main
Saat ini keenam lelaki tersebut sedang bermain Jenga untuk memecah kesunyian diantara mereka sambil memakan cemilan yang sebelumnya di bawa oleh Jaemin dan Dejun.
“Hayoloh hayolohh njun, eettt lo udah megang yang itu enak aja gak bisa lah ganti blocknya!” Seru Haechan menahan tangan Renjun yang baru saja ingin menarik block lain karena block yang sebelumnya ia tarik sepertinya salah strategi.
“Anjirlaahhh itu mau jatohh.” Balas Renjun kemudian menepis tangan Haechan sedangkan Yangyang tertawa lalu dengan sengaja menarik tangan kembarannya untuk menarik cepat block yang sebelumnya ia pegang.
Alhasil Jenga tersebut roboh membuat Renjun berdecak kesal pada kembarannya.
“YANGYANG.” Renjun memukul lengan Yangyang membuat lelaki itu mengaduh kesakitan kemudian tertawa.
Jaemin dan Haechan langsung terbahak melihat Renjun yang kalah akibat Yangyang.
“Dihh, lo mah kalah kalah aja Njunn~” Ledek Yangyang membuat Renjun berdecak kesal pada kembarannya.
“HAHAHAHA ya lagian lo mau aja masih curang, padahal kalo langsung tarik pelan juga ngga akan roboh langsung Njunn.” Ucap Haechan lalu memungut semua block block yang berjatuhan.
Jaemin mengangguk setuju, “Asal fokus dan percaya, ngga akan jatoh sih kata gue.”
“Tuuh dengeriinn Rinjiinnn.” Ledek Yangyang.
“Berisik Yingying.”
Sedangkan Dejun dan Hendery yang sejak tadi sebenarnya ada di dalam lingkaran mereka hanya bisa terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya.
“Ohiya, Mas Dejun ujian masuk universitasnya kapan Mas?” Tanya Renjun tiba-tiba membuat Dejun mengangkat kepalanya untuk membalas pertanyaan Renjun.
“Minggu depan, Renjun.” Jawab Dejun membuat Hendery sedikif melotot, kok cepet banget udah mau ujian aja.
“Kok cepet banget Jun udah minggu depan? Gue pikir masih kapan..” Sambar Hendery membuat Dejun terkekeh.
“Udah minggu depan Hen..”
Hendery mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ohiya Hen, kalo lo masih nyimpen bank soal gitu ngga selain yang lo kasih?? Siapa tau bisa jadi tambahan gue.” Ucap Dejun membuat Hendery berfikir sedikit mengingat-ingat.
Hendery mengangguk, “Seinget gue masih ada dehh.”
“Bang, Mas, mau ikut ngga main uler tangga??” Ajak Haechan, menunggu Hendery dan Dejun menjawab.
“Lo mau lanjut main atau??” Tanya Hendery pada Dejun.
“Kalo gue liat bank soalnya sekarang, gapapa Hen?”
“Ya gapapa— Kalian lanjut main aja dulu, gue sama Dejun keatas bentar deh.. Yuk Jun.” Hendery berdiri dari duduknya lalu mengajak Dejun sedangkan adiknya itu hanya senyum senyum meledek dirinya.
“Ohhhh gitu yaaaa. Yaudah sana sana dehh, hati-hati Mas Dejun.” Ucap Haechan membuat Hendery memutarkan bola matanya malas.
“Lo pikir gue mau nyelakain Dejun?? Dah sana lanjut main uler tangganya.” Hendery langsung menarik tangan Dejun tak sadar membuat Dejun tersontak tiba-tiba badannya ditarik.
“Eh, sorry.” Ucap Hendery setelah dirinya sadar main memegang tangan orang sembarangan.
Dejun menggeleng, “Gapapa Hen.”
“Ohiya, soalnya ada di kamar gue, gapapa di kamar gue aja?”
“Gapapa Hen. Tapi, gapapa kan gue di kamar lo?”
“Ya gapapa Jun, yaudah yuk naik.”
Setelahnya Hendery dan Dejun naik ke lantai dua lalu menuju kamar Hendery yang berada di sebelah kiri berhadapan dengan kamar Haechan.
Momogi dan Yangyang lanjut bermain uler tangga di lantai bawah, mereka masih duduk di karpet dengan beberapa cemilan di samping kanan dan kiri.
“Hompimpa dulu, siapa yang jalan duluan.” Saran Renjun kemudian semuanya mengangguk.
Namun tiba-tiba ponsel Haechan bunyi menandakan seseorang menelpon dirinya, buru-buru Haechan lihat.
'Video Call, Jeno.'
Haechan langsung mengangkat vidcall tersebut dan terpampanglah wajah Jeno.
“Apaan Jen.” Tanya Haechan membuat yang lain bertanya-tanya.
Haechan menarik tempat tisu lalu meletakkan ponselnya dengan tempat tisu sebagai ganjalannya membuat semuanya dapat melihat wajah Jeno separuh dengan wajah Mark yang ikut-ikut.
Haechan tersenyum kecil sewaktu Mark menampakkan dirinya di sana.
“Lah ada Yangyang, woi bro.” Panggil Jeno setelah melihat Yangyang yang duduk di samping Renjun.
Yangyang melambaikan tangannya ke arah Jeno.
“Ngapain si Jen, rusuh ajaa lo, lagi mau main nih.” Sambar Renjun membuat Jeno menggeser kamera ponselnya kearah Mark.
“Ni manusia nyuruh vidcall ke Haechan.”
Mendengar hal itu, Renjun, Jaemin dan Yangyang langsung mencibir, “Dasar bucin.”
Jeno tertawa, padahal memang dirinya saja yang iseng tapi kakaknya yang jadi tumbal.
“Ngga kok ngga, itu emang Jeno aja yang mau nelpon. Katanya, kak telpon Haechan yuk, isengin pasti lagi pada main.”
Haechan mencibir Jeno, “Ga jelas lo Jen. Udah sini mainnya virtual aja, mau ga?”
“Boleh boleh.”
Akhirnya nambah satu pemain lain, Jeno. Meskipun Jeno melalui video call bersama Mark, namun mereka sepakat, permainan Jeno akan dibantu dengan Yangyang dan akan bermain adil.
“Hompimpa dulu, daritadi anjir gajadi jadi.” Ucap Renjun.
“Lo juga Jen, hompimpa ikutan. Itu internet ga lemot kan?”
“Kaga, yaudah buruan ayo hompimpa dulu.”
Akhirnya mereka semua hompimpa, meskipun berkali-kali mengulang karena Jeno yang kecepetan atau kadang kelamaan.
“MANA GA LEMOT ANJIR, DARITADI GA KELAR KELAR. Udahlah kita aja yang hompimpa buat ngatur mau mulai darimana terus lo ngikut aja aturannya.” Final Haechan akhirnya mereka semua sepakat dan Jeno hanya tinggal menunggu hasil akhir.
Debat mereka itu menghabiskan waktu hampir setengah jam sendiri, berakhir mereka bermain tepat pukul setengah tiga.
Sedangkan Hendery dan Dejun yang masih setia di dalam kamar Hendery sedang berkutat dengan soal soal yang ada di sana.
Keduanya juga baru mulai 15 menit setelah keduanya sampai di kamar Hendery.
Karena sejak awal masuk kamar Hendery, Dejun lebih dulu terpukau dengan koleksi gundam milik Hendery yang tertata rapih.
Awalnya, kalau boleh Dejun jujur, ia pikir kamar Hendery akan seperti kamar lelaki pada umumnya yang berantakan dengan celana di mana-mana.
Ternyata Dejun salah, kamar Hendery jauh lebih rapih dari perkiraannya. Ditambah, semua barang tertata dengan rapih, itu yang membuat Dejun terpukau.
Terakhir, kamar Hendery, wangi.
Kalau Dejun bisa bilang, dirinya betah di sini. Maksud Dejun, betah karena suasananya sangat nyaman untuk dipakai belajar.
“Lo ngabisin duit berapa beli segini banyak gundam Hen?” Tanya Dejun setelah melihat-lihat koleksi Hendery.
“Waduh, kalo itu jangan ditanya Jun, merinding duluan ngitungnya.” Jawab Hendery kemudian Dejun tertawa, benar juga.
“Ohiya, lo duduk sini aja, bentar gue ambilin meja lipat sama buku bukunya deh.” Hendery kemudian menyuruh Dejun untuk duduk di kasurnya, pada awalnya Dejun menolak lagi-lagi karena tidak enak. Tetapi akhirnya Dejun nurut kemudian Hendery mengambil meja lipat dan bukunya untuk diberikan pada Dejun.
“Ini buku buku belom dibuang Hen?” Tanya Dejun setelah melihat Hendery membawa 2 bank buku dan beberapa lembaran kertas. Dejun sedikit membantu untuk membuka meja lipatnya lalu dibuka dan diletakkan di depan dirinya dan Hendery.
“Papa gue nyuruh jangan dibuang, takutnya nanti kepake. Eh, bener kepake buat lo hahaha.”
Hendery meletakkan buku dan kertas tersebut diatas meja lalu mengambil tempat pensil.
Dejun mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian membulak balikkan kertas yang ada di depan dirinya.
“Nah ini nih Hen, gue tuh mau nanyain ini kemarin. Ada cara cepatnya ngga sih? Gue kemarin cari cara cepatnya, tapi kurang efektif dan malah lebih ribet dari cara aslinya.” Ucap Dejun sambil menunjuk satu soal pada Hendery.
Hendery melihat kearah soal itu, “Ohh ini ya... Ada sih cara cepetnya.”
“Gimana gimana?”
“Ngasal.”
Hendery tersenyum lebar sampai mempdrlihatkan deretan giginya sedangkan Dejun yang tadi sedang menunduk lihat soal langsung mendongak melihat kearah Hendery.
“Hehehe, gue kalo udah susah gini, ngasal sih Jun sumpah. Keberuntungan atau ngga ngitung kancing.”
“Kalo emang menurut lo itu susah dan makan waktu, jangan terlalu fokus disitu Jun, lo cari yang menurut lo gampang dan cepet kerjainnya. Lebih baik kejar apa yang lo bisa daripada stuck sama yang beginian, sayang semisal waktu lo habis cuma disitu padahal masih banyak soal yang bisa lo kerjain tapi ga keburu.” Ucap Hendery membuat Dejun mengangguk-anggukkan kepalanya.
Beberapa jam Hendery dan Dejun habiskan waktu berkutat dengan soal soal yang ada di depannya. Beberapa kali juga Hendery kecolongan melihat Dejum yang menahan kantuknya.
“Jun, istirahat dulu aja. Lo belajar mulu apa ngga capek?”
Dejun menggeleng, “Gapapa Hen.”
Hendery menganggukkan kepalanya, dia gabisa maksa juga.
Tak lama kemudian ponsel milik Hendery bergetar dan terpampanglah foto adiknya di layar.
“Apaan??”
“Lama banget di kamar, ngapain sii bangg??”
“Ya belajar lah, menurut lo aja.”
“Beli makann bangg, ini udah mau sore, laperr.”
Mendengar ucapan Haechan membuat Hendery melihat kearah jam. Tepat pukul lima sore.
Bahkan Hendery tidak sadar sudah jam segini.
“Eh Jun, udah jam lima sore.”
“Hah masa??? Loh iya.”
“Yaudah bentar.” Ucap Hendery kemudian menutup sambungan telpon tersebut.
“Ngga sadar gue udah jam segini.” Ucap Dejun.
Hendery terkekeh, asik saling tukar cerita dan juga sibuk dengan soal soal yang ada, membuat keduanya melupakan waktu, melupakan sekitar, dan hal tersebut juga membuat kedua, terasa lebih mengenal satu sama lain.
“Makan apa ya, lo ada saran ngga Jun?” Tanya Hendery sambil membuka aplikasi delivery sedangkan Dejun sedang membereskan buku buku dan lembaran soal milik Hendery.
Dejun berfikir sejenak sampai akhirnya lelaki itu bertanya, “Di rumah lo ada makanan gitu ngga?”
“Hmm.. Papa gue sih bilang ninggalin makanan yang tinggal dipanasin. Tapi gue belom cek sih ada apa aja.”
“Lo bisa masak Hen?”
Hendery menggeleng, “Ngga lah, gue masak telor aja gosong Jun.”
Dejun tertawa, “Yaudah, semisal gue yang masak, boleh? Eh, tapi gapapa pake bahan bahan yang ada di rumah lo? Atau beli aja deh boleh.”
“Gapapa Jun, santai aja pake yang ada di rumah gue, emang udah disediain sama Papa dan Daddy gue kok. Yaudah yuk kebawah aja, Dede gue kalo laper suka makan orang, takutnya anak anak dibawah udah jadi mangsa si Dede.”
Entah udah keberapa kali, ucapan Hendery selalu membuat Dejun tertawa. Lelaki ini, ada saja celotehannya.
Setelah hampir satu jam Dejun dibantu dengan Jaemin berkutat di dapur, memasak makanan untuk keenam lelaki yang ada di sini, akhirnya makanan tersebut jadi.
“Waahhh, enak nih kayaknyaa. Mas Dejun pinter masak, ngga kayak Bang Hen, ngga bisa masak, masak telor aja gosong.” Ucap Haechan sambil melihat makanan yang baru saja selesai dimasak oleh Dejun, baunya sangat harum.
Hendery langsung melemparkan kertas kecil kearah Haechan, “Ngomong lo sekali lagi de.”
Sstelah semuanya membantu Dejun dan Jaemin meletakkan dan menghidangkan makanan di meja makan, mereka semua duduk di tempat masing-masing, untungnya meja makan keluarga Suh bisa muat sampai delapan orang.
Akhirnya mereka semua makan dengan khidmat sambil mengoceh bahwa makanan yang dibuat oleh Dejun dan Jaemin sangatlah enak, sudah cocok masuk restoran Michelin Star.
Nah ini dia. Saat yang ditunggu-tunggu. Suit untuk menentukan siapa yang akan cuci piring.
Melihat cucian yang ternyata numpuk, membuat keenam lelaki yang ada di sana bergidik ngeri.
“Eh berdua aja dong cuci piringnya, banyak banget buset.” Tawar Yangyang membuat Dejun tiba-tiba angkat bicara.
“Satu lagi gue deh, gue juga yang masak, satu lagi bantuin gue.”
“Ngga, yang ada yang masak ngga usah cuci piring.” Timpal Hendery, tak disangka yang lain setuju dengan ucapan Hendery membuat mereka akhirnya tidak mengajak Dejun dan Jaemin untuk suit bersama.
“Suit!”
“YEEESSSSSS RENJUN DAN BABANG!!!” Seru Haechan setelah memastikan dan berakhir Renjun dan Hendery yang kalah.
Melihat itu Yangyang dan Haechan langsung bertos ria sedangkan Dejun dan Jaemin hanya tertawa melihatnya.
“LO BERDUA SEKONGKOL YA???” Ucap Renjun tidak terima membuat Haechan dan Yangyang meledek balik lalu kabur menuju sofa yang ada di depan televisi.
“Selamat cuci piriinggg Renjun, Babaaangg.” Teriak Haechan dari sana, meledek terus-terusan kedua lelaki itu.
“Awal lo ya de.” Ucap Hendery kemudian mengajak Renjun untuk membawa piring piring tersebut ke tempat cuci piring.
Dejun dan Jaemin sudah kumpul dengan Haechan dan Yangyang setelah dipanggil oleh Haechan.
Hendery dan Renjun membagi jobdesk mereka, Hendery yang mencuci dengan sabun, Renjun yang lanjut membilas sampai bersih piring piring itu dan keduanya setuju.
“YANGYANG LO KEMBARAN MACAM APA MENINGGALKAN KEMBARANNYA SENGSARA SENDIRIAN.” Teriak Renjun sambil misuh karena sejak tadi piringnya terasa semakin nambah bukan mengurang.
“Titel kembarannya lagi dicopot dulu maap yaaa.”
Sedangkan yang lain tertawa mendengar itu.
“Sabar Njun, gue punya adek juga sama gaada gunanya.” Sambar Hendery kemudian keduanya tertawa dan lanjut mencuci piringnya.
Setelah semua piring tercuci bersih, meja makan juga kembali bersih seperti semula, Hendery dan Renjun kembali dengan baju yang sedikit basah akibat cipratan air.
“Anjir ah baju gue jadi basaahh.” Misuh Renjun lagi kemudian duduk diantara Yangyang dan Haechan.
“Lo bau, jauh jauh coba.” Ucap Yangyang setelah Renjun duduk di sebelahnya membuat Renjun ingin menjambak rambut milik Yangyang.
“Eh, lo semua ngga ada yang penakut kan?” Ucap Hendery tiba-tiba, dia punya saran yang menarik.
Semuanya sontak menggeleng, karena memang tidak ada yang penakut, kecuali Haechan. Haechan, adiknya itu memang sedikit penakut, semua orang tau akan hal itu.
“Nih satu kurcaci penakut Bang.” Ucap Renjun sambil menunjuk Haechan.
“Kaga, berani gue berani! Mau ngapain siih?”
“Nonton film horror yuk, Conjuring, gimana? Mumpung masih ada waktu belum malem banget. Masih pada gapapa kan lama di sini?” Ucap Hendery memberi saran.
“BOLEHH BAAANGG AYOOO.” Renjun, si paling semangat.
Sedangkan Haechan hanya bisa diam, lelaki itu langsung sibuk mencari bantal untuk menemani dirinya.
Hendery langsung menyetel film Conjuring kemudian langsung lari duduk di karpet, di sebelah Dejun.
@roseschies