roseschies


Arga memberhentikan mobilnya di sebuah rumah sakit membuat Tama sedikit bertanya-tanya untuk apa Arga membawa dirinya ke sini? Lagipula dirinya baik-baik saja.

“Ayo turun, Tam. Ada yang mau ketemu sama lo.” Ajak Arga pada Tama untuk turun dari mobilnya yang sudah terparkir rapih diparkiran rumah sakit.

Tama turun dari kursi penumpang lalu berdiri di sebelah Arga.

“Ga, kita mau ketemu siapa? Siapa yang mau ketemu sama gue?” Tanya Tama membuat Arga menghadapkan dirinya menatap Tama.

“Papanya Johan.”

Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arga, Tama langsung terdiam dan mengikuti kemana langkah Arga membawa dirinya semakin masuk ke dalam rumah sakit.

“Arga, kapan?”

“Beberapa minggu lalu Tam, bokapnya Johan emang udah sakit cuma beberapa minggu lalu semakin parah jadi harus di rawat di rumah sakit. Awalnya bokapnya Johan nolak tapi gue paksa terus, karena emang makin parah Tam.”

Penjelasan dari Arga membuat Tama mengingat beberapa waktu lalu kejadian dimana ia melihat Papanya Johannes terus-terus batuk di rumahnya. Apa mungkin sejak itu Papanya Johannes memang sudah sakit tapi masih ia tutupi?

“Johan tau?”

Arga menggelengkan kepalanya, “Engga Tam, bokapnya ngga mau Johan tau. Bokapnya selalu nutupin dari Johan tentang penyakitnya dan bahkan sampai di rawat pun bokapnya tetep tutup mulut, yang ditanya ke gue juga cuma 'Arga, gimana Johan udah mau ninggalin Amanda? Dia mau ngga sama Tama? Gimana Tama?' Itu doang yang ditanya, gue sedih banget Tama.. Bokapnya Johan beneran sesayang itu sama Johan dari dulu, tapi sayang Johan beneran tutup mata tentang itu, dia cuma tau bokapnya benci sama dia dan Mamanya.”

Tama menghela nafasnya, bahkan ia sudah tidak tau mau bereaksi seperti apa lagi.

“Masuk Tam, beliau udah nunggu lo di dalem. Gue tunggu di sini ya.” Arga membuka pintu kamar dimana Papanya Johannes terbaring di sana. Tama mengangguk lalu meninggalkan Arga yang langsung duduk di bangku yang ada di dekat kamar tersebut.

Pelan-pelan Tama memasuki ruangan Papanya Johannes, “Permisi, Pa?”

Papa melihat kedatangan Tama langsung tersenyum lebar, ia menunggu kedatangan menantunya ini kemudian Papa melambaikan tangannya dan menyuruh Tama untuk duduk di kursi yang ada di sebelah kasurnya.

“Sini duduk, Adhitama.”

Tama mengangguk lalu duduk di sana, ia menatap lekat mata Papa yang sudah sayu.

“Apa kabar Adhitama?”

“Baik, Pa..”

Papa tersenyum manis lalu mengelus surai milik Tama, “Maafin saya ya. Maaf saya sudah bawa Adhitama ke permasalahan Johannes. Saya sudah tau sejak beberapa tahun lalu kalau Amanda begini, saya sudah mencoba cari banyak bukti yang sudah Adhitama lihat bersama Arga waktu lalu, saya juga sudah coba berbicara dengan Johannes tetapi anak itu tidak juga mendengarkan saya. Dia hanya terus membela Amanda karena bukti yang ada masih sedikit dan Johannes ngga percaya karena yang Johannes tau, Amanda baik dengannya. Tidak seperti saya, yang selalu dipandang jahat oleh Johannes.”

“Adhitama, mungkin salah pemikiran kolot saya yang mikir bagaimana kalau Johannes ketemu sama kamu lagi, dia bisa meninggalkan Amanda dan milih kamu. Tapi saya lupa Johannes itu selalu begitu sejak dulu. Saya ingat setelah kepergian kamu, ia menangis sampai pingsan dan hari-harinya hanya diisi memanggil nama kamu. Anak itu tidak tau sampai sekarang kalau yang ia cari dan ia tangisi sudah ada di sebelahnya sekarang. Ia terlalu buta untuk melihat itu.”

“Adhitama, semua saya balikkan ke kamu, terserah kamu mau gimana. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah memaksakan perjodohan ini meskipun pada akhirnya Johannes enggan membuka mata hatinya tentang sesuatu yang benar tentang Amanda. Maaf, Adhitama. Saya pantas mendapatkan semua apa yang ingin kamu lakukan untuk saya.”

Tama yang sedaritadi hanya menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap mata milik Papa, “Seharusnya Tama yang bersyukur bisa ditemuin sama Johannes lagi setelah berpuluh tahun, hangatnya pelukan Johannes masih sama dengan hangatnya pelukan Evano. Setidaknya Tama tau, Evano, teman kecil Tama, teman yang Tama sayang, teman yang janji bersama dengan Tama bakal terus bareng sampai dewasa dan saling menjaga satu sama lain. Janji Tama dan Evano semua sudah terpenuhi Pa, meskipun akhirnya cuma Tama yang ingat dan menjaga Johannes.”

Papa tersenyum kecil, “Nak, Tama, bahagia selalu ya?”


@roseschies


Nesya bersama Amanda dan pacarnya Amanda sudah aman di dalam cafe yang sudah dijadikan tempat dimana bukti akan terkuak semua hari ini.

Sedangkan Arga bersama dengan Deon dan Anan di dalam mobil yang tidak jauh terparkir di dekat cafe tersebut. Ketiganya menunggu di sana, entah menunggu Nesya, menunggu Tama, juga menunggu Johannes.

Dari kabar yang baru saja Deon dan Anan dapat dari Tama, Tama dan Johannes sudah di jalan menuju TKP.

Tak lama kemudian Arga bisa melihat mobil Johannes yang sudah terparkir lebih dekat di dekat cafe dan berjauhan dari tempat parkir dimana mobil Deon terparkir.

Oh, Arga juga bawa mobil, tapi ia parkir agak jauh dari sini supaya Johannes tidak curiga karena Johannes tau mobil Arga bahkan sangat hafal.

Ketiganya dapat melihat Nesya yang sudah beranjak dari tempat duduknya lalu menuju kamar mandi sebelum Tama dan Johannes keluar dari mobil.

Tanpa menggandeng tangan bahkan Tama harus membuka pintunya sendiri, keduanya turun dari mobil Johannes lalu jalan berdampingan masuk ke dalam cafe.

Tama lebih dulu menemukan keberadaan Amanda dan pacarnya yang ada di dalam cafe karena sebelumnya Nesya sudah bilang dimana ia duduk.

Tama tersenyum kecil melihat tangan pria tersebut melingkar di pinggang Amanda, keduanya terlihat sangat dekat, siapapun pasti tau kalau keduanya adalah sepasang kekasih. Amanda terlihat santai karena ia tidak takut, lagipula Nesya juga memang tau untuk apa Amanda tau.

Tetapi Amanda tidak tau kalau kegiatannya dengan pria yang ia sebut sebagai rekan kerjanya itu terlihat oleh Johannes yang tiba-tiba saja ikut melihat kearah pandangan Tama.

Johannes langsung membawa kakinya terburu-buru menuju meja di mana Amanda dan pria tersebut berada sedangkan Tama hanya mengikut dari belakang sambil melipat kedua tangannya di dada, mengekor langkah kaki Johannes.

Johannes tiba-tiba menarik lengan Amanda membuat Amanda tersentak hampir saja ingin memarahi siapapun yang berani menarik lengannya, tetapi ia urung niatnya ketika melihat kilatan mata Johannes di depannya, “Mas....”

Amanda ciut, ia gemetar sekarang, ia sudah tertangkap basah.

“Ini yang kamu bilang rekan kerja? Rekan kerja mana yang ngomongin kerjaan sambil peluk-pelukan pinggang, dan oh mata aku tadi ngga salah liat kamu cium pipi rekan kerja kamu?!” Johannes meninggikan suaranya di depan Amanda membuat perempuan itu kehabisan kata dan hanya gagu di depan Johannes.

“JAWAB AMANDA!” Suara Johannes menggelegar mengisi seisi ruangan sedangkan Tama hanya bisa tersenyum miring dibelakang Johannes, Nesya yang sudah selesai dari 'urusan kamar mandinya' hanya diam berdiri tidak jauh dari mereka.

“Mas... A-aku bisa jelasin, mas...” Ucap Amanda terbata-bata.

“Memang sudah seharusnya kamu jelasin ke saya, Amanda.”

Johannes menatap mata Amanda lekat lalu mendekatkan dirinya dengan tubuh Amanda, bahkan jarak mereka bisa diukur dengan penggaris kalau kata Tama. Dengan jarak sedekat itu dan tatapan Johannes yang sudah ingin memakan orang, siapapun pasti akan takut. Lelaki itu sudahlah besar semakin besar saja, Amandapun ciut.

“Aku tadi habis ini, ngebersihin kotoran yang ada di muka rekan kerjaku. Kita beneran cuma rekan kerja, mas.”

“Omong kosong. Selama saya ada di lingkup kerja, saya tidak pernah tau ada rekan kerja yang ngebersihin kotoran rekan kerja lainnya pakai bibir, Amanda.”

“M-mas... Aku-” Amanda tiba-tiba memeluk Johannes, ia bingung harus bagaimana lagi supaya Johannes percaya dan baginya sentuhan dari dirinya akan membuat Johannes melunak.

Tetapi, Johannes tetaplah Johannes. Lelaki itu hanya perlu bukti yang ada di depan mata. Ketika bukti itu benar-benar ada di depan matanya, maka ia akan percaya dan tidak percaya semua ucapan yang keluar dari mulut Amanda.

“Saya kecewa, Amanda.”

Johannes melepaskan pelukan Amanda lalu mendorong tubuh wanita itu, kemudian Johannes meninggalkan tempat tersebut bahkan ia tak lagi menatap mata Tama yang ada di belakangnya.

Johannes lari menuju mobilnya lalu memukul setiran mobil miliknya kencang dan meremas kepalanya.

Ia sudah percaya dengan orang yang salah.

Setelah ini, ia harus apa?

Tama yang melihat Amanda terduduk di sofanya sambil memijat pelipisnya langsung tersenyum kecil lalu Nesya mendekat dan berdiri di sebelah Tama.

Amanda langsung berdiri dan menunjuk wajah Nesya, “Jadi lo kerjasama sama ini orang, Nesya?!”

“Man, gue udah bilang sama lo pake cara yang baik, tapi lo selalu begini. Gue begini juga buat lo Amanda. Udahan Man, pilih satu, jangan semuanya mau lo bawa. Mereka manusia.” Nesya menghela nafas sedangkan Amanda kembali meremas kepalanya frustasi.

Tama tersenyum kecil melihat kearah Nesya ia berhutang pada wanita itu lalu pergi meninggalkan tempat dan masuk ke dalam mobil Deon, menemui Deon, Anan, dan Arga yang sudah menunggu dirinya di sana.

“Pasti lo berhasil ya Tam?” Tanya Arga setelah Tama masuk ke dalam mobil.

Tama mengangguk lalu menyenderkan tubuhnya sambil menatap jalanan.

“Gue tadi liat Johan keluar, mukanya bener-bener ngga bisa di definisikan lagi.” Tambah Arga, Tama hanya diam.

“Dia pasti tau, dia udah salah pilih orang yang bisa di percaya, Ga.” Celetuk Deon dan Arga hanya mengangguk setuju.

“Tam, ikut gue ya?”

“Kemana, Ga?”

“Ikut gue dulu aja, nanti lo tau kita kemana..”

Mendengar ucapan Arga, selain menurut apa lagi yang bisa Tama lakukan. Suara Arga juga terdengar serius.

“Yon, Nan, gue nitip Nesya ya tolong anterin si Nesya.”

Deon dan Anan mengangguk kemudian Tama dan Arga keluar dari mobil Deon dan menuju mobil Arga.

Sesampainya Arga dan Tama di mobil Arga, Tama hanya diam menatap jalanan kosong. Bahkan sudah sepuluh menit perjalanan, Tama sama sekali tidak membuka percakapan.

“Tam, lo udah melakukan yang terbaik.”

Tama mengangguk.

“Gue bingung Ga. Tadi sebelum Johannes pergi gue sempet liat mata dia, matanya bener-bener kayak orang yang bingung harus apa, dia linglung banget.”

Arga paham, ngga cuma Tama, Arga sebagai teman dekat Johannes sejak dulu juga ikut khawatir sedikit dengan Johannes setelah melihat raut wajah Johannes tadi.

“Gue ngga bisa banyak ngasih saran Tam. Kedepannya, semua balik ke lo. Pilih apa yang terbaik buat diri lo sendiri.”

Tama mengangguk kecil mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Arga.

Ia harus menuntukan pilihannya kedepan untuk dirinya sendiri.

Entah memaafkan Johannes atau pergi meninggalkan Johannes yang berarti ia juga akan meninggalkan Evano.


@roseschies

// mentioning kissing alkohol rokok dunia malam //


Tama berdiri di depan club yang sebelumnya sudah Nesya beritahukan. Tama itu jarang sekali menginjakkan kakinya di club, seumur hidupnya bisa dihitung pakai jari ia menginjakkan kaki di dunia malam ini.

Tapi Tama juga bukan orang buta tentang dunia malam, setidaknya ia pernah beberapa kali meneguk minuman beralkohol dan merokok itu juga hanya ketika dirinya sedang stress berat maka kedua barang itu jadi teman baiknya.

Tidak ingin ketahuan seperti yang lalu, Tama jalan santai menuju bar yang tak jauh dari pintu masuk lalu ia memesan minuman dengan kadar alkohol rendah. Ia tidak mau mengambil resiko jika ia terlampau mabuk karena meminum alkohol dengan kadar sedang atau tinggi.

Layaknya pelanggan lain, Tama menikmati alunan musik yang dipasang disana dengan mata yang tidak berhenti menelusuri seisi club.

Malam ini club tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi, memudahkan Tama untuk mencari keberadaan Amanda.

Tama hanya berharap Amanda tidak menggunakan ruangan khusus atau ruangan tertutup.

Baru saja Tama meneguk minumannya, ia melihat paras wanita yang familiar baru saja keluar dari kamar mandi dan menuju meja yang ada di ujung club tak jauh dari tempat dimana ia sedang duduk saat ini.

Tama kembali meneguk minumannya dan menelusuri Amanda yang sedang tertawa di depan pria lain, bukan Johannes.

Jari-jari Tama tidak berhenti mengetuk diatas meja, kakinya tidak berhenti bergoyang, matanya lekat lekat menatap interaksi Amanda dengan pria tersebut seperti Tama ikut dalam interaksi keduanya.

Berkali-kali Amanda tertawa dan menepuk lengan pria tersebut bahkan tangan pria itu melingkar dengan manis di pinggang Amanda.

Benar, itu selingkuhan Amanda.

Tama tersenyum kecil lalu kembali meneguk minumannya.

Tetapi detik selanjutnya, Tama hampir saja menyembur minumannya ketika ia melihat Amanda mencium pria di depannya.

Tama terkejut. Seharusnya Tama tidak terkejut tapi ia tetap terkejut.

Wow. Wanita itu berani sekali mencium pria lain di ruang terbuka, maksudnya mungkin memang Johannes tidak tau tempat ini, tapi bagaimana kalau tiba-tiba Johannes tau?

Tama melihat ciuman keduanya semakin dalam dengan tangan milik pria tersebut menyentuh bagian tubuh Amanda. Tama memijit pelipisnya rasanya pusing.

Bahkan sekarang Amanda sudah pindah duduk di pangkuan pria tersebut, ciuman keduanya semakin dalam.

Tama menggelengkan kepalanya, cewe gila.

Tama bangun dari duduknya lalu membawa dompet dan ponsel miliknya. Entah keberanian dari mana, Tama tiba-tiba menggebrak meja Amanda membuat Amanda yang sedang ada di pangkuan prianya itu langsung tersentak kaget.

“Ada apa s— Lo?!”

Tama tersenyum miring, “Oh ini lo dibelakang Johannes?? Udah gila.”

Amanda berdiri dan membenarkan bajunya itu lalu menatap Tama tak kalah sengit, “Terus, kenapa?”

“Lo tunggu sampe Johannes liat lo sama cowo lain di sini.” Ucap Tama kemudian memencet kontak bernama Mas Johan di ponselnya, ia menelpon Johannes.

“Kenapa lagi, adhitama? Saya sibuk.”

“Mas, aku punya sesuatu yang pasti kamu bakalan suka. Lokasinya aku kirim di imess. Segera datang karena ada tontonan bagus buat mas.” Ucap Tama, ia bela-belain untuk berbicara halus pada Johannes supaya lelaki itu tidak meneriaki dirinya dan meminta dirinya untuk sopan, terlalu memakan banyak waktu.

Tama tersenyum kecil melihat Amanda yang sudah sedikit panik karena tertangkap basah olehnya.

Tama mematikan ponselnya setelah mendengar dengusan nafas dari Johannes yang sepertinya mau menolak tawaran darinya. Tama langsung mengirim titik lokasi pada Johannes kemudian mengirim pesan, Datang, atau kamu bakal nyesel mas.

Tama menaruh ponselnya di saku celananya lalu melipat kedua tangannya di dada dan menatap Amanda yang sudah ketakutan.

“Lo mau apasih?!”

“Gue mau lo ketauan semua busuknya lo di depan Johannes.”

“Hahaha, in your dream, Atama.

“It's Adhitama, you asshole.”

“Apapun itu gue gak peduli. Bener kata Johannes, lo cuma orang yang suka ikut campur masalah pribadi seseorang. Ck. Bangga?”

“Oh, tentu. Ikut campur gue bisa buat bela negara. Emang lo, untungnya apa?”

Pria yang ada di sebelah Amanda hanya bisa diam, mengikuti arah permainan pasangannya itu.

Tama tiba-tiba menunjuk pria tersebut tepat di depan matanya, “Eh, lo dibayar berapa sama ni cewe?”

“Lo jangan kurang ajar!” Sahut Amanda lalu menepis tangan Tama yang sudah menunjuk wajah kekasihnya itu.

“Yang harusnya diajar banyak tuh lo, Amanda. Gue udah kebanyakan ajaran, lo yang perlu gue ajar. Atau lo mau gue hajar?!” Ucap Tama dengan tangan yang sudah melayang hampir ingin menampar wanita tersebut.

Tama itu punya prinsip tidak akan menyakiti anak kecil dan wanita manapun maka dari itu tangannya ia tahan sebisa mungkin.

Tetapi tiba-tiba Amanda memegang pipinya dan meringis kesakitan dan detik selanjutnya Tama dapat mendengar suara yang familiar di kupingnya.

“AMANDA!”

Suara Johannes.

Lelaki tinggi itu mendorong sedikit tubuh Tama yang ada di dekat Amanda lalu memegang tubuh kecil milik Amanda. “Kenapa? Pipi kamu kenapa?”

Amanda meringis, “Pipiku ditampar sama dia Mas, aduh, sakit banget ngga kira-kira namparnya.”

Tama sukses melotot mendengarnya, ia bahkan sudah capek capek nahan emosinya dan nahan tangannya supaya tidak menampar wanita itu, terus apa maksudnya ini.

“GUE NGGAK NAMPAR LO YA?!”

“ADHITAMA CUKUP. Seharusnya kamu tau, tidak baik menampar seorang wanita di ruang publik seperti ini! Kamu tidak malu?!” Johannes meninggikan suaranya membuat Tama mengepalkan tangannya. Ia lupa faktanya semua kalimat yang keluar dari mulutnya akan salah meskipun benar dan semua kalimat yang keluar dark mulut Amanda itu benar meskipun salah.

Tama tertawa, “Hahahah lo berdua sama brengseknya ya ternyata. Cocok. Pantes awet.”

“Adhitama, kamu berbicara apasih!”

“Amanda, mending lo jujur atau gue yang bocorin?!”

Amanda dengan tangan yang masih setia di pipinya langsung mendongakkan kepalanya lalu menatap Johannes dan Tama bergantian.

“Mas, aku dituduh sama suami kamu! Katanya aku selingkuh sama rekanku. Padahal dia yang seharusnya sadar diri udah ngambil kamu dari aku!”

Ucapan yang keluar dari mulut Amanda membuat Tama lagi-lagi melotot, tidak ia sangka.

“PEMBOHONG!”

“ADHITAMA.”

“LO BISA DIEM NGGAK JOHANNES?!”

“Lo harus tau ya, pacar lo ini, abis ciuman sama pria lain dan dia orangnya!” Tama menunjuk pria yang ada di depannya, pria itu diam benar-benar tidak membuka mulutnya.

“Dia? Dia itu rekan kerjaku! Kita lagi ngobrolin tentang kerjaan. Mas, kamu percayakan sama aku? Aw!”

Johannes mengelus lengan milik Amanda pelan, menenangkan kekasihnya yang sedih merintih kesakitan di pipinya yang padahal sama sekali tidaj ada rasa sakit disana.

Johannes mengangguk, “Iya aku percaya kok sama kamu, aku percaya kamu lagi ngobrol sama rekan kerja kamu.”

“PEMBOHONG!” Tama kembali berteriak di depan Amanda dan Johannes.

“ADHITAMA, CUKUP. Bukti. Saya minta bukti kalau memang benar Amanda ciuman dengan rekan kerjanya sendiri.” Ucap Johannes, menatap Tama lekat.

Bukti.

Benar, bukti.

Tama melupakan satu hal yang sangat penting.

Sebuah bukti.

Johannes hanya mempercayai bukti valid atau kejadian yang bisa ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Tama merutukui dirinya sendiri. Ia melupakan bukti.


@roseschies


Benar saja, perjalanan Tama dari cafe tadi sampai rumah memakan waktu setengah jam lebih sedikit.

Setelah Tama memarkirkan mobilnya di parkiran rumah, Tama keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sepi. Bahkan rasanya tidak ada tanda-tanda ada Johannes di dalam rumah.

Tama masuk ke dalam kamarnya dan di sana Johannes juga tidak ada. Tama hanya bisa menggedikkan bahunya, tidak peduli juga ada dan tidak adanya Johannes, mungkin lelaki itu sedang mabuk tadi atau apa, terserah.

Tanpa mencari atau mengirim pesan untuk Johannes, Tama langsung mengganti baju dan bebersih diri di kamar mandi.

Mungkin lima menit Tama habiskan di dalam kamar mandi sesudahnya ia kembali keluar dari kamar untuk mengambil minum karena ia merasa haus.

Tiba-tiba pintu utama rumah terbuka kencang dan selanjutnya terdengar suara Johannes yang menggelegar mengisi kekosongan rumah. “ADHITAMA, DIMANA KAMU?”

Tama baru saja mau mengisi air minum ke dalam gelasnya, Johannes yang melihat Tama sedang berdiri di dekat meja makan langsung mendatangi Tama, lelaki itu terlihat sedikit tergesa-gesa dengan wajah yang merah padam, menahan emosinya.

PLAK.

Johannes menampar pipi Tama membuat lelaki itu langsung mengelus pipinya dan menatap Johannes nyalang, “APAAN SIH DATENG DATENG NAMPAR GUE?!”

“Kamu itu sudah berapa kali saya bilang sih? Kenapa belum paham juga?! Tinggalkan saya dan urusan pribadi saya. Jangan mengadu terus tentang saya ke Papa!”

“Papa saya tau kalau saya masih ketemu sama wanita yang kemarin kamu lihat. Selain kamu, siapa lagi yang bisa ngadu tentang itu ke Papa saya?!”

“GUE NGGA PERNAH NGADU, JOHANNES! LO KENAPA SIH SELALU BILANG GUE NGADU NGADUAN.”

“YA KARENA SELAIN KAMU SIAPA LAGI YANG BISA NGADU KE PAPA SAYA, ADHITAMA!”

“Kamu tau akibat dari kamu yang tidak bisa tutup mulut itu?! Wanita itu dibilang pelacur oleh Papa saya! Kami berantem semalaman karena kamu Adhitama! Karena kamu yang ngadu ke Papa saya!”

Tama berdecak kesal, “Ck. She deserves it, kok.”

“APA KAMU BILANG?!”

“DIA PANTAS DAPET KALIMAT ITU JOHAN. LO PUNYA MATA DAN KUPING YANG BAGUS KAN?!”

Johannes mengambil gelas yang seharusnya menjadi tempat minum Tama tadi dan ia lempar gelas tersebut kesembarang arah lalu menatap Tama lekat lekat, “NGOMONG SEKALI LAGI, ADHITAMA.”

“Amanda. Pantes dapet kalimat itu, Johannes. Lo denger semua kalimat gue dengan jelas.”

“Kaget? Kaget gue udah tau?? Gue tau, SEMUA, Johannes. Gue udah tau siapa wanita itu, siapa Amanda, dan apa yang udah Amanda lakukan. SEMUA.”

“Amanda bukan pelacur! Amanda bukan wanita murahan seperti apa yang udah Papa saya katakan pada Amanda, Adhitama!”

Tama mendorong sedikit badan Johannes lalu menunjuk tepat di depan mata Johannes, “Buka mata lo Johan! Dia itu sama sekali ngga cinta sama lo, dia cuma mau harta lo! Stop jadi manusia bodoh!”

Johannes mencengkram lengan Tama lalu menatap mata Tama, “Kamu kalau tidak tau apa-apa dan tidak ada bukti, jangan mengada-ada, Adhitama. Jaga ucapan kamu. Kamu tidak kenal dengan Amanda, jangan macam-macam.”

Tama tertawa keras mendengarnya, “Ck. Lelucon apa ini.”

“Silahkan, silahkan pergi dan lanjutkan pembelaan lo untuk wanita lo itu. Karena diakhir nanti lo akan tau semuanya, kalau wanita yang selalu lo sayang dan cinta itu cuma mau harta lo.”

“Diakhir nanti lo bakal sadar, siapa yang sebenarnya tulus dan selalu ada buat lo itu, bukan dia.”

“Lo bilang gue yang bakal nyesel karena udah terima perjodohan ini, kan? Let's see, diakhir nanti, siapa yang bakal menyesal. Johannes.”

Tama mendorong tubuh Johannes membuat lelaki itu erat-erat menahan kepalan di tangannya lalu membalikkan tubuhnya.

Johannes tiba-tiba memberhentikan langkahnya lalu kembali membalikkan tubuhnya dan menatap Tama dari kejauhan, “Kalau bukan karena kamu, hubungan saya dan amanda akan tetap baik baik saja, Adhitama.”

Tama hanya memutarkan bola matanya malas sedangkan Johannes membalikkan tubuhnya lagi lalu pergi dari rumah dan meninggalkan Tama.

Tama memijat pelipisnya, “Lo kenapa ngga mau dengerin gue sih, jangankan gue, Papa lo aja ngga di dengerin Johannes.”

Tama berjongkok untuk membersihkan bekas gelas yang pecah akibat Johannes tadi.

Kecerobohan Tama kembali terulang, lelaki itu tidak sengaja terkena pecahan beling lagi di telapak tangannya.

Tama meringis kemudian langsung buru-buru mencari obat merah di tempat P3K yang waktu itu sempat ia beli.

Oh, maid di rumah sudah Tama berhentikan semua, kasihan, hanya bisa mendengar suara teriak demi teriakan dari Johannes.

Tama membiarkan pecahan beling tersebut lalu duduk di sofa, pelan-pelan ia obati lukanya lalu ia pakaikan perban di tangannya.

Tama menghela nafas pelan. Bener kata Arga, sebanyak apapun lo ngomong tentang Amanda, anak itu tetap akan terus membela Amanda. Jalan terakhir cuma biarkan Johan ngeliat semuanya pakai mata kepala dia sendiri.

Sabtu besok, gue harus banget ketemu dan mergokin Amanda sama pacarnya. Semoga Nesya ngga bohong tentang ini. Batin Tama lalu berdiri untuk kembali melanjutkan kegiatan membersihkan pecahan beling tadi dengan pelan-pelan.


@roseschies


Setelah menemui Sabil sebentar lalu berpamit dengan Mama, Tama akhirnya pergi menuju lokasi yang sudah dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal itu.

Lumayan memakan waktu lama untuk Tama sampai di titik lokasi tersebut, di sebuah cafe yang ada di pusat kota.

Tama memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mobil lalu turun dari mobilnya setelah dirasa mobilnya sudah terparkir dengan benar.

Untungnya tempat parkir dan cafe dimana tempat janjian tidak terlalu jauh maka dari itu hanya butuh lima menit kurang akhirnya Tama sampai di cafe tersebut.

Tama lupa dirinya kan tidak tahu yang mana orang tersebut.

Tapi setelah Tama terlihat seperti orang bingung, seseorang dari ujung memanggil namanya membuat Tama mendongakkan kepala melihat kearah sumber suara.

Di sana ada 1 pria dan 1 wanita sedang duduk berdua dan melambaikan tangannya ke arah dirinya.

Tama membawa kakinya untuk mendatangi mereka.

“Adhitama, kan?” Tanya si pria tersebut lalu berdiri dari duduknyq, mengajak Tama untuk berjabat tangan.

Tama mengangguk lalu ikut menjabat tangan pria tersebut, “Iya bener kok.”

“Ohiya! Gue Arga, ini Nesya.” Ucap pria bernama arga kemudian menunjuk kearah wanita yang ada disampingnya dan memperkenalan wanita tersebut ke Tama.

Nesya yang diperkenalkan oleh Arga langsung berdiri dari duduknya lalu tersenyum lebar dan menjabat tangan Tama, “Hai, adhitama. Gue Nesya, majikannya Arga.”

“Ngomong lo yang bener Nesya.” Arga memukul pelan lengan Nesya membuat Nesya tertawa sedangkan Tama hanya terkekeh dan mengangguk.

“Eh duduk duduk, gue manggil lo apa nih nama lo kepanjangan btw.” Tanya Arga sambil menyuruh Tama untuk duduk di depannya membuat Tama mengangguk dan duduk di depan Arga.

“Panggil Tama aja.”

“Ok Tam. Nyantai kan?? Pesen dulu gih, gue sama Nesya baru pesen minum, makannya bareng sama lo aja.”

Arga memberikan satu buku menu untuk Tama kemudian Tama terima buku menu tersebut. “Nyantai kok, Ga. Lo berdua mau pesan apa??”

“Heh, lo mau pesen apaan? Main hp mulu bocahnya.” Arga menyenggol siku Nesya membuat wanita itu berdecak kesal.

“Apaan aja lah ngikut lo, bentar dulu ini kerjaan.”

Arga langsung menggelengkan kepalanya lalu menghadap Tama yang masih membolak-balikkan buku menu.

“Lo pesen apa Tam? Biar gue yang pesen, bills on me, don't worry.”

“Aihh, om banyak duit om.”

“Bacot Nesya.”

Tama terkekeh, pasangan yang aneh menurut Tama. Eh, mereka pacaran kan?

“Lo rekomen deh Ga, gue bingung. Anyway, thanks ya.”

“Oke, gue pesen dulu.”

Kemudian Arga memanggil waiters untuk memesan pesanan mereka dari makan sampai minum bahkan dessert untuk Nesya.

Setelah memesan semua pesanan, Nesya meletakkan ponselnya lalu menatap Tama yang baru juga meletakkan ponselnya.

“Tama, lo ganteng gini anjir, buta apa ya si Johan berlian macem Tama malah di buang. Ga, lo masih mau ngga sama gue? Kalo ngga gue sama Tama aja dah.” Ucap Nesya tiba-tiba membuat Arga menaikkan satu alisnya.

“Heh Nesya jadi cewe kok gatelan banget anjir. Kayak yang Tama mau aja sama lo. Sorry ya Tam, dia matanya kalo liat cowo ganteng suka begitu.”

Tama hanya tertawa mendengar hal tersebut. “Bisa aja.”

“Ehiya Tama, sorry ya gue sama ni cewe satu tiba-tiba ngechat ke nomor lo, oh iya itu nomornya Nesya save aja gapapa.”

“Iya save aja Tam, semisal lo bituh temen jalan gitu ya nggak.”

“Lo gue tampol atau diem Sya.”

Melihat Arga sudah jengkel, Nesya hanya tertawa. “Hehehe ampun Ga sumpah ampun.”

“Mau nunggu kelar makan atau gimana enaknya Tam?”

“Gue ngikut aja Ga.”

Arga mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menyenggol siku Nesya memberi kode untuk wanita itu mengeluarkan berkas yang ada di dalam tasnya

Nesya mengeluarkan satu berkas berisi banyak kertas di sana lalu ia letakkan di atas meja. Tama yang melihat tumpukkan kertas itu langsung melongo kaget.

“Ini, beberapa informasi yang mau gue sama Nesya kasih tau ke lo. Entah tentang Johan atau wanita yang ada di depan Johan kemaren.”

Arga membuka map tersebut lalu memberikannya pada Tama.

“Amanda?”

Arga mengangguk, “Nama orang yang kemarin bareng sama Johan di resto.”

Tama kembali membaca biodata yang ada di depannya, meneliti satu persatu informasi yang ada di situ meskipun hanya informasi basic yang Tama ngga tau bakal kepake atau ngga.

Tama kembali membuka lembaran lainnya begitu seterusnya. “Ini udah dapet sebanyak gini bukti, Johan tau?”

Arga mengangguk, “Johan udah tau semuanya, Tam. Kecuali ada beberapa yang belum soalnya baru ditemuin sama bokapnya Johan. Sebenernya ini juga punya bokapnya Johan semua sih, seperti yang gue bilang bokapnya Johan bilang kalo lo pilihan tepat dan mungkin pilihan terakhir buat Johan, Tam.”

“Gue sebenernya ngga tau kenapa bokap Johan percaya banget sama lo, tapi karena bokapnya Johan percaya, gue juga harus percaya sama lo.” Lanjut Arga kemudian Tama kembali membalikkan lembar-lembar lainnya.

“Ini?”

Kali ini giliran Nesya yang mengangguk, “Iya itu rumah.”

“Dari Johan buat Amanda?”

Nesya mengangguk lagi, “Buka deh dibelakang ada beberapa foto sama penjelasan, gue yang ketik btw.”

“Lo TMI banget sumpah Nesya.” Celetuk Arga membuat Nesya menjulurkan lidahnya, terserah dia dong.

“INI? SUMPAH?” Tama tiba-tiba sedikit berteriak akibat terkejut melihat foto dan deskripsi yang katanya ditulis oleh Nesya di sana.

Tetapi Nesya kembali mengangguk mantab, “Semua yang lo baca itu beneran Tama, gue, Arga, dan bokapnya Johan udah cari selama setahun ini, kayaknya. Tapi, fakta yang itu Johan belum tau soalnya gue juga baru tau beberapa minggu belakangan ini karena Amanda cerita.”

Mendengar ucapan Nesya, Tama menatap Nesya heran, “Amanda cerita ke lo?”

“Ohiya gue lupa bilang, gue temennya Amanda.”

“Cih temen tapi ngebongkar rahasia temennya di belakang.” Celetuk Arga membuat Nesya mencubit siku Arga.

“Heh, informasi gue berguna ya buat bantu lo dan bokapnya Johan.”

Tama jadi bingung mau bilang Nesya teman supportif atau teman yang nusuk dari belakang ya.. Tapi informasi dari Nesya benar-benar mencengangkan.

Tama akhirnya paham kenapa Papa benar-benar sekeras itu sama Johannes tentang perjodohan ini.

Mungkin salah satunya ingin menyadarkan Johannes tentang Amanda, meskipun pada akhirnya Johannes akan tetap tutup mata.

“Ini soal kecelakaan nyokapnya Johan?” tanya Tama sambil menunjuk satu lembaran di depannya.

Arga mengangguk.

Tama kembali membaca dan matanya berkali-kali melotot terkejut, yang benar saja.

“Johan udah tau yang ini?”

Arga mengangguk lagi, “Udah Tam. Tapi lagi-lagi dia buta akan hal itu, soalnya emang sebelum keberangkatan Johan sama nyokapnya itu, Amanda bareng sama Johan terus.”

“Tapi, Johan nggak tau tentang fakta yang ini,” Arga menarik satu lembar lainnya lalu ia letakkan di depan Tama.

Tama membaca pelan kemudian dirinya menutup mulutnya terkejut, “Sinting. Gila.”

“Alasannya kenapa? Nggak mungkin ngga ada alasan kan Ga?” Tanya Tama lagi membuat Arga menarik lembaran lain lalu meletakkan lemaban tersebut di depan Tama.

“Itu, alasan yang dijabarin Amanda ke Nesya. Amanda cerita semua ke Nesya.”

Manusia, gila semua.

Tak lama kemudian makanan satu persatu sudah dihidangkan membuat Arga langsung membersihkan berkas-berkas tersebut lalu ia taruh di tas Nesya.

Ketiganya makan dengan khidmat kecuali Tama yang kepalanya sedang penuh dengan banyak pikiran. Tama tak habis pikir ada seseorang sejahat itu.

Dan sayang, Johannes buta akan kejahatan Amanda karena yang ia tahu Amanda selalu ada untuk dirinya.

“Kalo gue jadi Johan mah udah mending sama Tama aja daripada si Amanda. Kaga ada benernya dah tu cewe.” Celetuk Nesya sambil membereskan barang-barangnya karena ketiganya sudah selesai membicarakan banyak hal tentang Johan, juga Amanda.

Mendengar ucapan yang diceletukkan oleh Nesya, Arga langsung menggelengkan kepalanya, “Temen lo anjir Sya.”

“Bodoamat gue muak banget ngomongnya ke dia juga.”

“Ohiya Tam, nanti kalo lo butuh apa apa langsung chat ke gue aja ya Tam. Sengaja ke gue soalnya kalo Arga sibuk, anaknya sok sibuk sebenernya.” Ucap Nesya kemudian berdiri sambil memakai tasnya.

Tama terkekeh, “Oke thanks ya Nesya.”

“EH TUNGGU GUE LUPA!” Nesya tiba-tiba kembali duduk dan menyuruh Arga juga Tama yang sudah berdiri kembali duduk kemudian mengeluarkan satu map yang tadi tidak Tama lihat sama sekali.

“Apa lagi anjir Nesya.” Arga mengerang sebal dengan kekasihnya itu.

“Ini, lo pegang buat lo aja Tam. Biasanya setiap hari sabtu, Amanda selalu ke club ini bareng pacarnya itu, kadang sabtu kadang jumat, pinter-pinter Amanda aja biar ngga ketauan Johan.”

Nesya membuka lembaran pertama berisi informasi tentang club yang biasa didatangi oleh Amanda dan pacarnya itu.

“Cuma kemaren Amanda ngomong sama gue katanya sabtu ini dia bakal ke sana. Lo dateng aja jam 11 an. Oh iya, nih foto Amanda barang kali lo lupa bentuk wajahnya gimana. Sama ini, plat mobil Amanda, ini plat mobil pacarnya. Semoga belum ganti, Amanda main bersih banget Tam soalnya, gue juga ngga tau dibelakang dia punya kendaraan lain lagi apa ngga.”

Nesya menjelaskan satu persatu sambil menunjuk fotonya satu persatu memberi tahu kepada Tama, Tama mengangguk paham.

“Thanks banget Nesya, ini ngebantu banget. Gue bakal datengin nanti.”

Nesya mengangguk lalu kembali berdiri dan menggandeng tangan Arga.

“Thanks juga ya Tam udah mau dateng.” Arga kembali mengajak Tama untuk berjabat tangan.

Tama membalas jabatan tangan Arga kemudian tersenyum, “Gue yang makasih sama lo berdua.”

“Sumpah Tam, lo kalo senyum manis banget, iri gue. Ngga kayak Arga, manisnya ngga ada.” Ucapan Nesya dihadiahi cubitan kecil di tangan Nesya dari Arga.

Tama tertawa, “Jagain Ga cewe lo hahaha.”

“Biarin aja dia mah emang cewe gatelan, nanti juga kalo bosen baliknya ke gue lagi.”

Mendengar candaan Arga, Tama hanya bisa tertawa.


@roseschies


Hari ini Tama memutuskan untuk membuntuti Johannes dari kejauhan.

Dan sampailah Tama di sebuah restoran di mana Johannes sedang menarik bangku lalu mempersilahkan wanita yang ada di depannya untuk duduk di sana.

Tama ingin muntah melihat wajah Johannes yang seperti anak abg sedang jatuh cinta. Menggelikan.

Tama curiga sebenarnya Johannes diberi love potion oleh wanita itu.

Oke, lupakan.

Tama kembali melihat kearah wanita yang ada di depan Johannes.

Cantik. Anggun. Tipe wanita yang akan disukai oleh banyak pria di luar sana. Pantas saja Johannes sampai menentang dan tidak rela melepas wanita itu.

Jika dilihat dari luar, wanita itu terlihat wanita yang sangat baik, terlihat dari bagaimana wanita itu sesekali mengelus pelan tangan Johannes yang bahkan Tama sama sekali belum pernah memegang tangan tersebut — Selain ketika Johannes mabuk, bahkan wanita itu sesekali mengelus lembut pipi milik Johannes.

Johannes juga beberapa kali terkekeh dan tertawa ketika berbicara dengan wanita yang ada di depannya, lembut sekali seperti pantat bayi. Bahkan Tama tidak tau jika Johannes benar-benar ada sifat yang seperti ini.

Berbeda dengan Tama yang rasanya terlalu bar-bar untuk Johannes.

Sebentar....

Tama, ini bukan waktunya lo buat bandingin diri lo sama tu cewek. Batin Tama mengingatkan kembali isi pikirannya untuk kembali fokus.

Tama terlalu fokus melihat kegiatan keduanya sampai sampai ia bengong dengan buku menu yang ada di depannya.

“Jangan terlalu sus, Tama. Ayo pura-puranya lo lagi makan juga disini. Anjirlah ini makanan mahal amat, si Johan duitnya lari ke perut tu cewe doang apa gimana?” Tama bermonolog sambil membulak-balikkan buku menu tersebut.

Matanya masih tidak bisa lepas dari pandangan dimana sekarang Johannes sedang mengelap pinggir bibir wanita tersebut. Bukannya sakit yang dirasakan Tama, ia merasa geli. Johannes????? Ia seperti manusia yang kesurupan, berbeda sekali.

Terlalu fokus memerhatikan mereka, Tama tidak sadar kalau wanita tersebut sadar akan kehadiran Tama di sana.

Tama langsung menatap kesembarang arah dan kembali menatao buku menu yang sejak tadi ia belum juga memutuskan mau beli makanan apa.

Wanita tersebut seperti memberi tahu pada Johannes bahwa ada seseorang yang memerhatikan mereka membuat Johannes langsung melihat kearah dirinya.

Beruntung punya tubuh kecil, ketutup satu buku menu. Aman, pikir Tama.

Tidak, tidak jadi aman.

Johannes tiba-tiba berdiri dari tempatnya lalu berjalan menuju tempat duduknya.

Johannes menarik lengan Tama kencang membuat Tama sedikit memekik kesakitan.

“APAANSIH?!” Tama berteriak kesakitan lalu menarik tangannya dari cengkraman Johannes.

Tanpa menjawab ucapan Tama, Johannes kembali menarik tangan Tama lalu membawa lelaki itu menjauh dari wanita tersebut.

“LEPASIN GUE! SADAR DONG TENAGA LO TUH KUAT!” Tama kembali menarik tangannya lalu terlepas dari cengkraman kuat Johannes.

Johannes menatap Tama dengan tatapan tidak suka, “Kamu tidak sopan, Adhitama.”

“Ngapain kamu sampai ngikutin saya? Saya juga punya privacy.”

Tak menjawab ucapan Johannes, Tama menunjuk wanita yang tadi bersama Johannes menggunakan matanya, “Oh, itu wanita yang dimaksud?”

“Kamu pulang sana. Jangan buat keributan di sini, Adhitama.” Johannes mengusir Tama dari restoran tersebut tetapi yang diusir hanya berkacak pinggang.

Dengan lantang Tama berteriak sampai hampir seisi restauran menatap kearahnya, “Harusnya dia malu udah ngerebut suami orang!”

“ADHITAMA.” Johannes menampar wajah Tama sedikit kencang sampai meninggalkan kemerahan di pipi putih milik Tama.

“TAMPAR GUE TERUS TAMPAR! Harusnya lo malu Johan!”

Tama langsung membalikkan tubuhnya menuju meja yang sebelumnya ia duduki lalu mengambil tasnya, ia tak lupa memberi tip tanda permintaan maaf pada restoran tersebut karena sudah menimbulkan sedikit keributan.

“JOHANNES BRENGSEK PRADIPTA.”

Tama mencatat dan mengingat wajah wanita tersebut, tetapi ia lupa, ia hanya tau wajah, bagaimana caranya ia bisa mengetahui seluk beluk wanita tersebut.


@roseschies


Sesuai dengan niatnya, Tama sudah duduk di depan meja kecil yang ada di dalam kamarnya. Bukan menunggu Johannes, lebih tepatnya Tama menunggu pembuktian tentang sesuatu yang sudah menjadi dugaannya dari 4 hari lalu.

Bodohnya Tama selama ini baru menyadari sesuatu tentang itu.

Ah, mungkin karena terlalu sering Johannes pulang ke rumah dengan keadaan mabuk dan bau alkohol yang menyeruak maka dari itu Tama baru sadar ketika lelaki itu sudah lama tidak pulang dengan bau alkohol melainkan bau yang berbeda.

Tepat pukul sepuluh malam, pintu kamar terbuka dan terpampanglah wajah Johannes dengan kemeja yang sedang ia pegang, dasi yang ia gunakan pun sudah ingin lepas dari leher.

Kasihan, bahkan dasi saja enggan berlama-lama di tubuh Johannes. Batin Tama tertawa sedikit.

Tentu sudah tidak kaget jika keduanya tidak saling sapa.

Tetapi Tama langsung berdiri dan sengaja melewati tubuh Johannes yang ingin berjalan menuju kamar mandi, mungkin ingin membersihkan tubuhnya.

“Mas.” Tama menghentikan jalannya setelah melewati tubuh Johannes membuat Johannes ikut memberhentikan langkahnya tanpa menjawab panggilan Tama.

“Bau parfummu kok aneh ya Mas? Kayak percampuran wangi parfum laki-laki sama perempuan jadi satu gitu.”

Mendengar ucapan yang dilontarkan Tama membuat Johannes membalikkan tubuhnya lalu menatap Tama sambil menaikkan alisnya, lalu?

Tama menggedikkan bahunya, “Atau emang bener bau parfum perempuan gitu ya?”

Johannes tersenyum kecil sambil menatap Tama, “Now you know, Adhitama. Kemana saja kamu? Saya memang punya wanita yang saya sayangi sejak awal jauh dari sebelum kamu datang di hidup saya. Saya sudah bilang, kamu bakal menyesal kalau terus melanjutkan perjodohan ini, Adhitama.”

Di bulan kelima atau enam, bahkan mungkin sebenarnya sudah tujuh bulan, akhirnya Tama mengetahui alasan mengapa Johannes selalu pulang malam atau pagi. Lelaki itu bertemu dengan wanita yang dimaksud.

Sakit? Tidak. Tama tersenyum kecil lalu membalikkan tubuhnya mengabaikan Johannes yang terlihat tersenyum menang.

Curiga Tama di empat hari lalu ternyata benar. Bau parfum yang berbeda dan parfum khas wanita.

Ah, apa tadi Johannes bilang? bahwa ia memang memiliki wanita yang ia sayangi sejak awal jauh dari sebelum Tama datang di kehidupan Johannes.

Tetapi, satu yang Johannes lupa, Tama jauh lebih dulu datang di kehidupan Johannes.

Bahkan tanpa Johannes sadar, lelaki bernama Adhitama Bagaskara, lebih dulu singgah di hati miliknya, sejak kecil.

Lelaki yang ia tangisi kepergiannya sampai pingsan. Lelaki itu bernama Adhitama Bagaskara.

Sayang, Johannes lupa dan tidak tau. semua ucapan pedasnya dulu, hanya untuk cari perhatian.

Sayang, johannes tidak tahu, bahwa lelaki itu sekarang sudah ada di depannya.

Tujuh bulan, menjadi suaminya.

“Sebaik apasih, wanita itu, gue mau tau, kenapa lo sampai masih setia sama dia disaat lo sendiri udah nikah secara resmi selama tujuh bulan.” Tama tersenyum miring, meminta jawaban dari Johannes yang langsung memberhentikan langkahnya lagi setelah mendengar pertanyaan Tama.

“Jangan berbicara yang tidak tidak, Tama.”

Jika itu cara main Johannes, maka tama akan memperlihatkan cara mainnya.

Tama bukan lelaki yang bisa terus ditindas oleh Johannes.

Maka dari itu, tujuh bulan, Tama akan memperlihatkan cara mainnya, pada Johannes. Si keras kepala dan mulut pedas.

Oh, apa kata Johannes? Tama? Menyesal?

Kita lihat siapa yang akan menyesal diakhir nanti, Johannes Pradipta.


@roseschies


Tama benar-benar membawa Sabil ke rumah Mama. Tama pun masih bungkam tentang kejadian beberapa hari lalu.

Mama masih belum tau alasan kenapa Tama menitipkan Sabil di rumah Mamanya, yang Mama tau, Sabil merindukan dirinya, bukan yang lain karena itulah yang disebutkan Tama sebelum menitipkan Sabil.

Tama tidak benar benar meninggalkan Sabil di rumah Mamanya, Tama akan tetap bermain dengan Sabil dan akan pulang ketika Sabil tidur dan akan datang tepat ketika Sabil bangun.

Alasan kenapa ia tidak tidur di rumah Mamanya karena kamarnya sudah dipakai Sabil, dan kamar miliknya tidak akan cukup untuk dirinya dan Sabil. Selain itu, ia menghindari pertanyaan Mama.

Tama cukup paham pasti Mama sudah punya banyak pertanyaan, kenapa dan kenapa di kepalanya.

Alasan lain lagi kenapa Tama tak kunjung bercerita pada Mamanya karena ia takut Mamanya akan terus menyalahi dirinya tentang perjodohan ini.

Ini sudah hari ketiga Sabil dititipkan di rumah Mama, anak itu sedang bermain lego di kamarnya sewaktu Tama sampai setelah membelikan makanan di luar. Setidaknya Tama punya alasan bahwa sebelum Sabil bangun, Tama beli makan keluar terlebih dahulu, tidak meninggalkan dirinya.

Mama yang melihat Tama masuk langsung meminta izin pada Sabil untuk bermain sendiri sebentar karena Mama ingin berbicara dengan Papinya— Tama.

Tama dan Mama turun kebawah menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang baru saja Tama beli.

“Tama, Nak.” Mama menepuk pundak Tama membuat anak itu sedikit ketar ketir, sepertinya Sabil sudah cerita.

Terlihat dari raut wajah Mama yang mulai merasa bersalah.

Tama menghadapkan dirinya kearah Mama, “Iya kenapa Ma? Eh, Ma ini tadi Tama beli risol kesukaan Mama.”

Mama mengangguk, “Sayang, kam—”

“Mama, Sabil tuh boleh makan gorengan ngga ya?” Potong Tama sebelum Mama bahkan menyelesaikan ucapannya.

Mama menghela nafas lalu mengangguk, “Sedikit aja, jangan banyak-banyak. Nanti batuk.”

Tama mengangguk lalu memindahkan beberapa untuk dirinya, Sabil, dan Mama.

Mama menepuk pundak Tama pelan, “Udah aja ya sayang?”

“Mama minta maaf udah bikin berat hidup Tama.”

Tama menunduk, pura-pura sibuk menyiapkan makanan padahal dirinya sudah gelisah, ia ingin menangis sekarang juga.

“Maaf ya Mama ngga tau sama sekali tentang gimana anak Mama di sana sama suaminya. Mama cuma bisa percaya sama semua kalimat Tama kalau Tama dan Johan baik baik saja.”

“Udahin aja ya?”

Tama menggeleng, “Ma, Tama bahkan belum mulai apa apa, apa yang harus diudahin?”

“Tama, sayang..”

“Ma, anak mama ini masih kuat. Tama kuat buat Mama dan Sabil. Tunggu ya Ma. Tama ngga akan diam aja, Ma. Tapi Tama titip pesan, jangan bilang ke Papanya Johan ya Ma, tentang semua ini. Biar Tama yang selesaiin semuanya, ya Ma?”

Mama mengangguk paham, Mama percaya dengan anaknya ini, ia pasti punya banyak cara yang sudah dipastikan sebelumnya dipikirkan secara matang-matang.

“Mama, Tama titip Sabil.”

Mama mengangguk namun wanita itu terdiam masih mengelus pundak anaknya, tegar sekali anaknya ini.

Tama membersihkan tangannya karena ia sudah selesai menyiapkan makanan di tiga piring lalu ia menghela nafas dan menatap kedua mata milik Mama yang sangat teduh.

“Ma, Tama bohong. Tama bohong tentang semuanya. Tama dan Johan ngga baik baik aja from the day one sampai sekarang. Ma, Tama ngga bisa ngubah sifat Johan pun Tama ngga bisa ngubah semua yang memang sudah ada di dalam diri Johan.”

“Awalnya Tama pikir, Tama bisa seiring berjalannya waktu, Johan juga akan menyerah dan mencoba buat mencintai Tama perlahan. Tapi nggak Ma. Tama salah. Johannes ya Johannes. Tama ngga bisa ngerubah semuanya bahkan fakta Evano.”

“Tama nggak tau Ma, apa yang ngebuat Johannes sebegitunya. Tama tau, Evano—maksud Tama Johannes itu memang keras kepala dengan mulut pedas. Tapi Ma, ini udah beda. Johannes nggak punya hati Ma.”

Runtuh. Runtuh semua tiang-tiang yang sudah dibangun oleh Tama.

Sejatinya ia tetap membutuhkan tempat mengadu, dan itu hanya Mamanya.

Mama mengangguk-angguk kepalanya mengerti, Mama sudah mendengar beberapa dari Sabil terlebih fakta Papanya yang sempat meninggikan suaranya di depan dirinya.

Bahkan anak itu berbicara pada grandmanya, “Grandma, Papa engga mungkin benci sama Sabil kan? Kemarin pasti Papa lagi capek, Sabil juga kalau capek suka marah marah tapi habis itu engga lagi deh... Ya kan grandma? Papa sayang Sabil kan grandma? P—papa....” Kemudian anak itu menangis memanggil nama Papanya.

Bagaimana bisa Johannes menyakiti anak semanis Sabil, bahkan disaat seperti ini Sabil terus meyakini dirinya bahwa Papanya itu menyayangi dirinya meskipun Johannes terlihat tidak peduli dengan keberadaan Sabil juga Tama.

“Mama minta maaf, Tama.. Nak, udahin ya?? Semua Mama bantu asal Tama dan Sabil bahagia.”

“Sedikit lagi Ma.. Tama masih kuat, Mama percaya sama Tama kan?”

Mama mengangguk lagi lalu memeluk sebentar anaknya itu memberikan sedikit kekuatan.

“Ma, dengerin Tama. Mama ngga usah merasa bersalah ya? Mama ngga salah sama sekali. Jalan ini dari awal udah Tama yang pilih. Mama sama sekali ngga pernah memaksa Tama untuk terima tapi Tama yang punya keinginan menerima perjodohan ini. Tama ngga akan mau ngakhirin sesuatu yang udah Tama pilih tanpa ada hasil akhir Ma.”

“Ma, Tamanya di dengerin lho.... Ya Ma?”

Mama yang masih menunduk rasanya sangat malu lalu mengangguk.

“Yaudah yuk Ma, kasihan Sabil nungguin di atas.”

Mama mengangguk lalu membawa piring miliknya dan milik Tama sedangkan Tama membawa piring milik Sabil dan minuman.

Ketiganya menghabiskan waktu di dalam kamar Tama dulu sambil bersenda gurau.


@roseschies

Membaca pesan yang dikirim oleh Papanya bahkan Papa berkali-kali menelpon Johannes membuat Johannes memukul meja kerjanya lalu mengambil tas kantornya. Johannes mematikan ponselnya kemudian menuju parkiran, ia memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sampai di rumah, Johannes membuka pintu dan bertemu dengan Sabil yang sedang menonton TV sambil memakan camilan di sana. Anak itu sendirian karena Tama sedang membuat makanan ringan lainnya untuk Sabil di dapur.

“SABIL.” Johannes meninggikan suaranya sambil berjalan menuju Sabil membuat Sabil tersentak kaget mendengar suara kencang yang tiba-tiba keluar dari mulut Johannes.

Tangan sabil gemetar, ia takut menatap kedua mata Papanya yang sudah menatap dirinya seperti ingin memakan hidup hidup.

“P—papa....” Suara Sabil mengecil, anak itu menunduk tidak ingin menatap mata Papanya.

“Kok kamu jadi anak ngaduan ya Sabil. Persis seperti Papi kamu padahal kalian sama sekali ngga sedarah. Saya sama sekali ngga pernah ngajarin kamu buat mengadu seperti itu.”

“Gara-gara kamu, saya jadi kena semprot Papa saya!”

Johannes membentak tepat di depan wajah Sabil, Sabil hanya bisa menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Ia benar benar takut.

Air mata pelan-pelan menetes dari pinggir matanya, Sabil menahan tangisannya.

“MAS!” Mendengar suara Johannes yang menggelegar membuat Tama langsung buru buru mematikan kompor dan berlarian menuju Sabil yang badannya sudah gemetar namun Johannes terlihat tidak peduli, wajahnya masih merah akibat emosinya yang memuncak.

Tama mendorong tubuh Johannes menjauh dari tubuh Sabil. Tama memeluk erat tubuh Sabil membuat anak itu menangis sejadi-jadinya.

“P—Papi....”

“Sshhh— Ayo sini, Papi gendong, kita masuk kamar ya sayang.”

Tama langsung membawa tubuh Sabil yang masih gemetar kemudian membawa Sabil masuk ke dalam kamar Sabil meninggalkan Johannes yang langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memijat pelipisnya.


Butuh waktu lama sampai akhirnya Tama berhasil menenangkan anaknya itu sampai tertidur.

Tama memijat pelipisnya, pusing. Tama tau, pasti kedepannya Sabil akan merasa takut jika melihat Johannes.

Sabil akan trauma dengan suara kencang dan wajah Johannes.

Tama kelabakan mencari keberadaan Johannes, semoga saja lelaki tinggi itu tidak kabur dan tidak bertanggung jawab sudah melakukan hal sefatal ini pada Sabil.

Tama mencari di ruang TV namun lelaki itu tidak ada di sana. Mobil milik Johannes juga masih terparkir rapih di garasi.

Maka dari itu, Tama buru buru menuju kamarnya, ia membuka mendobrak kencang pintu kamar.

Benar saja, Johannes sedang duduk di atas kasur.

Kepala Tama mendidih, emosinya memuncak melihat Johannes yang terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.

“Lo boleh marah-marah ke gue, lo boleh bentak-bentak gue. Tapi ngga dengan marah-marah dan bentak-bentak Sabil, Johannes! Dia itu anak kecil. Papa titipin Sabil ke kita berdua buat diurus bukan dijadiin samsak lo! Mikir dong Johannes! Apa yang udah lo lakuin ke Sabil bakal terus jadi pikiran kedepannya buat Sabil! Lo beneran udah keterlaluan, Johannes.”

Tama mendekatkan dirinya kearah Johannes sambil berteriak-teriak memarahi Johannes.

“Dia duluan yang sudah mengadu ke Papa saya, Adhitama!”

“Dia bukan ngadu, Johannes. Lo ngerti ngga sih? Dia cuma cerita ke Papa karena lo nggak pernah ada buat dia! Kapan sih lo ngasih waktu lo buat Sabil? Hah? KAPAN GUE TANYA??!! LO GAPAPA NGGA NGASIH WAKTU LO BUAT GUE, LO GAPAPA MARAHIN GUE. TAPI JANGAN SABIL, JOHANNES.”

“Gue mohon. Udah cukup, Johannes.”

Tama mengacak rambutnya frustasi, dia sudah ngga tau Johannes ini harus diapakan lagi supaya bisa berfikir dengan otak yang jernih. Otaknya seperti sudah rusak.

Tanpa menjawab ucapan Tama, Johannes langsung berdiri kemudian keluar dari kamarnya meninggalkan Tama yang sudah terduduk di pinggir kasur, menangis karena emosi yang terlampau meluap.

Kenapa harus Sabil.


@roseschies


“GRANDMAAA GRANDPAAA!!!” Sesampainya Tama, Sabil, dan Johannes di kediaman Papa Johannes, Sabil langsung berlarian dan berteriak memanggil kakek neneknya itu yang sedang mengobrol.

Mama yang mendengar suara Sabil langsung melihat kearah sumber suara dan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya, menangkap Sabil dan menggendongnya, “Halo Sabil!”

“Loh Sabil, Papa sama Papi kemana sayang?”

Sabil menunjuk Tama dan Johannes yang sedang berjalan, “Itu grandma.”

Papa tersenyum senang melihat Tama dan Johannes berdiri berdua sebelahan, apa rencana dia berhasil?

Papa langsung memeluk dan menjabat tangan Tama dan Johannes bergantian lalu menepuk pundak Johannes, “Anes, gimana kabarnya?”

“Baik Pa.” Johannes menjawab seadanya tanpa ekspresi wajah yang memperlihatkan bahwa dia bahagia bahagia saja. Terlalu datar.

“Tama, gimana nak kabarnya?”

Tama menjabat tangan Papa, “Baik Pa. Papa gimana kabarnya?”

Papa tersenyum dan melirik sebentar kearah Johannes, “Baik kok. Ayo makan sini.”

Papa mengajak Johannes dan Tama untuk masuk ke dalam sedangkan Sabil sudah asyik mengobrol dengan Mama atau neneknya Sabil.


Johannes pamit izin untuk ke kamar lamanya, katanya ingin mengambil barang yang tertinggal. Nyatanya lelaki itu langsung menelpon seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Amanda.

Sedangkan Tama asyik mengobrol banyak hal dengan Mama, ia sangat merindukan Mamanya. Biasanya hari-hari Tama hanya diisi oleh canda tawa dengan Mama, sekarang hari-harinya hanya diisi oleh makian demi makian untuk Johannes.

Kalau Sabil tentu bersama dengan Grandpanya. Mereka sedang di taman belakang, menikmati kicauan burung milik Papa.

Grandpa,”

“Kenapa Sabil?”

“Papa kenapa jarang di rumah ya grandpa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Sabil, Papa semakin memasang kupingnya mendengar cucunya ini sedang mengadu pada dirinya tentang Johannes, anaknya.

Grandpa, Papa engga suka ya sama Sabil? Papa engga suka ya kalau Sabil ada di rumah?”

Ucapan Sabil membuat Papa tau, kalau ternyata Johannes sama sekali tidak berubah setelah adanya Sabil. Johannes, anaknya masih sama seperti sebelumnya.

Papa menepuk pahanya, “Sini, Sabil duduk dipangkuan grandpa.”

Sabil menggeleng, “Kasihan grandpa, Sabil beraatt.”

Namun Papa tidak mendengar ucapan itu, Papa langsung menarik pelan tubuh Sabil lalu mendudukkan tubuh Sabil dipangkuannya dan mengelus surai lembut milik Sabil.

“Sabil. Papa Sabil mungkin lagi sibuk sama kerjaannya.Maaf ya harus ninggalin Sabil terus. Engga kok, Papa pasti suka sama Sabil.”

“Papi juga bilang begitu ke Sabil, grandpa.”

Papa mengangguk, ia tahu, menantunya itu memang paling bisa diandalkan.

“Uhuk— Sabil, sebentar ya, Sabil ke Papi dulu gih, Uhuk—” Papa menyuruh Sabil untuk masuk ke dalam, pelan-pelan Papa menahan batuknya agar tidak mengenai Sabil.

Grandpa kenapa? grandpa sakit??” Tanya Sabil menatap Papa khawatir, Papa hanya menggeleng lalu menutup mulutnya dan kembali menyuruh Sabil masuk ke dalam.

Sabil langsung lari menuju Tama yang sedang duduk di sofa bersama Mama.

Sabil menarik kemeja yang digunakan Tama, “Papi, grandpa sakit Papi... Grandpa batuk batuk.”

Tama mengelus pelan surai Sabil lalu menyuruh anaknya untuk duduk disebelah Mama sedangkan dirinya mendekat kearah Papa.

Papa masih batuk batuk seperti tadi namun terlihat ditutupi.

“Pa?”

Papa sedikit tersentak setelah mendengar suara Tama.

“Papa sakit?”

Papa menggeleng, “Ngga kok, ini cuma batuk batuk aja. Kayaknya sakit tenggorokan biasa. Nanti Papa minum obat.”

“Mau Tama ambilin Pa?”

Papa menggeleng lagi, “Ngga usah nak. Papa bisa kok. Yuk masuk ke dalam. Anes, masih di kamarnya?”

Tama mengangguk.

Akhirnya Papa dan Tama masuk ke dalam rumah berdua dan ternyata Johannes sudah turun dan sedang duduk di meja makan sambil meneguk minumannya.

“Pa, Anes pulang ya??”

Papa mengangguk, “Yasudah.”

Johannes menatap Tama mengajak suaminya itu pulang, Tama hanya mengangguk patuh.

“Yuk sayang, kita pulang.” Ajak Tama membuat Sabil langsung mengangguk dan berdiri dari duduknya lalu melambaikan tangannya kearah grandpa dan grandmanya.

Johannes, Tama, dan Sabil akhirnya pulang setelah beberapa jam bermain di rumah Papa.


@roseschies