roseschies

— johnten ficlet.

obsession // major character death


Sepertinya sudah bukan cerita baru lagi jika berbicara mengenai rasa suka Johnny Suh terhadap Ten Lee si mahasiswa semester tiga itu.

Sejak awal dimulainya perkuliahan bahkan sejak Ten masih menjadi mahasiswa baru dan Johnny menjadi kakak tingkat yang mengospek Ten, sudah jadi bahan dimana Johnny menyukai sang adik tingkat. Bahkan, bukan cerita baru lagi dimana Ten berkali-kali menolak Johnny ketika Johnny mengajak si adik tingkat untuk berkencan atau sekedar makan biasa.

Ten hanya ingin fokus kuliah dan tidak berminat untuk bermain di ranah percintaan selama masa kuliahnya ini. Anggaplah, ia membayar semua jerih payah orang tuanya yang susah payah hingga banting tulang untuk membayarkan uang kuliah Ten. Sebagai anak yang bertanggungjawab, Ten membayar kembali semua itu dengan nilai yang sempurna. IPK diatas 3,8 bahkan selalu disematkan oleh Ten tiap semesternya.

Dan, Ten itu tau, Johnny aslinya seperti apa. Bukan. Johnny bukan orang yang buruk. Tetapi, Johnny itu menyeramkan.

“Ada cerita apa lagi nih? cerita percobaan ke-lima puluh dua Johnny mengajak Ten Lee berkencan, gagal? Hahahaha.” Ledek Yuta sesampainya Johnny di meja kantin.

Johnny mengusap wajahnya, ia sedikit frustasi kalau bisa dibilang.

“Udahlah Jo. Udah gue bilang nggak akan bisa lo dapetin Ten. Nyerah aja udah.” Timpal Jaehyun membuat wajah Johnny yang sudah merah akibat kesal, semakin memerah. Jika Yuta tidak menahan tangan Johnny, mungkin sudah babak belur wajah lelaki bermarga Jung itu.

“Ngomong sekali lagi, gue tampar lo. Liat aja. Gue bakal buktiin, cepat atau lambat, gue akan milikin dia seutuhnya dan bahkan gue bisa sampe satu rumah sama dia.” Ucap Johnny membuat Jaehyun dan Yuta tertawa kencang.

Ini udah ke-lima puluh dua kalinya, Johnny mengucapkan kalimat itu. Lagipula, Jaehyun dan Yuta tau, segimanapun Johnny mencoba, Ten nggak akan pernah mau sama Johnny. Jaehyun dan Yuta bagian tertawa aja, sih.

Saat ini sudah sampai dipercobaan ke-enam puluh sembilan dan masih saja menjadi cerita lama bagi Yuta dan Jaehyun.

“Gue bakal buktiin, Ten bakal takluk dipercobaan ke-tujuh puluh gue, Yut, Jae.” Ucap Johnny dengan semangat yang membara pada tubuhnya. Besok, Ten pasti jatuh dan Johnny bakal memiliki Ten seutuhnya. Biar saja kedua sahabatnya itu terus menerus meremehkan dirinya.

Pagi pagi sekali, Johnny memencet tanda video call pada nomor Jaehyun dan Yuta. Ia bermaksud untuk melakukan group video call dengan kedua sahabatnya. Kedua orang itu, harus tau lebih dulu, cerita baru dan cerita bahagianya ini.

“Gue punya cerita baru dan bahagia buat lo berdua.” Ucap Johnny dengan wajah yang berseri, tidak seperti biasanya.

“Tentang percobaan ke-tujuh puluh lo? Basi kali Jo, paling juga ditolak lagi kayak cerita lama.” Celetuk Yuta membuat Jaehyun tertawa dan mengangguk setuju dengan ucapan Yuta.

Johnny menggeleng dan tersenyum, bahkan ia tertawa kencang akibat ucapan Yuta yang salah besar.

Kemudian, Johnny mengarahkan kamera ponselnya ke arah kanan dimana di sana terlihat tubuh kaku Ten yang sedang terbaring di sebelah Johnny. Tubuh milik Ten yang sudah diawetkan terlebih dahulu oleh Johnny bahkan sudah terbalut dengan pakaian cantik ditambah riasan make up agar wajah Ten terlihat lebih segar, seakan-akan tubuh itu masih hidup seperti sebelum-sebelumnya.

Melihat kedua sahabatnya tercengang tanpa respon. Johnny melantunkan tawa nyaring kemudian tersenyum lalu berkata, “Kan, gue bilang apa, gue pasti milikin Ten dan satu rumah sama Ten.”


@roseschies

⚠️ mpreg, mention suicidal thoughts and depression.


Pasti banyak yang bertanya.

Kenapa sih, gue mau nikah sama orang serewel Ten, seiseng Ten, semanja Ten, seribet Ten, dan se se se Ten yang lain.

Padahal, banyak orang yang lebih dari Ten, katanya.

Mereka nggak tau, dan mereka nggak akan pernah tau seberapa berharganya Ten buat gue dan hidup gue.

Mungkin kalau gue nggak ketemu sama Ten waktu lalu, gue nggak akan jadi Johnny yang seperti sekarang ini, dan mungkin -MUNGKIN nggak akan ada yang kenal sama siapa Johnny Suh karena MUNGKIN gue udah nggak akan hadir lagi di dunia ini sampai sekarang.

Simpel. Tapi, ucapan Ten kala itu bisa bikin gue bangkit dan ngerubah banyak mindset kolot gue. Ten selalu bisa bantu gue untuk terus bangkit dan bahkan, disaat gue harus istirahat, Ten juga selalu ada di sana untuk selalu nyemangatin gue dan bilang bahwa istirahat sebentar bukan berarti gue manusia lemah.

Dulu, Ten pernah bilang, “Jo, gue emang nggak pintar merangkai kata, tapi kalau lo butuh orang yang bisa dengerin lo, gue selalu di sini Jo. Kuping gue dibuat kayaknya emang buat dengerin omongan lo.”

Iya, emang se-simpel itu kalimat Ten.

Tapi, lagi. Ucapan simpel itu bisa ngebuat gue yang lagi rapuh-rapuhnya langsung bangkit dan paham bahwa masih ada orang yang mau dengerin omongan gue. Iya, itu Ten orangnya.

Dia sama sekali nggak pernah merasa keberatan untuk dengerin ucapan ngelantur gue disaat gue lagi mabok. Dia sama sekali nggak pernah merasa keberatan untuk dengerin ucapan sumpah serapah gue buat dunia yang udah bercandain hidup gue terus-terusan. Dia sama sekali nggak pernah merasa keberatan untuk dengerin semua cerita nggak jelas sampai jelas dari mulut gue.

Dia itu, beda.

Dan semua orang, nggak akan pernah paham dengan hal tersebut.

Gue nggak akan pernah bosen buat berterima kasih sebanyak-banyaknya sama lelaki mungil satu ini.

Ten, Terima kasih.

Terima kasih, sudah menyelamatkan hidup gue.

Terima kasih, sudah memberi banyak warna untuk hidup gue yang bahkan abu-abu sampai hampir hitam.

Terima kasih, sudah berjuang demi menghidupkan keluarga kecil kita.

Dan, sekali lagi. Terima kasih banyak sudah berjuang untuk melahirkan anak pertama kita, Hendery Suh.

Hendery bakal jadi anak yang sekuat kamu, Papanya.

Sekali lagi.

Ten, Terima kasih. Banyak. Sekali.

.

“Jo, lebay banget sih pake nangis segala!” Ucap Ten mencubit lengan Johnny yang sudah mengeluarkan air mata dan membuyarkan lamunan Johnny.

Johnny menghapus jejak air matanya kemudian tersenyum manis dan mengelus poni yang menutup kening suami mungilnya ini, “Kamu tuh! aku lagi sedih sedih juga malah dicubit.”

“Lagian kamu serem diem doang cuma natap aku, aku panggil panggilin malah ngelamun sampe nangis coba. Mikirin apa sih?”

“Mikirin kamu. Kamu lagi begini aja cantik banget.”

“Ih apasih! Gombal banget.” Setelahnya Ten mencubit lengan Johnny kembali karena ia malu sampai pipinya memerah.

“Jo, Hendery mana?” Tanya Ten, ia habis tidur sebentar tadi dan baru sadar bayinya itu tidak ada di dekat dirinya bahkan dipelukan Johnny.

Johnny menunjuk box yang tidak jauh dari kasur Ten, “Lagi bobo tadi, rewel sebentar cuma langsung bobo lagi.”

Ten mengangguk.

“Bisa bawa Hendery kesini nggak Jo? Aku mau meluk dia.”

Kemudian Johnny bangun dari tempat duduknya dan jalan menuju box Hendery lalu menggendong Hendery dengan pelan agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tertidur pulas.

Johnny meletakkan tubuh Hendery tepat diatas dada Ten dengan pelan kemudian kembali duduk.

Ten mengelus tubuh mungil Hendery yang sedang menyamankan dirinya di dada milik Ten.

“Jo, dia ganteng ya kayak aku, mukanya aku banget liat deh, kamunya nggak ada hehehehe.” Ledek Ten sambil mengelus tubuh Hendery.

Johnny bawa tangannya lalu meletakkan tangannya tepat diatas tangan Ten, ikut mengelus tubuh Hendery.

“Gapapa yang penting anakku sehat, Papanya juga sehat.”

Ten jadi malu kalau Johnny sudah seperti ini, kemudian Ten membawa tangannya untuk mengelus kepala Johnny, “Terima kasih Daddy~”

Johnny tersenyum kemudian mencubit hidung mancung milik Ten, “Aku yang terima kasih sama kamu sayang, sini cium”

Kemudian Johnny mencium kening Ten tak lupa Johnny juga mencium pucuk kepala Hendery, “Sehat-sehat malaikatnya Daddy.”

Namun, setelah Johnny mencium pucuk kepala Hendery, Hendery langsung terbangun dan menangis.

“Ututuut, Daddy bau ya sayang. Belum mandi 3 hari dia hehehehe.” Ledek Ten pada Johnny karena Hendery setelah dicium oleh Johnny langsung menangis membuat Johnny terkekeh.

Memang benar kok, dia belum mandi 3 hari selama di rumah sakit. Padahal, Jaehyun dan Yuta sudah menyuruh Johnny untuk pulang mandi sebentar biar mereka yang jaga Ten dan si bayi tetapi Johnny menolak.

Omong-omong tentang Jaehyun dan Yuta. Para Om-nya Hendery itu terlihat sangat bahagia bahkan sama bahagianya dengan Johnny.

Mereka akan merelakan sebagian hartanya untuk Hendery jika sudah besar nanti. Hendery bakal jadi anak yang disayang oleh kedua Om-nya itu.

Meskipun mereka tau, mereka bakal jadi sasaran empuk Hendery nantinya. Toh, sejak masih janin mereka sudah biasa direpoti oleh Hendery, kan?

Johnny sendiri masih tidak menyangka, saat ini dirinya bisa membangun keluarga kecilnya sendiri.

Bahkan, hidupnya bersama dengan Ten saja ia sudah sangat bersyukur dan ternyata Tuhan berkata lain lalu Hendery lahir untuk menambah kehangatan di keluarga kecilnya itu.

Baru saja Johnny ingin bermesra-mesraan dengan kedua malaikatnya itu, tiba-tiba pintu kamar rawat Ten terbuka lebar.

“Selamat siang ponakan Om yang ganteng~” Ucap Yuta dengan Jaehyun yang menengok dari belakang sambil membawa bouquet bunga yang lumayan besar untuk Ten.

Bersamaan dengan suara Yuta yang bisa dibilang lumayan keras, Hendery kembali menangis. Padahal Ten baru saja meredakan tangisan Hendery.

“Yut berisik!” Omel Ten membuat Yuta terkekeh, lupa kali dia kalau Hendery masih bayi baru lahir.

“Hendery, besok main lego sama Om yaa.” Tawar Jaehyun membuat Johnny mencubit pinggang Jaehyun gemas.

Ini kedua temannya kenapa sih. Mereka kira Hendery udah balita atau gimana?

“Jangan mau Hen. Balapan aja sama Om yaa Hen.” Timpal Yuta semakin membuat Ten dan Johnny geleng-geleng.

“Nak, jangan sedih ya kamu punya dua Om otaknya agak geser semua.” Ucap Ten membuat Yuta dan Jaehyun ikut tertawa, padahal mereka dibilang otaknya geser.

Johnny tersenyum melihat hal tersebut.

Hendery, kamu disayang banyak orang.

Sama seperti Papamu.

Hendery, jagoannya Daddy dan Papa, jangan cepet gede ya...


Terima kasih sudah mengikuti johnten mpreg series sampai beneran lahir dan jadilah Hendery!

@roseschies

— johnten mpreg au


Ten mengelus perutnya yang sudah sangat besar itu. Kehamilannya sudah menginjak di bulan ke-9, dimana bulan-bulan inilah sang bayi sudah ingin memberontak untuk keluar dari dalam perutnya.

“Jo, perut aku gede banget masa.” Adu Ten berlari kecil sambil memegangi perutnya pada Johnny yang sedang memasak di dapur untuk sarapan keduanya.

“Iya gede dong sayang perutnya. Kan di dalemnya ada bayi, serem kalau yang gede malah tangan kamu, masa janinnya di tangan.” Lelucon aneh Johnny membuat dirinya mendapatkan hadiah pukulan di lengannya dari Ten.

“Ngawur kamu ah Jo! Eh- Kamu lagi masak apa Jo?” Intip Ten dari belakang tubuh Johnny melihat suaminya itu sedang membalikkan sebuah telur dadar di penggorengan.

“Telur, kamu mau apa lagi sarapannya? Aku cuma sediain roti sama telur, susu juga buat kamu.” Tawar Johnny kemudian menyiapkan dua piring dan dua gelas untuk dirinya dan Ten.

Ten menggeleng kemudian membawa dirinya duduk di meja makan menunggu Johnny selesai memasak untuk dirinya, “Enggak usah. Itu aja, makasih ya Jo.”

Sebenarnya Ten ingin membantu, tetapi semenjak kehamilannya menginjak bulan ke-8, Johnny selalu melarang ini itu pada Ten. Johnny benar-benar tidak ingin Ten melakukan banyak hal berat, karena pikirnya takut tiba-tiba bayinya brojol. Terserah.

Tak lama kemudian, Johnny membawa nampan yang berisi 2 piring dan 2 gelas lalu menaruhnya di atas meja makan, dan Ten membantu untuk memindahkan piring dan gelas tersebut.

“Yuk, makan yang banyak sayang.”

Kemudian keduanya makan dengan lahap.

“Gimana perutnya? Ada yang di rasa nggak?” Tanya Johnny pada Ten setelah menghabiskan sandwichnya itu.

Ten menggeleng, “Enggak sih, dia makin jarang bereaksi dan nendang-nendang.”

“Udah capek kali dia udah keseringan nendang muter-muter.” Ucap Johnny, karena beberapa kali janin di dalam perut Ten selalu beputar-putar kadang kepalanya ada di atas, ada di samping kanan, besoknya udah ada di bawah, besoknya lagi udah di kiri.

Johnny curiga, anaknya lahir gedenya bakal sepetakilan apa, mengingat dari jaman Ten ngidam pun sudah banyak keanehan yang ada pada calon anaknya ini.

Bagaimanapun juga, anaknya dinyatakan sehat kok. Ten ini memang pintar merawat diri dan juga anak di dalamnya, dan Johnny yang juga suka bawel jika Ten terkadang malas-malasan untuk melakukan beberapa kegiatan rutin untuk orang hamil.

OH! Jenis kelamin anaknya juga sudah terlihat. Ya, betul sekali laki-laki. Sebenarnya terlihat dari beberapa kali ngidam Ten yang sangat suka makan, apalagi masakan asin. Terkadang Johnny harus melebihkan garam yang dipakai karena beberapa kali Ten bilang makanan yang dibuat Johnny terlalu hambar padahal bagi Johnny ini sudah asin dan berujung akhirnya Johnny memasak makan makanan yang terlalu asin bagi dirinya.

Setelah kejadian itu, Johnny coba untuk mencari-cari di google, dan ternyata jika hamil laki-laki ngidamnya seperti itu. Pada awalnya Johnny tidak percaya, tapi setelah cek dan sudah terlihat jenis kelaminnya, ternyata benar jenis kelamin calon anaknya itu laki-laki. Dan menjadi salah satu alasan juga mengapa Ten merasa bahwa perutnya sangat besar.

“Jo, aku boleh minta tolong?” Tanya Ten setelah merapihkan bekas makannya dan dijadikan satu agar Johnny mudah untuk menaruh piring serta gelas tersebut ke tempat cuci piring.

“Mau apa?”

“Mau mandi berendam air hangat sama kamu di bathtup, boleh?”

Johnny mengangguk, “Iya boleh, kalau gitu aku siapin dulu ya? kamu mau tiduran dulu?”

Ten mengangguk, “Perut aku agak sakit, aku tiduran dulu ya Jo?”

Memang beberapa kali terkadang Ten merasakan perutnya seperti nyeri dan sakit, Johnny pun beberapa kali ikut panik. Tapi akhirnya dia bertanya dan juga mencari-cari informasi. Katanya, memang itu tanda-tanda menuju tanggal kelahiran, dan Johnny juga sudah diberitahu bahwa tanggal kelahiran Ten sudah dekat maka dari itu Johnny juga sudah menyiapkan berbagai macam perlengkapan.

Jika berbicara mengenai barang-barang untuk calon anak, Ten dan Johnny sudah menyiapkan jauh-jauh hari sebelum Johnny melarang Ten untuk melakukan kegiatan berat.

Akhirnya Johnny menyiapkan air hangat untuk dirinya dan Ten sedangkan Ten tiduran di kamar, merebahkan perutnya dan mengelus perutnya sambil mengatur pernapasannya itu.

Semakin dekat dengan tanggal lahirannya, Ten malah semakin gugup dan beberapa kali ia merasa napasnya semakin susah. Padahal Johnny sudah bilang untuk tetap rileks dan jangan dibawa stres tapi bagaimanapun Ten semakin kepikiran.


Belakangan Ten mulai merasakan kontraksi palsu pada perutnya. Biasanya Johnny akan panik, tetapi untungnya dokter sudah terlebih dahulu menjelaskan pada Johnny jika Ten merasakan kontraksi palsu hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh Johnny.

Ten beberapa kali meringis sambil memegang perut bawahnya saat merasakan nyeri sesaat.

“Masih sakit? Diatur dulu napasnya sayang.” Ucap Johnny sambil membantu Ten mengubah posisi, sedangkan Ten mencoba untuk terus mengatur napasnya sampai dirasa nyerinya semakin lama menghilang dan lanjut mandi dengan air hangat.

Setelah Ten selesai mandi air hangat, Johnny membantu Ten menggunakan pakaiannya lalu membantu Ten untuk kembali beristirahat di kasur.

“Jo, anaknya mau kamu namain siapa?”

Keduanya saat ini sedang tidur bersama dengan Johnny yang merangkul Ten sambil mengelus perut milik Ten, keduanya sangat menanti kehadiran calon anak pertamanya ini.

“Hmm, kamu kepikirannya siapa?”

“Belum kepikiran, aduh siapa ya Jo. Masa anak kita nggak punya nama nanti, kan kasian pas lahiran dipanggil tanpa nama.”

“Yaudah nggak perlu dipikirin berat-berat Ten, kamuloh nggak boleh banyak pikiran. Nanti aku pikirin ya namanya siapa.”

“Kamu namainnya yang bener Jo!”

“Yaampun iyaloh, masa aku namain nama anakku sendiri main-main.”

“Kemarin aku udah kepikiran mau namain anakku yang cocok buat keluarga kecil kita.” Lanjut Johnny

“Apa?”

“Jadi arti namanya itu secara alamiah mendatangkan uang. Siapa tau dengan adanya dia bisa jadi berkah buat keluarga kecil kita.”

“Hah? Apa namanya tuh?”

“Ada deh, dah kamu tidur aja istirahat ya sayang

Kemudian Johnny mengecup kening Ten sedangkan Ten mengangguk patuh lalu menutup matanya, keduanya menjemput mimpi masing-masing sambil memikirkan si “secara alamiah mendatangkan uang” alias calon anaknya itu.


Saat ini Johnny sedang duduk di depan ruangan bersama Yuta dan Jaehyun yang baru saja datang untuk menemui Johnny. Ketiganya berada di rumah sakit di mana Ten akan melaksanakan persalinan untuk melahiran anak pertamanya itu.

Yuta dan Jaehyun lagi-lagi menjadi sasaran empuk Johnny. Tetapi setelah keduanya melihat muka lelah dan gugup Johnny keduanya iklas kok jadi sasaran direpotkan oleh Johnny.

Bahkan Johnny sepertinya belum tidur dari kemarin karena dirinya benar-benar menjaga Ten.

“Lo jangan panik Jo, kalau lo panik nanti Ten malah ikut kepikiran.” Ucap Jaehyun sambil menenangkan temannya ini.

Yuta mengangguk setuju, “Lo sendiri yakinin diri lo kalau Ten itu kuat. Pasti nggak ada halangan kok. Berdoa terus buat Ten dan calon anak lo.”

Johnny mengangguk sambil berdoa, mendoakan Ten dan calon anaknya.

“Lo bakal masuk kan nemenin Ten?” Tanya Yuta dan Johnny mengangguk.

“Iya lah, mau gimanapun gue harus tetep nemenin Ten. By the way thanks ya udah mau dateng kesini.”

“Santai Jo, lagi pula gue nungguin ponakan gue yang ganteng itu” Ucap Yuta dan Jaehyun bagian mengangguk setuju. Ya keduanya memang sudah tau kok jenis kelamin calon anak Johnny karena setelah Johnny tau jenis kelamin calon anaknya itu, Johnny langsung bercerita panjang lebar ke Yuta dan Jaehyun.

“Eh, Gue masuk lagi ya? dikit lagi udah mau persalinan. Sorry gak bisa lama-lama bareng lo berdua.”

“Gapapa Jo, lo emang harusnya nemenin Ten persalinan di dalem. Gue sama Jaehyun nungguin di sini ya.”

Johnny mengangguk kemudian lari kembali ke dalam ruangan persalinan Ten karena waktunya sudah semakin dekat dan ia harus ada di sebelah Ten terus menerus.

Setelah Johnny masuk lagi kedalam ruangan, akhirnya tinggal lah kedua lelaki ini yang diam-diam ikutan gugup menunggu keponakan pertama mereka.

“Kok lama ya Yut?” Tanya Jaehyun tiba-tiba membuat Yuta memukul lengan Jaehyun kencang.

“Johnny baru masuk lima menit lalu ya anjing, lo pikir Ten super hero apa lahirannya sekali mengejan langsung keluar itu bayi utuh.”

“Hehehe, ikutan panik gue anjir Yut. Gak kebayang kalau nanti-nanti gue yang jadi Johnny.”

“Iya sih, kelahiran pada lelaki lebih rentan dibanding wanita biasanya.”

“Kenapa ngomong gitu sih anjing jadi makin panik ini gue.”

“Kok lo nggak percayaan sih sama Ten. Udah ah anjir, beli minum dulu lah kita biar jernih ni otak nggak panikan mulu bawaannya.”

Yuta menarik tangan Jaehyun membuat Jaehyun tertarik dari duduknya dan akhirnya kedua lelaki itu mampir sebentar ke alf*mart yang berada di lantai bawah rumah sakit.

Setelah membeli minuman keduanya kembali naik lalu duduk kembali di tempat duduk yang sebelumnya mereka duduki itu.

“Kok belum kelar juga ya Yut? Lama banget....” Tanya Jaehyun lagi membuat Yuta yang sebelumnya tidak sepanik itu sekarang jadi ikutan panik.

Yuta menggeleng, “Enggak tau Je, berdoa aja deh semoga semuanya dilancarkan.”

Akhirnya Yuta dan Jaehyun menunggu lumayan lama.

Bahkan terasa lama, entah sudah berapa lama mereka menunggu di sana.

Tangan keduanya sudah sangat berkeringat memikirkan bagaimana lelaki mungil di dalam sedang berjuang antara hidup dan mati demi mengeluarkan anaknya itu.

Bagaimanapun, keduanya tidak bisa banyak membantu dan hanya bisa menunggu di sana sambil berdoa.

Semoga semuanya, baik-baik saja.


@roseschies.


Dalam rangka mengisi hari liburnya kali ini, keempat belas manusia memilih untuk berenang di kolam renang yang sebelumnya sudah di sewa oleh manager mereka.

Suara jeburan air dan teriak sana sini terdengar sangat kencang memenuhi area kolam renang itu.

Keempat belas manusia itu sedang melakukan lomba pukul bantal (di sini, mereka menggunakan ban renang) di atas tali yang melintang di area kolam renang.

Kali ini tim yang sedang melaksanakan lomba tersebut adalah tim Doyoung dengan Johnny dan Jaehyun di belakang Doyoung dan tim Ten dengan Hendery dan Yangyang yang sudah siap di belakang Ten menunggu giliran untuk menghabisi tim Doyoung di sebelah sana.

Pertarungan antara Ten dan Doyoung terlihat sangat sengit. Bukan hanya karena Ten yang memukul Doyoung sangat kencang, tetapi tim Doyoung yang juga ikut meledeki Doyoung membuat penonton ikutan tertawa melihat Doyoung yang sudah menggeretak giginya dan memukul Ten dengan pukulan yang sangat keras.

“WOI PACAR GUE LO ANIYAYA ANJIR!” Teriak Johnny dari belakang Doyoung setelah Ten jatuh dari pegangan tali karena pukulan keras Doyoung.

“HEH LO TIM SIAPA SIH ANJIR.” Balas Doyoung kemudian lanjut melawan Hendery.

Diakhir permainan, lomba pukul bantal ini dimenangkan oleh tim Doyoung dikarenakan Johnny yang bukan main menghabiskan sisa tim Ten.

Seperti anak kecil, mereka sangat bahagia bermain di kolam renang. Mendorong satu sama lain, menyemburkan air kesembarang tempat (ini lebih di dominasi oleh Yuta), dan tak lupa ada juga yang atraksi melompat dari ketinggian.

“Bentar gue ke toilet dulu, kebelet anjir.” Izin Ten ke Taeyong yang sedang bermain dengannya.

Yuta yang tak jauh dari sana tiba-tiba berteriak, “Udah lo pipis di kolam renang aja, nggak ada yang tau ini.”

“Woi Kak jangan anjir. Gue suka minum air kolam renang soalnya.” Hendery ikut menyaut.

“Demi apa sih Hen? Barusan gue pipis loh. Hehehe.” Aku Xiaojun yang sedang berada di sebelah Hendery membuat Hendery melotot.

“Enak nggak Hen?” Yangyang tertawa ngakak sambil memukuli air kolam renang mendengar itu.

“BANGSAT XIAO DE JUN”

Ten hanya bisa menggeleng mendengar hal tersebut kemudian lari ke kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang sebelumnya ia tahan.

Belum juga keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi membuat Ten terkejut setengah mati. Untung saja ia sudah memakai celana dengan benar.

“KETOK KEK KALO MAU MASUK, MASIH ADA ORANG INI.”

Seseorang tersebut membalikkan tubuhnya, memperlihatkan dada bidang yang sangat Ten kenal siapa itu. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya, Johnny.

Johnny kemudian mengunci pintu kamar mandi, “Masih harus ketok nggak kalau aku yang masuk?”

Ten tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat kemudian mendekat kearah Johnny, “Kan aku kaget kirain siapa, mau ngapain? Kamu mau pipis juga?”

Johnny menggeleng, “Nggak, cuma pengen liat kamu aja.”

“Daritadi juga kamu liat aku, harus banget di kamar mandi apa liatnya?”

“Nggak tau, vibesnya beda kalau liat kamu di kamar mandi.”

Ten menggeleng-geleng, “Yaudah cepet mau apa?”

Johnny tersenyum lebar, “Kok kamu tau sih yang?

Ten menyentuh bagian bawah Johnny yang mulai terlihat menonjol, udah gitu Johnny menggunakan celana renang, makin aja terbentuk.

“Aduh! Main pegang aja ni anak.” Ringis Johnny setelah Ten menyentuh penis miliknya tanpa permisi.

“Makanya, punya kontol jangan gede-gede. Sekalinya ngaceng keliatan.” Ucap Ten frontal kemudian mencium dada bidang Johnny lalu menatap kedua bola mata Johnny berbinar.

Nah, sekarang jadi siapa yang jadi kepengen lanjut? Ya Ten lah.

Johnny mengusap surai milik Ten kemudian mengecup kilat kening Ten, lalu dilanjut mengecup hidung mancung milik Ten dan berakhir melumat bibir Ten.

Ten sedikit berjinjit kemudian melilitkan tangannya ditengkuk milik Johnny guna memperdalam ciuman mereka.

Calm down, kitten.” Ucap Johnny kemudian mengelus bibir milik Ten dan menghapus jejak saliva keduanya yang tertinggal di bibir milik Ten.

Ten menarik tengkuk Johnny lagi kemudian mencium bibir Johnny dan menggigit bibir Johnny.

“Aduh! Kamu ini kenapa tiba-tiba jadi ganas sayang.

“Keburu ada orang ngetok Jo!”

“Keburu ada orang ngetok atau nggak tahan ini kontol mungilnya mau dikeluarin dari sini?” Johnny menyentil penis milik Ten membuat Ten meringis karena penisnya mulai menegang.

Ten membuat lukisan abstrak di dada bidang milik Johnny kemudian mengecup singkat dada tersebut, “Ayo Joooooo”

Johnny menggeleng kemudian mengangkat tubuh Ten dan ia sendekarn tubuh tersebut di pintu kamar mandi.

Johnny mencium perpotongan leher Ten tanpa meninggalkan bekas karena mereka masih harus berenang dengan teman-teman lainnya lalu berpindah ke dada putih bertato milik Ten, menciumi semua titik dan menggigit puting milik Ten membuat Ten menjabak rambut Johnny kencang.

Ten menikmati semua permainan yang Johnny berikan pada tubuhnya itu.

Setelah bermain dengan puting milik Ten, Johnny menurunkan Ten dari gendongannya lalu mencium kilat bibir milik Ten sambil membuka celana renang milik Ten.

“Lihat, siapa yang udah precum duluan?” Johnny mengelus ujung kepala Ten yang sudah mengeluarkan cairan bening di sana membuat Ten sedikit memekik kemudian mengigit bibirnya menahan desahan dari mulutnya.

“Jo, bisa nggak langsung aja sshh-” Pinta Ten lalu tanpa aba-aba, Johnny melepas celana renangnya.

Padahal, pemandangan Ten hanya Johnny yang sedang melepas celana renang tapi kenapa bisa mengeluarkan damage yang mematikan gini ya.

“Kamu yakin mau langsung? Sakit loh?” Tanya Johnny sambil menyingkirkan rambut yang menutupi kuping Ten.

Ten mengangguk pasti kemudian mencium bibir Johnny kilat.

Sedetik kemudian Johnny membalikkan tubuh Ten lalu mencengkram tengkuk Ten menyuruh Ten untuk menunduk untuk memperlihatkan lubang cantik miliknya itu.

Ten tersenyum kemudian tangannya ia bawa menyentuh pintu untuk menjadi sandaran tangan dan tubuhnya.

Johnny mengelus lubang luar milik Ten membuat si pemilik mendesah kecil.

Johnny bawa dua jari miliknya masuk kedalam lubang Ten untuk membuka akses.

Dengan gerakan menggunting, kemudian memasuk-keluarkan dua jari tersebut.

Ten yang merasakan Johnny menambah jari lainnya untuk membuka akses lebih, memekik kemudian menggigit bibirnya untuk meredam desahannya.

Setelah dirasa cukup, Johnny mengeluarkan ketiga jarinya kemudian mengocok penis miliknya tepat di depan lubang milik Ten, “Aku masukin ya sayang?

Ten mengangguk, “Pelan-pela-AKH!”

Johnny dengan cepat memasukkan setengah penisnya kedalam lubang Ten membuat Ten merasakan lubangnya itu seperti terbelah dua.

Dinding Ten mulai menjepit penis Johnny di dalam membuat Johnny menggeram, “Jangan dijepit Ten!”

Dengan pelan Johnny memasukkan kembali penisnya sampai dirasa sepenuhnya lubang Ten diisi dengan penis milik Johnny.

Setelah menyamankan penisnya itu, Johnny mulai memaju mundurkan pinggangnya. Temponya semakin lama semakin cepat membuat yang hanya bertumpu dengan pintu kamar mandi merasa kelelahan, Johnny kalau sudah seperti ini tidak mengampuni apapun itu.

Sangat brutal.

“Jangan keluar dulu sayang.” Ucap Johnny menambah temponya kemudian menutup saluran milik Ten, menahan sperma Ten yang mungkin keluar duluan daripada Johnny.

“Sshhh Jo! Faster!” Pinta Ten, spermanya benar-benar sudah ingin menyembur keluar namun salurannya ditutup oleh Johnny.

Karena sudah sangat tidak tahan, Ten menginjak kaki Johnny yang berada di belakangnya membuat Johnny memekik kemudian melepas tangannya dari penis milik Ten.

Tak lama kemudian Ten pelepasan duluan dan diikuti dengan Johnny yang mengeluarkan penisnya kemudian mengeluarkan spermanya di pantat milik Ten.

“Astaga, padahal cuma sebentar tapi rasanya capek banget. Aduh ini lubang aku sakit banget, kamu gila kenceng banget!” Protes Ten kemudian memegangi pinggangnya lalu menuju semprotan toilet yang tak jauh dari tempatnya dan membersihkan badannya.

“Loh tadi yang minta faster siapa?”

Ten terkekeh kemudian menyemprotkan air semprotan kearah penis Johnny membuat si empunya memekik kesakitan. Sialan, penisnya ini baru saja pelepasan sudah di semprot pakai air dengan kekuatan kencang seperti itu.

“Aduh sakit sayang!” Johnny mendekat kearah Ten kemudian membersihkan lubang milik Ten dan tak lupa pantat milik Ten sampai tidak ada bekas sperma miliknya.

Setelah keduanya merasa bersih, Ten berjinjit lalu mengecup bibir Johnny, “Thank you, big bear

Johnny tersenyum lalu memakai celana renang miliknya dan memakaikan Ten celana renang miliknya, “Good kitten.

Yes, i am.

Johnny membuka pintu kamar mandinya kemudian mengajak Ten keluar dari kamar mandi.

“IH ANJING ADA YANG ABIS LIVE SEX” Teriak Yuta setelah Johnny dan Ten keluar dari kamar mandi membuat kedua lelaki itu terkejut setengah mati namun berusaha untuk mengatur mimik wajahnya agar tidak terlalu terlihat jelas bahwa keduanya kaget.

Pasalnya, bukan hanya Yuta tapi semuanya ada tepat di depan kamar mandi yang baru saja digunakan Johnny dan Ten melakukan kegiatan panasnya itu.

“Win, kita punya referensi gaya baru Win!” Ucap Yuta kemudian dihadiahi pukulan di lengan Yuta dari Winwin.

“Emang dasar orang kalau masalah hormon suka nggak tau tempat ya” Tambah Kun, membuat Johnny dan Ten membeku di tempatnya, bingung mereka tuh.

“Biarin aja sih Kak, lumayan nggak sih ini tontonan gratis.” Timpal Hendery dan disetujui yang lain.

Johnny dan Ten hanya tatap-tatapan, bingung sebenarnya mereka ngomongin apa.

Tiba-tiba Doyoung menunjuk kamar mandi yang baru saja digunakan oleh Johnny dan Ten tadi yang ternyata kacanya bening menembus memperlihatkan dalam kamar mandi tersebut.

Sepersekian detik, pipi milik Johnny dan Ten memerah, keduanya malu.

Demi menyelamatkan kecanggungan ini, Ten kemudian memalaki ke-dua belas manusia yang baru saja menonton live sex dirinya dengan Johnny, “Bayar woi enak aja! Adegan bagus kayak gitu ditonton gratisan. Mana buruan bayar!”

Johnny bagian geleng-geleng melihat kelakuan kekasihnya. Ya mau gimana lagi, toh semua udah diliat secara gamblang oleh ke-dua belas manusia lainnya itu.

Tapi, Johnny bingung, perasaan tadi sebelum Johnny masuk, kaca tersebut buram kok bahkan Johnny nggak bisa lihat Ten dari luar. Kenapa tiba-tiba jadi bening, ya?

flashback

Setelah Johnny meninggalkan area kolam renang dan menuju kamar mandi. Satu persatu mulai naik dari kolam renang kemudian berduduk-duduk di tempat duduk yang di sediakan di sana atau sekedar ngobrol satu sama lain.

“Yut, tolong ambilin handuk dong di deket kamar mandi” Ucap Winwin kepada Yuta yang baru saja mau duduk di samping Winwin kemudian berdiri lagi untuk mengambilkan kekasihnya ini handuk.

“Ada yang mau diambilin handuk lagi gak? biar sekalian nih, gue mau ambilin handuk buat Winwin.” Tanya Yuta kepada ke-sebelas manusia lainnya, namun yang lain hanya menggeleng, mungkin mereka masih mau berenang lagi nanti.

Akhirnya, Yuta menuju loker handuk, mengambil handuk untuknya dan Winwin kemudian berniat untuk mengambil lebih dua atau tiga siapa tau ada yang berubah pikiran.

Sesaat Yuta melewati kamar mandi, Yuta terkejut bukan main karena dirinya melihat Johnny dan Ten yang sedang melakukan hal tidak senonoh di dalam kamar mandi.

Yuta langsung lari ke area kolam renang lalu berteriak memberi tahu ke-sebelas manusia lainnya untuk melihat ke kamar mandi.

Ternyata oh ternyata, akibat permainan Johnny tadi, Ten tidak sengaja menyentuh tombol membuat kaca tersebut berganti menjadi bening.


@roseschies.

— johnten mpreg au


Hari libur menjadi salah satu hari yang sangat ditunggu Ten maupun Johnny.

Biasanya, mereka selalu menghabiskan waktu berdua entah menonton film, atau saling bercerita satu sama lain. Pokoknya, seharian mereka habiskan hanya di kamar atau ruang TV tepatnya di sofa.

Kali ini, Ten dan Johnny memilih untuk menghabiskan waktu menonton film di ruang TV dengan melebarkan sofanya menjadi seperti tempat tidur.

Tontonan yang mereka pilih pun sangat acak. Toh, diakhir, film yang nontonin mereka asik ber-lovey dovey di sofa.

“Kok kamu lagi hamil demen nonton ginian sih yang?” Tanya Johnny sambil mengelus perut Ten dan meletakkan kepalanya di pundak milik Ten sementara Ten menaruh dagunya diatas kepala Johnny, asik menonton film zombie yang saat ini mereka tonton.

Iya, saat ini keduanya memilih film alive untuk ditonton. Tontonan Ten selama hamil agak aneh memang. Yang horror lah, zombie lah, tembak-tembak an lah. Johnny kan takut, ini anaknya gede jadi apa coba kalau dari kecil aja udah dikasih tontonan kayak gini.

“Seru tau Jo. Memacu adrenalin nih!” Ten ikut mengelus perutnya dan meletakan tangannya diatas tangan milik Johnny, merasakan perutnya yang semakin hari semakin membesar karena bayi yang di dalam semakin tumbuh.

Tiba-tiba saja, ide jail mendatangi pikiran Ten. Bukan tiba-tiba sih, emang sehari-hari juga ide jail Ten selalu datang untuk terus ngisengin suaminya itu.

Johnny yang semakin asik mengelus perut Ten tak lupa menciumi perut itu tiba-tiba berhenti karena Ten meringis.

“A-ah sakit Jo.” Ten merengek sambil mengelus perutnya.

Johnny tentu panik, tapi dia tidak mau memperlihatkan kepanikannya itu pada suami mungilnya, “Kenapa sayang?

Ten semakin mengelus perutnya dan berteriak kesakitan. Pipinya memerah, “Sakit banget Jo, perut akuu”

Masa tiba-tiba anak gue lahiran sekarang anjir??, Batin Johnny bingung.

“Joooo sakit bangettt huhuhuu” Ten semakin merengek dan menangis kesakitan sambil mengelus perutnya. Bahkan ia mencakar pelan lengan Johnny.

“Aduh sayang, tarik nafas pelan-pelan coba.” Ucap Johnny kemudian mengipas wajah Ten yang semakin memerah dengan tangannya.

“Sakiiitttttt”

Johnny masih berusaha buat mikir positif.

Pasalnya baru beberapa hari lalu, Ten check-up dan belum ada tanda-tanda lahiran. Bahkan masih jauh banget dari tanggal lahiran dan masih berbulan-bulan lagi. Anaknya sehat-sehat aja kok, emang aktif nendangin perut Ten.

Apa jangan-jangan gara-gara ditendangin mulu, terus perut Ten luka dari dalem., Johnny masih membatin sambil mengipasi suaminya.

“Aduh Jooo sakit banget gimana ini hueeeee” Ten semakin meringis kesakitan bahkan keringat mulai bercucuran dari pelipisnya.

“Tarik nafas dulu Ten, ayo satu dua tiga.”

“Jo aku bukan mau lahiraann kenapa kamu kayak orang aku mau lahiran.”

“Ya gimana dong sayang. Aduh... ini bayinya nggak bisa dipindah aja apa?”

Ucapan Johnny membuat Ten menahan tawanya setengah mampus. Emang bener, paling enak itu isengin suaminya. Ada aja kelakuannya.

Sayang kalau gini besok-besok apa aku aja ya yang hamil. Ya Tuhan aku nggak tega liat kamu kayak gini. Mau ke rumah sakit?” Tanya Johnny masih membantu Ten mengatur nafasnya dan mengipasi suami mungilnya itu.

Otak Johnny kalau lagi seperti ini suka nggak jalan pokoknya.

Ten menggeleng, “Nggak usah Jo. Udah mendingan, kayaknya tadi sempet kram aja sebentar.”

Johnny bernafas lega, Ten pun melonggarkan cakarannya di lengan Johnny.

“Syukurlah. Ya Tuhan aku panik banget, kamu tuh ih. Aku pikir perut kamu luka di dalem karena ditendangin terus sama bayi kita.”

Ten tertawa, “Ya mana mungkin sih Jo. Kamu aneh-aneh aja nih.”

Johnny kembali memeluk Ten dan meletakkan kepalanya di pundak Ten dan lanjut mengelus perut Ten, “Jangan bikin Papa kamu sakit ya.. Daddy khawatir sama Papa, jadi anak baik ya Nak.”

Ten terkekeh gemas lalu mengelus surai Johnny kemudian bicara menggunakan suara anak kecil yang dibuat-buat, “Iyah Daddy, aku baik-baik aja. Papa yang jail sama Daddy, soalnya tadi cuma isengin Daddy”

Setelah Ten berbicara seperti itu, Johnny berhenti mengelus perut Ten kemudian duduk dari tidurnya dan menatap Ten sampai matanya menyipit.

“TEEEEEEEEENNNNNN”

Johnny langsung menyerbu wajah Ten dan mencium wajah Ten sedangkan Ten hanya tertawa geli.

“Hehehe, asik anak kedua kamu yang hamil dan lahirin yaaa~”

Sayang....”

Kemudian Ten mencium pipi Johnny sampai terdengar sangat nyaring, “MUUUAAAHH!”

Johnny mau marah juga gimana ya...


@roseschies

— Jaeyong oneshot AU


Suara keyboard komputer milik Taeyong bergema di seisi kamar sang empunya.

Jari-jari milik Taeyong bernari gesit di atasnya dengan sesekali ia bawa tangannya untuk mengambil gelas minuman berisi ice americano kemudian menyesap minuman tersebut dan kembali bergulat dengan pekerjaannya itu.

Space bar di keyboard beberapa kali dipencet untuk memberhentikan editan suara hingga dirasa pas.

Jarinya terlihat sangat lihay kesana kemari, mengganti tabs satu dengan yang lainnya.

Taeyong dengan multitaskingnya.

Sesekali ia berhenti mengedit lalu membuka youtube dan mencari lagu yang ingin ia dengar kemudian bernyanyi-nyanyi seperti masa bodo jika member lain mendengar suaranya tepat di jam 12 malam.

Terlalu larut dengan nyanyiannya itu, Taeyong sampai tidak mendengar suara ketukan berulang kali dari pintu kamarnya itu.

Lantas, setelah mendengar ketukan yang semakin brutal, Taeyong memencet space bar untuk memberhentikan lagu tersebut kemudian berlari kecil menuju pintu untuk membukakan pintu.

“Tinggal masuk aja ke—”

Saengil Chukha Hamnida~ Saengil Chukha Hamnida~ Saranghaneun Uri Taeyongie~ Saengil Chukha Hamnida~

Nyanyian sorak-sorai dari member 127 terdengar tepat Taeyong membuka pintunya dan ingin memaki siapapun itu karena sudah menginterupsi kegiatannya.

Terlalu larut dalam pekerjaan dan kegiatannya, bahkan Taeyong lupa bahwa hari sudah berganti dan hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Simpan dulu amarahnya Kak! Tiup dulu ini lilinnya.” Ucap Doyoung yang sedang memegang kue dengan lilin yang tertancap disana.

Sedangkan member lain menunggu dengan harap di belakang Doyoung sambil menyemangati Taeyong untuk meniup lilinnya.

“Eh! Make a wish dulu.” Yuta yang berada di dekat Doyoung memberhentikan Taeyong yang hendak meniup lilinnya kemudian lanjut bernyanyi lagu Make a wish.

“Bukan begitu anjir.” Hal tersebut dihadiahi pukulan yang mendarat tepat di pundak Yuta dan pelakunya adalah Johnny.

Taeyong tertawa kemudian menggeleng-geleng lalu berdoa.

Setelah selesai mengucapkan beberapa doa, Taeyong meniup lilin tersebut dengan kencang sampai lilin itu mati dan menghasilkan asap berharap asap itu bisa membawa doa-doa yang sudah dilantunkan dalam hati oleh Taeyong.

“Selamat ulang tahun Kak Taeyong!” Teriak Haechan semangat dari barisan belakang kemudian lompat-lompat kegirangan sambil bermain dengan peralatan untuk memeriahkan ulang tahun Taeyong di dorm.


Sekitar dua jam lebih mereka menghabiskan waktu bersama di dorm lantai 5 untuk merayakan ulang tahun Taeyong.

Untungnya, besok tidak ada yang memiliki jadwal, jadi tidak masalah untuk sebentar merayakan ulang tahun Taeyong pada tengah malam seperti ini. Toh, semuanya memang suka terjaga sampai jam segini.

“Dah yuk, balik. Kayaknya ada yang mau ehem ehem nih.” Ucap Yuta sambil melirik kearah Jaehyun yang sedang menyuap kue.

Taeyong yang mendengar ucapan Yuta kemudian malu hingga pipinya merona, “Apaansih Yut!”

Namun member lain ikut tertawa dan paham apa yang dimaksud Yuta.

Akhirnya, semua member 127 bahkan yang memang tinggal di dorm lantai 5 pun ikut keluar dari dorm dan ikut ke dorm lantai 10, mengungsi sebentar.

Mereka benar-benar memberi ruang banyak untuk Jaehyun dan Taeyong, menghabiskan waktu hanya berdua, di hari bahagia Taeyong ini.

Setelah Taeyong membersihkan beberapa bekas makan member lain tadi, Taeyong masuk ke dalam kamarnya dimana Jaehyun sudah menunggu di dalam kamarnya, berduduk diam di pinggir kasur Taeyong sambil bermain dengan boneka milik Taeyong, tokki knight.

“Jaehyun,” Panggil Taeyong sesampainya ia menduduki pantatnya tepat di sebelah Jaehyun.

“Hm? Kenapa?” Jawab Jaehyun kemudian menatap kedua bola mata bulat milik Taeyong, menata kakak kesayangannya yang merangkap menjadi kekasihnya juga.

Taeyong menggeleng kemudian naik ke kasur, bergelung di dalam selimut. Ia merasa kedinginan sekarang.

Jaehyun ikut menidurkan tubuhnya di samping Taeyong kemudian mengelus surai milik Taeyong dengan lembut, “Selamat ulang tahun, kesayangannya Jaehyun.”

Taeyong tersenyum kemudian menatap Jaehyun.

“Terima kasih, Jaehyun.”

Jaehyun memajukan wajahnya mendekat kearah wajah Taeyong kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir milik Taeyong, mengecup bibir tersebut kilat.

“Hadiah buat Kakak.”

Taeyong terkekeh dan menyukai, sangat menyukai hadiah kecil dari Jaehyun.

“Kak, bahagia terus jangan lupa ya?”

Taeyong mengangguk kemudian menghadapkan tubuhnya menghadap kearah Jaehyun, mendengarkan Jaehyun.

“Inget, kalau capek, istirahat ya?”

Taeyong mengangguk lagi, ia bawa tangannya bermain dengan kuping milik Jaehyun.

“Jangan dibiasain buat begadang terus tidur di pagi hari ya?”

Lagi, Taeyong mengangguk. meskipun setengah-setengah, karena dirinya jika sudah mengerjakan sesuatu suka lupa waktu dan berujung tidur di pagi hari.

Hal yang sangat Jaehyun benci.

“Kak, jangan telat makan.”

Taeyong mengangguk paham.

“Jangan keseringan diet dan maksa tubuh Kakak, Kakak udah kurus begini, jaga kesehatan Kakak terus, ya?”

Taeyong mengangguk, ia seperti mendengar semua omelan Jaehyun tapi entah, dia suka sekali mendengar omelan Jaehyun seperti ini.

“Kak, aku sayang banget sama Kakak.”

Ucapan terakhir kemudian Jaehyun mengecup kening milik Taeyong dan mengusap pipi Taeyong.

“Janji bahagia terus, meskipun bukan sama aku ya?”

Deg.

Pernyataan atau pertanyaan terakhir itu, seketika dunia Taeyong berhenti berputar.

“Maksudnya?”

“Maaf, Kak. Aku nggak bisa lanjutin hubungan kita lagi.”

Ucapan yang keluar dari mulut Jaehyun, pelan-pelan Taeyong cerna.

Satu kalimat yang ada di pikiran Taeyong, ' Kenapa? '

Namun, bibir miliknya terlalu rapat untuk kembali membuka dan mempertanyakan hal tersebut.

Sebenarnya klise, hubungan mereka terbentuk karena sebuah permainan.

Sayangnya, Taeyong terlalu jatuh dalam permainan yang bahkan dibuat oleh dirinya sendiri.

Sedangkan, Jaehyun terlalu pintar untuk membatasi dan selalu mengingat bahwa hubungan keduanya, hanya sebatas permainan dimana Taeyong sendiri sudah jatuh terlalu dalam dan Jaehyun yang tidak mengetahui fakta tersebut.

“Harusnya aku sadar dari awal ya Jae. Hubungan kita ini cuma sebatas sandiwara di atas pentas dengan member 127 sebagai penonton setianya.

Sayangnya, aku terlalu mendalami peranku di dalam sandiwara yang aku buat sendiri, hahaha.”

Jaehyun tersentak mendengar ucapan Taeyong yang sangat tiba-tiba itu.

“Kak, maaf.”

“Nggak Jae, kamu nggak salah. Aku yang salah udah jatuh sejatuh-jatuhnya sama kamu. Aku bisa jatuh, berarti aku bisa bangkit juga, kan?”

Jaehyun mengusap air mata Taeyong yang perlahan mulai menetes dari pinggir matanya, “Kak, Kakak itu manusia hebat. Hebat banget and i adore you, a lot. Manusia hebat kayak Kakak, pasti selalu bisa bangkit.”

Taeyong menggeleng, “Nggak Jae. Dada aku, rasanya sakit banget.”

“Kak, jangan ditahan ya? Maaf.”

Can i hug you?” Tanya Taeyong menatap Jaehyun dengan tatapan yang sangat sendu. Mata yang biasa memancarkan kebahagiaan, kali ini menjadi sangat layu.

Jaehyun mengangguk kemudian Taeyong memeluk tubuh Jaehyun, benar-benar pelukan terakhir yang tidak akan disia-siakan oleh dirinya.

Keduanya diam dalam pelukan masing-masing.

Diam-diam juga, air mata milik keduanya terjun bebas dari masing-masing mata.

Keduanya menutup mata, merasakan kehangatan yang mungkin tidak akan didapat lagi selanjutnya, dan membiarkan air mata turun menderas dari masing-masing mata.

Mungkin kali ini memang Taeyong yang salah karena terlalu jatuh dalam perannya.

Tapi, yang Taeyong tau, kasih sayang yang diberikan oleh Jaehyun, nyata dan benar adanya.

Meskipun itu semua, hanya sebatas Kakak-Adek.

Sepertinya, ciuman tadi hanya pembuka dari semua hadiah yang diberikan Jaehyun.

Dan ini, adalah penutup dari semua hadiah yang diberikan Jaehyun, di hari ulang tahunnya, di hari bahagianya.

Kak, jangan salahin diri Kakak sendiri,ya?, Batin Jaehyun sambil terus mengelus punggung Taeyong yang bergetar akibat tangisannya.

Jaehyun, terima kasih untuk hadiahnya. Terima kasih sudah mengajarkan apa arti cinta, kasih, sayang, dan sakit kepada lelaki ini. Jaehyun, hadiah ini, semua hadiah ini, sekali lagi, terima kasih., Batin Taeyong.


@roseschies

Anyway, Happy Birthday uri Taeyongie!🎉🎉🎉

— johnten mpreg


Setelah membaca pesan dari Ten, Johnny mengunci ponselnya kemudian berfikir sambil memijit pelipisnya.

Yuta dan Jaehyun yang berada di depan Johnny saling lihat-lihatan.

“Kenapa Jo?” Tanya Yuta kemudian Johnny memberikan ponselnya yang sudah ia buka lagi dan menampilkan isi chat dirinya bersama dengan Ten.

Yuta dan Jaehyun membaca isi chat tersebut kemudian setelah membaca, Yuta mengembalikan ponsel milik Johnny kepada pemiliknya.

“Lo tau nggak buah buat orang ngidam tapi masalahnya orangnya ini nggak suka buah.”

Mendengar ucapan Johnny, Yuta dan Jaehyun keduanya ikutan bingung.

“Jadi maksud lo, si Ten ini nggak suka buah tapi dia sekarang lagi ngidam buah?” Tanya Jaehyun kemudian Johnny mengangguk membuat Yuta ikutan pusing.

“Calon anak lo punya masalah apa sih Jo? Belum juga lahir yang dibikin pusing nggak cuma bapak bapaknya, ini gue sama Jaehyun yang nggak ikut peran aja disuruh ikutan mikir.” Sambar Yuta dan Jaehyun ikutan mengangguk menyetujui.

Johnny menggedikkan bahunya, “Belakangan ini Ten suka ngidam aneh-aneh. Mending kalau disuruh nyari yang gampang dicari atau bisa gue usahain, masa pas kapan dia ngidam mau peluk mantan dia terus gue disuruh ngeliatin?!”

Jaehyun dan Yuta yang mendengar cerita Johnny langsung tertawa ngakak membayangkan gimana menyedihkan Johnny dikerjain oleh si calon anaknya itu.

“Terus gimana Jo, lo turutin itu?” Tanya Jaehyun.

“Kaga, untungnya gue keburu bangun.”

“Hah?”

“Iya itu mimpi gue doang sih.”

Yuta melempar gumpalan kertas kemudian kertas tersebut mendarat tepat di kening Johnny membuat Johnny mengelus keningnya dan mengaduh kesakitan.

“Ngapain lo cerita anjir, kirain beneran. Padahal gue udah ngebayangin gimana stressnya lo.”

“Jangan sampe lah anjir.”

“Yaudah ini gimana buahnya. Bantu mikir kek, biar cepet pulang nih.” Ucap Johnny kemudian ketiganya langsung membuka ponsel masing-masing dan cari di internet, buah apa yang biasa dimakan oleh seseorang yang tidak suka.

Mau sampe kapan nyari juga nggak akan ada jawabannya, padahal.

“Ini gue barusan nyari, buah yang paling banyak disukai orang-orang. jawabannya pisang. Siapa tau se nggak sukanya Ten sama buah, dia masih bisa toleransi sama pisang.” Ucap Jaehyun kemudian memberikan ponselnya yang sudah terlihat hasil pencarian tersebut.

Yuta mengangguk setuju, “Bener, coba aja Jo.”

Kemudian Johnny ikutan mengangguk-angguk, “Iya kali ya. Siapa tau dia masih bisa tolerir buah yang disukain banyak orang.”

“Yaudahlah balik anjir, kasian Winwin di rumah udah nungguin gue ini pasti.” Ucap Yuta kemudian berdiri dari tempat duduknya.

“Gue harus kasian sama siapa ya?” Tanya Jaehyun pada dirinya sendiri.

Yuta dan Johnny tertawa, “Miris banget si lo. Buruan dah cari pasangan, ngeri ampe tua jomblo aja hidupnya.”

Jaehyun memukul lengan Johnny, “Kurang ajar, doain yang baik kek siapa tau nanti pulang gue ketemu jodoh.”

“Iya udah nanti gue doain. Kasian temen gue ganteng gini masa nggak ada yang mau.”

“Bukan nggak ada yang mau Jo. Temen lo ini terlalu pemilih, banyak gaya banget dah udah tua juga.”

Jaehyun bagian sabar aja, udah kayak makanan sehari-hari diledekin gini sama temen-temennya.


Setelah beberapa menit muter-muter di toko jual buah, akhirnya Johnny membeli pisang yang paling enak dan sudah matang tentunya untuk Ten.

Johnny memencet passcode apartemennya lalu masuk ke dalam dan sudah ada Ten yang menunggu kepulangannya sambil memeluk boneka teddy bear di sofa sambil menonton televisi.

Johnny membuka sepatu kemudian menggantungkan jasnya di gantungan yang tak jauh dari pintu lalu mencuci tangan dan menaruh pisangnya di meja.

Johnny mendekat kearah Ten yang masih fokus menonton, sangking fokusnya Ten tidak sadar bahwa Johnny sudah pulang dan sudah berada disebelahnya itu.

“Halo sayang” Panggil Johnny kemudian mencium pipi Ten membuat Ten terkejut setengah mati.

Ten memukul lengan Johnny karena ia beneran sekaget itu akibat terlalu fokus menonton, “Kaget Jo!”

Johnny terkekeh kemudian memeluk tubuh mungil tersebut, “Nonton apa? Fokus banget?”

Ten menunjuk kearah tv, “Nonton hantu!”

“Sore sore gini banget nonton film horrornya?”

Ten mengangguk antusias, “Iya, emang kenapa? Nggak boleh?”

“Ya boleh boleh aja. Oh, aku bawa pisang tuh buat kamu”

“IH KOK BAWA PISANG? KAN KAMU TAU AKU NGGAK SUKA BUAH JO?”

Mendengar teriakan Ten, Johnny menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

“Katanya tadi kamu ngidam buah, aku bawain buah yang biasanya orang suka loh sayang” Ucap Johnny kemudian mengajak Ten kearah meja makan dimana buah pisang itu berada.

Belum juga sampai di meja makan, Ten sudah menutup hidungnya, “Ew pisang.”

“Tadi bilang pengen buah kan? Sekarang beneran nggak mau nih? Enak loh pisangnya.”

Ten menggeleng namun dirinya bingung, rasanya ingin menangis, “Pengen buah, tapi nggak suka.”

Air muka Ten seketika berubah jadi murung membuat Johnny panik.

“Yaudah sayang kalau nggak suka nggak usah dimakan, biar aku aja yang makan ya? Kamu mau apa sekarang?”

“Mau buah...” Ucap Ten kemudian memainkan baju milik Johnny lalu memeluk Johnny erat.

Johnny mengelus punggung Ten dengan lembut, “Tapi kamu kan nggak suka.”

Hening.

Tiba-tiba Ten melepas pelukannya kemudian menatap Johnny dengan tatapan berbinar, “Aku punya ide! Aku ada satu buah yang aku suka, pisang lagii!”

“Apa tuh?”

Ten kemudian tersenyum kemudian membawa tangannya menyentuh bagian kepemilikan Johnny yang berada dibawah lalu tertawa ngakak sambil lari lari kecil menuju kamar meninggalkan Johnny yang terkejut akibat sentuhan tiba-tiba dari Ten terhadap kepemilikannya itu.

Johnny mengelus dadanya kemudian bermonolog, “Sabar Jo. Punya suami gini amat sukanya ngegodain.”


@roseschies

— cerita singkat johnten lainnya (lagi)

⚠️ mpreg.


Pagi hari ini tidak seperti biasanya karena hari ini dibuka oleh kegiatan dimana Johnny dan Ten yang sibuk di kamar mandi.

Tidak, ini bukan kegiatan yang biasanya mereka lakukan ketika sedang baik-baik saja. Tapi kali ini kegiatannya cukup berbeda membuat Johnny khawatir setengah mati.

Johnny dengan pelan mengurut tengkuk milik Ten yang sedang mengeluarkan isi perutnya di wastafel kamar mandi.

Terlalu pagi untuk memulai aktifitas, namun Ten tiba-tiba terserang morning sickness dimana mual dan muntah yang terjadi saat hamil, dan sebagai suami yang siap siaga, Johnny yang sebelumnya masih tertidur dengan nyenyak itu buru-buru membantu suami mungilnya untuk mengeluarkan isi perutnya di pagi hari.

“Lemes Jo—HOEK” Baru sepatah kata keluar dari mulut Ten tetapi lelaki itu kembali mengeluarkan isi perutnya lagi di wastafel.

Johnny kembali mengurut pelan tengkuk milik Ten sambil mengucapkan kalimat kalimat baik untuk suami mungilnya itu.

Setelah dirasa Ten sudah selesai mengeluarkan isi perutnya dan tidak ada tanda tanda ingin mengeluarkannya lagi, Johnny dengan sigap mengangkat tubuh Ten lalu menggendong suaminya itu seperti koala.

Sedangkan Ten memeluk erat tubuh Johnny dan melemas dipelukan Johnny.

Johnny kemudian meletakkan tubuh Ten dengan pelan di kasur lalu mengelus surai milik Ten dengan lembut, “Aku nggak tega liat kamu kayak gini, mending aku aja yang muntah.”

Dengan tatapan sendu, Johnny masih mengelus surai milik Ten.

“Kamu ada yang dimau nggak sayang? makan apa gitu, ya?” Tanya Johnny, kemudian Ten kembali menggeleng lalu tak lama kemudian lelaki itu merasa bahwa ingin mengeluarkan isi perutnya lagi.

Ten mendorong tubuh Johnny kemudian lari kearah kamar mandi dan kembali mengeluarkan isi perutnya.

Johnny ikut berlari dan mendekat kearah Ten namun Ten melarang Johnny untuk mendekat kearahnya.

“Jooo, kamu bauuuuu.” Rengek Ten, lelaki ini ingin sekali memeluk suaminya namun suaminya terlalu bau untuk dirinya sekarang.

Johnny terdiam di depan kamar mandi, perasaan semalam dia sudah mandi dengan sabun yang dibelikan oleh Ten.

Belakangan ini memang Ten sangat ribet dengan masalah perwangian yang ada di tubuh Johnny, sesaat dia ingin wangi yang sangat manis namun keesokannya lelaki itu ingin Johnny berbau maskulin.

“Kamu mandi sekarang dongg. Aku mau peluk, tapi kamu bauuuu. Nanti aku muntah lagi kalau deket-deket kamu terus.” Ucap Ten setelah selesai mengeluarkan isi perutnya itu lalu menatap kearah Johnny yang masih diam tak berkutik di depan pintu kamar mandi, jarak keduanya lumayan jauh dan Ten tidak bisa mencium bau Johnny dari sini.

Johnny akhirnya keluar untuk mengambil baju dan dalamannya lalu keluar dari kamarnya menuju kamar mandi tamu yang berada di luar, takut takut jika ia mandi di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu tiba-tiba Ten ingin muntah lagi.

Sedangkan Ten kembali menidurkan tubuh lemasnya di kasur sambil menunggu suaminya selesai mandi, ia tak sabar ingin kembali memeluk erat suaminya.

Butuh waktu 15 menit untuk Johnny mandi kemudian kembali ke dalam kamar lalu mendekat kearah Ten yang sedang bermain ponsel di kasur itu.

Johnny menidurkan tubuhnya tepat disamping Ten kemudian mengecup pelipis Ten.

Ten yang mencium bau harum dari sekitarnya kemudian meletakkan ponselnya lalu memeluk erat tubuh Johnny, “Wangiiiiii! Suka hehehehe.”

Johnny tersenyum, kemudian mencium kening milik Ten, “Kamu mau makan apa sayang? kasian perut kamu udah kosong banget. Aku bikinin yah?”

Ten melengkungkan bibirnya cemberut, “Perut aku nggak enak Joooo”

Johnny semakin mengeratkan pelukannya kemudian mengelus punggung Ten pelan, “Sayang, ini bisa nggak mualnya dikasih ke aku aja... Beneran nggak tega liat kamu yang biasanya begajulan jadi lemes begini.”

“Kenapa bahasanya begajulan banget ih Jooo” Ten melengkungkan bibirnya cemberut membuat Johnny terkekeh gemas kemudian mencium bibir si mungil kilat.

“Ini aku bikinin kamu makan dulu gapapa ya aku tinggal sebentar?” Tanya Johnny kemudian Ten menggeleng cepat.

“Nggak, aku ikut. Aku ikut!” Paksa Ten namun bagaimanapun juga, Johnny tidak akan pernah bisa menolak.

Dan akhirnya, Johnny memasak makanan sambil dipeluk dari belakang oleh Ten. Lelaki itu selalu mengikut kemanapun Johnny pergi sambil memeluk tubuh Johnny dari belakang.

Beberapa kali juga Ten kembali muntah karena mencium bau Johnny yang tercampur dengan aroma masakan yang sedang dibuat oleh Johnny itu.

Akhirnya lagi, Johnny kembali mandi setelah memasak makanan untuk dirinya dan Ten.


“Aku tinggal gapapa ya sayang? Soalnya harus banget hadir rapat di kantor. Apa mau aku panggilin Winwin? Dia pasti sendiri soalnya Yuta juga ikut rapat.” Tanya Johnny tepat di depan pintu apart, tak rela meninggalkan Ten sendirian di apartemen.

Ten menggeleng, “Nggak usah Jo. Aku sendirian gapapa kok, lagi aku udah baik-baik aja nih dari kemarin kan. Gapapa, nggak usah panggil Winwin kasian dia harus kesini.”

Johnny mengangguk patuh kemudian mencium kening, hidung, dan bibir Ten sebelum benar-benar keluar dari apartemennya.

“Pergi dulu ya sayang.

Ten melambaikan tangannya, “Hati-hati Jo!”


Saat ini Johnny, Yuta, dan juga Jaehyun sedang mempersiapkan beberapa berkas dan peralatan yang dibutuhkan untuk rapat sejam lagi.

Ketiga lelaki itu sibuk mondar mandir.

Namun, tiba-tiba Johnny merasa perutnya terasa sangat mual dan dirinya saat ini benar-benar ingin muntah.

Johnny berlari kearah kamar mandi meninggalkan Yuta yang bingung melihat Johnny.

Setelah berhasil mengeluarkan isi perutnya, Johnny kembali keruangan dengan keadaan sedikit lemas akibat muntahnya yang bisa dibilang lumayan banyak itu.

Yuta yang melihat Johnny sedikit berantakan dan melemas akhirnya mendekat kearah rekan kerjanya itu, “Kenapa lo Jo? Lemes amat udah kayak orang nggak dikasih makan.”

Johnny terduduk di salah satu tempat duduk yang tak jauh dari sana, “Yut ambilin minum dong. Perut gue kenapa mual banget ya anj—HOEK”

Yuta menjauh dari Johnny kemudian Johnny kembali berlari cepat kearah kamar mandi meninggalkan Yuta yang tertawa melihat Johnny daritadi hoak hoek aja.

Setelah kembalinya Johnny dari kamar mandi yang sudah ia datangi sebanyak tiga kali, kali ini Yuta membawa tubuh lemas Johnny ke tempat duduk kemudian memberikan minuman untuk Johnny.

“Anjirlah Jo, sekarang yang hamil lo?” Tanya Yuta tiba-tiba membuat Johnny tersedak.

Johnny menggeleng, “Enggak anj- HOEEKKK”

Johnny kembali ingin muntah saat Jaehyun mendekat kearahnya membuat Yuta yang berada di dekat Johnny berteriak, “BANGSAT JOHNNY JOROK ANJEENGG JAUH JAUH LO”

Johnny kemudian lari kearah kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi. Total sudah empat kali ia mengeluarkan isi perutnya.

Tubuh Johnny sudah sangat lemas dan berkeringat.

Ia bawa kakinya keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di tempat duduk yang sebelumnya ia duduki sambil melihat kanan kiri, apa Jaehyun ada di dekat sini atau tidak.

Sepertinya, ia tidak suka dengan bau Jaehyun hari ini.

“Lo kenapa sih anjir Jo? setiap Jaehyun mau kearah lo, lo selalu muntah.” Tanya Yuta lagi kemudian kembali memberikan Johnny minuman.

Johnny menggeleng, “Nggak tau anjir. Jaehyun bau banget, kayak orang belum mandi 7 turunan.”

Jaehyun yang mendengar namanya disebut kemudian melemparkan sebuah kertas kearah Johnny.

Baru saja Jaehyun mau mendekat kearah Johnny dan Yuta namun Yuta dengan sigap melarang Jaehyun untuk mendekat.

Sepertinya, rekannya ini sedang terserang morning sick dimana penyebabnya adalah bau Jaehyun.

“Lo hamil kali anjir Jo? Udah cek belom?” Tanya Yuta lagi dan akhirnya dihadiahkan pukulan dari Johnny.

“Nggak anjir. Ini kayaknya tanda gue cinta berat sama Ten, Yut.”

Yuta yang mendengar malah ikutan pengen muntah.

Jaehyun mendekat kearah Johnny dan Yuta untuk memberikan berkas kepada dua rekannya itu namun Yuta dan Jaehyun lupa pasalnya jika Johnny mencium bau Jaehyun dari dekat, maka Johnny akan kembali merasa mual.

Benar saja, baru Jaehyun sampai tepat di sebelah Yuta ingin memberikan berkas, Johnny sudah berlari kearah kamar mandi untuk kembali mengeluarkan isi perutnya.

“Gue sebau apa sih anjir, cium dong Yut.” Ucap Jaehyun membuat Yuta menatap dengan horror.

“Gue tau Je, lo kelamaan jomblo tapi nggak gini anjir.” Jawab Yuta kemudian mengambil berkas yang dipegang oleh Jaehyun.

Setelah melihat Johnny yang sudah keluar dari kamar mandi, Yuta mengusir Jaehyun dari dekatnya.

Lalu Yuta berteriak frustasi, “Ten ini laki lo gue pulangin aja lah. Mau rapat malah morning sick.”

Johnny terkekeh seperti tak punya salah kemudian mendekat kearah Yuta, “Anterin hehehe.”

“BANGSAT JOHNNY JANGAN DEKET DEKET GUE LO BAU MUNTAHAN”


Akhirnya, Yuta mengantarkan Johnny ke apartemennya dan meninggalkan Jaehyun yang memimpin rapat itu sendirian.

Bagaimanapun, rapat itu harus tetap berjalan meskipun tanpa Yuta dan Johnny.

Johnny memencet passcode apartemennya dengan Yuta yang masih memegang tubuh Johnny yang kian melemas.

Setelah terbuka, Johnny melepas sepatunya begitu juga dengan Yuta lalu masuk kedalam apartemennya lalu bertemu dengan Ten yang sedang ngemil sambil menonton televisi dengan kaki yang diangkat satu di sofa.

“Hai sayang..” Panggil Johnny dengan tubuh yang sangat lemas namun ia paksakan untuk tersenyum kearah suami mungilnya.

Ten yang sedang asyik ngemil sambil menonton lalu mendengar suara suaminya itu langsung menengok kearah sumber suara dan terkejut melihat suaminya itu sudah tidak berbentuk.

“LAKI GUE LO APAIN YUT SAMPE GAK BERBENTUK GINI?” Teriak Ten histeris melihat Johnny sudah tidak berbentuk lalu mengambil alih tubuh Johnny dari Yuta.

“Muntah muntah dia mau rapat gara-gara nyium bau Jaehyun.” Jelas Yuta kemudian meletakan tas milik Johnny di pinggir.

“Yaampun suami gue ganteng ganteng dibalikin jadi nggak berbentuk gini.” Ucap Ten sambil menyentuh wajah Johnny lalu cemberut, sedih dia liat suaminya yang ganteng gini balik balik jadi begini.

Ten merasa bersalah lalu mengelus surai milik Johnny lembut, “Balikin mualnya ke aku aja ya, Yang?”

Johnny menggeleng cepat kemudian menegakkan tubuhnya, “Enggak! Aku kuat kok, ya kan ya Yut gue kuat kan ya?”

Yuta hanya tersenyum lebar yang terlihat sangat dipaksakan.

“Hehe iya Jo, kuat banget.”

Johnny bangsat, Yuta menyumpah serapah dalam hatinya. Ia tidak mau mengucapkan kalimat kalimat kotor tepat di depan seseorang yang sedang hamil.

Pada akhirnya, Johnny mengistirahatkan dirinya selama beberapa bulan dengan kerja dari rumah atau work from home sampai dirasa dirinya benar-benar sudah pulih.


@roseschies

ngidam

— cerita singkat johnten lainnya

mpreg.


“Jo...” Ten menepuk pelan lengan berotot milik Johnny yang sedang tertidur pulas di sampingnya itu.

Tidak ada balasan, Ten menepuk dan memanggil suaminya sekali lagi, “Joooo”

Johnny membuka matanya perlahan kemudian sudah terpampang jelas muka Ten dengan mata berbinar menatap dirinya yang masih menyamankan cahaya yang masuk kedalam jangkauan penglihatannya itu.

“Kenapa sayang?, Kok nggak bobo?” Tanya Johnny kemudian memeluk tubuh mungil milik Ten namun Ten melepas pelukan tersebut lalu kembali menatap Johnny dengan tatapan memohon seperti anak kecil.

“Jo, aku mau sate padang....” Ucap Ten kecil kemudian meremas baju milik Johnny, memohon lebih karena dirinya benar-benar ingin makanan itu.

Johnny membelalakan matanya terkejut, “Ini udah jam 2 pagi sayang, udah pada tutup yang jual, besok pagi kita beli ya?”

Ten cemberut, “Jo, aku maunya sekaranggggg!”

Johnny mengelus surai milik Ten kemudian mencium kening milik suaminya itu, “Udah jam 2 pagi nggak ada yang buka sayangku.

Ten membalikkan badannya, memunggungi Johnny sambil melipat kedua tangannya di dada tanda ia marah dan ngambek dengan Johnny.

Johnny memeluk tubuh Ten dari belakang lalu menaruh kepalanya di pundak milik Ten dan mencium pipi Ten kilat, “Jangan ngambek dong sayang, janji nanti pagi aku beliin ya? Sekarang tidur yuk?”

Ten melepas dengan cepat tangan Johnny yang melingkar di pinggangnya lalu menggeser pundaknya agar Johnny tidak bisa menaruh kepalanya di sana, “Enggak. Maunya sekarang. Titik.”

Johnny ingin menghela nafas berat, tapi bagaimana Ten sedang ngidam di jam 2 pagi ini.

“Yaudah, aku cari dulu ya di delivery online. Tunggu ya?” Johnny kemudian mengambil ponselnya yang ada di nakas kemudian mencari makanan yang sangat diinginkan oleh Ten.

Ten mengangguk, “Hm.”

“Jangan ngambek dong sayang, ini aku lagi cari lohh.” Ucap Johnny lagi lalu memperlihatkan ponselnya pada Ten bahwa dirinya benar-benar sedang mencari toko yang masih buka.

“Sate padang.”

Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Ten, Johnny terkekeh gemas.

“Iya sate padang sayang.

Johnny susah payah mencari di delivery online namun dirinya tak kunjung menemukan toko yang masih buka di sana.

“Tutup semua sayang, besok pagi aja ya?” Johnny meletakkan kembali ponselnya di nakas lalu kembali memeluk Ten yang masih melipat tangannya di dada dan memunggungi dirinya.

Ten menggeleng cepat, “Sate padang. Sekarang.”

Kalau begini terus, bisa-bisa Johnny diambekin sampai 2 hari berturut-turut. Jadi, sekarang Johnny mau tidak mau keluar untuk mencari makanan tersebut entah di pinggir jalan atau dimana Johnny bahkan tidak tau, semoga benar-benar masih ada yang menjual di jam 2 pagi ini.

Harusnya sih, ada.

Tapi mana tau, dunia sedang bercanda dengan Johnny si penjual sate padang tiba-tiba menutup gerobaknya.

“Kamu sendirian gapapa? Aku cari di luar sebentar ya?”

Ten mengangguk kemudian memeluk boneka beruang yang tak jauh dari dirinya, “Gapapa, cepet Jooooooooo”

Johnny berdiri dari kasur lalu mengambil jaket dan kunci motor miliknya lalu mencium kening milik Ten, “Aku berangkat dulu ya sayang. Doain masih jual biar kamu bisa makan sekarang.”

“Harus jual. Kalo tutup suruh buka.” Paksa Ten lagi membuat Johnny menggeleng, susah ya orang kalau lagi ngidam. Mau gimana lagi.


Butuh waktu sekitar setengah jam akhirnya Johnny benar-benar mendapatkan makanan yang Ten inginkan. Tepat di jam 3 kurang, Johnny sampai di apartemen kecilnya itu.

Johnny meletakkan bungkusan makanan tersebut di meja kemudian masuk ke dalam kamar dengan hati senang untuk memberi tahu suaminya itu bahwa dirinya berhasil menemukan makanan yang diinginkan Ten.

Sayangg, aku udah dapet nih satenya. Mau makan sekarang?” Ucap Johnny setelah membuka pintu kamar.

Namun, dirinya hanya bisa melihat Ten yang sudah tertidur dengan nyenyak sambil memeluk boneka beruang dengan mulut yang sedikit terbuka.

Johnny tersenyum, kemudian ikut tidur di samping tubuh Ten lalu mencium kening Ten pelan takut membangunkan suaminya itu.

Tak disangka Ten perlahan membuka matanya.

“Udah pulang Jo?” Tanya Ten sambil memandang Johnny dengan tatapan polosnya itu.

Johnny mengangguk, “Udah. Mau makan sekarang?”

Ten menggeleng, “Udah nggak mau. Maunya Johnny aja, hehehe.”

Ten kemudian memeluk tubuh Johnny erat dan mendusel di dada milik Johnny.

Kalau begini, Johnny mana bisa marah.


@roseschies

you're my safest place

— sedikit cerita tentang johnten lainnya.

⚠️ abusive parents // blood // panic attack // suicidal thoughts


Prang

Suara pecahan piring yang dilempar terdengar kencang dikuping milik Ten. Lelaki itu mati-matian memeluk kakinya yang meringkuk menutup setengah badannya. Saat ini Ten sedang berlindung dibalik pintu kamar kecil miliknya, tempat di mana menurutnya tempat paling aman di dalam rumah yang besar dan megah ini.

“Liat tuh, anakmu mas! Mau jadi apa dia?! Mau jadi apa mas anakmu itu?! Mau kayak kamu yang ngemis-ngemis ke orang lain? Iya? Mas, anakku aku didik dengan benar, besarnya malah jadi kayak kamu! Kamu apain anakku mas?!” Teriak seorang wanita dari luar kamar dan diselingi suara pecahan piring lagi yang membuat Ten kembali memeluk tubuh ringkihnya itu.

Ten mengatur nafasnya pelan-pelan, jantungnya tidak berhenti berdebar. Jujur dia sangat takut, sangat takut mengecewakan orang tuanya.

Tapi ternyata, semua ketakutannya itu, benar-benar terjadi.

“Anakmu anakmu, dia juga anakku! Anak kita!” Bantah seorang pria yang terdengar juga frustasi.

Kedua yang diluar adalah kedua orang tua Ten. Dua manusia yang sedang saling teriak itu, meneriaki satu sama lain hanya karena anaknya, Ten tidak berhasil mendapatkan beasiswa S2 yang memang sejak awal Mama Ten inginkan, pun Papa Ten. Keduanya sangat mendambakan memiliki seorang anak yang mampu mendapatkan beasiswa S2 tersebut.

Namun, Ten gagal. Sekali lagi, Ten gagal.

“Aku gak sudi mas. Anakku, kamu apain mas.” Isak Mama dari luar kamar, Ten yang mendengar dari kamar ikut menangis dalam diam. Tangannya sudah penuh dengan lumuran darah, badannya gemetar hebat. Kepalanya pusing, sangat pusing.

Semua luka ini, luka yang terlihat dan tidak terlihat, semua dihasilkan oleh kedua orang tuanya.

Kedua orang tuanya, memberikan luka tanpa bekas dan luka yang akan membekas, entah sampai kapan di diri Ten.

Kedua orang tua, yang sayangnya Ten selalu banggakan.

Kedua orang tua, yang sangat Ten hormati.

Dan, kedua orang tua, yang sangat dirinya sayangi di hidupnya.

“Ma, Mama bilang Mama didik aku dengan benar. Ini, apa Ma? Semua luka ini, didikan Mama yang Mama bilang benar?” Cicit Ten pada dirinya sendiri kemudian ia melihat kearah beberapa luka yang masih mengeluarkan darah segar di telapak miliknya.

Hasil dari dirinya yang menahan pisau dari Mama yang hendak melempar kesembarang tempat. Ten takut, sangat takut jika pisau itu mengenai setitik tubuh milik Papa atau Mamanya.

“Anakmu, Gak pernah bisa banggain Mamanya. Anakku, mas. Kamu apain?” Teriak Mama lagi dengan isakannya yang luar biasa terdengar sampai kuping Ten.

Teriakan Mama, Ten tidak mau mendengar. Ten tidak mau mendengar teriakan dari seseorang yang sudah lelah melahirkan dirinya. Ma, maafin Ten. Ma, maafin Ten nggak pernah bisa banggain Mama.

“Kamu pikir aku gak capek Sya? Aku pulang malam, pergi pagi buat anak kita doang Sya! Aku juga mau anak kita jadi anak yang bisa membanggakan aku dan juga kamu Sya. Aku cari uang, tiap hari, pulang malam cuma buat anakku, anak kita Sya!” Papa jawab dengan teriakkan juga.

Selain teriakan Mama, teriakan Papa lah yang membuat Ten jatuh melemas dibelakang pintu.

Jika Papa sudah teriak, Ten benar-benar gagal.

Pa, maafin Ten. Papa capek ya cari uang untuk Ten. Tapi lagi-lagi Ten nggak bisa membanggakan Papa. Pa, maafin Ten.

Ten menghapus jejak air matanya di Pipi yang sudah memerah akibat tamparan sedikit keras dari Papa.

Ten membawa tangannya mencari ponsel yang sebelumnya ia lempar entah kemana kemudian memencet angka satu, dial cepat untuk nomor Johnny.

Ten menelpon Johnny dengan keadaan yang sedang menahan isak tangisnya dan tangan yang gemetar hebat.

“Jo? please take me out of here.

Tangan satunya ia bawa memegang tangan yang sedang memegang ponselnya.

Bahkan, tangannya sudah tidak kuat lagi untuk membawa beban ponsel miliknya. Tangannya gemetar begitu hebat.

Ten, stay. I will be there in five minutes. Please, bertahan ya?

Ten menggeleng meskipun ia tau Johnny tidak akan melihat aksinya itu, “Gak kuat, Jo.”

Aku udah di mobil, please tunggu aku. Kamu mau kan, nunggu aku sebentar?

Ten mengatur nafasnya, ia seperti sudah kehabisan nafas, “Jo, bawa aku pergi jauh. Kemana aja, please.

Ten bisa mendengar suara deruan mobil dari ujung telpon menandakan Johnny benar-benar sudah di dalam mobil dan menuju rumah besarnya ini.

Ten bahkan mati-matian menutup speaker telpon agar suara teriakan kedua orang tuanya tidak di dengar oleh Johnny.

I will, don't worry, sayang. Aku bakal bawa kamu pergi jauh dari lingkarang setan itu.

“Sejauh apa?”

Jauh pokoknya, Ten.

Kamu mau es krim nggak? Kamu kan suka es krim, aku bawa es krim nih.” Johnny sebenarnya bertanya seperti ini untuk mengalihkan Ten dari suara-suara teriakan di luar. Oh tentu saja, Johnny mendengar sangat jelas, bahkan Johnny tau Ten sangat bekerja keras dalam menutup speaker ponselnya itu.

“Eum mau. Dua yah, yang stroberiii!” Ten menjawab dengan antusias.

Namun sedetik kemudian, “Jo, dimana. Aku gak kuat lagi, sakit.”

Sayang, bertahan ya? Aku temenin lewat telpon, ini aku lagi muter balik abis itu sampe rumah kamu. Bawa dua es krim stroberi buat kesayangan aku yang kuat ini.

“Hehehe iya Jo. Mau es krim, mau Johnny.”

“Jo, sakit. A-ah darahnya ngalir terus Jo,” Ten memegang pelipisnya yang ternyata mulai mengeluarkan darah segar akibat dirinya yang daritadi tidak sadar menggaruk daerah sana demi menghilangkan rasa gemetarnya.

Ten mendengar suara grasak-grusuk dari ujung telepon kemudian ia mendangar suara dobrakan pintu yang terdengar nyata sampai ke kuping miliknya.

“Kalian masih mau teriak-teriak kayak gini di saat anak yang katanya kesayangan kalian sudah hampir mau mati di belakang pintu kamarnya?!” Teriak Johnny setelah mendobrak pintu tersebut, bahkan Johnny bisa melihat dengan jelas kedua orang tua Ten yang sedang adu mulut di dekat kamar Ten.

“Kamu gak usah ikut campur. Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Keluar dari rumah saya,” Balas Papa Ten.

Johnny tidak takut dan memajukan dirinya mendekat kearah Papa Ten dan menatap sengit. “Mohon maaf jika dirasa saya kurang sopan untuk ikut campur. Saya bukan siapa-siapa? Tapi saya tau semuanya, bahkan saya tau apa yang sedang dilakukan dan sedang dirasakan oleh anak kesayangan anda. Lalu, dimana letak saya bukan siapa-siapa? Anda yang orang tuanya, tau apa?”

Johnny berlari membuka pintu kamar Ten dengan pelan karena ia tau pasti lelaki ini sudah meringkuk dibelakang pintu.

Johnny bahkan meringis melihat keadaan Ten.

“Anak saya sedang belajar, kamu tau ap-”

Johnny keluar dari kamar Ten sambil membawa Ten di dalam gendongannya membuat kedua orang tua Ten sukses terkejut. Pasalnya, kedua orang tuanya ini tau bahwa Ten sedang melanjutkan belajarnya di dalam kamar setelah aksi debat kecilnya tadi itu.

“Anda, tau apa tentang anak anda? Jika ada soal mempertanyakan tentang anak anda, saya tau berapa nilai anda. Nol besar.” Ucap Johnny kemudian berlari sambil membawa tubuh Ten kedalam mobil.

Ia meletakkan tubuh Ten dengan sangat hati-hati.

Meskipun tubuh Ten sudah banyak lecet, Johnny tidak akan menambahkan lecet-lecet lainnya lagi.

Johnny mengambil kotak P3K yang ada di dalam mobilnya lalu membersihkan hingga mengobati luka yang terlihat milik Ten.

Meskipun Johnny tidak bisa sepenuhnya mengobati luka yang tidak terlihat, namun Johnny telaten untuk membersihkan luka yang terlihat. Setidaknya, Johnny berguna di dalam hidup Ten.

“Jo, nggak usah diobatin. Nanti juga luka lagi kok.” Tolak Ten namun Johnny tidak menghiraukan dan tetap melanjutkan aksi mengobati luka-luka milik Ten.

“Nanti aku obatin lagi ya, kita berangkat dulu jangan di sini. Nanti dua orang itu datengin kamu lagi.” Johnny menyelesaikan aksinya tersebut kemudian menjalankan mobilnya menuju suatu tempat.

Tempat yang jauh dari jangkauan orang tua Ten.

Tempat dimana, Ten akan merasa lebih aman.


“Jo, aku nggak minta kamu sewa karavan..” Ten terkejut melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.

Sebuah karavan, lengkap dengan berbagai jenis peralatan di dalamnya.

“Ten. Nurut ya?”

“Tapi Jo, karavan itu mahal.”

“Semahal apapun, gak masalah buat aku Ten. Aku cuma mau bawa kamu kesuatu tempat, tapi kamu tetap bisa tidur dengan nyenyak.” Johnny mengelus surai milik Ten dengan sayang kemudian melanjutkan ucapannya. “Masuk ya? Sini kita lanjut obatin dulu luka kamu, mau ke dokter?”

Ten menggeleng, “Enggak, mau sama kamu aja.”

Johnny tersenyum lalu mencium pucuk kepala milik Ten, oh tuhan dia sangat mencintai lelaki ini.

“Iya sama aku aja, yaudah masuk dulu ya? Kita obatin.”

Johnny kembali telaten mengobati semua luka-luka milik Ten, bahkan luka sekecil apapun Johnny obati.

“Sakit?”

Ten menggeleng, bahkan air mukanya terlihat biasa saja, padahal Johnny yang mengobati sedikit ikut nyeri melihat luka-luka milik Ten.

“Enggak sesakit hati aku Jo.”

“Jo, aku dibilang pelacur sama Papa aku sendiri. Mama aku bilang aku anak nggak berguna hanya karena aku gagal lolos beasiswa S2 di tempat yang mereka inginkan.”

Johnny masih dengan aksinya yang telaten mengobati luka Ten, mendengarkan lelaki tercintanya ini bercerita tanpa berniat menjeda cerita tersebut. Johnny tau, Ten membutuhkan tempat untuk mengeluarkan semua uneg-uneg yang ia miliki. Dan disini dia, mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Ten.

“Apa kalau aku meninggal sekarang, semua bakal baik-baik aja Jo? Apa kalau aku menghilang dari hadapan keduanya, semua bakal baik-baik aja? Mereka kayaknya bahagia ya kalau aku hilang dari dunia ini?”

Johnny mencium kening Ten, “Kok bisa mikir begitu, hm?”

Ten menggedikkan bahunya, “Aku kan nggak berguna Jo, as they said.”

“Kalau kamu nggak berguna, kamu nggak bakal bisa nyelesain studi S1 kamu hanya 3,5 tahun llau cumlaude. Kalau kamu nggak berguna, kamu nggak akan bisa lanjutin S2 bahkan di univ terbaik di kota ini.”

“Tapi nggak dengan lolos beasiswa S2 di tempat yang mereka inginkan, Jo. Aku nggak berguna, aku gagal.”

“Sayang, mereka belum ngerti. Mereka terlalu sering melihat ke kanan kiri dimana ada anak-anak kolega mereka. Mereka terlalu sering membandingkan kamu, disaat kamu sendiri punya kelebihan sendiri yang bahkan orang lain itu belum tentu punya.”

“Tapi Jo, aku cuma mau banggain mereka.”

See, you did your best. Kamu melakukan semua yang kamu bisa bahkan melebihi batas kamu sendiri. Kamu selalu bekerja keras atas apapun itu. Kamu sudah sangat sangat bekerja keras.”

“Mama dan Papa nggak lihat itu Jo. Mereka cuma lihat apa yang mereka mau.”

“Kamu itu anak mereka sayang. Kamu bukan robot mereka. Besok, aku bantu bangkit. Kita kalahin mereka dengan pikiran kolotnya, okay? Besok, aku dan kamu, kita sama-sama ya? It's not even your fault, as i said you really did your best.

Johnny mengelus surai milik Ten lalu mengecup pucuk kepala milik Ten, alih-alih memberikan semangat kepada lelaki kesayangannya ini.

Ten memeluk tubuh Johnny dengan kuat, Ia berharap orang tuanya memiliki pemikiran yang sama dengan Johnny.

Ia berharap, orang tuanya bisa sekali dua kali mengerti keadaannya, keadaan dimana ia tidak selamanya bisa menjadi anak yang diharapkan oleh orang tuanya, keadaan dimana ia berdiri menjadi diri sendiri bukan karena suruhan orang tuanya.

Benar kata Johnny, dia bukan robot. Dia memiliki kelebihan yang ada di dalam dirinya.

Sayang, kelebihan itu tertutupi oleh keinginan menggebu-gebu dari kedua orang tuanya.

“Sayang, ingat ya, jangan pernah salahin diri kamu sendiri disaat kamu nggak melakukan kesalahan. Ini hanya tentang bagaimana seseorang memandang kamu dari kacamata yang seperti apa. Jadi diri kamu sendiri, semua orang punya kelebihan. Terima kasih ya, sudah terus bertahan. Terima kasih ya, sudah terus bekerja keras demi mengisi keinginan orang tuamu.” Johnny mendekap tubuh bergetar milik Ten yang sudah menangis tak karuan.

“Johnny, mungkin kalau gak ada kamu. Aku nggak akan bisa lagi bertahan di sini. Terima kasih, sudah menahan dan ikut bertahan bersama aku. Maaf, aku nyusahin kamu ya? Pasti tadi kamu lagi asik main game. Maaf”

“Tuh, nggak perlu minta maaf sayang. Bukan salah kamu ya?”

Ten terkekeh gemas, ia mengecup bibir Johnny kilat, “Sayang sama kamu, Jo.”

Johnny tersenyum kemudian mengecup bibir Ten kembali, “Aku lebih sayang sama kamu Ten. Terima kasih ya sudah hadir.”

“Jo, kamu jadi salah satu alasan kenapa aku masih hidup dan bertahan di dunia ini.”

Johnny menggeleng, “Jangan. Aku bantu cari alasan lain ya?”

Ten terdiam bingung, “Kenapa?”

“Kalau misal sewaktu aku meninggal duluan, aku nggak mau kamu berhenti untuk tetap bertahan. Aku mau kamu terus jalan ke depan, aku mau kamu terus bangkit melawan dunia, melawan semua meskipun nggak ada aku. Nanti, kita cari alasan lain ya?”

Ten menangis, menangis lebih dari sebelumnya, Ya Tuhan.

“Hey hey, kok nangis?”

“Kamu baik banget jadi orang, aku jadi makin sayang.”

Johnny tertawa, sekarang dirinya bisa lega karena orang tersayangnya sudah mulai kembali memperlihatkan senyumannya itu.

Meskipun Johnny tau, jauh dilubuk hati Ten, lelaki itu masih sakit. Sangat sakit.

Karena sejatinya, serusak apapun Ten, Johnny akan selalu ada disamping untuk memperbaiki.


@roseschies