johnten mpreg universe
Pagi-pagi buta Ten mengerang menahan sakit yang ada di perutnya sambil memegang perut miliknya.
Semakin dekat dengan tanggal semakin sering juga Ten mendapatkan kontraksi palsu. Sebagai pasangan yang sigap, Johnny pun sudah mengingat beberapa hal yang harus ia lakukan seperti saat dulu ia lakukan pada waktu itu Ten hamil Hendery.
“Sini, nafas pelan-pelan sayang.” Ucap Johnny sambil membantu suami mungilnya mengatur nafas.
Untungnya, kali ini Hendery masih tertidur pulas di kamarnya dan tidak akan menganggu atau memperparah keadaan Ten maupun Johnny. Meskipun Johnny beberapa kali memberitahu pada Hendery bahwa Papanya ini baik-baik saja namun bagaimanapun insting seorang anak apalagi masih balita seperti Hendery masih sangat takut bahwa Papanya kenapa-kenapa. Belum lagi, Hendery belum banyak tau mengenai apa yang sedang Ten rasakan.
Terkadang agar sang anak tidak khawatir dengan Ten, Ten harus diam diam menahan rasa sakitnya meskipun Johnny selalu mewanti-wanti agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Johnny hanya takut, terjadi hal hal yang tidak diinginkan entah untuk sang anak dan juga Ten nantinya.
“Jo, nanti kalau udah masuk ruang bersaling tolong jelasin ke Dery ya? Jangan sampe dia buat kekacauan di rumah sakit karena ngira aku kenapa-kenapa.” Ucap Ten membuat Johnny mengangguk paham.
Johnny juga sudah meminta tolong pada Yuta maupun Jaehyun sama seperti waktu Ten melahirkan Hendery bedanya saat ini kedua temannya itu harus siap kuping mendengar pertanyaan yang terucap dari bibir Hendery mengenai Papanya itu.
“Nanti aku temenin kamu di dalem, Hendery biar aku titip sama Yuta dan Jaehyun di luar.”
Ten menggeleng, “Kasihan Yuta sama Jaehyun udah sering direpotin tentang Hendery, Jo. Aku gapapa sendirian aja ya kamu temenin Hendery di dalem. Nanti atau nggak aku minta temenin Taeyong sama Winwin. Ya?”
Sekarang Johnny yang menggeleng lalu memegang kedua pundak Ten menatap kedua mata milik Ten, “Sayang, aku nggak akan biarin kamu berjuang di dalem sana sendiri. Biarin aku temenin kamu di dalam ya? Nanti aku jelasin ke Hendery biar anaknya paham, ya?”
Ten mendengus lalu mengangguk, mau bagaimanapun benar kata Johnny. Dia masih butuh semangat dari suaminya itu.
Johnny mengelus kening milik Ten kemudian menyuruh Ten untuk tidur kembali.
“Jo, aku boleh tidur bareng Dery?” Tanya Ten namun Johnny langsung mengangguk tanpa bertanya lebih lagi.
Ten bangun dari tidurnya kemudian menuju kamar Hendery yang berada di sebelah kamarnya lalu ikut tidur di samping Hendery yang masih menutup matanya, menikmati mimpi indah yang menghampiri dirinya.
Ten menaikan selimut hingga menutup setengah tubuh Hendery lalu memeluk tubuh milik Hendery sambil mengelus surai milik Hendery dan tak lupa ia mengecup kening milik Hendery.
“Abang, terima kasih ya udah mau terima calon adik abang bahkan disaat adiknya belum memunculkan diri di dunia yang sama dengan abang. Abang, Papa sama Daddy nggak akan pernah lupain abang sebagai anak pertama kami. Papa dan Daddy nggak akan pernah bosen bilang terima kasih sama abang udah jadi anak yang sangat baik. Tapi, Papa sama Daddy minta satu hal, tolong selalu jaga adik abang nanti ya? Mungkin nanti ada suatu saat Papa dan Daddy lebih memerhatikan adik abang, jangan pernah lupa kalau kami selalu memerhatikan abang sesuai dengan porsinya. Adik abang, memang lebih butuh perhatian kami begitu pula perhatian dari abangnya. Abang, maukan jadi abang yang disayang sama adiknya? Abang maukan membuat adik abang bangga punya abang seperti abang?” Ten bermonolog sambil mengelus surai milik Hendery dan diam-diam menahan air matanya turun dari matanya itu.
Ten bahkan bingung, kenapa tiba-tiba ia mengucapkan serentetan kata itu untuk Hendery. Namun, Ten masih melanjutkan kalimat-kalimat lainnya yang dipastikan Hendery tidak mendengar ucapan tersebut.
“Abang, Papa sayang sama abang pun Daddy sayang sama abang. Oh, calon adik abang juga sayang sama abang karena selama dia di perut, abang nggak lupa terus mengelus calon adik. Abang—”
Belum melanjutkan kalimatnya, Ten sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Akhirnya Ten menahan kalimat yang ingin ia keluarkan lalu mengatur nafasnya sebelum ia semakin menangis tertahan.
“Abang, jangan cepet besar ya?”
Ten menatap wajah damai milik Hendery kemudian mengecup kening, kedua pipi, hingga hidung milik Hendery.
“Rasanya kalau kamu udah jadi abang, kamu cepet banget besarnya nak. Papa egois masih mau liat kamu kecil yang merengek-rengek minta ini itu. Papa nggak bisa bayangin nanti kalau adiknya udah lahir.” Ten menangis lagi sambil memeluk erat Hendery.
Akibat pergerakan Ten, bibir Hendery tiba-tiba melengkung kebawah dengan mata yang terbuka pelan-pelan.
Hampir saja Hendery ingin protes pada Papanya namun melihat mata Papanya basah Hendery mengurung niatnya.
“Papa?”
Ten tersentak kemudian menghapus jejak air matanya lalu tersenyum pada Hendery, “Eh? Kok bangun sayang?”
“Papa meluk Dery kenceng banget, Dery sampe kaget terus bangun dari mimpi. Mimpinya lagi enak banget ih Pap— Papa kenapa nangiss?”
Mendengar cerita Hendery, bukan semakin menghapus jejak air matanya Ten malah semakin menangis membayangkan nanti jika adiknya sudah lahir, apa Hendery masih bisa bercerita seperti ini pada dirinya?
Ten menggeleng.
“Puk puk puk. Papa jangan nangis nanti adik di dalam perut Papa ikut sedih kalau Papa nangis. Puk puk puk.”
Hendery menepuk lengan Ten sambil memeluk setengah tubuh Ten.
Anaknya ini, tidak tau apa sekuat apa Ten menahan tangisannya yang ingin membucah.
“Papa bobo sama Dery ya?” tanya Hendery membuat Ten mengangguk.
“Daddy bobo sama hantuuu hihihihihih.” Ejek Hendery membuat Ten tertawa disela-sela tangisannya.
Ten menghapus jejak air matanya lalu menatap Hendery tak lupa mencubit hidung milik Hendery, “Emang Dery nggak kasihan sama Daddy ditemenin hantu bobonya?”
Hendery menggeleng kemudian tersenyum, “Enggak! Soalnya Daddy bisa memberantas semua hantu di sini. Hantunya takut sama Daddy, badan Daddy besar!”
Ten tertawa mendengar ucapan Hendery kemudian lanjut menepuk-nepuk Hendery mengajak anaknya itu kembali tidur dan menjemput mimpi masing-masing, “Bobo lagi ya?”
Hendery mengangguk, “Iya bobo sama Papa!” kemudian memeluk tubuh Ten dan menutup matanya.
Johnny yang sebenarnya dari tadi menguping dari belakang pintu sudah menangis bombay mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Ten dan juga Hendery. Bahkan ia melupakan fakta bahwa ia diejek oleh anaknya karena terlalu larut dengan ucapan Ten pada anak pertamanya itu.
“Jelek banget gue sampe nangis gini. Tuhan, Ten terbuat dari apa sih manis banget gini.” Johnny bermonolog kemudian kembali menuju kasurnya sambil menghapus jejak air matanya.
Johnny menghadapkan tubuhnya menghadap ke kamar Hendery, seakan-akan mereka tidur bertiga dalam satu kasur.
“Kalau tadi kamu yang berterima-kasih sama Hendery. Aku di sini yang akan terus berterima-kasih sama kamu, Ten. Anak kita bisa jadi kayak gini karena didikan kamu. Terima kasih ya nggak pernah menyerah buat didik anak kita. Terima kasih ya nggak pernah nyerah sama hal apapun. Membesarkan anak nggak segampang itu, tapi disini aku bakal selalu temenin kamu dan belajar bareng sama kamu sampai kapanpun buat kedua anak kita. Terima kasih, malaikatku.”
Mendengar ucapannya sendiri, Johnny terkekeh sambil menghapus air matanya hanya karena berterima-kasih kepada suami mungilnya itu. Suaminya itu, nggak berhenti-berhenti memberikan banyak kebahagiaan dalam hidup Johnny. Entah sudah berapa kali lagi lelaki itu memberikan hal yang diluar dugaan Johnny.
“Daddy.” Hendery menarik kemeja yang digunakan Johnny sambil memanggil-manggil Johnny.
Johnny yang baru saja berbicara dengan orang rumah sakit kemudian jongkok untuk menyetarakan tingginya dengan sang anak, “Kenapa sayang?”
“Kenapa Papa masuk rumah sakit?”
“Papa mau lahiran sayang, adiknya Dery dikit lagi mau lahir.”
“Kenapa nggak lahiran di rumah aja? Emang nggak bisa?”
Johnny terkekeh, “Nggak sayang. Nanti Dery ditemenin sama Om Yuta dulu ya? Daddy temenin Papa di dalem? Nggak apa-apa kan?”
“Dery nggak boleh ikut temenin Papa? Daddy, Papa nggak kenapa kenapa kaann?”
“Papa baik-baik aja sayang. Dery belum bisa temenin Papa, nanti sama Om Yuta gapapa ya? nanti Om Jaehyun juga dateng bareng sama Mark nemenin Dery. Ya?”
“O? Mark juga ikutt? Yaaayyy! Oke Daddy!”
Setelah itu, Johnny mengajak Hendery untuk bertemu dengan Yuta yang sudah duduk di depan.
“Yut!”
“Eett, Gimana kabar Ten Jo?”
“Lagi ditemenin sama Taeyong Winwin di dalem.” ucap Johnny.
Taeyong dan Winwin terlebih Winwin banyak sekali membantu Ten belakangan ini.
Maka dari itu, sejak kemarin Ten selalu ditemenin oleh Winwin dan Taeyong yang tiba-tiba suka datang setelah bergantian mengurus Jeno dan Mark dengan Jaehyun.
“Ohiya lupa suami gue dari kemaren bareng Ten terus ya.”
“Jangan sampe lupa sama suami sendiri lo anjir.”
“Ya kaga, dapetinnya susah itu. Sampai harus mengeluarkan blood, sweat, and tears.”
“Buset, kayak lagu aja itu perjuangan.”
Johnny dan Yuta tertawa sedangkan Hendery yang tidak paham keduanya sedang membahas apa hanya bisa terdiam dalam duduknya. Hendery menunggu kedatangan Mark, dirinya tidak sabar mau pamerin adiknya nanti ke Mark.
“Mark!”
Hendery berteriak setelah melihat Mark yang sedang berpegangan tangan dengan Jaehyun dikejauhan.
Mendengar namanya dipanggil, Mark langsung menarik Jaehyun untuk berlari menuju Hendery, Yuta, dan Johnny.
“Deryy!”
“Jo, Yut!”
“Markk, sini duduk sini!” Hendery mengajak Mark untuk duduk bersama dengannya sedangkan Mark mengangguk patuh lalu ikut duduk disebelah Hendery meninggalkan Ayah dan kedua Omnya berbincang.
“Adik Dery hari ini keluar!” Ucap Hendery, akhirnya Hendery bisa berbicara seperti ini pada Mark.
Mark mengangguk, “Iya Ayah tadi bilang sama Mark. Terus mana adiknya Dery?”
Hendery menggedikkan bahunya, “Nggak tau. Kata Daddy masih harus tunggu sebentar. Mark temenin Dery ya?”
Mark mengangguk, “Iya Mark temenin Dery.”
Setelah selesai berbincang dengan Yuta dan Jaehyun, Johnny menghampiri anaknya kemudian berjongkok di depan anaknya itu, “Abang, Daddy masuk dulu ya temenin Papa? Abang disini bareng Mark sama Om Jaehyun, Om Yuta ya? Kalau mau kemana-mana izin dulu sama Om Jaehyun atau Om Yuta. Ya?”
Hendery mengangguk, “Daddy jangan lama-lama keluarin adiknya.”
Johnny terkekeh, “Iya sayang— Je, Yut jagain anak gue ya. Gue masuk dulu.”
“Yo santai aja Jo. Best of luck pokoknya. Gue bantu doa dari sini.” Ucap Yuta kemudian Johnny mengangguk dan meninggalkan mereka untuk masuk kedalam ruangan Ten.
Mendengar ucapan Yuta, Hendery kemudian menoel-noel Yuta yang baru saja duduk di sampingnya.
“Kenapa Dery?”
“Kok Om bantu doa dari sini? Emang kenapa Om?”
“Biar adiknya Dery keluarnya lancar. Dery juga bantu doa dari sini ya?”
“Ooo gitu. Yaudah Dery berdoa dulu kalau gitu.”
Selanjutnya, Hendery beneran berdoa diikuti oleh Mark yang ikut-ikutan berdoa membuat Jaehyun dan Yuta tertawa melihat kelakuan kedua anak kecil ini.
Setelah menunggu lumayan lama dan juga mendengarkan beberapa rengekan dari Hendery yang bertanya kenapa kedua orang tuanya belum keluar juga sampai sampai akhirnya Yuta mengajak Hendery dan Mark bermain di taman yang ada di rumah sakit demi menenangkan Hendery, sampai akhirnya Yuta mendapatkan pesan dari Jaehyun bahwa anak kedua Johnny dan Ten sudah lahir.
“Dery, Mark naik yuk? Mau ketemu adiknya Dery nggak?”
Hendery dan Mark mengangguk antusias kemudian Dery langsung memegang tangan kanan Yuta sedangkan Mark memegang tangan kiri Yuta.
“Siapp?”
“Siaapp Om! Ayooooo~” Teriak keduanya lalu Yuta berlari menarik-narik Hendery dan Mark yang cekikikan diajak lari-lari oleh Yuta.
Setelah sampai di lantai dimana ruangan Ten berada, Jaehyun melambaikan tangan pada Yuta, Mark, dan Hendery lalu ketiganya mendekat kearah Jaehyun.
“Udah boleh masuk Je?”
Jaehyun mengangguk kemudian jongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan Mark dan Hendery.
“Nanti di dalam jangan berisik ya?”
Mark dan Hendery mengangguk, nggak tau aja ini dua anak sebenernya beneran paham apa nggak sama apa yang diucapin Jaehyun tapi ngangguk-ngangguk aja karena udah nggak sabar mau ngeliat adiknya Hendery.
Mark menggenggam tangan Jaehyun sedangkan Hendery menggenggam tangan Yuta.
Setelah masuk keruangan Ten, Hendery berhamburan lari menuju Johnny yang baru saja meletakkan anak keduanya di boks sebelah Ten.
“Daddy!”
Hendery berlari-lari menuju Johnny sedangkan Johnny memberikan gesture untuk menurunkan volume suara.
“Sstt, adiknya Dery lagi bobo.” Ucap Johnny setelah mengangkat tubuh Hendery untuk digendong.
“O? Mana adiknya Dery Dad?” Tanya Hendery kemudian Johnny menunjuk boks yang ada di depannya dimana terisi bayi mungil yang tidak terlalu mungil karena berat badannya yang lumayan besar dibanding Hendery dulu.
Hendery menatap adiknya dengan mata yang berbinar kemudian menatap Johnny lagi, “Daddy, adiknya Dery gemes banget hihihi keciiiiil tapi lebih kecil Nono.”
“Daddy, nama adiknya Dery siapa?”
“Haechan.”
“Dede echan, dedenya Dery!”
Johnny tersenyum kemudian kembali melihat Haechan yang berada di boks, “Liat tuh, dedenya senyum-senyum seneng ketemu sama abangnya.”
“Daddy Daddy nunduk sedikit mau liat lebih deket!”
Johnny menurunkan sedikit tubuhnya menahan beban tubuh dirinya dan Hendery membiarkan Hendery melihat Haechan lebih dekat.
Mata Hendery tidak berhenti berbinar, ia senang sekali bisa lihat adiknya yang akhirnya lahir.
“Dede, haiiii. Dede, nanti kita main bareng yaaaa?”
Ten yang selesai berbincang dengan Taeyong mendengar ucapan Hendery ikut tersenyum kemudian memanggil anaknya itu, “Abang, lupa nih sama Papa? Kata Om Yuta tadi Abang nyariin Papa teruss.”
Hendery yang berada di gendongan Johnny langsung meminta untuk diturunkan lalu berlari menuju Ten, “Papaaaa!”
“Papa mau naik bolehh?”
Ten mengangguk, “Sini, Tolong naikin anaknya Jo.”
Johnny kemudian mengangkat Hendery, “Hati-hati ya sayang.”
“Makasih Daddy!”
Kemudian Hendery bertanya banyak hal pada Ten sedangkan Mark sedang menarik-narik tangan Papinya yang sedang duduk di sebelah kasur Ten melihat interaksi antara Ten dan Hendery.
“Papii, Mark mau lihat adiknya Dery. Ayoo temenin Papiii!”
Padahal, Hendery bilang mau ngasih tau adiknya tapi Mark malah dilupain.
“Ten, anak gue boleh liat kan?” Izin Taeyong pada Ten kemudian Ten mengangguk.
“Papiii ayooooo.”
“Iya sayang iyaa, sini Papi gendong.”
Mendengar Mark yang ingin melihat adiknya, Hendery kemudian ikut berbicara.
“Ih! Mark tunggu!”
“Daddy, tolongin Hendery ke dede”
Johnny yang masih berbicara dengan Jaehyun langsung mengangguk dan membantu anaknya untuk melihat adiknya, lagi.
Keempatnya sudah sampai di depan boks Haechan. Hendery melihat kearah Mark kemudian tersenyum senang.
Akhirnya, Hendery benar-benar bisa memamerkan adiknya pada Mark.
Baru saja Hendery ingin membuka mulut untuk memamerkan adiknya, Mark sudah berbicara lebih dulu.
“Papi, adiknya Dery lucu yaaa. Lebih lucu daripada Nono.”
Johnny tertawa, sedangkan Taeyong menggeleng-geleng mendengarkan ucapan Mark.
“Ih iya doongg! Adiknya Dery lucu kaaann” Pamer Hendery tak disangka Mark malah mengangguk setuju dengan ucapan tersebut.
“Adiknya Dery lucu banget. Papi, adiknya Dery boleh Mark bawa pulang nggak?”
Johnny semakin tertawa, ini gimana maksudnya coba.
“Loh, Nono nanti sedih kalau kakaknya lupa sama Nono lohh.”
Mark menggeleng, “Nggak, Mark nggak ngelupain Nono. Tapi Papiiii, adiknya Dery lucuuu.”
“Nanti Mark sama Nono aja yang main kerumah Dery ya?”
Mark mengangguk, “Kalau Mark nginep dirumah Dery boleh?”
“Iya, nanti ya sayang.”
“Yaaayyy!”
“Ih Mark nggak boleh ambil dedenya Deryyyy!”
Johnny terkekeh mendengar tolakan dari Hendery karena mendengar adiknya yang ingin diambil oleh Mark.
“Main bareng-bareng ya sayang?”
Hendery mengangguk, “Iya main bareng-bareng nanti sama Nono jugaa.”
Akhirnya kedua anak itu turun dari gendongan Papi dan Daddynya kemudian duduk di sofa karena Yuta mengajak main di sofa. Sebenarnya suruhan Johnny karena kalau tidak yang ada Haechan akan terus diganggu dan Haechan nggak tidur-tidur juga.
Sudah tiga bulan Haechan lahir dan menempati apartemen ini. Sudah satu tiga bulan juga, Hendery tak berhenti-henti bangga karena akhirnya dirinya menjadi abang dan memilik adik yang sangat menggemaskan seperti Haechan.
Hendery ini masih banyak penasaran pada adiknya, setiap hari ada saja yang ditanya oleh Hendery mengenai adiknya. Namun, Johnny maupun Ten tak pernah bosan menjawab semua pertanyaan Hendery sampai Hendery paham dan menjaga adiknya.
“Papaaa, Dery pulaangg~”
Hendery yang baru saja membuka sepatunya langsung berlari-lari menuju sofa di ruang TV dimana Ten dan sang adik sedang tidur bersama di sana.
Hendery baru pulang sekolah bersama Johnny yang belakangan ini menjadi supir antar jemput Hendery karena Ten yang sibuk mengurus Haechan dirumah.
“Dede, Abang pulang~” Ucap Hendery melihat Haechan yang ternyata sedang bangun.
Hendery ingin menyentuh tangan Haechan namun Ten keburu mencegah Hendery, “Abang, udah cuci tangan belum?”
Hendery terkekeh, “Hehehe, belum Papa.”
“Cuci tangan dulu ya? Abang kan habis dari luar, nanti kalau pegang pegang dede, kuman yang ada di tangan abang pindah ke dede.”
“Iya Papaa, Dery cuci tangan dulu yaa.”
“Dede, Abang cuci tangan dulu yaaa? Dede jangan bobooooo, main sama abang dulu yaaa?”
Ten terkekeh gemas kemudian mengangguk, “Iya abang, dede tungguinn~”
“Ayo abang cuci kaki cuci tangan ganti baju dulu baru main sama dede” Panggil Johnny membuat Hendery berlari-lari menuju Johnny.
“Okay Daddy!”
Setelah mencuci kaki, tangan, dan ganti baju. Hendery langsung lari menuju ruang TV menghampiri Ten dan Haechan yang sedang bercanda.
“Abaaangg ikuuuttttt!!” Teriak Hendery berlari-lari menuju Ten dan Haechan.
“Sini bang, dede lagi seneng nih kayaknya.”
Sedangkan Johnny yang sedang memegang ponselnya, sedang video call dengan Jaehyun ikut berjalan menuju ruang TV menghampiri keluarganya, “Jeno lagi aktif-aktifnya ya Je?”
“Iya ini, makin protektif aja si Taeyong, mana Mark suka ikut-ikut ngerangkak ngejar-ngejar Jeno juga“
“Kakak, dijagain adeknya hati-hati ya sayang” Ini suara Taeyong yang sedang menjaga kedua anaknya bermain kesana kemari berdua.
Johnny tertawa kemudian duduk di sebelah Ten yang sedang menjaga Haechan sedangkan Hendery sedang mengajak obrol adiknya itu. Bahkan Hendery sudah bercerita pada Haechan mengenai harinya di sekolah pada hari itu.
“Oi Ten! Gimana Haechan?“
“HAECHAN? AYAH MAU LIAATTT” Teriak Mark kemudian berdiri dari rangkakannya menuju Jaehyun yang sedang duduk di sofa membuat Jeno yang sedang merangkak ikut merangkak lebih cepat mengikuti Mark dari belakang membuat Taeyong ikut kesana kemari mengikut kedua anaknya itu.
“Hai Om Ten! Om Johnny!” Sapa Mark setelah sampai di pangkuan Jaehyun.
“Hai Mark, loh Jeno mana?”
“Nono lagi mainn sama Mark, main lari-larian hehehe. Om, Haechan belum bisa merangkak kayak Nono yaa?“
“Belum sayang, nanti kalau udah bisa. Main bareng Nono sama Mark ya?”
Mark mengangguk, “Dery mana Om?“
Tak lupa pula Mark bertanya mengenai kehadiran temannya itu.
Kemudian Ten mengarahkan kameranya pada Hendery yang sedang mengelus Haechan disebelahnya itu membuat Hendery menengok kearah ponsel dan melambaikan tangannya.
“Haii Mark!”
“Derryyy! Itu Haechan?“
“Iyaa, Haechan lagi main sama Dery. Nono mana Mark?”
“Nono lagi main sama Papi. Nanti main bareng ya Dery?“
Hendery mengangguk, “Iya Mark~”
“Kakak, ini adeknya nyariinn.” Taeyong kembali memanggil Mark membuat Mark turun dari pangkuan Jaehyun kemudian kembali bermain kejar-kejaran bersama Jeno dan diselingi oleh suara cekikikan Jeno melihat kakaknya lari kesana kemari.
Jaehyun menggeleng-geleng kemudian lanjut berbicara dengan Ten dan Johnny.
“Yaudahlah, nanti malem lagi Jo bahasnya. Gue mau nemenin anak-anak gue main dulu.“
Johnny mengangguk, “Iya, jangan lupain quality time sama keluarga lah ya Je meskipun sesibuk apapun itu.”
“Hahaha iya laahh, yaudah duluan dah Jo, Ten. Salam buat Hendery sama Haechan. Asik banget daritadi gue denger ceritanya si Hendery.“
“Haha emang ini abangnya demen cerita sama adeknya. Bang, ini dadah dulu sama Om Jaehyun.”
Hendery langsung melambaikan tangannya pada Jaehyun, “Dadaahh Om Jaehyun!”
“Dadah Hendery!“
Kemudian video call tersebut dimatikan oleh keduanya, Johnny langsung meletakkan ponselnya kembali di kamar lalu ikut bergabung kembali dengan keluarganya, bermain dan melontarkan canda tawa bersama di ruang TV.
Ini bukan akhir cerita untuk keluarga kecil Johnny, melainkan awal cerita untuk keluarga kecil Johnny.
Entah apa yang akan dilalui mereka berempat bersama kedepannya, Johnny hanya selalu berharap yang terbaik bagi keluarganya kelak.
@roseschies