roseschies

mood swing

— cerita singkat johnten

⚠️ mpreg


“Ten” Johnny memanggil nama Ten sambil mengikuti lelaki mungil itu yang sedang jalan terburu-buru masuk ke dalam kamar.

Johnny bahkan beberapa kali mencoba untuk meraih tangan si mungil namun lelaki itu sangat cepat menarik kembali tangannya.

Ten buru-buru naik ke atas kasur lalu menarik selimut dan meringkuk dibalik selimut.

“Ten, dengerin aku dulu sayang.” Suara Johnny melembut.

Johnny bawa tubuhnya naik ke atas kasur lalu menepuk tubuh milik Ten yang sudah terbalut dengan selimut, bahkan kepalanya Ten masuk ke dalam selimut itu.

Sayang, nanti kamu susah nafas.” Johnny menarik pelan selimut tersebut guna menyingkirkan dari wajah Ten, ia takut Ten tidak bisa bernafas dengan benar di dalam sana.

Namun Ten menarik kembali selimut itu, menutup seluruh tubuh hingga wajahnya dan berbalik arah memunggungi Johnny.

“Dengerin aku dulu sayang, kamu salah paham.” Johnny masih menepuk lengan milik Ten berharap Ten-nya itu bisa mendengar penjelasannya sedikit.

“Apalagi Jo? Apalagi yang mau kamu jelasin?!” Teriak Ten dari dalam selimut kemudian ia semakin mengeratkan selimutnya, tidak memberi akses untuk Johnny membuka selimut tersebut.

Johnny menidurkan tubuhnya disamping Ten lalu membawa tangannya memeluk pinggang milik Ten dan mengecup pucuk kepala Ten yang tertutup selimut, “Sayang, tadi aku tuh mau—”

“Mau apa lagi?! Mau apa?!” Teriak Ten lagi dari dalam selimut.

Johnny kembali mengecup pucuk kepala milik Ten lagi guna menenangkan Ten-nya ini, “Aku tadi pulang mau langsung cium kamu dulu tapi Louis ngehalangin jadi aku cium Louis dulu.”

“Bohong! Bilang aja kamu lebih sayang Louis daripada aku, kan?! Bilang aja Jo.” Bantah Ten masih dengan selimut yang menutupi wajahnya.

Johnny mengeratkan pelukannya lalu pelan-pelan membuka selimut yang menutupi wajah Ten.

Meskipun Ten masih memunggungi Johnny namun ia bisa memastikan Ten masih dengan bibir yang melekuk kebawah, ngambek.

“Sini, madep aku dulu coba.”

Ten menggeleng.

Sayang.

Ten menggeleng, lagi.

Kitten, look at me.

Ten menciut, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Johnny yang sedang tersenyum manis kearahnya.

Johnny mengelus poni yang menutupi jidat milik Ten lalu mengecup jidat Ten dengan lembut, “Kalau mau aku cium, bilang sayang. Pasti kerjaannya adek bayi ya ini, bikin Papa-nya jadi mood swing, hm?”

Johnny mengelus perut ber'isi' milik Ten sambil melantunkan kalimat-kalimat baik semoga di dengar oleh bayi di dalamnya, “Anak baik, anak pintar, anaknya Papa Ten dan Daddy Jo, baik-baik di dalam ya. Kami sayang kamu, sehat terus, jaga tubuh Papa Ten supaya selalu fit, Ingatkan Papa Ten jika sudah terlalu lelah untuk beristirahat.”

Ten ikut tersenyum sambil mengelus lembut surai milik Johnny itu.

Bahkan, dirinya lupa sebelumnya sedang ngambek dengan suaminya itu hanya karena suaminya lebih memilih mencium hewan peliharan milik keduanya dibanding mencium dirinya terlebih dahulu.


@roseschies

special; the truth untold

Ten perlahan membuka matanya, ia berkedip beberapa kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk bertubrukan kedalam jangkauan matanya.

Kamar dengan cat warna putih, diisi dengan berbagai macam barang yang juga berwarna putih, bahkan seprei tempat tidur yang dirinya tiduri saat ini pun berwarna putih.

“Tennie, minum dulu.” Lelaki disamping kiri tempat tidur Ten membantu Ten untuk duduk dari tidurnya lalu memberikan segelas air mineral untuk Ten minum.

Ten tersenyum, “Terima kasih, Kun. Doyoung mana, kok sendiri?”

Kun sedikit gelagap, karena pasalnya lelaki beranama Kim Doyoung itu sedang mendatangi 'seseorang' bersama Yuta dan Jaehyun.

“Hari ini jadwalnya gue sendiri yang nemenin lo. Ada apa Tennie?”

Ten menggeleng, “Gue nggak perlu dijagain terus, Kun. Lo punya kehidupan sendiri, gue nggak mau nyusahin lo terus, ini udah dua tahun. Lo bisa pakai waktu lo untuk nerusin pendidikan lo atau kerja di tempat yang emang lo pengenin.”

“Dan ninggalin lo sendirian, disini? Nggak bisa Ten. Gue dan Doyoung nggak akan pernah mau lepasin lo dari jangkauan kita berdua.”

“Gue nggak sakit Kun! Gue nggak perlu dijagain.”

“Gue nggak bilang lo sakit, Tennie.” Kun mengelus surai milik Ten, menenangkan sahabat tersayangnya ini.

Badan Ten kembali bergetar, lelaki ini benar-benar susah dibilangin.

Sudah dua tahun, pasca kejadian yang menyakitkan untuk kembali diingat bagi Kun, Doyoung, dan juga Ten.

Namun, seperti yang bisa dilihat, kejadian itu meninggalkan bekas untuk Ten sangat luar biasa.

Siapa bilang, Ten sudah sepenuhnya benar-benar melupakan Johnny?

Siapa bilang, dirinya sudah sepenuhnya benar-benar lupa kejadian dua tahun atau bahkan tiga tahun lalu yang menimpa dirinya?

Siapa bilang, lelaki bernama Ten Lee, sudah sepenuhnya sembuh dari berbagai trauma yang dialaminya?

Siapa bilang, lelaki bernama Ten Lee, sudah sepenuhnya menemukan bahagia yang ia inginkan?

Oh, mungkin untuk masalah bahagia, Ten sudah menemukan.

Namun, kebahagiaan itu, hanya berhenti di pikirannya dengan alur yang ia buat sedemikian rupa apiknya.

Bahagia, bukan?

Karena, lelaki ini masih percaya, bahwa kebahagiaannya hanya bersama Johnny.

Sungguh, bekas dan memori yang ditinggalkan oleh Johnny untuk Ten, masih sangat diingat oleh lelaki ini, sedetail mungkin.

Terapi, obat-obatan, dan jenis hal lainnya selama dua tahun ini pihak keluarga hingga sahabatnya berikan, semua kalah dengan memori yang diberikan oleh Johnny.

“Tennie, you deserve a happy ending.”

“Gue udah nemu, Kun.”

“Oh iya? Coba cerita sama gue.”

“Gue dilamar Johnny, lo disana, Taeyong disana, Winwin disana, Doyoung, ka Yuta, dan ka Jaehyun pun disana. Lo semua, menjadi saksi dimana gue bisa menginjak akhir bahagia.”

Lagi, lagi dan lagi. Kun mendengar cerita yang selalu dibuat dengan apik oleh pemikiran Ten.

Semua terapi yang dilakukan, bisa dibilang sia-sia, karena sesungguhnya lelaki ini menolak penuh, untuk melupakan seseorang bernama Johnny.

Ia berharap, semua alur yang ia rangkai dengan indah di dalam pikirannya, bisa terjadi, dikehidupan selanjutnya.

Untuk jiwa Ten di masa depan, tolong, bahagialah sesuai dengan apa yang sudah ia harapkan.

Untuk kamu, tolong, titip pesan kepada lelaki bernama Johnny, bahwa lelaki bernama Ten, benar-benar ingin menyentuh akhir yang indah bersama lelaki bernama Johnny, entah seribu atau dua ribu tahun lagi, entah dikehidupan bagian mana, kapanpun itu, tolong, titip pesan ini. Jaga pesan ini, sepenuh hati.


@roseschies

336.

Sebelum check out dari hotel, Johnny kembali memastikan bahwa tidak ada barang-barang yang tertinggal.

“John, sabun muka aku mana yaa?” Tanya Ten dari arah kamar mandi.

Iya, sejak semalam keduanya tidur berpelukan dan Ten yang tiba-tiba seperti kesambet, lelaki itu jadi terbiasa berbicara aku kamu dengan Johnny begitu pula sebaliknya.

“Udah dimasukin koper kamu loh tadi sayang.” Ucap Johnny lalu berjalan menuju kamar mandi, menghampiri Ten.

Ten terkekeh tepat di depan Johnny, “Hehehe lupa.”

Johnny menyentil dahi milik Ten kemudian mencium dahi tersebut, “Kamu nih, dasar gemes. Udah ngga ada yang ketinggalan kan?”

Ten menggeleng, “Udah aman semua pak bos!”

“Pinter, yuk?”

Johnny menggeret koper miliknya dan membawa tas ransel milik Ten sedangkan Ten menggeret koper miliknya. Sebelumnya, Ten sudah menolak Johnny untuk membawa tas ransel miliknya, namun Johnny tetap memaksa mau bawa tas ransel tersebut.

Selama menunggu Johnny mengurus keperluan check out hotel, Ten menunggu di sofa yang ada di sana.

“Yuk? Taxinya udah di depan,” Ajak Johnny pada Ten yang masih duduk kemudian keduanya berjalan kedepan untuk masuk kedalam taxi.


“Disini aja Pak,” Ucap Ten pada sopir taxi, setelahnya Johnny membayar taxi tersebut dan keduanya turun lalu menggeret kopernya lagi.

“Sepi banget, padahal aku udah bilang jam segini ke rumah.” Ucap Ten sambil menengok kearah kanan dan kiri.

“Lagi pada di dalem kali, yaudah yuk masuk aja?”

Johnny menggenggam tangan Ten kemudian Ten menuntun Johnny untuk masuk kedalam rumah keluarga Ten.

Ten membuka pintu rumahnya, namun isi rumahnya benar-benar sepi.

“Mama? Papa?” Panggil Ten kepada kedua orangtuanya satu-satu.

Mana ini gelap sekali.

Ten mencari saklar yang tak jauh dari pintu depan.

Namun sesaat Ten menghadap kebelakang, ia bahkan tidak bisa menemukan Johnny disana.

Ten tidak sadar bahwa genggaman tangannya itu terlepas dengan Johnny.

Kan gak mungkin sekarang Johnny lagi diculik setan rumahnya.

Buru-buru Ten menyalahkan saklar.

Belum juga Ten memencet saklar tersebut, Ten mendengar suara teriakan Johnny dari dalam rumahnya.

“Ten!”

Ten menengok kearah sumber suara, dia bisa melihat disana Johnny dengan Kun dan Doyoung disamping Johnny yang sedang membawa kotak entah apa itu lalu berjalan kearah Ten yang masih mematung sambil memegang saklar.

Tak lama kemudian, lampu rumahnya nyala satu persatu, Ten bisa melihat disana ada Mama dan Papanya yang sedang merangkul satu sama lain, tersenyum kearah dirinya dengan bangga.

Oh, bahkan disana, ada Yuta, Jaehyun, Taeyong dan juga Winwin yang sedang menatap dirinya dengan penuh harap.

Johnny bahkan sudah memakai jas namun dalamannya masih menggunakan baju yang sama dengan tadi.

“John, ini apa?” Tanya Ten bingung.

Johnny tersenyum sesampainya ia di depan Ten.

Johnny diam, tak mengeluarkan suara lalu mengambil kotak yang dipegang oleh Kun lalu berlutut di depan Ten dan membuka kotak tersebut.

“Ten, saya paham mungkin ini terlalu cepat. Saya juga paham, kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi, saya takut. Saya takut, kehilangan kamu jika saya tidak secepatnya mengunci kamu, menjadikan kamu seutuhnya menjadi milik saya, menjadikan kamu, satu-satunya manusia yang saya cintai sepenuh hati, menjadikan kamu, lelaki paling hebat di dunia ini.

Ten, will you marry me?”

Ten terdiam, mulutnya sedikit terbuka, ia terkejut.

Air matanya perlahan turun dari mata miliknya, “John....”

“Ekhm, ayo dong Ten jawab, kasian Johnny udah tremor takut ditolak!” Siapa lagi kalau bukan Yuta dan Jaehyun yang mengompori kedua lelaki ini.

“John, sebenernya lo sendiri udah bisa nebak jawaban dari pertanyaan lo. Tapi, John, terima kasih udah nepatin janji lo, yang selalu mau merjuangin gue.

John, gue mau. Gue mau menua bersama lo, Gue mau jadi orang pertama yang lo liat setelah lo bangun dari tidur lo, gue mau jadi seseorang yang membantu lo membangun keluarga kecil kita.”

Bukan Ten yang menangis, bukan mama maupun papa Ten. Suara tangisan saut menyaut datang dari Taeyong, Winwin, Doyoung dan juga Kun yang tak bisa menahan tangisannya itu.

Keempat lelaki itu, benar-benar merasa senang, melihat kebahagiaan yang akhirnya dicapai oleh Ten.

Johnny berdiri lalu memasukkan cincin yang sudah ia pesan jauh hari dan pasti dibantu oleh Kun dan juga Doyoung, ke jari milik Ten.

Kemudian, Doyoung memberikan sekotak lainnya untuk Ten, isinya cincin milik Johnny.

Ten memasangkan cincin tersebut pada jari milik Johnny.

Setelah cincin tersemat dengan indah di kedua jari masing-masing, Johnny mencium dahi, hidung, hingga bibir milik Ten.

Tanpa lumatan, keduanya berbagi cinta dan kasih di sana.

Mama dan Papa Ten yang menyaksikan anaknya dilamar seperti ini, ikut terharu.

Johnny bahkan rela untuk berbicara dan meminta secara langsung kepada kedua orang tua Ten dibantu dengan Doyoung dan Kun.

Semua acara ini, memang sudah dibicarakan oleh Johnny, kedua orang tua Ten, sahabat Ten, sahabatnya, dan tak lupa Taeyong dan juga Winwin yang ikut serta dalam acara ini.

“Selamat berbahagia, Ten.” Ucap Doyoung dan Kun bersamaan dengan air mata yang deras turun dari mata milik Ten.

Ketiganya berpelukan, Taeyong dan Winwin yang melihat dari jauh, mendekat lalu ikut berpelukan disana.

Mama dan Papa Ten mendekat kearah anak semata wayangnya itu lalu mencium kedua pipi Ten, tak lupa keduanya juga mengusap rambut milik Johnny dengan sayang.

Situasi ini, Ten ingin mengingat seumur hidupnya.

Untuk semua, Terima kasih. Akhir cerita cinta bahagia ini, Mohon disimpan dengan baik.


@roseschies

335.

Butuh waktu lumayan untuk sampai di kota kelahiran Ten, bahkan sudah gelap disini.

Setelah mengurus keperluan lainnya sampai koper kedua lelaki itu sampai ditangan mereka, Johnny memesan taxi sedangkan Ten diam duduk menunggu taxi yang sedang dipesan Johnny.

“Ten, saya sudah booking hotel deket sini biar kamu istirahat dulu di hotel dan gak jet lag, gapapa ya?”

“Duh John, gue ngerepotin banget ini. Gue yang gak enak sama lo sampe bener-bener se well-prepared ini.”

Johnny menggeleng lalu mengusap rambut Ten yang sedang duduk di kursi, “Nggak ngerepotin sayang.”

Pipi ten memerah panas, ia belum terbiasa mendengar kalimat itu secara langsung.

“Yuk, taxinya udah dateng. Kamu jangan lupa kabarin keluarga kamu dulu kalau kamu udah sampai, tapi nginep di hotel sebentar.”

Ten mengangguk lalu mengikuti Johnny masuk kedalam taxi yang sudah menunggu dirinya dan Johnny.


“John, lo pesennya cuma satu kamar? Buat lo aja deh gue pulang aja ya?” Ucap Ten setelah melihat Johnny yang hanya memegang satu kunci kamar hotel.

Johnny menggeleng lalu memegang tangan milik Ten, “Kamu nggak mau ya tidur sama saya?”

“Bukan gak mau, tapi—”

“Malu? Kan tidurnya pakai baju Ten, nggak perlu malu. Kalo perlu, saya tidur di sofa, kamu di kasur nggak masalah buat saya. Atau, kalau emang kamu bener-bener nggak mau, saya pesen lagi deh kamarnya?”

Ten menggeleng, “Nggak perlu, nggak usah pesen lagi. Sayang duit lo.”

Johnny tersenyum gemas lalu mengusak rambut milik Ten dan menggenggam tangan Ten, keduanya jalan menuju lift untuk naik ke lantai 10, dimana kamar hotel keduanya berada.

Keduanya masuk kedalam kamar hotel, Johnny mulai merapihkan koper miliknya dan juga milik Ten, sedangkan Ten langsung mengganti sepatunya dengan sendal hotel.

“Kamu mandi duluan Ten, saya rapih-rapih sebentar “

Ten mengangguk patuh kemudian mengambil pakaian miliknya dan alat mandi lainnya yang ada di dalam koper.

“Kamu mau makan apa sayang?” Tanya Johnny yang sedang melihat isi dapur mini yang ada di dalam kamar.

Oh, tentu Johnny memesan kamar yang luas dan memiliki isi lumayan lengkap.

Bisa nggak sih nggak manggil sayang, panas pipi gue sialan. Rutuk batin Ten.

“Apa aja,”

“Yaudah, kamu makan saya aja ya?”

“Hah?”

“Katanya apa aja,”

“Bukan begitu maksudnya!”

“Yaudah iya iya, saya bikinin telur aja ya?”

“Iya, gue mandi dulu. Jangan manggil apalagi masuk kedalam kamar mandi!”

“Saya mau ikutan mandi deh kalau gitu biar cepet dan hemat air.” Johnny meninggalkan dapur lalu lari kecil menuju kamar mandi dimana pintunya belum sempat ditutup oleh Ten yang sedang menggantung handuk dan pakaian miliknya itu.

Ten yang melihat Johnny sedang lari menuju kamar mandi langsung buru-buru menutup pintu.

“Ten, bukain sayang.”

Johnny mengetuk pintu kamar mandi namun jawaban penolakan lah yang di dapat.

“Sana mesum!!!!!”

Johnny terkekeh, “Ten, ayo kita harus hemat air sayang. Mandi bareng ya?”

“Lo mau gue potong tititnya ya?!” Ancam Ten dari dalam kamar mandi membuat Johnny menciut.

“Serem banget kamu, iyaiya saya masakin makanan buat kamu aja deh.” Kemudian Johnny meninggalkan depan pintu kamar mandi dan lanjut memasak makanan untuk Ten dan dirinya.


Saat ini, Johnny benar-benar menepati ucapannya, dirinya akan tidur di sofa sedangkan Ten tidur di kasur.

“John, sofanya keras ya?” Tanya Ten dari kasur sambil menyelimuti setengah tubuhnya dan memeluk guling lalu menghadap kearah sofa dimana Johnny tiduran disana.

Johnny menggeleng, “Ngga kok, kamu tidur aja Ten. Istirahatin diri kamu, biar besok fresh dan lebih bahagia ketemu mama papa kamu.”

Tidak ada jawaban, namun tak lama kemudian, Johnny merasakan beban berat diatas tubuhnya.

Ten memeluk Johnny seperti koala, ikut tidur di sofa yang tak terlalu sempit dan tak terlalu luas itu.

“Kenapa kesini? Kamu tidur dikasur aja saya gak masalah kok tidur disini.” Ucap Johnny sambil mengelus punggung milik Ten.

Ten menggeleng, “Kasian lo tidur dikasur, jadi gue temenin di sofa aja ya?”

“Ten, nanti kamu jatuh. Kamu di kasur aja ya?”

Ten menggeleng lagi, “Ngga, mau disini sama lo.”

Johnny tersenyum lalu mengecup bibir manis milik Ten kilat, “Yaudah, tidur yang nyenyak ya sayang. Love you.”

Ten mengubur wajahnya kedalam ceruk leher milik Johnny, ia malu.

“I love you too Johnny.” Ucap Ten dari ceruk leher milik Johnny.

Johnny yang mendengar ikut bersemu malu dan mengeratkan pelukannya dengan Ten.

Lelaki satu ini, benar-benar menggemaskan.


@roseschies

311.

Sesampainya Johnny dan Ten di depan mobil milik Johnny, Ten dapat melihat pantulan seseorang di dalam mobil Johnny.

Ten lari kecil menuju pintu belakang lalu membuka pintu tersebut lalu terpampanglah lelaki yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya itu dan dia tampak terkejut.

“O-oh, Halo.” Sapa Hendery dengan sopan lalu menunduk sedikit.

“Gue duduk sini, gapapa yaa?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Johnny dan Hendery kaget, padahal Hendery duduk dibelakang biar lelaki ini duduk disebelah Johnny sedangkan Johnny bingung situasi apa ini.

Hendery mengangguk kemudian mengunci ponselnya lalu bergeser untuk memberi Ten ruang untuk duduk disebelahnya.

“Makasih, oh siapa nama lo? Sekretarisnya Johnny kan?” Ten menyodorkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Hendery, semakin dibuat bingung Hendery.

Hendery mengangguk, “I-iya Pak, saya Hendery. Bapak?”

“Nggak usah pake Bapak Bapak, panggil Ten aja.”

Oh, ini yang namanya Ten? Pantes atasannya itu sayang banget sama lelaki ini, dalam hati Hendery.

“Aduh, nggak enak saya kalau cuma manggil nama aja.”

“Yaudah panggil gue pake kak juga gapapa. Anggap aja gue kakak lo, atau siapa terserah hehehe.”

“O-oh iya, Kak Ten.” Hendery menggaruk tengkuknya, dia bingung harus apa.

Sedangkan Johnny hanya diam melihat interaksi kedua lelaki dibelakang sambil mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah terlebih dahulu di booking oleh kenalannya itu.

“Johnny galak sama lo ya Hen?” Tanya Ten tiba-tiba.

Hendery menggeleng, “Nggak kok Kak, Pak Johnny baik baik aja sama saya.”

Ten mengangguk, “Kalo dia galakin lo, pukul aja atas nama gue ya?”

“Ten.... kok gitu,” Saut Johnny mengikuti interaksi antara Ten dan Hendery.

“Ya biarin, lo gak boleh galak-galak sama bawahan. Kalo Hendery punya salah, kasih tau dimana salahnya, jangan pake urat. Bakso kali pake urat.”

Hendery menahan tawanya, tolong ini dua lelaki sepertinya benar-benar cocok, humornya aneh tapi Hendery ketawa.

Sekarang Hendery paham, benar-benar paham, kenapa atasanya bisa memilih Ten menjadi seseorang yang sangat ia cintai.

Mungkin, sebelumnya atasannya itu sudah menceritakan insiden antara dirinya dan atasannya itu.

Namun, lihat? Bahkan Ten nggak mengangkat topik itu sama sekali, dirinya benar-benar mencoba untuk membuat Hendery enjoy berbicara dengannya.

“Hen, lo ada orang yang disukain gak?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Hendery gelagap.

Masa dia jawab, ada tuh atasan saya. Lah, itu kan Johnny.

Hendery menggeleng, “Nggak ada Kak,”

Ten tau kok, Hendery menyukai Johnny. Hendery itu nggak pinter menutupi rasa suka dan kagumnya kepada Johnny, bahkan dari tatapannya.

Tapi, Ten tau, Hendery jawab seperti itu karena ingin menjaga perasaannya.

Tidak lama kemudian, ketiga lelaki itu sampai di tempat acara berlangsung.


Disaat Johnny sedang sibuk mengobrol dengan kenalannya, Ten dan Hendery hanya berjalan-jalan berdua.

“Kak,”

“Kenapa Hen?”

“Maaf ya?”

Ten menghadapkan dirinya kearah Hendery bingung, “Maaf kenapa?”

“Gue sebenernya-”

“Suka sama Johnny?” Tembak Ten membuat Hendery terkejut, sekeliatan itukah dirinya?

Ten menepuk pundak Hendery, “Hen, perihal perasaan yang timbul, bukan salah lo kok. Lo nggak akan pernah bisa ngatur perasaan lo mau kayak gimana. Gue juga nggak tau gimana Johnny memperlakukan seseorang, cuma gue mungkin sedikit paham, Johnny itu memang baik sama semua orang. Dan, lo juga manusia, gimanapun pasti ada sedikit rasa yang dibawa.

Nggak usah minta maaf sama gue, bukan salah lo buat suka sama Johnny.”

Hendery terkejut, Ten benar-benar sedewasa itu dan dia nggak berekspetasi bakal dapet jawaban kayak gitu.

“Kak, lo baik banget. Jarang ada orang kayak lo.”

Ten menggeleng, “Bukan masalah baik atau nggak, tapi emang faktanya begitu kan? Balik lagi ke diri lo, lo mau jadi orang yang tau diri atau egois untuk perasaan lo sendiri? Semua pilihan lo kok.”

“Pada awalnya gue berusaha egois untuk perasaan gue sendiri kak, tapi perlahan gue sadar, gue salah. Pak Johnny, keliatan sayang banget sama lo kak. Setelah ketemu sama lo, gue sadar, kenapa Pak Johnny bisa sesayang itu sama lo.

Kak, bahagia terus ya?”

“Makasih Hen, udah berusaha jujur sama gue. Lo juga orang baik, gue percaya itu. Lo juga bahagia terus Hen, gue yakin lo masih bisa dapetin kebahagiaan lo. Mungkin, dari orang terdekat lo?”

“Hah? Gue gak ada orang deket kak, hahahah. Gini-gini aja hidup gue.”

“Masa? Gue liat kok, lo kayaknya senyum-senyum tuh tadi di mobil, lagi chatting sama seseorang kan?”

Hendery mengangguk tengkuknya, malu.

“Sama sahabat gue doang kok kak, dia emang lucu orangnya.”

“Lucu apa lucuuu?” Goda Ten membuat Hendery semakin malu.

“Udah ah kak, malu gue.”

“Hen, jangan pernah bohong sama perasaan lo sendiri.”

Hendery diam, bohong? Maksudnya?

“Ikutin, kemana hati lo bawa diri lo. Jangan pernah bohongin perasaan lo sendiri. Dah, yuk balik ke Johnny.”

Ten merangkul Hendery untuk kembali ke Johnny yang mungkin sedang mencari kedua lelaki ini dan meninggalkan banyak pikiran bercabang di kepala Hendery, apa yang dimaksud dengan ucapan Ten tadi.


@roseschies

300.

Johnny yang melihat Ten sedang celingak-celinguk di depan kantornya itu diam-diam jalan bermaksud ingin mengejutkan lelaki itu.

“Hey!” Johnny menyentuh kedua pundak Ten membuat Ten tersentak kaget dan tak sadar ia menampar pipi Johnny.

Refleks, katanya.

“Aduh, saya baru dateng udah ditabok aja sama kamu.” Ucap Johnny sambil mengelus pipinya, lumayan juga tamparan Ten.

“Ya lagian ngagetin! Yaudah yuk pulang.” Ten ikutan mengelus pipi Ten namun sedetik kemudian ia sadar ini masih di depan kantor dan langsung menarik tangannya kembali.

Johnny terkekeh melihat kelakuan Ten yang langsung membuat pipinya memerah itu.

“Yaudah yuk pulang, saya parkir nggak jauh kok.”

“Oh iya, nanti mau ke apart gue dulu? Diajak Doyoung sih, Doyoung sama Kun mau ke apart dan gue disuruh ngajak lo.”

Johnny mengangguk kemudian merangkul tubuh Ten, “Iya boleh, yuk pulang.”

Ten menduduk menahan malunya, takut ada Winwin atau Lucas yang ngeliat dia lagi kayak gini sama Johnny, bisa-bisa jadi bulanan.

Benar kata Johnny, ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari depan kantor.

“Masuk Ten.” Ucap Johnny sambil membukakan pintu untuk Ten lalu Ten tersenyum dan berterima kasih kepada lelaki itu.

Setelahnya Johnny masuk ke tempat duduk pengemudi lalu menyalahkan mobilnya serta tetek bengek lainnya.

“Loh, kamu nggak mau pake seatbelt?” Tanya Johnny setelah melihat Ten yang belum pakai seatbelt.

“Hah? Ini mau make kok.”

Sebelum Ten memegang seatbelt miliknya, Johnny terlebih dahulu sudah mengambil seatbelt milik Ten lalu dipasangkan seatbelt tersebut dan mengecek kembali apakah sudah terpasang dengan benar.

“Makasih John,” Cicit Ten kemudian menunduk. Ia malu, jaraknya terlalu dekat.

Johnny memegang dagu milik Ten lalu diangkatnya wajah Ten, kemudian ia mengecup kilat bibir milik Ten.

“Nggak usah nunduk, kita cuma berdua nggak usah malu.”

Ten mengangguk, pipinya memanas.

Johnny kembali membenarkan duduknya kemudian menyamankan tempat duduknya dengan stir mobil miliknya.

Belum juga Johnny menjalankan mobilnya, Ten buru-buru membuka seatbelt lalu sedikit memajukan tubuhnya mendekat kearah tubuh Johnny.

Lelaki itu memegang dagu milik Johnny, mempertemukan bibir miliknya dan juga milik Johnny.

Bahkan, ia melumat sedikit bibir Johnny membuat Johnny terkejut hingga membulatkan matanya, namun ikut bermain disana mengikuti permainan yang dimulai oleh Ten.

Butuh beberapa menit, keduanya berciuman disana, berhenti karena nafas Ten mulai habis.

Johnny tersenyum lalu mengelus bibir milik Ten dan saliva entah milik siapa yang tertinggal di bibir Ten.

“Katanya, nggak usah malu soalnya cuma berdua. Hehehe” Tanpa dosa Ten berbicara seperti itu lalu terkekeh.

“Saya suka, kamu yang seperti ini.” Johnny kembali mengecup bibir manis milik Ten sebelum Ten kembali duduk dengan benar di tempatnya.


“LAMA BANGET LO BERDUA PASTI BERBUAT SESUATU DULU YA DI MOBIL!!” Teriak Doyoung sesampainya Ten dan Johnny masuk kedalam apartemen milik Ten.

Ternyata, Doyoung dan Kun sampai duluan dibanding Ten dan Johnny di apartementnya itu.

Bahkan Doyoung dan Kun sudah menyiapkan banyak makanan lesehan di ruang TV milik Ten.

Ini yang punya apartemen sebenernya siapa deh?

Ten melempar sepatu yang bekas ia pakai tadi kearah Doyoung, “Sembarangan kalo ngomong lo. filter dulu coba!”

“Lah semalem bilang katanya mau cium Johnny lagi,” Celetuk Kun tanpa dosa membuat Ten berlarian kearah Kun kemudian mencubiti lelaki itu habis-habisan.

“Iya tadi udah kok, ya kan Ten?” Jawab Johnny membuat lelaki itu diberi hadiah tatapan mematikan dari Ten.

Doyoung dan Kun ikut tertawa, Johnny memang orang yang pas untuk ikut meledeki Ten.

“Sini, makan. Gue sama Kun sampe sempet masak dulu di dapur lo,” Ucap Doyoung kemudian Ten melihat kearah dapurnya yang sudah seperti kapal pecah.

Johnny berjalan mendekat kearah kumpulan tiga lelaki itu kemudian mendudukan dirinya di samping Ten.

“Hm, kayaknya enak nih.” Puji Johnny.

Ten mengangguk, “Masakan mereka berdua emang enak, coba aja.”

“Makan aja John, nggak ada racunnya kok.” Kun mempersilahkan Johnny untuk makan terlebih dahulu.

Johnny menyendok makanan yang sudah disajikan kemudian mencicipi makanan tersebut.

“Hmm, enak banget. lo berdua buka katering kayaknya laku.”

Kun tertawa, “Waktunya nggak ada, kami sama-sama kerja. Makan nih Ten, mau disuapin?”

Ten kembali mencubit Kun, “Berisik anjir.”

“Yaudah sini, saya aja yang suapin kamu. Nih, pesawatnya mau masuk aaaaaaa”

Johnny memperlakukan Ten seperti anak bayi ingin makan dengan cara membuat makanan tersebut seperti pesawat, Ten malu luar biasa, tapi jika dia tidak memakan makanan yang sudah diberikan oleh Johnny, kasian Johnny.

Akhirnya lelaki itu menyuap makanan yang disuapin Johnny.

“Aduh, bayi gue udah ada yang ngurusin.” Celetuk Doyoung kemudian mengambil makanan untuk dirinya.

Keempat lelaki itu dengan khidmat memakan makanan yang sudah dihidangkan oleh Doyoung dan Kun.

Bahkan keempatnya asik bercanda tawa sampai jam 11 malam di apartemen milik Ten.


@roseschies

288.

“Ten!” Johnny memanggil nama Ten dari depan pintu kantornya.

Iya, sejak Ten bilang bahwa dirinya sudah otw dengan Lucas, lelaki itu menunggu di bawah, tepatnya di depan pintu kantor miliknya.

Ten dan Lucas yang mendengar panggilan itu langsung berjalan menuju tempat dimana Johnny berdiri.

Dari jauh, Johnny bisa melihat Lucas yang menahan tawanya mati-matian.

“John,” Ucap Ten sesampainya ia di depan Johnny.

Sedangkan Lucas, “HAHAHAHAHHAHA ANJIR GAK KUAT GUE TEN”

Lelaki itu akhirnya melepas tawanya tepat di depan Johnny.

Johnny yang tau mau dibawa kemana topik yang diketawai oleh Lucas langsung menggaruk tengkuknya dan menunduk, ia malu.

Besok-besok, nggak lagi Johnny membiarkan pikiran negatifnya bersarang di kepalanya itu.

Ten menyenggol Lucas dengan sikutnya, “Heh diem anjir, tuh anaknya malu.”

Lucas semakin tertawa, bahkan Jungwoo yang melihat Lucas sedang tertawa tepat di depan atasannya itu ikutan malu, duh gak kenal deh.

“Jungwoo!” Teriak Ten memanggil Jungwoo membuat Lucas berhenti tertawa lalu tersenyum lebar melihat pujaan hatinya itu, kemudian Lucas lari kecil menuju Jungwoo yang sudah siap ingin pulang.

Jungwoo mengaitkan tangannya di sela-sela tangan milik Lucas lalu keduanya berjalan menuju arah keluar dimana Johnny dan Ten masih berdiri disana.

“Pak, duluan pulang ya.” Ucap Jungwoo kemudian nunduk sopan kepada atasannya itu.

Johnny tersenyum kikuk, “E-eh, iya Jungwoo hati-hati. Makasih ya.”

Lucas masih saja menahan tawanya lalu pamit kepada Ten dan juga Johnny, “Duluan ya, santai aja Pak Bos, Ten aman gak lecet kok.”

Ten yang mendengar itu langsung mencubit sikut milik Lucas, “Balik lo sana, rusuh aja.”

Akhirnya Lucas dan Jungwoo benar-benar pergi dari hadapan Johnny dan Ten.

“Uhm, keruangan saya aja ya sebentar?” Ucap Johnny memecah keheningan, Ten mengangguk nurut dan ikut berjalan dibelakang Johnny.

“Sini,” Johnny mengarahkan tangannya kearah tangan kosong milik Ten, ia bawa untuk dipegang lalu keduanya berjalan menuju ruangan Johnny yang berada di lantai 2.

Hening, namun jantung keduanya benar-benar berdegup kencang. Rasa canggung ini, keduanya menikmati.


“Saya minta maaf, Ten.” Ucap Johnny setelah Ten duduk di sofa, Johnny ikut duduk di sebelah Ten.

Ten menghadapkan dirinya kearah Johnny, keduanya saling menatap wajah satu sama lain.

“Kita udah sama-sama gede, seharusnya masalah kayak gini bisa saling terbuka. Sekarang, lo mau gimana?”

Johnny benar-benar merasa bersalah, ia membawa dirinya duduk di lantai memohon di depan Ten yang masih duduk di sofa, “Maaf, saya minta maaf sudah seperti itu. Saya hanya ingin tidak membatasi kamu untuk berteman dengan siapapun itu. Tapi, pikiran negatif saya benar-benar bermain saat itu.”

Ten diam menatap Johnny yang masih memegang kedua lututnya dan masih duduk di lantai, “Jadi orang harus tegas, kalo lo mau merjuangin gue, perjuangin. Jangan cuma karena lo liat dari satu sisi, terus lo ngeklaim yang lain padahal itu semua belum tentu benar.

Lo juga harus lebih dewasa, kenapa nggak langsung tanya gue? apa dengan lo nanya ke gue, gue bakal marah sama lo? Nggak John, bahkan kalo lo nanya, semua kesalahpahaman beres. clear.”

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dari mulut Ten membuat Johnny habis-habisan memaki dirinya sendiri dalam hati.

“Ten, maaf. Maaf saya mengecewakan kamu, maaf saya nggak dewasa dalam menyelesaikan masalahnya yang bahkan dibuat oleh pikiran saya sendiri. Maaf saya seperti membuang kesempatan yang udah kamu berikan.”

Ten mengelus surai milik Johnny dengan lembut lalu berdiri dari duduknya, Ten juga memegang kedua tangan Johnny untuk ia ajak berdiri, menatap dirinya.

Lelaki mungil itu tanpa berfikir panjang langsung memeluk tubuh lelaki yang ada di depannya saat ini.

“John, gimana gue mau lepasin lo, disaat gue udah sayang sama lo?”

Ucapan itu, membuat tubuh Johnny membeku.

“Gue kecewa, iya. Tapi dengan cara lo yang akhirnya bilang dan jujur sama gue, gue paham. Mungkin gue jadi lo bakal berlaku seperti itu, tapi tolong jangan kayak gitu lagi ya?”

Johnny masih diam, dirinya masih mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ten.

Ten melepas pelukannya itu lalu sedikit mendongak guna menatap wajah milik Johnny.

“John,”

“Ya, Ten?”

Ten mengecup bibir Johnny secepat kilat lalu tersenyum manis, “Mungkin gue jarang kayak gini ke lo. Tapi lo wajib tau, gue sayang sama lo John. Meskipun gue galakin lo mulu, cuek sama lo. Gue, sayang sama lo John. Gue cuma gak bisa mengekspresikan rasa sayang gue ke orang.

Lo, mau ngajarin gue?”

Johnny terdiam, bibirnya terbuka. Ia terkejut, tentu. Tamparan yang dimaksud oleh Ten, ini?

Johnny mengambil kedua tangan Ten sebelum Ten berubah pikiran dan mencabut semua kalimatnya itu lalu mengaitkannya dengan tangan miliknya.

“Saya memang nggak sepinter itu untuk mengajari kamu, tapi, saya akan tetap mengajari kamu dan juga menuntun kamu, Ten. Terima kasih Ten, karena kamu saya banyak belajar. Saya lebih banyak memahami, saya merasakan gimana susahnya merjuangin seseorang, dan juga saya merasakan jatuh bangun mendapatkan kamu.

Ten, mungkin dikehidupan sebelumnya saya pernah melakukan hal jahat dan karma itu ada, saya banyak belajar. Tapi, saya bahagia. Sangat bahagia, karena dikehidupan sekarang, saya dipertemukan dengan kamu, seseorang yang memberikan saya banyak pelajaran hidup.

Ten, saya cinta sama kamu. Terima kasih, sudah hadir dan memberikan saya banyak kesempatan untuk terus memperjuangkan kamu. Saya cuma mau bilang bahwa kamu, sangat layak diperjuangkan.”

Johnny menatap Ten dalam, ia bawa tangannya memegang tengkuk milik Ten lalu membawa bibirnya bertemu dengan bibir milik Ten.

Tidak ada lumatan, hanya menempel, keduanya menyalurkan perasaan yang terpendam melalui ciuman singkat tersebut.

“Ayo, belajar bersama. Saling mengkoreksi dan juga saling mengingati satu sama lain.” Ucap Johnny sambil menyingkirkan poni milik Ten yang menutupi matanya.

“Belajar ulangan kali belajar bareng.” Celetuk Ten tiba-tiba membuat Johnny menyentil jidat milik Ten.

“Kamu nih, nggak bisa romantis sebentar.”

“GELIIIIIII, bukan gue banget Johnny.” Ucap Johnny sambil menaikan bahunya, merasa geli dengan dirinya sendiri.

Johnny kembali menarik tubuh Ten untuk masuk kedalam pelukannya, “Gemes. Gemes kamu gemes.”

Pipi Ten memerah, “Apasih! huuu dasar tuh nyembah-nyembah lagi HAHAHAHA.”

Nggak masalah hari ini Johnny kembali malu akibat kelakuan dirinya sendiri, yang penting hari ini dia berhasil menyelamatkan hubungan miliknya dan Ten.


@roseschies

280.

Johnny melempar tubuhnya ke sofa yang ada di dalam ruang kerjanya lalu memijit pelipisnya.

Kepalanya sudah pusing akibat rapat internal yang baru saja terlaksana dan belum lagi lihat tweet yang baru saja Ten post di twitternya itu, membuat pikirannya bercabang.

Apa benar, sebenarnya selama ini Ten tidak menganggap bahwa Johnny ini serius.

Apa benar, sebenarnya selama ini Ten pikir Johnny main-main dengannya.

“Tadi bilang makan sama Winwin, Winwin berubah wujud kah?” Monolog Johnny masih sambil memijit pelipisnya.

Dirinya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.

Kebiasaan jelek Iohnny dari dulu adalah menyelesaikan masalah dengan meneguk alkohol.

Johnny bangun dari duduknya lalu membawa kakinya menuju kulkas mini yang ada di dalam ruangannya itu, ia butuh minuman, alkohol maksudnya.

Kadar alkohol yang ada di dalam kulkas mini ini untung memiliki kadar yang sangat rendah.

Johnny mengambil 3 kaleng lalu menutup kembali kulkas tersebut.

Johnny duduk di depan meja kerjanya lalu membuka satu kaleng, ia teguk hampir setengah kaleng, merasakan rasa manis yang mulai menjalar di tenggorokannya.

“Gue macamnya seperti orang tolol,” Johnny terkekeh dengan sendirinya, mengacak rambut rapihnya itu.

Johnny kembali berdiri dari tempat duduknya lalu mengintip keluar ruangannya, “Hen, masuk sebentar.”

Hendery yang sedang mengurusi kerjaan dan juga beberapa notulen selepas rapat internal tadi langsung mengangguk lalu merapihkan mejanya kemudian masuk kedalam ruangan Johnny.

“Permisi, Pak.”

Johnny yang sudah duduk di depan mejanya yang sangat berantakan, bahkan keadaan Johnny lebih berantakan dari mejanya itu, menyuruh Hendery duduk di sofa, “Duduk Hen”

“Ada apa Pak? Masalah rapat tadi?” Ucap Hendery.

Lalu duduk di sofa, kemudian Johnny mengikut duduk di sofa dan menawari Hendery sekaleng minuman untuk Hendery, “Mau?”

“Pak, maaf ini masih jam kerja. Bapak ada masalah?”

Oh, bahkan dirinya lupa fakta bahwa ini masih jam kerja, dan dirinya sudah sangat kacau. Hanya karena sebuah tweet dan foto.

Johnny diam, enggan membuka mulutnya, tapi sibuk meneguk minuman kaleng itu.

Lalu duduk kembali di depan meja kerjanya.

“Temenin saya sebentar ya Hen.” Pinta Johnny pada Hendery.

“Tapi—”

“Nggak usah tapi tapi, temenin saya doang kok.”

Hendery mengangguk lalu diam hanya menatap atasannya yang sedang meneguk minuman kaleng miliknya itu.

“Maaf kalau saya lancang, tapi kalau Bapak ada masalah, jangan sungkan untuk diceritakan ke saya, mungkin saya nggak bisa bantu banyak. Tapi dengan bapak cerita, beban bapak bisa berkurang sedikit.” Hendery mencoba untuk membuka topik, Johnny tetap diam.

Hendery akhirnya mencoba mencari kegiatan dengan membersihkan meja yang ada di depan sofa..

“Salah nggak saya cemburu. Harusnya it's not a big deal karena saya juga bukan siapa-siapa. Tapi, saya rasanya cemburu, mereka terlalu dekat. Saya bingung saya harus apa. Kalau saya bilang ke dia, saya lemah banget kayak gitu aja cemburu.

Tapi, saya cemburu. Saya, bingung harus apa.”

Johnny hanya melanturkan kalimat tanpa konteks yang bisa Hendery mengerti, namun lelaki itu mengangguk mendengarkan.

“Saya cuma mau, saya nggak di cap sebagai orang yang pencemburu. Tapi, saya cemburu.”

“Pak, cemburu itu manusiawi, asal dari kita sendiri bisa membatasi kadar cemburu kita. Kalau memang Bapak nggak suka 'dia' terlalu dekat sama orang lain. Bilang, Pak.”

Johnny menggeleng, “Saya nggak mau membatasi dia untuk bergaul dengan siapapun. Tapi, terlalu dekat. Saya, cemburu.”

Hendery mengangguk paham, “Bapak pernah bilang tentang ini ke dia?”

Johnny menggeleng lagi.

Hendery menghela nafas, “Pak, komunikasi itu penting. Begini begitu dalam hubungan harus menjadi kesepakatan antara Bapak dan dia.”

“Hen, saya bukan siapa-siapa dia. Tapi, saya cemburu.”

Hendery diam.

Johnny berdiri dari duduknya, kembali ikut duduk di sofa bersama Hendery.

Ia menidurkan badannya di sofa, Hendery masih diam, berusaha menjaga jarak sedikit dengan atasannya itu.

Diam-diam ia juga menahan degup jantungnya yang daritadi tidak bisa diam.

“Hen, sayang..” Gantung Johnny dalam ucapannya lalu meneguk minumannya.

Oh, jantung Hendery semakin tidak karuan.

“Saya sayang sama Ten, Hen.” Lanjut Johnny.

Tubuh Hendery seketika keringat dingin.

Oh, ternyata atasannya ini sudah menyukai seseorang. Dan, daritadi lelaki itu membicarakan orang tersebut.

“Hen, kenapa cinta begitu menyakitkan. Saya nggak mau cemburu kayak gini.”

“Pak, cinta memang begitu menyakitkan. Fakta.”

Sebenarnya, Hendery hanya mengucapkan apa yang ada di otaknya sekarang. Tentu, tentang perasaannya untuk atasannya ini.

Benar, cinta memang begitu menyakitkan, bagaimana jadi Hendery, mendengarkan seseorang yang ia kagumi menceritakan seseorang lain dan memuja orang tersebut.

Hendery jauh. Hendery kalah.

“Hen, saya cemburu.”

Lagi, kalimat itu meluncur lagi dari mulut Johnny.

“Pak, maaf..”

Hendery memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat dengan atasannya.

Hendery hanya ingin membersihkan titik air yang tersisa di dagu Johnny.

Namun, seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa permisi melihat dari sisi yang berbeda.

“JOHNNY LO GILA YA ANJING, LO MAU CIUMAN SAMA SEKRETARIS LO SENDIRI???” Teriak Yuta setelah masuk ruangan Johnny tanpa permisi lalu sedikit mendorong badan Johnny menjauh dari Hendery yang masih gelagap.

Padahal bukan itu yang Hendery ingin lakukan.

Plak

Yuta benar-benar menampar pipi Johnny tepat di depan mata Hendery.

“Sadar anjing. Lo mau cium siapa? Sadar!”

“Lo, bisa ke ruang kesehatan dulu, istirahat.” Yuta menyuruh Hendery untuk keluar dari ruangan Johnny.

Entah, Yuta setiba-tiba itu sangat emosi melihat Johnny hampir 'ciuman' dengan orang lain yang bukan Ten.

“Lo masuk tanpa permisi dan tiba-tiba nampar pipi gue maksudnya apa Yuta?!” Balas Johnny tak kalah tinggi teriakannya.

Oh, bahkan lelaki ini sudah mengeluarkan tetes air mata, kepalanya sudah sangat pusing.

“Lo yang kenapa?! Jangan mentang-mentang lo lagi mabok dan nggak sadar siapa yang mau lo cium ya Johnny? “

Johnny menjambak rambutnya sendiri, ia frustasi.

Tadi dia bukan ingin ciuman dengan Hendery. Dan juga dirinya sendiri tidak tau, apa yang akan dilakukan oleh Hendery.

“GUE CEMBURU YUTA. GUE CEMBURU. Apa gue gak boleh cemburu sama Ten?! Dia bilang mau makan siang sama Winwin, tapi apa? Ternyata malah berdua sama Lucas. Dari kemarin Lucas selalu nyuri start duluan.

Gue cemburu Yuta. Gue cemburu liat Ten sebegitu dekatnya dengan Lucas. Apa gue salah?! SALAH GUE CEMBURU SAMA TEN?!”

Johnny berteriak tepat depan muka Yuta, mengeluarkan emosinya di depan Yuta.

Plak

Lagi. Yuta menampar pipi Johnny lagi.

“Salah. Lo salah besar cemburu sama Lucas, Jo. Gue tau seberapa deket lelaki tiga itu. Ten, Lucas, dan Winwin.”

Johnny diam, ia masih mengelus pipinya yang ditampar dua kali oleh Yuta sambil menatap Yuta nyalang.

“Jangan jadi pengecut, coba. Kalo lo gini aja udah negatif thinking, gimana kedepannya Jo. Tanya orangnya langsung, gak kayak gini. Gue semalem udah bilang, komunikasi. Bukan malah diem mikirin ini semua sendirian.

Bayangin, kalo yang masuk tadi itu Winwin, atau mungkin Ten?! Udah Jo, hilang semua kesempatan lo. Jo, gue kecawa banget lo kenapa sih.”

Yuta ikutan frustasi mengingatkan temannya ini.

Yuta benar-benar seemosi itu melihatnya, bahkan ada rasanya Yuta ingin menjabak, menonjok, menendang Johnny. Tapi ia urung niatnya.

Yuta menghela nafas lalu mengajak Johnny untuk duduk di sofa, mengambil kaleng yang sudah Johnny remukan dengan tangannya itu untuk melampiaskan emosinya.

“Tenangin diri lo, jernihin pikiran lo. Lo percaya sama Ten kan? Oh, kata lo tadi dia bilang mau makan sama Winwin ya? Tadinya emang iya, tapi gue narik Winwin dan Winwin sendiri yang nyuruh Ten buat makan sama Lucas karena kasian Ten sendiri berhubung lo lagi rapat.” Yuta menjelaskan sedikit demi sedikit.

Johnny semakin merasa bersalah, semua pikiran negatifnya benar-benar menguasai isi kepala dirinya.

“Sekarang, lo jujur dan ngomong semuanya langsung ke Ten. Resapi apa yang udah gue dan Jaehyun bilang semalam. Hubungan itu cuma punya lo dan Ten, berdua. Semua harus dirombak berdua.”

Johnny mengangguk, “Thanks Yut.”

“Jangan jadi pengecut. Temen gue gak ada yang pengecut.”

“Gue cuma takut—”

“Buang semua rasa takut lo. Lo pernah nyoba? Belom kan, kenapa takut?”

Johnny menghela nafas, semua ucapan Yuta ada benarnya.


266.

Akhirnya Johnny dan Ten sampai di sebuah pantai dimana keempat lelaki lainnya sudah menunggu kehadiran Johnny dan Ten.

Jaehyun dan Winwin sudah saling melempar pasir sedangkan Taeyong dan Yuta sedang berbincang sambil melihat kearah dua lelaki itu.

“Nggak enak banget John, gara-gara gue kita malah telat.” Ucap Ten sambil berjalan di sebelah Johnny.

“Gapapa Ten, Yuk?” Ucap Johnny kemudian mengaitkan tangannya dengan tangan milik Ten lalu mengajak Ten berlari kecil menuju teman-temannya itu.

“Nah! Itu dia anaknya yang ditungguin daritadi.” Ucap Winwin menunjuk Johnny dan Ten membuat Jaehyun, Taeyong, dan Yuta menengok kearah yang ditunjuk oleh Winwin.

Johnny melambaikan tangannya dengan tangan yang satu lagi masih berpegangan dengan tangan milik Ten.

Ten tersenyum dan ikut melambaikan tangannya, ia tak banyak kenal banyak orang. Tapi nggak masalah, yang penting disini ada Winwin dan juga Johnny.

“Halo? Ohh ini yang namanya Ten ya?” Sambar Taeyong sesampainya Johnny dan Ten di depan keempat lelaki ini, Ten mengangguk.

Ten menatap wajah Taeyong yang sedang tersenyum manis kearahnya, entah magnet apa tapi Ten ikut tersenyum, bahkan sekarang dirinya langsung melepas tangan Johnny dan memeluk tubuh Taeyong.

Taeyong sempat tersentak, namun lelai itu ikut memeluk tubuh Ten sangat erat.

Keempat lelaki lain hanya saling tatap menatap, mereka bingung.

“Taeyong ya?” Tanya Ten setelah melepas pelukannya lalu menggaruk tengkuknya, ia merasa malu sekarang main peluk orang aja.

Taeyong mengangguk, “Salam kenal ya Ten? Jaehyun sempat cerita tentang lo ke gue beberapa hari lalu. Ternyata bener, lo gemes banget.”

Jaehyun tertawa, “Tuh katanya mau peluk Ten banyak-banyak, sekarang orangnya udah di depan lo.”

Taeyong yang mendengar buru-buru mencubit pinggang Jaehyun, “Berisik Jaehyun.”

Johnny masih berdiri diam, pemandangan ini cukup membuat dirinya bingung, bingung karena yang berusaha PDKT dengan Ten itu siapa sebenarnya.


“Ten, kangen.” Ucap Johnny pada Ten yang sedang duduk di sebelahnya.

Kedua lelaki ini sedang duduk di pasir, memandang kearah hamparan laut luas.

“Tapi gue disebelah lo John.”

“Setiap liat pantai, saya selalu kangen kamu, kenapa ya. Rasanya saya mau peluk kamu, saya ngga mau kamu pergi atau menghilang dari hadapan saya.” Johnny mengutarakan pikirannya pada Ten sambil memainkan pasir-pasir kecil yang berada di sekitar kakinya itu.

Ten menghadapkan dirinya kearah Johnny yang sedang menunduk itu, “John, lo kenapa deh? Jadi mellow gini.”

Johnny menegakkan tubuhnya lagi lalu menghadapkan dirinya kearah Ten, kedua lelaki itu sekarang sedang saling menatap, “Gapapa, saya cuma ngerasa sesuatu aneh aja. Saya, boleh peluk kamu?”

Ten sedikit membulatkan matanya, terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Johnny. Sebenarnya di chat, ia sering mendapatkan pesan seperti ini. Namun, ini pertama kalinya ia mendengar langsung dari mulut Johnny.

Ten mengangguk kecil, “B-Boleh...”

Johnny memeluk tubuh milik Ten, “Nyaman, saya suka.”

Ten tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Ia sudah masa bodo dengan gengsinya, jujur pelukan Johnny sangat nyaman. Ia merasa pulang kembali, kerumah yang memang hanya untuknya.

Tak lama kemudian, Ten merasakan getaran kecil dipelukannya.

“John?”

“Hm?”

“Lo nangis?”

“Aah? Ngga kok.”

“Lo nangis, John.”

“I'm sorry, Ten.”

“Kenapa minta maaf ke gue? Lo ngelakuin kesalahan kah?”

Johnny menggeleng, “Nggak tau, cuma mau minta maaf.”

“DIH MESRA BANGET PELUKAN DUNIA SERASA MILIK SIAPA JE?” Yuta tiba-tiba teriak sambil menunjuk Johnny dan Ten yang masih kaget dengan suara teriakan Yuta.

Jaehyun melanjutkan ucapan Yuta, “SERASA MILIK BERDUA LAAAHH, ASEK UY”

Winwin dan Taeyong yang melihat kelakuan dua anak itu hanya bisa menggeleng, namun tak lupa Winwin sempat memoto Johnny dan Ten yang sedang pelukan sebelum menyuruh Yuta dan Jaehyun merocoki pasangan yang sedang asyik dengan dunianya itu.

Ya memang sebenarnya sebelum itu, Keempat lelaki ini sudah melihat Johnny dan Ten yang sedang saling memeluk, dengan ide milik Yuta yang sangat cemerlang itu, ia menyuruh Winwin untuk memoto kedua lelaki tersebut lalu biarkan Jaehyun dan Yuta merocoki pasangan tersebut.

Taeyong sih, bagian ketawa aja. Habis, perkumpulan ini menurutnya sangat aneh dan luar biasa. Sampai sakit perut Taeyong.

“JAEHYUN YUTA SIALAN!!” Teriak Johnny lalu mengejar Jaehyun dan Yuta yang sedag menggodai dirinya.

Ten berdiri dari duduknya lalu membersihkan pasir yang menempel di pantatnya itu dan berjalan menuju Winwin dan Taeyong yang sedang tertawa melihat Johnny, Jaehyun, dan Yuta yang sedang kejar-kejaran.

“Enak banget pelukannya.” Goda Winwin membuat Ten memukul lengan milik Winwin.


229.

“Lama banget sih Jo! Muak gue liat ni anak dua malah menebar keju di depan gue,” Sambat Yuta sesampainya Johnny yang bahkan belum mendudukan dirinya itu di bangku.

“Alay lo, gue gak ngapa-ngapain padahal daritadi.” Ucap Jaehyun dengan tangan yang sedang memainkan jari milik lelaki berambut pink – Oh maksudnya Taeyong, lelaki itu udah berambut violet sekarang.

Johnny yang melihat tangan milik Jaehyun langsung memutarkan bola matanya malas, “Gak ngapa-ngapain, lo liat lah tuh tangan lo ngapain, lagi ngitung kelereng?”

Taeyong yang mendengar jokes recehan milik Johnny tertawa.

“Kok lo nggak jaga bar?” Tanya Johnny yang dipastikan untuk Taeyong.

Taeyong menggeleng, “Bukan shift gue. Tuh, pesen aja ketemen gue di sana.”

Johnny mengangguk lalu menarik Yuta dari tempat duduknya, bermaksud untuk menyelamatkan dari Jaehyun yang sedang menjadi budak cinta dan untuk menemani dirinya memesan minuman.

“Gimana sama Ten, Jo? Winwin nanyain mulu dikira gue tau kali ya.” Tanya Yuta setelah Johnny memesan minuman kepada bartender yang ada di bar.

“Masih gitu gitu aja, cuma anaknya makin kesini makin suka kabur-kaburan.”

“Dia nolak lo kali makanya dia sengaja kabur-kaburan.”

Johnny menggeleng, “Kabur-kaburannya gara-gara gamau ngaku dia kangen sama gue, gemes banget gak si Yut.”

Yuta memutarkan bola matanya malas, “Alah anjing budak cinta semua gini.”

“Kayaknya, Ten emang tipe orang yang begitu ya. Dia belom bisa buat apa ya namanya, mendeskripsikan rasa yang dia rasain ke seseorang. Ya gak sih?” Tanya Yuta lagi, Johnny mengangguk setuju.

“Tapi, ya gue gak mau geer dulu sih Yut.”

“Lo gak ada niatan buat, ngapain gitu di pantai?” Yuta mengambil satu batang rokok dari sakunya lalu mengambil pemantik kemudian ia bakar batang rokok miliknya itu.

“Yut, gue ngajak ngewe orang juga pilih-pilih tempat.”

Yuta menoyor kepala Johnny sangat enteng, “Maksud gue bukan ngewe tolol. Kayak lo gak ada acara nembak romantis-romantisan gitu di pantai?”

Johnny terdiam, dia bahkan nggak kepikiran sampai situ. DIa cuma memikirkan, dia mau ngajak Ten refreshing setelah melalui penatnya pekerjaan dan segala jenis project yang keduanya baru saja lalui.

Johnny menggeleng, “Enggak Yut. Niat gue ngajak dia ke pantai cuma pengen biar dia refreshing aja. Dia pasti capek meskipun bilang ke gue dia nggak capek. Dia pasti butuh udara segar.”

Yuta mengangguk-angguk setuju, kemudian membawa gelas dan minuman yang sudah Johnny pesan. Beberapa Johnny juga bawa.


Johnny, Jaehyun, dan Yuta memang memiliki toleransi terhadap alkohol yang lumayan tinggi, begitu pula dengan Taeyong.

Entah sudah berapa banyak gelas mereka berempat habiskan, namun keempatnya itu masih sangat fresh.

“Yong, lo ikut kan weekend ini ke pantai? Udah diajak Jaehyun belom?” Tanya Yuta setelah menyesap minumannya itu.

Taeyong mengangguk, “Berempat doang apa gimana deh?”

“Berenam Yong,” Ucap Johnny kemudian mengambil gelas kesekiannya dan menegukan minuman tersebut.

“Dua lagi siapa? Pacar lo berdua ya? Ohh, si cowo yang waktu itu dateng juga nggak sih bareng lo bertiga?”

Yuta seperti mengingat-ingat, Oh iya benar dia pernah mengajak Winwin kesini beberapa kali, “Winwin? Iya sama dia, tapi dia bukan pacar gue anjir.”

“Jangan didengerin Yong, dia mah denial terus. Mantan mantan, tapi kelakuan kayak masih punya hubungan.” Cibir Jaehyun membuat Taeyong mencubit pinggang Jaehyun. Entah, dia hanya suka mencubit pinggang Jaehyun.

“JUN!! LO NGGAK PERNAH PAHAM SAMA APA YANG GUE RASAIN. GIMANA KALO LO YANG DIGITUIN????? DIEM JUN.” Tiba-tiba suara teriakan yang terdengar sangat kencang memekakan telinga milik Johnny.

Bukan hanya itu, ia mengenal suara siapa ini.

Keempat lelaki itu sampai-sampai menengok kearah sumber suara.

Lelaki yang sedang menenangkan lelaki lain di depannya itu menunduk meminta maaf kepada pelanggan club lainnya.

Lelaki yang sedang terlihat tidak baik-baik saja itu mulai berdiri dari tempat duduknya, sedangkan lelaki lainnya menarik tubuh lelaki tersebut, untuk tetap duduk di tempatnya.

Namun tetap saja, si lelaki ini kalah, tenaganya sangat kuat.

“Hendery?” Johnny menggumam, kirain hanya suaranya yang mirip, ternyata siluet itu, benar-benar sekretarisnya, Huang Hendery.

“Siapa Jo?” Tanya Yuta setelah mendengar gumaman Johnny.

“Sekretaris gue anjir.”

“Lo apain anak orang sampe mabok segitunya sial.” Jaehyun melemparkan pertanyaan kepada Johnny, namun Johnny sendiripun bingung, belakangan ini dia nggak pernah marah-marah pada Hendery.

Tiba-tiba Johnny merasakan pundaknya seperti ada yang menyentuh, Johnny langsung mendongak dan Johnny bisa lihat dari dekat wajah Hendery yang sudah memerah dengan tangannya yang menyentuh pundak Johnny.

Hendery diam, Johnny diam.

Lelaki dibelakang Hendery sibuk menarik tubuh Hendery dan meminta maaf pada Johnny dan juga teman-temannya.

“Aduh, maaf ya teman saya kalau lagi mabok suka begini, nyusahin. Maaf ya maaf.” Lelaki itu berkali-kali menundukkan kepalanya dan menarik tangan Hendery yang sebelumnya bertengger di pundak Johnny.

“JUN BISA NGGAK LO JANGAN IKUTIN GUE!!” Teriak Hendery tepat di depan muka lelaki yang ia panggil 'Jun' itu.

Si lelaki itu benar-benar sabar mengurus Hendery.

Johnny tiba-tiba berdiri lalu mendatangi Hendery lalu menepuk pundak milik Hendery.

“Hen, kamu udah mabuk. Pulang, kasian temen kamu ngurusin kamu.”

Si lelaki yang mengaku sebagai temannya Hendery ini terkejut bahwa ada seseorang yang mengenal temannya itu.

“Oh, saya bosnya dia. Jangan kasih tau dia ya, nanti dia pasti malu. Saya paham kok, tolong di bawa pulang ya temennya.”

Mampus. Lelaki itu benar-benar ingin menendang Hendery saat ini juga, “Maaf Pak, Maaf. Hendery kalau mabuk memang seperti ini, Maaf Pak.”

Johnny tersenyum kecil, “Gapapa,”

Setelah sunyi beberapa detik, Hendery menengok kearah temannya yang masih memegang baju dan tangannya, “Jun?”

“Kenapa Der?”

“Pulang Jun, pusing.”

“Iya, ayo pulang.”

Setelahnya kedua lelaki itu benar-benar keluar dari club sedangkan Johnny kembali duduk.

“Dia kayaknya suka sama lo deh John.” Tembak Yuta setelah Johnny mendudukkan pantatnya di tempat duduk.

Johnny menyiram Yuta dengan air sisa yang ada di dalam gelas miliknya, “Ngaco anjir, jangan bikin gue banyak pikiran deh.”

Taeyong menggeleng, “Nggak ngaco sih, tapi emang beneran. Mata sekretaris lo, gimana cara dia ngeliat lo. Itu tatapan memuja John. Orang mabuk itu, lebih jujur.”

Jaehyun mengangguk setuju.

Johnny kembali mengambil gelasnya lalu meneguk minumannya tidak menjawab ucapan ketiga lelaki itu, menurutnya ucapan mereka semua ngelantur.

Johnny mengambil ponselnya kemudian membuka kolom chat dirinya dengan Ten.

Ia mengetikkan sebuah kalimat untuk Ten.

Ten

Saya kangen

Kepala saya pusing, Ten

Ten, jangan tinggalin saya. Ya?

Setelahnya ia meletakkan ponselnya dimeja dengan cara sedikit dibanting lalu memijit pelipisnya.

Kepalanya tiba-tiba benar-benar terasa sakit, nafasnya sedikit memburu.

“Jo, kenapa?” Tanya Jaehyun yang melihat Johnny seperti sedikit tidak nyaman dalam duduknya.

Johnny menggeleng, “Gapapa, kepala gue cuma pusing sedikit. Padahal baru minum segini.”

“Badan lo lagi kurang fit kali, lo kan baru balik dari raker. Mungkin kecapekan. Gue anterin sini, lo balik aja. Muka lo mulai pucet Jo.” Tawar Yuta, muka Johnny benar terlihat semakin pucat.

“Iya, nanti gue bawain mobilnya Yuta deh, kebetulan tadi gue bareng Taeyong jadi kita bisa pisah sebentar.” Tambah Jaehyun.

Semakin ditahan pusingnya, semakin mutar-mutar pemandangan Johnny, akhirnya ia mengangguk dan mengikuti kedua sahabatnya juga Taeyong yang membantu dirinya berjalan sampai di mobil miliknya itu.