roseschies

always enough for them

Setelah membaca chat dari Papanya itu, Haechan langsung menaruh ponselnya yang sebelumnya ia sempatkan kirim pesan ke Mark kalau ia akan ke kamar Papanya untuk sekedar ngobrol sebentar dengan sang Papa.

Sesampainya di depan kamar Ten, Haechan mengetuk pintu kamar Ten sampai terdengar suara sahutan Ten dari dalam kamar lalu Haechan masuk ke dalam kamar Ten di mana Haechan melihat Papanya sedang terbaring di kasurnya sambil tertawa kecil karena sedang scroll tiktok, katanya tadi.

“PAPA IH KAYAK ORANG ANEH KETAWA-KETAWA SENDIRI LIHAT HP,” Teriak Haechan sambil berlari kecil menuju Kasur Ten dan Johnny lalu menidurkan badannya di samping Ten dan mendekatkan diri ke arah Ten, melihat FYP milik Ten yang sedang terpampang di layer ponselnya itu.

“Kayak kamu nggak aja de, biasa kamu juga senyum senyum lihat HP karena chat dari Mark, kan?” Sahut Ten membuat dirinya malu sendiri, betul juga kata Papanya itu.

“Oh iya de, ayo kita velocity, Papa ajarin dede, Papa udah jago nih. Mau lagu yang mana?” Ucap Ten sambil membuka list lagu trend velocity di aplikasi tiktoknya.

“Ini aja nih Pa, seru tau yang ini.” Tunjuk Haechan pada satu lagu yang bagi Ten itu sangatlah susah, Ten belum bisa untuk lagu tersebut.

Ten menggelengkan kepalanya, “Susah ah de, yang gampang aja.”

“Ih, katanya Papa udah jago.”

“Iya Papa jago yang dung dung tak dung tak itu loh de,”

Haechan tertawa melihat Papanya meragakan trend velocity tersebut karena mimik wajah Ten terlihat seperti orang kebingungan sendiri, mana tangannya salah pula.

“Yaudah yang itu aja, Pa, ayo pakai HP papa ya, HP dede di kamar.” Ajak Haechan lalu Ten mengangguk dan keduanya menuju meja serbaguna milik Ten dan Johnny yang tidak jauh dari tempat tidur untuk meletakkan ponsel milik Ten agar keduanya dapat dengan mudah membuat video.

Setelah setidaknya ada satu jam lebih Haechan dan Ten menghabiskan waktu hanya untuk satu trend velocity, sampai akhirnya keduanya tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul tepat 11.00 malam, akhirnya Ten dan Haechan selesai juga membuat video pendek tersebut.

“Katanya Papa mau ajarin dede, ini jadi dede yang ajarin Papa.” Ucap Haechan diakhir setelah Ten mengambil ponselnya untuk ia edit video keduanya itu.

Ten tertawa karena sejak awal, dialah penyebab video pendek itu tidak selesai juga. Soalnya, Ten selalu tidak sinkron dengan Haechan yang sesuai dengan ketukan lagunya sedangkan dirinya selalu terlambat dan setiap itu, keduanya selalu tertawa dan membuat ulang, kalau Ten lihat bisa sampai ada puluhan draft video di aplikasi tiktok miliknya yang berisikan video miliknya dan Haechan tersebut.

Setelah sadar waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Ten akhirnya meminta Haechan untuk kembali ke kamarnya untuk bersiap tidur karena sudah malam dan besok Haechan harus masuk sekolah.

“De, ke kamar gih, udah malam, besok kamu sekolah kan.” Ucap Ten membuat Haechan melihat kearah jam dinding dan terkejut, ternyata selama itu keduanya menghabiskan waktu untuk membuat video pendek tersebut.

Haechan mengangguk lalu membangunkan dirinya setelah memeluk kecil Ten tanda berpamitan.

“Oke Pa, dede tidur dulu ya, selamat malam Paa.” Pamit Haechan lalu berlari kecil menuju pintu kamar Ten dan Johnny. Tak lama kemudian sosok Haechan hilang dari balik pintu kamarnya, menyisakan Ten seorang dengan background suara trend yang baru saja ia buat dengan Haechan karena saat ini dirinya sedang mengedit di aplikasi tiktok.

Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka melihatkan sosok besar, badan milik suaminya, Johnny yang baru selesai dengan urusan kantornya itu. Johnny mendekatkan diri kearah Ten yang sedang asik dengan dunianya sendiri, “Tumben dede ke kamar, Yang?”

Ten mendongakkan kepalanya lalu sumringah melihat Johnny, “Eh Jo, iya dede bosen katanya karena abangnya belajar terus, jadi ke kamar. Padahal dedenya sama aja kayak babangnya, sama-sama maniak belajar, apalagi kalau lagi ujian.”

Johnny tertawa lalu mengusak kepala Ten dan membawa dirinya menuju lemari miliknya untuk mengambil baju tidurnya.

“Dua anak kita memang sama, yang satu bosen kalau babangnya lagi ujian karena fokus belajar. Yang satu bosen kalau dedenya lagi ujian juga karena fokus belajar.” Johnny menggelengkan kepalanya, bingung dengan kedua anaknya itu.

Kedua anaknya itu obsess sekali untuk belajar kalau lagi ujian sampai Johnny dan Ten apalagi Ten khawatir dan selalu khawatir dengan kedua anaknya itu setiap musim ujian. Padahal sejak dahulu, Ten dan Johnny tidak pernah menekan kedua anaknya untuk mendapatkan nilai bagus.

Menurut Ten dan Johnny, berapapun nilai akhir yang dicapai kedua anaknya, Johnny dan Ten akan selalu bangga dengan proses yang dilalui oleh kedua anaknya dan keduanya tahu, kedua anaknya tidak pernah mengecewakkan mereka.

Berapapun nilainya, bagi Johnny dan Ten itu sudah sangat bagus dan mereka berdua selalu bangga dengan hasil dan proses yang dijalani oleh kedua anaknya.

“Aku mandi dulu ya, Sayang.” Pamit Johnny yang sebelumnya sempatkan mencium kening suami kecilnya itu yang sedang sibuk mengedit video dirinya dan anak bungsunya itu membuat Ten menganggukkan kepala kecil lalu Johnny pergi menuju kamar mandi untuk mandi, membersihkan tubuhnya.


roseschies, 2025.

busy day for his brother

Baru saja satu minggu berlalu Hendery menghabiskan waktunya hanya untuk belajar dan belajar karena saat ini Hendery sedang dimasa ujiannya. Dan sudah satu minggu berlalu Haechan merasa hidupnya terasa jauh lebih sepi apalagi ketika keduanya di rumah.

Satu minggu ini juga sudah Haechan lewati hanya melihat Hendery pulang hingga larut malam dengan wajah yang terlihat lelah, ia tahu abangnya sedang berjuang, memerjuangkan nilainya untuk di semester tersebut.

Beberapa kali Haechan mencoba menjahili abangnya itu dengan mengeluarkan beberapa lelucon atau sekedar melemparkan suatu barang sambil tertawa seperti yang biasa mereka lalukan di rumah tetapi respon yang diberikan sang abang hanya mengambil barang yang dilempar oleh Haechan lalu pergi begitu saja sambil membawa buku yang Haechan yakin isinya Haechan pun tidak mengerti alias materi-materi ujian Hendery.

Haechan menghembuskan nafas sambil mencibir “Gak seru Abang ah.”

Biasanya kalau Haechan mengucapkan hal seperti berikut Hendery akan mengomel atau sekedar mencubit pipinya sampai menguyel-uyel pipinya itu tapi sekarang berbeda, tidak ada reaksi apa-apa dari Hendery.

Rasanya Haechan ingin menangis, ia merasa abangnya seperti marah padanya tetapi pada akhirnya ia mengerti, Hendery sedang lelah dan stress karena masa ujian.

Beberapa hari kemudian, di malam itu, Haechan bangkit dari kasurnya setelah beberapa kali hanya scroll sosial media, ia punya ide lalu membawa kakinya menuju dapur.

Haechan ingat masih ada beberapa makanan kecil seperti kue dan coklat lalu ia membuatkan teh hangat dan meletakkan piring yang sudah ia isi dengan kue dan coklat juga cangkir berisi teh hangat ke atas nampan dan ia bawa nampan tersebut menuju kamar Hendery.

Haechan letakkan nampan tersebut di depan meja beserta surat kecil yang sudah sempat ia tuliskan beberapa kata di dalamnya lalu mengetuk pintu kamar Hendery dan berlari menuju kamarnya setelah misinya selesai ia lakukan.

Hendery yang mendengar ketukan pintu dari pintu kamarnya langsung berdiri dari bangkunya, “Iyaa Pa,” karena Hendery berfikir itu adalah Papanya yang mengetuk kamarnya.

Sesampainya ia di depan pintu lalu membuka pintu kamarnya namun ia tidak melihat siapa siapa di depan pintu kamarnya, ia hanya melihat nampan berisikan piring dengan kue dan coklat di atasnya dan cangkir berisi teh hangat juga sebuah kertas dan ia tersenyum kecil sambil melihat ke arah pintu kamar adiknya itu, Hendery tau dengan pasti kalau hal berikut adalah kerjaan sang adik.

Hendery sadar adiknya beberapa hari belakangan selama ia ujian ini selalu meminta perhatian, sekedar menjahilinya, seperti biasa.

Hendery jongkok untuk mengambil nampan lalu membawa nampan tersebut masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan nampan tersebut di atas mejanya kemudian ia bawa tangannya untuk mengambil kertas yang ada di atas nampan.

Semangat belajarnya, Abang jelek. Dede yang tampan ini bosan, cepet selesai ujian, dede gak sabar mau ngisengin babang lebih banyak. Babang kalau lagi ujian jadi kayak monster, ih serem.

Hendery tertawa kecil membaca tulisan di dalamnya, tertawa karena isi di dalamnya dan tulisan Haechan yang seperti cakar ayam, jelek sekali. Hendery tahu, adiknya itu menulis dengan buru-buru.

Niat Hendery selanjutnya adalah mendatangi adiknya dan akhirnya Hendery bangun dari duduknya lalu menuju kamar adiknya yang berada di depan kamarnya itu.

Baru saja Hendery ingin mengetuk pintu kamar adiknya tetapi ia tunda karena mendengar suara tawa adiknya dan disusul dengan suara Mark samar-samar, oh, adiknya sedang video call dengan temannya itu.

“Cih, dasar, anak muda.” Cibir Hendery lalu kembali ke dalam kamarnya dan mendudukan dirinya di bangku sambil mengambil kue yang diberikan adiknya itu.

“Pasti si Mark keenakan tuh,” Gumam Hendery sambil mengunyah kue yang sedang ia lahap sambil sesekali masih mencibir, “Mark tetep nomor satu, gue mah kedua.”

Aslinya Hendery iri.


nostalgia

Dua jam lebih Johnny dan Ten habiskan waktu mereka di dalam bioskop, menonton film yang sudah Ten pilih sebelumnya.

Ten tidak hanya asal memilih, ia sudah hafal dengan apa yang disuka dan tidak disuka oleh Johnny, maka dari itu ketika Ten memilih tontonan apa yang akan mereka tonton meskipun tanpa bertanya terlebih dahulu pada Johnny, Ten sudah menimang terlebih dahulu dan ketika Ten memberitahu pada Johnny, Johnny juga sudah setuju dengan pilihan Ten.

Hal yang tidak pernah berubah sejak dulu adalah ketika keduanya keluar dari bioskop maka keduanya akan berbicara mengenai alur hingga teknik kameramen hingga editan yang ada di dalam film yang baru saja mereka tonton.

Berdebat hingga berkomentar, saling melontarkan pendapat masing masing.

Ten sangat menyukai waktu ketika dirinya dan Johnny membicarakan sebuah alur dari sebuah film yang baru saja mereka tonton. Karena cara pandang keduanya sedikit berbeda namun karena hal tersebutlah membuat Ten maupun Johnny bisa mendapat pencerahan dari pandangan lainnya membuat keduanya menerka-nerka akan ada hal apa lagi di season selanjutnya.

All You Can Eat kali ini menjadi pilihan Johnny dan Ten untuk mengisi perutnya yang kosong sejak tadi (kecuali sarapan, karena keduanya sempatkan sarapan bersama kedua anaknya terlebih dahulu tadi pagi).

Setelah memikirkan apa akan merasa rugi jika makan AYCE dan keduanya sama sama perut karet, maka dari itu akhirnya keduanya benar benar memutuskan untuk makan di sana.

Dengan tangan milik Ten yang melingkar di pinggang Johnny sedangkan tangan milik Johnny merangkul pundak Ten, keduanya berjalan membelah lautan manusia di dalam Mall. Tak lupa dengan pandangan banyak orang yang melihat kearah keduanya sebab keduanya ramai seperti dunia hanya milik mereka berdua.

Restoran yang didatangi tidak ramai membuat Ten dan Johnny langsung mendapat tempat duduknya. Seperti sudah menjadi rules tak tertulis,, Johnny langsung memasak beberapa daging untuknya dan untuk Ten sedangkan Ten menyiapkan rebusan untuk keduanya.

“Yang, tadi sebelah kamu kayaknya seumuran si babang deh,” Ucap Johnny sambil membalikkan daging yang sedang ia masak.

“Keliatannya sih gitu, tadi bareng pacarnya deh duduk di sebelah dia. Eh ngga tau ya pacar apa bukan, tapi kayaknya iya.”

Johnny mengangguk-anggukan kepalanya, “Soalnya tadi pas kita mau lewat, kok rasanya hawa mereka tuh kayak hawa lagi slek slekan gitu.”

Ten tertawa, kebiasaan Johnny lainnya adalah bergosip ketika keluar dari bioskop.

Kadang Johnny suka tiba-tiba kepo dengan urusan orang yang ada di sebelah dirinya atau disebelah Ten bahkan ketika nonton dengan kedua anaknya, ia akan kepo dengan orang yang ada di sebelah Hendery ataupun Haechan.

Salah satu alasan lain lagi mengapa Ten memilih tempat duduk di pojok. Agar Johnny duduk dipojok, tetapi ia lupa sebelah dirinya tetap akan ada orang yang duduk di sana.

Biasanya akan ada Hendery yang menjawab, “Daddy kepoan banget urusan orang jugaaa.”

Tetapi karena apa yang diucap Johnny barusan membuat Ten ikut penasaran juga.

“Kamu inget ngga sih Yang, dulu kita pernah berantem keluar dari bioskop,” Ucap Johnny tiba-tiba membuat Ten tertawa lebar mengingat kejadian tersebut.

Astaga, kesalahpahaman membuat Ten menjadi orang paling bodoh seantero dunia.

“Inget aku, gara-gara kamu lama jemput aku katanya ada urusan di kantor, terus aku malah nemu lipstick cewe di dashboard mobil kamu ditambah parfum cewe juga.”

Johnny tertawa, “Ya aku waktu dulu mana tau Yang ada orang seobsesi itu sama aku. Dan aku baru sadar juga kamu seteliti itu dan aku seceroboh itu. Ditambah waktu itu aku nggak ada bukti apa apa juga.”

Ten tersenyum, ia jadi ingat muka panik Johnny waktu dulu ia tuduh selingkuh pada Johnny sama sekali tidak pernah kepikiran untuk melakukan hal tersebut.

Ten tahu, banyak sekali yang mengincar Johnny sejak dulu. Sedangkan Johnny orangnya tidak peduli tentang hal tersebut, yang ia pedulikan hanya Ten dan Ten.

Banyak sekali orang yang ingin menjatuhkan hubungan keduanya tetapi lagi lagi keduanya bisa melewati hal tersebut.

Akhirnya setelah bergosip dan sedikit nostalgia, keduanya menghabiskan banyak makanan yang sudah diambil tadi.

“Jo, liat twitter deh. Si dede ngeposting foto ada Marknya terus captionnya begitu hahaha. Gemes banget.” Ten memperlihatkan unggahan yang diunggah oleh Haechan pada Johnny membuat Johnny menyeletuk, “Kamu banget. Cara bucinnya mirip.”

Ten tertawa ketika dirinya melihat unggahan yang diunggah oleh Hendery tepat diatas unggahan milik Haechan, “Nah ini, kamu banget. Jahil!”

Johnny melihat unggahan yang diunggah oleh Hendery dari ponsel milik Ten lalu tertawa, anak sulungnya ini senang sekali meledeki adiknya.

“Si abang ya, sehari ngga godain dedenya gatel gatel aku rasa.” Ucap Ten lalu mengunci ponselnya dan ia masukkan ke dalam tas.

Johnny mengangguk setuju, “Tapi begitu juga dia yang paling sayang sama dede.”

Ten tersenyum, benar juga apa yang diucapkan Johnny.

“Udah selesai? Sekarang kita mau ke daerah deket apart?” Tanya Johnny pada Ten membuat Teb mengangguk sambil merapihkan beberapa bekas makan agar pelayan lebih mudah membersihkan meja yang sudah ia gunakan dan lebih mempercepat agar pelanggan lainnya bisa menggunakan meja tersebut.

“Boleh! Ih Jo, ke cafe itu dong apa namanya deket kampus aku yang jadi tempat wajib kita duluu.”

“Ohhh, cafe yooraco itu?”

“Iyaa! Sekalian kesitu nanti, lewat kan? Tempat kencan wajib kita dulu masa ngga kesana sih.”

Johnny mengangguk lalu berdiri dari tempatnya, “Lewat kok, kalaupun nggak lewat nanti aku lewatin. Yaudah yuk ke kasir kita bayar langsung pergi, keburu malem juga nanti ngga kesampaian datengin beberapa tempat dulu.”

Ten ikut berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan di sebelah Johnny tak lupa ia lingkarkan tangannya di pinggang Johnny.

Selama di jalan, tangan milik Johnny tak berhenti memegang hingga mengelus tangan milik Ten sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir.

Satu hal lainnya yang Ten sukai adalah Johnny yang menyetir dengan tangan satu sedangkan tangan lainnya tak lepas memegang tangannya layaknya Ten akan menghilang sepersekian detik.

“Di sini dari dulu macetnya ngga ilang ya,” Ucap Ten tiba-tiba karena mobil Johnny berhenti lagi karena macet.

Johnny tertawa, “Makanya kita beli rumah ngga deket daerah apart dulu. Macet banget Yang. Kasian abang sama dede nanti kalau kemana-mana kejebak macet juga. Untung Jaehyun rekomendasiin aku sama Yuta ke tempat daerah dia.”

Tadinya Johnny akan kembali mampir ketempat dimana dirinya berjuang jam dua malam alias tukang sate dekat apartemennya itu, tetapi terlalu macet jalan menuju tempat tersebut membuat Johnny dan Ten akhirnya langsung memilih menuju cafe tempat wajib keduanya dahulu yang tidak jauh dari kampus Ten.

Dulu, ketika Johnny menjemput Ten, Johnny akan selalu mengajak Ten ke cafe tersebut.

Dipikir, banyak sekali cerita di cafe ini. Bisa dibilang, cafe ini menjadi saksi bisu ketika hubungan keduanya sedang terancam.

Ketika Johnny dan Ten masuk ke dalam cafe, suasana jaman dulu ketika keduanya masih pacaran seperti menyapa.

Sangat nostalgia.

Setelah memesan minuman, Ten akan mencari tempat untuk keduanya duduk dan tak lain tak bukan berada di pojokan sedangkan Johnny menunggu pesanan keduanya selesai dibuatkan.

Tak lama menunggu, akhirnya Johnny datang sambil membawa pesanan keduanya. Hanya memesan minuman dan makanan ringan untuk keduanya.

Desain interior cafe ini memang sudah banyak sekali perombakan karena sudah berapa puluh tahun lalu jika dipikir lagi. Tetapi rasanya tetap sama seperti dulu.

“Dulu waktu kita sempet berantem hebat itu, di cafe ini bukan sih?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Johnny terkekeh dan mengangguk.

Jika berantem di bioskop yang dibicarakan tadi hanya karena masalah sepele, beda dengan masalah yang membuat keduanya berantem di cafe ini.

Memang hubungan keduanya tidak berjalan mulus sejak awal sampai sekarang, hubungan keduanya benar benar naik turun kalau dipikir.

Bahkan berantem hebat yang dimaksud di cafe ini membuat keduanya sempat mengakhiri hubungan.

Ten tiba-tiba saja berfikir bagaimana kalau saat itu Johnny tidak mendatangi dirinya dan meminta maaf kemudian mengajak dirinya untuk deep talk ketika kepalanya sudah sama sama dingin.

Mungkin saat ini tidak ada Hendery dan Haechan. Tidak akan ada keluarga kecil nan hangat yang dibesarkan oleh Johnny dan Ten.

Hanya akan ada Johnny dan Ten, dengan hidupnya masing-masing.

Memang jika dipikir lagi, masalah tersebut hanyalah masalah sepele, tetapi saat itu keduanya sedang sama sama lelah dan berkepala panas. Satu masalah bisa jadi besar dan pembahasannya semakin melebar.

Kala itu Ten duluan lah yang memulai dan Johnny yang semakin marah dan memperlebar masalah. Bahkan sampai membuat Johnny meninggalkan Ten sendirian di cafe ini.

Beberapa minggu keduanya tidak berhubungan sama sekali dan di hari kedelapan Johnny tiba-tiba saja mendatangi Ten.

Ingatan tersebut muncul membuat Ten tiba-tiba tersenyum mengingat bagaimana wajah frustasi Johnny yang sebenarnya dirinya juga sudah tidak berbentuk. Keduanya sama sama sudah kehilangan arah, entah harus bagaimana.

Tetapi Johnny kembali, kembali ke dalam pelukan Ten, kembali merangkul Ten, kembali mengajak Ten untuk menyelesaikan masalah yang ada di antara keduanya.

“Makasih ya Jo,” Ucap Ten tiba-tiba membuat Johnny mengernyitkan dahinya bingung.

“Kalau aja waktu dulu kamu nggak berinisiatif datengin aku, kita nggak akan begini. Nggak akan ada Hendery, nggak akan ada Haechan.”

Johnny mengusap tangan milik Ten lalu menggenggam tangan tersebut, “Aku dulu sempet putus asa, aku mikir puter otak. Do i deserve you? Do we deserve more chance? Tapi setelah aku pikir lagi, waktu itu kamu lagi capek begitu juga dengan aku. Masalah kita berhenti tanpa ada penyelesaian apa apa. Putusnya kita waktu itu dipikir terlalu menggantung aku, aku kepikiran terus terusan. Dan sampailah aku dititik dimana aku mikir, kita bisa selesaikan masalah kita. Kita bisa ngobrol dan introspeksi kesalahan masing masing, kita butuh komunikasi satu sama lain. Kita bisa dapet kesempatan lagi. Hubungan kita belum usai.”

“Aku ngga sama sekali nyesel memilih untuk datengin kamu jam satu pagi waktu itu hujan hujan. Apa yang udah aku lakuin, hasil yang aku dapet seperti ini aku nggak nyesel sama sekali. Aku ngga nyesel udah dateng lagi ke kamu, aku ngga nyesel udah ajak kamu balik ke dalam pelukan aku waktu itu. Aku ngga akan pernah nyesel sama sekali di seumur hidup aku udah milih kamu, Ten.”

Mendengar ucapan Johnny membuat Ten tersenyum, Ten menyayangi Johnny lebih dari apapun di dunia ini.

“Terima kasih juga udah mau menerima ajakan aku waktu dulu, karena kalau dulu dari kamu sendiri ngga menanggapi ajakan aku, nggak akan ada kita di sini.” Lanjut Johnny, karena rasanya bukan hanya dirinya yang berjuang untuk mengembalikan hubungan keduanya, tetapi juga Ten.

Ten terkekeh, kencan keduanya kali ini rasanya seperti nostalgia masa masa dulu.

Cukup lama Johnny dan Ten menghabiskan waktu di cafe ini, dari keduanya yang bersedih sedih mengingat masa kelam keduanya di cafe ini sampai Ten tertawa hingga mengeluarkan air matanya akibat lelucon Johnny yang tidak ada habisnya itu.

Rasanya waktu waktu seperti ini tidak ingin cepat selesai.

Bahkan disaat seperti ini membuat Johnny dan Ten lupa waktu, lupa ponsel keduanya, dan lupa bahwa masih ada dua anaknya yang sedang menunggu di depan rumah karena sudah pulang dari kegiatannya dan tidak bawa kunci rumah ditambah Johnny dan Ten tidak menaruh kuncinya di pot seperti yang biasa dilakukan.


@roseschies

kenangan yang tercampur

Setelah beberapa jam perjalanan yang membuat pantat terasa pegal, akhirnya mobil milik Jaehyun terparkir rapih di tempat parkir yang disediakan oleh pihak Panti Asuhan.

Sebelumnya, tentu Jaehyun dan Taeyong sudah izin terlebih dahulu dengan pihak Panti Asuhan. Jaehyun dan Taeyong juga tidak kosong tangan datang ke sana, meskipun sebelumnya mereka sudah melakukan kegiatan yang tentu di dalamnya terdapat acara membagikan kebutuhan primer untuk Panti Asuhan, namun rasanya sangat tidak etis jika keduanya datang kembali membawa rombongan dengan tangan kosong.

Tidak banyak tapi menurut Jaehyun dan Taeyong barang yang mereka bawa sudah lebih dari cukup mengingat keduanya juga tahu ada berapa anak anak yang ada di Panti Asuhan saat ini.

Tentu, Johnny dan Yuta ikut berkontribusi lagi kali ini, bedanya mereka menggunakan uang pribadi bukan uang perusahaan seperti yang lalu.

Jaehyun dan Taeyong jalan terlebih dahulu, disusul dengan Mark dan Jeno lalu Lucas, Hendery, dan Haechan yang mengikut dibelakang.

Mark berhenti sebentar lalu mengeluarkan ponselnya untuk memotret bagian Panti Asuhan yang terlihat cantik juga adem. Mark tersenyum, setidaknya anak anak Panti Asuhan ini dirawat dengan benar benar jika melihat dari luar Panti Asuhannya saja sudah terlihat bersih.

Pihak Panti Asuhan mendatangi Jaehyun dan Taeyong kemudian mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam.

“Mark, sini sayang.” Panggil Taeyong lalu menarik Mark ke dalam rangkulannya sedangkan Jeno sudah di dalam rangkulan Jaehyun dan yang lain masih mengikut di belakang sambil melihat kanan kiri.

“Ini Minhyung, ya?” Tanya salah satu dari pihak Panti Asuhan yang seperti sudah bekerja sangat lama di sini lalu tersenyum ketika melihat Mark.

Mark tersenyum mendengar nama kecilnya dipanggil, rasanya asing tapi tidak seasing itu, hatinya terasa menghangat seketika mengingat masa kecilnya dulu yang suka dipanggil Minhyung.

Taeyong mengelus pelan pucuk kepala Mark, “Beliau salah satu pengurus Panti Asuhan yang masih di sini, salah satu yang masih bertahan dari sebelum Mark di sini.”

Mark mengangguk, ingatan kabur yang tiba-tiba datang secara abstrak ke dalam bayangannya membuat Mark kembali tersenyum.

“Dulu, Minhyung suka lari lari di taman belakang. Mungkin sekarang udah agak beda sih, tapi ada beberapa yang nggak di renovasi, mau liat liat?” Ucap sang pengurus sambil menunjuk taman belakang dan dijawab anggukan antusias dari Mark.

Berbeda dengan Mark yang terlihat antusias, Jeno terlihat sedikit takut juga murung, matanya hanya melihat kesana kemari.

“Haalooo akak gedeeee!!!” Ucap seorang anak kecil yang tiba-tiba memeluk kaki Lucas membuat Hendery tertawa karena Lucas dibilang gede. Ya tidak salah sih, memang Lucas seperti titan, sangat besar bahkan dibanding dirinya dan orang orang yang ada di sini.

Sang pengurus tertawa lalu menggendong anak kecil tersebut yang seperti terlihat penasaran dengan Lucas.

Lucas menyapa anak kecil tersebut, “Haloo, nama kamu siapa?”

“Aku Unaaa, Kakak gede siapa namanyaa? Ih, kakak yang sebelahnya juga gantengg. Haloo kakak gantengg hehehehe. Kakak yang disebelahnya lucuu, Una mau main sama Kakak yang ituu jugaaa.” Anak kecil yang memperkenalkan diri sebagai Una itu menunjuk Hendery sebagai kakak ganteng dan Haechan sebagai kakak lucu mengundang gelak tawa dari Jaehyun dan Taeyong.

“Hihihi Una senang banyak kakak gede dan ganteng ganteengg, Una mau main ya Bibii, bolehh?” Izin Una pada pengurus Panti Asuhan yang sedang menggendong Una dan diberi jawaban anggukan oleh pengurus tersebut.

“Boleh Una. Nanti Una boleh main, ajak temen temen Una yaa? Kita main bareng bareng nanti sama kakak kakak dan om omnya, okay?” Ucap si pengurus Panti Asuhan membuat Una menurut dan menganggukkan kepalanya lucu.

Hendery mendekatkan tubuhnya ke arah Haechan lalu membisikkan sesuatu tepat di kuping Haechan, “Mirip lu de waktu kecil.”

Haechan mengernyitkan dahinya bingung.

“Bawel.” lanjut Hendery lagi membuat Hendery dihadiahi sebuah tinju di lengannya dari Haechan.


Hendery, Haechan, Mark, dan Lucas sudah membaurkan diri dengan anak anak Panti Asuhan di taman belakang. Mereka bermain banyak permainan bersama sampai mengundang gelak tawa dari masing masing individu.

Lucas dan Hendery yang terus menerus mengeluarkan lelucon yang menurut anak kecil lucu hingga mereka tertawa terbahak-bahak sedangkan Mark dan Haechan bermain perosotan hingga ayunan, tentu anak anak yang bermain, Mark dan Haechan yang membantu anak anak tersebut.

Sedangkan Jeno sedang terduduk diam di kursi taman, beberapa kali anak Panti Asuhan mendekat kearah Jeno dengan memanggil dirinya dengan sebutan 'Kakak Ganteng Tiga', Jeno hanya tersenyum ramah lalu mencubit pipi anak anak tersebut dan bilang bahwa dirinya ingin duduk sebentar.

Taeyong yang baru saja selesai berbincang dengan pihak panti mendekatkan diri dengan Jeno lalu duduk di sebelah Jeno sedangkan Jaehyun mendekat ke arah Mark dan ikut bermain di sana.

“Kok ngga main Dek?” Tanya Taeyong sambil melihat Mark yang sedang tertawa melihat salah satu anak nyungsep sewaktu main perosotan membuat ekspresi panik tercetak di wajah Haechan yang sedang membantu di bagian perosotan.

Jeno diam dan hanya memandangi wajah ceria Kakaknya itu.

“Jeno takut.”

Taeyong menunggu anaknya itu melanjutkan kalimatnya sambil tetap melihat kearah Mark yang sekarang sedang membantu Haechan untuk membersihkan rumput yang menyisa di celana anak yang tadi jatuh itu.

“Takut, Kakak kayak udah nyaman di sini. Gimana kalau Kakak nggak mau ikut balik lagi Pi?”

Taeyong terkekeh, gemas sekali ia melihat Jeno yang biasa terlihat cuek tetapi kali ini Jeno terlihat khawatir dan takut dengan sang Kakak. Persis seperti waktu kejadian Mark kala itu.

“Dek kamu bacaan novelnya jangan dibawa sampai kesini Dek, yaampun Hahahaha.”

Taeyong melanjutkan pembicaraannya menjadi agak serius, “Papi tahu mungkin kamu bosen denger ini, tapi inget Dek, Kakak itu udah jadi Kakak satu satunya Adek. Adek itu satu satunya Adeknya Kakak. Nama Kak Mark bukan lagi Minhyung, tapi udah jadi Jung Mark, Kakaknya Jeno. Papi paham, Papi sama takutnya sama Adek, tapi Papi lebih tahu Kakak. Senyamannya Kakak di sini, Kakak lebih nyaman sama keluarga kita, Dek. Kakak nyaman sama Keluarga Jung. Kakak nggak akan ninggalin dan nggak akan pernah mau ninggalin Ayah, Papi, juga Jeno sebagai Adek satu-satunya Kakak.”

Jeno tersenyum mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh Taeyong.

“Main gih. Kamu murung gitu yang ada nanti Kakak kamu mikir kamu ngga nyaman di sini dan nggak mau kalau Kakak datang ke sini.” Ucap Taeyong sambil mengelus pucuk kepala Jeno membuat Jeno mengangguk lalu menarik tangan Taeyong.

“Ayo, Papi main jugaa!”

Taeyong terkekeh, “Iya iyaa dek, ini Papi ikutaann.”

Mark yang sedaritadi diam diam melirik kearah Jeno dan Papinya langsung tersenyum lebar membuat Haechan yang berada di sebelahnya dengan tangan yang sedang menggandeng salah satu anak kecil langsung membuka mulutnya, “Kenapa, Kak?”

Mark menggelengkan kepalanya, “Gapapa chan.”

“Kakak seneng?”

Mark mengangguk, “Seneng. Makasih ya chan udah nemenin Kakak di sini.”

Haechan tersenyum lalu mengangguk, “Aku ikut seneng kalau Kakak seneng di sini. Makasih juga udah ngajak aku buat main di tempat yang dulu jadi tempat main Kakak waktu kecil. Aku jadi ngerasa lebih kenal deket sama sosok 'Minhyung' kecil, Hehehehe.”

Mark terkekeh, malu karena nama kecilnya keluar dari mulut Haechan.

“DOOORRR!! Berduaan ajeee lo berdua, tuh liat bocilnya udah narik narik tangan lo deee. Dunia ni bukan cuma ada lo berduaaaaaa.” Hendery tiba-tiba menyempilkan diri di antara Haechan dan Mark, menganggu kegiatan mereka berdua membuat Haechan mutar bola matanya malas.

“BABANG BISA GAK, GAK USAH RUSUH??????” Teriakan Haechan membuat Mark tertawa sedangkan Hendery kembali meledek Haechan lalu mengajak beberapa anak kecil untuk kejar kejaran dengan dirinya sebagai seseorang yang mengejar. Tentu Lucas menjadi provokator membuat anak anak lari terbirit birit ketakutan dikejar oleh Hendery.


@roseschies

A Johnten Oneshot

700+words


Hari ini, kamar milik Ten menjadi tempat untuk Johnny dan Ten menghabiskan waktu berdua. Hanya ditemani dengan sebuah kipas angin juga teh hangat yang baru saja Johnny buatkan untuk keduanya. Ten menidurkan kepalanya tepat di paha milik Johnny sedangkan Johnny mendudukkan dirinya di lantai yang sudah beralaskan karpet halus milik Ten.

Dengan pelan, Johnny mengelus rambut milik Ten yang terasa lebih halus dibanding dengan rambutnya, juga wangi rambut milik Ten menyeruak menyapa indera penciuman milik Johnny. Manis.

“Jo, kamu bahagia nggak?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Johnny memberhentikan sejenak elusan tangannya di rambut milik Ten.

Johnny tersenyum kecil kemudian mengangguk, “Bahagia,”

Ten menatap kedua bola mata milik Johnny yang juga sedang menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat teduh, “Bahagia itu, rasanya gimana Jo?”

“Rasa bahagia itu susah buat didefinisiin. Tapi aku tau, aku bahagia kalau ada kamu di samping aku. Aku bahagia kalau kamu ada di sini sama aku.” Jawab Johnny seadanya, karena sebenarnya Johnny juga tidak bisa menjelaskan rasa bahagia. Tetapi Johnny tau, arti bahagia baginya adalah di mana ketika Johnny berada di sebelah Ten dan Ten berada di sebelah dirinya.

“Kenapa kamu tau kalau kamu bahagia? Kan kamu juga nggak tau bahagia itu kayak gimana, sedih itu kayak gimana?”

Johnny tersenyum mendengar ucapan Ten kemudian Johnny memajukan tubuhnya untuk mencium kening milik Ten membuat Ten merasakan sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya, jantungnya sedikit berpacu lebih cepat dari sebelumnya yang terasa sedikit lebih tenang.

“Gimana?” Tanya Johnny.

Ten terdiam, kedua matanya berkedip seperti anak kecil yang bingung terhadap sesuatu.

“Hm? Jantungku nggak karuan?” Ucap Ten terlampau polos dengan mata yang masih berkedip sambil menatap wajah Johnny yang sedang terkekeh gemas.

“Gemas banget sih kamu.” Ucap Johnny kemudian mencubit pelan hidung milik Ten.

“Terus kalau itu kenapa Jo? Aku nggak sakit jantung kan? Aku baik baik aja kan?” Mendengar ucapan yang dilontarkan Ten membuat Johnny semakin tertawa, lelaki itu sangat gemas melihat kekasihnya yang sedang bingung dengan perasaannya sendiri.

“Itu kamu namanya lagi salah tingkah aku cium. Kamu suka dan senang aku cium keningnya, sayang.” Ucap Johnny sambil mengelus kembali rambut halus milik Ten sedangkan Ten hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan mencatat hal tersebut di dalam otaknya.

Jadi, dia juga selama ini bahagia ya kalau di samping Johnny? Karena, jantungnya selalu nggak karuan ketika dirinya berada di sebelah lelaki tinggi ini.

Kemudian suasana di sekitar keduanya kembali hening, hanya ada suara kipas angin yang mengisi indera pendengaran keduanya.

“Jo,”

“Iya, sayang?”

“Aku boleh nangis ngga?”

Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Ten membuat Johnny terdiam kemudian kembali dengan kegiatan mengelus rambut halus milik Ten.

“Ya boleh dong sayang. Semua manusia di muka bumi ini, boleh nangis. Kamu pun kalau ngerasa sedih, nangis juga engga apa-apa.”

Ten menganggukkan kepalanya, “Oohh.. Sedih itu, gimana?”

Johnny sedih bingung harus jawab bagaimana, namun Johnny kembali ingat bagaimana reaksi Ten ketika ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, lelaki itu tidak menangis juga tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Tetapi Johnny tau, mata tidak pernah bisa bohong. Ten merasa kehilangan, sangat kehilangan. Hanya saja, lelaki itu tidak tau rasa itu rasa apa dan bagaimana cara dirinya mengeluarkan perasaan yang tidak enak di dalam dirinya itu. Ten, tidak mengerti juga tidak ada yang memberitahu pada dirinya.

“Aku pernah ngerasain rasa nggak enak,” Ten tiba-tiba mengeluarkan suara lagi ditengah-tengah sunyi jeda pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh dirinya.

“Itu ketika Johnny pergi dua hari tanpa kabar. Rasanya gelisah? Tapi aku nggak tau itu gelisah atau bukan, tapi sekujur tubuh aku nggak enak rasanya. Jadi aku cuma diem? Aku bengong, aku nggak tau harus apa. Itu, sedih bukan? Aku waktu itu mau nangis, tapi aku nggak bisa nangis. Aku takut, aku cowok, kenapa aku nangis? Aku kuat, kan ya?”

Johnny tak berhenti mengelus rambut halus milik Ten, “Sayang, nangis bukan berarti lemah, nahan nangis juga bukan berarti kamu kuat. Biarkan semua yang kamu rasain keluar dari diri kamu sendiri. Kamu berhak nangis, kamu nggak lemah. Kamu kuat karena diri kamu sendiri itu memang kuat bukan berakaku karena kamu nggak nangis. Bukan sayang. Kamu berhak ngeluarin semua emosi yang ada di dalam diri kamu sendiri. Orang-orang nggak tau apa yang kamu rasain, tapi kamu tau, kamu lebih tau tentang diri kamu sendiri, tentang apa yang kamu rasain. Bahagia, sedih, marah, semuanya, kamu lebih paham dan orang lain nggak tau tentang hal itu, nggak ada alasan buat mereka bisa nge-judge kamu karena kamu lebih tau tentang itu.”

Ketika Ten akhirnya memahami sebuah rasa dan emosi yang ada di dalam dirinya, tanpa Ten ketahui malam itu menjadi malam terakhir keduanya bercengkrama, juga menjadi malam terakhir Ten menidurkan kepalanya di paha milik Johnny. Sebab, keesokan harinya, Johnny memilih pergi meninggalkan semua, meninggalkan Ten.

“Johnny, ini rasanya sedih, ya? Johnny, aku nangis, engga apa-apa kan? Johnny, aku sayang sama kamu. Aku, harus apa, Johnny?”


@roseschies

A Johnten Oneshot

1,5k+ words


Suara ketukan tiba-tiba terdengar nyaring memasuki indera pendengaran Ten ketika lelaki itu baru saja menarik selimutnya sampai menutupi setengah badannya.

Ten sedikit menggerutu sebal karena kegiatan menikmati waktu bebasnya itu sedikit terganggu akibat ketukan tersebut tetapi Ten tetap membawa kedua kakinya menuju pintu untuk segera membuka pintu tersebut.

Ketika Ten membuka pintunya ia bisa melihat Managernya sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah bungkusan berwarna cokelat.

“Kenapa Kak? Tumben sekali mengetuk pintu malam-malam begini.” Ucap Ten, bertanya pada Managernya itu.

Lelaki yang selalu menemani dan mengurus kegiatan Ten selama di sini kemudian memberikan Ten bungkusan berwarna cokelat yang sedari tadi berada pada tangan sebelah kanannya, “Ini Tennie, ada titipan.”

Ten mengernyitkan dahinya kemudian mengambil bungkusan tersebut lalu mengintip sedikit ke dalam bungkusan tersebut, “Titipan? Titipan dari siapa Kak?”

“Dari, seseorang?”

“Ya aku juga tau Kak, bagaimana siihh Kaakk.” Omel Ten membuat sang Manager terkekeh.

“Maaf dong Tennie, pasti aku menganggu waktumu ya?”

Ten mengangguk cepat menjawab pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui jawabannya itu, “Iyaa! Tapi kalau ini di dalamnya mengecewakanku, aku bakal sangat marah padamu.”

Sang Manager tertawa sampai menutup mulutnya dengan tangannya, “Ampun dong Tennie! Yasudah, aku yakin kamu nggak akan kecewa dengan isinya kok.”

Belum juga Ten sempat menjawab ucapan dari sang Manager, lelaki tersebut kembali membuka mulutnya, “Oh! Selamat ulang tahun, Tennie!”

Ten sedikit terkejut lalu melihat kearah Managernya yang saat ini sedang tersenyum kecil, “Ingat dengan ulang tahunku?!”

Sang Manager tertawa hampir saja sampai terbahak karena mendengar ucapan yang terlampau polos keluar dari mulut Ten, “ Ya ingat dong?? Jadwalmu saja aku yang urus, apalagi tentang ulang tahunmu, aku pasti ingat! Jangan bilang kamu lupa tentang ulang tahunmu hari ini??”

“Nggak laahh, mana mungkin aku lupa. Aku pikir tidak ada yang ingat.”

Sang Manager menggelengkan kepalanya, “Mana mungkin member lain sampai lupa ulang tahun kamu, Tennie. Mereka pasti juga ingat kalau hari ini ulang tahunmu! Hanya saja mereka memilih untuk mengucapkannya padamu nanti saja.”

Ten mengganggukkan kepalanya, “Betul juga, mana mungkin mereka semua lupa. Kalau sampai member lain lupa kalau hari ini ulang tahunku, lihat saja aku akan marah besar.”

Sang Manager kembali menggelengkan kepalanya, “Yasudah, selamat tidur Tennie, maaf menganggumu.”

Ten mengangguk dan tersenyum kearah sang manager yang hendak menjauh dari pintu kamar Ten, “Terima kasih Kak! Selamat tidur juga!”

Ten kemudian menutup pintu kamarnya lalu menuju meja yang ada di dekat lemari bajunya kemudian meletakkan bungkusan tersebut di atas meja dan ia duduk di kursi yang ada di sana.

“Dari siapa sih? Misterius banget.” Monolog Ten lalu membuka dengan pelan bungkusan tersebut.

Sekarang ia bisa lihat ke dalam bungkusan tersebut, di dalamnya terdapat satu kotak lumayan besar dan satu surat terselip di sana.

Ten mengeluarkan kedua barang tersebut lalu tak sengaja ia lihat tulisan 'Pertama, tolong buka ini.' tertempel di surat tersebut membuat Ten akhirnya sedikit menjauhkan kotak dan bungkusan tersebut kearah pinggir meja kemudian Ten dengan pelan melepas rekatan surat tersebut.

Di dalamnya tentu ada sebuah kertas dengan oretan tulisan tangan yang seharusnya Ten sangat ingat tulisan tersebut tulisan siapa.

Tulisan Johnny.

Dengan jantung yang semakin berdegup kencang, Ten perlahan membuka lipatan kertas tersebut dan meneguk ludahnya sendiri, ia gugup bahkan hanya dengan menatap oretan tulisan tangan Johnny di sana.

Tulisan tersebut tidak panjang namun tidak pendek juga.

Dengan hati yang sudah ia siapkan sejak tadi, Ten mulai membaca kalimat pertama yang tertulis di atas kertas tersebut.

Selamat ulang tahun, Tennie.

Maaf, aku menganggumu ya tengah malam malah menitipkan sebuah hadiah dan juga ucapan melalui managermu.

Sebenarnya aku cukup bingung mau memberikan kamu hadiah ulang tahun apa tahun ini, tetapi aku baru saja ingat, awal bulan ini aku habis membuat sebuah konten untuk JCC bersama dengan Jaehyun, seharusnya konten itu sudah keluar sekarang. Iya, konten membuat jas. jadi kupikir, aku juga ingin membuatkanmu Jas khusus meskipun aku sempat bingung mau memberimu warna apa dan jenisnya seperti apa. Tetapi aku memberikan fotomu lalu kuserahkan semuanya kepada mereka bahkan mereka dengan cepat mengetahui ukuran badanmu. Ku harap, jas ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil untuk badanmu ya.

Mungkin hadiah ini bisa dibilang sebuah surprise untukmu?? Anggap saja begitu karena aku tanpa aba-aba langsung menitipkan hadiah dan juga surat ini langsung ke managermu. Hahaha, semoga kamu suka, ya?.

Bagaimana di sana? Semua baik-baik saja kan? Apa pekerjaanmu membuatmu lelah? Tennie, tolong untuk lebih peduli dengan kesehatan tubuhmu ya? Kami semua di sini khawatir denganmu juga Winwin di sana. Meskipun jauh, tetapi semua member yang ada di sini, selalu mengingatmu dan Winwin, kok.

Aku, aku juga selalu menunggu kepulanganmu.

Aku bingung harus nulis apa lagi ya Tennie...

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Tennie.

JSH.

“Kak, kamu benar-benar menunggu kepulanganku?” Monolog Ten lalu tersenyum kecil dengan tangan yang tidak berhenti mengelus kertas ucapan dari Johnny.

Bahkan, wangi kertas tersebut masih tertempel wangi yang sama dengan Johnny.

Meskipun sudah beberapa bulan bahkan hampir tahun keduanya tidak bertemu, Ten masih sangat ingat wangi khas Johnny yang sangat maskulin.

Ten kemudian mengambil kotak yang seharusnya berisi jas pemberian Johnny itu lalu membuka kotak tersebut.

Di dalamnya sudah terlipat dengan rapih jas yang Johnny maksud.

Ten mengeluarkan jas tersebut lalu ia membuka lebar jas tersebut kemudian ia tersenyum lagi, “Bagus. Suka. Suka banget, ini bagus banget.”

Dengan jas yang masih ada pada genggamannya, Ten berdiri untuk mengambil iPad miliknya yang terletak di kasur.

Ten duduk di atas kasurnya lalu menyenderkan tubuhnya di kepala kasur lalu mencari kontak bernama Johnny di kakaotalk miliknya.

Perlu beberapa menit ia menimang untuk melakukan video call bersama Johnny, tetapi akhirnya Ten memencet tanda video call pada kontak Johnny.

Toh, memang seharusnya ia menelpon seseorang yang sudah dengan baik hati mengirimkannya hadiah bahkan tengah malam seperti ini sampai harus menyuruh managernya memberikan padanya tepat waktu, kan?

Tanpa hitungan menit, layar iPad milik Ten suddah terpampang wajah Johnny dengan cahaya yang redup di dalam kamarnya, Johnny terlihat sedang menyender seperti Ten.

Tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu, sunyi, sangat sunyi, keduanya sama-sama diam.

Demi memecah kesunyian diantara keduanya, Johnny berdeham lalu membuka mulutnya, mengeluarkan beberapa patah kalimat, “Sudah sampai titipan dari aku?”

Ten mengangguk kecil, “Eum.. Udah Kak. Makasih ya, ngerepotin banget...”

Johnny tersenyum, setidaknya titipannya benar-benar diberikan pada Ten tepat waktu pergantian hari di sana, “No need, Tennie, itu memang sudah aku niatkan dari lama. Maaf ya cuma bisa kasih itu, aku sempat bingung mau kasih apa tapi semoga kamu suka sama jasnya.”

“Kak, aku suka, suka banget.” Ucap Ten senang membuat Johnny yang melihatnya ikut tersenyum gemas, Ten memang tidak pernah berubah, selalu senang jika diberi hadiah.

“Kak, maaf ya...”

“Kenapa minta maaf?”

“Aku bahkan nggak ngucapin sewaktu kamu ulang tahun kemarin. Jangankan ucapan, kadopun aku nggak ngasih.”

Mendengar ucapan yang dilontarkan Ten dengan mata yang terlihat sedih, Johnny tersenyum, tersenyum sangat manis kearah Ten yang ada di layar sana, “Gapapa Tennie, aku ngasih kado ke kamu bukan buat kamu ngerasa bersalah gini. Enjoy your bday time, Tennie.”

“Terima kasih, Kak.”

Setelah ucapan terima kasih Ten yang kedua kali, Johnny hanya mengangguk sebagai jawaban sama-sama dan keduanya kembali diselimuti kesunyian.

“Kak, i miss you.

I miss you too, Tennie.”

No, i mean it. I really miss you, a lot, Kak.

Johnny tersenyum miris sedangkan Ten pundaknya semakin melorot, kesunyian sudah berganti dengan kesedihan yang menyelimuti diantara keduanya. Suasana ini, keduanya tidak inginkan.

“Tennie, sudah ya? Kita berdua kan sudah sepakat nggak akan bahas ini lagi. Kamu bahagia dengan jalan kamu, pun aku bahagia dengan jalanku. Maaf.”

Ten menggeleng, tangannya sedikit pegal memegangi iPadnya sejak tadi maka dari itu ia menjadikan kedua kakinya sebagai penyanggah iPadnya, Ten diam tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya, Ten hanya memandangi Johnny dengan cahaya yang redup di kamar Johnny.

Namun ia bisa melihat kilatan mata dan senyuman kecil tercetak di wajah Johnny.

“Kamu gimana Kak?”

“Aku gimana apanya Tennie?'

“Kamu, bahagia?”

Johnny mengangguk, “Aku bahagia. Maka dari itu, kamu juga harus bahagia, ya?”

Ten mengangguk.

“Janji?'

“Iya, aku janji.”

“Yasudah, kamu tidur ini sudah malam.”

Ten kembali mengangguk, “Makasih Kak, sekali lagi. Daah.”

Good night, Tennie.”

You too, Kak.”

Setelah Ten mengakhiri sambungan telepon dirinya dengan Johnny, Ten mengunci iPadnya lalu membawa iPad miliknya juga jas dari Johnny yang sejak tadi berada dalam pelukannya itu, ia letakkan kedua barang itu di atas meja, bersebelahan dengan surat yang Johnny berikan bersamaan dengan hadiah tersebut.

Ten kembali membawa tubuhnya menuju kasur lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya sampai menutupi lehernya, ia menghadapkan tubuhnya ke arah kanan lalu perlahan menutup matanya, berniat untuk menjemput mimpi yang sudah menunggu.

Namun, bukan mimpi yang menunggu, tetapi realita yang harus ia hadapi ke depan, bahwa hubungan dirinya dengan Johnny sudah berhenti sejak beberapa bulan lalu.

Air mata miliknya perlahan menetes jatuh dari mata miliknya yang sudah tertutup sejak tadi hingga membasahi bantal miliknya.

Sedangkan Johnny setelah sambungan telepon dirinya dengan Ten berakhir, lelaki itu kemudian langsung menghela nafas berat. Johnny mengelus layar iPad miliknya kemudian bergumam, “Aku juga. Aku juga kangen. Kangen kamu, kangen kamu yang selalu ada dalam cerita harianku, kangen kamu yang selalu menceritakan kegiatanmu apapun itu tanpa terlewat, kangen kamu yang selalu bawel tentang aku yang selalu meminum kopi tanpa ingat kesehatan tubuhku, dan aku kangen, kangen semua tentang kita.”

Seperti orang aneh, namun Johnny benar-benar memeluk iPad yang tadi ia gunakan untuk melakukan video call dengan Ten seakan-akan iPad tersebut adalah sosok Ten yang sangat ia rindu mengisi kekosongan dalam pelukannya.

“Bahagia, Tennie.”


Yaudah, selamat ulang tahun Ten dan juga selamat ulang tahun Johnny meskipun ini agak telat ya bun.

@roseschies.


Tama yang sedaritadi duduk di depan ruangan dengan Sabil yang sudah tertidur di gendongannya langsung melihat Johannes yang sedang berlari-lari di ujung lorong menuju dirinya.

Wajah Johannes benar-benar jauh lebih berantakan dari sebelum ia bertemu dengan Johannes, mukanya terlihat sangat capek. Yang bisa Tama yakin adalah lelaki ini habis menyelesaikan atau mengobrol dengan Amanda semalaman kemarin.

Oh, bahkan Tama bisa menghirup bau alkohol yang biasa selalu menempel di tubuh Johannes ketika ia mabuk tiap malam.

Tanpa berbicara, Tama hanya bisa menunjuk ruangan tersebut dengan matanya membuat Johannes langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan tersebut meninggalkan Tama yang kembali duduk menunggu Mamanya keluar bersama Arga.

Tiba-tiba saja ada seorang suster mendatangi dirinya lalu memberikan sebuah surat pada Tama, “Mas, maaf ini ada titipan dari Bapak dan minta dikasih ke anaknya, Johannes.”

Tama mengangguk lalu menerima surat tersebut, “Makasih ya suster..”

Suster tersebut mengangguk dan meninggalkan Tama, Tama mengantongi surat tersebut menunggu sampai Johannes keluar.

Melihat Johannes yang masuk ke dalam ruangan, Mama dan Arga langsung keluar tanpa di suruh.

Johannes langsung lari menuju tubuh kaku milik Papanya, air matanya tentu tidak berhenti menetes melihat tubuh milik Papanya terbaring di sana dengan suara detak jantung mati yang mengisi seisi ruangan menambah kepedihan yang ada di hati milik Johannes.

Ia tertampar realita, Papanya sudah meninggal, meninggalkan dunia juga meninggalkan dirinya.

Johannes menangis sampai meraung di pinggir kasur Papanya, lelaki itu beberapa kali memegang tangan milik Papanya yang sudah dingin, matanya takut-takut menatap wajah damai milik Papa yang sudah tidak bernyawa.

“Papa bangun..”

Lagi-lagi Johannes terus mengusap tangan Papanya yang sudah dingin, ia berharap tangan milik Papanya kembali hangat, sama hangatnya dengan tangan miliknya.

“Pa, Papa bangun Pa.”

Bibir milik Johannes bergetar, air matanya sudah tidak tau berapa banyak keluar dari matanya.

Tangisan Johannes semakin kencang, begitu memilukan untuk siapapun yang mendengar tangisan tersebut.

Johannes membawa tangannya dan pelan-pelan ia memberanikan melihat wajah damai milik Papanya.

Tangannya bergetar hebat dan pelan mengelus pipi milik Papanya. “PAPA BANGUN!”

“PA JANGAN TINGGALIN ANES SENDIRI PA... PA ANES TAKUT, PAPA JANGAN TINGGALIN ANES...” Johannes terus berteriak meminta Papanya untuk bangun secepat mungkin, Johannes ingin Papanya menolak fakta bahwa dirinya sudah meninggal.

Johannes kembali menggoyangkan lengan Papanya, “Paa... Papa bangun, Pa!”

Mama tiba-tiba datang setelah mendengar beberapa teriakan dari Johannes, Mama menepuk pundak milik Johannes pelan. Tanpa kata, Mama datang hanya untuk menenangi Johannes yang sedang terpukul akibat ditinggalkan oleh Papanya.

“Papa saya ngga sakit, Papa saya sehat. Papa bangun, Pa, ayo ngomong sama Anes. Marahin Anes Pa. Pa, Anes udah ngelakuin semua yang Papa Mau. Ayo Papa bangun Pa. Pa... Pa, Anes- Papa... Bangun Pa.”

“Pa, Anes, Anes, minta maaf, Papa ayo bangun Pa.. Papa Anes mau minta maaf, Anes mau sujud di depan Papa. Pa, Anes harus apa sampai Papa maafin Anes. Anes harus apa sampai Papa bangun?!”

Tiba-tiba Johannes menjatuhkan tubuhnya di sebelah kasur dimana tubuh Papa terbaring membuat Mama langsung terkejut melihat anak itu mendudukkan dirinya di lantai.

“PAPA BANGUN ANES UDAH DUDUK DI BAWAH ANES MINTA MAAF SAMA PAPA AYO PAPA BANGUN.”

“Johan, sayang, bangun ayo. Johan bangun dulu sayang.”

Johannes menggelengkan kepalanya, “Saya mau begini sampai Papa saya bangun dan memaafkan saya.”

Mama menghela nafas, “Johannes, bangun. Papa kamu harus segera dibersihkan, ayo sayang.”

“PAPA SAYA BELUM MENINGGAL!”

“Papa saya... Papa saya beneran meninggal... Meninggalkan saya....”

Johannes menundukkan kepalanya.

Benar, benar Papanya sudah meninggal, fakta yang tidak bisa lagi dipungkiri oleh Johannes.

Tubuh dingin, alat detak jantung yang sudah menyatakan bahwa Papanya meninggal pukul dua siang.

Semua ada bukti tepat di depan mata Johannes.

Dengan dibantu oleh Mama, Johannes keluar dari ruangan tersebut lalu menemui Tama yang masih duduk di sana.

Johannes duduk di sebelah Tama, matanya sembab, hidungnya merah, rambutnya sangat berantakan, bahkan bajunya sudah sangat lusuh.

“Mama kebawah dulu ya, Sabil mau sama Mama aja kasihan kamu keberatan Nak.”

Tama menggeleng, “Nggak usah, Sabil sama Tama aja. Mama hati-hati.”

Mama mengangguk lalu turun kebawah untuk membeli minum dan roti, tentu untuk Johannes.

“Bokap lo semuanya udah diurus sama Arga.” Ucap Tama tiba-tiba membuat Johannes hanya bisa menghela nafas.

Arga, sahabatnya itu bahkan sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan dirinya, sahabatnya itu terus merawat Papanya disaat dirinya sama sekali tidak peduli dengan Papanya.

Untung Tama ingat, Tama langsung mengeluarkan surat yang tadi dititipkan oleh suster.

“Nih, dari bokap lo. Gue ngurus administrasi bokap lo dulu bareng Arga.”

Setelahnya Tama berdiri, meninggalkan Johannes sendirian di sana.

Pelan-pelan Johannes buka surat tersebut yang di dalamnya ada satu kertas yang sudah terlipat.

Johannes buka kertas tersebut dengan jantung yang terus berdebar, entah fakta apa lagi yang akan ia ketahui dari kertas ini.

Untuk anak Papa, Johannes.

Anes, gimana kabar Anes?? Papa kangen sama Anes, tapi Papa lagi nggak dibolehin keluar karena Papa sedang di rawat di rumah sakit. Maafin Papa ya nggak bilang tentang ini dan semua tentang penyakit Papa yang selama ini Papa rasakan.

Papa nggak bisa lagi tahan penyakit Papa supaya ngga kabuh dan bikin panik Anes nantinya. Papa berusaha nutupin semua tetapi Papa gagal. Penyakit Papa terus kambuh dan akhirnya Papa diantar Arga untuk periksa dan dinyatakan harus di rawat intensif di rumah sakit. Sekali lagi, maafin Papa ya Anes.

Anes, Papa nggak akan ninggalin Anes sampai kapanpun, Papa selalu ada disebelah Anes. Semua yang Papa minta, semua demi Anes. Cuma demi Anes. Maaf kalau sejak dulu rasanya Papa jarang memberi perhatian lebih untuk Anes juga Mama sampai membuat Anes berfikir kalau Papa membenci Anes.

Anes, perlu Anes ketahui kalau Papa sangat menyayangi Anes. Papa ngga pernah bohong ketika Papa bilang, Papa sayang sama Anes, anak kesayangan satu-satunya Papa.

Anes, Anes ingat nggak, tetangga kita yang dulu Anes selalu bilang lelaki itu terlalu gendut dengan pipi yang tembam dan merah. Tetangga kita yang pindah entah ke kota mana. Tetangga kita yang Anes tangisi sampai pingsan karena kepergiaannya. Tetangga kita yang Anes cari keberadaannya meskipun ketika lelaki itu ada di samping Anes, Anes hanya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat pedas dari mulut Anes tetapi ketika lelaki itu hilang, Anes menangis terus menerus mengatakan bahwa Anes merindukan sosok lelaki itu. Anes ingat kan??

Lelaki itu, ada di sebelah Anes. Selama ini lelaki itu ada di sebelah Anes. Lelaki itu adalah Adhitama, suami Anes. Suami Anes yang Papa jodohkan untuk Anes.

Maaf sekali lagi kalau Papa tidak memberitahukan Anes tentang fakta Adit, tetangga kita dan lelaki yang selalu Anes tangisi.

Anes, mungkin ini bakal jadi pesan terakhir buat Anes dari Papa karena rasanya Papa sakit sekali Anes. Maaf Papa ngga bisa nemenin Anes sampai akhir hidup Anes, tetapi ingat Papa akan terus ada di samping Anes meskipun nanti Anes nggak bisa lihat keberadaan Papa.

Anes, lanjutkan hidupmu ya Nak. Hidup bahagia dengan caramu. Papa akan selalu maafin Anes, karena Papa tau Anes punya pemikirannya sendiri. Sekarang, Anes nggak perlu kesal ketika Papa banyak menuntut Anes ini itu, karena Papa nggak bisa lagi ngomong dengan Anes. Papa hanya bisa datang lewat mimpi Anes, tiap malam.

Anes, jangan lagi menyakiti orang lain dan diri Anes sendiri ya? Banyak orang yang sayang sama Anes, termasuk Papa, Adhitama, dan juga Sabil.

Nak, Papa pergi ya?? Bahagia selalu anak Papa.

Kertas tersebut sudah basah dengan air mata Johannes yang terus menerus menetes selama ia membaca surat yang ditulis mati-matian oleh Papanya yang sedang kesakitan di rumah sakit, sedangkan dirinya sibuk mengurusi orang lain yang bahkan sudah menghancurkan dirinya sampai berkeping-keping.

Ketika Johannes selesai membaca surat tersebut dan masih menangis dengan wajah yang ia kubur di tangkupan tangannya, Tama tiba-tiba datang memberikan minuman dan roti yang sebelumnya dibelikan oleh Mamanya.

Johannes menerima minuman dan roti tersebut namun tidak langsung meminum atau memakan, ia langsung menatap Tama yang duduk di sampingnya dengan Sabil yang ada di gendongannya, masih tertidur.

“Saya putus dengan Amanda, Amanda hamil dan akan nikah dengan pacarnya, pacarnya mau bertanggung jawab.”

Tama mengangguk, “Nanti pulang, tolong tanda tangan kertas yang ada di ruang TV.”

“Kertas apa?”

“Perceraian kita, Johannes.”

Tama kemudian berdiri dan menjaga tubuh Sabil agar tidak jatuh dari gendongannya kemudian menatap mata Johannes lekat-lekat.

“Ini kan yang lo mau? Ditinggal sama Papa, temen lo Arga, gue, dan Sabil.”

“Lo selalu terus ngebela Amanda, sampai lo lupa banyak orang yang sayang sama lo di belakang itu semua. Sekarang, gimana Johannes? Lo bahkan ditinggal sama Amanda yang selalu ngebela lo.”

“Selamat, setidaknya keinginan lo benar-benar tercapai, semua.”

Johannes memegang tangan milik Tama kemudian menatap mata Tama, “Adit.... Dit...”

Tama menghela nafasnya panjang, mati-matian ia menahan tangisannya, nama itu keluar dari mulut yang memang seharusnya memanggil nama dia seperti itu dan cuma satu-satunya orang yang memanggil nama itu pada dirinya.

Tama melepas genggaman tangan Johannes kemudian meninggalkan Johannes.

Tama pergi bersama Sabil yang tertidur dalam pelukannya meninggalkan Johannes dengan setumpuk penyesalan yang ada di dalam dirinya.

Johannes, perlu kamu tau, penyesalan selalu datang, di akhir.


Regrets; selesai,

@roseschies


Setelah sampai di rumah sakit, Tama dengan Sabil yang ada di gendongannya bersama Mama langsung menuju ruangan yang sudah Arga beritahu sebelumnya.

Sesampainya di ruangan tersebut, Tama langsung mendekat ke tubuh kaku Papa Johannes yang sudah menutup matanya dan suara detak jantung yang sudah mati langsung masuk menyapa indera pendengaran Tama.

Sabil turun dari gendongan Papanya dan hanya menatap tubuh terbaring milik grandpanya itu.

Tama dan Mama menangis melihat tubuh kaku dan dingin milik Papanya Johannes. Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tetapi mereka tau, Papanya Johannes adalah orang baik penuh kasih sayang bahkan ke Tama juga Mama.

Grandpa ganteng Pi, grandpa lagi bobo ya Pi?”

Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Sabil, Tama semakin menangis, anaknya ini benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Papi kenapa nangis? grandpa kenapa? Papi, tangan grandpa dingin banget Papi...” Sabil menyentuh tangan milik grandpanya itu, terlalu dingin bersentuhan dengan tangan sabil yang hangat.

“Sabil sayang, sini cium tangan grandpa.”

Sabil menatap Tama lalu Tama mengangguk, Sabil mencium tangan grandpanya yang dingin itu lalu memegang tangan tersebut, “Grandpa? Grandpa kok ngga bangun? Biasanya kalau Sabil kelitikin telapak tangannya grandpa bangun.. Papi, grandpa hiks- grandpa kenapa?”

Sabil menangis dengan tangannya yang masih berusaha menggelitiki telapak tangan grandpanya itu, ia menangis meskipun Sabil ngga tau apa yang terjadi pada grandpanya.

Tama memeluk Sabil dan mengelus surai milik Sabil, seingat Tama, Papanya Johannes lah yang pertama memilih Sabil.

Grandpa udah ngga lagi ngerasain sakit, grandpa udah di tempat yang lebih indah sayang.”

Grandpa sakit? Grandpa bangun ayo main sama Sabil lagi...”

Sabil menggoyangkan lengan grandpanya itu membuat Mama langsung berbisik kearah Tama untuk membawa Sabil keluar.

“Kabarin Johan, sayang.”

Ohiya Johannes, Tama hampir saja lupa.

Tama membawa Sabil dengan alasan akan membelikannya minuman dan roti, akhirnya keduanya turun kebawah membeli minum dan roti kemudian kembali ke ruangan tersebut namun mereka duduk di depan ruangan.

Tama sama sekali tidak melihat keberadaan Arga di luar, sepertinya Arga ada di dalam bersama Mama.

Tama langsung mengambil ponselnya untuk mengabari Johannes, semoga anak itu sudah menyalahkan ponselnya.


@roseschies


Esok harinya Tama langsung menancapkan gas mobilnya dan menuju rumahnya dulu, kediaman Mama dimana Mama dan Sabil yang selalu menunggu kepulangan Tama di sana.

Tama memarkirkan mobilnya di parkiran rumah lalu keluar dari mobil kemudian membawa kakinya melangkah menuju pintu masuk rumah.

Mama benar-benar menunggu Tama di depan pintu masuk, melihat Mamanya yang sedang berdiri di sana, Tama langsung berlari dan memeluk Mama.

“Ma, Tama berhasil. Semua udah selesai Ma..”

Mama memeluk erat anaknya itu lalu mengelus punggung Tama dengan sayang membuat Tama menangis dipelukan Mamanya. Mama akan selalu menjadi tempat Tama mengadu dan derai air mata selalu turun ketika ia merasa hidupnya terlalu berat di dalam pelukan Mama.

“Anak Mama kuat, Nak.”

“Ma, tama sayang sama Evano Ma...”

Mama hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan mengelus surai lembut milik Tama, “Iya sayang...”

“PAPIIIIII!!!!!!!” Suara milik Sabil menggema di dalam rumah membuat Tama melepas pelukan dengan Mamanya dan menghapus jejak air matanya lalu tersenyum dengan hidung yang sembab kearah Sabil, Tama juga merentangkan tangannya, menyambut Sabil dengan pelukan.

Tama memeluk Sabil lalu menggendong anaknya itu, rasanya sudah berapa hari ia tidak bertemu dengan anaknya ini, benar-benar semakin gembil.

“Papi kenapa nangis?” Tanya Sabil melihat jejak air mata yang ternyata masih tersisa di pipi Tama membuat Tama menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

“Papi jangan nangis, cupcupcup, ini cookies buat Papi punya Sabil. Engga apa-apa Papi makan, buat Papi yaa.” Sabil lalu memberikan kue yang sedaritadi ia pegang ditangan kanannya pada Tama.

Tama yang langsung disuapi kue langsung menerima kue tersebut, “Terima kasih ya sayang, cookiesnya enak.”

Sabil tersenyum senang lalu mencium pipi Tama cepat, Tama tersenyum dan ia menangis lagi, anaknya benar-benar menggemaskan.

“Sabil, kita pulang ya?”

“Pulang? Ketemu Papa? Ke rumah?”

Tama tersenyum lagi, tidak bisa menjawab pertanyaan Sabil.

“Sabil, main dulu sendiri sebentar gapapa? Papi mau ngobrol sama grandma.”

Sabil mengangguk lalu turun dari gendongan Papinya, “Iya gapapa Papi, Sabil punya banyak temen main di kamar!”

Tama mengelus surai milik Sabil, “Gih, hati-hati ya sayang. Nanti Papi ke kamar.”

Sabil langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya yang sebelumnya itu kamar milik Tama

Mama mengajak Tama duduk di sofa kemudian kembali mengelus pundak milik Tama.

Tentu, sesuatu yang sangat ingin Tama ceritakan pada Mamanya tak lain dan tak bukan adalah tentang Amanda, Johannes, sampai fakta tentang Papanya Johannes yang sedang dirawat.

Banyak sekali reaksi yang dikeluarkan oleh Mama, tentu Mama hanya bisa membantin mendengar hal tersebut, ia tak tega dengan anaknya yang ternyata mengalami hari-hari begitu buruk jauh dari perkiraannya.

Fakta tentang Papanya Johannes yang sedang dirawat pun Mama tidak tau sama sekali, yang Mama tau, Papanya Johannes adalah pria yang sangat sehat.

Sedang menikmati obrolannya, tiba-tiba saja ponsel milik Tama berbunyi, di sana nomor tidak dikenal menelpon dirinya.

Tama langsung mengangkat panggilan tersebut sebelum semakin terdengar nyaring, “Halo dengan siapa ya?”

“Tama, ini gue, Arga.”

“Oh iya kenapa Ga?”

“Tam, ke rumah sakit ya... Bokapnya Johan meninggal.”

Tama terkejut mendengarnya bahkan jantungnya berdetak lebih cepat, “Lo jangan bercanda Arga.”

“Gue mana bercanda menyangkut nyawa orang Tama!”

“Gue kesana, sekarang.”

Tama langsung mematikan sambungan telepon tersebut lalu raut wajahnya yang terlihat panik langsung terlihat oleh Mama.

“Tama ada apa Nak?”

“Ma, Papanya Johan meninggal, barusan Arga telepon Tama.”

Mama tentu terkejut mendengar hal itu, ia bahkan baru tau fakta Papanya Johannes dirawat beberapa menit lalu.

“Kamu keatas dulu, temuin Sabil.”

“Sabil aku bawa Ma..”

Mama menghela nafasnya dan akhirnya mengangguk, menyetujui ucapan Tama.


@roseschies


Butuh waktu untuk Tama menunggu Johannes sampai ke titik lokasi yang sebelumnya Papanya Johannes sudah berikan pada Johannes sedangkan Tama diantar oleh Arga sesuai pesan dari Papa.

Tentu, Arga langsung mengumpat menunggu Tama selesai disuatu tempat tanpa ingin terlihat oleh Johannes.

Tak lama kemudian Johannes mengetuk pintu ruangan tersebut membuat Tama langsung menyahut menyuruh Johannes untuk masuk lalu menyuruh lelaki itu duduk di depannya.

Johannes benar-benar terlihat sangat berantakan, tetapi Tama tidak peduli untuk itu, ia kesini untuk menjalankan misinya, menjelaskan semua tentang Amanda melalui berkas milik Papanya Johannes, tentu berkas yang sebelumnya diberikan oleh Arga dan Nesya waktu lalu pada dirinya. Sekarang, saatnya dirinya yang menjelaskan semuanya pada Johannes.

Tanpa basa-basi, Tama langsung membuka map tersebut di depan Johannes membuat Johannes menaikkan alisnya, “Apa ini? Biodata Amanda?”

Tama mengangguk, “Lo mau tau kan, seberapa banyak yang udah gue tau tentang Amanda? Semuanya, ada di sini. Semua tanpa terlewat, Johannes.”

Johannes membuka lembaran selanjutnya, foto-foto Amanda dan pria yang ia lihat kemarin di club dan juga cafe.

“Lo udah liat kan ini pakai mata kepala lo sendiri? Iya, Amanda selingkuh di belakang lo, selama kurang lebih 2 tahun? atau satu setengah tahunan.”

Johannes masih sibuk membolak-balik melihat-lihat foto yang ada di sana, beberapa ada yang sudah ia lihat, awal-awal Papa memberikan bukti pada dirinya, dan beberapa baru Johannes liat saat ini.

“Lo ngga lupa kan ini rumah siapa?”

“Ini rumah yang saya belikan untuk Amanda tahun lalu.”

Tama mengangguk, “Lo liat ini, dengan jelas, Johannes.”

Tama menunjuk satu foto dan beberapa foto lainnya dimana di sana terlihat pria selingkuhan Amanda masuk ke dalam rumah, dan keluar rumah, selain itu pria tersebut memakai pakaian rumahan, kadang ada foto pria tersebut sedang menyiram tanaman yang ada di rumah, juga mobil pria itu terparkir rapih di sana layaknya rumah itu adalah miliknya.

“Amanda bawa selingkuhannya itu buat tinggal di rumah yang lo beliin buat Amanda. Sebenernya kita ngga nemu sejak kapan, tapi beberapa bulan lalu mereka keliatan tinggal berdua di sana. Lo sekarang tau kan alasan kenapa Amanda lebih milih di Apartemen yang juga lo beliin daripada di rumah itu. Ya karena di sana ada seseorang yang dia umpetin dan tinggal di sana layaknya rumah mereka berdua.”

Mendengar penuturan yang keluar dari mulut Tama sambil melihat bukti foto-foto tersebut membuat Johannes memijit pelipisnya, ia sudah sebodoh ini mempercayai semua kalimat yang keluar dari mulut Amanda untuk dirinya. Bodohnya lagi, ia terlalu percaya waktu Amanda bilang ia ingin tinggal di rumah sana bersama dirinya nanti kalau mereka sudah menikah padahal faktanya bukan itu.

Johannes kembali membuka lembaran lanjutnya, sudah berbeda kasus. Saat ini Johannes bisa melihat rentetan angka dengan nominal besar di sana.

“Lo suka ngirim duit kan ke Amanda? Tanpa lo sadar Amanda pakai duit yang lo kirim buat ngabisin waktu entah itu jalan-jalan atau berlibur ke luar negeri bareng sama selingkuhannya. Iya tentu pakai embel-embel rekan kerja.”

Johannes menggelengkan kepalanya, nggak mungkin. Nominalnya terlalu besar dan ia beri secara cuma-cuma untuk Amanda, Johannes sebetulnya hanya menjadi perantara supaya Amanda dan pacarnya itu berlibur pakai uang dan fasilitas yang diberikan Johannes.

Johannes tidak mengeluarkan sepatah kata, tangannya mengepal kencang, kepalanya terlalu pusing.

“Dan ini, kasus yang paling lo tutup mata Johannes, tentang kecelakaan nyokap lo tahun lalu.”

Tama membalikkan lembaran baru dan menampilkan judul kasus baru, kecelakaan Mamanya Johannes di tahun lalu.

“Lo bilang kan ke Papa lo dan Arga kalau sebelum lo pergi-pergi, lo itu seharian sama Amanda?”

“Bukan Amanda yang ngelakuin, bukan tangan Amanda yang ngelakuin kejahatan itu. Dia pakai tangan orang lain, Johannes.”

“H-1 sebelum keberangkatan, lo taro mobil lo di bengkel yang selalu jadi langganan lo buat periksa mobil lo itu supaya aman selama perjalanan. Dan Amanda pasti tau tentang itu, karena lo sama Amanda ngga cuma sebulan dua bulan menjalani hubungan. Lo nggak sadar kalau Amanda punya orang dalem di bengekl itu, dan dia pakai tangan orang dalem itu buat bikin rem lo blong.”

“Kenapa, kenapa?” Hanya itu yang keluar dari mulut Johannes setelah selama ini ia diam merutuki dirinya sendiri sambil memijit pelipisnya.

Tama menarik lembaran lain dimana alasan tersebut tertera dengan jelas di sana.

“Ini. Ini alasan Amanda kenapa dia sampai begitu Johannes.”

“Nyokap lo ketemu dan mergokin Amanda lagi bercumbu sama selingkuhannya itu di depan mata nyokap lo. Nyokap lo tentu belain nama lo dan Amanda tentu muter otak supaya nyokap lo ngga bocorin tentang ini ke lo secara Amanda tau, lo bakal percaya cuma sama Mama lo. Makanya dengan itu dia nyelakain nyokap lo.”

“Lo bisa selamat karena emang Amanda yang udah ngatur begitu Johannes, dia ngatur semua kecelakaan ini, dia dalang semua kecelakaan nyokap lo.”

Johannes menggebrak meja, ia tidak tahu ternyata Amanda sudah sejahat ini di belakang dirinya, dan ia selalu percaya dengan semua ucapan Amanda ketika ia bilang kalau dirinya melihat Papanya lah yang membuat remnya blong. Pada kenyataanya, Amanda sendiri lah yang membuat itu semua terjadi.

Dengan mata yang sudah menahan amarah, Johannes berdiri dari duduknya dan mengambil berkas tersebut lalu meninggalkan Tama, ia mau membawa semua berkas itu dan ia perlihatkan ke Amanda.

Tama tersenyum kecil melihat Johannes yang keluar dari ruangan tersebut dan tak lama kemudian Arga masuk ke dalam ruangan lalu langsung menepuk pundak Tama.

“Makasih dan maaf ya Tam. Lo beneran udah melakukan yang terbaik, sekarang sisa lo yang pilih jalan lo sendiri sesuai omongan bokapnya Johan, you have your own choice for your life, Tama.”

Tama mengangguk dan tersenyum pada Arga, “Thanks juga Ga. Gue mau balik ke nyokap sekalian jemput anak gue di sana. Gue harus ngobrolin banyak ke nyokap, sekali lagi thanks.”

Arga mengangguk, “Lo adalah manusia paling kuat yang pernah gue liat, Tam.”


@roseschies