roseschies


Sabil itu sebenarnya anak yang gampang sekali berbaur dengan orang baru jika orang tersebut mendekatkan diri pada Sabil terlebih dahulu.

Seperti saat ini, Sabil sudah tertawa cekikikan di gendongan Deon kemudian mencubit hidung Anan. Sabil benar benar senang karena ia merasa diterima oleh kedua teman Tama.

Pun Tama, Sabil sangat menyayangi Papinya itu. Tama adalah orang yang selalu menerima dirinya di rumah dan menyirami dirinya dengan banyak pujian.

“Sabil udah lupa yaa sama Papi, asik banget digendong om Deon nihh.” Goda Tama melihat anaknya yang asyik di gendongan Deon membuat anak itu malah kembali meledek Tama sambil menjulurkan lidahnya.

“Dadaahh Papiiii~” Ucap Sabil kemudian memeluk erat leher Deon membuat Tama melengkungkan bibirnya, sedih Sabil lebih memilih Deon.

“Sabil gitu yaaaa.”

Sabil kemudian menepuk pundak Deon meminta turun lalu berlari menuju Tama dan memeluk kaki Tama, “Ihh engga Papi, Sabil bercanda. Papi jangan sediihh. Sabil cuma sayang sama Papi.”

Mendengar itu Tama jadi ingin mengerjai anaknya itu kemudian menatap sembarang arah membuat Sabil rasanya ingin menangis, Papinya ngambek beneran.

“Papiiiiiiiiiii.”

Anan dan Deon yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, anak kecil ketemu anak yang masih pengen kecil begini ya ternyata.

“Papi ngambek sama Sabil.”

“Ihh Papii, Sabil engga gitu, Sabil bercanda. Ya ya ya Papii, gendong ya Papi. Ih Om Deon bantuiinn Papi ngambek gara-gara Om Deon!” Sabil menghentakkan kakinya kemudian menarik Deon, meminta bantuan. Tama susah payah menahan tawanya, anak ini.

“Anjir lo kayak anak kecil sumpah Tam.” Bisik Deon setelah sampai di sebelah Tama.

“Abis lucu liatnya, gemes.”

Deon memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari Tama.

“Papii, engga ngambek lagi kan sama Sabil?? Gendong Papii.” Sabil mendongak kemudian mengangkat kedua tangannya, minta digendong oleh Tama.

Tama terkekeh gemas lalu mencubit hidung milik Sabil, “Papi mana bisa marah sama Sabil. Sini Papi gendong.”

Akhirnya Sabil kembali ke pelukan Tama.

Ketiganya lanjut jalan mengitari tempat wisata ini, sebenarnya mereka juga udah bingung mau naik wahana apa karena sejak tadi udah lelah lari-larian dengan Sabil yang mau naik ini itu.

Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus di dekat kuping Tama membuat Tama langsung paham bahwa Sabil tertidur di gendongannya.

“Anaknya tidur nih, kecapean kayaknya lari larian.” Ucap Tama sambil menunjuk Sabil dengan kepalanya membuat Deon dan Anan langsung mengintip kearah Sabil yang sudah terlelap.

“Ngga berat Tam?”

Tama menggeleng, “Masih aman kok.”

“Lo sama Sabil padahal baru seminggu lebih ya? Udah sedeket itu.” Tanya Anan tiba-tiba, Tama mengangguk, ia juga merasakan hal itu kok. Sabil benar-benar definisi manusia yang cepat beradaptasi jika ia nyaman dengan seseorang.

“Johan gimana Tam?”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Deon membuat Tama hanya menggedikkan bahunya.

“Interaksi sama Sabil kalo sarapan bareng. Abis itu Johan kerja. Pulang kerja jam 11 malem, kadang juga ngga pulang. Masih kayak biasa. Semuanya ngga ada yang berubah, yang berubah cuma gue makin punya tanggung jawab ke Sabil dan Johan sama aja kayak dulu, nganggep gue dan Sabil hanya angin lewat.”

Deon sudah menggelengkan kepalanya, sudah nggak paham lagi dia sama kelakuan Johan.

“Bokapnya Johan tau?”

Tama menggeleng, “Bokapnya ngga tau, nyokap gue juga taunya kita bertiga baik-baik aja. “

“Lo kenapa ngga cerita sih Tam?”

“Gue males berantem adu mulut sama Johan Nan. Dia selalu nyuruh gue tutup mulut ini itu, kadang kalo bokapnya tau sendiri pasti gue yang dituduh. Sumpah, gue juga cape banget, tapi gue beneran males adu mulut sama dia. Keberadaan Sabil diantara gue sama Johan beneran udah cukup buat gue ngerasa waras.”

Deon dan Anan mengangguk paham. Benar juga, semakin dipaksa semua yang ada Tama semakin lelah dengan dirinya sendiri.

Akhirnya ketiga lelaki itu mendudukkan diri di tempat duduk yang ada di sana sambil memesan es krim masing masing satu.

Sabil masih setia di gendongan Tama. Tangan Tama memang kram, tapi nggak masalah, yang penting Sabil nyaman tidurnya. Kasihan anak ini sudah terlalu lelah.

“Lo masih yakin kalo Johan keluar cuma buat minum kopi doang Tam?” Tanya Deon tiba-tiba, Tama menggeleng.

“Nggak. Gue yakin ada sesuatu.”

“Maksud lo?”

“Ya sesuatu. Gue yakin dia keluar malem karena ada sesuatu. Tapi gue belum nemu clue sama sekali.”

Mendengar itu Deon dan Anan ikut berfikir, apa lagi kali ini.

“Tam, ketakutan lo waktu itu, ngga beneran kan?” Tanya Anan tiba-tiba membuat Tama menatap Anan bingung.

“Ketakutan gue yang ma— Oh...”

Tama menggedikkan bahunya.

“Gue sukanya sama Evano, Nan.”

“Tapi Evano sama Johan satu orang, Tam.”

“Biarin gue mikir sampe sekarang kalo mereka dua orang yang berbeda, Deon. Biarin gue nyaman sama pelukan Evano tiap malem. Biarin gue nyaman sama ucapan manis yang keluar dari mulut dia setiap mabuk.”

Ucapan yang keluar dari mulut Tama membuat Deon dan Anan masing-masing menghela nafasnya.

“Tama...”

“Susah ya Nan, Yon. Susah banget buat mikir mereka itu beda. Iya, mereka itu satu orang. Tapi tolong biarin gue nyaman sama sosok Evano yang ada di tubuh Johan.”

Anan menepuk pundak Deon kemudian menggeleng kecil, memberikan kode untuk Deon supaya berhenti. Semua rasanya udah berat buat Tama.


@roseschies


Sudah hampir beberapa bulan Tama dan Johannes resmi menjadi sepasang suami. Bahkan Tama sama sekali ngga pernah menyangka ia bisa sesabar ini menghadapi mulut pedas Johannes.

Intensitas Johannes pulang malam juga sudah tidak bisa dihitung lagi pakai jari dan hal itu semakin lama membuat Tama menjadi terbiasa.

Tama tidak peduli. toh, dia masih ingat, Johannes menolak semua pernikahan ini.

Tetapi Tama juga manusia, ia lelah.

Tama tidak tinggal diam ketika Johannes terus menerus pulang malam, lelaki itu marah karena ia juga butuh seseorang yang menemaninya terlagi Johannes adalah suaminya, bukan orang lain.

Iya, fakta itu Tama tidak bisa menyangkal mengingat cincin yang masih tersemat di jarinya.

Beberapa kali juga Johannes pulang dengan keadaan mabuk dengan badan yang selalu bau alkohol. Dan lagi, kejadian malam itu, dimana Johannes memeluk tubuh mungil Tama, selalu terulang kembali.

Ada satu malam, satu malam yang bagi Tama itu adalah malam termenyedihkan yang ada diantara keduanya.

Johannes menangis, tepat dipelukannya. Lelaki itu menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama mamanya. Ia mengeluarkan semua curahan hati yang ada di dalam pikirannya secara sembarang sambil memeluk tama.

“Ma, Mama lagi disini ya bareng Anes? hangat ma pelukannya. Terima kasih ya ma.”

Tama rasanya ingin menghilang, pelukan ini, bukan pelukan Johannes dengan mamanya melainkan pelukan ini, pelukan Johannes dengan dirinya, Adhitama Bagaskara.

Sempat Tama pikir jika Johannes hanyalah anak yang kurang kasih sayang, tetapi rasanya sangat aneh karena setau Tama, Papanya Johannes adalah Papa yang sangat menyayangi anaknya.

Hati Tama selalu terenyuh setiap kali Johannes pulang dalam keadaan mabuk. Karena lelaki itu jauh lebih jujur dan mengucapkan banyak sekali curahan hatinya tiap kali ia mabuk.

Meskipun terkadang abstrak, tapi rasanya Tama ingin sekali merengkuh tubuh yang lebih besar ini kedalam pelukannya.

Tetapi berkali-kali Tama selalu ditampar oleh realita kalau ini JOHANNES.

Paginya ia langsung mendapat omelan lagi-lagi mengenai dirinya yang memeluk Johannes.

Rasanya mendengar kalimat kalimat pedas yang keluar dari mulut Johannes sudah menjadi makanan sehari-hari Tama.

Namun kembali tama menggumam kecil, “Lo beneran Evano yang gue kenal. Si keras kepala dengan mulut pedas.”

Mungkin malam malam sebelumnya, Tama tidak terlalu sadar karena ia pasti sudah tidur setiap Johannes sampai.

Namun, pagi ini, kebetulan Tama baru selesai mandi dan Johannes baru pulang dari 'kantornya' dan lelaki itu terlihat sangat berantakan.

Entah tama sama sekali tidak menghitung, tetapi yang Tama ingat, mungkin ini bulan kelima atau enam setelah pernikahan mereka dan tepat hari ini tama sadar akan sesuatu.

“Mas, sejak kapan kamu suka pakai parfum baunya kayak parfum wanita?”

Iya, lima atau enam bulan, Tama benar-benar sudah membiasakan diri memanggil Johannes dengan sebutan mas, juga setelah mama dan papanya tau bahwa tama masih saja ber gue-lo dengan johannes, lelaki itu mulai membiasakan memakai sebutan aku kamu sampai akhirnya Tama benar-benar terbiasa.

Johannes melihat kearah Tama lalu tersenyum miring, “now you know. Saya memang punya wanita yang saya sayangi sejak awal jauh dari sebelum kamu datang di hidup saya. Saya sudah bilang, kamu bakal menyesal kalau terus melanjutkan perjodohan ini, Adhitama.”

Di bulan kelima atau enam, bahkan mungkin sebenarnya sudah tujuh bulan, akhirnya Tama mengetahui alasan mengapa Johannes selalu pulang malam atau pagi. Lelaki itu bertemu dengan wanita yang dimaksud.

Di bulan ketujuh, Tama sadar, ia sudah mulai terbiasa dengan Johannes si keras kepala dan mulut pedas.

Entah karena sentuhan tiap malam ketika Johannes mabuk membuat Tama lupa semuanya.

Yang pasti, Tama rasanya ingin tenggelam.

Di bulan ketujuh, lelaki itu sadar sepenuhnya, ia sudah memiliki rasa untuk Johannes. lelaki si keras kepala dan mulut pedas. hanya karena perlakuan lelaki itu setiap mabuk.

Bilang tama gila jika ia menginginkan suaminya itu terus mabuk saja.

Karena ketika Johannes sadar, Tama akan kembali menjadi seseorang yang sangat membenci Johannes. suaminya itu.

Tama rasanya seperti memilki perasaan ganda, atau memang Johannes saja yang memiliki kepribadian ganda.

Ah, Johannes bilang, bahwa ia memang memiliki wanita yang ia sayangi sejak awal jauh dari sebelum Tama datang di kehidupan Johannes.

Tetapi, satu yang Johannes lupa, Tama jauh lebih dulu datang di kehidupan Johannes.

Bahkan tanpa Johannes sadar, lelaki bernama Adhitama Bagaskara, lebih dulu singgah di hati miliknya, sejak kecil.

Lelaki yang ia tangisi kepergiannya sampai pingsan. Lelaki itu bernama Adhitama Bagaskara.

Sayang, Johannes lupa dan tidak tau. semua ucapan pedasnya dulu, hanya untuk cari perhatian.

Sayang, johannes tidak tahu, bahwa lelaki itu sekarang sudah ada di depannya.

Tujuh bulan, menjadi suaminya.

Setelah mendengar jawaban dari Johannes, Tama hanya tersenyum. “Sebaik apasih, wanita itu, aku mau tau, kenapa kamu sampai masih setia sama dia disaat kamu sendiri udah nikah secara resmi selama tujuh bulan.”

“Jangan berbicara yang tidak tidak, Tama.”

Tidak, hatinya sama sekali tidak sakit. Sudah Tama bilang, dia ini banteng, bisa menyeruduk. Jika itu cara main Johannes, maka tama akan memperlihatkan cara mainnya.

Tujuh bulan, Tama rasanya bingung, perasaannya campur aduk. Tetapi Tama bukan lelaki yang bisa terus ditindas oleh Johannes.

Maka dari itu, tujuh bulan, Tama akan memperlihatkan cara mainnya, pada Johannes. Si keras kepala dan mulut pedas.


@roseschies


Pagi ini Tama bangun dari tidurnya secara tidak terhormat. Tiba-tiba saja tubuh Tama terasa didorong membuat lelaki itu tersentak dari tidurnya.

Tama membuka kedua matanya pelan kemudian melihat kebelakangnya dimana Johannes sedang melihat kearahnya dengan tatapan tidak suka.

“Ada apa sih masih pagi.” Ucap Tama sambil memandang Johannes sebal karena pinggangnya yang tiba-tiba didorong.

“Kamu ngapain peluk peluk saya?!” tukas Johannes kemudian ia berdiri di samping kasurnya sambil masih menatap Tama tidak suka.

Tama memutarkan bola matanya kemudian duduk di kasur, kembali menatap Johannes.

“Lo tuh yang meluk gue! Kenapa? Enak kan meluk gue?? Baru tau lo.” Tama mencibir Johannes sedangkan yang dicibir tidak percaya bahwa dirinya yang memeluk lelaki mungil itu.

“Adhitama. Kamu ngga sopan sama suami kamu.”

“Sopan sopan, hih lo ngomong gitu suka ngaca nggak sih?”

“Adhitama.” Tegas Johannes membuat Tama mendengis kesal. Terserah, ia tidak ingin membuang tenaganya dipagi hari yang cerah ini meskipun sudah terlihat suram.

Tama kembali menidurkan tubuhnya di kasur lalu mengambil ponselnya, membiarkan Johannes yang sedang ke toilet entah untuk apa Tama tidak peduli.

Tak lama kemudian Johannes keluar dari kamar mandi lalu menatap Tama yang masih cekikikan dengan ponselnya.

“Adhitama.”

“Adhitama.”

Panggilan kedua Tama belum juga menjawab panggilan Johannes membuat Johannes mendekat kearah Tama yang masih sibuk dengan ponselnya, bertukar pesan sama dua temannya.

“Adhitama. Kamu ini begini ya ternyata.”

“Apaansih Mas??!”

“Kamu bukan suami yang baik. Kenapa kamu masih tiduran dan mainan ponsel bukannya nyiapin makanan buat saya?”

Ucapan Johannes membuat Tama menatap Johannes aneh.

“Itu tugas kamu Adhitama. Untuk apa kamu di rumah ini kalau hanya tiduran dan bermain dengan ponselmu?? Rumah ini bukan hotel. Saya suami kamu.”

Sedangkan Tama udah bernyenye ria, dasar orang gila banyak mau. Giliran begini, bisa bawa bawa suami kamu suami kamu.

Tama tidak membuka mulutnya sama sekali lalu langsung keluar dari kamar untuk menyiapkan makanan dirinya dan Johannes.

“Tai lo tai. Lo juga suami gue, dasar orang aneh!” Teriak Tama sampai menggema diseisi lorong rumah yang sedang ia lewati.

Sedangkan Johannes yang sedang berjalan tidak jauh dari Tama langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Adhitama, saya dengar.”

“Bagus lah, gue kira lo udah tuli atau pendengaran lo rusak kayak akal sehat lo, rusak.”

Tiba-tiba saja tangan Tama ditarik oleh Johannes membuat lelaki itu limbung dan tak sengaja setengah memeluk Johannes.

“Saya nggak suka dengar kamu berbicara sekasar itu, Adhitama. Yang sopan.”

Lengan Tama dicengkram keras oleh Johannes membuat lelaki mungil itu meringis kesakitan.

Johannes itu sadar nggak sih tenaganya besar sekali.

“Sakit. Lepas!” Ucap Tama lalu menarik lengannya sampai terlepas dari cengkraman Johannes dan meninggalkan kemerahan disekitarnya.

Sebelum Tama melanjutkan jalannya menuju meja makan, Tama kembali membalikkan tubuhnya lalu menunjuk Johannes tepat di wajah lelaki itu.

“Denger ya, Johannes. Sebelum lo ngomongin tentang sopan santun, sebaiknya lo nilai diri lo sendiri, apa lo udah sesopan itu ke orang lain? Terutama gue, SUAMI LO. JOHANNES.”

“ADHITAMA.”

Tama langsung mempercepat langkahnya menuju meja makan meninggalkan Johannes yang sepertinya semakin jengkel dengan lelaki mungil itu.


Sepasang suami itu dengan khidmat memakan makanan masing-masing di meja makan tanpa suara sedikit pun. Bahkan hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang terdengar nyaring mengisi seisi meja makan.

“Ini kamu yang masak?” Tanya Johannes setelah membalikkan garpu dan sendoknya diatas piring tanda ia sudah selesai makan.

Tama mengangguk, lelaki itu masih sibuk memakan makanan miliknya.

“Rasanya biasa saja.” Ucap Johannes lalu bangun dari duduknya mengambil ponselnya dari saku celana kemudian mengangkat telepon yang masuk di ponselnya dan meninggalkan Tama yang sudah membidik sasaran pisau yang tepat dengan sasarannya, Johannes.

“Biasa aja biasa aja, tapi abis. BILANG MAKASIH KEK LO WOI. ASTAGA BOTAK GUE LAMA LAMA. AWAS AJA GAK GUE MASAKIN BESOK BESOK BIARIN LO MATI KELAPERAN!!!!!” Teriak Tama menggema namun Johannes sudah lebih dulu berada di ruangan lain, menerima panggilan dari seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Amanda.

Bener. Mulut pedes Johannes, sangat mirip dengan mulut pedes Evano.


@roseschies.

Tama terus merasa resah di tempat tidurnya itu, ia berkali-kali hanya kesana kemari mencari posisi pas untuk dirinya di tempat tidur barunya.

Sesuai dengan pesan yang diberikan Johannes tadi, Johannes benar-benar tidak pulang bahkan sampai jam 12 malam saat ini. Tama tidak peduli, bahkan ia tidak penasaran dimana Johannes berada.

“Kata Mama, gue disuruh jadi suami yang baik buat Johan. Gimana ya, gimana caranya. Gue aja ketemu sama Johan bisa diitung pake jari padahal udah kayak mau seminggu gue sama dia jadi sepasang suami.”

“Bikinin sarapan gitu ya jadi suami baik? Lah, pagi pagi aja gue udah ngga liat batang idungnya si Johan.”

“Mandiin si Johan termasuk jadi suami baik ga sih? Pengen gue guyur pake air panas biar mendidih itu sebadan-badan.”

“Kok gue jadi kayak suami yang jahat si. Ngga boleh Tama, lo itu baik hati dan menggemaskan. Ngga boleh gitu.”

“Apaansih, gue menjijikan sekali. Udahlah gue tidur aja. Masalah jadi suami yang baik buat Johan biar gue pikirin kedepannya.”

Setelah bermonolog sambil menatap langit-langit kamarnya, akhirnya Tama memutuskan untuk menutup matanya, menjemput mimpinya.

Namun, bibirnya kembali bergumam, “Johannes... Gue masih ngga percaya, lo itu Evano..”

“ARRRGGGH” Tama berteriak frustasi rasanya ia ingin membanting semua barang yang ada di kamar ini.

Dari sekian banyak orang, kenapa harus Evano itu Johannes?!

Tama menghela nafas kemudian kembali menutup matanya. Dia harus tidur, ini sudah jam berapa, besok pagi ia harus kembali bekerja.

“Eh, lupa, gue kan udah resign disuruh Mama. TERUS BESOK PAGI GUE NGAPAIN ANJING. PENGANGGURAN BANGET GUE.”

Sudahlah, besok pagi biarkan menjadi pikiran besok, malam ini, Tama harus tidur.


Tepat pukul jam tiga pagi lewat, Johannes membuka pintu kamar dirinya dengan Tama.

Akhirnya, Johannes benar-benar menapaki kakinya di rumah ini. Rumahnya dengan Tama setelah tadi pagi tanpa basa basi ia langsung lari menuju apartemen kekasihnya, Amanda.

Dengan kepala yang sedikit pusing, Johannes menutup pintunya pelan kemudian berjalan sempoyong menuju kasur tanpa terlebih dahulu mengganti bajunya.

Tidak peduli dengan bau alkohol dan rokok yang masih menempel di tubuh dan bajunya itu, Johannes langsung menidurkan tubuh di kasur.

Johannes masih sedikit mabuk, sepertinya ia lupa fakta bahwa ada lelaki mungil di kasur yang sama dengannya.

Kepala Johannes rasanya ingin pecah, masalah dengan Amanda kali ini rasanya sedikit lebih rumit. Wanita itu ngamuk ketika tau akhirnya Johannes menikah dengan Tama. Berkali-kali Johannes menjelaskan pada Amanda, berkali-kali juga Amanda membentak Johannes.

Johannes membalikkan tubuhnya lalu memeluk tubuh yang ada di sampingnya- tubuh Tama yang sedang tertidur.

Lengan kekar itu memeluk tubuh mungil milik Tama tanpa sadar kalau yang ia peluk itu Adhitama Bagaskara.

Johannes mendekatkan tubuh ke punggung Tama, memberi sedikit kecupan kecil di sana.

Sedangkan Tama yang sebenarnya terbangun akibat merasakan seseorang yang tiba-tiba tertidur dan memeluknya langsung terdiam.

Demi Tuhan, Tama tidak bohong, jantungnya berdebar, lelaki itu deg-degan, sungguh.

Johannes terus menerus memberi kecupan kecil dipunggung Tama, Tama terus-terusan menutup matanya, mengabaikan kecupan yang diberikan oleh Johannes.

Bau alkohol menyeruak dari sampingnya membuat Tama sadar, Johannes masih mabuk. Pantas.

Tetapi, TIDAK BEGINI DONG. Sudah dibilang, Tama itu, lemah. Jangan seperti ini, berhenti mengecupi punggungnya.

Entah seperti mendengar racauan batin Tama, Johannes memberhentikan kecupannya lalu kembali memeluk erat tubuh mungil milik Tama.

Johannes mendekap tubuh itu seperti tidak ingin kehilangan barang sedetikpun.

Johan, jangan begini, sana pergi, yang jauh.

Berbeda dengan batinnya, pelukan ini mengingatkan akan sesuatu.

Benar, ini Evano.

Hangatnya pelukan Johannes, sama persis dengan hangatnya pelukan lelaki beberapa puluh tahun lalu yang memeluk dirinya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pindah rumah.

Fuck you, Johannes.

Akhirnya, Tama menutup matanya, mengabaikan jantungnya yang terus berdebar dan mengabaikan lengan kekar yang masih setia melingkar pada tubuhnya. Mengabaikan Johannes, yang bertingkah seperti orang aneh.


@roseschies


Ketukan pintu menyapa pagi hari Tama yang rasanya Tama tidak ingin bangun dari tidurnya setelah mengingat fakta bahwa mulai hari ini Tama sudah resmi menjadi suami dari Johannes.

Namun ketukan pintu terus terdengar dibarengi dengan suara yang sangat familiar di kuping Tama. Suara Mamanya.

“Tama.. Nak??”

Iya saat ini Tama masih di rumah Mamanya, Tama dan mungkin Johannes akan pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan oleh Papa Johannes lusa besok.

Tama buru-buru membuka pintu lalu terpampang wajah cantik dari Mamanya yang terlihat sedikit panik di sana.

“Loh, Tama kok sendirian?? Johan kemana Nak??” Tanya Mama sambil celingak-celinguk melihat ke dalam kamar anaknya yang tak terlihat sedikitpun batang hidung Johannes.

Tama sedikit tertawa kemudian menggedikkan bahunya, “Ngga tau. Johan semalem bilang mau keluar, tapi belum pulang, kali.”

Tama dapat mendengar helaan nafas Mama di sana.

“Tama...”

“Noo, it's okay Ma. Johan pasti pulang, mungkin nanti. Mama ngga usah khawatir ya? Urusan Johan, biar Tama yang selesaikan. Mama banyak istirahat, pasti capek kemarin habis ngobrol banyak sama rekan rekan Mama.” Ucap Tama menenangkan Mamanya itu.

Tama yakin, Papa Johannes sebelumnya sudah lebih dulu memberi pesan untuk Mamanya, wajah panik Mama sewaktu Tama membukakan pintu tercetak jelas. Pasti, tentang Johannes.

Mama mendudukkan dirinya di sofa yang ada di dalam kamar Tama sedangkan Tama sibuk merapihkan tempat tidurnya setelah ia pakai semalaman.

Kenapa Tama rasanya seperti duda ya..... Padahal baru saja menikah kemarin.

“Tama, tama beneran ngga kenal sama Johannes?” Tanya Mama tiba-tiba membuat Tama memberhentikan aktifitas bebersihnya itu lalu menengok sedikit kearah Mama yang sedang memangku sesuatu di atas pahanya.

Tama menggelengkan kepalanya.

“Ngga Ma. Tama mana pernah kenal sama orang yang ngga tau soapn santun tapi selalu ngomongin sopan santun ke Tama. Duh Ma, sebenernya Tama masih clueless sampai sekarang, kok Mama bisa-bisanya jodohin Tama sama orang kayak dia sih??” Jawaban Tama di dengar baik oleh Mama membuat wanita tersebut menunduk sedikit.

Oh, ditambah fakta, bahkan baru hari pertama setelah menikah, Tama sudah ditinggal semalaman oleh Johannes.

“Tama, sini, duduk sebelah Mama.” Ucap Mama lalu menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya, sedangkan Tama hanya bisa menurut lalu duduk tepat di sebelah Mamanya.

Mama mulai membuka buku besar yang sejak tadi ada di pangkuannya itu membuat Tama semakin penasaran, ada apa sih.

Itu ternyata album foto masa kecil Tama dan beberapa kenangan yang tersisa milik Tama sewaktu dirinya masih tinggal di kota yang sebenarnya Tama tidak ingin mengingat lagi.

“Ma, kenapa buka ini lagi?” Tanya Tama, meminta penjelasan lebih dari sang Mama.

Mama tersenyum kecil kemudian menatap anak satu-satunya itu lalu mengelus satu buah foto.

Di sana terlihat dua anak kecil sedang bergandeng tangan, meskipun tidak terlihat wajahnya, tetap sepertinya seisi dunia tau bahwa keduanya sedang berbagi rasa yang dinamakan kebahagiaan.

“Tama ingat ini Tama foto sama siapa?”

Tama mengangguk, bagaimana bisa ia melupakan orang tersebut.

“Tama, dengerin Mama ya? Sekaget apapun Tama, tunggu sampai Mama selesai bicara, ya sayang??”

Tama lagi-lagi hanya mengangguk patuh.

“Ini, Johannes. Johannes, suami Tama sekarang.” Ucap Mama sambil menunjuk foto tersebut, menunjuk tangan lelaki yang sedang bergandengan dengan dirinya di masa kecil lalu.

Tama tentu tidak bisa menutupi keterkejutannnya itu.

“Tama, awalnya Mama juga ngga ingat kalau Johannes ini, sama dengan lelaki yang sudah berpuluh tahun Tama cari keberadaannya. Awalnya, Mama dan Papa Johan pertama kali ketemu, kita berdua sama sekali tidak ingat.”

“Tapi satu yang Mama ingat. Nama belakang Johan. Pradipta.”

Tama memijit pelipisnya pelan. Benar, Tama bahkan lupa bahw faktanya nama belakang Johan adalah Pradipta.

Nama belakang yang sama dengan lelaki yang sudah Tama cari sejak berpuluh tahun lamanya.

Lelaki bernama Evano.

“Ma....”

“Iya sayang, dia, dia Johannes Evano Pradipta, sama dengan orang yang ini, orang yang sedang bergandengan tangan sama kamu di sini.” Ucap Mama sambil kembali menunjuk foto tersebut sedangkan Tama masih sibuk dengan keterkejutannya yang tiada henti.

“Ma, jangan bercanda.”

“Emang dia ngga mirip??”

“NGGAK MAA????”

Namun sedetik kemudian Tama sadar akan sesuatu.

“Ma...”

“Mama bener. Mama bener. Iya, itu Johannes Evano Pradipta yang sama dengan Tama kenal, si lelaki keras kepala.”

Fakta yang tidak akan pernah Tama lupakan. Mulut pedas dan keras kepala Evano—maksudnya Johannes kecil dulu, sama persis dengan Johannes Pradipta, suaminya saat ini.

Tama rasanya bingung ingin senang atau sedih atau bahkan takut. Semuanya berkeliling di kepala Tama.

“Ma , kenapa dia ngapus nama Evano dari namanya??”

“Tama, Evano itu cuma nama kecil Johan. Dan memang setelah kepergian kita dari kota tersebut, Papanya Johannes memutuskan buat copot nama Evano dari nama Johan.”

Satu hal lain lagi yang perlu Tama ingat. Sejak dulu kecil, ia sama sekali tidak tau nama Johannes selain Evano dan Pradipta.

Tama hanya mengenal, Evano, teman kecilnya.


@roseschies


Di sinilah Johannes berada saat ini,

Ruangan Papa.

Saat ini Johannes sedang berdiri di depan meja Papa, menunggu Papanya berbicara padanya. Katanya, pembicaraan serius.

“Anes, lihat.” Papa memberikan satu lembar foto pada Johannes, di sana terdapat foto seorang lelaki asing di mata Johannes membuat lelaki itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Anes mau nggak sama dia?”

“Maksud Papa?” Tanya Johannes, ia bingung.

“Dia, jadi suami Anes.”

“Anes, mau ya Papa jodohkan dengan dia?”

Johannes sedikit melotot mendengar ucapan sang Papa, “Papa tau Anes udah punya pacar.”

“Anes, mau ya Papa jodohkan dengan dia? Dia baik kok, anaknya sangat baik juga ceria.”

“Papa, Anes udah punya pacar. Anes sayang sama pacar Anes.” Ucapan sang Papa bahkan tidak di dengar oleh Johannes, lelaki itu bersikukuh dengan pendiriannya.

“Buktikan.” Ucap Papa. Johannes tentu tau apa yang dimaksud oleh Papanya. Pembuktian untuk hubungannya. Menikahi kekasihnya.

“Papa, Papa tau, Anes udah pernah bahas ini. Amanda minta waktu lebih untuk sampai ke titik itu.”

“Yasudah, kalau gitu lebih baik Papa jodohkan Anes dengan dia.”

“Hubungan kamu, mau dibawa kemana? Umurmu itu nggak terus diam segitu segitu aja, Papa juga udah semakin tua Anes. Terima permintaan Papa putusin pacar kamu itu.”

“PAPA!” Suara Johannes meninggi ketika mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh sang Papa.

“Papa kalau emang nggak suka sama hubungan Anes dan Amanda jangan sampai kayak gini. Anes sama Amanda udah 3 tahun jalin hubungan dan Anes merasa kita berdua baik-baik aja.” Ucap Johannes dengan nada yang terdengar sedikit frustasi.

Papa bangun dari tempat duduknya lalu menatap Johannes yang ada di depannya, “Johannes, Papa nggak minta banyak-”

“Itu banyak Pa????” Sela Johannes bahkan sebelum Papanya selesai berbicara membuat Papa meninggikan suaranya dengan lantang, “JOHANNES.”

“Anes, selama ini kamu nggak dengerin Papa, Papa nggak peduli. Tapi sekali ini aja, tolong iyakan keinginan Papa, Papa janji ini permintaan terakhir Papa buat kamu.” Lanjut Papa kemudian menepuk pundak anaknya itu, meminta pertolongan sekali ini saja dalam hidupnya, Papa benar-benar tidak pernah meminta banyak pada Johannes.

Tapi, kali ini, tolong, Johannes.

Mata milik Papa sudah sangat sayu, lelaki itu benar-benar meminta pada Johannes.

Tapi, sekali lagi, Johannes tetaplah Johannes.

Lelaki itu membalikkan tubuhnya kemudian berjalan keluar dari ruangan Papa dan membanting pintu ruangan tersebut membuat suara debaman berdentum di seisi ruangan.

Papa hanya bisa menghela nafas dan memijit pelipisnya kemudian kembali duduk dan menatap bingkai yang selalu ada di meja ruangannya itu. Papa mengelus pelan bingkai foto tersebut.

“Anakmu, nggak pernah berubah, selalu keras kepala. Aku harus pakai cara apa lagi, Hanna.” Monolog Papa, mengadu pada sang isteri meskipun hanya melalui foto usang yang selalu dijaga oleh Papa.


Beberapa minggu kemudian, Johannes tiba-tiba mendapat satu pesan dari Papa yang memintanya untuk datang ke suatu tempat yang tak jauh dari kantornya itu.

Di sana, Papa bilang jika ia ingin membahas sesuatu dengan Johannes. Maka dari itu, Johannes langsung membawa tas kantornya lalu langsung menuju tempat yang sudah Papanya berikan. Mungkin tentang kantor, pikirnya.

Sesampainya Johannes di tempat tersebut, lelaki itu sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan Papanya.

Johannes baru saja ingin mengambil ponselnya yang ada di saku celananya untuk menelpon sang Papa namun sudah lebih dulu Papanya mendatangi dirinya.

“Ayo sini Nak.” Ajak Papa untuk masuk ke dalam rumah yang lumayan besar. Bahkan Johannes tidak tau ini rumah siapa dan untuk apa Papanya membahas sesuatu dengan dirinya di rumah seseorang.

Atau jangan-jangan ini memang rumah lain milik Papanya? Johannes tidak tau namun tetap mengekor di belakang Papanya.

Sesampainya Johannes di ruang makan, wajah Johannes memerah akibat kesal dengan sang Papa.

Ini bukan membahas sesuatu tentang kantor, tetapi pertemuan antar dua keluarga.

Iya, keluarga dirinya dengan keluarga lelaki yang ada di foto beberapa minggu lalu Papanya beri pada dirinya.

Dan disanalah lelaki tersebut duduk berdampingan dengan seorang wanita paruh baya yang tersenyum kearahnya.

“Johannes, duduk dulu.”

“PA?!” Seperti tak tau tata krama, Johannes kembali meninggikan suaranya pada Papanya itu di depan keluarga orang lain.

“Johannes. Jangan kayak anak kecil.” Suara Papa menekan semua ucapan yang keluar, memaksa Johannes untuk sekali ini saja nurut dengannya.

Pada akhirnya Johannes duduk di sebelah Papanya sambil merutuki Papanya dalam hati.

Yang anak kecil gue atau papa sih.


Setelah berbincang satu sama lain, tentu Johannes hanya berdeham terus-terusan tanpa menjawab panjang pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

“Tama, ajak Johan ke belakang gih, ngobrol berdua biar makin kenal satu sama lain.” Bujuk Mama Tama membuat Tama mendengus, yang benar saja Mamanya ini menyuruh Tama untuk berdua bersama Johannes?

“Nak, ya?” Bujuk Mamanya lagi membuat Tama mau tidak mau berdiri dan mengangguk, menerima permintaan Mamanya itu.

Tanpa ucapan yang keluar dari mulut Tama, Tama mengajak Johannes untuk mengikuti dirinya ke belakang.

Sebelum Papanya kembali menyuruhnya, Johannes lebih dulu mengangkat tubuhnya berdiri dari tempat duduk lalu mengikuti langkah Tama.

Setidaknya, Johannes bisa jauh dari pembicaraan tidak bermutu yang ada di meja makan, pikir Johannes.

Tama mendudukkan dirinya di bangku panjang yang ada di taman belakang rumahnya, membiarkan Johannes yang masih berdiri di dekat pintu taman belakang.

Johannes mendekat kearah Tama yang sedang duduk membuat Tama mendongak untuk melihat Johannes yang ada di depannya sedang berdiri menatap dirinya.

“Jangan berharap saya bahagia meskipun saya menerima ini semua, Adhitama. Saya hanya terpaksa.”

Setelahnya Johannes menjauh dari Tama lalu merogoh ponselnya yang ada di saku celananya untuk menelpon kekasihnya.

Sedangkan Tama hanya bisa menggeleng lalu tersenyum miring melihat Johannes yang sedang berdiri tidak jauh darinya sambil tertawa kecil berbicara dengan seseorang yang tidak Tama tau di telepon.


@roseschies

Beberapa minggu belakangan ini, Ten sangat suka mendatangi taman yang tak jauh dari tempat yang ia singgahi untuk sementara waktu ini. Selain memang Ten yang menyukai atmosfer taman tersebut, bagi Kun dan Doyoung hal tersebut menjadi poin plus untuk Ten sebagai tempat Ten mendapatkan udara segar sembari healing untuk dirinya sendiri.

Pepohonan dan bunga-bunga bermekaran memanjakan indera penglihatan Ten. Sekali lagi, Ten menyukainya.

Hari ini, setelah beberapa hari lalu Johnny mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal akhirnya Johnny menapaki taman yang bisa dibilang jaraknya lumayan jauh dari kantornya.

Entah apa yang membawa Johnny percaya dengan nomor tidak dikenal itu, Johnny perlahan keluar dari mobilnya yang sudah terparkir rapih diparkiran tak jauh dari taman tersebut.

Menengok kesana kemari, menikmati pemandangan yang dapat memanjakan indera penglihatan Johnny.

Johnny mengambil ponselnya yang sebelumnya ia kantongi di kantong celananya, lalu mencari pesan dari nomor yang tidak dikenal itu, memberi tahu bahwa dirinya sudah sampai ditempat yang seseorang itu maksud.

Namun, pesannya di sana berwarna merah, tidak terkirim.

Johnny rasanya ingin marah, tetapi memang salah dirinya yang terlalu percaya dengan nomor yang tidak sama sekali ia kenal.

Tapi, Johnny urung kembali amarahnya, ia sedikit berterima kasih kepada seseorang itu, berkatnya Johnny bisa menemukan taman secantik ini.

Akhirnya, Johnny menikmati waktunya itu di taman tersebut. Menghabiskan sore harinya di sana.

Disaat lelaki tinggi itu sedang menikmati waktunya, melihat-lihat bunga yang ada di sekitar sana, matanya tak sengaja melihat postur seorang lelaki yang sangat ia kenal sedang berjongkok.

Lantas, kakinya yang seperti tidak tahu diri itu langsung mendekat, untuk memastikan, sekali lagi.

Belum juga Johnny sampai di sana, Johnny dengan mata kepalanya sendiri, Johnny sudah bisa memastikan, lelaki itu adalah lelaki yang sudah ia cari bertahun-tahun lamanya.

Lelaki mungil yang sedang berjongkok sambil mengelus tiga kucing liar yang sedang menjilati snack yang dibawakan oleh lelaki itu di tangannya.

Lelaki itu adalah Ten.

Lelaki yang sudah entah berapa tahun Johnny cari kepenjuru dunia namun tidak kunjung mendapatkan hasil sama sekali.

Terdengar hiperbola, tetapi benar adanya.

Lagi, dengan kakinya yang seperti tidak tahu diri, Johnny kembali mendekatkan dirinya dengan lelaki mungil itu sampai akhirnya saat ini Johnny sudah berdiri tepat dibelakang Ten yang sedang berjongkok.

“Ten....???”

Suaranya terdengar seperti tercekik, lehernya sangat berat rasanya untuk mengeluarkan sepatah kata. Entah akibat ia terlalu senang, atau dirinya yang terlalu takut untuk kembali menyapa lelaki mungil ini setelah bertahun-tahun.

Sedangkan, Ten yang sedang asyik mengelus bulu-bulu halus dari kucing liar yang baru saja ia beri makanan kecil langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa seseorang yang baru saja memanggil dirinya.

Ukiran senyum manis yang sebelumnya terukir indah di wajah Ten seketika menghilang menjadi tatapan bingung yang didapatkan Johnny dari Ten.

Ten perlahan membuka mulutnya,

“Siapa, ya???”

Pikiran Johnny rasanya seperti hilang, semua hilang. Lelaki itu terbingung tepat di depan Ten. Benarkah Ten tidak mengingat bahkan mengenal dirinya, sama sekali?? Batin Ten, terbingung dengan situasi yang ada.

Namun sekali lagi Johnny melihat kearah wajah Ten, lelaki itu tetap dengan wajah yang datar, sama seperti sebelumnya.

Ten membungkuk sedikit ke arah Johnny, “Permisi ya...” Kemudian meninggalkan Johnny dengan pertanyaan yang terus keluar dari kepalanya.

Johnny terdiam berdiri dengan pikirannya. Apa Ten amnesia dengan dirinya dan melupakannya?? Itu tidak mungkin, berpikirlah dengan benar Johnny. Monolognya.

Ten membalikkan tubuhnya setelah meninggalkan lelaki tinggi yang baru saja memanggil dirinya.

Johnny.

Benar, itu Johnny.

Ten sangat mengingat siapa lelaki itu, bahkan rasanya Ten tidak bisa dan tidak ada keinginan dalam dirinya untuk melupakan lelaki tinggi yang baru saja memanggil dirinya.

Dada miliknya terasa begitu menyakitkan. Sesak ia rasakan sendiri. Air matanya tanpa permisi perlahan turun ke pipi miliknya. Hatinya, sangat sakit. Sakit yang begitu menyakitkan untuk terus ia rasakan.

Ten, tidak benar-benar melupakan. Hanya saja, Ten memilih untuk berpura-pura lupa di depan Johnny

Ten takut, sangat takut semisal emosi miliknya memuncak dan lelaki itu berakhir bermain dengan tangannya untuk menampar atau memukul wajah Johnny meskipun semua orang tau bahkan dirinya tau, Johnny berhak mendapatkan itu semua.

Pada akhirnya, Ten memilih pilihan kain dan pergi dari taman tersebut lalu bersikeras meminta Kun dan Doyoung untuk segera pindah ke tempat yang lebih jauh lagi.

Dia tidak ingin bertemu dengan Johnny, lagi.

Menurut Ten, apa yang ia lakukan sudah menjadi yang terbaik bagi dirinya dan juga Johnny.

Menghindari interaksi dengan Johnny. Itu pilihan yang Ten pilih.

Bagi Ten, jika ada celah diantara keduanya, Ten tahu dang sangat tahu pasti Johnny akan terus mengucaokan kalimat maaf dan menjelaskan semua yang bagi dirinya hanya omong kosong belaka.

Ten lebih tahu dirinya dari siapapun. Ten tahu, dirinya sangat mudah untuk percaya dengan semua kata-kata orang.

Maka dari itu, untuk mencegah semuanya, Ten lebih memilih untuk bersikap bahwa seakan-akan dirinya, tidak mengingat satu pun hal yang ada di dunia ini.

Sedangkan dilain tempat, seseorang yang memang dengan sengaja menyuruh Johnny untuk datang ke taman tepat pada jam dimana Ten mendatangi taman tersebut sudah tersenyum kecil kemudian bergumam,

“Lo, berhak atas hal itu. Dimanapun lo berada, lo ngga akan pernah bisa bahagia, Johnny. Bayang-bayang dan semua memori lo dan Ten, akan terus menghantui. Terima kasih, untuk sakit yang udah lo berikan ke lelaki mungil yang udah gue dan Kun jaga sejak dulu. Tidak akan ada sampai jumpa lainnya lagi dari gue, Kun, juga Ten. Gue harap, bahagia lo, semua tertutup.”

Kemudian Doyoung meninggalkan tempat tersebut lalu bergegas untuk kembali ke rumah singgahnya bersama dengan Kun dan Ten.

ngungsi

Tanpa menunggu jawaban dari Hendery, Haechan langsung buru-buru membawa bantal dan guling miliknya lalu meninggalkan kamarnya.

Haechan mengetuk kamar Hendery lalu masuk tanpa menunggu si pemilik menjawab ketukannya.

Hendery yang sedang tiduran diatas kasurnya bingung melihat adiknya yang masuk ke dalam kamarnya sambil membawa bantal dan guling.

“Heh ngapain lo?”

“Gue tidur sini bangg.” Haechan langsung mendorong tubuh Hendery sedikit kemudian menidurkan tubuhnya di lapak kosong yang ada di sebelah Hendery.

“Weehhh apaan ini weehh penjajahan!!!” Ucap Hendery lalu mendorong sedikit tubuh adiknya, bermaksud mengusir Haechan dari kamarnya.

Namun, Haechan sudah memeluk gulingnya kemudian menarik selimut, berbagi dengan Hendery.

Haechan menggeser kembali tubuhnya dempet dengan Hendery.

“Ihh anjiirr udah menjajaahh, maruk tempat lagi lo. Sanaan woi deee sempiiitt anjiirrr.” Misuh Hendery kemudian mendorong lengan adiknya pelan.

Hendery tau kok, adiknya pasti takut dan kebayang film tadi.

“Tadi ajaa sok berani, giliran gini langsung ciuuuttt.” Ledek Hendery membuat Haechan memukul Hwndery pakai guling miliknya.

“Ihh diem bangg, hari ini doanggg.” Ucap Haechan kemudian kembali memeluk gulingnya dan mendekat kearah Hendery.

“Dih yaudah, kalo lo jatoh gue ngga tanggungjawab, kasur gue kecil, lo tidur udah kayak baling baling.” Ucap Hendery kemudian membalikkan tubuhnya berbeda arah.

“Biarin gaadaa yang nyuruh babang tanggung jawab.” Jawab Haechan dengan mata tertutup.

“Kalo lo gue tendang pas tidur, biarin aja ya.”

“Bilang aja lo udah punya niat baangggg. Ihh seharii doangggg, babang mah.”

Hendery tertawa, seneng dia liat adiknya begini. Lagian, udah tau penakut, masih aja dipaksa.

Sebenernya salah Hendery juga, yang ngajak nonton horror, udah tau adiknya itu penakut.

Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus masuk ke kuping Hendery.

Hendery melihat kearah sebelahnya dimana Haechan ternyata sudah tertidur pulas. Adiknya ini sepertinya memang sudah ngantuk sejak tadi, tetapi ia tidak bisa tidur karena takut.

Hendery berdiri dari kasurnya kemudian membawa satu guling tambahan yang ada di kamarnya, biasa untuk tamu yang nginap di kamarnya (Dibaca: anak anak sugus.) lalu membawa guling itu untuk ia letakkan dipinggir kasur dekat tubuh Haechan.

Supaya adiknya tidak jatuh, pikirnya.

Hendery ini tau diri, yang tidur nendang sana sini dan seperti baling-baling itu dirinya, bukan adiknya.


@roseschies

just two of us

Sebelum akhirnya Ten mematikan ponselnya, ia sempatkan untuk melihat pertengkaran antara dua anaknya di grup terlebih dahulu lalu mematikan ponselnya sambil terkekeh, pasti abangnya habis ngeledekin adiknya.

“Kamu udah liat grup belum Jo?” Ucap Ten lalu menidurkan tubuhnya di kasur sedangkan Johnny masih memakai handuk dengan tubuh bagian atas yang masih telanjang tanpa baju, hanya saja sudah menggunakan celana tidur.

Johnny menggeleng, “Kenapa emang yang?”

“Si babang kayaknya ngeledekin dede lagi. Soalnya si dede tumbenan takut matiin lampu bawah.” Ucap Ten kemudian menarik selimut untuk menutupi setengah tubuhnya, rasanya hangat dan nyaman.

Johnny tertawa, “Paling diajakin nonton horror tadi pas main. Emang si babang tuh, padahal kalo dedenya takut, yang diribetin dia juga.”

Ten mengangguk setuju, karena keduanya selalu begitu, “Mereka tuh ada ada aja emang.”

“Hahaha, gapapa anak-anak kita kan emang luar biasa, kelakuannya.” Ucap Johnny lalu mengalungkan handuknya di leher kemudian duduk di kasur dan menyenderkan tubuhnya di kepala kasur.

Ten menghadapkan tubuhnya ke arah Johnny lalu mencubit perut Johnny, “Ih pake baju Jo, kamu ngga kedinginan apa? Mana keramas lagi.”

Johnny menggeleng, tetesan air masih sedikit menetes dari rambut Johnny, tubuhnya masih dibiarkan tanpa sehelai benang.

Johnny masih sibuk membalas beberapa chat rekannya dan berbincang dengan kedua temannya, membahas kegiatan untuk besok sebenarnya dan Ten tak ada masalah jika dirinya dicuekin, karena Ten tau, Johnny sedang mengurus kerjaannya.

Ten akhirnya membawa kepalanya untuk tidur diatas paha Johnny yang sedang selonjoran di atas kasur.

Melihat Ten yang tidur diatas pahanya, Johnny langsung membawa tangannya untuk mengelus surai lembut milik Ten. “Kamu nggak cape yang?”

Ten menggeleng, “Ngga kok, kalau aku capek, kamu apa? Yang daritadi banyak kerjaan kan kamu, aku cuma motret, terus berakhir ke cafe hehehe.”

Johnny kemudian mencubit gemas hidung Ten lalu kembali mengusap kening dan rambut Ten. “Gapapa yang penting kamu seneng dan ngga capek.”

Mata milik Ten sudah mulai menutup pelan-pelan seiring dengan elusan yang diberikan Johnny di kepalanya.

“Sayang.”

“Hm?”

Johnny meletakkan ponselnya lalu menatap wajah suami mungilnya kemudian membawa tangan satunya untuk ia letakkan diatas perut Ten sedangkan tangan satunya tidak berhenti mengelus surai milik Ten.

“Gapapa, manggil aja.”

Ucapan Johnny membuat Ten membawa tangannya untuk mencubit pinggang milik Johnny.

“Aduh! sakit yang ihh, ngga pake baju nih jadi langsung kena kulit.” Johnny mengaduh kesakitan padahal mah cuma geli aja.

“Pake baju ah Jo, masuk angin kamu tuhh.” Omel Ten kemudian membuka matanya, tak disangka wajah Johnny sudah dekat dengan wajahnya. Johnny sibuk melihat wajah suami mungilnya itu.

Johnny mengelus kening, pipi, sampai hidung, dan berakhir di dagu Ten, “Sempurna.”

Ten langsung buru-buru mencubit kembali pinggang Johnny lalu membalikkan tubuhnya, menghindari tatapan mata Johnny, pipinya memanas, malu dia tuh meskipun udah berpuluh tahun juga. Siapa sih yang ngga lemah ditatap oleh seorang Johnny Suh?!

“Pake bajuu ih Johnnyyyy bukan gombal!”

Johnny terkekeh, “Iyaiya sayang, ini aku mau ganti baju tapi kamunya boboan diatas paha aku gimana berdirinya?”

Ten langsung berpindah tempat lagi lalu Johnny berdiri untuk mengambil piyama atasannya kemudian ia pakai sambil jalan kembali ke arah kasur.

Setelah terpasang semua kancing, Johnny menidurkan tubuhnya diatas kasur.

Johnny melebarkan tangan kirinya kemudian menyuruh Ten untuk menidurkan kepalanya diatas tangannya. “Sini, boboan di sini. Jadi bantal kamu.”

Ten langsung membawa kepalanya untuk tidur diatas tangan Johnny yang akan menjadi bantalnya malam ini.

Ten kembali menghadapkan tubuhnya menghadap ke arah Johnny, Johnny kemudian merangkul Ten, membawanya ke dalam dekapan hangat tubuhnya.

“Tidur, sayang.” Ucap Johnny kemudian mengelus punggung Ten.

“Hmm,” Ten menghirup aroma tubuh Johnny dalam dalam, sangat nyaman. Ia sangat menyukai posisi tidur seperti ini, tentu Johnny hapal betul.

Sebagai penutup hari, Ten mengecup dagu Johnny sedangkan Johnny membalas dengan mengecup pucuk kepala Ten.


@roseschies

main

Saat ini keenam lelaki tersebut sedang bermain Jenga untuk memecah kesunyian diantara mereka sambil memakan cemilan yang sebelumnya di bawa oleh Jaemin dan Dejun.

“Hayoloh hayolohh njun, eettt lo udah megang yang itu enak aja gak bisa lah ganti blocknya!” Seru Haechan menahan tangan Renjun yang baru saja ingin menarik block lain karena block yang sebelumnya ia tarik sepertinya salah strategi.

“Anjirlaahhh itu mau jatohh.” Balas Renjun kemudian menepis tangan Haechan sedangkan Yangyang tertawa lalu dengan sengaja menarik tangan kembarannya untuk menarik cepat block yang sebelumnya ia pegang.

Alhasil Jenga tersebut roboh membuat Renjun berdecak kesal pada kembarannya.

“YANGYANG.” Renjun memukul lengan Yangyang membuat lelaki itu mengaduh kesakitan kemudian tertawa.

Jaemin dan Haechan langsung terbahak melihat Renjun yang kalah akibat Yangyang.

“Dihh, lo mah kalah kalah aja Njunn~” Ledek Yangyang membuat Renjun berdecak kesal pada kembarannya.

“HAHAHAHA ya lagian lo mau aja masih curang, padahal kalo langsung tarik pelan juga ngga akan roboh langsung Njunn.” Ucap Haechan lalu memungut semua block block yang berjatuhan.

Jaemin mengangguk setuju, “Asal fokus dan percaya, ngga akan jatoh sih kata gue.”

“Tuuh dengeriinn Rinjiinnn.” Ledek Yangyang.

“Berisik Yingying.”

Sedangkan Dejun dan Hendery yang sejak tadi sebenarnya ada di dalam lingkaran mereka hanya bisa terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya.

“Ohiya, Mas Dejun ujian masuk universitasnya kapan Mas?” Tanya Renjun tiba-tiba membuat Dejun mengangkat kepalanya untuk membalas pertanyaan Renjun.

“Minggu depan, Renjun.” Jawab Dejun membuat Hendery sedikif melotot, kok cepet banget udah mau ujian aja.

“Kok cepet banget Jun udah minggu depan? Gue pikir masih kapan..” Sambar Hendery membuat Dejun terkekeh.

“Udah minggu depan Hen..”

Hendery mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ohiya Hen, kalo lo masih nyimpen bank soal gitu ngga selain yang lo kasih?? Siapa tau bisa jadi tambahan gue.” Ucap Dejun membuat Hendery berfikir sedikit mengingat-ingat.

Hendery mengangguk, “Seinget gue masih ada dehh.”

“Bang, Mas, mau ikut ngga main uler tangga??” Ajak Haechan, menunggu Hendery dan Dejun menjawab.

“Lo mau lanjut main atau??” Tanya Hendery pada Dejun.

“Kalo gue liat bank soalnya sekarang, gapapa Hen?”

“Ya gapapa— Kalian lanjut main aja dulu, gue sama Dejun keatas bentar deh.. Yuk Jun.” Hendery berdiri dari duduknya lalu mengajak Dejun sedangkan adiknya itu hanya senyum senyum meledek dirinya.

“Ohhhh gitu yaaaa. Yaudah sana sana dehh, hati-hati Mas Dejun.” Ucap Haechan membuat Hendery memutarkan bola matanya malas.

“Lo pikir gue mau nyelakain Dejun?? Dah sana lanjut main uler tangganya.” Hendery langsung menarik tangan Dejun tak sadar membuat Dejun tersontak tiba-tiba badannya ditarik.

“Eh, sorry.” Ucap Hendery setelah dirinya sadar main memegang tangan orang sembarangan.

Dejun menggeleng, “Gapapa Hen.”

“Ohiya, soalnya ada di kamar gue, gapapa di kamar gue aja?”

“Gapapa Hen. Tapi, gapapa kan gue di kamar lo?”

“Ya gapapa Jun, yaudah yuk naik.”

Setelahnya Hendery dan Dejun naik ke lantai dua lalu menuju kamar Hendery yang berada di sebelah kiri berhadapan dengan kamar Haechan.

Momogi dan Yangyang lanjut bermain uler tangga di lantai bawah, mereka masih duduk di karpet dengan beberapa cemilan di samping kanan dan kiri.

“Hompimpa dulu, siapa yang jalan duluan.” Saran Renjun kemudian semuanya mengangguk.

Namun tiba-tiba ponsel Haechan bunyi menandakan seseorang menelpon dirinya, buru-buru Haechan lihat.

'Video Call, Jeno.'

Haechan langsung mengangkat vidcall tersebut dan terpampanglah wajah Jeno.

“Apaan Jen.” Tanya Haechan membuat yang lain bertanya-tanya.

Haechan menarik tempat tisu lalu meletakkan ponselnya dengan tempat tisu sebagai ganjalannya membuat semuanya dapat melihat wajah Jeno separuh dengan wajah Mark yang ikut-ikut.

Haechan tersenyum kecil sewaktu Mark menampakkan dirinya di sana.

“Lah ada Yangyang, woi bro.” Panggil Jeno setelah melihat Yangyang yang duduk di samping Renjun.

Yangyang melambaikan tangannya ke arah Jeno.

“Ngapain si Jen, rusuh ajaa lo, lagi mau main nih.” Sambar Renjun membuat Jeno menggeser kamera ponselnya kearah Mark.

“Ni manusia nyuruh vidcall ke Haechan.”

Mendengar hal itu, Renjun, Jaemin dan Yangyang langsung mencibir, “Dasar bucin.”

Jeno tertawa, padahal memang dirinya saja yang iseng tapi kakaknya yang jadi tumbal.

“Ngga kok ngga, itu emang Jeno aja yang mau nelpon. Katanya, kak telpon Haechan yuk, isengin pasti lagi pada main.”

Haechan mencibir Jeno, “Ga jelas lo Jen. Udah sini mainnya virtual aja, mau ga?”

“Boleh boleh.”

Akhirnya nambah satu pemain lain, Jeno. Meskipun Jeno melalui video call bersama Mark, namun mereka sepakat, permainan Jeno akan dibantu dengan Yangyang dan akan bermain adil.

“Hompimpa dulu, daritadi anjir gajadi jadi.” Ucap Renjun.

“Lo juga Jen, hompimpa ikutan. Itu internet ga lemot kan?”

“Kaga, yaudah buruan ayo hompimpa dulu.”

Akhirnya mereka semua hompimpa, meskipun berkali-kali mengulang karena Jeno yang kecepetan atau kadang kelamaan.

“MANA GA LEMOT ANJIR, DARITADI GA KELAR KELAR. Udahlah kita aja yang hompimpa buat ngatur mau mulai darimana terus lo ngikut aja aturannya.” Final Haechan akhirnya mereka semua sepakat dan Jeno hanya tinggal menunggu hasil akhir.

Debat mereka itu menghabiskan waktu hampir setengah jam sendiri, berakhir mereka bermain tepat pukul setengah tiga.

Sedangkan Hendery dan Dejun yang masih setia di dalam kamar Hendery sedang berkutat dengan soal soal yang ada di sana.

Keduanya juga baru mulai 15 menit setelah keduanya sampai di kamar Hendery.

Karena sejak awal masuk kamar Hendery, Dejun lebih dulu terpukau dengan koleksi gundam milik Hendery yang tertata rapih.

Awalnya, kalau boleh Dejun jujur, ia pikir kamar Hendery akan seperti kamar lelaki pada umumnya yang berantakan dengan celana di mana-mana.

Ternyata Dejun salah, kamar Hendery jauh lebih rapih dari perkiraannya. Ditambah, semua barang tertata dengan rapih, itu yang membuat Dejun terpukau.

Terakhir, kamar Hendery, wangi.

Kalau Dejun bisa bilang, dirinya betah di sini. Maksud Dejun, betah karena suasananya sangat nyaman untuk dipakai belajar.

“Lo ngabisin duit berapa beli segini banyak gundam Hen?” Tanya Dejun setelah melihat-lihat koleksi Hendery.

“Waduh, kalo itu jangan ditanya Jun, merinding duluan ngitungnya.” Jawab Hendery kemudian Dejun tertawa, benar juga.

“Ohiya, lo duduk sini aja, bentar gue ambilin meja lipat sama buku bukunya deh.” Hendery kemudian menyuruh Dejun untuk duduk di kasurnya, pada awalnya Dejun menolak lagi-lagi karena tidak enak. Tetapi akhirnya Dejun nurut kemudian Hendery mengambil meja lipat dan bukunya untuk diberikan pada Dejun.

“Ini buku buku belom dibuang Hen?” Tanya Dejun setelah melihat Hendery membawa 2 bank buku dan beberapa lembaran kertas. Dejun sedikit membantu untuk membuka meja lipatnya lalu dibuka dan diletakkan di depan dirinya dan Hendery.

“Papa gue nyuruh jangan dibuang, takutnya nanti kepake. Eh, bener kepake buat lo hahaha.”

Hendery meletakkan buku dan kertas tersebut diatas meja lalu mengambil tempat pensil.

Dejun mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian membulak balikkan kertas yang ada di depan dirinya.

“Nah ini nih Hen, gue tuh mau nanyain ini kemarin. Ada cara cepatnya ngga sih? Gue kemarin cari cara cepatnya, tapi kurang efektif dan malah lebih ribet dari cara aslinya.” Ucap Dejun sambil menunjuk satu soal pada Hendery.

Hendery melihat kearah soal itu, “Ohh ini ya... Ada sih cara cepetnya.”

“Gimana gimana?”

“Ngasal.”

Hendery tersenyum lebar sampai mempdrlihatkan deretan giginya sedangkan Dejun yang tadi sedang menunduk lihat soal langsung mendongak melihat kearah Hendery.

“Hehehe, gue kalo udah susah gini, ngasal sih Jun sumpah. Keberuntungan atau ngga ngitung kancing.”

“Kalo emang menurut lo itu susah dan makan waktu, jangan terlalu fokus disitu Jun, lo cari yang menurut lo gampang dan cepet kerjainnya. Lebih baik kejar apa yang lo bisa daripada stuck sama yang beginian, sayang semisal waktu lo habis cuma disitu padahal masih banyak soal yang bisa lo kerjain tapi ga keburu.” Ucap Hendery membuat Dejun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa jam Hendery dan Dejun habiskan waktu berkutat dengan soal soal yang ada di depannya. Beberapa kali juga Hendery kecolongan melihat Dejum yang menahan kantuknya.

“Jun, istirahat dulu aja. Lo belajar mulu apa ngga capek?”

Dejun menggeleng, “Gapapa Hen.”

Hendery menganggukkan kepalanya, dia gabisa maksa juga.

Tak lama kemudian ponsel milik Hendery bergetar dan terpampanglah foto adiknya di layar.

“Apaan??”

“Lama banget di kamar, ngapain sii bangg??”

“Ya belajar lah, menurut lo aja.”

“Beli makann bangg, ini udah mau sore, laperr.”

Mendengar ucapan Haechan membuat Hendery melihat kearah jam. Tepat pukul lima sore.

Bahkan Hendery tidak sadar sudah jam segini.

“Eh Jun, udah jam lima sore.”

“Hah masa??? Loh iya.”

“Yaudah bentar.” Ucap Hendery kemudian menutup sambungan telpon tersebut.

“Ngga sadar gue udah jam segini.” Ucap Dejun.

Hendery terkekeh, asik saling tukar cerita dan juga sibuk dengan soal soal yang ada, membuat keduanya melupakan waktu, melupakan sekitar, dan hal tersebut juga membuat kedua, terasa lebih mengenal satu sama lain.

“Makan apa ya, lo ada saran ngga Jun?” Tanya Hendery sambil membuka aplikasi delivery sedangkan Dejun sedang membereskan buku buku dan lembaran soal milik Hendery.

Dejun berfikir sejenak sampai akhirnya lelaki itu bertanya, “Di rumah lo ada makanan gitu ngga?”

“Hmm.. Papa gue sih bilang ninggalin makanan yang tinggal dipanasin. Tapi gue belom cek sih ada apa aja.”

“Lo bisa masak Hen?”

Hendery menggeleng, “Ngga lah, gue masak telor aja gosong Jun.”

Dejun tertawa, “Yaudah, semisal gue yang masak, boleh? Eh, tapi gapapa pake bahan bahan yang ada di rumah lo? Atau beli aja deh boleh.”

“Gapapa Jun, santai aja pake yang ada di rumah gue, emang udah disediain sama Papa dan Daddy gue kok. Yaudah yuk kebawah aja, Dede gue kalo laper suka makan orang, takutnya anak anak dibawah udah jadi mangsa si Dede.”

Entah udah keberapa kali, ucapan Hendery selalu membuat Dejun tertawa. Lelaki ini, ada saja celotehannya.


Setelah hampir satu jam Dejun dibantu dengan Jaemin berkutat di dapur, memasak makanan untuk keenam lelaki yang ada di sini, akhirnya makanan tersebut jadi.

“Waahhh, enak nih kayaknyaa. Mas Dejun pinter masak, ngga kayak Bang Hen, ngga bisa masak, masak telor aja gosong.” Ucap Haechan sambil melihat makanan yang baru saja selesai dimasak oleh Dejun, baunya sangat harum.

Hendery langsung melemparkan kertas kecil kearah Haechan, “Ngomong lo sekali lagi de.”

Sstelah semuanya membantu Dejun dan Jaemin meletakkan dan menghidangkan makanan di meja makan, mereka semua duduk di tempat masing-masing, untungnya meja makan keluarga Suh bisa muat sampai delapan orang.

Akhirnya mereka semua makan dengan khidmat sambil mengoceh bahwa makanan yang dibuat oleh Dejun dan Jaemin sangatlah enak, sudah cocok masuk restoran Michelin Star.

Nah ini dia. Saat yang ditunggu-tunggu. Suit untuk menentukan siapa yang akan cuci piring.

Melihat cucian yang ternyata numpuk, membuat keenam lelaki yang ada di sana bergidik ngeri.

“Eh berdua aja dong cuci piringnya, banyak banget buset.” Tawar Yangyang membuat Dejun tiba-tiba angkat bicara.

“Satu lagi gue deh, gue juga yang masak, satu lagi bantuin gue.”

“Ngga, yang ada yang masak ngga usah cuci piring.” Timpal Hendery, tak disangka yang lain setuju dengan ucapan Hendery membuat mereka akhirnya tidak mengajak Dejun dan Jaemin untuk suit bersama.

“Suit!”

“YEEESSSSSS RENJUN DAN BABANG!!!” Seru Haechan setelah memastikan dan berakhir Renjun dan Hendery yang kalah.

Melihat itu Yangyang dan Haechan langsung bertos ria sedangkan Dejun dan Jaemin hanya tertawa melihatnya.

“LO BERDUA SEKONGKOL YA???” Ucap Renjun tidak terima membuat Haechan dan Yangyang meledek balik lalu kabur menuju sofa yang ada di depan televisi.

“Selamat cuci piriinggg Renjun, Babaaangg.” Teriak Haechan dari sana, meledek terus-terusan kedua lelaki itu.

“Awal lo ya de.” Ucap Hendery kemudian mengajak Renjun untuk membawa piring piring tersebut ke tempat cuci piring.

Dejun dan Jaemin sudah kumpul dengan Haechan dan Yangyang setelah dipanggil oleh Haechan.

Hendery dan Renjun membagi jobdesk mereka, Hendery yang mencuci dengan sabun, Renjun yang lanjut membilas sampai bersih piring piring itu dan keduanya setuju.

“YANGYANG LO KEMBARAN MACAM APA MENINGGALKAN KEMBARANNYA SENGSARA SENDIRIAN.” Teriak Renjun sambil misuh karena sejak tadi piringnya terasa semakin nambah bukan mengurang.

“Titel kembarannya lagi dicopot dulu maap yaaa.”

Sedangkan yang lain tertawa mendengar itu.

“Sabar Njun, gue punya adek juga sama gaada gunanya.” Sambar Hendery kemudian keduanya tertawa dan lanjut mencuci piringnya.

Setelah semua piring tercuci bersih, meja makan juga kembali bersih seperti semula, Hendery dan Renjun kembali dengan baju yang sedikit basah akibat cipratan air.

“Anjir ah baju gue jadi basaahh.” Misuh Renjun lagi kemudian duduk diantara Yangyang dan Haechan.

“Lo bau, jauh jauh coba.” Ucap Yangyang setelah Renjun duduk di sebelahnya membuat Renjun ingin menjambak rambut milik Yangyang.

“Eh, lo semua ngga ada yang penakut kan?” Ucap Hendery tiba-tiba, dia punya saran yang menarik.

Semuanya sontak menggeleng, karena memang tidak ada yang penakut, kecuali Haechan. Haechan, adiknya itu memang sedikit penakut, semua orang tau akan hal itu.

“Nih satu kurcaci penakut Bang.” Ucap Renjun sambil menunjuk Haechan.

“Kaga, berani gue berani! Mau ngapain siih?”

“Nonton film horror yuk, Conjuring, gimana? Mumpung masih ada waktu belum malem banget. Masih pada gapapa kan lama di sini?” Ucap Hendery memberi saran.

“BOLEHH BAAANGG AYOOO.” Renjun, si paling semangat.

Sedangkan Haechan hanya bisa diam, lelaki itu langsung sibuk mencari bantal untuk menemani dirinya.

Hendery langsung menyetel film Conjuring kemudian langsung lari duduk di karpet, di sebelah Dejun.


@roseschies