roseschies

215.

Johnny dan tim yang mengikuti acara sudah sampai di kantor, beberapa dari mereka memang bawa kendaraan pribadi dan dititipi di kantor.

“Hen, pulang naik apa?” Johnny bertanya pada sekretarisnya yang sedang memegang ponsel sedangkan tangan lainnya membawa barang lain.

“Pulang naik kendaraan umum Pak.”

“Loh, kamu nggak bawa mobil?”

Hendery menggeleng, “Nggak Pak, kemarin saya diantar sepupu saya.”

“Sepupumu nggak bisa jemput lagi?”

Hendery menggeleng lagi, “Dia ada acara keluar Pak.”

“Astaga, seinget saya apartemen kamu searah sama apartemen saya. Kalau gitu bareng aja sama saya, gimana?” Tawar Johnny mengingat apartemen milik Hendery memang searah dengan dirinya.

Hendery menolak dengan sopan, “Eh, Nggak perlu Pak. Ngerepotin nanti, saya naik kendaraan umum aja. Nggak jauh juga.”

“Udah sama saya aja, sekalian kok. Nggak ngerepotin juga, asal kamu nggak bawa gajah kedalam mobil saya aja. Itu baru ngerepotin,”

Hendery jadi bingung mau nolak lagi juga nggak enak, akhirnya dia mengangguk menerima tawaran Johnny sambil terkekeh mendengar lawakan aneh dari bosnya itu, “Hahaha iya Pak, makasih banyak ya. Maaf Pak saya jadi ngerepotin.”

“Loh, kan saya bilang asal kamu nggak bawa gajah. Nggak ngerepotin Hen, kasian kamu juga kecapean kan. Yuk masuk.”

Hendery kemudian masuk kedalam mobil milik Johnny, kemudian menaruh barang2nya.

Lalu Johnny sudah siao duduk di tempst kemudi lalu keduanya memasang seatbelt masing-masing.

Johnny melajukan mobilnya sedangkan Hendery memegang erat seatbelt miliknya.

“Kita makan dulu, gapapa ya? Belom makan juga kan,”

“Loh, nggak perlu Pak. Aduh saya jadi banyak ngerepotin bapak nanti.”

“Tuhkan bawa bawa ngerepotin lagi, santai aja Hen. Dah, saya nggak nerima penolakan.”

Mau bagaimana lagi, akhirnya Hendery hanya mengikut kemana dirinya ini dibawa oleh bosnya itu.

Toh, Johnny juga harus berterima kasih kan kepada sekretarisnya yang sudah capek-capek ngurus banyak jadwal dirinya dan mengikuti dirinya 2 hari acara kemarin.


—A Sinner

Setelah Kun sampai di cafe yang sudah Doyoung berikan, Kun mengingat-ingat wajah lelaki yang dulu sempat dekat dengan dirinya sebelum berpacaran dengan Ten.

“Doyoung?” Kun menepuk pundak seseorang yang sedang duduk sambil menyeruput minumannya dan tak lupa tangan lainnya sedang mengetik pesan entah untuk siapa.

“Eh? Kun?” Doyoung mendongakkan kepalanya lalu melihat wajah seseorang yang familiar di matanya, lalu menyuruh Kun duduk di depannya.

“Ada apa Doy?” Tanya Kun tanpa basa-basi.

Doyoung meletekan gelas minumnya lalu menghela nafas, “Tunggu ya, mungkin mereka belum keluar.”

Kun mengernyitkan dahinya tak paham, “Siapa? Mereka?”

Doyoung mengambil ponselnya lalu membuka gallery dan memberikan Kun sebuah foto, disana ia bisa melihat dengan jelas Ten, Ten-nya itu sedang bergelayut manja di tangan kekar lelaki lain.

Kun berdeham lalu mengembalikan ponsel milik Doyoung, sambil menetralisir pikirannya, membuang segala macam rupa pikiran jelek lainnya.

“Siapa? Dan dari siapa?”

“Cowo ini, yang disebelah Ten, pacar gue. Dari kenalan gue yang emang kerja sekitaran sini, dia ngerasa ngenalin pacar gue dan dia ngirim foto itu ke gue. Pas gue liat, gue gak salah kok, itu Ten, pacar lo kan?” Jelas Doyoung pada Kun, Kun menghembuskan nafasnya tangannya mulai bergerak gelisah.

Kun mengangguk.

“Mereka belum keluar dari hotel di sana, tunggu sampe agak sorean. Kalau emang bener itu mereka, kita bakal liat mereka keluar dari sana.”

Kun mengangguk lagi.

Jujur, dia percaya Ten.

Dia percaya, pacarnya itu nggak seperti apa yang baru saja dilihatnya.

Begitu juga Doyoung.

Doyoung sendiri menolak habis-habisan di dalam otaknya setelah melihat foto tersebut.

Namun mau bagaimanapun, ia harus membuktikannya dengan mata kepala sendiri.

Sekitar 15 menit, Doyoung dan Kun berbincang, membicarakan banyak hal tentang kehidupan dan juga hubungannya masing-masing sambil melihat terus kearah pintu hotel yang tak jauh dari sana, Doyoung terlebih dahulu melihat postur tubuh seseorang yang sangat ia kenal.

Postur tubuh Johnny, kekasihnya.

Dan tepat disebelahnya, lelaki mungil itu, kekasih Kun.

Keduanya asik merangkul satu sama lain, berbeda dengan kedua orang yang ada di dalam cafe.

Doyoung beranjak dari tempat duduknya dengan emosi yang bergejolak.

Melihat Doyoung yang sepertinya sudah siap menojok wajah kekasihnya itu, Kun meraih tangan Doyoung, memberhentikan Doyoung yang ingin mendatangi kedua lelaki itu.

“Calm down, kita temuin mereka berdua. Stay cool, Doyoung.” Ucap Kun, kemudian Doyoung menetralisirkan nafasnya lalu mengangguk.

Kun dan Doyoung keluar dari cafe lalu keduanya merangkai sedikit adegan pura-pura jalan santai lalu menubruk tubuh Johnny ataupun Ten.

“Aw! Kalo jalan liat-liat dong pake mata! Gimana sih, main nabrak orang aja.” Ucap Ten sambil mengelus lengannya yang baru saja ditabrak oleh seseorang.

“Oh? Sorry, gak liat.”

Setelah mendengar suara jawaban tersebut, Johnny memberhentikan langkahnya lalu menghadap kebelakang.

Tubuh Johnny membeku, “Doyoung?”

Doyoung tersenyum, hampir seperti terpaksa tersenyum demi adegan yang sudah ia buat dengan Kun sebelumnya.

“Oh, Johnny?”

Ten yang mendengar lagi, langsung menghadapkan tubuhnya kebelakang untuk melihat, apa itu benar Doyoung?

“K-Kun?”

Badan Ten mulai membeku, kakinya mulai lemas seperti jelly.

Bukan ini yang ia inginkan.

Kun tersenyum, sangat manis. Sukses membuat dada milik Ten seperti tertusuk, sakit.

Berbeda dengan Kun, Doyoung mulai memandang wajah Johnny dengan sengit, benar-benar tangannya kalau tidak di tahan mungkin akan melayang kearah wajah Johnny sepersekian detik.

“Doyoung,” Ucap Johnny kemudian meraih tangan Doyoung namun Doyoung sudah menepis terlebih dahulu sebelum Johnny sempat memegang tangannya.

“Do not touch me. Jijik.” Ucap Doyoung, tangannya mulai mengepal, menahan tangisannya dan juga emosi yang mulai bergejolak.

“Doyoung, ini bukan seperti apa yang kamu bayangin.”

“Huh? Bukan seperti apa yang aku bayangin? Joo, sejak kapan kamu ngelembur di hotel? Sejak kapan? Kamu kerja di sebuah perusahaan bukan di hotel, am i right?”

Skakmat, Johnny benar-benar dibuat mati berdiri.

Berbeda dengan Johnny dan Doyoung.

Kun masih tersenyum memandang Ten, menunggu kekasihnya ini menjelaskan sesuatu.

Namun, Ten bahkan tidak berani membuka mulutnya sedikit pun.

“Pulang Ten,” Ucap Kun kemudian mengelus surai milik Ten.

Ten menggeleng, “Jangan begini Kun,”

“Terus, mau kamu, aku seperti apa? Seperti Johnny, hm?”

Tolong siapapun, tenggelamkan Ten sekarang juga.

Ten sama sekali tidak berkutik, ia benar-benar diam. Tangannya gemetar, dirinya benar-benar takut dengan Kun yang seperti ini.

“Kun, gue pulang. Dan lo, Johnny. Jangan kejar gue, jangan hubungin gue, kita putus. Gue gak mau denger alasan lo, apapun semua ucapan yang keluar dari mulut lo, gue gak akan percaya.” Doyoung kemudian lari, meninggalkan Kun, Ten, dan juga mantan kekasihnya itu.

Johnny ingin mengejar Doyoung, namun Kun duluan mencegah Johnny.

“Lo mau apa lagi?” Tanya Kun dingin.

“Ngejar pacar gue!” Bentak Johnny pada Kun, Ten masih terdiam di samping.

“Pacar lo? Jangan ngelucu. Pacar lo udah di samping lo kan tuh? Oh, mirip pacar gue juga.”

Kun, benar-benar pintar membuat Johnny dan Ten tidak berkutik.

“Mungkin gue dan Doyoung dua orang yang berbeda, tapi kita berdua sama. Hati kita berdua sama-sama rusak. Gue pamit pulang, tolong jaga dia, gue yakin lo paling pinter jaga pacar gue, kan?”

Kun menepuk pundak Johnny, lalu pergi meninggalkan Johnny dan Ten yang masih sama-sama diam, bahkan Ten tidak ada energi lagi untuk lari mengejar Kun.

Bukan tidak ada energi lagi, ia malu. Malu jika harus mengejar Kun, disaat ia memang benar-benar salah.

Setelah keduanya lama berdiam, Johnny mulai angkat bicara.

“Gue anter lo pulang.”

Ten mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia benar-benar masih memikirkan banyak hal, apa lagi yang harus dia ucapkan pada Kun.


@roseschies

— A Sinner.

Setelah melakukan kegiatan yang biasa Ten dan Johnny lakukan di sebuah kamar hotel, keduanya saling memeluk tubuh satu sama lain di alut dengan selimut tebal dari hotel.

Johnny mengelus surai lembut milik Ten membuat Ten menutup matanya, menikmati elusan dari Johnny.

“Jo, salah nggak sih kita kayak gini?” Ten mendongak menghadapkan wajahnya untuk melihat wajah milik Johnny.

Johnny mengelus pipi milik Ten dengan lembut, “Ten, please jangan ngomongin tentang salah atau enggak tentang kita disaat kita lagi berdua.”

“But i feel so bad, gue kayak terlalu menyakiti Kun yang bahkan nggak berani menyentuh tubuh gue. Dia, terlalu baik buat gue Jo. Salahkah kita kayak gini?”

“Lo pikir, gue nggak pernah merasakan hal seperti itu? Doyoung bahkan tau gue setiap malam lembur kerja, padahal gue ketemu sama lo.”

“Perkara salah atau nggak. Semua udah salah dari awal Ten. Kalau udah gini, kita harus apa?”

“Jo, i love Kun. I really love him.”

“Ten, i love my Doyoung that much.”

“Lalu, kenapa kita disini?”

“Tolong, Ten. Jangan tanya itu ke gue, karena gue sendiri nggak tau jawabannya.”

“Jo, kita benar-benar pendosa kelas berat.”

“Ten, kita udahin aja ya?”

Ten menggeleng, “Nggak ada cara lain selain udahin?”

“Enggak Ten. Bener kata lo, kita pendosa kelas berat.”

Ten angkat bicara lagi, “Bisa nggak kita berhenti ngomongin ini?”

“Lo duluan yang mulai,”

“Udah ya? Jo, jangan pergi.”

“Gue masih disini Ten,”

Johnny mengelus punggung milik Ten guna meyakinkan Ten bahwa dirinya akan selalu berada di samping Ten.

Ten memeluk erat tubuh tanpa busana milik Johnny lalu menyamankan dirinya, “Good night, Jo.”

“Good night, Ten.”

Keduanya menutup mata lalu masuk kealam mimpi masing-masing dengan saling berpelukan.


@roseschies 🌸

Roommates

— Johnten oneshot AU —


Suara seseorang membuat Johnny terbangun dari tidurnya yang indah itu. Johnny sedikit was-was dan menengok ke kanan maupun ke kiri, mencari sumber suara tersebut.

Johnny membawa tubuhnya berdiri dari kasur, berjalan dengan langkah yang sempoyongan akibat tubuhnya belum benar-benar terbangun. Bahkan, kedua matanya masih menutup.

“Hiks.....”

Suara itu, berasal dari kasur yang tak jauh dari kasur milik Johnny.

“Ten?”

Panggil Johnny, memanggil teman sekamarnya yang terdengar seperti sedang menangis itu.

Nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.

Dengan mata yang seperti dipaksa terbuka, Johnny mengahampiri kasur milik teman sekamarnya untuk melihat keadaan teman sekamarnya itu.

Lelaki ini, masih tertidur, pulas.

Namun keringat terus mengucur disekitar pelipis lelaki ini.

“Mimpi buruk lagi?” Johnny bermonolog sambil menghapus jejak keringat yang berada di pelipis Ten dengan tisu.

Sebenarnya, ini bukan sekali maupun kedua kalinya Johnny memergoki teman sekamarnya ini bermimpi buruk sampai mengigau.

Sudah sering, sering sekali. Namun, Johnny selalu diam, tidak pernah memberitaukan hal tersebut kepada Ten.

Lagipula, sudah satu tahun keduanya menjadi teman sekamar, kebiasaan pulang jam berapa pun Ten, Johnny mengetahui semuanya begitupun sebaliknya kok.

Masalah seperti ini, sudah seperti menjadi kebiasaan Johnny. Contohnya, mengelap keringat Ten yang mengucur di pelipisnya ketika Ten dihampiri mimpi buruk berlebih dan juga menenangi lelaki ini.

Johnny sendiri tidak ingin bertanya lebih lanjut, menurut dirinya, ini masih termasuk ranah privacy, toh Ten sendiri tidak pernah bertanya apakah dirinya pernah mengingau, mengorok, dan sejenisnya. Lebih kearah keduanya memang tertutup untuk masalah hal tersebut, sih.

Hal lumrah kan seseorang mengingau, mengorok, dan sejenisnya. Apalagi menjadi teman sekamar, harus bisa menerima itu semua.

“Hiks....”

Air muka Ten memancarkan kesedihan yang begitu mendalam, tubuhnya gelisah, keringatnya semakin mengucur. Johnny bawa tangannya untuk mengecek suhu tubuh Ten. Tidak terlalu panas namun menghangat.

Setelah itu, Johnny mengambil handuk kecil dengan baskom berisi air hangat lalu dicelupi handuk tersebut dan diperas kemudian di letakkan handuk tersebut di dahi milik Ten.

“Ten, it's okay gue disini. Lo gak perlu takut.”

Johnny kembali bermonolog, mendudukkan diri disamping kasur milik Ten. Jika sudah seperti ini, Johnny tidak akan tidur, sampai benar-benar dirasa keadaan Ten sudah kembali normal.

Tak lama kemudian, air muka Ten kembali seperti normal, sudah tidak ada kegelisahan lainnya.

Johnny mengambil handuk kecil tersebut lalu ia membawa dirinya kembali tidur, di kasur miliknya yang tak jauh dari kasur milik Ten.


Johnny kembali terbangun akibat suara kasur yang berdecit berkali-kali di dalam kamarnya.

Ini Ten lagi having sex sama siapa sih, kudu banget di kamar apa gimana, Pikir Johnny.

Johnny membuka matanya untuk melihat kearah kasur milik Ten, dengan takut-takut. Mana tau beneran, lalu Johnny melihat adegan live sex di depan matanya yang suci ini, kan keterlaluan.

Namun disana tidak ada siapa-siapa, hanya ada Ten yang masih tertidur dengan selimut yang sudah jatuh dari kasur milik Ten.

Mimpi buruk lagi, pasti.

Johnny membawa tubuhnya bangun dari kasur dan berjalan menuju kasur milik Ten, mengelap keringat yang membanjur sekujur tubuh Ten.

“Astaga, ini kaos sampe mandi air keringat begini. Mimpi apa sih, Ten?” Dumel Johnny namun tetap mengelap keringat Ten di beberapa titik.

Tubuh Ten kembali bergerak gelisah membuat Johnny bingung harus bagaimana.

Johnny menepuk pipi Ten pelan guna membangun lelaki ini dari mimpi buruknya, “Ten, bangun.”

Tubuh Ten semakin terlihat gelisah membuat Johnny kembali menepuk pipi Ten sedikit kencang, “Ten, bangun. Hey.”

“JOHNNY!” Ten teriak dari bangun tidurnya dengan air muka yang sedikit terkejut dan badannya yang seperti tersentak, bahkan Ten langsung memeluk Johnny.

Johnny sampai bisa merasakan detak jantung Ten yang tidak karuan itu.

“Johnny, takut.” Cicit Ten membuat Johnny mengelus punggun Ten.

It's okay, gue disini Ten. Gak ada apa-apa, cuma ada gue. Tenang ya,”

Johnny hanya bisa melantukan kalimat penenang untuk Ten, sampai Johnny bisa merasakan tubuh Ten yang memberat dipelukannya dan dengkuran halus yang dapat ia dengar di kupingnya itu.

Seperti ini, ada dimana ketika Ten terbangun, tersentak, memeluk dirinya, lalu berbicara jika dirinya takut, lalu tertidur kembali di pelukan Johnny. Namun, keesokan paginya, Ten tidak mengingat hal tersebut.


Hari selanjutnya, kembali Johnny terbangun mendengar rintihan hampir kesebuah teriakan meminta tolong dari kasur teman sekamarnya itu.

Johnny baru saja ingin membangunkan dirinya dari tempat tidur miliknya itu, namun badannya sudah terlebih dahulu di tubruk oleh tubuh Ten.

“Johnny, takut. Jangan kemana-mana.”

Tubuh Ten bergetar, posisinya kali ini keduanya berbaring di kasur milik Johnny dengan Ten yang memeluk lengan Johnny namun matanya masih menutup.

Johnny membalikkan tubuhnya, memeluk lelaki ini, merengkuh seluruh tubuhnya dan dibawa dalam kehangatan pelukan milik Johnny.

Malam itu, keduanya tertidur pulas sambil memeluk tubuh masing-masing, di kasur sempit milik Johnny.


“Lo ngapain peluk badan gue Johnny!!” Teriak Ten dan mendorong tubuh Johnny yang masih tertidur itu.

Masih pagi, udah di tendang aja Johnny dari kasur yang bahkan itu kasur miliknya sendiri.

“Aduh, Ten sakit!” Johnny memegang kepalanya, gimana coba rasanya bangun secara terpaksa terus ditendang dari kasur.

“Ya lo ngapain melukin badan gue!” Teriak Ten tidak terima lalu menarik selimut yang ada di atas kasur namun sepersekian detik ia merasa janggal terhadap suatu hal.

Sejak kapan dia punya seprei dan selimut berwarna merah seperti ini, ya?

“Ini selimut sama seprei siapa anjir? Perasaan gue gak pernah punya dan gak bawa dari rumah selimut sama seprei jenisan gini?” Ten bermonolog sambil membulak-balikkan selimut tersebut.

“Ya karena itu bukan kasur lo anjing, ini kasur gue.” Jawab Johnny sambil bangun dari tendangan maut milik Ten tadi.

“Sok tau lo tolol, jangan menghak milikkan barang gue terus kenapa sih Jo! Ini kan kasur gue, lo kan pasti mesum semalem bangun terus meluk-meluk gue datengin gue ke kasur gue! Ngaku lo!”

Johnny menggeleng-gelengkan dirinya sendiri, ini anak emang suka nggak tau diri begini. Belom aja Johnny beberin semua dan membalikkan semua kalimat yang Ten ucapkan menjadi sebuah fakta.

“Diem berarti artinya bener!”

“Coba deh lo ngadep ke kiri, lo liat ada kasur lo disana kan?”

Setelah mendengar instruksi dari Johnny, Ten menghadapkan dirinya kearah kiri, dan benar dirinya bisa melihat kasur miliknya dengan seprei kesayangannya itu disana.

“Terus, yang lari ke kasur gue, dan meluk gue itu siapa?”

Ten berdiri dari kasur Johnny lalu berdecak kesal, “Ya enggak tau!”

Pipinya memerah, malu. Johnny tertawa melihatnya. Lelaki ini, ada saja kelakuannya tiap hari.

“Kuliah lo, jangan mikirin pelukan gue seharian.”

“Bacot Johnny anjing.”

“Dih, kasar. Nggak boleh gitu, nanti lari-lari meluk gue malem-malem lagi loh.”

“Yang namanya Johnny bangsat banget!” Teriak Ten lalu masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tersebut dengan kencang.

Sedangkan Johnny sedang tertawa kencang sambil memegang perutnya.


Belakangan ini mimpi buruk Ten intensitasnya semakin sering dan semakin sering pula Ten berlari-lari menuju kasur Johnny lalu memeluk dirinya kencang dan berakhir setiap pagi keduanya selalu meneriaki satu sama lain, alasannya karena Ten malu. Malu mengakui bahwa dirinya beberapa malam selalu berlari hanya untuk memeluk Johnny.

Toh, Johnny menikmati saja padahal.

Entah sudah terlalu lelah meneriaki satu sama lain, pagi ini setelah terjadi kembali Ten yang berlari dari kasurnya untuk memeluk Johnny dengan keringat yang mengucur, keduanya bangun dalam keadaan damai, bahkan Ten masih memeluk Johnny seperti guling sedangkan Johnny memeluk tubuh Ten seperti guling.

“Ten, gue punya penawaran terbaik nih.”

“Lo udah kayak sales aja anjir,”

“Mau dengerin gak anjing, kok jadi sales-salesan.”

“Kok lo ngegas sih bangsat, masih pagi jangan ngajak ribut mulu.”

Iya, mereka berdua saling mengatai masing-masing tapi pelukannya makin erat aja.

“Yaudah, gini penawarannya. Siapa tau ngebantu juga mengurangi intensitas mimpi buruk lo. Keren banget gak tuh gue, anjir emang pinter banget gak sih gue Ten?”

“Ya apa cepet bangsat, kok lo malah membanggakan diri sendiri sih.”

“Mulut lo kotor banget ya, apa perlu gue cium biar bersih?”

“Yaudah”

Terlampau santai Ten menjawab membuat Johnny tersentak, “Apanya yang yaudah?”

“Yaudah lanjutin penawaran lo anjing, ngomong mulu. Gue mau kuliah nih.”

“Oh, kirain” Johnny kembali mengeratkan pelukannya, Ten menyamankan tubuhnya dipelukan Johnny.

“Jadi, gimana kalau kita beli kasur yang king size biar kita tidur berdua aja dan lo nggak perlu bangun terus lari-lari buat meluk gue tiap malem, siapa tau kayak gitu bisa ngurangin intensitas mimpi buruk lo terus karena pelukan sama gue tiap malem. Gimana?”

Ten melepas pelukannya lalu menatap Johnny dan mengerutkan dahinya, “Nggak! Nggak mau, lo bau.”

Bukannya pindah ke kasur sendiri, Ten malah kembali memeluk tubuh Johnny setelah menolak penawaran Johnny.

“Katanya gue bau? Kok masih dipeluk aja?”

“Iya, baunya enak. Wangi. Suka banget Jo.”

Ini, Johnny digombalin ya?

Johnny menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jadi, bau apa wangi?”

“Tau ah!”

Lah, ngambek anaknya.

“Ini nggak mau pindah ke kasur lo?” Tanya Johnny pada Ten yang sedang membelakangi dirinya, pura-pura ngambek. Astaga.

Ten menggeleng namun masih membelakangi tubuh Johnny.

“Yaudah berarti besok gue beli kasur king size aja deh, kasian lo kesempitan gini Ten.”

Ten menggeleng dan tetap menolak, “Nggak mau!”

“Tapi nanti lo jatuh, emang lo mau sempit-sempitan gini sama gue?”

Ten mengangguk.

Johnny geleng-geleng melihat kelakuan teman sekamarnya ini, ada saja kelakuannya. Aneh pula.


@roseschies🌸

Late Love

— Johnten oneshot AU —

⚠️ angst, mcd.

Beberapa adegan terinspirasi dari lagu MC Mong – I love u oh thank you, boleh banget sambil dengerin lagu itu!


Ruangan penuh berwarna putih dengan bau yang membuat indera penciuman mengenal bahwa ruangan ini, kamar rumah sakit.

Ten membawa tangannya yang terbalut dengan infus menyentuh surai milik Johnny, mengelus lembut surai tersebut lalu dibawanya tangan tersebut menyentuh dua mata milik Johnny.

“Jo, pulang gih.”

Johnny menggeleng lalu memegang tangan milik Ten dengan kedua tangannya sambil memandang wajah pucat Ten.

“Jo, mata lo yang berkantung itu udah sampe berkantung lagi.”

Ten mengelus pipi Johnny, membuat yang dielus menutup matanya, merasakan elusan tersebut.

“Gue pulang, kalo lo juga pulang Ten. Gue temenin disini, sampe lo sembuh.”

Ten tersenyum, “Jangan gitu, kasian gebetan lo nanti nyariin Jo.”

Johnny menggeleng lagi.

“Gue gak punya gebetan Ten, dan stop nyuruh gue cari pasangan. Gue gak minat.”

“Iya iya deh, jangan marah dong. Galak.”

Johnny membawa tangannya untuk mencubit hidung mancung milik Ten, “Nggak galak, sembarangan.”

Ten mengaduh kesakitan, “Aduh hidung gue nanti pesek kayak lo. Jangan cubit-cubit!”

“Mana ada hidung gue bagus nih!” Elak Johnny lalu kembali memegang tangan berinfus milik Ten, dielusnya dengan sayang tangan tersebut membuat Ten tersenyum manis.

“Pulang ya Jo? Istirahat. Nanti kalo kayak gini, yang ada lo yang ikutan sakit.”

Ten tetap kembali memaksa Johnny untuk pulang, beristirahat dirumah dengan tenang.

Ten tidak ingin terus menyusahkan Johnny, mata milik Johnny sudah sangat membutuhkan istirahat, lihat kantungnya bahkan sudah berkantung lagi.

Johnny tetap menggeleng, menolak untuk pulang dan beristirahat.

“Jo, nurut dong. Nanti kalau lo jatuh sakit juga, gue yang ikutan sedih. Istirahat di rumah ya?”

Johnny menghela nafas, mau bagaimanapun, dia tetap akan kalah dengan paksaan Ten diikuti dengan puppy eyes milik Ten itu.

“Yaudah iya, gue pulang deh. Lo cepet sembuh tapi ya? Nanti kita jalan-jalan ke taman, mau main kan?” Johnny mengelus surai milik Ten, menyingkirkan poni Ten yang sedikit menutup matanya itu.

Ten mengangguk, “Iya, gue dikit lagi sembuh kok. 2 hari lagi. Janji ya, kita jalan-jalan ke taman kalau gue udah sembuh?”

“Iya, gue janji bakal ngajak lo kemanapun lo mau, asal lo sembuh dulu.”

“Iya iyaa Jo, bawel deh. Pulang gih,”

Johnny mengangguk lalu dengan tidak rela melepas tangan Ten kemudian berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas yang ia bawa lalu kembali duduk di sebelah kasur milik Ten.

“Kok duduk lagi sih?”

“Nggak mau pulang, Ten. Gue disini aja ya nemenin lo.”

Ten membawa tangannya menyentil dahi Johnny membuat Johnny meringis.

“Iya iya pulang ini gue pulang, jangan KDRT. Jangan bandel, minum obat lo. Cepet sembuh, Ten.” Johnny berdiri lagi dari tempat duduknya, mengusak surai milik Ten lalu berpamitan dengan sahabatnya itu.

Ten melambaikan tangan dan melihat punggung Johnny yang mulai menjauh dari dirinya, dan kemudian hilang dibelakang pintu.


Johnny membawa kakinya, melangkah menuju mobil miliknya yang terparkir di basement rumah sakit.

Memakai sabuk pengaman, kemudian menyesuaikan aturan bangku dan setir mobil miliknya agar ia lebih nyaman mengendarai mobil tersebut.

Johnny menyalahkan mobilnya lalu menjalankan mobil tersebut, keluar dari basement rumah sakit.

Jarak rumah sakit ke rumah Johnny tidak terlalu jauh namun lumayan memakan waktu dikarenakan jalur yang dilewati oleh Johnny termasuk jalur yang selalu macet.

Dengan kecepatan normal, Johnny melajukan mobilnya di sepanjang jalan.

Bruk!

Naas, mobil milik Johnny ditabrak oleh pengendara lain dengan kencang membuat mobil milik Johnny menabrak mobil yang berada di depan.

Cepat, cepat sekali tabrakan beruntun itu terjadi.

Bahkan, Johnny tidak ingat sama sekali apa yang baru saja terjadi.


Vonis dokter ternyata tepat.

Tepat 2 hari setelah Johnny pulang, beristirahat. Ten dinyatakan sembuh dari penyakit tifusnya.

Namun, selama 2 hari ini, Johnny sama sekali tidak datang menjenguk Ten di rumah sakit lagi, pun tidak mengabari sama sekali.

Ten pikir, Johnny benar-benar mengistirahatkan dirinya di rumah dan Ten tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Lagi pula, lelaki itu terlihat sangat membutuhkan istirahat.

Hari ini, ia dijemput oleh sahabatnya, Taeyong.

Taeyong sudah membantu Ten mengemasi barang serta pakaian milik Ten yang ia bawa ke rumah sakit.

Ten tidak perlu bertanya kemana kedua orang tuanya, ia tau pasti. Kedua orang tuanya, sedang berada di luar kota.

Setelah selesai berkemas, dan Taeyong yang sudah selesai mengurus administrasi serta pembayaran dan menebus obat yang harus Ten bawa pulang, keduanya berjalan menuju parkiran dimana mobil milik Taeyong terparkir rapih di sana.

“Yong, anterin gue kerumah Johnny dulu dong. Gue telpon kenapa dia nggak angkat-angkat ya. Gue kangen sama dia deh. Anterin ya Yong?” Ten meminta lebih kearah memaksa Taeyong untuk mengantarkan dirinya kerumah Johnny, sahabatnya itu.

Taeyong terdiam.

“Ya Yong, anterin yaaa?” Ten menarik ujung baju milik Taeyong, memohon pada Taeyong dengan puppy eyes miliknya.

Taeyong menyerah, lalu dirinya melajukan mobil miliknya menuju suatu tempat dimana Johnny tinggal.


Taeyong memarkirkan mobilnya tepat di depan tempat dimana Johnny tinggal.

Ten terdiam memandang sekitar.

“Yong, kenapa gue dibawa ke makam?” Ten meminta penjelasan namun Taeyong tetap terdiam, diam-diam ia menahan air matanya untuk tidak keluar walaupun sudah terbendung.

Ten memegang lengan milik Taeyong, menggoyangkan lengan tersebut kencang meminta penjelasan membuat badan milik Taeyong bergoyang.

“Yong, jawab gue. Kenapa kesini?” Ten berteriak masih meminta penjelasan membuat Taeyong tak lagi menahan bendungan air matanya itu, air mata tersebut meluncur bebas turun dari pelupuk matanya.

Melihat air mata yang turun dari mata Taeyong membuat dada milik Ten sakit, ia sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.

Terlebih, ini di sebuah makam, dan Taeyong menangis.

Taeyong membawa tubuhnya, memeluk kencang badan Ten dan melantunkan kata maaf terus menerus.

“Yong, jawab!” Dipelukan Taeyong, Ten masih berteriak sambil menahan tangisannya, dadanya sakit seperti terhujam ribuan pisau.

Taeyong mengelus punggung Ten masih melantunkan kata maaf membuat Ten menangis terjerit di sana.

“Maaf, maaf Ten. Maaf.”

Ten menangis, sesegukan dengan Taeyong yang masih mengelus punggung Ten, menenangi sahabatnya itu.

Taeyong memandang wajah milik Ten, menghapus jejak air mata yang ada di pipinya, “Turun dulu ya?”

Ten memegang erat tangan milik Taeyong, memberhentikan aksi Taeyong yang ingin turun dari mobil, “Yong, takut. Nggak mau.”

“Ten, turun dulu ya?”

Pegangan Ten melemah, Taeyong akhirnya turun dari mobilnya lalu membantu Ten turun dari mobilnya.

Taeyong berjalan disebelah tubuh Ten yang semakin melemah semakin ia membawa kakinya menuju makam.

Keduanya berhenti di depan makam, dimana nisan bertuliskan nama salah satu sahabat tersayang Ten itu terukir dengan apik.

Ten menjatuhkan badannya, bersimpuh di depan makam Johnny.

Ten kembali menangis, hingga badannya bergetar.

Taeyong masih berdiri, berdiam. Ia sedih, melihat sahabatnya rapuh, bersimpuh di depan makam sahabatnya yang lain.

Taeyong ikut jongkok di sebelah Ten, membiarkan Ten mengeluarkan segala macam emosi yang dia miliki.

Taeyong mengangkat tubuh Ten dan membawa Ten duduk di tempat yang disediakan di sebelah makam Johnny.

Taeyong merangkul pundak turun milik Ten dengan Ten yang masih melantunkan kata-kata seperti,

Kenapa“ “Jo, Kenapa“ “Jahat.“ “Gue nyuruh lo istirahat di rumah, bukan istirahat di sini.“ “Gue nyuruh lo istirahat sebentar, bukan istirahat selamanya.“ “Jo, gue udah sembuh total, kenapa lo malah disini.“ “Jo, lo janji mau ngajak gue main ke taman, bukan makam.“ “Jo, seharusnya gue yang disana kenapa lo yang gantiin.

Setelah ucapan terakhir Ten, Taeyong langsung angkat bicara.

“Ten, nggak boleh gitu. Semua udah ada jalannya.”

“Kenapa jalannya begini Yong? Kenapa? Jelasin!”

“Ten, maaf.”

“Jangan cuma minta maaf, jelasin Yong.”

“Kenapa nggak ada yang ngomong, kenapa semua diam. Bahkan 2 hari, kenapa semua diam. Mama Papa, juga lo. Semua kenapa diam.”

Ten kembali menangis saat ia melihat tanggal kematian yang terukir di batu nisan, tepat 2 hari lalu. Tepat dimana dirinya menyuruh Johnny pulang untuk beristirahat.

“Ten, lo kemarin masih sakit.”

“Gue bakal jelasin, tapi nggak disini ya?”

Ten menggeleng, “Enggak. Jelasin disini, di depan Johnny juga.”

Taeyong menghembuskan nafasnya, “Oke, gue jelasin. Tapi Ten tolong dengerin pelan-pelan ya?”

Ten mengangguk, menatap kosong makam di depannya, menunggu Taeyong melantunkan cerita kejadian Johnny.

“Johnny kecelakaan, kecelakaan beruntun. Johnny kehabisan darah karena telat dibawa kerumah sakit, dia meninggal pas di jalan menuju rumah sakit.”

“2 hari lalu ya Yong..”

“Yong, gue baru inget. Setelah Johnny pulang, gue minum obat dan obatnya itu punya pengaruh ngebuat gue ngantuk. Pas gue tidur, ada yang nelpon dari nomor tidak di kenal. Itu, pihak rumah sakit ya Yong?”

Taeyong mengangguk, “Mereka bilang, mereka sempat nelpon ke nomor paling atas yang baru aja di hubungin sama Johnny, itu nomor lo. Tapi gak ada jawaban, setelahnya mereka baru nelpon nomor nyokapnya Johnny.”

Ten terdiam, “Yong, kalau gue angkat. Apa Johnny masih disini sekarang?”

Taeyong menggeleng, “Enggak Ten, Johnny udah kehabisan darah bahkan sebelum dia sampai di rumah sakit.”

“Yong, ini tetep salah gue, seharusnya gue gak suruh dia pulang.”

“Yong, gue bego banget. Padahal dia lagi kecapean, kenapa gak gue suruh tidur dulu baru pulang.”

“Ten, bukan salah lo. Semua kecelakaan, gak ada yang bisa disalahin Ten.”

Ten menggeleng, “Tapi-”

“Sstt.. Jangan terus salahin diri lo, Johnny juga nggak akan suka kalo lo terus-terusan nyalahin diri lo.”

Ten menghela nafas berat, dirinya kosong. Kehilangan, kehilangan sosok yang selalu bersama dengan dirinya.

Bahkan, Ten berfikir, bagaimana dia harus melewati hari-hari kedepannya? Tanpa Johnny.

“Ten, besok atau lusa mau kerumah Johnny? Ada sesuatu yang mau dikasih tau keluarga Johnny ke lo. Lo hari ini istirahat dulu, lo baru sembuh.”

Ten menggeleng, “Nggak mau, di rumah sepi. Mama Papa lagi gak di rumah kan, makanya lo yang jemput gue.”

“Gue temenin Ten, gue nginep di rumah lo untuk sementara waktu.”

Ten tetap menggeleng, “Anter gue kerumah Johnny.”

Taeyong menghela nafas, anak ini benar-benar pala batu.

Akhirnya, Taeyong mengantarkan Ten kerumah Johnny, setelah Taeyong mengantarkan Ten beli bunga buat di makam Johnny.


Keduanya sampai di depan rumah Johnny, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang masih terlihat berduka itu.

Mama Johnny yang melihat keberadaan Ten langsung berlari menubruk badan Ten, memeluk pria mungil itu dan meminta maaf.

Semua orang meminta maaf pada dirinya, disaat Ten sendiri malah menyalahkan dirinya tentang kecelakaan ini.

Ten kembali menangis dipelukan Mama Johnny, dia yang seharusnya minta maaf, nggak bisa bantu apa-apa.

Badan Ten yang masih belum terlalu pulih kembali melemas dipelukan Mama Johnny.

“Ten, kenapa kesini sekarang? Ya Tuhan, badan kamu masih lemes gini nak.” Mama Johnny memapah Ten lalu mengajak Ten untuk duduk.

Ten menggeleng, “Nggak Tante, gapapa Ten kuat kok.”

Mama Johnny semakin merasa bersalah, anak ini benar-benar baru sembuh dari sakitnya, tapi masih bela-belain ke rumah.

“Tante, maafin Ten.”

Mama Johnny menggeleng, “Nggak perlu sayang, Tante yang minta maaf sama Ten nggak ngasih tau Ten secepatnya. Ten, maafin Tante dan maafin Johnny kalau punya salah, ya?”

“Tante, sebanyak-banyaknya kesalahan yang Johnny buat, Ten nggak akan pernah mempermasalahkan hal tersebut, Johnny orang baik. Johnny nggak pernah bikin Ten sakit hati. Tante, pasti sekarang Johnny udah di surga ya?”

Pertanyaan Ten yang terlampau polos membuat seisi ruangan yang mendengar ikut merasa sedih.

Mama Johnny tersenyum lalu mengelus surai milik Ten, “Terima kasih banyak ya nak. Terima kasih.”

“Oh, Ten mau ke kamar Johnny?”

Ten mengangguk, kemudian mengikuti Mama Johnny menuju kamar milik Johnny.

Dibukanya pintu berwarna broken white itu.

Kamar Johnny terlampau rapih, semuanya bahkan nggak tersentuh.

Mama Johnny belum berani untuk memisahkan beberapa barang yang bisa diberikan kepada yang membutuhkan, Mama Johnny masih menunggu kedatangan Ten, sahabat yang Mama Johnny tau banget, anaknya memiliki perasaaan mendalam pada pria mungil ini.

Mama Johnny mengambil satu kotak besar, ia berikan kotak tersebut untuk Ten.

“Ini, mungkin termasuk peninggalan paling berharga bagi Johnny buat kamu. Di buka, pelan-pelan yah nak.”

Mama Johnny mengelus surai milik Ten dengan sayang lalu meninggalkan ten, bergabung dengan Taeyong di ruang tamu.

Ten terdiam, ia takut membuka kotak besar tersebut.

Ia menghela nafas berat, memantabkan hatinya lalu membuka kotak tersebut.

Di dalam, isinya terdapat beberapa barang dan origami yang sudah dibentuk seperti burung dengan apik.

Barang tersebut merupakan barang couple Johnny dengan dirinya, dan barang-barang yang dibeli oleh Johnny ketika jalan dengan Ten.

Ten mengelus barang-barang tersebut, meresap memori yang ada dalam barang-barang tersebut, memori yang ditinggalkan oleh Johnny untuk selalu dikenang oleh Ten.

Kertas usang dengan oretan yang Ten kenal tulisan milik siapa menarik atensi Ten.

Ia ambil kertas tersebut, lalu membaca satu persatu oretan yang tertulis disana.

Ku simpan semua rasa yang ada dan akan selalu ada untuk seseorang bernama Ten Chittaphon Leechaiyapornkul di dalam kotak ini, serta tertulis rapih di dalam origami berbentuk burung. Berharap, burung tersebut bisa membawa semua rasa yang ada kepada salah satu sahabat yang aku selalu pendam semua rasa untuknya.

Ten membawa tangannya, menyentuh origami dengan berbagai warna itu.

Ia mengelus dengan sayang, merasakan semua rasa milik Johnny yang terpendam di dalamnya.

Dengan pelan, Ten membuka origami tersebut, terlampau pelan.

Ia takut merusak semua yang sudah Johnny tuangkan di dalam origami burung tersebut.

Setelah satu origami terbuka, Ten menghela nafas lalu membaca isi oretan di dalam origami itu.

Lo nyuruh gue buat cari pasangan disaat gue maunya lo yang jadi pasangan gue. Terus, gue harus apa Ten?

Ten menghembuskan nafasnya, dan bergumam, “Lo, harusnya bilang dan terus terang ke gue, Jo.”

Ten melipat dengan rapih kertas origami tersebut lalu mengambil burung origami lainnya, kali ini berwarna cerah.

Dengan telaten, Ten buka lipatan-lipatan kertas tersebut hingga terlihat lagi oretan lainnya.

Ten, gue cuma mau bilang. Senyum lo hari ini, manis banget. Meskipun setiap hari senyuman lo selalu manis, tapi hari ini entah kenapa, senyuman lo bikin hati gue menghangat. Ten, terus senyum ya? Ayo, kita bahagia bersama.

Ten diam-diam ikut tersenyum, sangat manis sampai air matanya jatuh dan mengenai kertas origami tersebut, “Tapi, alasan gue bahagia udah hilang. Gue, harus apa Jo?”

Ten kembali melipat dengan rapih kertas tersebut, lalu mengambil kertas lainnya. Di buka kertas tersebut seperti kertas sebelum-sebelumnya.

Ten, kalau emang memiliki lo mustahil. Tolong, sadarin gue, kalo lo gak akan pernah jadi milik gue.

Ten memegang kertas tersebut dengan kuat, kali ini Ten tidak bisa lagi menahan tangisannya.

“Dan sekarang, gue pun mustahil bisa milikin lo, seutuhnya.”

Lagi, Ten melipat dengan rapih dan mengambil burung yang terlihat lebih besar dari yang lain, berwarna merah.

Ten buka lipatan tersebut dengan pelan sampai terlihat oretan milik Johnny.

Gue tau, gue gak seharusnya membawa perasaan ini dalam hubungan persahabatan kita. Maaf. Tapi, perasaan ini sudah melampaui batas. I love you, Ten.

Pecah.

Tangisan milik Ten semua pecah, air mata miliknya bahkan hingga membasahi kertas origami tersebut.

Tangan miliknya dibawa untuk meremas kertas tersebut, melampiaskan perasaannya yang membuncah.

Dirinya hanya bisa memeluk tubuhnya, sendiri.

“Jo, kenapa lo diem....”

“Jo, harusnya lo ngomong...”

“Johnny, I love you, too...”

Bahkan, disaat dirinya menangis sudah tidak ada Johnny yang memeluk tubuh mungil miliknya ini.

Semua sudah terlambat, mau segimanapun Ten tau sebesar apa rasa Johnny sekarang. Semua terlambat, pria itu, sudah meninggalkan Ten untuk selamanya, dan tidak akan pernah kembali.

Johnny, tolong doakan, lelaki mungil ini, mendapatkan bahagia yang setara seperti sebelum-sebelumnya.


@roseschies🌸

196.

Johnny mendudukkan dirinya di balkon yang ada di villa dimana ia mendatangi acara 2 hari ini.

Belum ingin masuk ke dalam kamar, ia ingin merasakan sepoi-sepoi angin malam di balkon sambil melihat bintang yang bisa dihitung dengan jari namun tetap menghiasi langit malam dengan cantik.

Johnny memegang ponselnya sesekali mengecek ponsel miliknya, menunggu pesan jawaban dari Ten.

Johnny melihat kearah jam dinding yang ada di dekatnya, tepat pukul 11.15 malam.

Mungkin Ten sudah tidur, pikir Johnny.

Belum lagi, hari ini penutupan project dipastikan Ten akan tertidur lebih cepat karena kecapekan.

“Pak,” Seseorang menepuk pundak Johnny membuat Johnny mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya itu.

Oh, Hendery. Sekretaris barunya itu.

“Oh, Hendery. Ada apa?” Tanya Johnny lalu Hendery menggeleng.

Johnny menepuk tempat sebelahnya, menyuruh Hendery duduk disebelahnya.

“Duduk sini, Hen.”

Hendery tersenyum lalu duduk dengan sopan di sebelah Johnny.

“Belum tidur, Hen?”

Hendery menggeleng, “Belum mau Pak. Bapak sendiri belum tidur? Udah malam, apa nggak kecapean habis acara tadi?”

Johnny menggeleng, ia belum mau tidur.

Johnny masih menunggu balasan dari Ten.

“Besok acara pagi, Pak.” Hendery mengingatkan Johnny kembali.

Johnny mengangguk, “Iya, Hen. Inget kok. Gampang, tidur duluan Hen. Saya masih nunggu dulu sebentar.”

“Nanti aja Pak. Saya, boleh nemenin Bapak? Kasian Bapak sendirian.” Tawar Hendery.

Johnny sih tidak masalah, dia senang punya teman ngobrol. Tapi, dia kasian dengan Hendery.

Lelaki ini pasti juga kelelahan, mengikuti jadwal dirinya dan sekarang harus menemani dirinya yang sebenarnya hanya menunggu pesan dari Ten.

“Tidur aja duluan Hen. Saya takut lama, kamu juga capek kan.”

Hendery menggeleng, “Gak masalah, Pak. Saya gak enak tidur duluan tapi Bapak belum tidur.”

Johnny menyodorkan satu bungkus rokok yang ia simpan di dalam saku celananya, “Mau Hen?”

Hendery menggeleng, menolak tawaran Johnny, “Saya gak ngerokok Pak.”

Johnny tertawa, “Saya juga sih, ini cuma buat topik pembicaraan aja saya bawa-bawa hahaha.”

Hendery ikut tertawa, memecah keheningan disekitar mereka berdua.

“Nungguin siapa Pak?”

“Biasalah, Hahaha.”

Hendery mengangguk paham.

“Kerjaanmu sudah beres semua Hen?” Tanya Johnny, memecah keheningan sesaat.

Hendery mengangguk, “Sudah Pak. Mungkin, nanti ada beberapa yang harus Bapak dispo di eoffice.”

Johnny mengangguk, Hendery ini benar-benar sekretaris yang bisa diandalkan.

11 12 dengan Irene, sekretaris lamanya.

Performa kerjanya pun, sudah bisa di beri jempol dua. Padahal baru berapa bulan kerja bersama Johnny. Oh, bahkan minggu?

Johnny kembali mengecek ponselnya namun hasilnya tetap nihil, ia kembali menghela nafas.

Mungkin benar, Ten sudah tertidur.

Tak lama kemudian, Johnny merasakan pundaknya yang kian lama memberat.

Johnny menghadap sebelah kanan.

Di sana, di pundak kanannya, kepala Hendery terbaring di pundaknya.

“Hen?” Johnny memanggil Hendery namun tidak ada jawaban.

Lelaki ini sepertinya ketiduran.

Lalu ini, Johnny harus bagaimana?

Membiarkan Hendery tertidur di bahunya atau menggendong Hendery, menidurkan dirinya di kamar Hendery.

Johnny ini lelaki bermartabat, tidak berani memegang lelaki yang tidak memiliki hubungan romantically dengan dirinya.

Maka dari itu, malam itu.

Keduanya tertidur dengan keadaan duduk di balkon, dengan bintang yang memerhatikan keduanya dalam diam.


@roseschies 🌸

180.

“Ten? Win?” Teriak Johnny sesampainya ia di ruang kesehatan gedung kantor Ten.

Winwin melambaikan tangannya lalu menyuruh Johnny ke arah dimana Winwin duduk dan Ten sedang membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di sana.

Oh, ada orang asing yang sedang menyuapi Ten disamping.

“Udah ah cas! Mual, gak enak makanannya.” Tolak Ten setelah lelaki disampingnya itu menyuapi satu sendok bubur.

Winwin menggeleng, “Baru 4 suap, Ten. Makan, nanti lo makin sakit.”

Johnny mendekatkan dirinya, berdiri disamping kasur Ten lalu membawa tangannya untuk mengecek suhu tubuh Ten menggunakan tangannya.

Panas.

Ten demam.

“Ten, kamu sakit. Badan kamu panas, makan yang banyak ya? Saya kan sudah bilang, jangan telat makan.” Ucap Johnny kemudian dijawab gelengan oleh Ten.

“Mual, gak enak.”

Johnny menghela nafas, kemudian lelaki disamping sebelah kiri Ten mulai menyuapi lagi namun Ten menutup rapat bibirnya, menutup akses.

“Ten, makan dong.”

“Gak mau, Lucas.”

Oh, itu Lucas.

Johnny mencoba meminta mangkuk yang dipegang Lucas dan Lucas memberikan mangkuk tersebut pada Johnny.

“Kalau disuapin Lucas gak mau, disuapin saya mau?” Tanya Johnny.

Ten tetap menggeleng, “Gak mau juga.”

Johnny tersenyum lalu mengelus surai Ten, dahi Ten mulai berkeringat akibat demamnya, “Makan dulu ya, satu suap aja? Habis itu kita pulang, saya antar kamu pulang sampai rumah, Ya? Biar kamu bisa minum obat.”

“Kamu mau cepet sembuh kan? Kalau begini terus, kamu nanti makin sakit, kerjaan kamu makin molor. Satu suap lagi ya?”

Ten terlihat berfikir dan akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan dari Johnny.

Winwin dan Lucas agak sedikit terkejut, pasalnya Ten ini daritadi susah sekali dibujuk.

“Udah. Gak mau lagi.” Ucap Ten setelah dirinya melihat Johnny kembali menyendokkan bubur.

Johnny mengangguk kemudian menaruh mangkuk tersebut di meja tepat di samping kasur Ten.

“Nih, minum dulu. Kata Dokter, minum ini dulu aja.” Winwin memberikan satu buat tablet obat pereda demam untuk Ten, sedangkan Lucas memberikan sebuah gelas berisi air untuk Ten meneguk bersamaan dengan obat.

Johnny membantu Ten untuk duduk dengan benar dan setelahnya Ten meminum obat tersebut.

“Huek, pahit.”

Ketiganya tertawa, Ten lagi sakit gini amat.

“Yasudah, ayo saya antar pulang.” Ucap Johnny kemudian membantu Ten untuk turun dan berdiri dari kasurnya.

“Sini, tas lo gue bawain.” Lucas mengambil alih tas milik Ten, membantu membawakan sampai ke mobil Johnny.

Namun Johnny cepat mengambil tas tersebut, “Gak usah, saya aja yang bawa. Kalian naik lagi aja keruangan, lanjut kerja. Biar saya antar Ten.”

Lucas dan Winwin saling tatap-tatapan lalu mengangguk.

Lucas menepuk bahu Ten, “Cepet sembuh, jangan ngeyel kalo dibilangin makanya.”

Ten mencibir, “Berisik.”

Mata Johnny tak berkedip memandang tangan milik Lucas yang masih bertengger di bahu Ten.

Johnny langsung merangkul Ten dan membuat Lucas melepaskan tangan miliknya dari bahu Ten lalu keduanya berpamit menuju apartemen Ten.


“Ten? Bangun yuk? Sudah sampai.” Ucap Johnny sambil menepuk pipi Ten pelan.

Ten tertidur pulas di dalam mobil Johnny, tapi nihil tidak ada jawaban dari Ten bahkan Ten tidak juga membuka matanya.

Johnny akhirnya memutuskan untuk menggendong Ten.

Toh, badan Ten ringan dan Johnny tidak masalah.

Sesampainya di depan pintu apartemen, Johnny terdiam bingung.

Masalahnya, ia tidak tau password apartemen Ten. Lalu, ini bagaimana ia harus masuk kedalam apartemen milik Ten, ya?

Mana sekarang, posisinya Johnny sedang menggendong Ten.

Tiba-tiba tubuh Ten bergerak, tangannya dibawa untuk mengucek matanya.

Ten membuka matanya lalu terkejut setengah mati melihat dirinya yang sedang di gendong oleh Johnny.

Bahkan, ia sampai lompat dari gendongan Johnny, melupakan rasa sakit yang menyerbu kepalanya itu.

“Lo ngapain gendong gue?!” Ten sedikit berteriak akibat terkejut dan badannya ikutan oleng.

Johnny menjaga tubuh Ten agar tidak terjatuh, “Kamu saya bangunin gak bangun-bangun. Yasudah saya gendong aja. Ini, saya gak tau password apart kamu.”

Kemudian Ten memasukkan 6 digit angka password apartemennya lalu mempersilahkan Johnny untuk masuk.

“Lo duduk dulu aja, gue masakin tanda terima kasih udah anter gue.” Ten melepas sepatunya lalu berjalan menuju dapur, memilih makanan yang bisa ia kasih untuk Johnny.

Johnny memegang lengan Ten, memberhentikan aksinya yang ingin membuatkan Johnny makanan, “Kamu istirahat. Badan kamu masih anget, istirahat dulu.”

“Saya sudah makan tadi bareng Yuta, kamu tidur lagi biar badan kamu enakan.”

Ten menggeleng, kemudian mengambil tasnya yang baru saja di letakkan oleh Johnny di lantai dekat sofa.

Ten mengambil laptopnya lalu membuka laptop tersebut membuat Johnny ingin sekali memarahi lelaki ini. Susah sekali dibilangin.

“Saya bilang tidur, kenapa jadi buka laptop?”

“Kerjaan gue nanggung, dikit lagi beres.”

“Bisa nanti, Ten. Dengerin saya dulu, badan kamu sudah drop dan kamu lagi demam sekarang. Istirahat, jangan mikirin kerjaan dulu. Saya bantu kerjain kalau perlu, yang penting kamu istirahat.” Ucap Johnny lalu menutup laptop Ten secara paksa.

Ten mendengus kesal, “Lo juga sibuk, katanya banyak rapat.”

“Udah beres, rapat terakhir ditunda jadi besok. Sekarang, kamu tidur dulu. Jangan ngeyel kalau dibilangin.”

Ten masih memasang wajah marah dan tidak ingin menatap Johnny.

“Yasudah kalau gak mau nurut. Saya gendong lagi ya biar istirahat di kasur?”

Ten langsung berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamarnya, bahkan ia langsung menutup kamarnya.

Johnny terkekeh melihat kelakuan Ten, kemudian membersihkan laptop serta tas milik Ten.

Johnny mengetuk pintu kamar Ten, “Tidur Ten, jangan main handphone terus.”

“Berisik, sana pulang.”

“Saya gak akan pulang, sebelum kamu tidur Ten. Benar-benar tidur, sekarang tidur.”

“Hhhh, iya!”

Johnny terkekeh lagi kemudian menggumam, “Gemes banget sih lagi sakit.”


HOME

— Johnten oneshot AU —


Ten mengangkat koper yang ia bawa sambil menaiki tangga, sesampainya di depan pintu ia menghela nafas lalu membuka pintu berwarna putih tersebut.

Ceklek

“Welcome home, baby.” Johnny berlari dari pintu lalu berteriak antusias dan mengangkat kedua tangannya lalu memeluk tubuh kecil milik Ten.

Ten memberontak dan mengayunkan kedua kakinya yang melayang akibat tubuhnya yang sedang diangkat oleh Johnny, “Turunin John!”

Johnny terkekeh lalu menarik tangan serta koper milik Ten untuk masuk ke dalam ruangan lain di dalam rumahnya.

Johnny membawa Ten untuk duduk di sebuah sofa di ruang tamu lalu merangkul Ten, “Capek ya? Istirahat dulu sini di bahu aku.”

Ten menggeleng lalu berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan.

Salah satu bingkai foto tepat di atas laci ujung ruangan sukses mendapatkan atensi dari netra milik Ten.

Di sana, terdapat beberapa foto Johnny dan Ten saat sedang berkeliling dunia bersama dari Chicago sampai Thailand.

Johnny mendatangi Ten yang sedang memegang bingkai foto tersebut sambil mengelus lembut sampai jarinya terkena debu yang ada di kaca bingkai foto.

Johnny memeluk badan Ten dari belakang lalu menaruh kepalanya tepat di bahu Ten, ikut asyik melihat foto-foto tersebut.

“Hahaha aku inget ini kita foto pas sampai di Chicago, kamu kekeuh minta foto di depan sini sambil bawa Alex.” Johnny terkekeh mengingat kejadian tersebut, kejadian disaat keduanya berjalan-jalan mengitari Chicago.

Ten ikut tertawa mengingat kejadian tersebut, “Baru aja mau foto, Alex kabur hahahaha.”

“Iya! Bikin foto kamu nge-blur deh, tapi gapapa kamu tetep bagus di foto ini, lihat!” Johnny menunjuk salah satu bingkai foto lain dimana foto Ten dengan Alex yang keluar dari jepretan foto karena ingin kabur membuat Ten di foto tersebut sedikit bergerak.

“Kalau foto yang ini, kamu bela-belain duduk di pinggir jalan sambil minum kelapa bulat karena kecapean habis jalan-jalan di Thailand.” Tunjuk Ten ke salah satu foto Johnny yang sedang duduk di pinggir jalan sambil menyedot kelapa bulat saat mereka mendatangi Thailand.

Johnny tertawa, “Habis itu kamu tetep ngikut aku duduk ngemper di pinggir jalan tuh!”

“Kan capek John, kamu sih narik-narik aku kesana kemari.” Elak Ten membuat Johnny kembali tertawa, padahal yang menarik-narik sewaktu itu untuk jalan kesana kemari itu Ten sendiri, karena dirinya sedang antusias akibat akhirnya pulang kembali ke tanah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Johnny mencium pelipis Ten kemudian lanjut melihat bingkai foto lain dan menemukan foto keduanya yang sedang bergaya di depan rumah, kalau tidak salah ingat ini sewaktu mereka ingin berjalan-jalan mengitari Chicago tentu berama Alex.

Setelah selesai asyik melihat bingkai foto di atas laci ruang tamu, keduanya berjalan menuju kulkas untuk mengambil minum serta beberapa makanan yang ada di dalam kulkas.

Namun lagi-lagi netra Ten melihat beberapa foto yang tertempel tepat di pintu kulkas serta di samping kulkas.

Ten memegang foto dimana keduanya sedang di foto oleh Mama Suh.

Ten tertawa melihat foto tersebut membuat Johnny yang masih mengekor di belakang Ten bingung.

“Kenapa baby?”

Ten menunjuk foto tersebut lalu Johnny ikut tertawa mengingat kejadian yang ada di belakang foto tersebut.

“Ini jaman kita baru pacaran ya? Mama fotoin pas di acara perpisahan SMA. Lihat kamu kecil banget, aku inget ini aku pegangin bahu kamu biar nggak jauh-jauh dan nggak hilang dari pengawasan aku.” Johnny kembali menceritakan kejadian yang ada di belakang foto ini, oh tentu momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh keduanya.

“Alay banget kamu dulu ya,” Kekeh Ten lalu Johnny kembali melingkarkan tangannya di pinggang Ten, entah dia hanya merasa nyaman memeluk Ten seperti ini sambil mengingat jaman-jaman dulu.

“Alay begini, kamu tetep senyum di foto tuh.” Ucap Johnny membuat pipi Ten memerah malu, benar juga.

“Kalau foto ini, kayaknya kita ambil pas H-1 kamu mau S1 di luar negeri ya?” Tanya Ten menunjuk foto selfie keduanya yang tertempel di depan kulkas.

Johnny mengangguk, “Habis selfie kamu ngambek soalnya nggak mau ditinggal aku, gemes.”

Ten mencubit pinggang Johnny, ia malu.

Ten membuka pintu kulkas, “Kamu mau minum apa John?”

“Air putih aja, aku ambil beberapa camilan ya? Kamu mau?” Tanya Johnny lalu Ten mengangguk, keduanya berpisah dengan Ten yang mengambil air putih di dalam kulkas dan Johnny yang mengambil camilan di tempat lain.

Setelah memegang botol minum berisi air putih Ten terdiam lalu membawa dirinya ke dalam kamar lalu menidurkan tubuhnya di kasur miliknya.

John, i miss you..

Seharusnya, aku gak berharap kamu datang kembali lagi.

Seharusnya aku sadar dan menyadarkan diriku, tapi sulit John.

Ten ingin berteriak namun dirinya enggan untuk berteriak lebih dan hanya membatin, terlalu sesak.

“Papaaa?” Terdengar suara anak lelaki berteriak dan berlari-lari menuju Ten yang masih menidurkan tubuhnya di kasur.

“Iya sayang, ada apa?” Ten langsung duduk di kasur lalu menghadapkan dirinya melihat anak lelaki yang baru saja berteriak memanggil dirinya dengan sebutan 'Papa'.

“Echanie lihat Daddy di ruang tamu!”

Ten tersenyum lalu berdiri dari kasurnya dan mengangkat tubuh milik Haechan untuk digendong.

John, ternyata kamu kangen juga ya sama rumah ini.” Batin Ten sambil mengusap surai milik Haechan dengan lembut.

“Papa kenapa nangis? Daddy disini mau ketemu Papa, katanya kangen sama Papa!” Haechan mengangkat kedua tangannya ceria lalu mengusap air mata yang jatuh dari mata milik Ten.

Ten menggeleng lalu mengangguk dan mengelus kembali surai milik Haechan dengan sayang, “Papa nggak nangis, kelilipan nih. Haechan tiupin mata Papa dong.”

Lalu Haechan si anak gembil itu menuruti keinginan Papanya dan meniup mata milik Ten kemudian tersenyum dan mencium kedua kelopak mata milik Ten, “Udah!”

“Papa Turunin! Mau ketemu Daddy!” Berontak Haechan kemudian Ten menuruni Haechan.

Haechan berlari antusias lalu menunjuk ruang tamu kemudian bahunya tiba-tiba menurun, “Papa tadi ada Daddy disini lagi duduk, kok ilang ya?”

Lalu air muka Haechan kembali ceria dan antusias, “Oh! Daddy lagi ke dapur kali yaa Pa, bikinin Echan makan!”

Ten menahan tangisannya lagi, badannya hampir bergetar ia menguatkan dirinya lalu memanggil anak semata wayangnya ini, “Haechanie sini,”

Ten mengajak anaknya duduk di sofa yang katanya barusan Johnny duduki itu.

“Haechanie,” Suara Ten mulai bergetar membuat Haechan panik lalu memegang pipi Ten.

“Papa kenapa nangis? Haechan nggak bohong. Daddy tadi ada disini kok!”

Ten mengangguk, “Haechanie, dengerin Papa baik-baik ya sayang?”

Haechan mengangguk lalu mendengarkan Papanya ini berbicara dengan seksama.

“Haechanie, Daddy sudah tidak ada disini.”

“Kenapa Papa? Kenapa Daddy nggak disini? Daddy ninggalin kita berdua? Daddy jahat!” Berontak Haechan dalam pangkuan Ten namun Ten tersenyum dan menggeleng kemudian dibawa tangannya untuk mengelus surai milik Haechan dengan sayang.

“Daddy gak jahat sayang, Daddy dipanggil lebih dulu oleh Tuhan, Daddy orang baik, Daddy sekarang sudah di tempat yang lebih indah bersama orang-orang yang baik seperti Daddy.” Ucap Ten, ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada anak semata wayangnya ini.

“Kok cuma Daddy aja? Kenapa Daddy nggak ngajak Haechan dan Papa? ” Tanya Haechan membuat Ten meringis mendengar pertanyaan dari anaknya ini.

“Tuhan lebih sayang sama Daddy. Katanya Daddy mau, Haechan dan Papa bahagia berdua disini dulu, membuat lebih banyak kenangan berdua, dan juga Daddy mau Haechan dan Papa menjadi orang baik seperti Daddy. Haechan mau kan jadi orang baik seperti Daddy?”

Haechan mengangguk antusias, “Eum! Haechan mau! Haechan mau jadi orang baik seperti Daddy biar bisa ketemu Daddy lagi, Haechan mau jadi pengganti Daddy untuk Papa, Haechan mau jagain Papa seperti Daddy yang selalu jagain Papa! Papa kalau kangen Daddy, peluk Haechan aja yaa?”

Setelah itu, Ten memeluk Haechan dengan erat, air matanya kembali turun lalu ia membatin, “John, lihat anakmu. Benar-benar menggemaskan, bukan?

John, i miss you. A lot.

Haechan asyik memeluk Ten tanpa mengetahui Ten yang sedang menangis, merindukan sosok pahlawannya, Johnny.


@roseschies🌸

—125

“John, gue ke toilet dulu ya.” Pamit Ten sambil berdiri dari tempatnya.

Keduanya baru saja selesai memakan hidangan yang sebelumnya ternyata sudah dipesankan oleh Johnny.

Untung saja makanan yang dipesan tidak ada yang bisa memacu alergi Ten muncul. Entah darimana Johnny tau.

Setelah Ten terlihat sudah masuk ke dalam kamar mandi, Johnny berdiri kemudian mengikut masuk ke dalam kamar mandi.

Oh, sebelumnya makanannya sudah dibayar oleh Johnny.

Ya meskipun Ten sempat tidak terima, tapi Johnny janji jika keduanya makan lagi nanti, Ten boleh bayarin.

Modus Johnny aja sih, biar bisa makan bareng lagi.

Ketika Johnny masuk ke dalam kamar mandi, Ten sedang mengaca sambil membenarkan poni panjangnya yang terlihat sedikit menganggu penglihatannya itu.

Johnny berdiri di sebelah Ten kemudian ikut membenarkan tatanan rambutnya.

“Ten,” Panggil Johnny membuat Ten terkejut, pasalnya ia tak sadar disampingnya sudah ada Johnny akibat terlalu sibuk membenarkan poninya.

“Lo ngapain ikut ke kamar mandi juga?” Tanya Ten.

“Nih, mau benerin rambut.” Ucap Johnny sambil menghadapkan diri ke arah Ten memberi tau bahwa dia sedang membenarkan tatanan rambutnya.

“Ten, kalau emang kamu gak mau sama saya gak usah dipaksa. Kalo kamu iyain ajakan saya karena gak enak atau kasihan sama saya, besok-besok kamu gak perlu iyain ajakan saya.”

“Saya seperti orang jahat yang memaksakan kehendak, padahal kamu sendiri terlihat nggak nyaman sama saya.”

Johnny menghembuskan nafas kemudian menepuk jas miliknya membenarkan pakaiannya.

Ten yang mendengar ucapan Johnny mengalihkan atensinya dari poni miliknya lalu menghadapkan diri untuk memandang wajah Johnny.

Johnny memang talkaktive daritadi, mengajak ngobrol Ten entah bertanya bagaimana pekerjaannya, bagaimana setelah beberapa minggu kerja di anak perusahaan milik Yuta, dan hal-hal lain.

Namun entah Johnny merasa jawaban Ten begitu-begitu saja, seperti tidak ada ketertarikan untuk berbicara dengan Johnny.

Di sana, Ten melihat raut wajah keputusasaan.

Ten ini memang tidak pintar berbicara dengan orang lain selain teman dekatnya.

Dia tidak pintar menjawab pertanyaan atau sekedar basa-basi lainnya untuk meningkatkan percakapan dengan lawan bicara.

Ia sangat pasif.

Belum lagi, dia sangat tidak berpengalaman melakukan hal seperti ini.

Benar kata Winwin, Kun, dan Doyoung.

Johnny itu tidak seburuk apa yang dia pikirkan. Semua hal yang dikeluarkan oleh Johnny terlihat tulus di mata Ten sekarang.

“John, sorry kalo lo ngerasa tadi gue kurang nyaman. Gue emang gak pintar memulai percakapan terlebih dengan orang baru.” Ucap Ten membuat Johnny melihat kearah mata cantik milik Ten.

Ten tersenyum manis, mencoba untuk membuka sisi lain dirinya.

Sisi lain dimana dirinya tidak pernah menampilkan sisi tersebut kepada orang lain.

Sisi manisnya, itu.

Sorry kalau gue terlihat seperti itu. Sebenarnya iya, awalnya gue ngeiyain ajakan lo karena gue gak enak dan kasihan sama lo, hati gue udah beku John buat orang. Tapi kali ini, gue bisa ngeliat lo tulus sama gue, thanks.”

“Gue bakal coba buka hati gue, buat lo John.” Ucap Ten lalu kembali tersenyum manis membuat Johnny tersenyum sambil meneteskan air mata.

Johnny terkejut, kenapa dia tiba-tiba meneteskan air mata.

“Lo jangan nangis, malu badan gede kok nangis.” Ten tertawa sambil mengusap air mata Johnny yang sempat menetes.

Anjir John, lo malu-maluin banget bisa-bisanya begitu doang sampe nangis, Batin Johnny mengumpat pada dirinya sendiri.

Johnny hanya menggaruk tengkuknya, ia malu juga bingung.


@roseschies🌸

—101 p.s long ass ride (1,3k words)

“Eh pindah tempat yuk” Ucap Ten tiba-tiba membuat Doyoung dan Kun yang sedang menyesap minumannya berhenti dan menatap Ten bingung.

“Ngapain? Males ah, disini aja enak.” Ucap Doyoung kembali menyesap minumannya dan diangguki Kun.

Keduanya sudah dalam posisi enak.

“Ada Johnny,” Ucap Ten.

“Mana?” Tanya Kun dan Doyoung secara bersamaan.

“Gue kasih tau, tapi lo berdua jangan nengok nanti ketauan.” Ucap Ten kemudian Kun dan Doyoung mengangguk paham.

“Dibelakang agak sebelah kanan Kun, bertiga ada bos besar gue juga sama satu orang kayaknya temen-temennya dia.” Ucap Ten membuat Kun dan Doyoung otomatis membalikkan badan untuk melihat posisi Johnny.

Ten memukul kepala Kun dan Doyoung, “Gue bilang jangan nengok! Kenapa malah pada nengok”

“Aduh sakit sialan!” Ucap Doyoung dan mengusap kepala belakangnya yang tadi di pukul oleh Ten.

“Ya kan gue mau tau!” Ucap Doyoung lagi.

“Tau anjir, lo ngasih tau begitu ya gue otomatis ngeliat lah!” Timpal Kun setuju dengan Doyoung.

Lagi, Ten ada-ada saja.

“Yaudah jangan diliat lagi! nanti ketauan lo pada ngeliatin mereka. Yuk, pindah ke daerah sebrang aja. Lebih sepi juga.” Ajak Ten lagi.

Mau gak mau kedua sahabatnya ini mengikut, daripada kena omel atau pukul lagi sama Ten.

Ketiganya membawa botol dan gelas masing-masing kemudian berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju area sebrang yang Ten maksud.

Ketiganya melewati perkumpulan Johnny, Ten berharap semoga Johnny maupun Yuta tidak melihat kearah dirinya.

“TEN MANAA JE?????!!!!” Teriak seseorang dari perkumpulan Johnny—seperti suara Johnny itu membuat lelaki yang sedang dipeluk oleh Johnny mengusap kupingnya dan menoyor kepala Johnny.

Doyoung dan Kun yang sangat mendengar teriakan itu menatap kearah Ten dan bertanya.

Ten menggedikkan bahunya, mungkin bukan Ten dia.

Entah sedang sial atau apa, sewaktu Ten melewati bangku milik Johnny, Johnny menghadap kebelakang dan mata milik Johnny sukses menatap mata milik Ten.

“T-Ten?” Ucap Johnny dengan suara parau dan matanya yang sedikit sembab.

“Apasih Jo, Ten Tan Ten mulu. Orangnya gak ada.” Ucap Yuta kemudian menyesap minumannya dan Jaehyun yang masih digelayuti oleh Johnny itu ikutan mengangguk.

“Berisik manggilin Ten Ten mulu, disuruh chat gak mau tapi manggilin mulu!” Frontal Jaehyun membuat Johnny menutup mulut Jaehyun dan masih memandang wajah Ten yang lanjut jalan sambil menarik kedua temannya tanpa menghiraukan Johnny.

Johnny berdiri dari tempat duduknya dengan sempoyongan, Yuta dan Jaehyun yang melihat Johnny berdiri terkesiap lalu menarik Johnny untuk kembali duduk.

“Mau kemana lagi sih?” Tanya Jaehyun memaksa Johnny untuk tetap duduk.

Takut-takut laki-laki ini menyentuh orang dengan sembarang dan berkata bahwa orang tersebut adalah Ten.

“Diem! Jangan tahan gue, itu ada Ten!” Tolak Johnny kemudian kembali berdiri membuat Yuta dan Jaehyun menggeleng melihat kelakuan temannya ini.

“Ten gak ada disini Jo!” Ucap Yuta, lagipula daritadi dia sama sekali gak liat perawakan Ten mundar-mandiri di club ini. Dia masih inget kok sama wajah salah satu staff anak perusahaannya itu.

“Udah, mending lo pulang aja. Kerjaan lo udah terbengkalai semua Jo. Jangan kayak gini, lo gak profesional. Emang mau turun jabatan? Apa gak malu kerjaan lo di back up terus sama bawahan lo? jangan mentang-mentang baru nerima sekretaris terus lo jadi begini Jo. “ Omel Yuta, sebel dia liat temennya jadi gak jelas kayak gini.

Gitu-gitu dia masih perhatian sama perusahaan milik temannya ini yang belakangan terlihat terbengkalai karena pemiliknya sedang agak tidak waras akibat cinta.

“Diem dulu! Gue mau ngejar Ten, dia ada disini. Tolong. Jangan sampe gue kehilangan dia lagi, jangan tahan gue!” Ucap Johnny kemudian berdiri dan berjalan setengah sempoyongan menuju tempat duduk yang ada di sebrang dimana Ten dan kedua sahabatnya duduk.

“Ten?” Ucap Johnny sesampainya di tempat itu.

“Maaf, siapa ya?” Tanya Kun, takut-takut kejadian 3 tahun lalu terulang kembali.

“Ten, kasih saya kesempatan.”

Doyoung dan Kun saling tatap menatap, Oh ini Johnny?

“Saya bahkan belum memulai, kasih saya kesempatan.” Ucap Johnny lagi.

“Ngapain anda capek-capek minta kesempatan sama saya? Lelaki atau perempuan diluar masih banyak.”

“Tapi saya maunya kamu Ten, kasih saya kesempatan sekali. Kalau memang kamu tetap tidak bisa menerima saya, saya menyerah.” Ucap Johnny terduduk di bangku sebelah Ten.

Ten mendengus keras, orang ini sudah terlalu mabok.

Tak jauh Ten melihat Yuta yang sedang berjalan menuju arah dirinya.

“Bangun.” Ucap Ten berdiri di depan Johnny.

“Kasih saya kesempatan, Ten.”

“Bangun dulu.”

“Kasih saya kese-”

“Gue bilang bangun dulu!” Bentak Ten membuat Johnny berdiri namun sedetik kemudian badan Johnny melemah.

Untungnya Yuta dan Jaehyun sampai tepat waktu dan berhasil menopang tubuh Johnny. Sepertinya Johnny pingsan.

“Ini si Ten Ten itu Yut?” tanya Jaehyun dengan kedua tangannya yang masih menopang tubuh Johnny.

Yuta mengangguk, “Maaf ya Ten, teman saya sedang mabuk.”

Ten tersenyum dan membungkuk kepada Yuta, “Gapapa Pak,”

“Bener, galaknya sama Johnny doang.” Bisik Jaehyun kembali.

Ini Jaehyun ngomongin orangnya tepat di depan orangnya langsung gimana sih.

“Kalo diluar kantor dan jam kerja, panggil Yuta aja gapapa Ten. Oh, lagi pada bersenang-senang ya?” Tanya Yuta melihat kearah meja Ten dan kedua sahabatnya itu.

“Iya Pak- Eh Maksudnya Yuta,” Jawab Ten kemudian kembali duduk di tempat duduk miliknya.

“Maaf ya, teman saya mengganggu aktifitas kalian. Silahkan boleh dilanjut, kami antar dia pulang dulu.” Pamit Yuta kemudian Ten, Doyoung, dan Kun mengangguk.

Yuta dan Jaehyun yang sedang menopang berat tubuh Johnny pergi meninggalkan tempat itu dan membawa Johnny pulang.

“Itu tadi, Johnny Johnny itu Ten?” Tanya Kun sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing, sepertinya ia terlalu banyak minum. Ia memang toleransi terhadap alkoholnya sangat rendah, sih.

Ten mengangguk.

“Sirat matanya keliatan dia sedih banget, lo beneran gak mau kasih dia kesempatan?” Ucap Doyoung bertanya pada Ten.

Ten menggeleng dan memakan kacang yang ada disana.

“Lo ada masalah pribadi sama dia atau gimana sampe lo segitunya gak kasih kesempatan? Emang pernah ada hubungan lo sama dia?” Tanya Doyoung membuat Ten menggeleng.

“Terus?” Tanya Doyoung lagi.

“Lo pernah tau gak, ada orang yang entah kenapa benci aja sama seseorang yang bahkan gak ngeluarin satu kalimat pun, tapi lo rasanya mau bunuh orang itu tepat saat itu juga. Nah, itu gue.” Ucap Ten santai dan menyesap minumannya kembali.

“Ten, lo gak liat mata dan suaranya bener-bener tulus banget minta kesempatan ke lo. Apa lo gak mau ngasih ke dia satu kesempatan? Bahkan dia belum mulai apa-apa. Kalo emang ujungnya lo masih ada rasa gak suka, lo boleh tolak dia. At least, dia udah coba deketin lo.” Ucap Doyoung memberi saran.

Doyoung sedikit teriris melihat kondisi Johnny tadi, benar-benar memilukan. Seperti orang yang jiwanya hilang entah kemana tapi raganya masih ada disini.

“Gue juga mau liat lo bisa deket sama orang Ten. Kali ini aja buka hati lo buat seseorang, siapa tau Johnny orangnya. Jangan dingin terus sama orang yang mau deketin lo.” Timpal Doyoung lagi.

Ten ini, memang sepertinya ingin forever alone atau bagaimana. Tapi, sebagai teman, Kun dan Doyoung juga ingin melihat Ten bahagia bersama seseorang yang akan menjaga 24/7 dirinya itu.

Tapi, lagi-lagi Ten selalu menolak jika seseorang mendekati dirinya.

Ten itu, sangat selektif. Sangking selektifnya, Kun dan Doyoung bahkan tidak tau kriteria apa yang dicari oleh Ten. Semua orang ditolak. Bahkan dari yang paling baik sampai yang biasa aja selalu ditolak oleh Ten.

“Gue hidup sendiri seumur hidup juga gapapa, Doy, Kun.” Kalimat itu yang selalu dilontarkan oleh Ten.

Tapi sahabat mana yang ingin membiarkan sahabatnya itu terus-terusan hidup sendirian. Kan gak ada.

Ten mendengus pelan, “Biar gue mikirin ini sendiri.”

“Menurut lo gimana Kun?” Tanya Ten yang daritadi melihat Kun diam saja. Biasanya, Kun akan membaweli dirinya.

“Kun?” Panggil Ten namun Kun masih diam saja.

“KUN!” Teriak Ten tepat di depan muka Kun membuat Kun kembali ke alam sadarnya.

“Astaga, kaget gue! apaan?” Tanya Kun sambil mengelus dadanya, ia terkejut.

“Lo daritadi, gue panggilin! Mau denger pendapat lo,” Ucap Ten membuat Kun berfikir.

“Ya, gue sih satu pendapat sama Doyoung. Lagi, ucapan Doyoung perlu lo pikirin juga. Gue sama Doyoung cuma mau lo bahagia aja, selain sama kita berdua.” Ucap Kun.

“Intinya jangan terus-terusan nolak orang, Ten. Johnny gak seburuk apa yang lo pikir,” Ucap Doyoung.

“Dan, bisa aja Johnny gak sebaik apa yang lo pikir, 'kan?” Timpal Ten membuat Doyoung terdiam.

“Dan, lo juga gak tau dia kayak gimana kan? Deket juga belom. Jangan komen duluan tentang perilaku dia. Meskipun dia bertele-tele bisa aja dia sebenarnya juga takut mau ngomong apa ke lo, apa lagi respon lo yang begitu-begitu aja.” Lanjut Kun menambahkan membuat Ten ikutan diam.

“Ya, siapa suruh jadi cowok lemah.” Ucap Ten sembarang.

“Bukan gitu, dia terlalu berhati-hati, dia cuma takut omongan dia bikin lo mikir dia kayak gimana-gimana. Mending, lo coba kasih dia kesempatan. Setelahnya, gue dan Kun gak akan ikut campur.” Ucap Doyoung.

“Hm, nanti gue pikirin lagi. Udah ah, kenapa jadi ngomongin ginian sih. Lagi seru juga.” Ucap Ten dan mengajak sahabatnya ini cheers.

Sampai rumah, sepertinya Ten akan mengirimkan sebuah pesan kepada Johnny.

Semua perkataan sahabatnya ada benarnya juga.

Sirat mata itu, begitu memilukan.

Apa dirinya terlalu jahat?


@roseschies🌸