mau ngambil dimana? Kok lama banget sembil- bentar, sembilan bulan itu kapan Pa?”

Johnny tertawa, anaknya benar-benar sangat polos. Ya bukan polos juga sih, anak berumur lima tahun memang tau apa sih?

“Tapi Dery mau nunggu kan?” Tanya Ten lagi lalu Hendery mengangguk dan lanjut menjilati es krimnya sampai habis sedangkan Ten sudah menyelesaikan makan es krimnya sejak tadi.


Setelah menidurkan Hendery, Ten membuka connecting door lalu menutup pelan pintu tersebut dan berjalan menuju kasur di mana Johnny sudah menunggu dirinya di sana.

Johnny membuka lebar tangannya mempersilahkan Ten untuk masuk kedalam pelukannya kemudian mengecup kilat pucuk kepala Ten, “Selamat ya sayang.”

Ten tersenyum kemudian mengecup bibir Johnny, “Aku yang berterima kasih sama kamu. Selamat juga Jo, Hehehe.”

Kekehan di akhir percakapan Ten membuat Johnny memicingkan matanya. Oh, dia lupa pasalnya jika Ten hamil, ini adalah sebuah bencana bagi dirinya? Tak lupa, Jaehyun dan Yuta yang akan kena imbasnya nanti.

Sebenarnya bukan bencana juga sih. Tapi, entahlah...

“Mau periksa kapan yang?” Tanya Johnny sambil mengelus surai Ten dengan sayang.

“Besok kamu kan libur, gimana kalau besok? sekalian ajak Hendery main.” Usul Ten kemudian Johnny mengangguk setuju.

“Aku jadi nggak sabar,” Ucap Johnny sambil mengelus perut Ten yang masih rata.

Ten terkekeh, “Nggak sabar beliin sate padang jam dua pagi ya?”

Johnny berhenti mengelus perut Ten kemudian menatap Ten sedangkan yang ditatap hanya menyengir lalu mencubit hidung Ten gemas, “Kamu ini yaaa.”

“Ih gimana dong Jo, kan mau anaknya gitu.”

Johnny mengangguk-angguk kemudian memeluk Ten erat, “Iya sayang, yaudah bobo besok harus fit kamunya.”

Ten mengangguk lalu memeluk tubuh Johnny dan akhirnya keduanya tidur dalam keadaan memeluk satu sama lain.


Keesokan paginya, Ten terbangun tepat jam setengah tujuh pagi kemudian langsung mandi dengan air hangat sebelum menyiapkan sarapan untuk suami dan juga anaknya yang masih sama-sama tidur.

Biasanya disaat liburan, Johnny akan bangun sesuai dengan jam dimana Ten membangunkan dirinya sedangkan untuk Hendery waktu bangunnya tidak menentu.

Terkadang Hendery akan bangun sebelum Johnny bangun dan lebih sering Johnny lah yang membangunkan Hendery dari tidurnya. Meskipun diakhiri dengan Johnny yang ikut tidur kembali di kasur milik Hendery.

Tok tok tok

Suara ketukan terdengar dari connecting door membuat Ten yang sedang mengeringkan rambutnya langsung melihat kearah connecting door.

“Papaaa?” Panggil Hendery dari belakang pintu connecting door membuat Ten melepaskan handuknya lalu lari menuju pintu untuk membuka kunci pintu tersebut.

Setelah pintu terbuka, Ten bisa melihat Hendery yang berdiri sambil memeluk selimut yang menutup tubuhnya itu seperti jubah superman.

“Kenapa sayang? Kok udah bangun?” Yang ditanya malah celingak celinguk melihat ke dalam kamar orang tuanya itu kemudian menggaruk kepalanya bingung.

“Papa.” Panggil Hendery lagi.

“Iya Dery?” Jawab Ten kemudian jongkok di depan Hendery menunggu Hendery berbicara lagi.

“Adiknya mana? semalam Papa udah ambil?” Tanya Hendery lagi membuat Ten menahan tawanya dan mencubit hidung gemas milik Hendery.

Ten menggendong tubuh Hendery kemudian duduk di kasur tepatnya di sebelah Johnny yang masih tertidur, “Bangunin dulu coba Daddynya.”

Setelahnya Hendery menoel-noel pipi Johnny, “Daddy banguuunnnnn.”

Tidak ada reaksi dari Johnny membuat Hendery kembali menoel-noel pipi Johnny lebih banyak, “Dadddyyyyyyyyyyyyyyyyy”

Mendengar suara teriakan Hendery membuat Johnny mengerjapkan matanya kemudian menatap Hendery yang sedang tersenyum lebar.

“Daddy, adiknya Dery mana?”

Ten yang sedang duduk di depan meja rias tertawa mendengar Hendery yang ternyata bertanya mengenai hal yang sama pada Johnny membuat Johnny bingung.

Johnny baru saja bangun tetapi dirinya sudah dijatuhi oleh pertanyaan seperti ini oleh Hendery. Otaknya mana bisa berfikir.

“Hari ini, kita lihat adiknya Dery ya? Sekalian Dery main ke taman, mau?” Final Johnny membuat Hendery mengangguk antusias.

Hendery sangat senang jika diajak ke taman sedangkan itu merupakan bencana untuk Johnny. Karena serius, baterai Hendery tidak akan habis di taman dan Johnny akan diajak muter-muter seperti gangsing di taman.

“Yaudah, sekarang Dery mandi ya? Daddy bikin sarapan dulu?”

Mendengar ucapan Johnny membuat Ten memberhentikan aksinya yang sedang menggunakan skincare paginya itu, “Loh? Kok kamu yang buat sarapan?”

“Gapapa, aku aja yang buat sarapan. Kamu tungguin Hendery mandi ya?”

Ten mengangguk kemudian menyelesaikan rentetan skincare paginya itu lalu mengajak Hendery mengambil pakaiannya dan pergi menuju kamar mandi sedangkan Johnny keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk keluarga kecilnya itu.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Johnny dan Ten masuk ke dalam ruangan untuk berkonsultasi mengenai kehamilan Ten.

Sedangkan Hendery dititipkan pada Jaehyun yang ternyata juga ikut bersama suami dan anaknya itu mengantarkan Ten untuk berkonsultasi mengenai kehamilannya.

Sebenarnya sekalian sih, karena suami Jaehyun yang sedang mengandung 6 bulan juga ada jadwal konsultasi mengenai kehamilannya itu.

Sebelumnya juga Hendery sempat bertanya kemana Yuta. Tadinya, Yuta dan Winwin juga ingin ikut menemani tetapi tidak jadi karena tiba-tiba orang tuanya menyuruh Yuta untuk datang kerumahnya. Padahal baru saja Yuta mau ngajak Hendery balapan.

“Mark, Dery mau punya adik!” Ucap Hendery setelah kedua orang tuanya masuk ke dalam ruangan.

“Waah, Mark juga mau punya adik! Nih, adik Mark ada di dalam perut Papi.” Tunjuk Mark pada perut Papinya yang sudah membesar membuat Hendery melotot terkejut.

Berati, nanti adik Hendery ada di dalam perut Papanya dong? dan Papanya akan menggendut seperti Papinya Mark.

“Om Jaehyun, Nanti Papa bakal kayak Om Taeyong ya?” Tanya Hendery sambil menarik-narik jas milik Jaehyun yang berada di sebelahnya itu membuat Jaehyun melirik kearah Hendery yang sedang menunggu jawaban.

Jaehyun mengangguk, “Iya, nanti Dery jadi anak yang baik ya? Jagain Papanya Dery.”

Hendery mengangguk paham kemudian Mark ikut menyambar percakapan diantara mereka, “Iya! Kayak Mark selalu jagain Papi.”

“Contohnya?” Tanya Hendery menjawab omongan Mark, sepertinya menarik dan Hendery akan mencatat dalam otaknya itu.

“Engg- Oh! Biasanya Mark suka bantuin makanan Papi kalau Papi makanannya nggak habis.” Jawab Mark polos membuat Jaehyun dan Taeyong tertawa mendengar jawaban Mark yang kelewat polos.

Hendery mengangguk, “Ohh gituu. Waah, enak dong makan banyak ya Om?”

Jaehyun mengangguk mengikuti percakapan kedua anak kecil ini.

“Om Taeyong, nanti perut Papa juga besar ya?” Tanya Hendery sekarang ditujukan untuk Taeyong membuat Taeyong mengangguk.

Hendery bangun dari tempat duduknya kemudian menghadapkan diri kearah Taeyong.

“Seginiii?” Tanya Hendery lagi sambil memperagakan tangannya membundar di depan perutnya itu membuat Taeyong dan Jaehyun tertawa melihat kelakuan anak pertama Johnny dan Ten ini.

Mark yang tidak mau kalah kemudian ikut berdiri, “Bukan segituu Dery. Tapi seginiii!”

Mark memperagakan bulatan lebih besar dibanding Hendery, bahkan lebih besar seperti balon milik Lala yang ada di Teletubies.

“Ih Mark besar banget kasian Papaaaa, kalau gitu Dery nggak usah punya adik. Kasian Papa.” Pundak Hendery menurun, bibirnya juga melengkung kebawah. Ia sedih memikirkan Papanya jika harus memiliki perut sebesar balon Lala yang diperagakan Mark tadi.

“Nggak kok, nggak sebesar itu. Nih, lihat perut Om Taeyong. Nanti perut Papanya Dery segini.” Jawab Taeyong membenarkan omongan anaknya itu.

Hendery mengangguk lagi, “Ih Mark nihh salah tauuuu!”

Mark hanya menggaruk tengkuknya lalu terkekeh, “Hehehe. Ayah, Mark mau balon Lala deh.”

Lah, ini anak kenapa tiba-tiba jadi minta balon lala.....

“Ih, Dery nanti juga mau minta balon Lala ah sama Daddy.”

Lah....

Akhirya kedua anak kecil itu duduk di tempatnya sambil menunggu Johnny dan Ten keluar dari ruangan.


Tidak terlalu lama konsultasi Johnny dan Ten saat ini, hanya diberi beberapa informasi mengenai apa yang harus Johnny maupun Ten lakukan untuk kehamilan keduanya ini.

“Papaaaaaa” Teriak Hendery sambil berlari-lari kearah Ten yang baru saja keluar dari ruangan.

Mark yang mengikut Hendery dari belakang ikutan berlari-lari kemudian berteriak, “Om Joooo”

Sedangkan Jaehyun dan Taeyong hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan anaknya yang suka ikut-ikut dan berjalan menuju Johnny dan Ten.

“Daddy Daddy, Dery mau balon punya Lala!” Todong Hendery tiba-tiba membuat Johnny menatap Jaehyun bertanya abis ngapain tadi emang dan Jaehyun hanya menggidikkan bahunya.

“Tapi mainan Dery kan udah banyak di rumah?” Ucap Johnny kemudian menggendong Hendery dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya untuk merangkul Ten yang berada di sebelahnya itu.

“Ayah gendong juga kayak Dery!” Nah ini, Mark yang selalu ingin ikut-ikutan dan akhirnya Jaehyun mengendong Mark juga.

“Ohh iya juga. Yaudah, nanti mainannya buat adik!”

“Iya nanti kita beli nunggu adiknya Dery lahir ya?”

Hendery diam kemudian memajukan tubuhnya untuk menarik lengan baju milik Ten yang berada di samping Johnny membuat Ten menengok kearah Hendery, “Kenapa sayang?”

“Lahir itu apa Pa?” Tanya Hendery membuat Johnny, Ten, Taeyong, dan Jaehyun tertawa sedangkan Mark yang tidak tau apa-apa hanya ikut tertawa, ya pokoknya Mark mau ikutan.


@roseschies.

Fyi, takutnya pada bingung kenapa Mark sama Hendery bisa seumuran padahal kalau diingat waktu Ten lahiran Hendery, Jaehyun dan Taeyong itu belum menikah apalagi melahirkan seorang anak. Jadi, Mark itu anak adopsi yaaa. Dan yup mereka (Mark dan Hendery) itu seumuran.